Rumania Kerahkan Pesawat Tempur Setelah Wilayah Udaranya Dimasuki Drone Rusia 

EtIndonesia. Rusia terus melancarkan serangan udara ke Ukraina, dan negara-negara tetangga anggota NATO pun ikut terdampak. Kementerian Pertahanan Rumania menyatakan, pada Sabtu (13 September), saat Rusia menyerang infrastruktur di perbatasan Ukraina, sebuah drone memasuki wilayah udara Rumania, sehingga memaksa militer mengerahkan jet tempur darurat.

Pada hari itu, ketika memantau serangan udara Rusia ke Ukraina, Rumania mendeteksi sebuah drone melanggar wilayah udaranya.

Militer Rumania segera menerbangkan dua jet tempur F-16 dan mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di dekat perbatasan.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menulis di platform X bahwa berdasarkan informasi yang ada, drone Rusia itu terbang di wilayah udara NATO selama sekitar 50 menit.

Ia menegaskan: “Militer Rusia sangat memahami rute penerbangan dan durasi drone tersebut. Semua ini diperhitungkan secara cermat. Ini tidak mungkin kebetulan, kesalahan, atau keputusan pribadi seorang komandan lapangan.”

Zelensky menekankan bahwa ini adalah tindakan Rusia yang jelas-jelas memperluas perang.

Pada hari yang sama, kota Lublin di Polandia timur menutup bandara dan mengerahkan jet tempur untuk menghadapi ancaman drone. Tiga hari sebelumnya, Polandia dengan dukungan NATO menembak jatuh beberapa drone Rusia yang masuk ke wilayah udaranya — untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang Rusia–Ukraina, sebuah negara anggota NATO menembak jatuh drone musuh di dalam wilayahnya.

Pada Jumat (12 September), NATO mengumumkan peluncuran operasi “Eastern Sentinel” (Penjaga Timur) untuk memperkuat pertahanan di sayap timurnya.

Sumber : NTDTV.com

48 Sandera di Gaza: Qatar Didesak, Israel Bersiap Serangan Darat, Trump Beri Ultimatum

EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah isu penyanderaan oleh Hamas menjadi sorotan internasional.

Diplomasi AS: Rubio Kunjungi Israel

Pada 15 September, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio melakukan kunjungan resmi ke Israel dan bertemu langsung dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam pertemuan tersebut, Rubio menegaskan bahwa Qatar memegang peran kunci dalam upaya pembebasan 48 sandera yang saat ini masih ditahan Hamas.

Washington mendorong Doha untuk menjadi mediator karena Qatar memiliki jalur komunikasi terbuka dengan Hamas. Menurut sumber diplomatik, AS menilai tekanan terhadap Qatar dapat mempercepat negosiasi pembebasan sandera tanpa memperburuk eskalasi militer.

Hamas Diduga Pindahkan Sandera

Namun di tengah upaya diplomasi, muncul laporan intelijen bahwa Hamas memindahkan para sandera ke lokasi berbeda. Dugaan terkuat menyebutkan bahwa langkah itu dilakukan agar para sandera dijadikan “tameng manusia” menghadapi potensi serangan darat Israel di Jalur Gaza.

Jika benar, tindakan ini dinilai akan memperumit operasi penyelamatan dan menempatkan para sandera dalam bahaya besar.

Trump: “Konsekuensi Fatal Menanti Hamas”

Presiden AS, Donald Trump, yang kini kembali menjadi figur berpengaruh dalam politik Amerika, angkat bicara melalui akun media sosialnya. Dia memperingatkan bahwa jika Hamas benar-benar menggunakan sandera sebagai tameng, maka “Hamas akan menghadapi konsekuensi fatal.”

Pernyataan ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa isu sandera bisa menjadi titik krusial yang mendorong tindakan militer lebih keras dari Israel dengan dukungan penuh Amerika Serikat.

Israel Siapkan Operasi Darat

Sementara itu, militer Israel (IDF) terus meningkatkan persiapan operasi darat ke Gaza. Netanyahu menyebut bahwa keselamatan sandera menjadi prioritas, namun juga menekankan “tidak ada kompromi” terhadap Hamas.

Pengamat menilai, Israel kini menghadapi dilema: menyerang dengan risiko korban di pihak sandera, atau menunda dengan risiko Hamas semakin memperkuat pertahanannya.

Implikasi Regional

Krisis ini diperkirakan akan berdampak luas pada kawasan Timur Tengah. Jika operasi darat Israel jadi dilancarkan, ada kemungkinan konflik meluas hingga melibatkan kelompok-kelompok pro-Hamas di Lebanon maupun Suriah. Sementara negara-negara Teluk, termasuk Qatar, berada dalam tekanan diplomatik berat untuk segera mencari solusi damai.

Situasi ini menunjukkan bahwa isu sandera bukan hanya masalah kemanusiaan, tetapi juga menjadi alat tawar-menawar strategis yang bisa menentukan arah konflik Timur Tengah dalam beberapa minggu ke depan.

Krisis Memuncak: Dari Drone Rusia di Polandia ke Ancaman Perang Terbuka NATO–Moskow

EtIndonesia. Keamanan di perbatasan udara Polandia kembali mengalami peningkatan setelah terjadinya tindakan dramatis oleh pihak berwenang terhadap sebuah drone yang melintas di atas wilayah Gedung Pemerintahan di Warsawa. Dua warga negara Belarus ditangkap terkait insiden tersebut, sementara NATO memperkuat kehadirannya di Front Timur sebagai respons atas eskalasi insiden drone dari Rusia.

Kronologi Insiden

  • Malam hari Senin, 15 September, otoritas Polandia mendeteksi keberadaan sebuah drone yang terbang di atas Bangunan Pemerintah termasuk Istana Belvedere (Belvedere Palace), kediaman Presiden.
  • Drone tersebut berhasil dinetralisir oleh layanan keamanan negara Polandia. Dalam proses penanganan, dua warga Belarus ditangkap karena diduga mengoperasikan drone tersebut.
  • Pihak berwenang menyebut bahwa drone tersebut tidak ditembak jatuh, melainkan mendarat setelah disergap oleh petugas.
  • Namun, sebelumnya, pada rentang 9–10 September, terjadi insiden besar: sekitar 19–23 drone Rusia masuk ke wilayah udara Polandia. Beberapa di antaranya ditembak jatuh oleh militer Polandia dan pesawat NATO.
  • Insiden ini dianggap sebagai pelanggaran serius atas kedaulatan udara Polandia dan dianggap sebagai bagian dari apa yang banyak pihak sebut sebagai provokasi terencana oleh Rusia.

