Legenda Rasi Bintang Leo

EtIndonesia. Keberanian menghadapi tantangan secara langsung dan gagah berani adalah lambang dari rasi bintang Leo. Konon, asal-usul Leo berhubungan erat dengan kisah pahlawan besar Yunani, Herakles (Hercules).

Herakles adalah putra Zeus dengan seorang wanita manusia. Sejak lahir dia sudah dianugerahi kekuatan luar biasa, hingga membuat Hera—sang permaisuri Zeus—diliputi api cemburu.

Ketika Herakles masih bayi, Hera mengirim dua ular raksasa ke dalam buaian untuk membunuhnya. Namun, bayi kecil itu justru tertawa sambil meremas ular-ular itu hingga mati. Sejak saat itu, Herakles dipandang sebagai pahlawan terbesar umat manusia.

Tentu saja Hera tidak menyerah. Dengan tipu daya, dia membuat Herakles kehilangan akal dan secara tak sadar membunuh istrinya sendiri. Saat sadar kembali, Herakles menyesal amat dalam. Dia pun berniat menebus dosa dengan melakukan pertapaan dan menerima segala cobaan.

Dia pergi ke Mycenae, meminta raja di sana memberinya tugas berat. Atas hasutan Hera, sang raja menjatuhkan 12 tugas mustahil (yang kemudian dikenal sebagai The Twelve Labors of Heracles). Salah satunya adalah membunuh singa pemakan manusia yang mengerikan.

Singa raksasa itu bersemayam di hutan. Saat Herakles masuk ke sana, hutan itu begitu sunyi—tidak ada burung, rusa, atau tupai—semua telah menjadi mangsa sang singa. Herakles pun menunggu dengan waspada.

Tiba-tiba, dari sebuah gua dengan dua pintu keluar, muncullah sang singa raksasa. Ukurannya lima kali lebih besar dari singa biasa, tubuhnya berlumur darah segar, membuat tampilannya semakin menakutkan.

Herakles segera melepaskan panah dan menghantam dengan gada, tetapi tidak mempan. Kulit singa itu ternyata kebal senjata. Akhirnya, dia nekat bertarung langsung dengan tangan kosong. Pertarungan itu berlangsung sengit dan brutal, sampai akhirnya Herakles berhasil mencekik dan membunuh sang singa dengan kekuatan tangannya.

Walau kalah, keberanian dan kegigihan singa raksasa itu membuat Hera mengangkatnya ke langit sebagai rasi bintang. Sejak saat itu, dia dikenal sebagai Leo, simbol keberanian, kebesaran, dan jiwa kepemimpinan.

Leo melambangkan keberanian menghadapi tantangan apa pun, meski tampak mustahil.(yn)

19 Drone Rusia Terobos Polandia, NATO Siaga Perang Dunia III?

EtIndonesia. Situasi keamanan Eropa kembali memanas setelah sebanyak 19 drone Rusia memasuki wilayah udara Polandia. Insiden ini memicu alarm tinggi NATO, mengingat Polandia adalah garis depan aliansi di perbatasan dengan Ukraina.

Aksi Cepat NATO: Jet Tempur Dikerahkan

Militer Polandia segera mengerahkan jet F-16, dibantu F-35A Belanda, pesawat peringatan dini Italia, serta pesawat pengisian bahan bakar NATO untuk mencegat. Beberapa drone berhasil ditembak jatuh sebelum mencapai target. 

Namun, ancaman tidak berhenti di situ. Dua drone lain dilaporkan menembus wilayah udara Lituania, memperluas ketegangan ke kawasan Baltik.

Sebagai respons, Belgia mengirimkan jet F-16 ke Baltik, Swedia memperkuat armada Gripen dan sistem pertahanan udara di Polandia, sementara Belanda menegaskan pengerahan sistem Patriot, NASAMS, anti-drone, serta 300 prajurit ke wilayah timur Polandia.

Polandia Aktifkan Pasal 4 NATO

Warsawa segera menyerukan aktivasi Pasal 4 NATO, yang memungkinkan seluruh anggota melakukan konsultasi darurat ketika ada ancaman terhadap keamanan salah satu negara anggota.  Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menegaskan bahwa rute drone Rusia “jelas sengaja diarahkan” ke wilayah NATO, sehingga tidak bisa dianggap sebagai insiden kebetulan.

Sekjen NATO, Mark Rutte, menekankan sikap tegas aliansi: “Kami berdiri bersama Polandia. Setiap inci wilayah NATO akan dipertahankan. Sistem pertahanan udara kami siap digunakan.”

Momen Paling Dekat ke Arah Konflik Terbuka

Pengamat menilai krisis ini sebagai momen paling dekat menuju konflik terbuka antara NATO dan Rusia sejak Perang Dunia II.

Menteri Luar Negeri Lituania, Kęstutis Budrys, memperingatkan: “Tak ada satu pun anggota NATO yang bisa lepas tangan. Rusia harus tahu konsekuensinya.”

Rusia sendiri menyangkal menargetkan Polandia, tetapi tidak membantah adanya pelanggaran wilayah udara.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mendesak pembentukan sistem pertahanan udara gabungan NATO–Uni Eropa untuk menghadapi ancaman serupa di masa depan.

Bahkan, Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán—yang biasanya condong ke Moskow—kali ini ikut mengecam Rusia. Namun, Polandia menuntut lebih jauh: agar Hungaria mencabut veto terhadap dana bantuan dan keanggotaan Uni Eropa untuk Ukraina.

Reaksi Dunia Barat: Sanksi Baru Menghantui Rusia

Reaksi keras juga datang dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. 

Presiden AS, Donald Trump menulis di platform Truth Social: “Rusia melanggar wilayah Polandia dengan drone. Apa maksudnya? Permainan ini sudah dimulai.”

Trump menegaskan bahwa solidaritas AS bersama Polandia tidak bisa ditawar.

Mantan Menlu AS, Mike Pompeo menilai bahwa Putin semakin berani “menguji” Barat, sementara mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton memperingatkan bahwa Rusia kini memperluas perang dengan dukungan Xi Jinping dan Kim Jong-un.

Di Washington, Senat AS segera membahas paket sanksi tambahan terhadap Rusia. Sementara itu, Uni Eropa tengah mengkaji putaran ke-19 sanksi, yang rencananya akan menargetkan kilang minyak independen Tiongkok yang dituding membeli minyak dari “armada bayangan” Rusia.

Pada putaran sebelumnya, UE sudah menjatuhkan sanksi pada dua bank lokal Tiongkok serta beberapa kilang di India.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan: “Tekanan harus ditingkatkan hingga Rusia kembali ke meja perundingan.”

