Trump, Putin, Zelenskyy : Deal Rahasia 150 Miliar Dolar yang Bisa Mengguncang Dunia

EtIndonesia. Perdamaian adalah cita-cita tertinggi umat manusia. Hak asasi manusia, terutama hak untuk hidup, menjadi pondasi dari semua perjuangan politik dan militer. Karena itu, perang Rusia–Ukraina yang sudah berkecamuk lebih dari tiga tahun harus segera dihentikan.

Namun, dalam percaturan global, perdamaian bukan hanya soal niat, melainkan juga hasil tawar-menawar politik, transaksi ekonomi, hingga simbol-simbol kecil yang membawa makna besar. Salah satunya: sebuah telepon yang tak pernah berbunyi.

Beijing dan “Telepon yang Hilang”

Pada 19 Agustus 2025, Beijing menjadi pusat perhatian dunia. Konferensi pers rutin Kementerian Luar Negeri Tiongkok dibanjiri pertanyaan media:
Apakah Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah pertemuan bersejarahnya dengan Donald Trump di Alaska dan di Gedung Putih bersama Zelensky serta tujuh pemimpin Eropa, menelepon Xi Jinping?

Jawaban juru bicara Mao Ning terdengar sangat diplomatis:

“Mengenai pertanyaan Anda, saya tidak memiliki informasi yang bisa dibagikan.”

Artinya jelas—baik tahu maupun tidak tahu, Beijing memilih bungkam. Dan justru di situlah letak masalahnya: telepon itu tidak pernah terjadi.

Dari Persahabatan ke Pengabaian

  • 8 Agustus 2025: Sebelum terbang ke Alaska, Putin terlebih dahulu menelpon Xi Jinping. Isinya simbolis—solidaritas, kesepahaman, dan janji menjaga langkah bersama.
  • 18 Agustus 2025: Usai pertemuan besar dengan Trump, Putin kembali menelpon banyak pemimpin dunia—dari India hingga Afrika Selatan. Namun kali ini Beijing tidak dihubungi.

Bagi dunia diplomasi, mengangkat telepon bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan dan penghormatan. Hilangnya panggilan ini menjadi sinyal perubahan arah geopolitik.

Gedung Putih: Dari Kantor Menjadi Panggung Diplomasi

Tanggal 18 Agustus 2025, Gedung Putih berubah menjadi panggung drama global. Donald Trump, Zelenskyy, dan tujuh pemimpin Eropa hadir seperti aktor dalam sandiwara internasional.

Enam bulan sebelumnya, suasananya tegang—Zelenskyy, dengan kaus hijau militernya, dipermalukan media konservatif AS. Namun kali ini semuanya berubah: Trump ramah, tersenyum, bahkan memuji jas yang dikenakan Zelenskyy.

Rahasia Perubahan Sikap

Kebocoran dokumen ke Financial Times mengungkap alasan di balik perubahan sikap ini. Zelensky membawa “paket hadiah” senilai 150 miliar dolar AS:

  • 100 miliar dolar untuk pembelian senjata buatan AS, dibiayai oleh sekutu Eropa.
  • 50 miliar dolar untuk investasi bersama di teknologi drone militer.

Dengan transaksi sebesar ini, semua ketegangan dan perbedaan sebelumnya lenyap seketika. Diplomasi berubah menjadi bisnis berskala raksasa.

Strategi Simbolik dan Perlawanan Eropa

Zelensky pun menyiapkan detail kecil dengan makna besar: jas yang ia kenakan dibuat dari kain seragam militer Ukraina. Simbol bahwa ia tetap seorang pejuang, meskipun hadir di jantung kekuatan Barat.

Namun, di balik kehangatan itu, Eropa mulai resah.

  • Presiden Prancis Emmanuel Macron menyarankan agar perundingan tidak hanya tiga pihak, tetapi melibatkan Eropa.
  • Kanselir Jerman Friedrich Merz menuntut agar setiap pembicaraan dimulai dengan gencatan senjata.