Respon Pemerintah Polandia dan NATO

  • Sebagai tanggapan atas insiden-insiden ini, Polandia memberi izin kepada pasukan NATO untuk beroperasi di wilayahnya. Keputusan ini bagian dari operasi yang disebut Operation Eastern Sentinel (atau Eastern Sentry). Operasi ini diluncurkan 12 September 2025 sebagai usaha memperkuat pertahanan udara NATO di sisi timur sekutu-sekutunya.
  • Inggris, salah satu negara anggota NATO, langsung mengirim jet tempur Typhoon untuk patroli dan pengamanan wilayah udara Polandia.
  • Negara-negara aliansi lainnya juga mengerahkan perangkat militer, seperti sistem deteksi dan pertahanan terhadap drone, serta perlengkapannya.

Klaim dan Pernyataan Pihak-pihak Terkait

  • Rusia melalui juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut bahwa bantuan langsung maupun tidak langsung yang diberikan oleh NATO kepada Ukraina menunjukkan bahwa aliansi tersebut sudah secara nyata “berperang” melawan Rusia.
  • Polandia sendiri memastikan bahwa kasus drone yang diproses baru-baru ini — khususnya insiden di Warsawa — sedang diselidiki secara mendalam. Mereka pula menyerukan agar tidak segera menyimpulkan bahwa setiap drone terkait langsung dengan pemerintah asing tanpa bukti kuat.

Dampak dan Potensi Perkembangan

  • Keamanan Udara Diperketat: Polandia dan NATO meningkatkan patroli udara, pengerahan sistem pertahanan udara, serta kerjasama antar negara aliansi untuk mengawasi wilayah perbatasan.
  • Ketegangan Diplomatik: Rusia menolak beberapa tuduhan pelanggaran udara, sementara Polandia dan negara-negara NATO mendesak agar Moskow bertanggung jawab atas insiden-insiden tersebut.
  • Respon NATO Terhadap Ancaman Non-tradisional: Drone — terutama jenis yang bisa dikendalikan jauh atau semi-otonom — menjadi alat yang semakin sering digunakan dalam konflik modern. Operasi seperti Eastern Sentinel menunjukkan bahwa NATO beradaptasi terhadap ancaman jenis ini.
  • Risiko Eskalasi: Tindakan militer di udara, terutama di wilayah NATO, selalu memiliki potensi eskalasi. Keputusan untuk menembak jatuh atau netralisasi drone, serta bagaimana NATO merespons tindakan Rusia atau Belarus akan diperhatikan secara ketat oleh komunitas internasional.

Kesimpulan

Insiden drone di Polandia—termasuk kejadian baru di Warsawa—menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina kini berdampak langsung terhadap keamanan udara negara-negara tetangga, terutama anggota NATO. Meskipun beberapa klaim awal tidak sepenuhnya akurat (misalnya, penggunaan istilah “ditembak jatuh” untuk insiden Warsawa), fakta bahwa dua warga Belarus ditangkap dan bahwa NATO memperkuat kehadirannya tidak diragukan. Operasi seperti Eastern Sentinel menandai pergeseran dari respons bilateral menjadi kolaborasi pertahanan multinasional terhadap ancaman teknologi dan udara yang semakin kompleks.

Tragedi Penyerangan Brutal di Jalanan Handan, Hebei, Tiongkok – Pria Bersenjata Pisau Dapur Menebas Orang

EtIndonesia. Di daratan Tiongkok  kembali terjadi kasus penyerangan berdarah. Seorang pria di Kota Handan, Provinsi Hebei, menyerang orang dengan pisau dapur di jalan umum. Seorang wanita ditebas hingga tubuhnya berlumuran darah, kondisi hidup atau matinya belum diketahui. Hingga kini, media sosial Tiongkok sepenuhnya melakukan sensor.

Video yang beredar di internet menunjukkan peristiwa itu terjadi di dekat Biro Mineral Distrik Pertambangan Fengfeng, Handan. Rekaman memperlihatkan seorang pria di siang bolong mengejar orang dengan pisau dapur, lalu menebas mereka secara brutal. Seorang wanita terkena tebasan bertubi-tubi hingga akhirnya tergeletak di genangan darah.

Tayangan juga menunjukkan, setelah polisi menerima laporan dan tiba di lokasi, pelaku masih terus menebas orang lain lebih dari 20 kali tepat di depan aparat. Namun, beberapa polisi di tempat kejadian tidak berani maju untuk menyelamatkan korban, sehingga memicu pertanyaan dan kritik di internet.

Di media sosial Tiongkok seperti Weibo dan Douyin, banyak terdapat jejak pencarian terkait kasus ini, tetapi semua video sudah diblokir.

Dalam beberapa tahun terakhir, Handan telah berulang kali diguncang kasus penyerangan berdarah yang mengejutkan masyarakat. 

Pada 15 Agustus tahun lalu, Ketua Bank Handan, Zheng Zhiying, ditikam hingga tewas oleh seorang pelaku yang dikabarkan merupakan kepala cabang bank tersebut. Motifnya diduga karena pelaku mengetahui dirinya akan dipecat menjelang pensiun, sehingga nekat melakukan pembunuhan.

Pada Maret tahun lalu, tiga siswa SMP di Handan yang kerap membully seorang anak laki-laki berusia 13 tahun, bersekongkol membunuhnya dengan sekop, lalu mengubur jasadnya di rumah kaca sayuran yang sudah terbengkalai. Peristiwa itu memicu kemarahan luas masyarakat Tiongkok.

Sumber : NTDTV. com

Dua Saudara Kandung di Tiongkok Tewas Disengat Lebah, Kakak Laki-laki Disengat 300 Kali, Adik Perempuan Disengat 700 Kali, Peternak Lebah Menghadapi Tuntutan

EtIndonesia. Dua saudara kandung di Tiongkok barat daya secara tragis kehilangan nyawa mereka setelah disengat lebah ratusan kali, yang menyebabkan petani yang memelihara lebah tersebut ditahan atas tuduhan pembunuhan karena kelalaian.

Peristiwa mengejutkan ini terjadi pada 28 Juni di sebuah desa di Kabupaten Muding, Provinsi Yunnan, di mana seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dan adik perempuannya yang berusia dua tahun diserang oleh kawanan tawon, sebagaimana dilaporkan oleh portal berita The Paper.

