Video: Jalan Runtuh di Bangkok Timbulkan Sinkhole yang Sangat Besar, Lalu Lintas Terganggu

EtIndonesia. Sebagian jalan di Bangkok runtuh pada hari Rabu, meninggalkan lubang amblas (sinkhole) yang sangat besar yang mengganggu lalu lintas, merusak infrastruktur, dan memicu evakuasi di daerah sekitarnya.

Tidak ada korban jiwa, tetapi tiga kendaraan rusak akibat runtuhan tersebut, kata Gubernur Bangkok, Chadchart Sittipunt. Dia mengatakan para pejabat yakin keruntuhan tersebut disebabkan oleh pembangunan stasiun kereta bawah tanah yang sedang berlangsung.

Video saat keruntuhan menunjukkan permukaan jalan perlahan amblas, merobohkan beberapa tiang listrik dan merusak pipa air. Mobil-mobil berusaha mundur saat lubang semakin besar dan memutus jalan empat jalur tersebut. Salah satu tepi lubang berhenti tepat di depan sebuah kantor polisi, memperlihatkan struktur bawah tanahnya.

Sebuah rumah sakit terdekat mengatakan akan menutup layanan rawat jalan selama dua hari. Pejabat Kota Bangkok mengatakan struktur rumah sakit tidak terdampak, tetapi orang-orang diperintahkan untuk dievakuasi dari kantor polisi dan bangunan lain di dekatnya.

Para pejabat juga telah memutus aliran listrik dan air di daerah tersebut. Chadcharts mengatakan otoritas terkait sedang berupaya memperbaiki lubang tersebut secepat mungkin di tengah kekhawatiran bahwa hujan lebat dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

Bangkok saat ini sedang memasuki musim hujan. (yn)

Tragisnya Seorang Pelari Maraton: “Sekalipun Miskin, Aku Tak Akan Biarkan Anakku Menekuni Bidang Olahraga”

EtIndonesia. Dibandingkan dengan olahraga yang identik dengan kalangan elit seperti golf atau tenis, sebagian besar atlet maraton justru berasal dari keluarga miskin di pedesaan. Sejak kecil, mereka terjun ke dunia latihan keras hanya demi bisa makan kenyang dan berharap kelak, setelah pensiun, memperoleh pekerjaan tetap dari pemerintah: menjadi pegawai kereta api, guru, atau polisi.

Namun, kenyataan pahit membuat mimpi itu runtuh. Bagi mereka yang tidak mampu sekolah, satu-satunya jalan mengubah nasib adalah menjadi juara. Dan ketika tubuh sudah hancur oleh latihan, mereka baru sadar—ada hal-hal yang tidak bisa digapai hanya dengan kerja keras.

Kisah Guo Ping, mantan atlet maraton Tiongkok, adalah potret getir itu.

Dari Bocah Desa ke “Bintang Harapan”

Guo Ping mulai berlatih lari sejak usia 9 tahun. Pada 1995, dia direkrut oleh Wang Dexian, pelatih kepala tim nasional maraton Tiongkok, dan disebut-sebut sebagai “anak emas”.

Dengan janji manis pelatih bahwa dia akan mendapat pekerjaan di instansi negara setelah pensiun, Guo Ping berlatih dengan sepenuh hati, penuh rasa syukur. Dia pernah meminta agar difokuskan pada nomor 800 meter atau 1.500 meter. Namun Wang memaksa dia menambah latihan di nomor 5.000 meter, 10.000 meter, hingga maraton. Lama-kelamaan, tubuhnya hancur. Dia  pun sadar: dirinya hanyalah “kelinci percobaan” sang pelatih.

Latihan Keras, Hidup Mengenaskan

Latihan maraton jauh lebih berat dibanding cabang lain: rata-rata atlet harus berlari 60–70 km setiap hari. Tetapi makanan mereka menyedihkan—selama berbulan-bulan hanya tauge beku dan sawi busuk.

Saat Tahun Baru, sesekali ada daging: delapan kilogram bakso untuk 20-an atlet yang kelaparan—jelas tak mencukupi.

Guo Ping menghabiskan lima tahun masa latihan tertutup di Shanhaiguan. Dia hampir tak pernah pulang. Bahkan untuk sekadar menelepon keluarga pun diawasi. Bila ketahuan mengeluh, dia akan dipukul dan dihukum.

Cedera, Pensiun, dan Pengkhianatan

Tahun 2001, jari-jari kakinya rusak parah, tubuhnya tak sanggup lagi. Usai masa pemulihan, Guo Ping menuntut gaji dan kompensasi cedera kerja. Alih-alih mendapat perhatian, dia justru dimaki habis-habisan oleh pelatihnya sendiri.

Tahun 2002, dia keluar dari Tim Maraton Kereta Api dan dipaksa pensiun. Padahal, demi anaknya bisa berlatih, ayahnya sudah habis-habisan mengais rezeki dari tambang batu bara, ibunya dari ternak babi. Semua uang keluarga lenyap.

Lebih parah lagi, karena sejak kecil dia tak sempat sekolah, Guo Ping hanya memiliki pendidikan setingkat SD. 

Program belajar bagi atlet sebenarnya pernah ada, tetapi dihentikan dengan alasan: “Setiap hari cuma baca buku, kapan mau latihan?”

Hasilnya, dia keluar dari dunia atletik dengan tubuh rusak, tanpa ijazah, tanpa keterampilan. Hidupnya jatuh miskin.

Nyaris Mengakhiri Hidup

Tahun 2006, putus asa menumpuk, Guo Ping membeli obat tidur untuk mengakhiri hidup. Untung, ibunya memergoki tepat waktu.

Beberapa bulan kemudian, dia bersama rekannya Ai Dongmei menempuh jalur hukum menuntut pelatih Wang Dexian. Berkat tekanan media, Guo Ping akhirnya menang dan menerima kompensasi 100 ribu yuan (sekitar Rp220 juta kala itu).

Namun, uang itu hanyalah setetes air di lautan. Semua habis untuk membayar utang pengobatan dan kebutuhan keluarga. Hidupnya tetap miskin.

Hidup Setelah Maraton

Musim dingin semakin menusuk. Karena tak mampu membeli batu bara, anak Guo Ping menderita radang dingin di tangan. Bahkan biaya sekolah anaknya pun nyaris tak terpenuhi.

Dengan suara tegas, dia berkata: “Sekalipun kami miskin, aku tak akan biarkan anakku belajar olahraga.”

Dia tak ingin siklus tragis itu terulang.

Saat ditanya tentang masa depannya, Guo Ping menjawab lirih: “Aku hanya ingin membuka warung kecil, cukup untuk makan dan hidup tenang.”

Sayangnya, mimpi sederhana itu pun terasa begitu jauh, seakan sebuah kemewahan.

Kisah Guo Ping adalah potret sisi gelap dunia olahraga kompetitif: ketika tubuh muda diperas habis demi kejayaan sesaat, lalu ditinggalkan tanpa perlindungan. Ia mengingatkan kita bahwa di balik sorak juara, ada banyak atlet yang pulang dengan luka, kemiskinan, dan penyesalan.(jhn/yn)

Video: Banjir Menembus Pintu Hotel Saat Topan Super Ragasa Melanda Hong Kong

EtIndonesia. Setelah meninggalkan kerusakan parah di Taiwan dan Philipina, Topan Super Ragasa, salah satu topan terkuat dalam beberapa tahun terakhir yang melanda Asia Timur, membawa gelombang setinggi tiang lampu ke pesisir Hong Kong pada Rabu dini hari (24/9), melumpuhkan kehidupan di pesisir selatan Tiongkok.

Di Hong Kong, angin kencang menerbangkan sebagian atap jembatan penyeberangan dan merobohkan ratusan pohon di seluruh kota. Sebuah kapal menabrak pantai, menghancurkan deretan pagar kaca di sepanjang tepi laut.

Sebuah video yang tersebar luas di internet menunjukkan gelombang air menerjang pintu-pintu sebuah hotel dan membanjiri bagian dalamnya. Pihak hotel belum memberikan komentar mengenai insiden tersebut. Namun, staf terlihat membersihkan lobi, dengan beberapa bagian eksteriornya rusak.

Area di sekitar beberapa sungai dan kawasan pejalan kaki juga terendam banjir, termasuk jalur sepeda dan taman bermain. Di beberapa restoran di kawasan pejalan kaki, perabotan berserakan berantakan akibat angin. Lebih dari 60 orang yang terluka dirawat di rumah sakit.

Di Tiongkok, hampir 1,9 juta orang direlokasi di seluruh Provinsi Guangdong. Badan Meteorologi Tiongkok memperkirakan topan super tersebut akan mendarat di antara Kota Yangjiang dan Zhanjiang pada malam hari. Sekolah, pabrik, dan layanan transportasi dihentikan di sekitar belasan kota.

17 Tewas di Taiwan

Setidaknya 17 orang tewas, dan banyak orang masih terjebak atau hilang di Taiwan timur setelah Ragasa menyebabkan sebuah danau pegunungan meluap, menurut pihak berwenang. Danau penghalang di Kabupaten Hualien, yang terbentuk oleh tanah longsor yang dipicu oleh hujan deras sebelumnya di wilayah timur pulau yang jarang penduduknya, meluap pada Selasa sore, mengirimkan aliran air berlumpur ke Kota Guangfu di dekatnya.

Visual yang dibagikan di media sosial menunjukkan danau meluap dengan banjir dahsyat di kota pegunungan tersebut.

Guangfu yang terendam banjir terletak di tempat wisata Hualien, yang dipadati wisatawan. Danau ini dihuni sekitar 8.450 orang, lebih dari separuhnya mencari perlindungan di lantai atas rumah mereka atau di dataran tinggi. Kantor Berita Pusat Taiwan mengatakan tim penyelamat sedang mendatangi rumah-rumah untuk memeriksa para penduduk ini.

Taiwan subtropis, yang sering dilanda topan, biasanya memiliki mekanisme penanggulangan bencana yang terkoordinasi dengan baik untuk mencegah jatuhnya korban jiwa massal dengan segera memindahkan orang-orang dari zona bahaya potensial. Namun, penduduk di Guangfu mengatakan peringatan dini tidak memadai ketika danau meluap akibat hujan deras yang dibawa oleh topan super tersebut.

Penyelidikan Dilakukan

Perdana Menteri Taiwan, Cho Jung-tai telah meminta penyelidikan atas kesalahan perintah evakuasi. Cho mengatakan prioritas utama adalah menemukan 152 orang yang masih hilang, tetapi masih banyak pertanyaan yang tersisa.

“Untuk 14 orang yang meninggal dunia secara tragis, kita harus menyelidiki mengapa perintah evakuasi tidak dilaksanakan di area yang ditentukan… Ini bukan tentang menyalahkan orang lain, tetapi tentang mengungkap kebenaran,” ujarnya kepada para wartawan di Guangfu.

‘Banjir Melanda Seperti Tsunami’

Tukang pos di Guangfu, Hsieh Chien-tung, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa banjir melanda kota itu seperti “tsunami”. Dia mengatakan dia berhasil melarikan diri ke lantai dua kantor pos tepat pada waktunya. Chien-tung mengatakan dia kemudian tiba di rumah dan mendapati mobilnya telah tersapu ke ruang tamu.