Kesimpulan

Insiden pelanggaran drone Rusia ke Polandia menempatkan NATO pada posisi siaga tertinggi dalam dua dekade terakhir. Dengan meningkatnya pengerahan militer di Eropa Timur dan rencana sanksi ekonomi baru, krisis ini berpotensi menjadi eskalasi terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina 2022. Dunia kini menunggu langkah selanjutnya: apakah ini hanya “uji coba” Rusia, atau awal dari konflik langsung antara Moskow dan NATO.

Kisah Seorang Ibu

EtIndonesia. Seorang ibu duduk di samping anaknya dengan hati penuh kecemasan. Dia takut anaknya akan meninggal. Wajah mungil anak itu sudah pucat pasi, matanya terpejam, napasnya berat—kadang hanya sesekali menarik napas panjang seperti sedang menghela nafas terakhir. Ibu itu menatap makhluk kecil yang amat dia cintai dengan wajah penuh penderitaan.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Masuklah seorang lelaki tua miskin, mengenakan jubah lebar yang mirip selimut kuda, tebal agar bisa sedikit mengusir dingin. Di luar, musim dingin begitu kejam: salju dan es menutupi segala sesuatu, angin menggigit wajah siapa pun yang terkena hembusannya.

Saat lelaki tua itu duduk gemetar, dan anak kecil itu sempat tertidur sejenak, sang ibu menuangkan sedikit bir hangat dari kendi di atas tungku untuk diberikan kepadanya. Lelaki tua itu pun duduk sambil menggoyangkan buaian, sementara ibu itu duduk di kursi di sampingnya, menggenggam erat tangan kecil anaknya yang sulit bernapas.

“Apakah kamu pikir Tuhan akan merenggut dia dariku?” tanya sang ibu dengan cemas. “Tidak, Tuhan tidak akan mengambil anakku dari tanganku!”

Lelaki tua itu— adalah Malaikat Maut—mengangguk dengan cara yang aneh, seakan menjawab “ya” sekaligus “tidak”.

Ibu itu menundukkan kepala, air mata jatuh mengalir di pipinya. Dia sudah tiga hari tiga malam tidak tidur, kepalanya terasa begitu berat. Akhirnya, dia terlelap sejenak. Tapi hanya sebentar, lalu dia terbangun dengan tubuh menggigil.

“Bagaimana ini?” serunya panik. Dia menoleh ke sekeliling—lelaki tua itu sudah menghilang, begitu juga dengan anaknya. Malaikat Maut telah membawanya pergi.

Jam tua di sudut ruangan mengeluarkan bunyi berderit, bandul logamnya jatuh ke lantai, dan jam itu pun berhenti berdetak.

Ibu itu berlari keluar, berteriak memanggil anaknya.

Di luar, di tengah salju, duduklah seorang wanita berjubah hitam. 

Dia berkata: “Malaikat Maut tadi duduk bersamamu di dalam, aku melihatnya membawa anakmu dan lari secepat angin. Apa pun yang sudah dia ambil, tak akan pernah dia kembalikan lagi.”

“Katakan padaku, ke arah mana dia pergi!” pinta sang ibu dengan suara putus asa. “Tolong tunjukkan jalan, aku harus mengejarnya!”

Wanita berjubah hitam menjawab:“Aku tahu. Tapi sebelum kuberitahu, kamu harus menyanyikan semua lagu pengantar tidur yang pernah kamu nyanyikan untuk anakmu. Aku sangat menyukai lagu-lagu itu. Aku adalah Dewi Malam. Aku pernah mendengarnya, dan melihatmu menangis ketika bernyanyi.”

“Iya, akan kunyanyikan semuanya untukmu!” jawab sang ibu penuh air mata. “Asal kamu jangan menahanku, aku harus mengejar dan menemukan anakku.”

Maka sang ibu menyanyi, satu demi satu, sambil menangis. Air matanya jatuh semakin deras. 

Akhirnya Dewi Malam berkata: “Pergilah ke arah hutan cemara yang gelap di sebelah sana. Aku melihat Malaikat Maut lewat membawa anakmu.”

Ibu itu berlari. Di dalam hutan, jalan terbelah dua, dia bingung harus memilih yang mana. Di situ ada semak berduri, tandus tanpa daun atau bunga, hanya tergantung es yang tajam di cabang-cabangnya.

“Apakah kamu melihat Malaikat Maut lewat membawa anakku?” tanyanya.

“Aku melihatnya,” jawab semak berduri. “Tapi aku tidak akan bilang arah mana dia pergi kecuali kamu mau memelukku dan memberiku kehangatan. Aku hampir mati membeku di sini.”

Tanpa ragu, sang ibu meraih semak itu dan memeluknya erat di dadanya. Duri-duri menusuk kulitnya hingga darah menetes, tapi pelukan hangatnya membuat semak itu hidup kembali. Seketika semak berduri itu bertunas, menghijau, bahkan mekar di malam musim dingin yang beku.

Lalu, semak itu pun berkata: “Jalan ke arah sana—Malaikat Maut lewat ke sana membawa anakmu.”

Sang ibu akhirnya tiba di tepi sebuah danau luas. Namun, di atas danau itu tidak ada perahu besar maupun kecil, esnya pun belum cukup tebal untuk diinjak, sementara airnya terlalu dalam untuk diseberangi. Bila dia ingin menemukan anaknya, dia harus menyeberangi danau itu.

Dengan putus asa, dia berlutut dan mencoba meminum air danau, seakan berharap bisa mengeringkannya. Tentu itu mustahil—danau itu terlalu luas.

“Tidak, itu pekerjaan yang tak mungkin,” kata danau. “Namun, kita bisa bernegosiasi. Aku menyukai mutiara, dan matamu adalah sepasang mutiara terindah yang pernah kulihat. Jika kamu menangis hingga matamu jatuh menjadi mutiara, aku akan mengangkatmu menyeberang. Di seberang sana ada rumah kaca besar—tempat Malaikat Maut menanam bunga dan pohon, setiap pohon atau bunga adalah sebuah kehidupan.”

“Demi anakku, aku rela mengorbankan apa saja!” seru sang ibu sambil menangis. Dia menangis begitu dalam hingga kedua matanya jatuh ke dalam danau, berubah menjadi sepasang mutiara paling berharga.

Danau itu pun mengangkat tubuhnya lembut, seolah dia duduk di sebuah ayunan, dan membawanya ke seberang. Di sana berdiri sebuah bangunan besar, begitu besar hingga sulit dibedakan apakah itu gunung berhutan dengan gua-gua atau sebuah rumah kayu yang megah. Namun ibu malang itu sudah buta—dia tak bisa melihat lagi.

“Di mana aku harus mencari Malaikat Maut yang membawa anakku?” dia bertanya.