Anak-anak tersebut biasanya diasuh oleh kakek-nenek mereka sementara orangtua mereka bekerja sebagai migran di Provinsi Zhejiang bagian timur.

Pada hari yang naas itu, nenek mereka membawa anak-anak tersebut untuk bekerja di ladang jagung. Kedua saudara kandung tersebut kemudian pergi bermain di hutan pinus terdekat.

Teriakan minta tolong mereka pertama kali didengar oleh seorang penduduk desa di dekatnya, yang kemudian pergi untuk menyelidiki dan juga tersengat. Penduduk desa tersebut segera melarikan diri untuk memberi tahu nenek mereka.

Sang nenek bergegas menyelamatkan anak-anak. Dia terlebih dahulu membawa anak laki-laki yang lebih dekat ke tempat aman sebelum kembali untuk menyelamatkan adik perempuannya.

Ketika ambulans tiba, anak perempuan itu ditemukan tidak sadarkan diri karena luka parah. Anak laki-laki itu dilarikan ke rumah sakit, di mana dia tetap dirawat di unit perawatan intensif, tetapi sayangnya meninggal keesokan harinya.

Sang nenek juga dirawat di rumah sakit selama seminggu karena sengatan lebah.

Orangtua anak-anak itu pulang keesokan harinya, hanya untuk mengetahui bahwa kedua anak mereka telah meninggal.

“Kedua anak saya tersengat di sekujur tubuh mereka – kepala, lengan, kaki, punggung, dan perut. Tidak ada bagian tubuh mereka yang selamat,” kata ayah mereka, yang dikenal sebagai Yang, kepada media.

Para ahli forensik kemudian melaporkan bahwa anak laki-laki itu telah disengat lebih dari 300 kali, sementara adik perempuannya menderita hingga 700 sengatan.

Polisi setempat mengidentifikasi lebah tersebut sebagai Vespa velutina nigrithorax, yang umumnya dikenal sebagai lebah kaki kuning, menurut temuan dari otoritas kehutanan.

Serangga tersebut dipelihara oleh seorang petani bermarga Li, yang awalnya ditahan selama seminggu atas tuduhan pembunuhan karena kelalaian, tetapi kemudian dibebaskan dengan jaminan sementara polisi melanjutkan penyelidikan mereka.

Li memberikan kompensasi sebesar 40.000 yuan (sekitar Rp 92 juta) kepada keluarga korban, dengan alasan dia tidak memiliki dana lebih lanjut.

Dia telah memelihara lebah tersebut selama dua tahun terakhir tanpa insiden sebelumnya, ujarnya.

Li menyebutkan bahwa dia telah menginvestasikan 50.000 yuan dalam budidaya lebah untuk menjual kepompong, yang dianggap sebagai makanan lezat setempat.

Setelah kematian tragis anak-anak tersebut, dia membasmi semua lebah tersebut.

Dinas kehutanan kabupaten mengungkapkan bahwa Li tidak melaporkan spesies lebah yang dia pelihara, sebagaimana diamanatkan oleh peraturan setempat.

Menanggapi insiden tersebut, pihak berwenang melakukan inspeksi terhadap semua operasi budidaya lebah di wilayah tersebut dan mengeluarkan larangan pemeliharaan lebah berkaki kuning. (yn)

Kebun Binatang di Tiongkok Larang Pengunjung Mempertontonkan Video Pendek pada Simpanse Karena Khawatir Gangguan Penglihatan

EtIndonesia. Sebuah kebun binatang di Tiongkok timur memicu tawa di dunia maya setelah melarang mempertontonkan video pendek pada simpanse, dengan alasan kekhawatiran akan penglihatannya.

Ding Ding, simpanse berusia dua tahun di Taman Margasatwa Shanghai yang jenis kelaminnya belum diungkapkan, telah memikat banyak hati dengan pesonanya yang seperti bayi manusia.

Video viral menunjukkan simpanse tersebut menyesap susu dengan kaki bersilang, bersembunyi malu-malu di pelukan penjaganya, dan bahkan menggesek bunga teratai untuk mengunyah kelopak demi kelopak.

Warganet menjuluki Ding Ding sebagai “pencuri bunga”, bercanda bahwa penjaga seharusnya tidak “menghukum anak itu”.

Baru-baru ini, unggahan daring mengklaim bahwa Ding Ding telah mengembangkan kegemaran terhadap video pendek.

Dalam salah satu video viral, seorang wanita menempelkan ponselnya ke kaca kandang Ding Ding saat musik diputar dan simpanse tersebut menatap layar dengan saksama, sesekali menggaruk wajahnya untuk berkonsentrasi.

Pengunjung lain mencatat bahwa Ding Ding tampak sangat tertarik pada video lucu dan drama pendek, yang menunjukkan bahwa suara dan visual tersebut mungkin sangat merangsang bagi hewan.

Namun, pada bulan September, kebun binatang memasang pengumuman di luar kandang Ding Ding yang melarang pengunjung menunjukkan ponsel mereka kepada primata tersebut.

Papan pengumuman tersebut menampilkan sketsa simpanse dan ponsel, dengan tulisan “Tidak” berwarna merah tebal di telapak tangannya.

Staf memperingatkan bahwa terlalu banyak waktu di depan layar dapat merusak penglihatannya dan memicu stres.

“Jika simpanse tidak dapat melihat dengan jelas dan tidak dapat berkomunikasi dengan manusia, dia dapat menjadi cemas, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan,” kata seorang petugas kebun binatang.

Penjaga kebun binatang tersebut mencatat bahwa tidak ada hukuman bagi pelanggar aturan dan menekankan bahwa Ding Ding tidak boleh memakai kacamata.

Larangan ponsel di kebun binatang tersebut dengan cepat menjadi viral di media sosial daratan, dengan klip terkait telah ditonton lebih dari 10 juta kali.

Seorang pengamat daring berkata: “Harap hormati cara hidup alami hewan.”

Orang lain merekomendasikan untuk memberi Ding Ding lebih banyak mainan.

Sementara yang ketiga berseloroh: “Anak saya sama kecanduannya dengan video ponsel seperti Ding Ding – mungkin kebun binatang juga harus membawanya.”

Kisah-kisah primata yang mencerminkan perilaku manusia seringkali menyentuh hati banyak orang.

Di Provinsi Anhui, Tiongkok timur, seekor monyet kapusin jambul jantan bernama Dazhuang memikat pengunjung dengan wajahnya yang persegi dan ekspresinya yang ceria.