Trump menolak mentah-mentah:

“Dalam enam perang yang saya selesaikan, tidak ada yang dimulai dengan gencatan senjata lebih dulu.”

Bagi Trump, semua harus sesuai dengan aturannya sendiri.

Isu Pertukaran Wilayah: Solusi atau Perangkap?

Trump secara terbuka mendorong ide pertukaran wilayah berdasarkan garis kontak saat ini.

Namun bagi Ukraina, menyerahkan 11% wilayah terakhir di Donbas berarti kehilangan nyawa perjuangan nasional. Jika Donbas jatuh, jalur menuju kota industri Dnipro terbuka lebar, dan pertahanan negara akan runtuh.

Bagi Kyiv, ini bukan kompromi—tetapi bunuh diri strategis.

Dua Jalur Keamanan yang Bertolak Belakang

  1. Rencana Rusia – “Rencana Iblis”
    • Pasukan perdamaian dibentuk, tetapi tanpa NATO.
    • Melibatkan negara non-Barat, termasuk Tiongkok.
    • Akibatnya, Ukraina justru terkunci dalam belenggu legal Moskow–Beijing.
  2. Rencana Barat – “Rencana Malaikat”
    • Dipimpin Inggris, dengan dukungan lebih dari 30 negara.
    • Memasukkan sistem pertahanan udara, suplai senjata berkelanjutan, dan mekanisme pengawasan.
    • Dengan restu Trump, bahkan terbuka kemungkinan pasukan AS terlibat langsung.

Kedua jalur ini menggambarkan masa depan yang sangat berbeda: tunduk pada Moskow–Beijing atau bergabung penuh dengan Barat.

Telepon yang Tak Pernah Terjadi: Simbol Pergeseran Besar

Absennya telepon Putin ke Xi Jinping bukan kebetulan. Itu adalah sinyal kesetiaan baru kepada Trump dan Barat.

Bagi Beijing, ini pukulan telak. Strategi “Bersatu dengan Rusia” yang dirintis sejak Olimpiade Beijing 2022 kini berubah menjadi liabilitas politik.

Kesimpulan: Siapa yang Untung, Siapa yang Rugi?

  • Trump: Meraih modal politik dan transaksi senjata senilai 150 miliar dolar—sesuai agenda America First.
  • Zelensky: Mendapat dukungan finansial dan kesempatan memperpanjang pertahanan negaranya.
  • Eropa: Harus membayar mahal demi stabilitas di depan pintu rumah sendiri.
  • Putin: Bermanuver mencari jalan keluar terhormat, bahkan dengan risiko menjauh dari Tiongkok.
  • Xi Jinping: Justru kehilangan muka, ditinggalkan dalam kesepian diplomasi.

Namun, perdamaian tetap belum pasti. Pertemuan langsung Putin–Zelensky, realisasi jaminan keamanan, hingga implementasi transaksi 150 miliar dolar masih menjadi tanda tanya besar.

Yang jelas, dunia kini berada di persimpangan sejarah baru—di mana sebuah telepon yang tidak pernah berbunyi bisa lebih berisik daripada pidato para pemimpin dunia. (***)

6 Desa Direbut, 900 Tentara Rusia Tewas: Serangan Balasan Ukraina Mengguncang!

EtIndonesia. Situasi perang Rusia–Ukraina berubah drastis setelah Ukraina melancarkan serangan balasan kilat di sektor Pokrovsk–Dobropillia. Dalam operasi militer yang berlangsung intens, pasukan Ukraina berhasil merebut kembali enam desa strategis: Nikanorivka, Novosakharivka, Nubizhne, Zoloti Lodyazi, Vesele, dan Khrudzke.