“Dia belum tiba,” jawab seorang nenek tua penjaga rumah kaca kematian. “Bagaimana kamu bisa sampai ke sini? Siapa yang membantumu?”

“Tuhan yang penuh kasih menolongku,” jawab sang ibu. “Maka engkau pun harus berbelas kasih. Di mana anakku?”

“Aku tidak tahu, dan kamu pun tidak bisa melihatnya,” jawab si nenek. “Namun malam ini banyak bunga dan pohon yang akan layu. Malaikat Maut akan segera datang untuk memindahkannya. Kamu tahu, setiap manusia punya bunga atau pohon kehidupannya sendiri. Mereka sama seperti tanaman lain, hanya saja di dalamnya ada jantung yang berdetak. Bahkan anak-anak pun punya detak jantung kecil. Dengarkanlah dengan teliti, mungkin kamu bisa mengenali detak jantung anakmu.”

“Kalau aku memberimu petunjuk lebih jauh,” lanjut sang nenek, “apa yang bisa kamu berikan padaku sebagai imbalan?”

“Aku sudah tidak punya apa-apa lagi,” jawab ibu itu lirih. “Namun aku sanggup berjalan sampai ke ujung dunia jika perlu.”

“Tidak, aku tak butuh itu,” kata nenek. “Tapi aku menyukai rambut hitammu yang panjang dan indah. Berikan padaku, dan sebagai gantinya ambillah rambut putihku. Itu tetap lebih baik daripada tidak punya rambut.”

“Kalau itu saja yang kamu minta, aku akan memberikannya!” jawab sang ibu tanpa ragu.

Maka ia menyerahkan rambut hitam indahnya, dan menerima rambut putih nenek sebagai gantinya.

Rumah Kaca Kehidupan

Mereka pun masuk ke dalam rumah kaca besar milik Malaikat Maut. Di sana tumbuh pohon dan bunga dengan bentuk yang aneh dan menakjubkan:

·        Di bawah kaca lonceng tumbuh bunga bakung biru yang indah.

·        Bunga peony yang besar mekar dengan gagah, meski musim dingin menggigit.

·        Di antara tanaman air, ada yang segar menghijau, ada yang setengah layu; ular air melilit di batangnya, kepiting hitam mencengkeram akar-akarnya.

·        Ada pohon palem menjulang, pohon ek, hingga pohon phoenix.

·        Ada juga tanaman kecil seperti seledri dan thyme yang wangi.

Setiap pohon, setiap bunga, punya sebuah nama. Mereka mewakili kehidupan manusia yang tersebar di seluruh dunia: ada di Tiongkok, ada di Greenland, dan di berbagai negeri lain.

Ada pohon besar yang tumbuh di pot kecil, nyaris meledakkan wadahnya. Ada bunga kecil yang ditanam dengan hati-hati, dikelilingi lumut, dirawat dengan penuh kasih sayang.

Sang ibu, dengan tubuh gemetar dan hati berdebar, menunduk ke arah tanaman-tanaman paling kecil. Di sana, di antara ribuan bunga yang berdetak, dia akhirnya mendengar satu detak jantung yang dia kenali: detak jantung anaknya sendiri.

 “Aku menemukannya!” seru sang ibu, meraih sebuah bunga biru kecil yang tampak lemah dan menunduk. Itu adalah bunga kehidupan anaknya.

“Jangan sentuh bunga itu!” kata nenek penjaga. “Tunggulah sampai Malaikat Maut datang. Saat dia hendak mencabut bunga itu, kamu bisa mengancam akan mencabut semua tanaman di sini. Dia akan takut, sebab dia bertanggung jawab kepada Tuhan atas semua kehidupan ini. Tanpa izin Tuhan, tak satu pun tanaman boleh dicabut.”

Tiba-tiba angin dingin berembus kencang. Sang ibu yang sudah buta tidak bisa melihat bahwa Malaikat Maut telah datang.

“Bagaimana kamu bisa sampai ke sini lebih dulu daripada aku?” tanya Malaikat Maut.

“Karena aku seorang ibu!” jawabnya tegas.

Malaikat Maut mengulurkan tangan panjangnya ke arah bunga mungil itu. Sang ibu segera mendekap bunga itu erat-erat, takut kelopaknya hancur. Malaikat Maut pun menghembuskan napasnya ke tangan ibu itu, dinginnya melebihi angin musim dingin. Tangan sang ibu melemas tak berdaya.

“Tak ada yang bisa melawan aku,” kata Malaikat Maut.

“Tapi Tuhan bisa!” jawab sang ibu.

“Aku hanyalah pelayan-Nya,” sahut Malaikat Maut. “Aku memindahkan bunga dan pohon kehidupan ini ke taman surgawi milik Tuhan. Tapi bagaimana mereka tumbuh di sana, aku tak berani mengatakannya padamu.”

“Berikan kembali anakku!” pinta sang ibu dengan suara memohon. 

Dia kemudian meraih dua bunga indah di dekatnya, dan berteriak:  “Kalau tidak, akan kucabut semua bunga ini!”

“Jangan!” teriak Malaikat Maut. “Kalau kamu melakukannya, kamu akan membuat ibu-ibu lain merasakan derita yang sama sepertimu.”

“Ibu-ibu lain?” Sang ibu tersentak. Dengan segera, dia melepaskan bunga-bunga itu.

Malaikat Maut lalu berkata: “Ini matamu. Aku sudah mengambilnya dari danau. Mereka kini lebih bercahaya dari sebelumnya. Lihatlah ke dalam sumur di sampingmu, dan aku akan tunjukkan nasib dua bunga yang hampir kamu cabut tadi.”

Sang ibu menatap ke dalam sumur dengan mata barunya. Dia melihat satu kehidupan yang penuh kebahagiaan, cinta, dan sukacita. Namun, kehidupan bunga lain adalah bayangan penderitaan: kemiskinan, kesedihan, dan kesakitan.

“Itu semua adalah kehendak Tuhan,” kata Malaikat Maut.

“Mana yang milik anakku?” tanya sang ibu dengan suara gemetar. “Kalau dia ditakdirkan menderita, tolong bawa dia pergi ke kerajaan Tuhan, jauh dari penderitaan itu. Ampunilah air mataku, doaku, dan segala perkataanku yang melawan kehendak Tuhan.”

Malaikat Maut berkata:  “Jadi, kamu mau aku membawanya pergi, atau membiarkannya hidup di dunia?”

Sang ibu berlutut, meremas tangannya, dan berdoa: “Tuhan, kehendak-Mu selalu yang terbaik. Jangan dengarkan permohonanku yang bertentangan dengan kehendak-Mu. Lakukanlah sesuai rencana-Mu.”

Dia menundukkan kepalanya dalam kepasrahan. Malaikat Maut pun membawa anaknya, terbang ke negeri misterius yang tak dikenal—menuju taman surgawi milik Tuhan.

Catatan

Cerita ini ditulis oleh Hans Christian Andersen (1844). Dia terinspirasi dari renungannya tentang kasih seorang ibu. 

Andersen pernah berkata: “Saat menulis Kisah Seorang Ibu, aku tidak punya maksud tertentu. Aku hanya berjalan di jalanan, lalu ide itu tiba-tiba tumbuh di hatiku.”

Pesan Moral

·        Kasih seorang ibu tiada tandingannya. Dia rela mengorbankan segalanya demi anaknya.

·        Namun, pada akhirnya, ada hal-hal yang tak bisa dikendalikan manusia—takdir hidup dan mati ada di tangan Tuhan.

·        Cinta sejati seorang ibu adalah berani melepaskan, menyerahkan sepenuhnya pada kehendak Ilahi, meski hatinya hancur. (yn)

Suasana Demonstran Nepal Bakar Gedung Pemerintahan, Presiden dan PM Komunis Mengundurkan Diri

EtIndonesia. Pada 8 September, ribuan warga Nepal turun ke jalan untuk memprotes larangan media sosial yang diberlakukan pemerintah. Aksi tersebut dibubarkan dengan kekerasan oleh aparat, menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai ratusan lainnya, sehingga memicu kemarahan besar rakyat.

Pemerintah Nepal pekan lalu memutuskan untuk menutup 26 platform media sosial, termasuk Facebook, YouTube, X, dan WhatsApp. Keputusan ini memicu ketidakpuasan yang sangat besar, khususnya di kalangan anak muda.

Pada 9 September, situasi dengan cepat lepas kendali. Ribuan orang di ibu kota Kathmandu menentang aturan darurat militer dan tetap turun ke jalan. Para demonstran menyerbu gedung pemerintah, gedung parlemen, serta kediaman Perdana Menteri Oli dan beberapa pejabat tinggi, lalu membakar bangunan tersebut. 

Seorang demonstran bahkan memanjat atap, merobek bendera partai Komunis, dan mendapat sorakan riuh dari massa.

Menghadapi situasi yang tak terkendali, pada 9 September, Perdana Menteri berusia 73 tahun sekaligus Ketua Partai Komunis Nepal (UML), Khadga Prasad Oli, mengumumkan pengunduran dirinya. Tak lama kemudian, Presiden Ram Chandra Poudel juga menyampaikan surat pengunduran diri. (***)

Sumber : NTDTV.com

Para pengunjuk rasa berkumpul di gedung administrasi pemerintah Nepal pada 9 September 2025. (PRABIN RANABHAT/AFP via Getty Images)
Gedung administrasi pemerintah Nepal terbakar pada 9 September 2025. (PRABIN RANABHAT/AFP via Getty Images)
Para pengunjuk rasa berkumpul di gedung administrasi pemerintah Nepal pada 9 September 2025. (PRABIN RANABHAT/AFP via Getty Images)
Seorang pria berbalut bendera Nepal di luar gedung administrasi pemerintah Nepal pada 9 September 2025. (PRABIN RANABHAT/AFP via Getty Images)
Para pengunjuk rasa membakar gedung administrasi pemerintah Nepal pada 9 September 2025. (PRABIN RANABHAT/AFP via Getty Images)




Berbagai Daerah di Tiongkok Muncul “Asma Petir”, IGD Rumah Sakit Penuh Sesak  (Video)

Sejak 8 September 2025, rumah sakit di berbagai daerah Tiongkok seperti Shanxi, Hebei, Shaanxi, hingga Ningxia mendadak penuh sesak. Ribuan pasien mengalami gejala batuk hebat dan sesak napas, bahkan ada yang sampai pingsan dan koma. Pihak berwenang menyebut gejala ini sebagai “asma petir”, namun banyak pihak meragukannya. Sejumlah warganet berspekulasi, mungkin telah muncul virus menular baru.

EtIndonesia. Di media sosial Tiongkok, beredar banyak video yang menunjukkan lonjakan pasien sejak 8 September malam. Di Shanxi, banyak orang tiba-tiba mengalami batuk hebat dan kesulitan bernapas sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Sebuah video memperlihatkan IGD Rumah Sakit Bethune di Taiyuan, Shanxi, dipenuhi pasien dan keluarga yang mengantri untuk berobat. 

Dalam beberapa jam saja, lebih dari 400 pasien diterima, termasuk anak-anak, ibu hamil, dan pasien usia muda. Karena pasien membludak, seorang dokter wanita bahkan berdiri di atas kursi dengan pengeras suara untuk memberi instruksi pertolongan diri kepada pasien.

Seorang warga yang merekam video berkata: “Astaga, sekarang semua rumah sakit di Shanxi penuh. Benar-benar penuh semua rumah sakit. Isinya anak-anak, satu sekolah asrama sampai satu kelas penuh dibawa ke sini.”

Seorang warga Taiyuan bermarga Xie (nama samaran) menceritakan kepada media Jiupai News, 8 September malam, suaminya tiba-tiba batuk keras saat baru saja berbaring, lalu tidak bisa bernapas. Saat mereka menuju rumah sakit, sopir taksi mengatakan sudah beberapa kali mengantar pasien dengan gejala serupa, bahkan ada yang sampai pingsan.

Keesokan harinya, saat suaminya kembali ke rumah sakit untuk kontrol, pasien yang datang justru lebih banyak dari malam sebelumnya.

Rumah Sakit Pertama Universitas Kedokteran Shanxi dan Rumah Sakit Bethune Shanxi mengkonfirmasi, karena pasien membludak sejak  8 September malam, mereka kini memberlakukan sistem antrian dan pendaftaran sebelum bisa berobat.

Seorang staf Rumah Sakit Pertama Universitas Kedokteran Shanxi menyebutkan, sejak  8 September tengah makan hingga sekarang, bagian IGD sudah menerima hampir 300 pasien.

Pada  8 September malam, Shanxi dan Shijiazhuang dilanda cuaca aneh berupa badai petir dengan kilatan listrik dan guntur yang intens.

Pihak resmi mengklaim bahwa para pasien yang tiba-tiba batuk dan sesak napas itu menderita “asma petir” — kondisi asma yang dipicu alergi serbuk sari akibat badai hujan. Namun banyak warganet meragukannya: “Baru kali ini dengar ada penyakit seperti itu.”; “Memangnya ada serbuk sari di cuaca seperti ini?”