Penjaga kebun binatang mengatakan dia termasuk di antara sedikit monyet yang mampu menggunakan alat, sering kali memecahkan kacang kenari dengan batu.

Sayangnya, monyet berusia 12 tahun itu mati mendadak pada bulan Mei, yang mendorong pengunjung yang berduka untuk membawa pisang dan kacang kenari ke kebun binatang.(yn)

Bagaimana Charlie Kirk Menggugah dan Menginspirasi Generasi Influencer Politik Muda

Kirk memusatkan gerakan konservatifnya pada upaya melibatkan anak muda dalam debat politik dan melahirkan suara-suara baru

EtIndonesia. Menjelang tur terakhirnya di sejumlah kampus, Charlie Kirk telah membangun sebuah organisasi dengan sekitar 250.000 anggota. Di saat yang sama, ia aktif dalam pengorganisasian politik konservatif, merancang strategi menggerakkan pemilih, menarik puluhan juta dolar dana dan mengembangkan mesin pengaruh media.

Kekuatan pendorong utama di balik gerakan Kirk, Turning Point USA, adalah fokusnya melibatkan anak muda dalam perdebatan politik dan memberi teladan bagi generasi baru influencer politik sepertinya.

Dalam misinya itu, Kirk kerap hadir di kampus, menyampaikan pidato atau sekadar duduk di meja dengan mikrofon, menantang lawan bicaranya dengan kalimat “buktikan saya salah,” meski kerap menghadapi hinaan dan ancaman. Ia terus melakukannya hingga akhir hayatnya.

“Charlie Kirk bisa saja mengelola operasi bernilai jutaan dolar dari kantor mewah dan menyerahkan bagian berisiko kepada aktivis lain. Tapi, alih-alih begitu, ia tetap berada di garis depan. Itu menurut saya salah satu hal paling mengagumkan darinya,” ujar Gunnar Thorderson, mantan penggerak Turning Point USA yang membantu membangun organisasi itu di Utah Valley University (UVU), Orem, Utah, tempat Kirk dibunuh pada 10 September.

Thorderson, yang dulu presiden cabang Turning Point USA di UVU hingga akhirnya menjadi direktur tingkat negara bagian di Utah, kini duduk di Komite Sentral Partai Republik Utah. Ia mengakui perjalanan politiknya sangat dipengaruhi oleh bimbingan pribadi Kirk.

“Saya benar-benar melihatnya sebagai mentor sekaligus sahabat, karena ia sering meluangkan waktu untuk membimbing saya secara pribadi,” kata Thorderson.

Ia hanyalah satu dari sekian banyak suara politik yang diperkuat Kirk sejak mendirikan Turning Point USA pada 2012.

“Saya berutang seluruh karier politik saya kepada Charlie Kirk,” ujar Anggota Kongres. Anna Paulina Luna (R-Florida) dalam sebuah unggahan di X sehari setelah Kirk wafat.

 “Saya tidak akan duduk di kursi legislatif hari ini kalau bukan karena dia. Bahkan ketika partai saya sendiri melawan saya, Charlie tetap mendukung dan berkampanye untuk kemenangan saya.”

David Leatherwood, direktur komunikasi Luna, juga tumbuh secara politik melalui Turning Point USA dan dukungan pribadi Kirk. Leatherwood (37), seorang konservatif gay, pertama kali bertemu Kirk pada 2017.

“Saya bertemu Charlie saat tur kampus di Fort Lauderdale. Kami bahkan membuat video bersama, di mana ia mengatakan bahwa ia mendukung komunitas gay, dan bahwa e pluribus unum mewakili semua orang Amerika,” ujar Leatherwood.

 “Sejak hari itu, ia selalu mendukung saya dan bahkan mengundang saya menjadi duta organisasinya.”

Melahirkan Suara Konservatif Muda

Hallie S. (26), dari Gainesville, Florida, mengaku Turning Point USA membantunya dan mahasiswa konservatif lain di Santa Fe College lebih berani menyuarakan pandangan mereka.

“Saya memang sejak kecil konservatif, tapi tidak pernah vokal, apalagi di Gainesville yang sangat liberal. Kita tidak pernah tahu bagaimana orang akan bereaksi,” katanya.

Berkat pengaruh Kirk dan Turning Point USA, Hallie bisa membangkitkan kembali kelompok College Republicans di Santa Fe College.

 “Charlie Kirk punya pengaruh besar, terutama di Santa Fe. Banyak mahasiswa akhirnya merasa, ‘wah, nilai-nilai konservatif saya kini benar-benar terwakili,’” ujarnya.

Kelly Shackelford, pengacara Amandemen Pertama sekaligus CEO First Liberty Institute, juga mengundang Kirk ke acara penggalangan dana di Houston, Texas.

 “Biasanya di acara seperti itu, semua hadirin berusia 60 tahun ke atas. Saya ingin menunjukkan pada mereka bahwa ada generasi muda yang siap melanjutkan perjuangan,” kata Shackelford.

Jejak di Dunia Online

Dengan kontennya yang banyak beredar di internet, pengaruh Kirk melampaui kampus dan menjangkau jutaan orang secara daring.

Seorang remaja bernama Tucker (tak ingin nama belakangnya dipublikasikan) mengaku Kirk salah satu dari sedikit influencer politik yang kontennya ia sukai.

 “Saya biasanya tidak suka menonton konten politik. Kalau muncul di TikTok, saya langsung lewat. Tapi kalau konten Charlie, saya selalu klik, karena menarik dan dia sosok yang bisa dijadikan panutan,” katanya.

Bahkan, Gubernur California Gavin Newsom (Demokrat) pernah mengaku di podcast bulan Maret bahwa putranya yang berusia 13 tahun ingin bolos sekolah demi bisa bertemu Kirk.

Leatherwood menambahkan, ia merasa terhibur karena begitu banyak momen hidup Kirk terekam kamera.
“Teknologi hari ini luar biasa. Ada ratusan, bahkan ribuan jam rekaman pidatonya. Semua itu akan abadi dan justru makin mengukuhkan warisannya,” ujarnya.

Perdebatan sebagai Misi

Debat adalah inti dari misi Kirk. Dengan tenda sederhana bertuliskan “buktikan saya salah,” ia membuka ruang dialog langsung dengan mahasiswa di berbagai kampus.

“Ia tidak pernah melihat mahasiswa lawan bicaranya sebagai musuh. Menurutnya, mereka hanya perlu diberi pemahaman dan diajak berdiskusi sehat. Dari situlah banyak yang akhirnya terpengaruh oleh ide-idenya,” kata Thorderson.

