Terjadi Lagi “Wajah Mirip Pemimpin Partai” Kembali Picu Masalah! Pria di Shandong, Tiongkok Dinyatakan Melanggar Aturan karena Mirip Xi Jinping

EtIndonesia. Seorang pria di Tiongkok, yang mempromosikan dagangannya dengan mengunggah foto selfie di platform video pendek, justru dinyatakan melanggar aturan karena wajahnya dianggap mirip dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping. Ini menjadi salah satu contoh terbaru orang yang mendapat masalah karena memiliki “wajah mirip pemimpin”.

Menurut video yang beredar, pria tersebut berasal dari Shandong dan biasanya menjual kerang serta aksesoris laut melalui platform video pendek. Ia mengunggah foto selfie dan gambar profilnya di Douyin. Namun, karena wajahnya dinilai mirip Xi Jinping, unggahan tersebut bukan membawa keuntungan, melainkan dianggap melanggar aturan oleh platform, sehingga foto selfie dan profilnya dihapus.

Pihak Douyin menyatakan bahwa pengguna harus “mematuhi peraturan yang berlaku” untuk menjaga lingkungan platform, serta melarang pria tersebut mengubah profilnya selama 30 hari. Ia pun merasa bingung dan tidak berdaya, mengatakan: “Mengunggah selfie saja bisa dianggap pelanggaran?”

Seorang pengemudi bernama Luo di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, diserang oleh seorang penumpang. Beberapa netizen berkomentar bahwa penampilannya “terlalu menjijikkan” karena ia sangat mirip dengan Xi Jinping. (Tangkapan layar dari video)

Netizen menanggapi dengan sindiran, seperti: “Bukan unggahannya yang melanggar, tapi wajahnya yang ‘melanggar’.” Ada juga yang berkomentar, “Di zaman dulu, wajah mirip bisa dijadikan pengganti (body double). Di zaman sekarang, justru jadi masalah besar.”

Sebenarnya, kasus orang yang mendapat masalah karena wajahnya mirip Xi Jinping bukan yang pertama di Tiongkok.

Beberapa tahun lalu, seorang sopir taksi di Hangzhou, Zhejiang, dipukuli oleh penumpang karena perselisihan ongkos. Setelah wawancara dipublikasikan, warganet menyadari bahwa wajah sopir tersebut sangat mirip Xi Jinping, sehingga memicu berbagai komentar dan spekulasi.

Kasus paling terkenal adalah penyanyi Tiongkok yang tinggal di Eropa, Liu Keqing. Ia berulang kali mengalami pemblokiran akun media sosial karena kemiripan wajahnya dengan Xi Jinping, yang membuatnya kesulitan selama bertahun-tahun.

Penyanyi Tiongkok Liu Keqing telah berulang kali diberi peringatan oleh TikTok karena kemiripannya yang mencolok dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok. (Tangkapan layar dari video)

Pada 22 Mei tahun lalu, Liu Keqing menulis bahwa setiap kali akunnya dihapus, ia harus mengganti foto profil dengan sangat hati-hati, memilih foto yang sederhana dan biasa. Namun, setelah hampir setahun tanpa masalah, akunnya kembali dihapus dengan alasan yang sama, bahkan kali ini ia dilarang menampilkan wajah selama 30 hari.

Ia mengeluh bahwa penghasilannya sebagai penyanyi tidak besar, dan pembatasan tersebut semakin mengurangi peluangnya.

Baru pada awal tahun ini, Liu Keqing mengumumkan bahwa setelah lima tahun proses pengajuan dan peninjauan, foto profil akunnya akhirnya disetujui dan dapat ditampilkan secara normal.

Terkait fenomena ini, sejumlah komentar menilai hal tersebut mencerminkan sistem sensor internet yang sangat sensitif di Tiongkok. Di platform X (Twitter), banyak warganet mengejek bahwa “wajah mirip” telah menjadi semacam “kesalahan” tersendiri dalam lingkungan internet Tiongkok.

Sebagian komentar menyindir bahwa ini adalah fenomena absurd, seperti “punya wajah mirip jadi kesalahan”, atau “negara ini hanya boleh punya satu wajah seperti itu”, menggambarkan situasi yang dianggap berlebihan dan tidak masuk akal. 

Sumber : NTDTV.com

Ketika Blokade Atas Blokade: Saat Teheran Mengancam Selat Hormuz, AS Mencekik Pelayaran Iran

Kendali Iran atas jalur perairan ini menimbulkan dampak global, sementara perburuan global Angkatan Laut AS terhadap tanker “armada bayangan” menargetkan Iran

oleh John Haughey

Tibanya kapal USS George H.W. Bush, kini terdapat tiga kelompok tempur kapal induk, lebih dari 240 jet tempur, dan sedikitnya 16 kapal perusak di Laut Arab dan Laut Merah yang memburu kapal-kapal Iran serta tanker “armada bayangan”.

Namun satu hal yang tidak dilakukan oleh 20.000 pelaut dan marinir dalam operasi lebih dari 20 kapal ini—termasuk lebih dari 2.500 pasukan infanteri serbu di kapal amfibi USS Tripoli—adalah memblokade Selat Hormuz.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) justru mengendalikan kapal mana yang boleh keluar-masuk melalui jalur sempit sepanjang 21 mil yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.

Kapal-kapal Iran masih melintasi koridor tersebut dan keluar-masuk pelabuhan Teluk Persia—atau yang tersisa setelah 38 hari pengeboman—karena Angkatan Laut AS hampir tidak memiliki kapal perang di perairan seperti cekungan itu. Berdasarkan gencatan senjata, kapal-kapal Iran tidak ditembaki oleh pasukan AS maupun Israel.

Kekuatan laut ini—yang merupakan pengerahan terbesar Angkatan Laut AS di kawasan sejak invasi Irak 2003 dan krisis sandera Iran 1979–1981—menegakkan garis larangan sepanjang 190 mil dari Ras al-Hadd di Oman hingga Teluk Kaij-e-Gavater di perbatasan Iran–Pakistan, lebih dari 220 mil di selatan selat tersebut.

Sementara Iran menguasai selat dan pelabuhannya di Teluk Persia tidak “diblokade” karena gencatan senjata, pelayaran Iran tidak memiliki akses ke jalur laut di luar zona operasi Angkatan Laut AS di Teluk Oman (GONZO).

Ini adalah kebuntuan: IRGC memanfaatkan keunggulan geografisnya untuk menerapkan “cekikan ekonomi” pada jalur vital perdagangan dunia, sementara Amerika Serikat menggunakan jangkauan globalnya untuk secara selektif menghentikan perdagangan maritim yang penting bagi Iran.

Pada dasarnya, ini adalah blokade atas sebuah blokade.

“Kami tidak memblokade selat. Kami memblokade kapal-kapal Iran yang mencoba masuk ke Teluk Oman,” ujar Salvatore Mercogliano, profesor analis perdagangan maritim di Campbell University, Carolina Utara. “Kami bahkan tidak berada dekat Selat Hormuz. Ini yang disebut ‘blokade jarak jauh’.”


Garis GONZO

Per 27 April, Komando Pusat AS melaporkan bahwa sejak 13 April, Angkatan Laut AS telah mencegat 38 kapal setelah melintasi selat dan “mengarahkannya kembali” ke pelabuhan Teluk Persia.

Pada 19 April, pelaut USS Spruance dan marinir USS Tripoli menyita kapal berbendera Iran M/V Touska yang mencoba menembus garis GONZO.
Pada 22 April, pasukan AS menahan tanker berbendera Palau Tifani yang membawa 1,9 juta barel minyak mentah Iran di Teluk Benggala lepas Malaysia.
Pada 23 April, tanker yang dikenai sanksi Majestic X ditangkap antara Sri Lanka dan Indonesia.
Pada 25 April, Angkatan Laut AS mencegat kapal berbendera Botswana M/V Sevan di Laut Arab dan “mengawalnya” kembali ke selat.

Touska dan Tifani disita ribuan mil dari Selat Hormuz, di kawasan Samudra Hindia timur yang dikenal sebagai “pom bensin terapung,” tempat minyak dari negara yang disanksi seperti Iran dan Rusia dibeli oleh tanker “armada bayangan” dengan bendera palsu dan dijual di Asia, terutama ke pembeli Tiongkok.

Sevan termasuk dalam 19 kapal yang dikenai sanksi Departemen Keuangan AS pada 24 April karena mengangkut barang Iran. Organisasi Maritim Internasional mencatat setidaknya 17 dari kapal tersebut—bahkan mungkin lebih dari 60 di seluruh dunia—beroperasi dengan bendera Botswana, hal yang mengejutkan negara Afrika yang tidak memiliki registrasi kapal.

Operasi terhadap Iran ini mirip dengan penyitaan kapal “armada bayangan” Venezuela oleh Pentagon pada Desember 2025–Februari 2026.

Sementara AS memburu kapal Iran secara global di luar garis GONZO, IRGC membalas dengan menyita kapal berbendera Panama Francesca dan kapal berbendera Yunani Epaminondas pada 22 April dengan alasan “tidak memiliki izin” untuk melintasi selat.

Perbedaannya, menurut Gregory Copley dari International Strategic Studies Association, adalah bahwa AS bertindak selektif menargetkan Iran, sementara IRGC memaksakan kendali atas perdagangan global.

“Yang kita lihat adalah perang narasi antara Iran dan Amerika,” ujarnya. “Iran mengatakan mereka memblokade selat, Amerika mengatakan tidak bisa.”

Menurutnya, klaim blokade juga digunakan Iran untuk meraih keunggulan psikologis.


Tidak Ada Solusi Militer

Blokade biasanya merupakan strategi jangka panjang untuk “mencekik” lawan secara perlahan. Namun dengan lebih dari 20 persen minyak dan gas dunia terkurung di Teluk Persia, ratusan kapal menganggur, dan 20.000 pelaut terdampar, kebuntuan ini memicu tekanan besar.

Meski gencatan senjata masih bertahan dan komunikasi tidak langsung berlangsung melalui Pakistan, belum jelas apakah Iran akan membuka selat tanpa konsesi AS, atau apakah AS akan melunak dari tuntutannya agar Iran menghentikan program nuklir dan dukungan terhadap kelompok teroris.

Pentagon sendiri tengah menyiapkan rencana serangan besar terhadap instalasi IRGC di sepanjang pantai Hormuz.

Namun, menurut Mercogliano, pada akhirnya tidak ada solusi militer sederhana.

“Cukup satu speedboat dengan senapan mesin untuk menghentikan kapal kontainer raksasa,” katanya, menggambarkan betapa rentannya jalur tersebut.

Bahkan ancaman ranjau saja sudah cukup membuat perusahaan pelayaran enggan mengambil risiko.

“Hanya ancaman ranjau sudah cukup untuk menciptakan ‘ladang ranjau’,” ujarnya.