Dalam kurun 12 hari, garis depan berhasil didorong maju sejauh 1–3 kilometer, dengan melibatkan Brigade Asyur ke-12, Brigade ke-93, Brigade ke-92, serta sejumlah unit elite lainnya. Target utama mereka adalah menghancurkan kekuatan Brigade Mobilisasi ke-132 Rusia.

Pertempuran berlangsung sengit, tetapi Ukraina berhasil menutup celah pertahanan yang sebelumnya sempat melemah. Data terbaru menunjukkan kerugian besar di pihak Rusia: 910 tentara tewas, 335 luka-luka, 37 ditawan, puluhan tank dan artileri hancur, serta lebih dari 90 drone tempur berhasil ditembak jatuh.

Gagalnya Serangan “Gugus Nekat” Rusia

Pada 12 Agustus 2025 dini hari, 12 personel Rusia mencoba melakukan infiltrasi sejauh 18 km melalui zona tak berawak. Mereka berharap bisa menjebol pertahanan Ukraina. Namun, Brigade ke-93 segera melancarkan serangan balik dengan dukungan kendaraan tempur nirawak, artileri, dan drone pengintai.

Serangan ini tidak hanya menggagalkan infiltrasi Rusia, tetapi juga mendorong garis depan Ukraina maju hingga 3,5 km di sektor utara.

Operasi Udara Ukraina

Selain pertempuran darat, Ukraina memperluas serangan lewat operasi udara.

  • Soledar–Donetsk: jet tempur MiG-29 menjatuhkan bom presisi ke markas komando sementara Rusia. Bangunan hancur total, dua tank dan tiga kendaraan lapis baja ikut dimusnahkan.
  • Kursk: serangan drone menghantam konvoi militer Rusia, menewaskan banyak tentara. Wakil komandan Grup Angkatan Darat Utara, Letjen Esedulla Abachev selamat tetapi harus diamputasi.
  • Sumy–Kharkiv: pasukan Ukraina merebut desa-desa, menghancurkan jembatan, dan menggempur konvoi senjata. Serangan bom pintar GBU-62 merobohkan jembatan vital, melumpuhkan jalur suplai Rusia.

Akibatnya, sistem logistik Rusia di timur mengalami guncangan besar.

Serangan Drone ke Moskow: Mitos Pertahanan Udara Runtuh

Pada  17–18 Agustus 2025 malam, Ukraina meluncurkan sekitar 40 drone ke arah Moskow. Meski Rusia mengklaim mampu mencegat sebagian besar, beberapa drone berhasil menembus pertahanan hingga ke pusat kota. Ledakan menimbulkan kerusakan dan kepanikan warga.

Keberhasilan ini mematahkan citra “kebal” pertahanan udara Rusia, memaksa Moskow mengalihkan sumber daya untuk keamanan dalam negeri. Para analis menilai langkah ini melemahkan posisi Rusia di garis depan Ukraina.

Senjata Baru Ukraina: Rudal “Firebird”

Ukraina memperkenalkan rudal jelajah terbaru “Firebird” dengan spesifikasi mematikan:

  • Daya ledak: 1 ton
  • Jangkauan: lebih dari 3.000 km
  • Kecepatan: 950 km/jam

Rudal ini dikabarkan mampu menjangkau Moskow. Produksi massal telah dimulai dengan dukungan teknologi Jerman dan referensi teknis dari Inggris.

Dukungan Eropa Mengalir Deras

Negara-negara Eropa meningkatkan dukungan militernya:

  • Prancis menggandakan jumlah jet tempur Mirage dari 10 menjadi 20 unit.
  • Jerman mempercepat produksi radar TRML-4D hingga 30 unit per tahun.
  • Uni Eropa meluncurkan “paket jaminan keamanan” mencakup bantuan militer, ekonomi, dan politik.

Meski demikian, analis memperingatkan bahwa bantuan besar-besaran ini berisiko memperburuk eskalasi dan membebani ekonomi Eropa.