Hunter Kozak, mahasiswa UVU berusia 29 tahun, adalah orang terakhir yang berdebat dengan Kirk sebelum ia ditembak.

 “Saya tidak sepakat dengan sebagian besar pandangannya, tapi satu hal yang saya hargai: dia selalu membuka ruang percakapan,” ujarnya.

Kirk tewas hanya beberapa menit setelah memulai pidatonya pada tur terbaru di kampus.

Dean Withers, yang sempat berdebat dengannya, menangis saat tahu kabar penembakan itu melalui siaran langsung.

 “Apakah saya pikir ia pantas kehilangan nyawanya? Tidak. Apakah anak-anaknya pantas melihat ayah mereka mati? Tidak. Apakah istrinya pantas kehilangan suaminya? Tidak,” kata Withers dalam video lain.

Melampaui Politik

Meski dikenal sebagai influencer politik konservatif, Kirk kerap menekankan Iman Kristennya.

Thorderson mengenang saat mereka berolahraga di gym hotel sebelum acara.

 “Saat itu saya sedang bergumul dengan iman. Tapi Charlie begitu teguh dan mendalam dalam pengetahuan agamanya. Dia tidak menggurui, tapi mencoba terhubung secara pribadi,” kenangnya.

Ia juga menyebut Kirk mampu berbicara mendalam di luar isu politik, namun tetap mengaitkannya dengan nilai-nilai utama hidupnya.

 “Dia benar-benar adalah seorang yang jenius,” ujarnya.

Thorderson menambahkan, sejak lama Kirk sangat menghargai keluarga.

 “Bahkan sebelum punya anak, dia sudah ingin membangun keluarga. Itu adalah nilai inti baginya,” katanya.

Charlie Kirk meninggalkan seorang istri, Erika, dan dua anak mereka.

Sumber : Theepochtimes.com

Kesalahpahaman

EtIndonesia. Pada masa awal pemukiman di Alaska, Amerika Serikat, ada sepasang suami-istri muda. Namun, tak lama setelah pernikahan, istrinya meninggal dunia karena melahirkan, meninggalkan seorang bayi yang harus dirawat sang suami seorang diri.

Kesibukannya mencari nafkah sekaligus mengurus rumah membuat dia tidak mampu sepenuhnya menjaga sang anak. Maka, dia melatih seekor anjing peliharaannya. Anjing itu cerdas dan patuh. Dia bisa membantu merawat bayi, bahkan mampu menggigit botol susu dan memberikannya kepada sang bayi.

Suatu hari, sang tuan harus pergi keluar desa. Sebelum berangkat, dia berpesan pada anjing itu untuk menjaga anaknya. Namun, karena badai salju besar, dia tidak bisa pulang hari itu dan baru kembali ke rumah keesokan harinya.

Begitu tuannya tiba, anjing itu segera keluar menyambutnya dengan penuh semangat. Tapi saat pintu rumah dibuka, pemandangan yang terlihat membuat sang tuan syok: darah berceceran di mana-mana, ranjang penuh bercak merah, dan bayinya tidak tampak. Sementara anjing kesayangannya berdiri di sampingnya dengan mulut berlumuran darah.

Melihat itu, dia langsung mengira anjingnya telah menyerang dan memakan anaknya. Dipenuhi amarah dan duka, dia mengambil pisau dan menebas kepala anjing itu hingga mati.

Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi dari bawah ranjang. Sang bayi merangkak keluar—penuh bercak darah, tapi sama sekali tidak terluka.

Dia pun memeluk bayinya dengan lega, tetapi juga penuh kebingungan. Saat melihat sekeliling, dia baru menyadari kebenarannya: di dekat tubuh anjingnya, ada seekor serigala mati dengan mulut masih menggigit daging dari kaki anjing. 

Ternyata, anjing setianya telah bertarung melawan serigala demi melindungi bayinya. Dia berhasil menyelamatkan sang anak—namun justru mati di tangan tuannya sendiri karena sebuah kesalahpahaman.

Pesan yang bisa direnungkan:

Kesalahpahaman sering lahir ketika kita terburu-buru mengambil kesimpulan—tanpa berpikir jernih, tanpa kesabaran, dan tanpa mencoba memahami pihak lain. Akibatnya, kita mudah menganggap semua kesalahan ada pada orang lain.(jhn/yn)

Jika kesalahpahaman terhadap seekor anjing saja bisa berakhir dengan tragedi yang begitu menyedihkan, maka kesalahpahaman antar manusia tentu bisa membawa konsekuensi yang jauh lebih buruk.

Kelemahan yang Menjadi Kekuatan

EtIndonesia. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun kehilangan lengan kirinya akibat kecelakaan mobil. Meski begitu, dia sangat ingin belajar judo. Akhirnya, dia berguru pada seorang master judo asal Jepang.

Anak itu berlatih dengan tekun. Namun, setelah tiga bulan, gurunya hanya mengajarkan satu gerakan saja. Hal ini membuat si anak bingung. 

Dia pun memberanikan diri bertanya: “Guru, apakah saya tidak sebaiknya belajar gerakan lain juga?”

Sang guru tersenyum dan menjawab: “Benar, kamu memang hanya bisa satu jurus. Tapi percayalah, satu jurus ini sudah cukup untukmu.”

Walau belum sepenuhnya mengerti, anak itu sangat percaya pada gurunya. Dia pun terus berlatih gerakan yang sama dengan penuh kesungguhan.

Beberapa bulan kemudian, guru membawanya mengikuti pertandingan judo. Tak disangka, anak itu dengan mudah memenangkan dua babak pertama. Pada babak ketiga, pertarungan sedikit lebih sulit. Lawan menyerang bertubi-tubi hingga menjadi ceroboh. Saat itulah anak itu memanfaatkan jurus yang dikuasainya—dan kembali menang. Tanpa terasa, dia berhasil lolos ke babak final.

Di final, lawannya jauh lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman. Anak itu sempat kewalahan. Wasit bahkan menghentikan pertandingan sejenak karena khawatir dia akan terluka. 

Namun gurunya bersikeras: “Lanjutkan saja.”

Pertandingan dimulai kembali. Lawan merasa terlalu percaya diri dan menurunkan kewaspadaannya. Saat itu, si anak kembali menggunakan jurus satu-satunya—dan berhasil menjatuhkan lawannya. Dia pun keluar sebagai juara.