Petugas pemadam kebakaran mengatakan semua korban tewas dan hilang berada di Guangfu, tempat banjir menghancurkan jembatan jalan utama di seberang sungai.(yn)

Sidang PBB Nyaris Kacau! Serangan Siber Skala Monster Digagalkan di Jantung New York

EtIndonesia— Sebuah operasi intelijen besar yang digelar oleh Secret Service Amerika Serikat berhasil menggagalkan jaringan elektronik yang diyakini dapat melumpuhkan komunikasi darurat dan infrastruktur telekomunikasi Kota New York. Temuan ini muncul tepat saat Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sedang berlangsung, menambah urgensi ancaman tersebut.

 Penemuan Besar di Lima Lokasi Tersembunyi

Foto ini disediakan oleh U.S. Secret Servic di New York pada 22 September 2025, menunjukkan server di atas meja di lokasi tempat server tersebut disita oleh lembaga tersebut. U.S. Secret Service via AP

Menurut pernyataan resmi lembaga keamanan AS, penyelidikan yang dimulai sejak musim semi 2025 memunculkan jejak jaringan “SIM farm” masif di area dalam radius 35 mil (sekitar 56 km) dari Markas Besar PBB di Manhattan. Dalam lima lokasi apartemen terbengkalai, agen menemukan:

  • Lebih dari 300 server SIM card yang secara simultan mengelola lalu lintas telekomunikasi dalam skala besar  
  • Sekitar 100.000 kartu SIM aktif yang siap digunakan untuk pengiriman pesan massal atau aktivitas jaringan lainnya 
  • Kapasitas pengiriman luar biasa: sistem ini diperkirakan mampu mengirim hingga 30 juta SMS per menit — volume yang memadai untuk menimbulkan lalu lintas pesan yang membanjiri jalur telekomunikasi atau bahkan menjatuhkan menara seluler 

Temuan ini tidak hanya berupa perangkat keras, melainkan sebuah sistem yang sangat tersusun dan siap dipakai untuk serangkaian aksi strategis.

 Potensi Dampak: Lumpuhkan Jaringan Seluler & Komunikasi Darurat

Dalam pernyataannya, Direktur Operasi Secret Service, yang disebut sebagai “Michael” oleh beberapa media, memperingatkan skenario terparah—telepon seluler dan layanan darurat bisa “lumpuh total.” Pernyataan tersebut mencerminkan keseriusan ancaman:

“Dengan kekuatan seperti ini, telepon seluler dan layanan gawat darurat bisa lumpuh total.”

Jika jaringan ini benar-benar dioperasikan, konsekuensinya bisa luas:

  1. Pemadaman selektif menara seluler — volume pesan yang tinggi dapat membebani jaringan, memicu overload, atau menyebabkan layanan seluler di area tertentu tidak bisa menjangkau pengguna.
  2. Gangguan panggilan darurat (911 / 112) — sistem darurat mengandalkan jaringan telepon seluler; jika jaringan itu dibanjiri atau mati, layanan ambulans, polisi, pemadam kebakaran bisa terputus.
  3. Anonimitas bagi penjahat atau aktor negara — jaringan SIM farm semacam ini bisa digunakan untuk menyamarkan identitas pengirim pesan ancaman, mengirim spam berskala besar, atau koordinasi tersembunyi di bawah radar pengawasan normal. 
  4. Serangan lanjutan / eskalasi sipil-militer — jaringan seperti ini dapat menjadi infrastruktur pendukung untuk serangan siber tambahan, penyadapan, atau peretasan sistem kritis.

Para penyelidik awal menduga bahwa aktor di balik jaringan ini kemungkinan adalah aktor negara (state actor) — sebuah tuduhan serius yang menandakan bahwa operasi ini bukan sekadar kejahatan kriminal biasa. 

 Kronologi Pengungkapan

Musim semi 2025 — penyelidikan terhadap sejumlah ancaman telekomunikasi yang diarahkan kepada pejabat tinggi AS mulai mengindikasikan pola penggunaan jaringan tersembunyi.

Menjelang 22–23 September 2025 — ketika para pejabat dan delegasi dunia mulai tiba di New York untuk Sidang Umum PBB, operasi kontra intelijen dikerahkan.                  
23 September 2025 — pengumuman resmi dari Secret Service bahwa mereka telah menyita perangkat-perangkat terkait, menghentikan ancaman sebelum bisa dilaksanakan. 

Menurut laporan Reuters, operasi tersebut dilakukan di wilayah New York dan sekitar 35 mil dari lokasi PBB.      

AP News menyebut bahwa jaringan ditemukan “tepat ketika para pemimpin dunia berkumpul” di New York.        

 Reaksi Pemerintah & Tantangan Penyelidikan

Pemerintah AS menyebut bahwa jaringan tersebut mewakili ancaman “telekomunikasi terkait tugas perlindungan pejabat tinggi.” 

 Namun hingga publikasi berita ini, belum ada pengumuman resmi tentang penangkapan pelaku atau negara yang bertanggung jawab. Bloomberg+3The Washington Post+3AP News+3


Tim forensik kini tengah menganalisis data dari 100.000 kartu SIM—setara dengan data ratusan ribu nomor ponsel. Reuters+2AP News+2

Beberapa media juga melaporkan bahwa ditemukan barang-barang tambahan seperti senjata, narkotika, serta peralatan enkripsi di lokasi-lokasi penggerebekan. The Washington Post+2AP News+2

Kritikus keamanan menyebut bahwa jaringan SIM farm semacam ini bukan fenomena baru: praktik serupa sudah digunakan dalam kampanye spam, penipuan massal, dan propaganda daring. WIRED+2AP News+2

Namun skala dan kedekatannya dengan acara diplomatik besar seperti PBB menjadikannya perhatian internasional.

 Implikasi Global & Pelajaran Keamanan Telekomunikasi

Kasus ini menyoroti beberapa pelajaran penting di ranah keamanan komunikasi global:

  • Infrastruktur telekomunikasi sebagai target strategis: ketika perang siber berkembang, jaringan seluler dan SMS bisa diubah menjadi senjata.
  • Kerentanan kota-kota besar dalam event internasional: kota seperti New York yang rutin menjadi tuan rumah acara global perlu proteksi ekstra.
  • Kolaborasi lintas lembaga penting: operasi ini melibatkan Secret Service, lembaga federal, lokal, serta mitra intelijen.
  • Transparansi dan akuntabilitas: masyarakat berhak mengetahui sejauh mana ancaman telah diredam dan siapa aktor di baliknya. (***)

Seekor Anak Kucing yang Makan Tanah

EtIndonesia. Ini adalah sebuah kisah yang membuat saya meneteskan air mata. Seekor anak kucing liar ditemukan setelah ibunya mati selama satu minggu. Hingga seorang dermawan menemukan tempat persembunyian gelap tempat mereka berdua berbaring. Dari sanalah cerita ini bermula.

Kesetiaan Sang Anak Kucing

Anak kucing itu berjenis tabby. Usianya masih sangat muda, kira-kira empat atau lima bulan. Sepertinya dia belum benar-benar mengerti bahwa ibunya sudah tiada, atau mungkin dia tidak mau menerima kenyataan itu. Dia terus setia berada di sisi sang ibu, meski sang ibu sudah tak pernah lagi memberi respons.

Awalnya, saya kira cerita ini hanya sebatas kisah pilu tentang anak kucing yang kehilangan induknya. Namun ternyata, kisahnya jauh lebih menyayat hati.

Mencari Makan di Malam Hari

Rekaman memperlihatkan, saat malam tiba, anak kucing itu keluar mencari makan. Dia mencoba mengunyah ranting pohon, memakan tanah, bahkan menggigit batu. Lalu, dia menemukan sepotong daging, dan dengan tubuh kecilnya yang tertatih-tatih, dia membawanya pulang. Sesampainya di tempat persembunyian, dia meletakkan potongan daging itu di samping tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa.

Melihat adegan itu, saya benar-benar tak kuasa menahan air mata.

Hidup yang Keras

Sejak kepergian induknya, anak kucing ini bertahan hidup sendirian dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Dia hanya keluar ketika hari sudah gelap, berusaha mencari makanan. Kalau tidak menemukan apa pun, dia mengisi perutnya dengan tanah, akar pohon, atau batu kecil. Namun setiap kali berhasil menemukan makanan, dia selalu lebih dulu membawanya pulang untuk “membagi” dengan ibunya.

Betapa perihnya membayangkan—seandainya dia adalah seorang anak manusia, betapa tabah dan mulianya dia.

Pertolongan Datang Terlambat

Akhirnya, anak kucing itu diselamatkan oleh seorang dokter hewan. Ibunya diketahui mati karena ususnya robek akibat terlalu banyak menelan plastik.

Sementara hasil rontgen menunjukkan bahwa perut si kecil penuh dengan tanah dan batu. Hampir tidak ada makanan bergizi yang pernah dia makan.

Ketika staf klinik membawa anak kucing yang sedang diberi infus itu ke sisi ibunya untuk “mengucapkan selamat tinggal terakhir,” hatiku seakan tersayat. Anak kucing itu tampak ketakutan, tubuhnya gemetar, tetapi dia masih menyeret kakinya yang lemah untuk merapat ke tubuh sang ibu. Dia bersandar, berusaha tetap dekat, meski tahu bahwa kehangatan itu sudah hilang.

Pemandangan itu membuat siapa pun ingin segera memeluk dan menenangkannya.

Diam yang Menyentuh Hati

Ada satu detail yang begitu membekas: anak kucing itu hampir tidak pernah mengeong.

·        Tidak ketika dia bersama ibunya yang sudah tiada.

·        Tidak ketika dia diperhatikan orang asing.

·        Tidak ketika dia digendong oleh penyelamat yang meneteskan air mata.

·        Bahkan di klinik, saat bertemu kembali dengan ibunya, dia hanya mengeluarkan satu suara kecil.

Dia hanya mengeong keras ketika ditangkap oleh orang asing, saat melihat ibunya dibawa pergi.

Indahnya Cinta yang Sederhana

Ketika melihat anak kucing itu menyeret tubuh mungilnya dengan susah payah hanya untuk kembali memeluk ibunya, air mata pun kembali mengalir. Dia memang malang, tapi juga penuh keberuntungan karena akhirnya mendapat pertolongan. Saya percaya dia akan tumbuh sehat, semoga ada orang baik yang mau merawatnya.

Saya sangat menyukai anak kucing kecil yang tampak kurus, kotor, dan rapuh itu. Dia membuat saya menangis begitu banyak. Entah apa nama perasaan ini—jika dia manusia, saya akan sangat menghormatinya. Tapi dia hanyalah seekor anak kucing yang bahkan belum dewasa.

Seperti yang saya yakini sejak awal: ibunya mungkin meninggalkan makanan terbaik untuknya, sementara dirinya memakan plastik hingga mati. Sebaliknya, dia sendiri memilih menyisihkan daging untuk ibunya, sementara dia hanya makan tanah untuk bertahan hidup.

Penutup

Seekor anak kucing kecil, dalam kondisi lapar dan harus memakan tanah untuk bertahan, tetap membawa sepotong daging untuk ibunya yang tak berdaya.

Ah… betapa mengharukan.