Komentar warganet lain:

  • “Kemarin saya batuk terus, ternyata ada penyebabnya? Jalan sebentar saja sudah terasa sesak, seperti mau mati.”
  • “Saya kira gara-gara rokok, batuk sampai susah napas.”

Dalam dua hari terakhir, tak  hanya di Taiyuan, Shanxi, tetapi juga di banyak daerah Tiongkok muncul pasien dalam jumlah besar dengan gejala batuk hebat dan sesak napas yang mendadak. Media sosial dibanjiri video dan unggahan terkait.

Di Shijiazhuang, Hebei, banyak rumah sakit seperti RS Anak Hebei, RS Rakyat Hebei, hingga RS Kedua Shijiazhuang dipenuhi pasien di IGD dan poli pernapasan.

Shi Yanxi, direktur RS Anak Hebei, mengatakan kepada media Zonglan News: “Hari ini ada tujuh hingga delapan pasien anak yang harus dirawat inap. Sebagian sudah menunjukkan gejala batuk dan asma sejak tadi malam.”

Guan Jitao, dokter spesialis pernapasan di RS Kedua Universitas Kedokteran Hebei, menyebutkan antara pukul 22.00–01.00 pasien dengan gejala sesak dada dan sulit bernapas meningkat tajam, dan jumlah pasien pada 9 September siang bertambah 50% dibanding hari biasa.

Lu Houqiang, dokter spesialis paru RS Kedua Shijiazhuang, mengatakan dari lebih 40 pasien yang ditangani pada 9 September pagi, hampir 30 orang menunjukkan gejala asma. “Banyak pasien tiba-tiba sesak napas dan batuk semalaman, bahkan ada yang terbangun dari tidur karena merasa tercekik.”

Video lain memperlihatkan banyak anak di Yulin, Shaanxi, mengalami gejala asma dan harus dirawat dengan nebulizer di klinik-klinik.

Di Pingluo, Ningxia, antrean pasien juga membludak di rumah sakit, banyak yang memakai masker.

Di RS Anak Tianjin, antrean pasien juga mengular panjang, dengan banyak orang tua membawa anak-anak mereka yang sakit.

Fenomena mendadak banyaknya pasien gangguan pernapasan di berbagai daerah Tiongkok ini menimbulkan kekhawatiran. Banyak warganet menduga adanya virus baru:

  • “Apakah ini varian baru?”
  • “Jangan-jangan hasil penelitian virus dari para ‘ahli’ itu?”
  • “Mungkinkah ini efek jangka panjang dari COVID-19?”
  • “Sebaiknya tetap waspada.”

Sumber : NTDTV.com

Pemerintahan Prancis Runtuh, Presiden Macron Tunjuk Pendukungnya Sebagai Perdana Menteri yang Baru

Pada Selasa (9 September), Perdana Menteri Prancis François Bayrou menyerahkan surat pengunduran diri kepada Presiden Emmanuel Macron, menjadikannya perdana menteri kelima yang mundur di era pemerintahan Macron. Macron segera menunjuk orang kepercayaannya, Sébastien Lecornu, sebagai perdana menteri baru. Namun, pemerintahan baru tetap menghadapi tantangan besar: defisit anggaran yang tinggi dan parlemen yang terpecah. 

Partai sayap kanan National Rally mengecam pemerintah dan menegaskan bahwa kebijakan harus diubah total, jika tidak, pemerintah bisa menghadapi mosi tidak percaya. Sementara itu, rakyat Prancis bersiap menggelar aksi protes besar pada Rabu (10 September) dengan perkiraan hingga 100.000 peserta. Menghadapi situasi tegang ini, pemerintah Prancis menyiapkan 80.000 aparat keamanan.

EtIndonesia. Pada Selasa 9 September 2025, Perdana Menteri François Bayrou  mendatangi Istana Élysée untuk menyerahkan surat pengunduran diri kepada Presiden Macron.

Hal ini menandakan bahwa ekonomi terbesar kedua di Eropa akan menghadapi krisis politik baru, yang memaksa Macron untuk keempat kalinya dalam 12 bulan menunjuk perdana menteri baru.

Ketua partai sayap kanan National Rally, Jordan Bardella, pada Selasa memperingatkan bahwa perdana menteri berikutnya harus memutus hubungan dengan kebijakan delapan tahun terakhir. Jika tidak, pemerintahan akan kembali menghadapi mosi tidak percaya.

Jordan Bardella, Ketua National Rally: “Kami butuh stabilitas, kami butuh rancangan anggaran.”

Ini juga berarti Macron telah mengganti perdana menteri sebanyak lima kali hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.

Pemerintah Prancis mengumumkan bahwa Bayrou beserta kabinetnya akan tetap menjabat sebagai pemerintahan sementara hingga pemerintahan baru terbentuk.

Perdana menteri berikutnya diperkirakan juga akan menghadapi tantangan besar, yakni bagaimana menyatukan parlemen untuk meloloskan rancangan anggaran tahun depan.

Prancis saat ini menghadapi tekanan untuk mengurangi defisit anggaran. Jumlah defisit negara itu hampir dua kali lipat dari batas 3% yang ditetapkan Uni Eropa, sementara utang publik telah mencapai setara dengan 114% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Seorang pakar politik menilai bahwa Prancis sedang berada dalam krisis politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dan hal ini bisa mengancam perekonomian negara.

Luc Rouban, pakar politik dari Pusat Studi Politik Sciences Po Paris: “Secara logis, satu-satunya solusi bagi Macron adalah lebih bergeser ke kanan, sehingga ia mungkin bisa memperoleh mayoritas yang relatif stabil. Namun jelas, itu sangat bertentangan dengan usulan kebijakannya sendiri.”

Selasa malam, Macron resmi menunjuk orang kepercayaannya, Lecornu, sebagai perdana menteri baru. Lecornu yang berusia 39 tahun ini sebelumnya mendukung penuh Macron dalam pemilihan presiden.

National Rally kini mendesak Macron untuk mundur atau menggelar pemilu dini. Namun Macron menegaskan bahwa ia akan menyelesaikan masa jabatan keduanya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron: “Mandat yang diberikan rakyat Prancis kepada saya — dan hanya rakyat Prancis yang memberikannya — adalah misi yang akan saya jalankan hingga akhir masa jabatan. Saya akan menepati janji saya kepada rakyat Prancis.”

Pada saat yang sama, pemerintah Prancis bersiap menghadapi aksi protes “pemblokiran total” yang direncanakan berlangsung pada Rabu. Aksi protes yang menyebar cepat di media sosial ini diperkirakan diikuti hingga 100.000 orang. Untuk mengantisipasi, pemerintah menyiapkan 80.000 aparat keamanan.

Sumber : NTDTV.com

Generasi Z Bangkit Lawan Rezim  – PM Nepal Tumbang, Markas Partai Komunis Dibakar

Pada Selasa (9 September), situasi di Nepal memburuk dengan cepat. Minggu lalu, keputusan pemerintah untuk memblokir media sosial memicu gelombang protes besar-besaran, dengan kaum muda Generasi Z menjadi motor utama perlawanan. 

Aparat militer dan polisi dikerahkan untuk menindak dengan kekerasan, menewaskan sedikitnya 21 orang. Perdana Menteri pro-Beijing, K.P. Sharma Oli, akhirnya terpaksa mundur dari jabatannya. Namun, akibat korupsi dan otoritarianisme yang sudah lama berlangsung, kemarahan rakyat makin meluas.

Puluhan ribu warga turun ke jalan, sebagian aparat bahkan berbalik mendukung rakyat. Hari ini, sejumlah pejabat dikejar dan dipukuli massa, sementara markas Partai Komunis dan sebuah stasiun televisi dibakar oleh pengunjuk rasa. Dikabarkan, Oli melarikan diri dengan helikopter.

EtIndonesia. Asap hitam pekat menutupi langit Nepal, sementara bangunan di jalanan terbakar habis hingga sulit dikenali.

Gerakan perlawanan yang dipimpin kaum muda Generasi Z ini dipicu oleh larangan media sosial yang diberlakukan pemerintah pekan lalu, yang dianggap membungkam kebebasan berekspresi, ditambah maraknya korupsi di kalangan pejabat.

Ketika protes semakin meluas di negara yang berpenduduk sekitar 31 juta jiwa, Perdana Menteri Oli pada Selasa akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya.

Seorang demonstran, Laxmi Panday, berkata: “Hari ini kami sangat bersemangat, rasanya kemenangan akhirnya tiba. Kemarin seperti hari kiamat, tapi hari ini penuh cahaya. Kami sangat bahagia, ini adalah kemenangan rakyat Nepal.”

Pekan lalu, pemerintah Nepal memblokir berbagai platform media sosial termasuk Facebook, YouTube, dan X, yang memicu amarah generasi muda.

Binu KC, seorang mahasiswa berusia 19 tahun, mengatakan kepada media bahwa ia berharap Nepal bisa mengakhiri korupsi. Menurutnya, para politisi tidak pernah menepati janji kampanye mereka. Ia juga menegaskan, larangan media sosial akan membatasi akses pada kelas daring dan sumber belajar, sehingga merugikan pendidikannya.

Meskipun perdana menteri telah mundur dan larangan dicabut, kemarahan rakyat belum reda. Hingga Selasa malam, puluhan ribu demonstran masih bertahan di jalan, memblokir lalu lintas, menyerbu gedung pemerintah, dan membakarnya. Di beberapa tempat, pejabat juga menjadi sasaran serangan massa.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan penganiayaan terhadap tokoh Nepali Congress (Partai Kongres Nepal) Sher Bahadur Deuba beserta istrinya, Menteri Luar Negeri Arzu Rana Deuba. Video lain memperlihatkan Deuba diselamatkan oleh sejumlah orang ke tempat yang lebih aman.

Di platform X, pencarian dengan kata kunci “nepal communist” didominasi unggahan video yang menggambarkan gerakan Generasi Z di Nepal ini sebagai perlawanan terhadap pemerintahan komunis yang korup.

Beberapa video memperlihatkan demonstran menyerbu markas Partai Komunis, memanjat tiang bendera, dan merobek simbol palu-arit. Mereka juga membakar kantor pusat Kantipur TV, salah satu media terbesar yang dianggap dekat dengan Partai Komunis.

Ada laporan yang menyebutkan sebagian aparat militer dan polisi yang awalnya ditugaskan untuk meredam kerusuhan justru membelot dan bergabung dengan massa.

Bentrok pada Selasa itu menyebabkan dua korban jiwa tambahan, sehingga total korban tewas meningkat menjadi 21 orang.

Sejak pemilu 2022, Partai Komunis Marxist-Leninist Nepal (CPN-UML) yang pro-Beijing dan kerap menindas komunitas Tibet, menjadi salah satu partai penguasa dan kini partai terbesar kedua di parlemen. Oli, ketua partai tersebut, menjabat sebagai perdana menteri sejak Juli 2024 hingga 9 September 2025.

Laporan menyebutkan para demonstran menuntut pertanggungjawaban pemerintah dan reformasi tata kelola. Analis memperingatkan, jika pemerintah gagal merespons secara efektif, perlawanan bisa semakin meluas dengan keterlibatan mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil.

Sumber : NTDTV.com

Demonstran Nepal Robohkan Bendera Partai Komunis Pro Beijing Hingga Bakar Markas Pusat 

EtIndonesia. Gerakan protes Generasi Z di Nepal akhirnya menjatuhkan rezim Partai Komunis yang pro-Beijing. Perdana Menteri K.P. Sharma Oli mengundurkan diri dan melarikan diri, sementara para demonstran memanjat tiang bendera di markas pusat Partai Komunis dan merobohkan benderanya.

Pemicu langsung dari protes besar-besaran di Nepal adalah keputusan pemerintah untuk memblokir media sosial, yang dianggap membungkam kebebasan berpendapat. Aksi protes dengan cepat berubah menjadi gerakan perlawanan terhadap rezim komunis. 

Pada Senin (8 September), aparat melakukan penindasan brutal yang menewaskan sedikitnya 19 orang. Namun kekerasan itu tidak menghentikan protes, justru memicu kemarahan rakyat yang lebih besar.

Pada Selasa (9 September), situasi dengan cepat lepas kendali. Para demonstran menyerbu gedung-gedung pemerintah, gedung parlemen, serta kediaman Perdana Menteri Oli dan sejumlah pejabat tinggi, lalu membakarnya. Ibu kota Kathmandu dipenuhi asap dan kobaran api. 

Beredar banyak video di internet yang menunjukkan mantan ketua partai, kini menjabat Menteri Keuangan, Bishnu Prasad Paudel, ditangkap hidup-hidup dan dipukuli oleh massa. Oli bersama sejumlah pejabat tinggi dikabarkan menaiki helikopter menuju bandara internasional untuk melarikan diri, dan hingga kini keberadaannya tidak jelas.

Video lain menunjukkan para demonstran membakar markas Partai Komunis Nepal. Seorang demonstran memanjat tiang bendera, merobek bendera partai, lalu melemparkannya ke arah massa di bawah. Kerumunan pun meledak dengan sorakan meriah.

Saat ini, berita tentang tumbangnya rezim Nepal menarik perhatian besar di  daratan Tiongkok. Banyak warganet secara tersirat menyatakan kegembiraan, bahkan berkomentar: “Kapan hal baik seperti ini akan terjadi pada kita?”