Rusia Perkuat Armada Laut

Sebagai respons, Presiden Vladimir Putin meresmikan modernisasi kapal penjelajah nuklir Admiral Nakhimov. Kapal ini kini dipersenjatai:

  • Rudal hipersonik Tsirkon (kecepatan Mach 9)
  • Sistem rudal vertikal untuk puluhan peluru kendali jarak jauh
  • Sistem pertahanan udara S-400

Kekuatan baru ini diyakini memperbesar efek gentar Rusia terhadap NATO.

Kerugian dan Krisis Energi Rusia

Pada 15 Agustus 2025, pabrik bahan peledak Elastic di Ryazan meledak, menewaskan 20 orang dan melukai 134 lainnya. Di sisi lain, serangan drone Ukraina terus melumpuhkan kilang minyak Rusia, memicu lonjakan harga BBM domestik hingga ke rekor tertinggi: 92 oktan naik 38% dan 95 oktan naik 49% sejak awal tahun.

Dinamika Politik dan Diplomasi

Presiden AS Donald Trump menyatakan Ukraina bisa segera mengakhiri perang jika Zelensky setuju dengan gencatan senjata. Namun, Zelensky menolak syarat Putin yang menuntut penyerahan Donetsk.

Zelensky menegaskan: “Kami tidak akan meninggalkan Donbas. Jika wilayah ini hilang, itu akan menjadi batu loncatan Rusia untuk menyerang kembali.”

Sumber diplomatik menyebut Putin secara prinsip bersedia memberi ruang bagi keterlibatan AS dan Eropa dalam menjamin keamanan Ukraina, mirip Pasal 5 NATO. Hal ini dinilai sebagai sinyal melemahnya posisi Rusia.

Serangan Balasan Rusia: Korban Sipil Ukraina

Sebagai pembalasan, Rusia meluncurkan 140 drone dan 4 rudal ke enam wilayah Ukraina pada malam 18 Agustus 2025. Meski 88 drone berhasil ditembak jatuh, serangan ini tetap menimbulkan korban sipil:

  • Kharkiv: 7 tewas, termasuk bayi dan remaja 16 tahun.
  • Zaporizhzhia: 3 tewas, lebih dari 20 luka-luka.
  • Odessa: infrastruktur energi milik Azerbaijan hancur, memicu ketegangan diplomatik baru.

Zelensky mengecam aksi ini sebagai “balas dendam Putin” sekaligus “pembunuhan yang disengaja terhadap anak-anak.”

Kesimpulan

Perang Rusia–Ukraina kini berada di titik kritis. Ukraina berhasil merebut inisiatif dengan serangan balasan, menghancurkan logistik Rusia, bahkan menembus jantung pertahanan udara Moskow. Namun, Rusia masih memiliki kekuatan balasan besar dan menunjukkan kesiapannya meningkatkan eskalasi.

Sementara Eropa mempertebal dukungan, Rusia menghadapi krisis domestik akibat serangan drone dan lonjakan harga energi. Pada ranah diplomasi, Zelensky menolak kompromi teritorial, sedangkan Putin mulai mengisyaratkan pencarian jalan keluar.

Satu hal jelas: jalur diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan. (***)

Trump : Putin Lelah Perang, Tapi Mungkin Dia Tak Inginkan Kesepakatan

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Selasa (19/8) bahwa dia berharap Vladimir Putin akan “bertindak baik” dan bergerak maju untuk mengakhiri perang di Ukraina, tetapi mengakui bahwa ada kemungkinan presiden Rusia tersebut tidak ingin membuat kesepakatan.

“Sejujurnya, saya rasa itu tidak akan menjadi masalah. Saya pikir Putin sudah lelah. Saya pikir mereka semua sudah lelah, tapi kita tidak pernah tahu,” kata Trump dalam sebuah wawancara dengan program “Fox & Friends” di Fox News.