Pada akhirnya, seperti di Selat Hormuz, Bab el-Mandeb, Malaka, Dardanella, hingga Terusan Suez dan Panama, lalu lintas maritim global berjalan karena kesepakatan bersama.

Selama belum ada kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat, kebuntuan ini akan terus menyakitkan.

Namun Copley meyakini tekanan global AS pada akhirnya akan memaksa Teheran untuk mengalah lebih dulu.

“Apa pun sebutannya—blokade atau bukan—itu tidak penting,” katanya.
“Tujuannya jelas: memutus perdagangan laut Iran. Yang penting adalah hasil akhirnya, bukan prosesnya.”

John Haughey adalah seorang reporter pemenang penghargaan di Epoch Times yang meliput pemilu Amerika Serikat, Kongres AS, energi, pertahanan, dan infrastruktur. Ia memiliki pengalaman lebih dari 45 tahun di bidang media. Anda dapat menghubungi John melalui email di [email protected].

Atikel ini sebelumnya terbit dalam bahasa Inggris

Sering Terbangun Malam untuk Buang Air Kecil? Waspadai Ketidakseimbangan Tersembunyi dalam Tubuh

Strategi perawatan mandiri sehari-hari dapat membantu Anda tidur nyenyak sepanjang malam.

Kuo-Pin Wu

Seorang pria berusia 50 tahun mulai terbangun lima hingga enam kali setiap malam untuk buang air kecil setelah mengalami stroke dua tahun sebelumnya. Untuk mencari solusi, ia beralih ke pengobatan tradisional Tiongkok (PTT).

Setelah sesi akupunktur pertamanya yang menargetkan titik-titik di tulang sakrum—tulang berbentuk segitiga di dasar tulang belakang yang menghubungkan tulang belakang dengan panggul—frekuensi buang air kecil di malam hari (nokturia) langsung turun menjadi dua kali pada malam itu. Setelah tiga kali perawatan, kondisinya stabil menjadi satu hingga dua kali per malam. Kualitas tidurnya membaik, dan energi mental serta fisiknya meningkat.

Dalam PTT, nokturia dianggap sebagai sinyal ketidakseimbangan dalam keseluruhan sistem tubuh, bukan sekadar masalah pada satu organ. Dengan memulihkan keseimbangan melalui pendekatan seperti akupunktur, perbaikan yang signifikan sering kali dapat dicapai.

Bagaimana Akupunktur Membantu Nokturia

Akupunktur umum digunakan dalam PTT untuk mengatur fungsi organ, meningkatkan sirkulasi, dan mendukung sistem saraf. Pada penderita nokturia—terutama yang berkaitan dengan penuaan, kelemahan tubuh, atau gangguan pasca-stroke—titik-titik tertentu digunakan untuk membantu memulihkan kontrol kandung kemih dan memperbaiki regulasi buang air kecil.

Di antara yang paling sering digunakan adalah titik Delapan Celah (Ba Liao) dan Pertemuan Yang (Hui Yang).

Titik Ba Liao terletak di foramen sakral—lubang kecil di tulang sakrum tempat saraf lewat. Karena posisinya dekat dengan saraf yang mengatur kandung kemih dan dasar panggul, titik ini sering digunakan untuk gangguan saluran kemih, disfungsi panggul, dan masalah punggung bawah.

Sementara itu, titik Hui Yang terletak di dekat tulang ekor dan secara tradisional digunakan untuk mendukung fungsi panggul serta mengatur proses eliminasi.

Penelitian menunjukkan titik-titik ini memiliki efek yang dapat diukur. Studi menemukan bahwa elektroakupunktur pada titik Ba Liao dan Hui Yang dapat membantu mengatur hiperaktivitas kandung kemih pasca-stroke, sehingga mengurangi frekuensi buang air kecil dan inkontinensia.

Hal ini menjadikannya relevan pada kasus seperti pasien di atas, di mana nokturia muncul setelah cedera neurologis.

Nokturia Sering Mencerminkan Ketidakseimbangan

Dalam PTT, nokturia paling sering dikaitkan dengan apa yang disebut “defisiensi ginjal”—yang bukan berarti penyakit ginjal secara langsung, melainkan penurunan kemampuan tubuh dalam mengatur metabolisme cairan, kehangatan, vitalitas, dan kontrol kandung kemih.

Ginjal berperan membantu tubuh mengelola cairan dan mempertahankan kemampuan “menahan” urin. Ketika fungsi ini melemah, frekuensi buang air kecil di malam hari meningkat.

Karena fungsi ini cenderung menurun seiring bertambahnya usia, nokturia lebih sering terjadi pada orang paruh baya dan lansia.

Berbagai Pola PTT yang Berkontribusi

PTT  mengenali beberapa pola defisiensi ginjal yang dapat memicu nokturia:

  • Defisiensi Yang Ginjal: Ditandai dengan tidak tahan dingin, tangan dan kaki dingin, nyeri pinggang, serta energi tubuh yang lemah. Kondisi ini membuat tubuh kurang mampu mengontrol cairan di malam hari.
  • Defisiensi Yin Ginjal: Ditandai dengan kekeringan, keringat malam, rambut rontok, mudah marah, atau gejala menopause. Kurangnya cairan penyejuk tubuh dapat mengganggu keseimbangan internal.
  • Defisiensi Qi Ginjal: Ditandai dengan kelelahan, suara lemah, sering buang air kecil, atau kesulitan menahan urin. Ini adalah pola yang paling berkaitan langsung dengan lemahnya kontrol kandung kemih.

Selain itu, faktor lain yang dapat berkontribusi meliputi:

  • Gangguan pencernaan dan metabolisme cairan
  • Pola “panas lembap” atau peradangan
  • Stres kronis yang memengaruhi regulasi tubuh

Karena itu, PTT menekankan pemulihan keseimbangan tubuh secara menyeluruh, bukan hanya mengobati gejala sering buang air kecil.

Strategi Perawatan Mandiri Harian

Selain perawatan profesional, beberapa langkah mandiri berikut dapat membantu:

1. Pijat
Pijat titik-titik akupunktur berikut satu hingga dua kali sehari, masing-masing selama 3–5 menit:

  • Titik Shen Shu (Transport Ginjal): Terletak di bawah tulang belakang lumbal kedua, sekitar dua jari ke samping dari tulang belakang
  • Titik Pang Guang Shu (Transport Kandung Kemih): Terletak di daerah sakrum, sekitar dua jari ke samping dari tulang belakang
  • Titik San Yin Jiao (Pertemuan Tiga Yin): Terletak sekitar empat jari di atas pergelangan kaki bagian dalam, di belakang tulang kering

Titik-titik ini umum digunakan untuk membantu mendukung energi ginjal (qi) dan menstabilkan fungsi kandung kemih.

2. Moksibusi
Moksibusi adalah terapi dengan membakar serat moxa kering untuk menghangatkan titik akupunktur dan meningkatkan sirkulasi. Penerapan moksibusi pada titik Shen Shu (BL23) dan Guan Yuan (CV4) selama 15–20 menit dapat membantu menghangatkan perut bagian bawah dan mendukung fungsi urin.

  • Titik Shen Shu (Transport Ginjal): Terletak di punggung bawah, sekitar dua jari ke samping dari tulang belakang
  • Titik Guan Yuan (Gerbang Asal): Terletak sekitar empat jari di bawah pusar, di garis tengah perut bagian bawah

Titik-titik ini sering digunakan dalam PTT untuk memperkuat energi yang (yang ginjal), menghangatkan tubuh bagian bawah, dan meningkatkan fungsi urin.

Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa moksibusi pada kedua titik ini dapat meningkatkan respons fisiologis yang berkaitan dengan defisiensi yang ginjal serta memengaruhi regulasi hormon.

Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam jurnal Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine menunjukkan bahwa moksibusi juga dapat digunakan sebagai terapi pelengkap untuk penyakit ginjal kronis.

3. Kompres hangat perut bawah
Lakukan 10–15 menit sebelum tidur untuk membantu regulasi cairan.

4. Latihan pernapasan
Duduk tegak, hangatkan tangan, letakkan di punggung bawah, lalu tarik napas dalam sebanyak 10 kali sambil fokus ke perut bawah.

5. Kurangi minum sebelum tidur
Batasi asupan cairan 3 jam sebelum tidur dan hindari kopi, teh, alkohol, serta buah dingin seperti melon dan pir.

6. Ramuan herbal
Beberapa formula PTT yang umum digunakan:

  • Jin Gui Shen Qi Wan (mendukung fungsi ginjal dan urin)
  • You Gui Wan (menghangatkan dan memperkuat ginjal)
  • Liu Wei Di Huang Wan (menutrisi yin ginjal dan hati)

Namun, penggunaan herbal sebaiknya berdasarkan diagnosis profesional karena ketidaksesuaian dapat memperburuk kondisi.

Kapan Harus ke Dokter

Segera cari bantuan medis jika nokturia disertai:

  • Darah dalam urin
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Demam
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas

Gejala ini bisa menandakan kondisi serius pada ginjal atau kandung kemih.

Seperti terlihat pada kasus pasien stroke, nokturia bukan sekadar gangguan kecil—kondisi ini dapat mengganggu tidur, energi, dan aktivitas harian.

Baik disebabkan oleh penuaan, gangguan saraf, stres, maupun ketidakseimbangan tubuh, buang air kecil di malam hari sering menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan perhatian.

Dengan kombinasi evaluasi medis, perubahan gaya hidup, dan terapi pendukung seperti akupunktur atau TCM, banyak orang dapat memperoleh perbaikan yang signifikan.

Kuo-Pin Wu telah menekuni pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) selama hampir 20 tahun. Ia sebelumnya bekerja sebagai insinyur struktur dengan gelar magister dari sebuah universitas ternama, sebelum kemudian meraih gelar dokter di bidang PTT. Dengan memanfaatkan latar belakang tekniknya dalam analisis logis, ia mengkhususkan diri dalam mengidentifikasi pola untuk mendiagnosis dan menangani penyakit kompleks. Saat ini, Wu menjabat sebagai direktur XinYiTang Clinic di Taiwan.

Polisi Israel Tangkap Pria Terkait Serangan terhadap Biarawati di Dekat Situs Alkitab di Yerusalem

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa negara Israel mengutuk insiden serangan dan memandang serangan itu “dengan sangat serius.”

EtIndonesia. Polisi Israel pada 29 April menyatakan telah menangkap seorang pria yang diduga melakukan serangan bermotif rasial, setelah rekaman video menunjukkan aksi penyerangan terhadap seorang biarawati di Yerusalem.

Dalam pernyataannya, polisi mengatakan menerima laporan serangan terhadap perempuan Kristen tersebut pada 28 April di kawasan Makam Daud (David’s Tomb), sebuah situs suci di luar Gerbang Zion di sisi selatan Kota Tua, yang berada di Yerusalem timur yang dikuasai Israel.

“Setelah menerima laporan, polisi wilayah David di distrik Yerusalem melakukan pencarian luas dan operasi investigasi terarah, hingga akhirnya tersangka berusia 36 tahun berhasil ditemukan dan ditangkap,” demikian pernyataan tersebut.

Polisi menyatakan tersangka telah dipindahkan untuk diperiksa dan saat ini masih dalam tahanan.

Melalui akun X berbahasa Inggris, Kepolisian Israel juga mengecam serangan tersebut.

“Kepolisian Israel menangani setiap serangan terhadap anggota rohaniwan dan komunitas keagamaan dengan sangat serius serta menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap segala bentuk kekerasan,” tulis pernyataan itu.

“Di kota yang suci bagi umat Yahudi, Kristen, dan Muslim, kami tetap berkomitmen melindungi semua komunitas dan memastikan pelaku kekerasan dimintai pertanggungjawaban.”

Pada 30 April, Kepolisian Israel merilis video melalui akun X berbahasa Ibrani yang menunjukkan seorang biarawati berjalan di jalan, kemudian seorang pria berlari dari belakang dan mendorongnya hingga jatuh ke tanah.

Pria tersebut sempat berbalik dan berjalan menjauh saat korban masih tergeletak, lalu kembali, memberi isyarat ke arah korban, dan menendangnya. Korban tampak menahan tendangan tersebut dengan kakinya. Sejumlah orang di sekitar lokasi kemudian turun tangan untuk melerai.

Universitas Ibrani Kecam Insiden Serangan

Fr. Olivier Poquillon, Direktur Sekolah Penelitian Biblika dan Arkeologi Prancis (EBAF) di Yerusalem, menyatakan bahwa biarawati tersebut adalah warga negara Prancis dan peneliti di lembaga tersebut.

“Kami dengan tegas mengutuk tindakan kekerasan sektarian ini dan berharap pihak berwenang bertindak cepat dan tegas,” ujar Poquillon dalam unggahan di X pada 28 April, yang kemudian dibagikan ulang oleh akun resmi EBAF.

Fakultas Humaniora di Universitas Ibrani Yerusalem menyebut EBAF sebagai “mitra akademik yang berharga” dan mengecam serangan terhadap biarawati tersebut, yang mereka sebut sebagai rekan mereka.

Dalam unggahan di Facebook pada 29 April, fakultas tersebut menyatakan bahwa insiden ini bukan kasus terpisah, melainkan “bagian dari pola mengkhawatirkan berupa meningkatnya permusuhan terhadap komunitas Kristen dan simbol-simbolnya.” Mereka menambahkan bahwa kekerasan ini merupakan “serangan langsung” terhadap nilai pluralisme agama di Yerusalem.

Konsulat Prancis di Yerusalem juga menyatakan “mengutuk keras agresi” terhadap biarawati tersebut.

“Kami mendoakan pemulihan cepat bagi korban dan terus memantau kondisinya secara dekat. Prancis menyerukan agar pelaku dibawa ke pengadilan dan keadilan ditegakkan,” demikian pernyataan pada 29 April.

Israel Serukan Perlindungan Kebebasan Beragama

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan pada 29 April bahwa negara Israel memandang serangan tersebut “dengan sangat serius.”

“Kami mengutuk keras serangan tercela ini. Kekerasan terhadap individu tak bersalah, terutama terhadap anggota komunitas keagamaan, tidak memiliki tempat dalam masyarakat kami,” kata kementerian tersebut.

“Tindakan memalukan ini bertentangan langsung dengan nilai-nilai penghormatan, hidup berdampingan, dan kebebasan beragama yang menjadi dasar berdirinya Israel dan yang terus kami junjung tinggi.”

Kementerian juga menyampaikan simpati kepada korban dan solidaritas kepada Patriarkat Latin di Yerusalem.

“Israel tetap berkomitmen kuat untuk melindungi kebebasan beragama dan kebebasan beribadah bagi semua keyakinan, serta memastikan Yerusalem tetap menjadi kota di mana setiap komunitas dapat hidup, berdoa, dan menjalankan keyakinannya dengan aman dan bermartabat.”

Patung Yesus Dirusak

Penangkapan ini menjadi insiden anti-Kristen terbaru yang mendapat sorotan, setelah seorang tentara Israel menjatuhkan patung Yesus Kristus di Lebanon selatan dan merusaknya lebih lanjut dengan palu godam. Foto kejadian tersebut beredar luas di media sosial.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam tindakan itu dan menyatakan pada 20 April, “Kami menyesalkan insiden ini dan setiap luka yang ditimbulkannya bagi umat beriman di Lebanon dan di seluruh dunia.”

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada 21 April mengumumkan bahwa dua tentaranya—yang merusak patung dan yang mengambil foto—akan dikenai hukuman penahanan militer selama satu bulan.

“IDF menyampaikan penyesalan mendalam atas insiden tersebut dan menegaskan bahwa operasi kami di Lebanon semata-mata ditujukan terhadap organisasi teroris Hizbullah dan kelompok teroris lainnya, bukan terhadap warga sipil Lebanon,” demikian pernyataan IDF.

Pemerintah Inggris Naikkan Status Ancaman Teror ke Level “Parah” Usai Penikaman di Kawasan Yahudi

EtIndonesia. Seorang pria berusia 45 tahun dengan riwayat kekerasan dan gangguan kesehatan mental muncul di pengadilan dengan dakwaan percobaan pembunuhan, di tengah seruan untuk melarang aksi demonstrasi pro-Palestina.

Pejabat di Inggris menaikkan tingkat ancaman teror nasional ke level tertinggi kedua setelah serangan pada Rabu, di mana dua pria Yahudi ditikam di London utara dan seorang pria lainnya diserang dalam insiden terpisah.

Pria berusia 45 tahun itu hadir di pengadilan pada Jumat dengan dakwaan percobaan pembunuhan terkait serangan di Golders Green, kawasan dengan populasi Yahudi yang besar, dalam insiden yang oleh polisi disebut sebagai dugaan aksi terorisme.

Pria tersebut adalah Essa Suleiman, kelahiran Somalia yang memiliki kewarganegaraan Inggris. Ia juga didakwa atas percobaan pembunuhan dalam insiden terpisah sebelumnya pada hari yang sama di London selatan, di mana ia diduga menyerang Ishmail Hussein, yang disebut di pengadilan sebagai mantan temannya, hingga mengalami luka ringan.

Riwayat Gangguan Mental Serius

Polisi menyatakan tersangka memiliki riwayat kekerasan serius dan masalah kesehatan mental.

Media Inggris melaporkan bahwa Suleiman baru saja keluar dari rumah sakit jiwa yang dikelola oleh South London and Maudsley NHS Foundation Trust dalam beberapa hari terakhir, dan saat kejadian ia tinggal di hunian khusus bagi pasien kesehatan mental.

Penikaman di Golders Green terjadi setelah sejumlah insiden pembakaran baru-baru ini yang menargetkan properti milik komunitas Yahudi di kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Yahudi Ortodoks di London utara.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan akan mengambil langkah lebih tegas untuk memastikan komunitas Yahudi merasa aman, menyusul kekhawatiran bahwa perang di Gaza dan sentimen anti-Zionisme memicu meningkatnya antisemitisme.

Kekhawatiran atas Aksi Pro-Palestina

Aksi demonstrasi pro-Palestina kini terancam pembatasan, seiring desakan sejumlah pihak agar perlindungan terhadap komunitas Yahudi Inggris yang berjumlah sekitar 290.000 orang ditingkatkan.

Ribuan orang, termasuk pensiunan, telah ditangkap dalam aksi-aksi tersebut karena diduga menunjukkan dukungan terhadap kelompok Palestine Action, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris sejak Juli 2025.

Board of Deputies of British Jews dan Jewish Leadership Council dalam pernyataan bersama menyatakan “terkejut dan muak” atas penikaman di Golders Green yang menurut mereka menargetkan “dua pria yang terlihat jelas sebagai Yahudi.”

Peninjau independen undang-undang terorisme Inggris, Jonathan Hall KC, menyerukan pelarangan demonstrasi pro-Palestina.

Pengacara tersebut mengatakan kepada The Jewish News bahwa “hak untuk hidup lebih penting daripada hak untuk berdemonstrasi,” sehingga perlu dipertimbangkan jeda atau moratorium terhadap aksi yang dinilai dapat memicu kebencian publik.

“Kita sedang berbicara tentang melindungi nyawa warga Inggris dan komunitas,” ujarnya. “Untuk menghadapi situasi darurat saat ini, saya akan mengambil pendekatan pencegahan: melarang demonstrasi guna menurunkan risiko serangan lebih lanjut.”

‘Serangan terhadap Kebebasan Sipil’

Kelompok Jewish Voice for Liberation (JVL), organisasi anti-Zionis yang mengkampanyekan perdamaian di Timur Tengah, menyatakan mereka “mengutuk keras” serangan yang “tidak dapat dibenarkan” tersebut, dan menegaskan bahwa “orang Yahudi di Inggris tidak dapat disalahkan atas tindakan Israel.”

Dalam pernyataannya kepada The Epoch Times, JVL menyatakan kekhawatiran bahwa serangan terhadap Yahudi “dimanfaatkan” untuk menekan aksi pro-Palestina, yang sejak pecahnya perang terbaru di Gaza telah menarik massa besar di seluruh Inggris.

“Kami memiliki kekhawatiran serius tentang bagaimana serangan ini digunakan. Mengapa serangan oleh tersangka dengan riwayat gangguan mental langsung dikategorikan sebagai terorisme? Kami juga mempertanyakan dan menolak upaya cepat mengaitkan serangan ini dengan aksi pro-Palestina yang memprotes genosida di Gaza dan pembersihan etnis di Tepi Barat,” kata mereka.

JVL menambahkan bahwa wacana penghentian aksi damai merupakan “serangan terhadap kebebasan sipil.”

“Momen ini seharusnya menjadi waktu untuk berpikir serius mengenai penyebab meningkatnya serangan antisemit dan bagaimana mengatasinya. Pemerintah, polisi, dan pemimpin komunitas Yahudi perlu melihat lebih dalam situasi internasional maupun domestik,” tambah mereka.

“Mencampuradukkan kritik terhadap Israel dan anti-Zionisme dengan antisemitisme telah menjadi masalah serius.”

Tambahan Dana Puluhan Juta Pound

Sebagai respons atas serangan tersebut, pemerintah mengumumkan tambahan dana sebesar 25 juta pound sterling (sekitar 34 juta dolar AS) untuk meningkatkan patroli polisi serta pengamanan di sinagoga dan sekolah Yahudi.

Tingkat ancaman teror di Inggris terakhir kali berada pada level “parah” pada November 2021, setelah pemboman Rumah Sakit Perempuan Liverpool dan pembunuhan anggota parlemen Konservatif Sir David Amess, sebelum diturunkan menjadi “substansial” pada Februari 2022.

Aksi pro-Palestina yang diselenggarakan oleh koalisi Stop the War dijadwalkan berlangsung di London pada 16 Mei.

Koalisi tersebut menyatakan bahwa upaya mengaitkan serangkaian “serangan antisemit mengerikan” di London utara dengan aksi demonstrasi adalah tidak benar.

“Kami menilai pernyataan Jonathan Hall KC yang mengusulkan moratorium terhadap aksi Palestina tidak dapat diterima,” kata mereka.

“Kami mengutuk tanpa syarat semua serangan tersebut, sebagaimana kami menolak segala bentuk antisemitisme dan rasisme. Tidak seorang pun boleh diserang karena ras atau agamanya.”

Saat mengunjungi lokasi kejadian pada Kamis, Perdana Menteri Keir Starmer—yang istrinya, Victoria, adalah seorang Yahudi—sempat disambut cemoohan oleh sekelompok kecil massa, dengan teriakan seperti “Keir Starmer, Jew Harmer.”

Dalam pidato yang disiarkan televisi terkait antisemitisme, Starmer menegaskan pemerintahnya akan melakukan “segala cara untuk memberantas kebencian ini.”

Ia menyebut langkah tersebut termasuk memperkuat kewenangan untuk menutup organisasi amal yang dianggap menyebarkan ekstremisme serta menindak “penceramah kebencian.”

“Kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi ancaman berbahaya dari negara seperti Iran, karena kita tahu mereka ingin menyakiti warga Yahudi di Inggris,” ujarnya.

Pemerintah juga ingin mempercepat legislasi yang memungkinkan penuntutan terhadap individu yang bertindak sebagai perpanjangan tangan kelompok yang didukung negara asing, sehingga dapat diperlakukan seperti mata-mata.

Ancaman dari Berbagai Arah

Kepala kepolisian kontraterorisme Inggris, Laurence Taylor, mengatakan bahwa negara tersebut telah menghadapi peningkatan ancaman terorisme dalam beberapa waktu terakhir, dengan risiko yang datang dari berbagai arah.

“Kami melihat peningkatan ancaman terhadap individu dan institusi Yahudi serta Israel di Inggris,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa polisi juga menghadapi situasi global yang tidak menentu, termasuk ancaman fisik dari aktor yang terkait dengan negara.

Pemerintah menegaskan bahwa kenaikan status ancaman teror ke level “parah” bukan semata-mata akibat serangan di Golders Green, tetapi juga karena meningkatnya ancaman dari individu dan kelompok kecil yang terinspirasi oleh ekstremisme  maupun sayap kanan di dalam negeri.

Suleiman dihadirkan di Pengadilan Westminster, London, pada Jumat dengan dakwaan percobaan pembunuhan terhadap Shloime Rand (34) dan Moshe Shine (76), yang juga dikenal sebagai Norman Shine, serta kepemilikan senjata tajam.

Polisi Metropolitan menyatakan Rand telah keluar dari rumah sakit, sementara Shine masih dalam kondisi stabil.

Polisi juga mengungkap bahwa Suleiman pernah dirujuk ke program Prevent milik pemerintah pada 2020, yang bertujuan mencegah individu terjerumus ke dalam ekstremisme. Namun, alasan rujukan tersebut tidak diungkap dan kasusnya ditutup pada tahun yang sama.

Suleiman kini ditahan dan dijadwalkan kembali menjalani sidang di pengadilan Old Bailey, London, pada 15 Mei—sehari sebelum aksi pro-Palestina besar berikutnya direncanakan berlangsung.

Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.

Donald Trump Ucapkan Selamat kepada Ali Faleh al-Zaidi yang Ditunjuk Sebagai Calon Perdana Menteri Irak, Undang ke Washington

Setelah pencalonannya, Ali Faleh al-Zaidi berjanji akan fokus menjadikan Irak sebagai “negara yang seimbang, baik secara regional maupun internasional.”

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 30 April menyampaikan ucapan selamat kepada Ali Faleh al-Zaidi atas pencalonannya sebagai perdana menteri Irak berikutnya, menurut pernyataan dari kantor perdana menteri Irak.

Dalam percakapan tersebut, Trump mengundang al-Zaidi untuk berkunjung secara resmi ke Washington setelah pemerintahan baru Irak terbentuk.

“Percakapan itu mencakup peninjauan hubungan strategis bilateral antara Irak dan Amerika Serikat, serta cara untuk mengembangkan dan memperkuatnya di berbagai bidang, termasuk penegasan kedua pihak untuk bekerja sama dan meningkatkan kerja sama bilateral guna memperkuat stabilitas kawasan,” demikian isi pernyataan tersebut.

Trump juga menyampaikan ucapan selamat melalui unggahan di platform Truth Social.

“Kami berharap ia sukses dalam membentuk pemerintahan baru yang bebas dari terorisme dan mampu memberikan masa depan yang lebih cerah bagi Irak. Kami menantikan hubungan baru yang kuat, dinamis, dan sangat produktif antara Irak dan Amerika Serikat,” tulis Trump pada 30 April.

“Ini adalah awal babak baru yang luar biasa antara kedua negara kita—kemakmuran, stabilitas, dan kesuksesan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sekali lagi, Ali, selamat!”

Blok parlemen terbesar Irak, Coordination Framework—koalisi partai-partai Syiah yang menguasai mayoritas di parlemen—mencalonkan al-Zaidi pada 27 April setelah berminggu-minggu perdebatan internal.

Al-Zaidi merupakan ketua Al-Janoob Islamic Bank dan belum pernah memegang jabatan politik sebelumnya, namun muncul sebagai kandidat kuat pada tahap akhir pembahasan, didukung oleh latar belakang ekonomi serta jaringan bisnis dan investasinya.

Setelah pencalonannya, ia berjanji akan fokus menjadikan Irak sebagai “negara yang seimbang, baik secara regional maupun internasional.”

“Penunjukan ini datang pada saat yang sensitif yang membutuhkan upaya bersama dari seluruh kekuatan politik dan sosial,” ujarnya.

Berdasarkan konstitusi Irak, calon perdana menteri memiliki waktu 30 hari untuk mengajukan kabinet kepada parlemen, yang memerlukan 167 suara untuk memperoleh persetujuan.

Jika disetujui, pemerintahan al-Zaidi akan menghadapi dampak ekonomi dan politik dari perang Iran yang meluas hingga ke Irak, sementara penutupan Selat Hormuz telah mengganggu ekspor minyak yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.

Keberatan Trump terhadap Nouri al-Maliki

Panggilan telepon dan unggahan Trump di Truth Social menunjukkan dukungannya terhadap al-Zaidi, seorang pengusaha dan pendatang baru di dunia politik, setelah sebelumnya ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kandidat utama lainnya, mantan Perdana Menteri Nouri al-Maliki.

Trump menulis dalam unggahan di X pada 27 Januari bahwa Irak “mungkin akan membuat pilihan yang sangat buruk jika kembali menunjuk Nouri al-Maliki sebagai perdana menteri.”

“Terakhir kali Maliki berkuasa, negara itu jatuh ke dalam kemiskinan dan kekacauan total. Hal itu tidak boleh terjadi lagi,” ujarnya.

Al-Maliki menjabat sebagai perdana menteri Irak pada periode 2006 hingga 2014.

Trump juga menyatakan bahwa jika al-Maliki kembali berkuasa, Amerika Serikat tidak akan lagi membantu Irak.

Sebelumnya, Coordination Framework sempat menyatakan akan mendukung al-Maliki, namun kemudian beralih ke al-Zaidi.

Selama masa pemerintahan al-Maliki, Irak mengalami kekerasan sektarian, perebutan kekuasaan yang melibatkan kelompok Sunni dan Kurdi, serta meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Masa jabatannya berakhir pada 2014 setelah kelompok teroris ISIS menguasai sebagian besar wilayah Irak. Sejak itu, ia tetap menjadi tokoh berpengaruh, pernah dua kali menjabat sebagai wakil presiden, memimpin Koalisi Negara Hukum, serta memiliki hubungan dengan faksi-faksi yang didukung Iran di Irak.

Pemerintah AS sebelumnya telah memperingatkan tentang pengaruh Iran di Irak.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, dalam pernyataan pada 25 Januari mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio menekankan bahwa “pemerintahan yang dikendalikan Iran tidak dapat secara efektif mengutamakan kepentingan Irak, menjaga Irak dari konflik regional, maupun memajukan kemitraan yang saling menguntungkan antara Amerika Serikat dan Irak.”

Guy Birchall dan The Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.

Pentagon Ungkap AS Keluarkan Biaya Rp 433,7 Triliun dalam 2 Bulan Perang Iran 

Pejabat pengawas keuangan Departemen Perang, Jules Hurst, mengatakan bahwa sebagian besar biaya konflik Iran berasal dari penggunaan persenjataan Amerika Serikat.

EtIndonesia. Operasi tempur melawan Iran telah menelan biaya sekitar $25 miliar (Rp 433,7 triliun ) bagi militer Amerika Serikat dalam dua bulan, demikian disampaikan seorang pejabat tinggi akuntansi Pentagon kepada anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR AS pada 29 April.

Sidang pada 29 April tersebut menjadi pertama kalinya Menteri Perang Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine memberikan kesaksian publik di Kongres sejak pasukan Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Pasukan AS dan Iran saling baku tembak selama sekitar 5,5 minggu sebelum kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 8 April.

Anggota DPR AS Adam Smith (Demokrat-Washington), anggota senior dalam komite tersebut, meminta Pentagon merinci biaya amunisi yang digunakan AS serta peralatan yang hancur selama pertempuran.

Jules Hurst memperkirakan total biaya tersebut sekitar $25 miliar. Ia menyebutkan bahwa amunisi menyumbang sebagian besar biaya, namun juga mencakup biaya operasi, pemeliharaan, serta penggantian peralatan. Hurst hadir bersama Hegseth dan Caine dalam sidang tersebut, saat Kongres mempertimbangkan permintaan anggaran militer untuk tahun fiskal 2027.

Pemerintahan Donald Trump tengah menyiapkan pengajuan anggaran tambahan ke Kongres untuk menutupi biaya perang, namun hingga kini belum difinalisasi atau ditetapkan jumlah pastinya.

“Kami akan merumuskan anggaran tambahan melalui Gedung Putih yang akan diajukan ke Kongres setelah kami memiliki penilaian penuh atas biaya konflik ini,” kata Hurst.

Pentagon sendiri telah mengajukan anggaran belanja militer dan pertahanan sebesar $1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027. Angka ini meningkat 42 persen dibandingkan anggaran tahun fiskal 2026 yang mencapai sekitar $1,03 triliun.

Di antara berbagai pos anggaran, pemerintah Trump mengajukan alokasi sebesar $52,9 miliar untuk meningkatkan pengadaan 12 sistem persenjataan yang dikategorikan sebagai amunisi kritis oleh Pentagon.

Pada Maret, Presiden Donald Trump mengumumkan telah bertemu dengan para CEO perusahaan pertahanan besar seperti BAE Systems, Lockheed Martin, Northrop Grumman, RTX Corporation, Boeing, Honeywell, dan L3Harris Technologies untuk membahas peningkatan produksi amunisi.

Persenjataan yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tersebut—termasuk sistem pertahanan rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), serta senjata ofensif seperti Joint Air-to-Surface Standoff Missile—digunakan secara luas dalam perang Iran.

Selain biaya material langsung untuk mengganti senjata dan peralatan, perang Iran juga mengganggu aliran minyak dan gas global dari Timur Tengah, yang menyebabkan kenaikan harga bagi konsumen.

Bagaimana Dahak Dapat Mencerminkan Ketidakseimbangan dalam Tubuh

Berbagai jenis dahak dapat menunjukkan penyakit yang berbeda. Dengan mengenali jenisnya, praktisi dapat melakukan diagnosis dan penanganan yang lebih tepat.

Ellen Wan

Dahak yang Anda keluarkan bisa mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam tubuh.

Secara umum, dahak dikenal sebagai lendir yang dihasilkan saat batuk. Namun, bagi praktisi pengobatan tradisional Tiongkok (PTT), dahak memiliki makna lebih luas. Dahak dianggap sebagai limbah yang menumpuk di dalam tubuh.

Lee Ying-Ta, seorang dokter di Tzuhang Chinese Medicine Clinic di Taiwan, mengatakan bahwa dalam teori PTT, dahak merupakan produk sampingan yang terbentuk ketika metabolisme cairan tubuh mengalami ketidakseimbangan.

Jenis-Jenis Dahak

Hu Naiwen, praktisi PTT di Taiwan sekaligus kontributor The Epoch Times, mengatakan bahwa dalam PTT, dahak dianggap sebagai faktor penting dalam perkembangan penyakit.

Namun, dahak tidak seharusnya dihilangkan sepenuhnya. Tanpa dahak, trakea dan bronkus dapat menjadi terlalu kering, yang berpotensi menyebabkan batuk kering. Dahak juga berperan penting dalam membersihkan saluran pernapasan.

Warna dan tekstur dahak sering kali mencerminkan berbagai jenis ketidakseimbangan dalam tubuh. Secara umum, dahak dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Dahak Dingin: Biasanya berwarna putih dan sering terkait dengan kondisi dingin dalam tubuh. Umumnya muncul saat flu yang disertai menggigil dan buang air besar encer.
  • Dahak Panas: Biasanya berwarna kuning atau hijau, sering terjadi saat infeksi, atau pada flu yang disertai tenggorokan kering dan sakit, rasa haus, batuk kering, dan demam.
  • Dahak Defisiensi: Berbuih atau encer, biasanya terkait dengan kelemahan fisik, batuk jangka panjang, atau metabolisme yang lambat.
  • Dahak Berlebih: Lebih kental dan terkadang sulit dikeluarkan, sering berkaitan dengan penumpukan limbah metabolisme dalam tubuh.

Ketika dahak menumpuk di paru-paru, hal ini dapat menyebabkan gejala seperti batuk berdahak, hidung tersumbat, atau pilek. Jika menumpuk di lambung, dapat menimbulkan gangguan pencernaan seperti muntah atau kembung. Jika menumpuk di persendian, dapat menyebabkan rasa berat pada anggota tubuh atau mati rasa.

Pengobatan Berdasarkan Tipe Tubuh

Lee mencontohkan kasus seorang wanita berusia 50-an yang mengalami dahak terus-menerus akibat rinitis alergi, dengan dahak yang tipis, bening, dan berbuih. Meskipun telah menjalani perawatan rumah sakit selama hampir dua bulan, gejalanya tidak membaik.

Ia kemudian mencari pengobatan PTT. Setelah mendapatkan ramuan herbal yang disesuaikan dengan tipe tubuhnya, gejalanya berangsur membaik secara signifikan.

Kasus seperti ini cukup umum dalam praktik klinis, kata Lee. Pasien berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, dengan jumlah anak-anak dan perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Menurut Hu, praktisi terlebih dahulu mengidentifikasi jenis dahak sebelum menentukan terapi yang tepat, seperti herbal atau akupunktur. Jenis obat dan dosis kemudian disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

PTT menekankan prinsip “pengobatan berdasarkan pola,” yaitu strategi terapi dipilih sesuai tipe tubuh dan penyebab yang mendasari.

Dahak dingin ditangani dengan metode pemanasan, sedangkan dahak panas ditangani dengan metode pembersihan. Dahak defisiensi memerlukan metode penguatan, sementara dahak berlebih memerlukan metode pengurangan.

Salah satu resep herbal klasik untuk mengurangi dahak adalah Er Chen Decoction, yang terdiri dari dua bahan utama: rimpang pinellia tua (ban xia) dan kulit jeruk kering (chen pi). Sebuah studi tahun 2020 menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam herbal ini dapat membantu menghambat produksi lendir berlebih di saluran pernapasan.

Ketika gejala dahak berlebih muncul, penanganan medis sejak dini dapat membantu mencegah batuk memburuk dan mengurangi penumpukan dahak di paru-paru yang berpotensi menyebabkan peradangan.

buzzhouse/Shutterstock

Pir Rebus dengan Gula Batu

Pir yang dimasak dengan gula batu merupakan salah satu resep makanan klasik untuk mengatasi dahak panas, kata Lee.

Pir diketahui dapat membantu melembapkan paru-paru, mengurangi dahak, dan meredakan batuk.

Namun, orang dengan fungsi pencernaan lemah atau yang mengalami kondisi “dingin” sebaiknya menghindari konsumsi pir.

Bahan:

  • 1 buah pir
  • Sedikit gula batu

Cara membuat:

  1. Cuci pir hingga bersih, kupas kulitnya, buang bagian inti, lalu isi bagian tengah dengan sedikit gula batu.
  2. Masukkan pir ke dalam panci dan tambahkan air hingga terendam. Didihkan, lalu kecilkan api dan rebus sekitar 30 menit hingga pir menjadi lunak.
  3. Angkat, biarkan agak dingin, kemudian konsumsi pir dan air rebusannya selagi hangat.

Penyesuaian Pola Makan

Lee menyarankan untuk menghindari makanan dingin atau yang didinginkan, terutama saat sedang flu.

Jika seseorang didiagnosis memiliki tipe tubuh dingin menurut PTT, maka sebaiknya menghindari makanan yang bersifat mendinginkan seperti pir, melon, buah naga, pisang, jeruk bali, dan belimbing. Dalam teori PTT, teh hijau dan kopi juga dianggap bersifat mendinginkan.

Sebaliknya, bagi yang memiliki tipe tubuh panas atau kering, sebaiknya menghindari makanan yang bersifat memanaskan atau mengeringkan, seperti gorengan, makanan pedas, dan kacang tanah panggang.

Moorlife Indonesia Buka Peluang Usaha: Mulai dari Modal Kecil, Garansi Seumur Hidup

Surabaya, 29 April 2026 – Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan sumber penghasilan tambahan yang fleksibel, Moorlife Indonesia hadir dengan solusi bisnis berbasis direct selling. Brand premium houseware ini tidak hanya menawarkan produk wadah makanan dan minuman berkualitas dengan desain modern dan garansi seumur hidup, tetapi juga membuka akses usaha bagi siapa saja tanpa modal besar.

Marketing Director Moorlife Indonesia, Nurlaila Hidayaty, menjelaskan bahwa sistem direct selling menjadi kunci utama dalam memperluas peluang ekonomi masyarakat.

Direct selling bukan hanya tentang menjual produk, tetapi membuka akses bagi siapa saja untuk memulai usaha dengan cara yang lebih fleksibel. Kami ingin menciptakan peluang yang bisa dijangkau oleh banyak orang, tanpa harus terbebani oleh modal besar atau sistem yang rumit,” ujarnya.

Usaha dari Lingkaran Terdekat, Dukung Teknologi Digital

Model bisnis ini memungkinkan para distributor memulai usaha dari lingkaran terdekat, seperti keluarga, teman, maupun komunitas. Dengan dukungan teknologi digital dan media sosial, jangkauan pasar dapat diperluas secara signifikan tanpa batasan geografis.

Lebih dari sekadar menjadi pemasar, Moorlife Indonesia juga memberikan dukungan berkelanjutan melalui pelatihan, mentoring, serta pengembangan komunitas. Para distributor dibekali keterampilan mulai dari teknik pemasaran, komunikasi, hingga pengelolaan bisnis. Pendekatan ini bertujuan menciptakan pelaku usaha yang tidak hanya fokus pada penjualan, tetapi juga mampu membangun jaringan dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

Dari Konsumen Menjadi Mitra Bisnis

Nurlaila menambahkan bahwa banyak mitra Moorlife yang awalnya hanya konsumen, kemudian melihat potensi bisnis dan mulai berkembang.

“Di sinilah peran kami bukan hanya sebagai penyedia produk, tetapi juga sebagai partner dalam perjalanan bisnis mereka,” tambahnya.

Relevan dengan Tren Ekonomi Dinamis

Di tengah perubahan tren ekonomi yang semakin dinamis, model bisnis fleksibel seperti direct selling dinilai menjadi salah satu solusi untuk menciptakan sumber penghasilan tambahan. Hal ini semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat akan peluang usaha yang dapat dijalankan tanpa mengganggu aktivitas utama.

Dengan kombinasi produk berkualitas garansi seumur hidup, sistem bisnis yang mudah diakses, serta pendampingan berkelanjutan, Moorlife Indonesia menawarkan pintu masuk yang menarik bagi siapa pun yang ingin memulai usaha sendiri.

Negosiasi Gagal, Bom Bicara? Rencana Serangan Rahasia AS ke Iran Mulai Terbongkar!

EtIndonesia — Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase paling genting. Serangkaian perkembangan dramatis terjadi dalam satu hari, mulai dari bocoran rencana operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, hingga laporan ledakan misterius di Teheran. Semua ini terjadi di tengah ancaman runtuhnya perundingan nuklir antara Washington dan Teheran.


Negosiasi AS–Iran di Ambang Kegagalan

Menurut laporan Channel 12 Israel pada 30 April 2026, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung pekan depan diperkirakan besar kemungkinan akan gagal. Kebuntuan ini memperkuat spekulasi bahwa jalur diplomasi semakin menyempit.

Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menerima paparan langsung dari Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Cooper, terkait rencana operasi militer terbaru terhadap Iran.


Opsi Militer: Serangan Cepat hingga Penggunaan Senjata Hipersonik

Sejumlah laporan media mengungkap bahwa rencana operasi tersebut dirancang sebagai serangan singkat namun sangat intens. Target utamanya mencakup:

  • Infrastruktur energi Iran
  • Fasilitas pemerintahan strategis

Tujuan utamanya adalah memaksa Iran kembali ke meja perundingan dengan posisi yang lebih lemah, terutama terkait program nuklirnya.

Yang paling menyita perhatian adalah kemungkinan penggunaan rudal hipersonik Dark Eagle. Jika disetujui, ini akan menjadi penggunaan pertama senjata hipersonik oleh Amerika Serikat dalam konflik nyata, menandai babak baru dalam peperangan modern.

Selain itu, terdapat opsi lain yang lebih berisiko, termasuk:

  • Penguasaan sebagian wilayah di Selat Hormuz
  • Pengerahan pasukan khusus untuk operasi darat terbatas

Israel Siaga Tinggi, Indikasi Keputusan Militer Makin Dekat

Laporan Channel 12 juga menyebutkan adanya indikasi bahwa Presiden Trump mendekati keputusan untuk meluncurkan operasi militer.

Sementara itu, Israel telah meningkatkan status kewaspadaan militernya ke tingkat tinggi, mempercepat persiapan menghadapi kemungkinan konflik terbuka dengan Iran dalam waktu dekat.


Dinamika Internal Iran: Perebutan Kekuasaan Menguat

Di dalam negeri Iran, situasi politik juga mengalami gejolak. Pada 30 April, televisi pemerintah Iran menyiarkan pernyataan keras dari Ali Khamenei terhadap Amerika Serikat.

Namun, laporan dari Reuters menyebutkan bahwa peran Pemimpin Tertinggi kini lebih bersifat simbolis. Kekuasaan nyata disebut berada di tangan kelompok garis keras dalam Garda Revolusi Iran.

Sosok yang disebut memiliki pengaruh besar adalah:

  • Ahmad Vahidi

Sementara itu, menurut laporan Iran International, Presiden Masoud Pezeshkian bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dikabarkan tengah berupaya mencopot Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi karena dianggap terlalu mengikuti arahan militer tanpa koordinasi sipil.


Harga Minyak Melonjak, Dunia Waspada Krisis Energi

Ketegangan di kawasan Teluk langsung berdampak pada pasar energi global.

Pada 30 April 2026:

  • Harga minyak dunia melonjak di atas 126 dolar per barel
  • Harga bensin di AS naik menjadi 4,3 dolar per galon

Ini merupakan lonjakan harian terbesar sejak konflik terbaru Iran pecah.


Aliansi Kebebasan Maritim Dibentuk

Menghadapi ancaman terhadap jalur pelayaran global, Amerika Serikat mendorong pembentukan “Aliansi Kebebasan Maritim”, sebuah mekanisme kerja sama multinasional.

Menurut laporan The Wall Street Journal pada 29 April 2026, Departemen Luar Negeri AS telah mengirim telegram diplomatik yang menyerukan negara-negara untuk:

  • Berbagi intelijen
  • Mengoordinasikan langkah diplomatik
  • Membuka kemungkinan kerja sama militer

Negara pertama yang menyatakan bergabung adalah Lithuania. Presiden Gitanas Nausėda bahkan segera menggelar rapat Dewan Pertahanan Nasional untuk menindaklanjuti keputusan tersebut.


Teheran Diguncang Ledakan Misterius

Pada malam 30 April 2026, situasi di Iran semakin mencekam.

Media lokal melaporkan serangkaian ledakan kuat di wilayah selatan Teheran sekitar pukul 23.10 waktu setempat. Sistem pertahanan udara Iran langsung aktif, menembakkan senjata pencegat ke udara.

Menurut Tasnim News Agency, ledakan tersebut berkaitan dengan upaya menghadapi:

  • Drone
  • Pesawat kecil tak dikenal

Saksi mata melaporkan:

  • Langit dipenuhi kilatan cahaya
  • Suara ledakan mengguncang bangunan
  • Pintu dan jendela bergetar hebat

Wilayah selatan Teheran sendiri dikenal sebagai kawasan strategis, termasuk lokasi:

  • Kilang minyak Rey
  • Gudang logistik militer Garda Revolusi

Spekulasi Serangan Israel hingga Uji Sistem Pertahanan

Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi terkait penyebab ledakan. Namun, sejumlah spekulasi bermunculan:

  1. Serangan “pemenggalan” oleh Israel yang menargetkan pimpinan militer Iran
  2. Uji coba kemampuan pertahanan udara Iran oleh Israel

Kedua klaim tersebut masih belum dapat diverifikasi.


Pernyataan Trump: Isyarat Kembali ke Jalur Perang

Pada hari yang sama, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan.

Saat ditanya mengenai kemungkinan kegagalan negosiasi, ia mengatakan:

“Saya tidak yakin, tetapi mungkin kita harus memulai kembali perang.”

Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran global bahwa konflik terbuka bisa terjadi kapan saja.


Dampak Global: Dari Eropa hingga Amerika Latin

Trump juga mengisyaratkan kemungkinan penataan ulang penempatan militer AS di luar negeri, termasuk mempertimbangkan:

  • Penarikan dari Jerman
  • Relokasi ke Spanyol atau Italia

Sementara itu, di Amerika Latin, AS bersama beberapa negara seperti Bolivia, Kosta Rika, Guyana, Paraguay, dan Trinidad & Tobago mengeluarkan pernyataan bersama mendukung Panama dan mengecam tekanan dari Tiongkok.

Analis menilai langkah ini sebagai bentuk kebangkitan kembali “Doktrin Monroe versi baru”, yang bertujuan membatasi pengaruh Beijing di kawasan tersebut.


Kesimpulan: Dunia di Ambang Titik Kritis

Rangkaian peristiwa pada 29–30 April 2026 menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki fase yang sangat berbahaya.

Dengan:

  • Negosiasi yang terancam gagal
  • Opsi militer yang semakin nyata
  • Ketegangan energi global meningkat
  • Ledakan misterius di Teheran

Banyak analis menilai bahwa kilatan api di langit Teheran bukan sekadar insiden, melainkan tanda awal dari badai geopolitik yang lebih besar.

Dunia kini menunggu—apakah ini masih bisa ditarik kembali ke jalur diplomasi, atau justru akan menjadi awal dari konflik berskala luas. (***)

Dua Ledakan di Baghdad, Ribuan Ton Persenjataan Mengalir ke Israel — Sinyal Perang Dimulai?

EtIndonesia — Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas secara drastis setelah serangkaian insiden militer terjadi hampir bersamaan di Irak, Iran, dan Israel. Serangan drone terhadap Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad pada malam 29 April menjadi sinyal eskalasi terbaru, di tengah meningkatnya tekanan militer terhadap Iran dan mobilisasi besar-besaran pasukan di kawasan.

Serangan Drone Guncang Baghdad

Pada malam 29 April 2026, langit Baghdad diguncang dua kali ledakan berturut-turut di sekitar kawasan diplomatik. Menurut sumber keamanan Irak, insiden bermula ketika sebuah kendaraan berhenti di dekat perimeter luar Kedutaan Besar AS.

Beberapa detik kemudian, sistem pertahanan udara di kompleks kedutaan langsung aktif setelah mendeteksi ancaman dari udara. Sebuah drone pertama berhasil dikunci dan ditembak jatuh, dengan puing-puingnya jatuh di sekitar area tersebut.

Tidak lama berselang, drone kedua muncul dan kembali berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.

Sumber dari aparat keamanan Irak menyatakan bahwa kedua drone tersebut diduga merupakan drone pengintai milik milisi Irak yang didukung Iran. Namun hingga kini, belum ada kelompok yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Teheran Ikut Memanas, Pertahanan Udara Aktif

Beberapa jam setelah insiden di Baghdad, situasi serupa juga terjadi di Iran. Pada 30 April 2026, media Iran melaporkan bahwa sistem pertahanan udara di Teheran diaktifkan untuk menghadapi ancaman drone.

Kantor berita TASS melaporkan bahwa pasukan pertahanan udara Iran melakukan operasi di berbagai wilayah—termasuk barat, tengah, dan tenggara Teheran—dengan menargetkan drone kecil dan drone pengintai.

Suara tembakan pertahanan udara terdengar di sejumlah titik, menandakan bahwa ibu kota Iran berada dalam kondisi siaga tinggi.

AS Kirim 6.500 Ton Senjata ke Israel

Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat mempercepat dukungan militernya kepada Israel. Pada 30 April 2026, Kementerian Pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa dalam waktu 24 jam terakhir, dua kapal kargo dan sejumlah pesawat militer telah tiba membawa sekitar 6.500 ton perlengkapan tempur.

Pengiriman tersebut mencakup:

  • Ribuan amunisi udara dan darat
  • Kendaraan tempur termasuk JLTV (Joint Light Tactical Vehicle)
  • Truk militer dan perlengkapan logistik

Kapal-kapal tersebut berlabuh di pelabuhan strategis Haifa dan Ashdod.

Sejak konflik terbaru dengan Iran meletus pada 28 Februari 2026, total bantuan militer AS ke Israel telah mencapai lebih dari 115.600 ton—dan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan.

Menteri Pertahanan Israel, Katz, menegaskan bahwa tujuan utama adalah memastikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) siap menghadapi segala kemungkinan ancaman kapan saja.

Israel Siaga Tinggi, Pertemuan Rahasia Digelar

Di Tel Aviv, laporan dari Channel 12 Israel mengungkap bahwa pemerintah Israel telah memasuki status siaga tinggi nasional. Pertemuan tertutup digelar untuk membahas kemungkinan pecahnya kembali perang dengan Iran.

Langkah ini dipicu oleh indikasi bahwa Presiden AS, Donald Trump, tengah mempertimbangkan keputusan penting terkait kelanjutan operasi militer terhadap Iran.

Pejabat Israel kini bersiap menghadapi kemungkinan runtuhnya perundingan AS–Iran dalam waktu dekat, bahkan diperkirakan bisa terjadi pada awal pekan berikutnya.

Dukungan Militer Meluas ke UEA

Menurut laporan Financial Times, Israel juga memperluas dukungan militernya ke kawasan Teluk.

Uni Emirat Arab menerima sistem deteksi drone kompak bernama “Spectra”, dengan jangkauan sekitar 20 kilometer. Selain itu, bantuan juga mencakup:

  • Sistem pertahanan udara Iron Dome
  • Teknologi laser pertahanan udara
  • Sistem peringatan dini
  • Berbagi intelijen secara real-time

Sumber menyebutkan bahwa jumlah personel militer Israel yang ditempatkan di UEA saat ini sudah dalam jumlah signifikan.

Blokade AS Tekan Ekonomi Iran

Sementara itu, tekanan terhadap Iran melalui blokade laut yang dipimpin oleh CENTCOM menunjukkan hasil nyata.

Komandan CENTCOM, Laksamana Cooper, mengungkapkan bahwa hingga 29 April 2026, militer AS telah:

  • Mencegah 42 kapal memasuki pelabuhan Iran
  • Menghentikan penjualan sekitar 69 juta barel minyak
  • Menimbulkan kerugian lebih dari 6 miliar dolar AS

Langkah ini menjadi bagian dari strategi tekanan maksimum tanpa langsung melakukan serangan militer besar.

Iran Tegaskan Sikap, Risiko Perang Meningkat

Pada 30 April 2026, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, melalui pernyataan tertulis menegaskan bahwa Iran tidak akan mengorbankan program nuklir dan misilnya.

Lembaga pemikir di Washington, ISWCTP, menilai bahwa Iran kemungkinan besar tidak akan memberikan konsesi signifikan dalam negosiasi berikutnya.

Situasi ini dinilai berpotensi memicu kembali konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat.

Dampak Global: Energi dan Evakuasi

Di tengah ketegangan ini, dinamika energi global turut berubah. Venezuela dilaporkan menjadi pemasok minyak terbesar kedua bagi AS, melampaui Arab Saudi, seiring terganggunya pasokan dari Iran.

Sementara itu, pada 30 April 2026, pemerintah Uni Emirat Arab mengeluarkan larangan perjalanan total ke Iran, Irak, dan Lebanon, serta memerintahkan evakuasi warga negaranya dari wilayah tersebut.


Kesimpulan: Menuju Titik Kritis

Serangan drone di Baghdad, aktivitas pertahanan udara di Teheran, serta mobilisasi militer besar-besaran di Israel menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya.

Dengan negosiasi yang terancam gagal dan tekanan militer yang terus meningkat, beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi titik penentu—apakah kawasan ini menuju de-eskalasi, atau justru jatuh ke dalam konflik berskala lebih luas. (***)

3 Skenario Serangan AS ke Iran Dibongkar: Dalam Hitungan Hari, Perang Besar Bisa Meledak!

EtIndonesia — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase kritis. Dalam perkembangan terbaru, militer AS dilaporkan telah menyiapkan tiga skenario serangan besar terhadap Iran, sementara situasi di kawasan Teluk Persia semakin memanas dan berpotensi memicu konflik berskala luas.

Briefing Penting di Gedung Putih: Penentuan Arah Perang

Menurut sumber militer, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper  bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dijadwalkan memberikan pengarahan langsung kepada Presiden Donald Trump pada Kamis, 7 Mei 2026.

Dalam briefing tersebut, mereka akan memaparkan tiga opsi militer utama:

  • Opsi pertama: Serangan cepat dan intensif terhadap infrastruktur strategis Iran, termasuk fasilitas militer dan ekonomi, guna memaksa Teheran tunduk dalam negosiasi.
  • Opsi kedua: Operasi darat terbatas untuk merebut sebagian wilayah di sekitar Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
  • Opsi ketiga: Operasi pasukan khusus untuk mengambil alih fasilitas minyak Iran—langkah berisiko tinggi yang dapat memicu eskalasi besar.

Para analis menilai, keputusan yang akan diambil dalam pekan ini berpotensi menjadi titik penentu apakah konflik akan berubah menjadi perang terbuka.


Trump: “Iran Bisa Dihancurkan dalam 15 Menit”

Dalam wawancara di Ruang Oval pada 29 April 2026, Presiden Trump menyampaikan pernyataan tegas terkait kesiapan militer AS.

Ia mengungkapkan bahwa Amerika kini memiliki teknologi mutakhir, termasuk sistem anti-drone berbasis laser dan senjata ringan generasi baru yang mampu menjatuhkan drone secara efisien.

Trump bahkan menyatakan: “Kami tidak perlu rudal mahal. Dengan peluru biasa, kami bisa menjatuhkan drone bernilai puluhan ribu dolar seperti membasmi lalat.”

Lebih jauh, Trump menilai kondisi Iran sudah sangat lemah—baik secara ekonomi maupun militer. Ia mengklaim mata uang Iran telah runtuh, dan kemampuan angkatan laut, udara, serta pertahanan udaranya sangat terbatas.

Dalam pernyataan yang memicu kontroversi, ia menegaskan bahwa:

“Dalam 15 menit, kemampuan itu bisa dilenyapkan.”


Senjata Hipersonik dan Eskalasi Teknologi Militer

Laporan dari Bloomberg menyebut bahwa CENTCOM telah mengajukan rencana penempatan rudal hipersonik “Dark Eagle” di kawasan Timur Tengah.

Jika disetujui, ini akan menjadi pertama kalinya Amerika Serikat menggunakan senjata hipersonik dalam operasi tempur nyata terhadap Iran—sebuah langkah yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan militer global.


Negosiasi Diam-Diam dan Manuver Diplomatik

Di tengah ancaman militer, Trump mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Iran masih berlangsung secara rahasia melalui jalur langsung, bukan melalui Pakistan seperti sebelumnya.

Ia mengklaim bahwa negosiasi menunjukkan “kemajuan signifikan”.

Namun, menurut dua pejabat Pakistan, Iran diperkirakan akan mengajukan proposal revisi sebelum akhir pekan (diperkirakan 2–3 Mei 2026) sebagai upaya mengakhiri konflik.


Iran Mengeras: Ancaman dan Mobilisasi Militer

Di Teheran, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei kembali muncul ke publik dan mengeluarkan ancaman keras. Ia menyatakan Iran siap menenggelamkan kapal perang AS dan menegaskan bahwa hanya Iran yang mampu menjaga keamanan kawasan Teluk.

Situasi semakin tegang ketika seorang hakim Mahkamah Agung Iran secara terbuka menyerukan percepatan eksekusi massal dalam siaran televisi Garda Revolusi—indikasi meningkatnya tekanan internal.

Dari sisi militer, citra satelit menunjukkan Iran berupaya menembus blokade dengan mengerahkan 52 kapal secara bersamaan, bahkan menggunakan taktik penyamaran sebagai kapal Irak.


Isu Persenjataan dan Peran Tiongkok

Beredar laporan bahwa Tiongkok telah memasok sekitar 400 rudal anti-kapal kepada Iran setelah gencatan senjata sebelumnya. Namun, hingga kini klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Jika benar, langkah ini dapat memperbesar risiko konflik regional menjadi konfrontasi kekuatan besar.


Perpecahan Internal di Iran Makin Terbuka

Ketegangan tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga di dalam pemerintahan Iran sendiri.

Presiden Iran dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dilaporkan ingin mengganti Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi karena dianggap terlalu dekat dengan Garda Revolusi.

Perkembangan ini menunjukkan adanya perpecahan tajam antara kelompok moderat dan garis keras dalam struktur kekuasaan Iran.


AS Siapkan Blokade Global: Dunia Mulai Mengepung Iran

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mulai menargetkan aset luar negeri milik Garda Revolusi, termasuk properti mewah di Eropa.

Di sisi lain, menurut laporan The Wall Street Journal, Departemen Luar Negeri AS telah mengirim kabel diplomatik ke berbagai negara untuk membentuk aliansi maritim global.

Aliansi ini bertujuan:

  • Mengoordinasikan sanksi internasional
  • Berbagi intelijen
  • Mengawasi lalu lintas kapal secara real-time

Langkah ini menandai perubahan besar dalam dinamika konflik: bukan lagi Iran yang mengancam Selat Hormuz, tetapi dunia yang mulai memblokade Iran secara kolektif.


Sikap Keras UEA dan Ketegangan Regional

Uni Emirat Arab menjadi negara Teluk yang paling keras terhadap Iran.

Setelah keluar dari OPEC sebelumnya, UEA kini mempertimbangkan langkah ekstrem seperti:

  • Membekukan keanggotaan di Liga Arab
  • Keluar dari Organisasi Kerja Sama Islam
  • Bahkan mempertimbangkan keluar dari PBB

UEA juga melarang warganya bepergian ke Iran, Lebanon, dan Irak, serta meminta mereka segera meninggalkan wilayah tersebut.


Ketegangan Meluas: Israel dan Lebanon Ikut Memanas

Di front lain, Israel meningkatkan operasi militernya terhadap Hezbollah di Lebanon selatan.

Sebelum melakukan serangan, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi untuk 15 kota, serta menahan sekitar 175 aktivis yang mencoba menembus blokade Gaza melalui jalur laut.


Situasi di Teheran: Pertahanan Udara Aktif

Media Iran melaporkan bahwa sistem pertahanan udara di Teheran telah diaktifkan dan berhasil mencegat sejumlah drone kecil.

Suara tembakan terdengar di berbagai wilayah ibu kota—menambah ketegangan di tengah ketidakpastian situasi.


Kesimpulan: Pekan Penentuan

Dengan seluruh perkembangan ini, pekan pertama Mei 2026 menjadi periode krusial yang dapat menentukan arah konflik.

  • AS telah menyiapkan opsi militer konkret
  • Iran menunjukkan tanda-tanda perlawanan sekaligus tekanan internal
  • Negara-negara regional mulai mengambil posisi tegas
  • Aliansi global mulai terbentuk

Dunia kini berada di titik kritis—di mana satu keputusan saja dapat memicu konflik besar yang berdampak pada stabilitas energi dan keamanan global. (***)

Teheran Diserang Tanpa Pelaku, AS Diam-Diam Siapkan Operasi Paling Mematikan!

EtIndonesia — Situasi di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya setelah ibu kota Iran, Teheran, diguncang serangkaian ledakan misterius pada dini hari, Rabu (30/4/2026). Hingga saat ini, sumber serangan tersebut belum dapat dipastikan, memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan keterlibatan pihak asing dan eskalasi konflik yang lebih besar.

Ledakan yang disertai suara sirene pertahanan udara itu menimbulkan kepanikan di berbagai wilayah kota. Pemerintah Iran belum memberikan penjelasan resmi terkait pelaku maupun target serangan, namun sejumlah analis menilai insiden ini bisa menjadi sinyal awal dari operasi militer yang lebih luas.


Briefing Militer ke Trump: Tiga Opsi Destruktif Disiapkan

Pada hari yang sama, laporan dari Axios mengungkap bahwa Panglima Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Cooper, dijadwalkan memberikan pengarahan langsung kepada Presiden Donald Trump di Gedung Putih.

Dalam briefing tersebut, militer AS dilaporkan telah menyiapkan tiga skenario operasi militer terhadap Iran, yang masing-masing memiliki tingkat kehancuran yang semakin besar.


Opsi Pertama: Serangan Presisi Lumpuhkan Ekonomi Iran

Skenario pertama berupa serangan cepat dan terfokus terhadap infrastruktur vital Iran, termasuk fasilitas energi, pelabuhan, dan jaringan logistik utama.

Tujuan utama dari strategi ini adalah:

  • Melumpuhkan tulang punggung ekonomi Iran
  • Menghentikan ekspor minyak secara total
  • Meningkatkan tekanan internal terhadap pemerintah

Menurut sumber yang dikutip, opsi ini telah beberapa kali disinggung oleh Trump dalam pernyataan publik sebelumnya, namun lebih sebagai langkah awal atau “pemanasan” sebelum eskalasi lebih lanjut.


Opsi Kedua: Pengerahan Pasukan Darat ke Selat Hormuz

Skenario kedua dinilai jauh lebih berisiko, yakni pengerahan pasukan darat untuk menguasai titik-titik strategis di Selat Hormuz.

Langkah ini memiliki implikasi besar:

  • Menjadi pengerahan darat besar pertama AS di kawasan Iran sejak era 1980-an
  • Mengubah konflik dari tekanan militer menjadi perang terbuka
  • Berpotensi memicu keterlibatan negara-negara lain di kawasan

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar sepertiga distribusi minyak dunia. Penguasaan wilayah ini akan memberikan kendali strategis terhadap energi global.


Opsi Ketiga: Operasi Rahasia Rebut Uranium Iran

Skenario ketiga disebut sebagai yang paling ekstrem dan berisiko tinggi, yakni operasi pasukan khusus.

Unit elit seperti:

  • Pasukan Marinir Resimen ke-6
  • Delta Force

akan diterjunkan melalui serangan udara untuk:

  • Menyusup ke fasilitas nuklir Iran
  • Mengamankan dan mengeluarkan uranium yang telah diperkaya tinggi

Jika berhasil, operasi ini dapat:

  • Menghancurkan program nuklir Iran dalam waktu singkat
  • Mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan

Namun jika gagal:

  • Risiko konflik besar-besaran akan meningkat drastis
  • Iran kemungkinan akan melakukan balasan militer langsung

Sinyal Keras: Rudal Hipersonik Mulai Dikerahkan

Salah satu perkembangan paling mengkhawatirkan adalah laporan bahwa CENTCOM telah meminta pengerahan rudal hipersonik canggih ke Timur Tengah.

Karakteristik senjata ini:

  • Kecepatan sangat tinggi (lebih dari Mach 5)
  • Sulit, bahkan hampir mustahil dicegat sistem pertahanan udara
  • Dirancang untuk menghancurkan target strategis dalam waktu singkat

Penggunaan rudal ini dinilai sebagai tanda bahwa AS tengah mempersiapkan opsi serangan pamungkas jika konflik terus meningkat.


Tekanan Ekonomi: Aset Garda Revolusi Diburu Global

Tidak hanya melalui jalur militer, tekanan terhadap Iran juga diperkuat secara ekonomi.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat tengah menjalankan operasi global untuk:

  • Melacak aset luar negeri milik Garda Revolusi Iran
  • Membekukan dan menyita dana tersembunyi
  • Menargetkan properti mewah di luar negeri

Aset yang dibidik meliputi:

  • Dana pensiun rahasia
  • Vila mewah di Prancis selatan
  • Investasi dan aset imigrasi di berbagai negara

Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk:

  • Mengguncang stabilitas internal elite militer Iran
  • Melemahkan loyalitas terhadap rezim
  • Memicu tekanan dari dalam

Simbol Dominasi: “Selat Trump” Picu Kontroversi

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Donald Trump memicu kontroversi setelah mengunggah peta di media sosialnya yang menampilkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi “Selat Trump”.

Meski disampaikan dengan nada bercanda, banyak pihak menilai tindakan ini sebagai:

  • Simbol klaim dominasi geopolitik
  • Pesan psikologis kepada Iran
  • Bentuk tekanan politik terbuka

Kesimpulan: Timur Tengah di Titik Kritis

Peristiwa pemboman misterius di Teheran pada 30 April 2026, ditambah dengan persiapan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah kini berada di ambang eskalasi besar.

Dengan tiga opsi militer yang semakin destruktif, pengerahan senjata mutakhir, serta tekanan ekonomi global yang terus diperketat, konflik antara AS dan Iran tidak lagi sekadar ketegangan biasa—melainkan berpotensi berubah menjadi krisis geopolitik terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Dunia kini menunggu: apakah ini akan berakhir sebagai strategi tekanan… atau justru menjadi awal dari perang besar yang sesungguhnya. (***)

Biaya Transit Terusan Panama Mencapai Rekor Tertinggi Hingga Banyak Negara Mengecam Tekanan Maritim Beijing

EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat, mendorong rantai pasokan energi beralih dari jalur laut tradisional ke rute alternatif. Hal ini menyebabkan lonjakan tajam volume lalu lintas di Terusan Panama. Pada saat yang sama, perdebatan mengenai keamanan dan aturan pelayaran juga semakin memanas. Para ahli menunjukkan bahwa pelayaran global kini telah berubah dari sekadar pertukaran ekonomi menjadi fokus persaingan geopolitik.

Akibat terganggunya jalur di Selat Hormuz, kilang minyak di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan Tiongkok baru-baru ini meningkatkan pembelian minyak mentah dari Amerika Serikat. 

Data menunjukkan bahwa pada  April, volume minyak mentah AS yang dikirim ke Asia melalui Terusan Panama telah melampaui 200.000 barel per hari, mendekati titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan penyesuaian cepat sumber pasokan.

Seiring pergeseran rute pelayaran, tekanan terhadap Terusan Panama meningkat signifikan. Waktu tunggu kapal rata-rata bertambah menjadi 3,5 hari, sementara harga lelang hak melintas juga melonjak. 

Bahkan, biaya transit sementara sempat mencapai hingga 4 juta dolar AS. Dengan tingginya harga minyak dan margin keuntungan kilang, perusahaan pelayaran tetap bersedia menanggung biaya tinggi tersebut, menunjukkan bahwa ketegangan di pasar energi masih berlanjut.

Namun demikian, tindakan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang baru-baru ini memperketat pemeriksaan dan penahanan kapal kargo berbendera Panama telah memicu ketidakpuasan banyak negara, yang mengecam adanya “tekanan ekonomi yang bersifat selektif”. Departemen Luar Negeri AS bersama Bolivia, Kosta Rika, dan lima negara Amerika Latin lainnya pada Selasa (28 April) mengeluarkan pernyataan bersama yang secara terbuka mendukung kedaulatan Panama.

Para ahli menilai, pernyataan bersama dari berbagai negara mencerminkan meningkatnya politisasi sektor pelayaran.

“Pada dasarnya, Terusan Panama telah menjadi simpul kunci bagi kelancaran rantai pasokan global. Terutama setelah Terusan Suez dan Selat Hormuz terdampak konflik geopolitik, jalur pelayaran lama terganggu, sehingga Terusan Panama secara alami menjadi rute alternatif,” kata Wakil Rektor Universitas Kainan sekaligus pakar strategi keamanan nasional, Chen Wenjia. 

Permintaan transportasi dan nilai strategis meningkat secara bersamaan. Makna terusan ini telah meluas dari aspek ekonomi ke ranah politik. Amerika Serikat sejak lama memandang Terusan Panama sebagai aset strategis penting di belahan Barat, sementara PKT memperluas pengaruhnya melalui investasi pelabuhan dan jaringan logistik, menjadikannya bagian dari persaingan AS–Tiongkok.”

Ia menambahkan:  “Tindakan tersebut bukan sekadar pengelolaan pelabuhan atau pemeriksaan keamanan biasa, melainkan memiliki sifat selektif yang jelas. Publik akan menafsirkannya sebagai alat tekanan. Kecaman dari banyak negara menunjukkan bahwa masyarakat internasional sudah waspada. Stabilitas pelayaran global bergantung pada prinsip dasar kebebasan navigasi.”

Di sisi lain, Kepala Keuangan Otoritas Terusan Panama, Vial, menyatakan bahwa kapasitas angkut terusan tetap terbatas, yakni hanya sekitar 1 hingga 2 juta barel per hari, sehingga sulit menggantikan Selat Hormuz yang menangani sekitar 20 juta barel per hari.

Laporan oleh wartawan NTDTV, Yi Xin dan Qiu Yue.

Kapal Induk AS USS Gerald R. Ford Akan Mundur dari Timur Tengah! Apakah Situasi Iran Mengalami Pembalikan Besar?

EtIndonesia. Pada Rabu (29 April), menurut laporan The Wall Street Journal, seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana menggunakan blokade jangka panjang terhadap pelabuhan Iran sebagai cara utama untuk memaksa Teheran menghentikan program nuklirnya.

Selain itu, pejabat AS lainnya menyatakan bahwa kapal induk USS Gerald R. Ford akan segera menyelesaikan misinya dan kembali ke Amerika Serikat. Namun, kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS George H. W. Bush akan terus melanjutkan tugas blokade. 

Pada saat yang sama, Pentagon untuk pertama kalinya mengungkapkan bahwa perang melawan Iran sejauh ini telah menghabiskan biaya sebesar 25 miliar dolar AS.

Dalam sebuah unggahan, Trump menampilkan gambar hasil AI: mengenakan kacamata hitam, memegang senapan serbu, dengan latar belakang api. Ia menulis:  “Tidak akan lagi bersikap lunak! Iran benar-benar kacau. Mereka sama sekali tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera sadar!”

Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump telah memerintahkan stafnya untuk mempersiapkan blokade jangka panjang terhadap Iran, dengan tujuan menghancurkan sumber keuangan rezim Iran dan memaksa Teheran menghentikan program nuklirnya.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Trump memilih untuk terus menekan ekonomi dan ekspor minyak Iran dengan cara menghalangi kapal-kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Ia menilai bahwa dibandingkan opsi “melanjutkan pemboman” atau “mundur dari konflik”, mempertahankan blokade memiliki risiko yang relatif lebih kecil.

Namun, pihak luar khawatir bahwa langkah ini dapat membuat kebuntuan dalam perundingan AS–Iran semakin sulit dipecahkan dalam waktu dekat. Kekurangan pasokan energi yang berkelanjutan juga dapat mendorong harga minyak naik lebih tinggi.

Pada Rabu (29/4), harga rata-rata bensin di Amerika Serikat melonjak hingga 4,2 dolar AS per galon, mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Perlu dicatat, sejumlah pejabat AS mengatakan kepada The Washington Post bahwa kapal induk USS Gerald R. Ford yang membawa sekitar 4.500 personel akan meninggalkan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan dan kembali ke pangkalan.

Sebagai kapal induk terbaru Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford telah menjalankan misi selama 10 bulan kali ini, mencetak rekor sebagai penempatan laut terlama dalam sejarah militer AS. Hal ini juga menyebabkan tingkat keausan tertentu, sehingga kapal tersebut membutuhkan perawatan dan perbaikan segera.

Para analis menunjukkan bahwa meskipun penarikan USS Gerald R. Ford akan mengurangi daya gentar militer AS di Timur Tengah, keberadaan USS Abraham Lincoln dan USS George H. W. Bush yang masih beroperasi di Laut Arab berarti bahwa pemutusan ekonomi kemungkinan akan menjadi alat utama pemerintahan Trump untuk menekan Teheran.

Selain itu, pejabat Pentagon pada hari Rabu juga mengungkapkan untuk pertama kalinya bahwa perang AS melawan Iran sejauh ini telah menelan biaya sebesar 25 miliar dolar AS.

Laporan disusun oleh jurnalis NTDTV, Yi Jing.