Dalam perjalanan pulang, mereka mengulas setiap momen pertandingan. 

Anak itu akhirnya bertanya dengan penasaran: “Guru, bagaimana mungkin saya bisa menjadi juara hanya dengan satu jurus?”

Sang guru menjawab tenang: “Ada dua alasan. Pertama, jurus yang kamu kuasai adalah salah satu jurus tersulit dalam judo. Kedua, satu-satunya cara untuk melawan jurus ini adalah dengan memegang lengan kirimu yang… sudah tidak ada lagi.”

Pesan yang bisa direnungkan: Kadang, apa yang tampak sebagai kelemahan justru bisa menjadi kekuatan terbesar kita. Dengan bimbingan yang tepat dan keberanian untuk terus berusaha, kekurangan bisa berubah menjadi keunggulan yang tak terkalahkan.(jhn/yn)

Rumania Mengecam Moskow, Mengerahkan Jet Tempur F-16 Setelah Pesawat Nirawak Rusia Melanggar Wilayah Udaranya

EtIndonesia. Rumania menuduh Rusia melanggar wilayah udaranya setelah sebuah pesawat nirawak yang digunakan dalam serangan terhadap Ukraina melintasi wilayah udaranya pada hari Sabtu (14 September), yang mendorong Bucharest untuk mengerahkan jet tempur F-16.

“Kementerian Pertahanan Nasional mengutuk keras tindakan tidak bertanggung jawab Federasi Rusia,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan, seraya mencatat bahwa insiden tersebut “merupakan tantangan baru bagi keamanan dan stabilitas regional di wilayah Laut Hitam”.

Pesawat nirawak Rusia di wilayah udara Rumania

Menurut Kementerian Pertahanan Rumania, sebuah pesawat nirawak Rusia memasuki wilayah udara nasional pada pukul 18 : 05 waktu setempat dan mengorbit selama sekitar 50 menit sebelum keluar di dekat Kota Pardina di Dobruja utara.

Menurut laporan, pilot F-16 mengalami kontak visual dan radar yang terputus-putus dengan drone tersebut dan bahkan diizinkan untuk menembak jatuhnya, tetapi mereka menahan diri setelah menilai risiko kerusakan tambahan.

Kementerian Pertahanan Nasional Rumania mengatakan bahwa insiden tersebut menunjukkan “kurangnya rasa hormat Rusia terhadap norma-norma hukum internasional” dan juga membahayakan keselamatan warga negara Rumania serta keamanan kolektif NATO.

Pelanggaran ini terjadi hanya beberapa hari setelah Polandia melaporkan penembakan drone Rusia di wilayahnya, yang meningkatkan kekhawatiran di sisi timur NATO.

Rumania memanggil duta besar Rusia

Menurut Menteri Pertahanan Ionut Mosteanu, Menteri Luar Negeri Rumania memanggil duta besar Rusia, Vladimir Lipaev, pada hari Minggu. Sementara itu, Lipaev menepis tuduhan tersebut sebagai “provokasi rezim Kyiv,” menurut media pemerintah Rusia, TASS.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengecam pelanggaran wilayah udara tersebut sebagai “pelanggaran lain yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan negara anggota Uni Eropa,” sementara Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan drone tersebut terbang hampir 10 kilometer ke wilayah Rumania.

“Eskalasi sembrono yang berkelanjutan ini mengancam keamanan regional,” tulis Kallas di X, seraya menambahkan, “Kami berdiri dalam solidaritas dengan Rumania.” (yn)

Keajaiban yang Ditemui di Saat Putus Asa

EtIndondesia. Ketika tanganku merogoh saku dalam bajuku, tubuhku seketika lemas dan jatuh ke tanah. Uang hasil kerja keras selama tiga tahun—semua keringat dan jerih payahku—hilang tanpa jejak.

Aku berjalan tanpa arah di alun-alun depan stasiun pada malam hari, menatap kerumunan orang yang sibuk pulang ke rumah untuk merayakan Tahun Baru. Hati dipenuhi keputusasaan. Saat itu, pikiranku gelap: kalau aku tidak bisa naik kereta pulang, lebih baik aku mengakhiri hidup di rel saja.

Ketika aku melangkah menuju jalan kematian itu, tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang pria di sebuah bilik telepon umum.

Dia mengenakan mantel tentara lusuh, warnanya sudah sulit dikenali, dengan banyak bagian yang sobek hingga kapasnya keluar. Di kakinya tergeletak sebuah gulungan bagasi kecil yang compang-camping. Dari penampilannya, nasibnya tampak lebih buruk dariku. Meski dompetku kosong, setidaknya pakaianku masih rapi.

Dia menunduk, wajahnya menghadap ke samping, berbicara penuh semangat di telepon, sesekali melambaikan tangan, mengekspresikan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

Satu jam berlalu, dia masih belum meletakkan gagang telepon. Aku iri sekaligus tersentuh, membayangkan suara di seberang sana: ibunya yang berambut putih menunggu kepulangannya, istrinya yang setia menanti di depan pintu, anaknya yang riang penuh tawa. Air mataku hampir jatuh. Aku ingin ikut merasakan kebahagiaannya, maka aku melangkah ke arahnya.

Suara langkahku membuat pria itu terkejut. Dia buru-buru menutup telepon, lalu menoleh padaku dengan wajah penuh ketakutan.

Di depan mataku tampak wajah pucat, kurus, dengan janggut kusut, bahkan ada beberapa luka berkerak darah. Matanya bersembunyi, menatapku dengan cemas. 

Namun ketika dia sadar aku tak bermaksud jahat, dia tersenyum kecut, bibir ungunya bergetar menahan dingin, lalu berkata ke gagang telepon: “Jangan khawatir, aku baik-baik saja!”

Setelah itu, dia menutup telepon, mengambil barang bawaannya, tersenyum kecil, dan pergi begitu saja.

Aku berdiri terpaku, baru sadar: telepon itu bahkan tidak memiliki kartu IC. Artinya, dia sudah berbicara sendirian lebih dari satu jam di tengah udara dingin!

Air mataku pun jatuh deras.

Sepuluh tahun berlalu. Kini aku memiliki karier yang sukses dan keluarga yang bahagia. Namun aku tahu, semua yang kumiliki saat ini—bahkan hidupku yang masih berlanjut—adalah anugerah yang kuperoleh dari pertemuan malam itu dengan seorang gelandangan. Dia menyelamatkanku tanpa pernah tahu.

Pesan yang bisa direnungkan:
Kadang, hidup memberi kita “keajaiban” lewat peristiwa sederhana. Seorang gelandangan yang berpura-pura menelpon memberi makna baru pada hidupku—bahwa bahkan dalam keterpurukan, masih ada alasan untuk bertahan.

Beijing Tak Bisa Hentikan Eksodus Investasi Asing

oleh Wang He

Beijing terus meluncurkan berbagai kebijakan untuk “menstabilkan investasi asing,” tetapi tak satu pun mampu menghentikan penurunan tajam investasi langsung asing (FDI).

Partai Komunis Tiongkok (PKT) belakangan ini memperkenalkan sejumlah kebijakan, termasuk “24 langkah” pada 2024 dan “20 langkah” pada Februari 2025. Pada Agustus, pemerintah bahkan menghidupkan kembali insentif pajak yang sudah dihapus tujuh tahun lalu.

Namun, terlepas dari berbagai upaya itu, FDI di Tiongkok terus merosot. Alasannya jauh lebih dalam daripada sekadar perubahan kebijakan teknis.

Menurut Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS), investasi asing aktual pada 2024 turun menjadi 116,2 miliar dolar AS—terendah sejak 2018, merosot 28,8 persen dari 163,25 miliar dolar pada 2023. 

Dalam tujuh bulan pertama 2025, jumlahnya hanya 65,52 miliar dolar (sekitar 467,34 miliar yuan), turun 13,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data Kementerian Perdagangan.

Penurunan FDI di Tiongkok jauh lebih tajam dibandingkan tren global. Data Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan arus masuk investasi asing ke Tiongkok menyusut tiga tahun berturut-turut antara 2021 hingga 2024, setelah mencapai rekor 344,1 miliar dolar pada 2021. Sementara itu, menurut Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan, FDI global pada tahun yang sama hanya turun 11 persen.

Penyebab Merosotnya FDI di Tiongkok

Fundamental Ekonomi

Data NBS menunjukkan profitabilitas perusahaan asing di Tiongkok terus menurun. Pada 2021, perusahaan besar dengan investasi asing—termasuk dari Hong Kong, Makau, dan Taiwan—mencatatkan laba rekor 320,3 miliar dolar (sekitar 2,28 triliun yuan). Namun, hingga November 2024, laba mereka merosot menjadi 247 miliar dolar, turun dari 252 miliar pada 2023 dan 281 miliar pada 2022. Tingkat keuntungan saat ini hampir setara dengan 2016, yakni 242 miliar dolar.

Kekhawatiran Kebijakan

 Investor asing resah dengan perubahan kebijakan Beijing yang kerap tiba-tiba. Ada tiga isu utama:

  • Kebijakan industri: lewat program seperti Made in China 2025, Beijing mendorong modernisasi industri domestik, substitusi impor, dan pada saat yang sama memangkas insentif pajak bagi perusahaan asing.
  • Risiko hukum dan politik: semakin banyak undang-undang keamanan nasional, termasuk UU anti-spionase dan UU anti-sanksi asing, yang memungkinkan penggerebekan dan penahanan sewenang-wenang terhadap warga asing.
  • Sentimen anti-asing: meningkatnya insiden kekerasan terhadap orang asing menambah kecemasan investor.

Tahun 2024, beberapa serangan terhadap warga asing memicu keprihatinan internasional. Pada Juni, empat dosen asal Iowa ditikam di sebuah taman umum di Provinsi Jilin. Sebelumnya, pada April dan Juni, terjadi dua serangan pisau terpisah di Suzhou yang melukai warga Jepang. Pada September, seorang bocah Jepang berusia 10 tahun tewas ditikam di dekat sekolah Jepang di Shenzhen.

Geopolitik

Ketegangan AS–Tiongkok mempercepat proses decoupling dan pergeseran rantai pasok. Ambisi global Beijing serta diplomasi “serigala pejuang” menyisakan ruang sempit selain “persaingan strategis.”

Survei Bain & Company menemukan 69 persen CEO perusahaan global papan atas pada 2024 aktif memindahkan produksi keluar dari Tiongkok—naik dari 55 persen pada 2022. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih juga mendorong strategi lebih agresif, mempercepat pemisahan AS–Tiongkok, perombakan rantai pasok global, dan tatanan ekonomi dunia.

Mengapa Beijing Tetap Membutuhkan Modal Asing

Selama puluhan tahun, pertumbuhan pesat Tiongkok tak bisa dipisahkan dari FDI. Hingga akhir 2024, investor asing telah mendirikan lebih dari 1,23 juta perusahaan di Tiongkok dengan total arus masuk lebih dari 2,88 triliun dolar, menurut Wakil Menteri Perdagangan sekaligus Wakil Perwakilan Perdagangan Internasional Tiongkok, Ling Ji.

Ia menyatakan, perusahaan-perusahaan itu menyumbang hampir 7 persen lapangan kerja (lebih dari 30 juta posisi), seperlima dari penerimaan pajak, sepertiga aktivitas ekspor-impor, serta setengah dari seluruh ekspor mesin dan teknologi tinggi.

FDI juga lebih dari sekadar aliran dana. Seorang analis ekonomi Tiongkok, Ma Yu, menyebut modal asing sebagai “pintu gerbang bagi hampir semua faktor produksi paling maju di dunia—modal, talenta, teknologi, produk, manajemen, standar, hingga rantai pasok global.”

Mengapa Kebijakan PKT Tak Efektif

Meski FDI terus menurun, PKT merespons dengan berbagai kebijakan baru. Masalahnya, tidak ada yang menyentuh akar persoalan. Investor asing kini meragukan bukan hanya kebijakan, tetapi juga kredibilitas PKT itu sendiri. Singkatnya, kepercayaan mereka semakin luntur.

Untuk benar-benar menstabilkan investasi asing, Beijing perlu melakukan langkah nyata di setidaknya tiga bidang:

  1. Membiarkan pasar, bukan negara, yang berperan menentukan alokasi sumber daya dan menjamin persaingan adil antara BUMN, swasta, dan perusahaan asing.
  2. Menegakkan independensi peradilan, melindungi hak kepemilikan dan hak asasi manusia, serta membuka ruang reformasi politik damai.
  3. Menyelaraskan diri dengan norma internasional—hidup berdampingan secara damai dengan Amerika Serikat dan Barat, serta kembali bergabung dengan komunitas ekonomi global.

Namun, justru inilah hal-hal yang paling ditolak PKT. Investasi asing tidak akan kembali secara berkelanjutan sampai terjadi perubahan mendasar di Tiongkok.