Trump berbicara sehari setelah menjamu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan para pemimpin Eropa di Gedung Putih untuk membahas upaya perdamaiannya, sebuah pertemuan yang menyusul pertemuan puncaknya dengan Putin di Alaska Jumat lalu.

“Kita akan mengetahui kabar terbaru tentang Presiden Putin dalam beberapa minggu ke depan … Ada kemungkinan dia tidak ingin membuat kesepakatan,” kata Trump, menambahkan bahwa Putin akan menghadapi “situasi sulit” jika hal itu tidak terjadi.

Setelah pembicaraan hari Senin, Trump mengatakan bahwa dia telah menghubungi Putin untuk membantu mengatur pertemuan empat mata antara Putin dan Zelenskyy yang akan dilanjutkan dengan pertemuan trilateral yang juga melibatkan dirinya.

Trump mengatakan dalam wawancara dengan Fox News bahwa dia berpikir hubungan antara Putin dan Zelenskyy mungkin “sedikit lebih baik”, jika tidak, dia tidak akan melanjutkan pertemuan empat mata mereka.

Dia juga menyebutkan hubungannya yang hangat dengan Putin, meskipun dia mengakui potensi kegagalan kesepakatan.

“Saya harap Presiden Putin akan bersikap baik, dan jika tidak, situasinya akan sulit. Dan saya harap … Presiden Zelenskyy akan melakukan apa yang harus dilakukannya. Dia juga harus menunjukkan fleksibilitas,” kata Trump.

Mengenai jaminan keamanan untuk Ukraina yang diupayakan Kyiv dan sekutunya sebagai bagian dari penyelesaian damai apa pun, Trump mengatakan bahwa meskipun Eropa bersedia mengerahkan pasukan dalam beberapa bentuk, Amerika Serikat tidak akan melakukannya, meskipun dapat memberikan bantuan lain.

“Akan ada semacam pengamanan. Tidak mungkin NATO,” katanya. “Mereka bersedia mengerahkan pasukan darat. Kami bersedia membantu mereka dalam berbagai hal, terutama, mungkin, jika bisa dibicarakan lewat udara.”

Ketika ditanya jaminan apa yang bisa dia berikan bahwa pasukan AS tidak akan berada di darat untuk mempertahankan perbatasan Ukraina, Trump mengatakan: “Anda mendapatkan jaminan saya. Anda tahu, saya presiden.” (yn)

Insiden “Mie Tambahan” di Zhengzhou, Tiongkok  Memanas: Ribuan Warga Kepung Restoran

“Tutup! Tutup!” Pada 18 Agustus malam, ribuan warga Zhengzhou, Henan, mengepung sebuah restoran mie hingga memaksa toko itu menutup pintu. Menurut informasi di internet, restoran ini sebelumnya melakukan perundungan daring terhadap seorang anak yang meminta tambahan mie, lalu terbongkar pula berbagai skandal lain, sehingga memicu kemarahan publik.

EtIndonesia. Berdasarkan beberapa video yang beredar di media sosial Tiongkok. Pada malam itu massa mengelilingi restoran bernama “Jiaxian Lao Huo Ji He Le Mian”, sambil mengecam keras pemiliknya karena dianggap menindas pelanggan.

Polisi dikerahkan ke lokasi untuk mengawasi situasi, beberapa di antaranya berjaga langsung di pintu masuk restoran. Warga di lokasi meneriakkan, “Tutup! Tutup!”

Seorang netizen yang merekam di lokasi mengatakan: “Mereka sekarang sudah bersiap menutup toko, orang di sini masih sangat banyak. Saya tadi siaran langsung, akun saya langsung diblokir. Mereka (pemilik dan pegawai) sekarang bersembunyi di dalam.”