Sumber : NTDTV.com

Saat Rakyat Nepal Duduki Markas Partai Komunis Hingga Perdana Menteri Melarikan Diri dengan Helikopter

EtIndonesia. Krisis politik di Nepal semakin memanas. Pada Selasa (9/9/2025), rakyat menuding korupsi parah dan kemerosotan negara disebabkan oleh pemerintahan Partai Komunis. Mereka menuntut tumbangnya rezim komunis, menyerbu lembaga-lembaga pemerintah penting, sementara kobaran api meluas di berbagai lokasi.

Pada hari yang sama, demonstran menyerbu markas Partai Komunis Nepal, memanjat tiang bendera dan menurunkan panji palu arit. Kerumunan bersorak riuh menyambut momen itu.

Asap pekat terlihat mengepul dari gedung parlemen Nepal di Kathmandu dan kantor stasiun televisi Kantipur TV, yang dianggap sebagai corong Partai Komunis.

Massa juga menduduki kantor polisi setempat, menyerang rumah-rumah pejabat, membakar kediaman mantan perdana menteri, dan memaksa penutupan bandara internasional.

Massa menyerbu kantor di Nepal

Perdana Menteri K.P. Sharma Oli pada Selasa mengumumkan pencabutan larangan media sosial, lalu menyatakan pengunduran dirinya. Menurut laporan, ia kemudian melarikan diri dengan helikopter.

Laxmi Panday, seorang pengunjuk rasa:  “Hari ini kami sangat bersemangat, merasa kemenangan akhirnya tiba. Kemarin gelap seperti kiamat, hari ini penuh cahaya. Kami sangat bahagia, ini adalah kemenangan rakyat Nepal.”

Tang Hao, seorang jurnalis senior berkata:  “Kini rakyat Nepal tidak hanya bangkit melawan pemerintah komunis, tetapi juga menyerbu markas Partai Komunis. Bahkan beberapa anggota parlemen telah mengumumkan keluar dari partai itu. Gelombang perlawanan terhadap Partai Komunis ini adalah hal yang paling patut diperhatikan.”

Setelah pemilu 2022, Partai Komunis Nepal (CPN-UML) yang dipengaruhi oleh infiltrasi Beijing dan menekan komunitas Tibet, menjadi salah satu partai penguasa utama dan fraksi terbesar kedua di parlemen.

Pekan lalu, rezim komunis memberlakukan blokade terhadap sejumlah platform media sosial, memicu protes besar-besaran dari generasi muda Z. Pemerintah mengerahkan polisi dan militer untuk membubarkan massa dengan kekerasan, menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya.

Tang Jingyuan, pengamat politik:  “Nepal adalah negara tetangga Tiongkok, dan model pemerintahannya hampir menyalin model (represif dan korup) Beijing. Maka, kegagalan dan runtuhnya sistem ini menjadi contoh yang sangat khas.”

Apakah peristiwa ini akhirnya akan membuat Nepal lepas dari kendali Beijing dan bergerak menuju demokrasi sejati, kini menjadi perhatian dunia internasional.

Sumber : NTDTV.com

Banjir Merendam Bali, 9 Warga Meninggal Dunia dan 2 Orang Hilang

EtIndonesia. DENPASAR – Hingga Rabu (10/9/2025) pukul 18.45 WIB, sebanyak sembilan orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dua orang hilang dan sebanyak 202 kepala keluarga atau 620 jiwa terdampak akibat banjir yang merendam Bali. 

Wilayah yang terdampak banjir ini mencakup enam kabupaten/kota, yakni Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Tabanan.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, merilis, data rincian penemuan dan pencarian korban meliputi; di Kota Denpasar terdapat lima korban meninggal dunia dan dua orang hilang, di Kabupaten Jembrana dua orang meninggal dunia dengan total 103 kepala keluarga atau 200 jiwa terdampak. 

Sedangkan di Kabupaten Gianyar satu orang meninggal dunia, di Kabupaten Badung satu orang meninggal dunia, sedangkan Kabupaten Klungkung mencatat 99 kepala keluarga atau 420 jiwa terdampak, dan Kabupaten Tabanan masih dalam proses pendataan.

“Imbas banjir tersebut, sebagian warga juga terpaksa harus mengungsi karena tempat tinggal mereka masih terendam banjir,” tambah Muhari. 

Adapun rinciannya meliputi; di Kabupaten Jembrana tercatat 85 jiwa mengungsi dengan penyebaran di sejumlah posko, di antaranya Balai Desa Yeh Kuning, Balai Banjar Yeh Kuning, Musholla Assidiqie, dan Musholla Darul Musthofa. 

Sementara itu, di Kota Denpasar terdapat 108 jiwa mengungsi yang tersebar di SD 25 Pemecutan, Banjar Sedana Merta Ubung, serta Banjar Dakdakan Peguyangan.

BNPB Hadir Memberikan Dukungan

Saat siaran pers ini disusun, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto., sudah berada di Bali, sedang memimpin rapat koordinasi penanganan darurat bencana yang dihadiri oleh segenap unsur forkopimda Bali. Kehadiran Kepala BNPB menjadi representasi bahwa negara hadir demi memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S. Sos., M.M. (kemeja dan rompi hijau) saat meninjau lokasi terdampak banjir di Pasar Badung, Kota Denpasar, Bali pada Rabu (10/9) – Dok BNPB

Dalam rapat tersebut, Kepala BNPB memberikan arahan kepada pemerintah daerah untuk memprioritaskan upaya pencarian dan pertolongan serta penyelamatan masyarakat terdampak. Di samping itu, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat harus dimaksimalkan.

Sejalan dengan itu, upaya penanganan terus dilakukan dengan fokus pada pencarian, pertolongan, serta evakuasi warga terdampak sesuai arahan Kepala BNPB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali bersama BPBD kabupaten/kota melakukan peninjauan ke lokasi-lokasi bencana yang masih tergenang banjir. Sementara itu, data kerugian materil masih dalam proses pendataan. (***)

Pasangan Suami Istri Ajukan Gugatan Cerai Setelah Berselisih untuk Nama Anak Mereka

EtIndonesia. Seorang anak di Shanghai, Tiongkok, tidak dapat memperoleh akta kelahiran dan dijadwalkan untuk vaksinasi satu tahun setelah kelahirannya karena orangtuanya tidak dapat menyetujui nama yang diberikan.

Pengadilan Rakyat Wilayah Baru Pudong di Shanghai baru-baru ini menyidangkan kasus perceraian yang melibatkan pasangan yang mendaftarkan pernikahan mereka pada tahun 2023 dan dikaruniai seorang bayi laki-laki yang sehat pada tahun berikutnya. Situasi mulai memburuk sejak saat itu karena mereka tidak dapat menyetujui nama untuk anak tersebut.

Masing-masing pihak bersikeras untuk memberi nama anak tersebut sesuai keinginan mereka sendiri dan menuntut pihak lain untuk memberikan dokumen asli dan surat kuasa, tetapi keduanya tidak ada yang mengalah.

Bukti yang diajukan di Pengadilan menunjukkan bahwa mereka pergi ke rumah sakit secara terpisah untuk mencoba mendaftarkan nama pilihan mereka untuk anak tersebut, tetapi kedua upaya tersebut ditolak karena tidak mematuhi peraturan.

“Anak itu berusia lebih dari satu tahun, tetapi dia bahkan tidak memiliki akta kelahiran. Dia tidak bisa mendaftarkan akta kelahirannya, dan bahkan mendapatkan vaksinasi pun sulit,” ujar hakim yang memimpin kasus tersebut.

Pengadilan menekankan bahwa akta kelahiran merupakan dasar penting bagi bayi baru lahir untuk memperoleh identitas hukum. Jika orangtua menunda pemrosesan karena konflik pribadi, hal itu merupakan pelanggaran hak pribadi anak di bawah umur dan kedua orangtua harus bertanggung jawab.

Pengadilan juga mengingatkan orangtua untuk tidak menggunakan anak-anak mereka sebagai alat tawar-menawar dalam konflik emosional, dan mereka juga tidak boleh menggunakan perselisihan untuk menghindari kewajiban perwalian mereka.

Untuk melindungi hak-hak dasar anak tersebut, pengadilan mengeluarkan “Pemberitahuan Pengasuhan Anak di Bawah Umur” khusus, yang mewajibkan kedua orangtua untuk bekerja sama dalam memperoleh akta kelahiran dalam jangka waktu tertentu, tetapi mereka segera mulai berdebat tentang hak asuh dokumen asli.

Setelah upaya mediasi berulang kali, diputuskan bahwa akta kelahiran asli disimpan sementara oleh pengadilan, sebelum diserahkan kepada ibu, agar dia dapat menangani proses pendaftaran rumah tangga wajib.

Kasus perceraian yang tidak biasa ini menjadi viral di media sosial Tiongkok, membuat banyak orang bertanya-tanya bagaimana masalah sepele seperti itu bisa menghancurkan sebuah pernikahan.

“Pasangan seperti ini seharusnya tidak punya anak,” komentar seseorang.

“Mereka hanya iseng. Namanya bisa diganti. Mereka menunda kelahiran anak dan bukan orangtua yang baik,” tulis yang lain.(yn)

Serangan Udara Rusia yang “Brutal dan Biadab” Menewaskan 24 Orang yang Sedang Mengantre untuk Menerima Pensiun di Ukraina Timur, Kata Zelenskyy

EtIndonesia. Serangan udara Rusia yang “brutal dan biadab” menewaskan sedikitnya 24 orang saat mereka sedang mengantre untuk menerima pensiun bulanan mereka di Ukraina timur pada hari Selasa (9/9), menurut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

Video beberapa saat setelah serangan yang diperoleh The Post menunjukkan mayat-mayat yang masih berasap bergelimpangan di sekitar kawah besar yang disebabkan oleh bom luncur Rusia yang telah menewaskan mereka.

“Serangan udara Rusia yang brutal dan biadab dengan bom udara di permukiman pedesaan Yarova di wilayah Donetsk. Langsung mengenai orang-orang. Warga sipil biasa. Tepat pada saat dana pensiun sedang dicairkan,” tulis Zelenskyy di X.

“Tidak ada kata-kata.”

Bom luncur menghantam permukiman di wilayah Donetsk yang berpenduduk kurang dari 2.000 jiwa sekitar pukul 11.00 waktu setempat ketika banyak orang menunggu di udara terbuka untuk mendapatkan pembayaran pendapatan tetap mereka – menyebabkan setidaknya 19 orang lainnya terluka, kata Layanan Darurat Ukraina.

“Gambarannya mengerikan – seluruh desa terbakar,” kata Pavlo Diachenko, kepala komunikasi kepolisian wilayah Donetsk.

“Rumah-rumah pribadi terbakar, dan orang-orang berusaha memadamkan api dengan tangan mereka sendiri. Ada banyak drone di atas kepala.”

Yarova adalah bagian dari sekitar 30% wilayah Donbas Ukraina yang belum dapat diduduki Rusia meskipun konflik terus-menerus berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Bom luncur menghantam desa yang berjarak kurang dari empat mil dari wilayah yang diduduki Rusia hampir tanpa peringatan.

Meskipun Ukraina secara rutin memperingatkan warga tentang serangan yang datang, yang memungkinkan mereka untuk berlindung, komunitas yang paling dekat dengan garis depan terkadang diserang sebelum sistem peringatan udara Kyiv dapat mendeteksi bom luncur super cepat dan membunyikan alarm.

Waktu serangan membuat serangan itu sangat brutal, kata pejabat Ukraina, karena para korban berkeliaran di luar rumah, alih-alih di rumah, di tempat tidur mereka.

Para korban tampak terkejut, dengan beberapa jenazah ditemukan masih duduk di atas sepeda.

Dalam video yang diperoleh The Post, jeritan memilukan dari para perempuan yang menangis terdengar saat petugas penyelamat mengemas jenazah untuk diangkut ke kamar mayat setempat.

“Rasanya tak terlukiskan,” kata Hennadii Trush, warga Yarova, yang istrinya termasuk di antara mereka yang tewas.

“Sebelumnya, serangan mendarat di pinggiran. Kali ini tepat di pusat desa.”

Beberapa korban masih diidentifikasi menggunakan DNA pada Selasa malam, kata pihak berwenang.

Menyusul serangan terbaru, Zelenskyy mendesak AS dan sekutu lainnya untuk membuat Rusia membayar secara ekonomi atas invasi skala penuhnya.

“Serangan Rusia semacam itu tidak boleh dibiarkan tanpa respons yang tepat dari dunia. Rusia terus menghancurkan kehidupan sambil menghindari sanksi baru yang lebih kuat dan pukulan baru yang lebih keras,” katanya.

Dunia tidak boleh tinggal diam. Dunia tidak boleh tinggal diam. Amerika Serikat perlu merespons. Eropa perlu merespons. G20 perlu merespons. Tindakan tegas diperlukan untuk menghentikan Rusia yang menyebabkan kematian.

Rusia telah meningkatkan serangan udaranya ke Ukraina dalam beberapa pekan terakhir — tepat ketika upaya perdamaian yang dipimpin AS gagal mencapai kemajuan.(yn)