Bagi saya, anak kucing kecil ini adalah kucing paling indah yang pernah saya lihat. Bahkan bisa dibilang, ketika dia membawa sepotong daging itu ke sisi ibunya sementara perutnya sendiri penuh tanah, dia adalah sosok yang agung—meski ia hanyalah seekor anak kucing. (jhn/yn)

7 Hal Penting dari Pidato Trump di PBB dan Pertemuannya dengan Para Pemimpin Dunia

oleh Ryan Morgan, Travis Gillmore – The Epoch Times

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dalam pidatonya pada 23 September 2025 di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengecam migrasi massal dan agenda terkait iklim, yang ia sebut sebagai kebijakan globalis yang “menghancurkan sebagian besar dunia bebas.”

Dalam pidato hampir satu jam itu, Trump mengatakan imigrasi ilegal, khususnya di Eropa, merobek tatanan sosial dan membahayakan keamanan nasional.

Ia juga mengatakan kebijakan yang ditujukan untuk mengekang apa yang disebut perubahan iklim justru memperkaya negara-negara seperti Tiongkok dengan mengorbankan negara-negara maju.

Presiden Trump juga menuduh PBB tidak memenuhi potensinya sebagai lembaga pembawa perdamaian.

Trump juga mengadakan beberapa pertemuan bilateral setelah pidatonya, termasuk dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Setelah pertemuan itu, Trump mengumumkan perubahan besar dalam sikapnya terkait perang Rusia–Ukraina.

Berikut tujuh hal penting dari pidato Trump dan pertemuan bilateralnya:


1. PBB Tidak Berkontribusi pada Kesepakatan Perdamaian

Di awal pidatonya, Trump mengklaim dirinya berhasil mengakhiri tujuh konflik sepanjang tahun ini, dengan sedikit atau tanpa bantuan dari PBB.

Secara khusus, ia menyebut pemerintahannya berperan dalam memediasi berakhirnya konflik bersenjata antara Kamboja dan Thailand; Kosovo dan Serbia; Rwanda dan Republik Demokratik Kongo; Pakistan dan India; Israel dan Iran; Mesir dan Ethiopia; serta Armenia dan Azerbaijan.

“Saya mengakhiri tujuh perang, berurusan dengan para pemimpin dari masing-masing negara itu, dan bahkan tidak pernah menerima telepon dari PBB yang menawarkan bantuan untuk menyelesaikan kesepakatan,” ujarnya.

Trump menegaskan PBB gagal memenuhi potensinya sebagai pembawa perdamaian global.

“Paling tidak untuk saat ini, yang mereka lakukan hanyalah menulis surat yang berisi kata-kata keras dan kemudian tidak pernah menindaklanjutinya,” katanya. “Itu hanya kata-kata kosong, dan kata-kata kosong tak menghentikan perang.”


2. Imigrasi Ilegal ‘Menghancurkan’ Negara-Negara

Trump memperingatkan para pemimpin asing bahwa kegagalan menekan imigrasi ilegal membahayakan keamanan sosial dan ekonomi negara.

“Baik imigrasi maupun ide-ide energi bunuh diri mereka akan menjadi akhir dari Eropa Barat jika tidak segera dilakukan sesuatu,” kata Trump. “Ini tidak dapat dipertahankan.”

Ia mengatakan warisan budaya suatu negara terancam oleh kebijakan perbatasan terbuka yang membiarkan masuknya agama dan tradisi berbeda tanpa kendali.

“Apa yang membuat dunia begitu indah adalah setiap negara itu unik,” ujarnya. “Namun agar tetap demikian, setiap negara berdaulat harus memiliki hak untuk mengendalikan perbatasannya sendiri.”

Ia menambahkan, lonjakan migrasi massal telah membebani beberapa negara, dan klaim suaka palsu menjadi masalah.

“Meski kita akan selalu berbesar hati terhadap tempat dan orang yang berjuang dan benar-benar penuh belas kasih … mereka harus menyelesaikan masalah di negara mereka sendiri, bukan menciptakan masalah baru di negara kita,” kata Trump.

Ia mengutip data Dewan Eropa yang menunjukkan setidaknya setengah dari seluruh narapidana di Austria, Jerman, Yunani, dan Swiss pada 2024 adalah imigran atau warga asing.

“Ketika penjara Anda penuh dengan para pencari suaka palsu yang membalas kebaikan dengan kejahatan, saatnya mengakhiri eksperimen gagal perbatasan terbuka,” kata Trump. “Anda harus mengakhirinya sekarang.”

Trump juga menuding PBB “mendanai serangan terhadap negara-negara Barat” dengan memberikan dukungan uang tunai, makanan, tempat tinggal, dan bantuan lain kepada para migran, termasuk yang menuju Amerika Serikat.


3. Trump Menyerang Kebijakan Iklim Globalis

Trump juga menargetkan kebijakan iklim globalis yang menurutnya memaksa negara-negara maju untuk merugikan diri mereka sendiri.

Ia mengatakan Eropa telah mengurangi jejak karbon kolektif sebesar sekitar 37 persen, tetapi upaya tersebut sia-sia belaka karena adanya peningkatan 54 persen secara global, yang banyak dipicu oleh Tiongkok.

“Selamat Eropa, kerja bagus. Kehilangan banyak pekerjaan, banyak pabrik ditutup, tetapi Anda berhasil mengurangi jejak karbon 37 persen. Namun semua pengorbanan itu telah sepenuhnya dihapuskan, bahkan lebih,” katanya.

Trump menambahkan, tagihan energi di Eropa empat hingga lima kali lebih tinggi daripada di Tiongkok.

Ia juga membandingkan jumlah kematian terkait panas di Amerika Serikat, yang dilengkapi pendingin udara, dengan Eropa yang lebih sedikit memilikinya. AS mencatat sekitar 1.300 kematian per tahun, sedangkan Eropa sekitar 175.000.

“Konsep globalis yang meminta negara industri maju yang sukses untuk menyakiti diri mereka sendiri dan mengacaukan masyarakat mereka secara radikal harus ditolak sepenuhnya dan segera,” ujarnya.


4. Optimisme Baru tentang Ukraina Merebut Kembali Wilayah

Setelah pidato PBB, Trump bertemu Zelenskyy membahas perang Ukraina. Ia kemudian memberi sinyal dukungan baru bagi Ukraina untuk merebut kembali seluruh wilayah yang hilang sejak 2014.

“Setelah memahami sepenuhnya situasi militer dan ekonomi Ukraina/Rusia, serta melihat kesulitan ekonomi yang dialami Rusia, saya yakin Ukraina, dengan dukungan Uni Eropa, berada dalam posisi untuk berjuang dan MENANG merebut kembali seluruh Ukraina dalam bentuk aslinya,” tulis Trump di Truth Social.

Pernyataan ini menandai perubahan sikap Trump. Sebelumnya, ia pernah menyebut kemungkinan Ukraina menyerahkan sebagian wilayah demi mencapai kesepakatan damai cepat dengan Rusia.

Pada Februari, hanya beberapa minggu setelah masa jabatannya dimulai, Menteri Perang Pete Hegseth mengatakan kebijakan baru AS terhadap Eropa dan konflik Ukraina akan mempertimbangkan realitas di medan perang.

Namun kali ini Trump menunjukkan nada optimistis:

“Rusia telah berperang tanpa arah selama tiga setengah tahun, sebuah perang yang seharusnya bisa dimenangkan kekuatan militer sejati dalam waktu kurang dari seminggu,” tulisnya.

“Ini bukan memperkuat Rusia, justru membuat mereka terlihat seperti ‘macan kertas’.”


5. Seruan Agar NATO Menembak Jatuh Pesawat Pelanggar

Dalam pertemuan dengan Zelenskyy, Trump ditanya apakah anggota NATO harus menembak jatuh pesawat Rusia yang melanggar wilayah udara mereka.

“Ya, saya mendukung,” jawab Trump.

Komentarnya muncul setelah Polandia, anggota NATO, melaporkan menembak jatuh beberapa drone Rusia pada 10 September, saat Rusia membombardir Ukraina barat. Jet tempur F-35 Belanda membantu operasi pertahanan udara Polandia.

Saat ditanya sejauh mana AS akan membantu sekutunya di NATO dalam konfrontasi semacam itu, Trump menjawab:

“Tergantung situasinya. Namun Anda tahu, kami sangat tegas terhadap NATO.”


6. Sekutu Eropa Didorong Hentikan Energi Rusia

Dalam pidatonya, Trump menyatakan frustrasi bahwa Rusia masih bisa menjaga industri perangnya tetap berjalan berkat ekspor energi.

Ia menuding Tiongkok dan India sebagai penyandang dana utama perang Rusia melalui pembelian bahan bakar fosil Rusia.

Namun, ia juga menegaskan bahkan anggota NATO sendiri masih terus membeli energi Rusia.

“Tidak bisa dimaafkan, bahkan negara-negara NATO belum sepenuhnya memutus energi Rusia dan produk energi Rusia,” katanya.

Laporan Agustus dari Centre for Research on Energy and Clean Air menemukan bahwa Uni Eropa menjadi pembeli terbesar keempat ekspor minyak mentah Rusia sejak akhir 2022, dan juga pembeli utama gas alam cair Rusia.

Trump mengatakan siap meningkatkan tekanan ekonomi agar Rusia mau berunding, tetapi pembelian energi Rusia oleh Eropa bisa merusaknya.

“Mereka harus segera menghentikan semua pembelian energi dari Rusia. Jika tidak, kita hanya membuang-buang waktu,” ujarnya.


7. Akhiri Pengembangan Senjata Biologis dan Nuklir

Trump mendesak para pemimpin dunia mengutamakan diplomasi dan menghentikan pengembangan senjata biologis dan nuklir.

“Saya melihat senjata yang begitu kuat hingga kita tidak pernah bisa menggunakannya,” katanya. “Jika kita pernah menggunakannya, dunia benar-benar bisa berakhir.”

Ia menyerukan jalur menuju perdamaian, dengan menyatakan masa depan organisasi ini dan umat manusia sedang dipertaruhkan.

“Tidak akan ada lagi PBB untuk dibicarakan,” katanya. “Tidak akan ada apa-apa lagi.”

Trump juga menyinggung virus COVID-19 dan asal-usul wabah tersebut sebagai peringatan, meski tidak menyebut Tiongkok secara langsung.

“Beberapa tahun lalu, eksperimen sembrono di luar negeri memberi kita pandemi global yang menghancurkan,” kata Trump.

“Namun meski bencana dunia itu terjadi, banyak negara masih melanjutkan penelitian berisiko tinggi tentang senjata biologis dan patogen buatan manusia.”

Trump mengumumkan pemerintahannya akan bekerja sama dengan negara lain untuk mengembangkan sistem verifikasi berbasis AI guna menegakkan Konvensi Senjata Biologis, sebuah perjanjian yang melarang negara-negara mengembangkan senjata tersebut.

Jack Phillips dan Tom Ozimek turut berkontribusi pada laporan ini.

Artikel ini terbit di The Epoch Times edisi bahasa Inggris dengan judul 7 Takeaways From Trump’s UN Speech, Meetings With World Leaders

Dari “Fun Cooking” hingga Berbagi Kebahagiaan: Grand Whiz Hotel Trawas Rayakan Hari Nasi Goreng Nasional

0

Trawas, 22 September 2025 – Grand Whiz Hotel Trawas memperingati Hari Nasi Goreng Nasional yang jatuh pada 20 September dengan serangkaian acara yang meriah dan penuh makna. Perayaan yang berlangsung selama dua hari (20-21 September 2025) ini tidak hanya menyajikan kelezatan nasi goreng tetapi juga menitikberatkan pada kebersamaan keluarga dan kepedulian terhadap masyarakat.

Hari pertama perayaan, Sabtu (20/9), diwarnai dengan aksi berbagi 100 porsi Nasi Goreng Spesial secara gratis kepada pengunjung di Panorama Cafe. Aksi ini disambut antusias oleh masyarakat dan menjadi bukti komitmen hotel dalam mengapresiasi kuliner lokal sekaligus berbagi kebahagiaan.

“Kami ingin mengangkat martabak nasi goreng tidak sekadar sebagai hidangan, tetapi sebagai bagian dari budaya Indonesia yang bisa dinikmati bersama dalam suasana menyenangkan,” ujar Jimmie Arthur, General Manager Grand Whiz Hotel Trawas.

Keesokan harinya, Minggu (21/9), keceriaan berpindah ke area kolam renang hotel. Puluhan anak-anak terlihat antusias mengikuti “Fun Cooking Activity: Nasi Goreng Topping Karakter Lucu”. Mereka diajak berkreasi menghias piring nasi goreng mereka sendiri dengan menggunakan berbagai topping seperti sosis, nori, dan sayuran untuk membentuk karakter hewan atau wajah lucu. Kegiatan ini sukses menciptakan pengalaman unik dan mendorong kreativitas anak-anak, sekaligus mempererat quality time dalam keluarga.

Sebagai satu-satunya hotel kids-friendly di kawasan Mojokerto, Grand Whiz Hotel Trawas konsisten menghadirkan inisiatif yang sesuai dengan positioning-nya. Riyya Izza, Marketing Communications hotel, berharap acara ini dapat menjadi agenda tahunan. “Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin mempererat hubungan dengan masyarakat dan terus memperkuat identitas kuliner Indonesia, dimulai dari hal sederhana yang disukai semua usia, seperti nasi goreng,” tuturnya.

Dengan lokasinya yang menghadap ke Gunung Penanggungan dan dilengkapi fasilitas seperti kolam renang anak, kolam busa, serta berbagai wahana permainan, Grand Whiz Hotel Trawas semakin mengukuhkan diri sebagai destinasi pilihan untuk liburan keluarga yang penuh warna.

Jika AI Adalah Senjata, Mengapa Kita Memberikannya kepada Remaja? 

Pemerintah menyebut AI sebagai perlombaan senjata. Dalam perang, senjata dijaga ketat, bukan diberikan kepada anak-anak.

Kay Rubacek

Selama bertahun-tahun, para pakar kecerdasan buatan (AI) menyampaikan peringatan yang sama. Bahayanya bukan pada mesin yang tiba-tiba “sadar” lalu merebut kekuasaan, melainkan pada manusia yang terpikat oleh kesan otoritas AI, mempercayakan keputusan penting yang seharusnya tidak boleh didelegasikan.

Skenario yang pernah dibayangkan begitu ekstrem: seorang komandan meluncurkan rudal nuklir berdasarkan data keliru; pemerintah memenjarakan warganya karena algoritma menandai mereka sebagai ancaman; sistem keuangan runtuh akibat transaksi otomatis yang berantai di luar kendali. Semua itu dipandang sebagai kekhawatiran legal, tapi dianggap masalah masa depan.

Namun kenyataannya, skenario terburuk dari penyerahan kepercayaan manusia kepada mesin sudah terjadi—dan itu tidak muncul di ruang perang atau medan tempur, melainkan di kamar seorang remaja.

Adam Raine, 16 tahun, awalnya menggunakan chatbot AI untuk membantu mengerjakan PR. Lama-kelamaan, chatbot itu berperan sebagai teman terdekatnya. Menurut gugatan orang tua Adam dan kesaksian ayahnya di Kongres Amerika Serikat, chatbot tersebut mendorong Adam menjauh dari keluarga, bahkan mengajarinya melewati sistem pengaman bawaan, lalu menyusun sebuah “surat bunuh diri yang indah.”

Kematian Adam menunjukkan apa yang terjadi ketika seorang remaja menaruh kepercayaan manusiawinya pada sistem yang bisa meniru kepedulian, tapi tidak memahami arti kehidupan. Sejarah sudah memberi pelajaran betapa berbahayanya kepercayaan salah tempat pada mesin.

Pada September 1983, saat Perang Dingin memuncak, perwira Soviet Stanislav Petrov berada di bunker ketika alarm berbunyi. Komputer melaporkan peluncuran rudal AS. Protokol menuntutnya segera melapor, yang berarti memicu serangan balasan nuklir. Namun Petrov ragu. Hanya beberapa rudal yang terdeteksi, bukan gelombang besar seperti yang ia perkirakan. Ia menilai itu alarm palsu—dan benar. Kilauan sinar matahari di awan keliru terbaca satelit sebagai jejak roket. Keputusannya untuk tidak percaya pada mesin menyelamatkan jutaan nyawa.

Beberapa minggu sebelumnya, sebaliknya terjadi. Pesawat sipil Korean Air Lines 007 menyimpang masuk wilayah Soviet. Radar salah mengidentifikasi sebagai pesawat mata-mata AS. Komandan mempercayai mesin, memerintahkan penembakan, dan 269 orang tewas.

Dua peristiwa ini memperlihatkan satu kebenaran: ketika orang dewasa menolak data salah, bencana bisa dicegah; ketika mempercayainya, bencana terjadi.

Kini dinamika itu hadir di ruang yang jauh lebih intim: kamar remaja. Kasus Adam dibawa ke Kongres AS, di mana sang ayah membacakan percakapan anaknya dengan chatbot—bukti bagaimana sistem itu meraih kepercayaan Adam dan menjerumuskannya dalam keputusasaan.

Sayangnya, kasus Adam bukan satu-satunya. Di Florida, AS, seorang ibu juga menggugat setelah anaknya, 14 tahun, bunuh diri usai terikat secara emosional dengan chatbot yang berperan sebagai karakter fiksi. Sebuah studi di Psychiatric Services menemukan, chatbot populer gagal memberikan jawaban tepat pada pertanyaan berisiko tinggi terkait bunuh diri.

Tragedi ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil benturan antara perkembangan normal remaja dengan teknologi abnormal. Otak remaja belum matang: pusat emosi berkembang lebih cepat dibanding korteks prefrontal yang mengatur penilaian dan kontrol diri. Itulah mengapa mereka lebih impulsif dan mudah menganggap keputusasaan sesaat sebagai akhir segalanya.

Statistik mendukung hal ini. Pada 2023, CDC AS (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) melaporkan bunuh diri sebagai penyebab kematian kedua terbesar bagi remaja di AS, dengan angka yang melonjak dalam dua dekade terakhir.

Di sinilah chatbot AI berbahaya. Ia meniru peran teman dekat yang sangat dicari otak remaja—memberi validasi, lalu mengarahkan kepercayaan itu lewat kata-kata yang bisa membentuk identitas, emosi, hingga keputusan soal hidup dan mati. Padahal “teman” ini bukanlah teman, melainkan persona buatan tanpa empati.

Adam melakukan apa yang biasa dilakukan remaja: mencari koneksi. Yang ia temukan adalah chatbot yang membuatnya meremehkan keluarga, masa depan, dan hidupnya sendiri.

Kasus ini tidak bisa dianggap sekadar “kerugian sampingan” dalam perlombaan senjata AI. Dalam perang lama, warga sipil kadang menjadi korban. Dalam “perang” AI, anak-anak justru menjadi peserta langsung. Percakapan mereka melatih sistem itu—dan dalam kasus Adam, senjata yang ia bantu latih berbalik menghancurkannya.

Generasi tua sering sulit memahami hal ini. Bagi yang lahir sebelum internet, sulit membayangkan remaja bisa hancur karena percakapan dengan mesin. Tapi ini bukan kasus terisolasi. Ini cermin perubahan besar dalam kehidupan anak muda akibat dominasi perusahaan teknologi besar.

Ironisnya, banyak tokoh teknologi justru membatasi anak-anak mereka sendiri. Steve Jobs tidak mengizinkan iPad di rumahnya. Bill Gates melarang ponsel di meja makan. Eksekutif Silicon Valley menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah tanpa layar, sementara dunia diberi tahu bahwa AI adalah masa depan.

Jika pencipta teknologi ini tahu bahayanya, mengapa kita mengira mereka akan membatasi dampak AI untuk anak-anak lain?

Ketika kasus Adam terungkap, OpenAI menyatakan sedang “meningkatkan perlindungan,” namun pakar tetap memperingatkan. Laporan AI Safety Index 2025 menegaskan perkembangan AI melaju lebih cepat daripada praktik pengelolaan risikonya. Profesor Stuart Russell mengatakan, “Beberapa perusahaan hanya melakukan upaya simbolis, tapi tidak ada yang benar-benar cukup.”

Masalah utamanya bukan pada filter keamanan. Remaja tidak melihat filter—mereka melihat “teman.” Dan ketika “teman” itu menyarankan keputusasaan, mereka mendengarkan.

Generasi muda saat ini akan menjadi perancang sistem AI di masa depan. Jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang mendorong keputusasaan, fondasi masa depan umat manusia terancam runtuh.

Sejarah mengingatkan: keputusan Petrov menolak data salah menyelamatkan jutaan nyawa; sementara kepercayaan buta pada radar menewaskan ratusan orang. Kini, kepercayaan keliru Adam Raine pada chatbot merenggut nyawanya sendiri. Dan Adam bukan satu-satunya.

Dalam setiap generasi, orang tua khawatir anaknya bergaul dengan “teman buruk.” Bedanya, kini “teman buruk” itu bukan remaja sebaya, melainkan persona buatan yang tersedia 24 jam, terdengar akrab, tapi tanpa empati.

Karena itu, orang dewasa harus benar-benar meninjau ulang apa yang telah diciptakan. Jika kita hanya melihat anak-anak sebagai “pengguna awal” dan bukan sebagai masa depan kemanusiaan, maka kita gagal menjalankan tanggung jawab paling dasar.

Pemerintah sendiri menyebut AI sebagai perlombaan senjata. Dan dalam perang, senjata dijaga ketat, bukan diberikan kepada anak-anak sebagai mainan. Jika benar AI adalah perlombaan senjata, maka kegagalan membangun dan menegakkan pagar pengaman adalah sebuah kelalaian yang tidak bisa dimaafkan.

Kisah Adam bukan yang pertama. Dan jika tidak ada perubahan, itu bukan yang terakhir.


Kay Rubacek adalah pembuat film peraih penghargaan, penulis, pembicara, dan mantan pembawa acara NTD “Life & Times.” Setelah pernah ditahan di penjara Tiongkok karena membela hak asasi manusia, ia mendedikasikan karyanya untuk menghadapi rezim komunis dan sosialis dalam bentuk global modern. Ia telah berkontribusi di The Epoch Times sejak 2010.

Semangkuk Mie Daging Sapi

EtIndonesia. Dalam ingatan saya, itu terjadi pada suatu senja yang masih dingin di awal musim semi. Saat itu, sebuah pasangan tamu masuk ke warung kami—seorang ayah dan anak.

Yang membuat mereka begitu istimewa adalah karena si ayah seorang tunanetra. Wajahnya penuh keriput legam, dengan sepasang mata kelabu kosong yang menatap tanpa arah. Di sisinya, seorang pemuda sederhana sekitar dua puluh tahun dengan pakaian lusuh tapi rapi, berwajah tenang berisi aura pelajar, dengan hati-hati menuntun ayahnya masuk. Mereka duduk di meja dekat kasir, tak jauh dari tempat saya berdiri.

“Pak, duduklah dulu. Saya ke depan pesan,” kata si anak, menaruh barang bawaannya, lalu berjalan ke meja saya.

 “Dua mangkuk mie daging sapi,” ujarnya dengan suara cukup keras.

Saya baru hendak mencatat, ketika tiba-tiba dia melambaikan tangan memberi isyarat. Saya menatapnya heran. Dia tersenyum canggung, lalu menunjuk papan harga di belakang saya. Pesanannya sebenarnya hanya satu mie daging sapi, satunya lagi mie polos dengan minyak bawang.

Sekilas saya tertegun, lalu tersadar: dia tadi menyebut dua mangkuk mie daging sapi bukan untuk saya, melainkan agar ayahnya mendengar dan percaya. Nyatanya, dia hanya mampu membeli semangkuk. Saya pun tersenyum mengerti, mencatat sesuai pesanannya. Di wajah pemuda itu tersirat rasa lega sekaligus terima kasih.

Cinta Ayah yang Tak Pernah Berhenti

Tak lama, dua mangkuk mi panas mengepul diantarkan. Pemuda itu dengan hati-hati mendorong mi daging sapi ke hadapan ayahnya. 

“Pak, hati-hati, panas,” katanya lembut.

Dia sendiri lalu meraih mangkuk berisi mie polos. Namun sang ayah tak langsung makan. Dengan jari-jari tuanya yang kaku, dia dengan sumpitnya mengutak-atik isi mangkuk, mencari-cari. Begitu menemukan sepotong kecil daging, buru-buru dia menjepitnya dengan sumpit dan memindahkannya ke mangkuk anaknya.

“Makanlah, kamu harus makan lebih banyak,” ujarnya. Suaranya penuh kasih, senyum hangat terukir di wajah renta itu.

Anehnya, sang anak tidak menolak. Dia menerima potongan daging itu tanpa sepatah kata, lalu diam-diam mengembalikannya lagi ke mangkuk ayah. Begitulah berulang-ulang, hingga seolah-olah daging di mangkuk sang ayah tak pernah habis.

“Warung ini sungguh murah hati, mie dagingnya banyak sekali,” gumam si ayah sambil tersenyum puas. 

Saya yang mendengar hanya bisa menunduk. Saya tahu, daging itu sebenarnya hanya beberapa potong tipis, bahkan nyaris tembus cahaya.

Anaknya menimpali:  “Betul Pak, mangkuk saya sampai penuh. Ayah cepat makan saja.”

Akhirnya si ayah pun menyuap sepotong daging ke mulutnya, mengunyah perlahan. Sang anak menatapnya, lalu tersenyum dan mulai melahap mi polosnya.

Kebaikan Kecil dari Dapur

Entah sejak kapan, bibi saya yang ikut mengelola warung sudah berdiri di samping, memperhatikan adegan itu dengan mata yang berkaca-kaca. 

Tiba-tiba, dari dapur, pegawai kami Xiao Zhang membawa sepiring daging sapi potong dingin. Dengan isyarat mata, bibi menyuruh meletakkannya di meja ayah-anak itu.

Pemuda itu langsung panik: “Maaf, sepertinya Anda salah antar. Kami tidak pesan daging.”

Bibi segera mendekat sambil tersenyum hangat:  “Tidak salah. Hari ini ulang tahun warung kami. Itu hadiah untuk pelanggan.”

Saya sempat cemas kalau pelanggan lain merasa iri. Untungnya, tak ada yang memperhatikan. Pemuda itu hanya mengangguk, tersenyum, lalu memindahkan beberapa potong daging ke mangkuk ayahnya. Sisa daging dia simpan ke dalam plastik kecil, mungkin untuk dibawa pulang.

Kami hanya berdiri diam, menyaksikan mereka menghabiskan makanan. Setelah selesai, mereka beranjak pergi.

Sebuah Kejutan yang Membisu

Ketika Xiao Zhang membersihkan meja, tiba-tiba dia berseru pelan. Di bawah mangkuk si anak, terselip beberapa lembar uang kertas. Jumlahnya persis enam yuan—harga satu piring daging sapi di papan menu kami.

Kami semua terdiam. Bibi dan saya hanya saling pandang. Tenggorokan tercekat, kata-kata tak lagi bisa keluar. Yang tertinggal hanyalah hembusan napas panjang dan perasaan haru yang mengendap lama di dada.

Kadang, cinta seorang anak kepada orangtuanya begitu halus dan diam, tapi nyata. Sama halnya dengan cinta seorang ayah, yang selalu ingin memberi walau hidup serba kekurangan.(jhn/yn)

Ukraina Hancurkan Depot Drone dan Amunisi Rusia dalam Jumlah Besar di Donbas

EtIndonesia. Angkatan Pertahanan Ukraina menyerang depot drone dan amunisi militer Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk, demikian dilaporkan Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina.

Menurut Staf Umum, musuh berupaya mengatur distribusi amunisi untuk Batalyon Tank ke-17 Divisi Senapan Bermotor ke-70 di dekat Bohdanivka yang diduduki sementara di wilayah Luhansk, serta mengalokasikan lebih dari 19.000 drone berbagai jenis untuk pasukan Rusia di wilayah Donetsk.

“Truk-truk mengirimkan puluhan ribu ranjau, granat, dan amunisi berbagai jenis ke depot lapangan resimen tank, termasuk ribuan peluru tank (terutama peluru presisi ZUBK-14) dan peluru artileri,” ungkap Staf Umum.

Dalam kasus kedua, kargo tersebut terdiri dari berbagai drone (Molniya, Boomerang, Vandal Novgorodsky, Gorynych, dan lainnya) beserta peralatan terkait seperti baterai, modul komunikasi, dan pemancar video.

Pada 29 Agustus, Kelompok Operasional-Strategis Dnipro dari Pasukan Ukraina menyerang titik logistik untuk distribusi drone, menghancurkan persediaan besar drone serang Rusia.

Pada 18 September, unit-unit Angkatan Bersenjata dan Dinas Keamanan Ukraina menyerang depot amunisi resimen pasukan Rusia di wilayah Luhansk.

“Selain amunisi, kendaraan musuh juga hancur,” Staf Umum menjelaskan.

Serangan Ukraina terhadap pasukan Rusia

Baru-baru ini, Pasukan Pertahanan Ukraina melancarkan serangan terhadap pos komando militer Rusia di wilayah Donetsk, mengenai personel musuh, termasuk staf komando.

Para perlawanan Ukraina juga menargetkan pos komando Brigade Senapan Bermotor Terpisah ke-85 Rusia di wilayah Donetsk yang diduduki sementara.

Selain itu, Angkatan Bersenjata Ukraina berhasil menyerang pos komando Tentara Gabungan ke-8 di wilayah yang sama.(yn)

Kesalahan Umum dalam Rutinitas Perawatan Rambut yang Harus Dihindari

Rambut berada pada kondisi paling sehat ketika kutikulanya utuh dan sisiknya tertutup rapat. Rutinitas perawatan rambut yang salah dapat merusak kutikula dan menyebabkan rambut patah

Flora Zhao

Rambut paling sehat saat pertama kali tumbuh dari folikel—ibarat sweater kasmir baru. Seiring waktu, tanpa perawatan yang tepat, sweater itu akan berbulu dan kehilangan kilaunya. Sama seperti sweater, batang rambut menjadi rentan terhadap kerusakan kumulatif, akhirnya berubah kusut, rapuh, dan lebih mudah patah—yang berujung pada kerontokan rambut.

“Beberapa kebiasaan dapat membuat rambut lebih mudah patah, sehingga terlihat seperti Anda mengalami kerontokan rambut,” kata Dr. Cameron Rokhsar, dokter kulit sekaligus profesor klinis dermatologi di Mount Sinai Hospital, kepada The Epoch Times.

Menyisir, mencuci, mengeringkan, dan menggunakan kondisioner dengan benar adalah dasar untuk menjaga keutuhan batang rambut. Sayangnya, banyak orang tanpa sadar melakukan rutinitas perawatan rambut yang justru merusaknya. Berikut beberapa kesalahan umum—dan cara menghindarinya:


1. Terlalu Sering Mewarnai dan Melakukan Perm

Salah satu penyebab paling umum kerusakan rambut adalah overprocessing, termasuk perawatan kimia berulang seperti pewarnaan, perm, serta terlalu sering menggunakan pengering rambut.

Praktik ini sangat merusak rambut, kata Rokhsar. Namun banyak orang tetap mewarnai atau melakukan perm tiap dua hingga tiga bulan—bahkan setiap bulan—yang menurutnya terlalu sering.

Rambut terdiri dari tiga lapisan. Kutikula—lapisan terluar dan pelindung batang rambut—tersusun atas lebih dari enam lapisan sel bersisik yang saling bertumpuk. Rambut berada pada kondisi terbaik saat kutikula utuh dan sisiknya tertutup rapat, menciptakan permukaan halus yang memantulkan cahaya sehingga rambut tampak berkilau dan lembut.

Proses perm (permanent wave atau pengeritingan permanen) dan pewarnaan dengan sengaja mengganggu lapisan kutikula agar bahan kimia bisa masuk. Akibatnya, rambut yang sudah diproses secara kimia tidak akan pernah kembali selembut atau sekuat sebelumnya.

Pada perm, misalnya, penelitian dengan pelacak fluoresen menemukan bahwa rambut yang diperm memungkinkan penetrasi hingga rata-rata 25 mikrometer, dibandingkan hanya 5 mikrometer pada rambut sehat yang tidak diolah.

Berbeda dengan penataan sementara, perm melibatkan pengangkatan sisik kutikula lalu memutus dan membentuk ulang ikatan kimia di dalam korteks untuk mengubah struktur rambut secara permanen. Perawatan kondisioner hanya memberi perlindungan sementara—begitu rambut dicuci, lapisan tersebut hilang.

Seiring waktu, dengan pengulangan perawatan kimia, sel-sel kutikula menjadi rusak dan tidak beraturan. Rambut pun tampak kasar dan kaku. Paparan panas saat perm juga membuat rambut kehilangan kelembapan dan asam amino, sehingga lebih rapuh. Dalam pelurusan kimia, misalnya, setidaknya 35 persen sistein terurai untuk mengubah rambut keriting menjadi lurus.

Dalam pewarnaan, zat warna menembus kutikula dan masuk ke korteks, menghancurkan pigmen alami lalu membentuk molekul warna baru. Reaksi oksidatif ini menimbulkan kerusakan permanen pada batang rambut. Zat alkali dan oksidator dalam pewarna juga mengurangi kekuatan rambut.


2. Salah Menggunakan Sampo

Banyak orang mengoleskan sampo hingga ke seluruh batang rambut lalu menggosoknya dengan keras.

Cara yang benar adalah dengan membusakan sampo di telapak tangan terlebih dahulu, fokus membersihkan kulit kepala, lalu biarkan busa mengalir melalui batang rambut sambil dibimbing dengan lembut menggunakan jari.

Dr. Armen Nikogosian, dokter pengobatan fungsional, merekomendasikan penggunaan sampo dua hingga tiga kali seminggu. Dalam banyak kasus, keramas setiap hari terlalu berlebihan. Bilas dengan air biasa sudah cukup, katanya.

Kebanyakan sampo cenderung mengeringkan kulit kepala dan rambut, serta sering menyebabkan iritasi. Sampo juga menghilangkan sebum—kondisioner alami yang membantu menghaluskan kutikula dan mengurangi listrik statis.

Pembersihan lembut dengan air membantu kulit kepala “bernapas,” mengurangi peradangan, dan memulihkan kemampuan alami kulit kepala mengatur produksi minyak.

Namun, bagi orang yang tinggal di lingkungan tercemar atau memiliki kulit kepala berminyak, keramas setiap hari mungkin perlu dilakukan.

“Dengan sampo bebas sulfat, kulit kepala Anda tidak akan meradang,” kata Dr. Manish Mittal, ahli transplantasi rambut sekaligus pendiri Mittal Hair Clinic di London. Sulfat adalah bahan pembersih keras yang bisa mengikis minyak alami.

Shu Rong, praktisi pengobatan tradisional Tiongkok di Cambridge, Inggris, merekomendasikan sabun hitam Afrika dan sabun buatan tangan berbahan minyak alami seperti minyak zaitun.

Jika berenang di laut atau kolam, gunakan sampo khusus yang diformulasikan untuk menghilangkan garam dan klorin, karena keduanya dapat mengikis kelembapan dan melemahkan rambut.


3. Melewatkan Kondisioner

Sebagian orang—terutama pria—menganggap kondisioner merepotkan atau membuat rambut berminyak. Namun, menggunakan kondisioner setelah keramas adalah langkah penting yang tidak boleh dilewatkan.

Batang rambut tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Saat rambut menua dan rusak, lapisan pelindung kutikula terkikis, meninggalkan celah permanen dan mengurangi kekuatan rambut. Perubahan pH setelah keramas juga bisa mengangkat kutikula, membuat rambut mudah kehilangan kelembapan dan protein.

Kondisioner membantu menutup kembali kutikula, mengisi celah, dan memberi perlindungan tambahan setelah setiap keramas.

Rokhsar menyarankan penggunaan kondisioner bahkan untuk rambut berminyak. Umumnya, minyak berlebih di akar bukan disebabkan oleh kondisioner.

Bagi yang ingin menghindari kondisioner sintetis, Rokhsar merekomendasikan minyak alami seperti minyak zaitun, kelapa, dan almond. Minyak ini dapat masuk ke batang rambut dan mengisi kembali protein yang hilang.

Minyak dapat dioleskan pada batang rambut atau kulit kepala, dan sebaiknya didiamkan minimal 5–10 menit sebelum dibilas.

Bahan rumah tangga lain yang bermanfaat adalah cuka. Shu menyarankan membilas rambut dengan larutan cuka encer (1:10 cuka putih atau cuka apel dengan air hangat) setelah keramas. Bilas kembali dengan air hangat untuk menghilangkan sisa cuka. Keasaman alaminya membantu menutup kutikula, membuat rambut lebih halus dan berkilau.

Untuk rambut dan kulit kepala kering, lanjutkan dengan serum atau minyak rambut. Oleskan pada rambut lembap agar kelembapannya lebih terkunci.


4. Menyisir dan Mengeringkan Rambut dengan Cara yang Salah

Cara Anda mengeringkan dan menyisir rambut setelah keramas berpengaruh besar. Rambut basah sangat rapuh. Banyak orang menarik dan meluruskan rambut basah sambil meniup dengan panas tinggi—kebiasaan ini bisa memutus ikatan kimia rambut dan membuatnya mudah patah.

Cara terbaik adalah menepuk rambut dengan handuk, biarkan kering alami, lalu rapikan dengan sisir bergigi jarang.

Alat penata rambut berbasis panas seperti hair dryer, catokan, dan pengeriting dapat merusak batang rambut. Panas tinggi membuat air dalam batang rambut menguap menjadi uap, menciptakan gelembung di dalam batang rambut (bubble hair).

Jika tetap ingin menggunakan alat panas, gunakan pengaturan suhu rendah dan jaga jarak sekitar 15 cm dari rambut.


5. Mengabaikan Pijat Kulit Kepala

Pijat kulit kepala sederhana bisa membantu merangsang pertumbuhan rambut sehat dengan meningkatkan aliran darah dan mengaktifkan folikel rambut.

“Pijat bisa membantu mencegah kerontokan,” kata Alexandra Roach, praktisi kesehatan holistik bersertifikat. Konsistensi adalah kunci—pijat sesekali tidak akan memberi dampak nyata.

Sebuah penelitian pada 327 orang dengan kerontokan rambut permanen menemukan bahwa setelah rata-rata tujuh bulan pijat harian (11–20 menit per hari), hampir 70 persen melaporkan kerontokan berhenti atau tanda-tanda pertumbuhan rambut baru.

Studi lain selama 24 minggu pada pria Jepang sehat menunjukkan pijat kulit kepala meningkatkan ketebalan rambut dan memengaruhi lebih dari 5.000 gen dalam sel folikel rambut.

Banyak orang secara alami memijat kepala saat keramas, tapi biasanya terlalu singkat. Nikogosian menyarankan pijat selama 2–4 menit dengan tekanan sedang menggunakan ujung jari.

Mary Helen Lee, herbalis klinis, menyarankan cara lain: mandi dengan air hangat lalu bergantian dengan air dingin. Perubahan suhu ini melancarkan sirkulasi darah ke kulit kepala.


Dari Luar dan Dari Dalam

Tips ini bisa membantu menjaga kesehatan rambut dari luar. Namun, perawatan jangka panjang juga bergantung pada kondisi dalam tubuh.

“Rambut lebih dari sekadar penampilan luar—itulah cerminan kesehatan dan vitalitas Anda,” kata Shu.

Asupan gizi seimbang, manajemen stres, tidur yang cukup, serta hubungan sosial yang sehat semuanya berperan penting agar rambut tetap sehat, berkilau, dan kuat.

Flora adalah seorang reporter kesehatan untuk The Epoch Times. Ia meraih gelar master dalam bidang demografi dan pernah menjabat sebagai editor jurnal ilmu sosial selama tujuh tahun.

Mengalihkan fokusnya dari isu-isu makro seperti perubahan populasi dan pembangunan ekonomi ke bidang kesehatan pribadi, Flora merasakan kegembiraan dan kepuasan besar dalam pekerjaannya. Ia mendasarkan artikelnya pada telaah literatur yang mendalam serta wawancara mendetail dengan para ahli, dengan tujuan memberikan konten yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Email: [email protected]

Palestina Panas di PBB: Abbas Dicekal AS, Eropa Pecah, Italia Diguncang Demonstrasi Besar!

EtIndonesia. Satu hari sebelum Sidang Umum PBB dimulai, Amerika Serikat secara resmi mencabut visa Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, sehingga Abbas dilarang hadir secara fisik dan hanya diizinkan berpidato lewat video conference. 

Langkah ini menuai protes diplomatik dan kecaman luas. Dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB, hingga 145 delegasi menyetujui agar Abbas dan pejabat tinggi Palestina lainnya dibolehkan menyampaikan pidato secara virtual selama satu tahun ke depan bila visa tidak diberikan.

AS berdalih bahwa pembatalan visa didasarkan pada dugaan ketidakpatuhan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Otoritas Palestina terhadap kesepakatan Oslo, serta alasan keamanan nasional.

Sementara itu, kantor Abbas menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap “Perjanjian Markas Besar PBB (UN Headquarters Agreement)” yang menjamin diplomat dan pejabat asing dapat mengakses badan-badan PBB di AS.

Pidato virtual Abbas kemudian digunakan sebagai momen diplomatik untuk menyerukan pengakuan negara Palestina dan memperkuat tuntutan agar dunia internasional bertindak terhadap krisis kemanusiaan di Gaza.

Gelombang Pengakuan Palestina: Inggris, Kanada, Australia, Portugal, Prancis, dan Uni Eropa

Seiring integrasi isu Palestina ke agenda internasional, sejumlah negara Barat mulai secara resmi mengakui negara Palestina:

  • Inggris, Kanada, dan Australia termasuk di antara negara-negara yang terlebih dahulu menyatakan pengakuan.
  • Portugal secara resmi mengumumkan pengakuan negara Palestina pada 21 September 2025.
  • Prancis mengikuti langkah itu saat Sidang Umum PBB pada 22 September 2025, sekaligus menjadi bagian dari gelombang negara-negara Uni Eropa yang menyatakan pengakuan.
  • Selain itu, Uni Eropa dikabarkan tengah merancang pembentukan “kelompok donor khusus Palestina” guna menyalurkan bantuan kemanusiaan dan pembangunan di wilayah pendudukan Palestina. (Meski pengumuman resmi masih dalam tahap rencana).

Langkah-langkah ini mencerminkan perubahan keseimbangan diplomatik di Eropa terkait konflik Israel-Palestina, serta tekanan publik yang terus meningkat di dalam negeri negara-negara Eropa terhadap sikap keras Israel dan dukungan terhadap rakyat Palestina.

Italia di Bawah Pemerintahan Meloni: Sikap Kontras yang Memicu Protes

Sementara sebagian besar negara Eropa bergerak menuju pengakuan Palestina, Italia — di bawah Perdana Menteri Giorgia Meloni — mengambil sikap yang berbeda.

Pernyataan Resmi Meloni

Pada 23 September 2025, Meloni menyatakan bahwa Italia baru akan mengakui negara Palestina jika dua syarat dipenuhi: semua sandera Israel dibebaskan dan Hamas tidak dilibatkan dalam pemerintahan Palestina.

Dia menekankan bahwa pengakuan sepihak “negara” tanpa kondisi tersebut akan menjadi tindakan “prematur” dan bahkan “counterproductive” — yaitu dapat menimbulkan kesan seolah konflik telah selesai di atas kertas padahal kenyataan politik di lapangan belum mendukung solusi damai.

Meloni juga menyebut bahwa tekanan internasional seharusnya diarahkan ke Hamas, bukan Israel, dengan alasan kelompok tersebut memicu perang dan menghambat penyelesaiannya melalui penahanan sandera.

Secara retoris, dia menuturkan bahwa Italia tidak “menolak pengakuan Palestina” secara mutlak, tetapi pengakuan tersebut harus datang dalam konteks yang realistis, bukan simbolik.

Reaksi Publik dan Protes Massal

Sikap Meloni memicu gelombang protes di Italia. Pada 22 September 2025, sebuah mogok umum nasional selama 24 jam digelar di lebih dari 75 kota Italia, sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza dan kecaman terhadap keterlibatan Italia dalam konflik tersebut melalui hubungan dagang dan militer.

Protes melibatkan sektor transportasi, pendidikan, pelabuhan, dan fasilitas umum. Di kota-kota seperti Milan, Roma, dan Bologna, aksi turun ke jalan dan bentrokan antara demonstran dan polisi tidak terhindarkan. Di Milan, setidaknya 60 petugas terluka dalam bentrokan yang melibatkan pelemparan batu dan benda keras.

Di Roma, lebih dari 20.000 orang berkumpul di dekat Stasiun Termini, memblokade jalan dan menuntut pemerintah Italia mengambil sikap tegas terhadap Israel.

Meloni mengecam kekerasan yang terjadi dalam protes dan menyebutnya “memalukan,” tetapi menegaskan bahwa tindakan anarkis tidak membantu tujuan Palestina.

Tafsir Politik dan Implikasi Strategis

  1. Polarisasi diplomatik dalam Eropa
    Langkah sejumlah negara Eropa mengakui Palestina menunjukkan bahwa masalah Palestina semakin menjadi sorotan publik di Eropa dan dapat memaksa sikap luar negeri negara-negara yang selama ini condong pro-Israel. Namun, Italia di bawah Meloni tampak bergeming, menahan diri dari rute pengakuan penuh.
  2. Permainan diplomasi simbolik vs realpolitik
    Pengakuan simbolik terhadap Palestina menjadi alat diplomasi yang memiliki nilai moral tinggi dan memberi tekanan pada Israel — namun tidak otomatis mengubah keseimbangan kekuasaan di kawasan. Sikap Italia mencerminkan kesadaran bahwa pengakuan tanpa kondisi konkret dapat menjadi bahan kritik bila tidak diiringi realitas di lapangan.
  3. Tekanan domestik sebagai faktor pendorong
    Protes masif di Italia dan negara-negara Eropa lain menunjukkan bahwa publik semakin vokal menuntut kebijakan luar negeri yang lebih peka terhadap kemanusiaan. Ini bisa mempengaruhi orientasi politik masa depan di Eropa.
  4. Keterbatasan Abbas & PA di arena diplomatik
    Dengan pembatalan visa dan dipaksanya pidato virtual, Mahmoud Abbas menunjukkan bahwa posisi Palestina di arena internasional masih sangat rentan terhadap intervensi negara-negara adidaya seperti AS. Keputusan tersebut menyoroti kerumitan diplomasi Palestina di tengah tekanan politik global.

Kisah Tiga Karung Beras

EtIndonesia. Ini adalah kisah dari sebuah keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Ketika sang anak baru masuk SD, ayahnya meninggal dunia. Ibu dan anak itu hanya bisa saling menopang, lalu dengan setumpuk tanah kuning, mereka menguburkan sang ayah dengan sederhana.

Sang ibu memilih tidak menikah lagi. Dia bekerja keras penuh kesusahan untuk membesarkan anaknya. Saat itu desa belum dialiri listrik. Setiap malam, di bawah cahaya lampu minyak, suara anaknya membaca buku bergema; dia menulis, dia menggambar, sementara sang ibu dengan jarum dan benang menjahit pakaian, menjahit pula kasih sayang yang rapat untuk anaknya. Hari demi hari, tahun demi tahun.

Satu demi satu piagam penghargaan menutupi dinding tanah rumah yang kusam. Anaknya tumbuh seperti bambu muda di musim semi—tinggi, kuat, cepat. Saat tinggi anak itu sudah melebihi kepalanya, senyum hangat merekah di wajah ibu yang penuh kerut.

Saat Anak Diterima di Sekolah Favorit

Musim gugur tiba, dedaunan berguguran. Kabar gembira datang: sang anak diterima di SMA favorit tingkat kabupaten. Namun pada saat yang sama, ibunya jatuh sakit parah. Rematik membuat tubuhnya kaku, hingga tidak mampu lagi bekerja di ladang. Kadang mereka bahkan kekurangan makan.

Aturan sekolah saat itu: setiap siswa harus membawa 30 jin beras (±15 kg) setiap bulan untuk diserahkan ke kantin. 

Sang anak tahu ibunya tak sanggup, lalu berkata: “Bu, biar aku berhenti sekolah saja, bantu Ibu di rumah.”

Sang ibu menatap anaknya, mengusap kepalanya dengan penuh kasih, berkata:  “Nak, Ibu bangga mendengar itu. Tapi sekolah harus kamu jalani. Tenang saja, Ibu yang melahirkanmu, tentu ada cara untuk membiayaimu. Kamu pergi dulu daftar, nanti beras Ibu yang urus.”

Anak itu menolak, ibunya mendesak. Akhirnya, karena bersikeras, sang ibu menamparnya untuk pertama kali. Itu adalah pukulan pertama dalam hidup anak itu—pukulan penuh kasih, agar dia tetap berangkat sekolah.

Tiga Karung Beras yang Berbeda

Beberapa waktu kemudian, ibu datang ke kantin sekolah dengan langkah pincang. Dia menghela napas, menurunkan karung beras dari pundaknya. Petugas kantin, Pak Xiong, membuka karung itu, lalu mengernyit.

“Kenapa berasnya bercampur-campur begini? Ada padi awal, padi tengah, padi akhir, ada butiran halus. Seperti tong sampah saja.”

Wajah ibu memerah. Dia buru-buru meminta maaf. Pak Xiong akhirnya menerima, lalu dia pun menyerahkan bungkusan kecil berisi 5 yuan. 

“Ini uang saku anak saya bulan ini. Tolong sampaikan padanya,” katanya pelan. Suara koin di dalamnya berdering.

Bulan berikutnya, ibu datang lagi dengan karung beras. Isinya tetap campur. 

Pak Xiong menegaskan: “Kami bisa terima beras apa pun, tapi jangan dicampur. Kalau begitu, nasinya tidak matang.”

Ibu panik, menjawab lirih: “Pak, beras di rumah memang begini adanya. Saya tak bisa memisahkan.”

Pak Xiong menggeleng, merasa heran, tapi masih menerimanya.

Bulan ketiga, hal yang sama terulang. 

Kali ini dia benar-benar marah. “Kenapa keras kepala sekali? Kalau masih bercampur begini, bawa pulang saja!”

Kebenaran yang Menggetarkan

Seolah sudah menduganya, ibu jatuh berlutut, menangis terisak. “Pak, sejujurnya… beras ini saya dapat dari mengemis.”

Pak Xiong terkejut, membisu. Ibu mengangkat celananya, menunjukkan kaki yang bengkak dan kaku karena rematik parah.

Dia berkata dengan suara bergetar: “Saya sakit parah, tak bisa bekerja lagi. Anak saya ingin putus sekolah, tapi saya menamparnya agar tetap berangkat. Saya tidak mau menghancurkan masa depannya. Setiap pagi buta saya bawa karung kosong, berjalan jauh ke desa lain untuk meminta beras. Saya kumpulkan sedikit demi sedikit, lalu setiap awal bulan saya bawa ke sini. Saya tidak pernah bilang ke anak saya, juga tidak ke tetangga. Kalau dia tahu ibunya mengemis untuknya, harga dirinya akan hancur.”

Air mata Pak Xiong pun jatuh. Dia berjanji akan bicara ke kepala sekolah untuk menggalang bantuan. 

Namun dia buru-buru menolak: “Tidak, jangan! Kalau anak saya tahu, dia akan merasa malu. Biarlah jadi rahasia, saya mohon.”

Sebuah Rahasia yang Tersimpan

Meski begitu, kepala sekolah akhirnya mengetahui. Diam-diam dia menetapkan beasiswa penuh untuk anak itu—bebas biaya sekolah dan biaya hidup selama tiga tahun.

Tiga tahun kemudian, anak itu lulus dengan nilai 627 poin, diterima di Universitas Tsinghua. Pada acara perpisahan, sekolah penuh meriah dengan gong dan genderang. Kepala sekolah tiba-tiba memanggil anak itu naik ke panggung. Dia heran, karena banyak siswa lain juga mendapat nilai tinggi.

Di panggung, ada tiga karung beras yang ditumpuk. Pak Xiong naik ke atas, lalu menceritakan kisah ibu yang mengemis demi beras sekolah anaknya. Suasana hening seketika.

Kepala sekolah menunjuk tiga karung beras itu dengan suara lantang: “Inilah tiga karung beras hasil jerih payah seorang ibu. Inilah beras paling berharga di dunia—yang tak bisa dibeli dengan uang!”

Pelukan Seumur Hidup

Seketika, Pak Xiong menuntun seorang wanita pincang naik ke panggung—ibu dari anak itu. Rambutnya berantakan, sebagian sudah beruban, matanya penuh kasih.

Anak itu terpaku, lalu berlari, memeluk ibunya erat-erat, dan menangis keras:“Ibu… oh Ibu!”

Di hadapan seluruh sekolah, cinta seorang ibu menemukan makna paling agungnya.(

Trump Tinggalkan Markas Besar PBB, Sempat Melambaikan Tangan kepada Praktisi Falun Gong

 Lin Dan dari Epoch Times di New York

EtIndonesia. Pada 23 September 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato di markas besar PBB di New York. Pada sore harinya, setelah acara selesai dan ketika meninggalkan lokasi, di jalan depan markas besar PBB, Presiden Trump yang duduk di dalam mobil melihat spanduk yang dibentangkan oleh praktisi Falun Gong. 

Pada saat itu, Presiden Trump tersenyum dan melambaikan tangan kepada praktisi Falun Gong, dan para praktisi juga melambaikan tangan kepadanya.

Menurut Gu Xiangjun, seorang praktisi Falun Gong yang menyaksikan langsung iring-iringan mobil Presiden Trump, sekitar pukul 17.08 waktu setempat, Presiden Trump dan konvoinya melintas di dekat persimpangan Second Avenue dan 52nd Street.  Saat itu mereka melihat praktisi Falun Gong dengan spanduk bertuliskan dalam bahasa Mandarin dan Inggris: “法輪大法好 Falun Dafa is Good” serta spanduk berbahasa Inggris: “Communism is a Demonic Ideology Seeking to Annihilate Humanity” (Komunisme adalah ideologi iblis yang berupaya memusnahkan umat manusia).

“Presiden Trump memandang ke luar jendela mobil. Pertama, ia melihat spanduk bertuliskan ‘Falun Dafa Hao’, lalu melihat spanduk berbahasa Inggris. Kami melambaikan tangan kepadanya, dan dia juga melambaikan tangan kepada kami sambil tersenyum. Saya melihatnya dengan jelas. Saya pernah menonton upacara pelantikannya, dan senyumnya sama persis seperti waktu itu,” ujar Gu Xiangjun. 

Sidang Umum PBB ke-80 dibuka pada 23 September. Praktisi Falun Gong melakukan latihan dan mengadakan aksi damai di luar markas besar PBB di New York, menyerukan negara-negara untuk bersama-sama menghentikan penganiayaan oleh PKT. Foto menunjukkan iring-iringan mobil Presiden Trump yang sedang melintas. (Cuplikan video)
Sidang Umum PBB ke-80 dibuka pada 23 September. Praktisi Falun Gong melakukan latihan dan mengadakan aksi damai di luar markas besar PBB di New York, menyerukan negara-negara untuk bersama-sama menghentikan penganiayaan oleh PKT. Foto menunjukkan iring-iringan mobil Presiden Trump yang sedang melintas. (Cuplikan video)

Di sisi jalan yang lain, para praktisi Falun Gong juga membentangkan spanduk berbahasa Inggris: “The CCP Uses the US Judiciary as a Weapon in Its Campaign Against Falun Gong” (Partai Komunis Tiongkok  menggunakan sistem peradilan Amerika sebagai alat untuk menganiaya Falun Gong).

“Ketika iring-iringan mobil Presiden Trump melintas di persimpangan antara First Avenue dan 47th Street di luar markas besar PBB, mereka melihat praktisi Falun Gong yang sedang memprotes PKT di sana,” ujar Seorang praktisi Falun Gong bernama Nyonya Wang. 

“Mereka juga melihat spanduk berbahasa Inggris yang dibentangkan menghadap ke markas besar PBB berbunyi: ‘Stop CCP’s Transnational Persecution Against Falun Gong’ (Hentikan penganiayaan lintas negara oleh PKT terhadap Falun Gong). Konvoi Presiden Trump bahkan sengaja memperlambat lajunya,” tambahnya. 

Konvoi Presiden Trump sangat besar, dengan lebih dari 20 kendaraan, ditambah iring-iringan motor yang membuka jalan di depan.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual dan latihan meditasi dengan ajaran moral yang didasarkan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Latihan ini pertama kali diperkenalkan kepada publik pada tahun 1992 oleh Master Li Hongzhi dan dengan cepat berkembang pesat dalam popularitasnya.

Pada Juli 1999, pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin, melancarkan kampanye penganiayaan brutal yang bertujuan menghancurkan latihan ini beserta 100 juta pengikutnya dalam waktu enam bulan.

Sejak itu, penganiayaan tersebut telah meluas ke luar negeri melalui United Front work PKT dan upaya infiltrasi lainnya.

Dokumen bocoran dari PKT jarang terjadi, tetapi pada tahun 2024, Falun Dafa Information Center memperoleh notulen dari sebuah rapat rahasia Kementerian Keamanan Publik yang digelar pada Juni 2022. Dalam rapat tersebut, pemimpin PKT Xi Jinping secara pribadi memerintahkan pengetatan penindasan terhadap Falun Gong di luar negeri.

Pada tahun 2025, organisasi hak asasi manusia World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong juga melaporkan bahwa Xi telah memberikan instruksi dalam rapat tahun 2022 untuk menindas Falun Gong secara global. Wang Huning, ketua Chinese People’s Political Consultative Conference atau dalam bahasa Indonesia disebut Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok, diidentifikasi sebagai pelaksana utama, sementara Kementerian Keamanan Publik bertanggung jawab mengawasi operasi di luar negeri. Laporan ini menguatkan informasi bocoran sebelumnya.

Sidang Umum PBB ke-80 dibuka pada 23 September. Praktisi Falun Gong melakukan latihan dan aksi damai di luar markas besar PBB di New York, menyerukan negara-negara untuk bersama-sama menghentikan penganiayaan oleh PKT. (Huang Xiaotang/Epoch Times)
Sidang Umum PBB ke-80 dibuka pada 23 September. Praktisi Falun Gong melakukan latihan dan aksi damai di luar markas besar PBB di New York, menyerukan negara-negara untuk bersama-sama menghentikan penganiayaan oleh PKT. (Huang Xiaotang/Epoch Times)

Setiap September, bertepatan dengan Sidang Umum PBB, para praktisi Falun Gong di New York selalu berada di depan markas besar PBB untuk menyampaikan fakta kebenaran kepada para kepala negara, kepala pemerintahan, pejabat tinggi, perwakilan, serta staf.

Para praktisi Falun Gong  juga mengungkapkan penganiayaan yang dilakukan PKT, membongkar sifat dan kejahatan anti-kemanusiaan PKT, menyerukan kepada negara-negara di dunia untuk menolak PKT, menghentikan penganiayaan, serta bersama-sama mengakhiri PKT (End CCP).

Sumber : Epochtimes.com

PBB Tolak Akses Pers Epoch Times Saat Meningkatnya Kampanye Tekanan Partai Komunis Tiongkok 

 “Sungguh tidak dapat diterima bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa tunduk pada upaya sensor Partai Komunis Tiongkok di tanah Amerika,” kata pemimpin redaksi Epoch Times edisi Bahasa Inggris 

EtIndonesia. NEW YORK CITY — Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali menolak pemberian kartu pers kepada beberapa wartawan dari dua media asal Amerika Serikat—The Epoch Times dan media afiliasinya, NTD—melanjutkan pola penolakan selama dua dekade terakhir yang menimbulkan kekhawatiran adanya pengaruh Tiongkok di balik layar.

Wartawan senior Gedung Putih Epoch Times, Emel Akan, bepergian ke New York City bersama rombongan pers Departemen Luar Negeri untuk meliput kegiatan yang dihadiri Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio selama Sidang Umum PBB pada 22 September.

Akan mengajukan permohonan kartu pers PBB melalui Departemen Luar Negeri dan menerima email yang memintanya mengambil kartu pers di New York City. Namun saat tiba pada 22 September, seorang pejabat Departemen Luar Negeri memberitahunya bahwa PBB menolak permohonan tersebut, dengan alasan bahwa PBB menganggap The Epoch Times sebagai organisasi non-pemerintah, bukan organisasi berita.

“The Epoch Times adalah surat kabar terbesar keempat di Amerika. Sungguh tidak dapat diterima bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa tunduk pada upaya sensor Partai Komunis Tiongkok di tanah Amerika,” kata Pemimpin Redaksi Epoch Times, Jasper Fakkert, dalam sebuah pernyataan pada 23 September.

“Kami mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memberikan kartu pers yang diperlukan The Epoch Times agar bisa menjalankan tugasnya, yakni memberikan informasi faktual dan tidak berpihak kepada para pembaca kami,” tambahnya. 

Dua staf NTD dari biro Washington—koresponden Gedung Putih Mari Otsu dan juru kamera Chen Lei—tidak menerima konfirmasi apa pun setelah mengajukan permohonan mereka. Seorang perwakilan PBB mengatakan melalui telepon kepada Otsu bahwa ia tidak memenuhi persyaratan, namun menolak memberi penjelasan lebih lanjut.

Surat kabar Epoch Times dicetak di sebuah percetakan di New Jersey pada 23 Januari 2024. Samira Bouaou/The Epoch Times

Kampanye yang Meningkat di AS

The Epoch Times didirikan di Amerika Serikat pada tahun 2000 oleh warga Tionghoa-Amerika sebagai respons terhadap sensor dan pelanggaran hak asasi manusia di Tiongkok. Media independen ini kini terbit dalam 22 bahasa di 33 negara.

Kelompok staf Epoch Times pertama di Tiongkok ditangkap dan disiksa, dengan beberapa dijatuhi hukuman penjara 10 tahun. Selama bertahun-tahun, surat kabar ini menghadapi upaya berkelanjutan dari rezim Tiongkok dan para agennya untuk menutupnya, termasuk serangan terhadap wartawan dan fasilitas percetakannya di Hong Kong, serta sabotase siber yang sering terjadi.

Pemimpin PKT, Xi Jinping, pada tahun 2022 secara pribadi mengarahkan lembaga keamanan Tiongkok untuk meningkatkan penargetan terhadap The Epoch Times dan NTD sebagai bagian dari kampanye penindasan transnasional yang lebih luas, demikian diungkap oleh para pelapor pada 2024.

Pada Maret 2024, otoritas AS menuntut selusin peretas kontrak Tiongkok dan pejabat penegak hukum atas keterlibatan mereka dalam kampanye peretasan bertahun-tahun yang menargetkan The Epoch Times.

Ruang redaksi The Epoch Times di kantor pusatnya di New York City. The Epoch Times

Baru-baru ini, aktor siber Tiongkok menyamar sebagai The Epoch Times untuk mengancam lembaga federal AS.

Selama bertahun-tahun, otoritas Tiongkok telah memberi tekanan pada PBB untuk mengganggu upaya peliputan The Epoch Times.

Pada 2019, PBB juga menolak permohonan Akan untuk meliput pertemuan tingkat tinggi PBB tanpa penjelasan. Ketika diminta klarifikasi melalui beberapa email, PBB tidak merespons selama dua minggu; kemudian Departemen Komunikasi Global PBB menjawab dari alamat email generik tanpa nama pengirim. Orang itu mengatakan kepada Akan, “Media yang Anda gunakan untuk melamar tidak memenuhi persyaratan bagi media berita.” Orang itu menolak memberi penjelasan lebih lanjut dan mengabaikan permintaan banding, dengan alasan bahwa badan tersebut menilai permohonan secara kasus per kasus.

Pada 2003, setelah beberapa hari tanpa jawaban, seorang pejabat pers PBB di New York City mengatakan kepada NTD bahwa “tekanan dari pihak Tiongkok” menyebabkan komplikasi dalam permohonan mereka untuk meliput acara Komisi Hak Asasi Manusia di Jenewa. Hal yang sama terulang pada Juni 2004, dengan seorang pejabat PBB yang mengakui bahwa badan tersebut menerima panggilan dari pejabat Tiongkok mengenai akses pers penyiar tersebut. Setelah penolakan awal, badan itu akhirnya memberikan kartu pers.

Meski demikian, PBB tetap menunda dan menolak beberapa upaya penyiar tersebut untuk menambah jumlah wartawan yang meliput di badan itu. Dua wartawan yang ditempatkan di PBB mendapati kegiatan mereka dibatasi. Pejabat pers PBB, dengan mengutip keluhan dari delegasi Tiongkok, membatasi akses liputan mereka pada acara di mana delegasi Tiongkok hadir.

Pengaruh rezim Tiongkok atas PBB juga terlihat dalam aspek lain. Selama bertahun-tahun, PBB telah melarang Taiwan berpartisipasi dalam berbagai forum, termasuk Sidang Umum PBB dan Organisasi Kesehatan Dunia, meskipun berulang kali didesak oleh Amerika Serikat dan negara-negara lain. PBB juga menolak memberikan akreditasi kepada wartawan Taiwan.

Anggota Kongres Amerika Serikat Chris Smith  pada April 2024 mengatakan kepada The Epoch Times bahwa rezim Tiongkok “bebas melakukan kejahatan” sambil memanipulasi sistem PBB.

“Ke mana pun Anda melihat, situasinya buruk dan makin memburuk, dan mereka melakukan tekanan penuh di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menutupinya,” kata Smith.

PBB tidak menanggapi berbagai panggilan dari The Epoch Times terkait pengaruh PKT atas keputusannya menolak kartu pers bagi Akan. Seorang juru bicara PBB mengarahkan The Epoch Times ke kantor akreditasi media badan itu, yang tidak merespons hingga berita ini diterbitkan.

“The Epoch Times telah menghadapi kampanye tak kenal henti selama puluhan tahun dari PKT yang menargetkan wartawan, pengiklan, dan fasilitas percetakan kami. Kami akan terus berkomitmen pada kebebasan pers,” kata Fakkert.

Sumber : Theepochtimes.com