Kasus pengepungan ini bermula dari “insiden mie tambahan”. Pada 13 Agustus, pemilik restoran mengunggah video yang menyebut tiga wanita dewasa membawa empat anak kecil datang ke tokonya, tetapi hanya memesan satu mangkuk mie. Setelah meminta tambahan mie gratis berkali-kali dan ditolak, kedua belah pihak berselisih. Salah satu wanita lalu memberi restoran itu ulasan buruk.

Video “mie tambahan gratis” tersebut menjadi viral. Namun, kasus ini kemudian berbalik. Pelanggan yang terlibat, Ny. Ma, mengatakan kepada media bahwa pemilik restoran telah menyesatkan publik dengan menyebut mereka hanya memesan satu mangkuk mie. Faktanya, mereka juga memesan beberapa menu lain dengan total tagihan 140 yuan.

Ny. Ma menuduh pemilik restoran melanggar hak potret dengan mengunggah video tanpa izin, sehingga merusak kehidupan pribadi mereka serta memberi tekanan psikologis pada anak-anak. Ia akhirnya memutuskan menuntut restoran tersebut. Video itu kini telah dihapus.

Setelah kasus ini ramai, semakin banyak netizen mengungkap skandal lain: pemilik restoran dituduh menunggak gaji karyawan, menindas kurir makanan, serta menipu murid dengan memungut biaya pelatihan tetapi tidak mengajarkan resep atau keterampilan yang dijanjikan. Hal itu makin memicu kemarahan warga hingga terjadi pengepungan besar-besaran, dengan tuntutan agar restoran segera ditutup.

Komentar netizen di kolom video berbunyi:  “Bos itu juga menipu uang orang. Dia memungut biaya dari murid, tapi tidak mengajar, malah menyuruh mereka jadi pelayan.”

“Kebohongan pertama bos: 7 orang hanya pesan 1 mangkuk mie — padahal pesan menu lain.
Kebohongan kedua: nilai tagihan 13–60 yuan — padahal 140 yuan.
Kebohongan ketiga: katanya tambah mie 3 kali — padahal hanya 2 kali.
Kebohongan keempat: 7 orang makan 1 mangkuk mie — tidak ada bukti video. Bisa jadi ada yang tidak makan mie, hanya 1 anak yang mau makan.
Kebohongan kelima: ulasan buruk karena mie tambahan — sebenarnya karena sikap buruk koki yang menakutkan anak-anak.

Kebohongan keenam: katanya sudah berdamai — nyatanya masih mengunggah video menghina mereka dengan sebutan ‘Tujuh Serigala’.”

Setelah restoran dikepung warga dan dipaksa tutup, pemiliknya akhirnya mengunggah video permintaan maaf, mengaku tindakannya berlebihan karena emosi, serta menyatakan restoran tetap akan menyediakan layanan “mie tambahan gratis”.

Namun, pada 19 Agustus, video terbaru menunjukkan restoran itu masih tertutup rapat. Di depan pintu tampak banyak staf dengan ban lengan merah berjaga, sementara warga dilarang berkumpul di lokasi.

Seorang netizen menyindir: “Ban lengan merah sekarang jadi penjaga toko.”

Sumber : NTDTV.com

Wanita Tiongkok Menyerang Petugas Imigrasi di Bandara Malaysia, Mengaku Bersalah dan Dijatuhi Hukuman

Baru-baru ini, seorang perempuan asal Tiongkok di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, karena tidak puas dengan proses pemeriksaan keberangkatan, nekat menarik jilbab petugas imigrasi wanita lalu membenturkan kepalanya ke tiang konter, menyebabkan petugas tersebut mengalami luka-luka. Pelaku langsung ditangkap,  baru-baru ini ia mengaku bersalah, dijatuhi hukuman denda dan penjara 1 bulan.

EtIndonesia. Kejadian berlangsung pada 13 Agustus pukul 19.40, saat perempuan Tiongkok itu bersama suami dan dua anaknya hendak keluar negeri. Karena tidak memiliki catatan masuk ke Malaysia, mereka ditahan untuk pemeriksaan oleh petugas imigrasi. Pelaku tidak hanya memaki dengan kata-kata kasar, tetapi juga memukul petugas wanita hingga korban mengalami beberapa luka. Korban kemudian dibawa ke RS Cyberjaya untuk perawatan.

Menurut laporan media Malaysia China Press pada 18 Agustus, terdakwa bernama Fang Fuyuan ( 31 tahun), dituduh dengan sengaja melukai seorang pegawai negeri yang sedang menjalankan tugas di konter imigrasi lantai 4 Terminal 1 Bandara Internasional Kuala Lumpur pada malam 13 Agustus.

Saat itu, karena tidak ada catatan masuk, keluarga terdakwa ditahan untuk pemeriksaan. Petugas juga meminta mereka menepi agar penumpang lain bisa lewat. Namun, terdakwa malah bereaksi agresif dengan suara keras, menarik jilbab petugas, lalu membenturkan wajah dan kepala korban ke tiang konter, sehingga petugas mengalami gegar otak, luka di wajah kiri, memar serta bengkak di bawah mata.

Tim medis kemudian mengkonfirmasi adanya cedera jaringan lunak pada bagian parietal kanan kepala korban.

Badan Pengendalian dan Perlindungan Perbatasan Malaysia (AKPS) segera memanggil tim keamanan bandara (AVSEC), tetapi terdakwa tetap menolak tenang hingga akhirnya ditangkap oleh Polisi Kerajaan Malaysia (PDRM) untuk penyelidikan.

Polisi menyatakan kasus ini diselidiki dengan merujuk pada Pasal 186 KUHP (menghalangi petugas menjalankan tugas), Pasal 332 (melukai petugas), dan Pasal 353 (menggunakan kekerasan kriminal terhadap petugas).

AKPS menegaskan sikap tegas bahwa mereka “zero tolerance” terhadap segala bentuk kekerasan, pelecehan, maupun ancaman terhadap aparat penegak hukum, serta meminta agar pelaku dihukum berat.

Laporan menyebutkan bahwa pada 18 Agustus, Fang Fuyuan didakwa di pengadilan karena dengan sengaja melukai petugas imigrasi dan menghalangi tugas aparat. Di hadapan hakim, ia menunduk dan mengaku bersalah. Hakim Kairaduanima menjatuhkan hukuman penjara 1 bulan sejak tanggal penangkapannya (13 Agustus), serta denda 2.000 ringgit Malaysia (sekitar Rp12 juta). Jika gagal membayar denda, hukuman diganti dengan penjara 2 bulan.

Jaksa penuntut, Deputi Jaksa Luvita, meminta hakim menjatuhkan hukuman yang setimpal, agar menjadi pelajaran bagi terdakwa dan masyarakat. “Meski terdakwa mengaku hanya bertindak karena emosi, tindakannya telah melukai seorang petugas publik. Pengadilan harus menegaskan bahwa kejahatan seperti ini tidak dapat diterima masyarakat.”

Sumber ; NTDTV.com

Hal-hal yang Ditemui dalam Perjalanan Hidup

EtIndonesia. Sejak awal, manusia selalu ingin tahu hasil dari setiap langkahnya—apakah ini keputusan terbaik, apakah hasilnya akan sesuai harapan. Tugasku hanyalah memberi arahan, tapi pada akhirnya keputusan tetap berada di tangan masing-masing orang. Namun sering kita lihat, ada orang yang tahu bahaya di depan, tetapi tetap memilih untuk maju. Itulah sifat manusia: suka menantang diri sendiri. Walau sadar hasilnya mungkin mengecewakan, tetap ada keyakinan bahwa “aku sudah berusaha.”

Takdir

Takdir memang sudah ditetapkan sejak lahir, tetapi bukan berarti tidak bisa diubah. Dengan usaha dan ketekunan, meski gagal, kita tetap mendapat pengalaman berharga yang akhirnya ikut membentuk jalan hidup kita. Mengapa hidup sering diibaratkan sebagai sebuah perjalanan? Karena hidup adalah proses panjang yang penuh pasang surut. Nasib sejatinya ditentukan oleh diri kita sendiri, bukan oleh orang lain. Apa yang kita lakukan akan membuahkan hasil sesuai hukum sebab-akibat. Hidup selalu berputar, tapi kendali ada di tangan kita. Kesempatan hanya datang kepada mereka yang sudah menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh—dan saat itulah peluang sukses meningkat.

Tidak ada yang benar-benar “takdir mutlak.” Yang ada hanyalah kerja keras tanpa henti. Tidak ada hasil yang pasti, yang ada hanyalah proses yang terus berubah seiring pikiran kita. Manusia bisa berubah setiap detik—apa yang dipikirkan bisa berbeda dengan yang dilakukan, bahkan bisa berbeda dengan yang diucapkan. Karena itu, setiap orang seharusnya belajar menimbang untung-rugi, agar setiap langkah tetap masuk akal. Keajaiban memang ada, tapi biasanya lahir dari usaha yang berkesinambungan. Ada orang yang terlihat selalu beruntung, tapi itu karena ia sebelumnya sudah banyak menebar kebaikan. Saat kita menjadi “penolong” bagi orang lain, maka kehidupan pun akan mendatangkan penolong bagi kita. Itulah siklus kebaikan.

Energi positif dan aura yang baik lahir dari lingkaran kebaikan. Sebongkah giok tetap akan berkilau meski diletakkan di tempat gelap. Setelah melewati tempaan waktu, ia justru akan memancarkan cahaya lebih indah. Begitu pula manusia—jika ingin “berbunga” dan berbuah manis, harus mau terus berusaha, terus belajar. Ilmu bisa mengubah nasib. Ungkapan itu bukan sekadar pepatah kosong. Dengan ilmu, kita belajar mengenali orang, belajar menilai dengan lebih tepat, dan pada akhirnya kita akan bertemu orang baik serta mengerjakan hal-hal yang membawa kelancaran. Semua keputusan tetap berada di tangan kita sendiri.

Ada hal-hal yang tak bisa kita hindari—kita tetap harus menghadapinya. Pilihan ada di tangan kita. Bertahan pada hal yang kita cintai memang sulit, tapi yang penting bukan hanya berbicara, melainkan benar-benar melakukannya.

Kejujuran dan integritas adalah kunci. Apa yang kita ucapkan harus bisa dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kata-kata kita justru membawa dampak negatif pada orang lain. Mengatakan memang mudah, tapi melakukan sungguh sulit. Hanya sedikit orang yang benar-benar mampu menjalaninya. Tidak ada yang “terlahir cocok,” semua harus melalui upaya, latihan, dan penyesuaian. Dalam hubungan, misalnya, meski sudah berkorban banyak, tidak selalu hasilnya sesuai harapan.

Karena itu, takdir tetap ada di tangan kita. Jika hanya menyerah pada prinsip “biarlah mengalir apa adanya,” maka kita juga tidak boleh menolak saat keburukan datang. Ada orang yang memilih menghadapi dengan tenang, ada juga yang berusaha menghindar.

Ada pepatah: “Perahu akan lurus begitu tiba di jembatan.” Tapi jika sejak awal kita tidak mengemudikan perahu dengan baik, sekali ombak besar datang, perahu bisa terbalik. Begitulah hidup: kendali tetap ada di tangan kita. Baik buruknya hidup, semuanya bergantung pada pilihan kita sendiri. Tak seorang pun bisa sepenuhnya bertanggung jawab atas hidup orang lain. Kita hanya bisa menasihati, membantu memperbaiki pelan-pelan.

Kalau memang tak bisa diperbaiki, maka kita harus tahu kapan waktunya berhenti dan melepas. