EtIndonesia. Seorang pria berusia 45 tahun dengan riwayat kekerasan dan gangguan kesehatan mental muncul di pengadilan dengan dakwaan percobaan pembunuhan, di tengah seruan untuk melarang aksi demonstrasi pro-Palestina.
Pejabat di Inggris menaikkan tingkat ancaman teror nasional ke level tertinggi kedua setelah serangan pada Rabu, di mana dua pria Yahudi ditikam di London utara dan seorang pria lainnya diserang dalam insiden terpisah.
Pria berusia 45 tahun itu hadir di pengadilan pada Jumat dengan dakwaan percobaan pembunuhan terkait serangan di Golders Green, kawasan dengan populasi Yahudi yang besar, dalam insiden yang oleh polisi disebut sebagai dugaan aksi terorisme.
Pria tersebut adalah Essa Suleiman, kelahiran Somalia yang memiliki kewarganegaraan Inggris. Ia juga didakwa atas percobaan pembunuhan dalam insiden terpisah sebelumnya pada hari yang sama di London selatan, di mana ia diduga menyerang Ishmail Hussein, yang disebut di pengadilan sebagai mantan temannya, hingga mengalami luka ringan.
Riwayat Gangguan Mental Serius
Polisi menyatakan tersangka memiliki riwayat kekerasan serius dan masalah kesehatan mental.
Media Inggris melaporkan bahwa Suleiman baru saja keluar dari rumah sakit jiwa yang dikelola oleh South London and Maudsley NHS Foundation Trust dalam beberapa hari terakhir, dan saat kejadian ia tinggal di hunian khusus bagi pasien kesehatan mental.
Penikaman di Golders Green terjadi setelah sejumlah insiden pembakaran baru-baru ini yang menargetkan properti milik komunitas Yahudi di kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Yahudi Ortodoks di London utara.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan akan mengambil langkah lebih tegas untuk memastikan komunitas Yahudi merasa aman, menyusul kekhawatiran bahwa perang di Gaza dan sentimen anti-Zionisme memicu meningkatnya antisemitisme.
Kekhawatiran atas Aksi Pro-Palestina
Aksi demonstrasi pro-Palestina kini terancam pembatasan, seiring desakan sejumlah pihak agar perlindungan terhadap komunitas Yahudi Inggris yang berjumlah sekitar 290.000 orang ditingkatkan.
Ribuan orang, termasuk pensiunan, telah ditangkap dalam aksi-aksi tersebut karena diduga menunjukkan dukungan terhadap kelompok Palestine Action, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris sejak Juli 2025.
Board of Deputies of British Jews dan Jewish Leadership Council dalam pernyataan bersama menyatakan “terkejut dan muak” atas penikaman di Golders Green yang menurut mereka menargetkan “dua pria yang terlihat jelas sebagai Yahudi.”
Peninjau independen undang-undang terorisme Inggris, Jonathan Hall KC, menyerukan pelarangan demonstrasi pro-Palestina.
Pengacara tersebut mengatakan kepada The Jewish News bahwa “hak untuk hidup lebih penting daripada hak untuk berdemonstrasi,” sehingga perlu dipertimbangkan jeda atau moratorium terhadap aksi yang dinilai dapat memicu kebencian publik.
“Kita sedang berbicara tentang melindungi nyawa warga Inggris dan komunitas,” ujarnya. “Untuk menghadapi situasi darurat saat ini, saya akan mengambil pendekatan pencegahan: melarang demonstrasi guna menurunkan risiko serangan lebih lanjut.”
‘Serangan terhadap Kebebasan Sipil’
Kelompok Jewish Voice for Liberation (JVL), organisasi anti-Zionis yang mengkampanyekan perdamaian di Timur Tengah, menyatakan mereka “mengutuk keras” serangan yang “tidak dapat dibenarkan” tersebut, dan menegaskan bahwa “orang Yahudi di Inggris tidak dapat disalahkan atas tindakan Israel.”
Dalam pernyataannya kepada The Epoch Times, JVL menyatakan kekhawatiran bahwa serangan terhadap Yahudi “dimanfaatkan” untuk menekan aksi pro-Palestina, yang sejak pecahnya perang terbaru di Gaza telah menarik massa besar di seluruh Inggris.
“Kami memiliki kekhawatiran serius tentang bagaimana serangan ini digunakan. Mengapa serangan oleh tersangka dengan riwayat gangguan mental langsung dikategorikan sebagai terorisme? Kami juga mempertanyakan dan menolak upaya cepat mengaitkan serangan ini dengan aksi pro-Palestina yang memprotes genosida di Gaza dan pembersihan etnis di Tepi Barat,” kata mereka.
JVL menambahkan bahwa wacana penghentian aksi damai merupakan “serangan terhadap kebebasan sipil.”
“Momen ini seharusnya menjadi waktu untuk berpikir serius mengenai penyebab meningkatnya serangan antisemit dan bagaimana mengatasinya. Pemerintah, polisi, dan pemimpin komunitas Yahudi perlu melihat lebih dalam situasi internasional maupun domestik,” tambah mereka.
“Mencampuradukkan kritik terhadap Israel dan anti-Zionisme dengan antisemitisme telah menjadi masalah serius.”
Tambahan Dana Puluhan Juta Pound
Sebagai respons atas serangan tersebut, pemerintah mengumumkan tambahan dana sebesar 25 juta pound sterling (sekitar 34 juta dolar AS) untuk meningkatkan patroli polisi serta pengamanan di sinagoga dan sekolah Yahudi.
Tingkat ancaman teror di Inggris terakhir kali berada pada level “parah” pada November 2021, setelah pemboman Rumah Sakit Perempuan Liverpool dan pembunuhan anggota parlemen Konservatif Sir David Amess, sebelum diturunkan menjadi “substansial” pada Februari 2022.
Aksi pro-Palestina yang diselenggarakan oleh koalisi Stop the War dijadwalkan berlangsung di London pada 16 Mei.
Koalisi tersebut menyatakan bahwa upaya mengaitkan serangkaian “serangan antisemit mengerikan” di London utara dengan aksi demonstrasi adalah tidak benar.
“Kami menilai pernyataan Jonathan Hall KC yang mengusulkan moratorium terhadap aksi Palestina tidak dapat diterima,” kata mereka.
“Kami mengutuk tanpa syarat semua serangan tersebut, sebagaimana kami menolak segala bentuk antisemitisme dan rasisme. Tidak seorang pun boleh diserang karena ras atau agamanya.”
Saat mengunjungi lokasi kejadian pada Kamis, Perdana Menteri Keir Starmer—yang istrinya, Victoria, adalah seorang Yahudi—sempat disambut cemoohan oleh sekelompok kecil massa, dengan teriakan seperti “Keir Starmer, Jew Harmer.”
Dalam pidato yang disiarkan televisi terkait antisemitisme, Starmer menegaskan pemerintahnya akan melakukan “segala cara untuk memberantas kebencian ini.”
Ia menyebut langkah tersebut termasuk memperkuat kewenangan untuk menutup organisasi amal yang dianggap menyebarkan ekstremisme serta menindak “penceramah kebencian.”
“Kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi ancaman berbahaya dari negara seperti Iran, karena kita tahu mereka ingin menyakiti warga Yahudi di Inggris,” ujarnya.
Pemerintah juga ingin mempercepat legislasi yang memungkinkan penuntutan terhadap individu yang bertindak sebagai perpanjangan tangan kelompok yang didukung negara asing, sehingga dapat diperlakukan seperti mata-mata.
Ancaman dari Berbagai Arah
Kepala kepolisian kontraterorisme Inggris, Laurence Taylor, mengatakan bahwa negara tersebut telah menghadapi peningkatan ancaman terorisme dalam beberapa waktu terakhir, dengan risiko yang datang dari berbagai arah.
“Kami melihat peningkatan ancaman terhadap individu dan institusi Yahudi serta Israel di Inggris,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa polisi juga menghadapi situasi global yang tidak menentu, termasuk ancaman fisik dari aktor yang terkait dengan negara.
Pemerintah menegaskan bahwa kenaikan status ancaman teror ke level “parah” bukan semata-mata akibat serangan di Golders Green, tetapi juga karena meningkatnya ancaman dari individu dan kelompok kecil yang terinspirasi oleh ekstremisme maupun sayap kanan di dalam negeri.
Suleiman dihadirkan di Pengadilan Westminster, London, pada Jumat dengan dakwaan percobaan pembunuhan terhadap Shloime Rand (34) dan Moshe Shine (76), yang juga dikenal sebagai Norman Shine, serta kepemilikan senjata tajam.
Polisi Metropolitan menyatakan Rand telah keluar dari rumah sakit, sementara Shine masih dalam kondisi stabil.
Polisi juga mengungkap bahwa Suleiman pernah dirujuk ke program Prevent milik pemerintah pada 2020, yang bertujuan mencegah individu terjerumus ke dalam ekstremisme. Namun, alasan rujukan tersebut tidak diungkap dan kasusnya ditutup pada tahun yang sama.
Suleiman kini ditahan dan dijadwalkan kembali menjalani sidang di pengadilan Old Bailey, London, pada 15 Mei—sehari sebelum aksi pro-Palestina besar berikutnya direncanakan berlangsung.
Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.