Tulisan ini merupakan opini penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Wang He meraih gelar master di bidang hukum dan sejarah, serta mempelajari gerakan komunis internasional. Ia pernah menjadi dosen universitas dan eksekutif di sebuah perusahaan swasta besar di Tiongkok. Sejak 2017, Wang menetap di Amerika Utara dan rutin menulis komentar tentang isu-isu terkini dan politik Tiongkok.

2 Warga Australia Didakwa Perdagangan Senjata Api Terkait Penculikan Pilot Selandia Baru di Papua 

EtIndonesia. Investigasi selama dua tahun berujung pada penangkapan dua pria Australia yang dituduh memasok senjata kepada militan Papua yang menculik pilot Selandia Baru, Phillip Mehrtens, pada 2023.

Kedua pria tersebut didakwa atas dugaan penyelundupan senjata api kepada Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), kelompok paramiliter bersenjata yang berbasis di Papua. Penyelidikan gabungan ini dimulai setelah kelompok tersebut menculik Mehrtens pada Februari 2023 di sebuah landasan udara terpencil di Papua.

Mehrtens saat itu menerbangkan pesawat komersial kecil milik Susi Air ke wilayah pegunungan Papua yang terisolasi dan termiliterisasi. Pesawat membawa lima penumpang, termasuk seorang bayi, dari Bandara Mozes Kilangin di Mimika, Papua Tengah, menuju Bandara Paro di Nduga, yang menjadi pusat konflik bersenjata kelompok separatis Papua.

Pemberontakan di Papua telah berlangsung sejak wilayah itu diintegrasikan ke Indonesia setelah referendum yang menurut aktivis kemerdekaan cacat, di bawah pengawasan PBB pada 1969.

Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, menyatakan kelompoknya telah membebaskan kelima penumpang, tetapi menahan Mehrtens dan mengancam akan membunuhnya jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. 

“Kami ingin menyampaikan bahwa kami menyandera pilot ini dan membawanya ke markas TPNPB, jauh dari area bandara,” katanya, seraya menuduh aksi itu sebagai balasan atas dukungan negara-negara Barat terhadap aparat keamanan Indonesia.

“Pilot ini adalah warga Selandia Baru,” tambahnya. “TPNPB menganggap Selandia Baru, Australia, Indonesia, Amerika, Eropa—semua bertanggung jawab.”

Misi Penyelamatan Gagal

Upaya penyelamatan yang dilancarkan Indonesia gagal, menewaskan sedikitnya enam orang, sementara sembilan prajurit lainnya ditawan kelompok bersenjata. Setelah 594 hari dalam penyanderaan, Mehrtens akhirnya dibebaskan pada September 2024 dengan alasan “melindungi kemanusiaan dan hak asasi manusia.”

Selama ia masih ditahan, Kepolisian Selandia Baru bersama Tim Gabungan Kontra Terorisme Queensland—yang melibatkan Kepolisian Federal Australia (AFP), Kepolisian Queensland, dan Badan Intelijen Keamanan Australia—melakukan penyelidikan bersama. Dari situ ditemukan bukti yang mengaitkan dua pria dengan upaya penyelundupan senjata dari Australia ke Indonesia.

Kedua tersangka adalah pria berusia 64 tahun asal New South Wales (NSW) dan pria berusia 44 tahun dari Queensland.

Keduanya didakwa melakukan konspirasi mengekspor Tier 2 Goods—kategori barang terlarang yang mencakup berbagai jenis senjata—dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Pria asal NSW juga didakwa dengan konspirasi menyelundupkan senjata api atau suku cadangnya keluar Australia (20 tahun), secara ilegal memasok senjata (10 tahun), serta kepemilikan zat terkontrol (15 tahun). Sementara pria asal Queensland menghadapi dakwaan tambahan kepemilikan bahan peledak.

Keduanya sudah dihadapkan ke Pengadilan Magistrat di negara bagian masing-masing dan dibebaskan dengan jaminan untuk kembali menjalani persidangan pada tanggal terpisah. Polisi menuduh keduanya berusaha menyelundupkan senjata dan amunisi ke TPNPB serta membicarakan upaya memperoleh senjata militer Australia untuk kelompok bersenjata tersebut.

Antara Maret–April 2024, pria asal NSW itu sempat bepergian ke Indonesia untuk bertemu anggota TPNPB di Papua dan diduga menyelundupkan secara ilegal rifle scope optik ke wilayah tersebut.

Merkuri di Antara Barang Sitaan

Hasil penggeledahan di rumah para tersangka di Urunga, NSW, dan Eagleby, Queensland, pada November 2024 menemukan sejumlah barang bukti, termasuk 13,6 kilogram logam merkuri—zat yang dikategorikan sebagai bahan terkontrol—di rumah Urunga.

Asisten Komisaris Kepolisian Federal Australia (AFP) Stephen Nutt menegaskan, pihaknya tidak mentolerir tindak kekerasan atau kejahatan senjata api di negara mana pun.

“Siapa pun yang terlibat dalam penyelundupan senjata ilegal dari Australia dengan tujuan memasukkannya ke tangan kelompok internasional harus waspada—AFP dan mitra kami berkomitmen mencegah penyelundupan senjata,” katanya.

“Penggunaan senjata ilegal yang mematikan ini bisa menimbulkan konsekuensi luas jika jatuh ke tangan yang salah. AFP bekerja erat dengan mitra internasional, termasuk Kepolisian Selandia Baru, untuk melindungi masyarakat dengan menggagalkan sindikat kriminal dan menghapus senjata api ilegal dari komunitas.”

Pejabat sementara Asisten Komisaris Kepolisian Queensland Heath Hutchings mengatakan operasi ini “mengirim pesan tegas: mereka yang mencari keuntungan dari perdagangan senjata ilegal akan diidentifikasi dan dituntut.”

Wakil Komisaris Sementara Kepolisian Selandia Baru, Mike Pannett, menambahkan: “Kepolisian Selandia Baru bekerja erat dengan tim kontra terorisme gabungan saat menyelidiki penculikan Phillip Mehrtens. Ini adalah penyelidikan kompleks yang melibatkan banyak yurisdiksi dan tantangan, dan fokus kami selalu pada keselamatan Mehrtens.”

“Meski kami lega Mehrtens akhirnya dibebaskan dan kembali ke keluarganya, kerja sama erat dengan kepolisian Australia adalah bagian penting untuk melindungi masyarakat kami di Selandia Baru,” ujarnya.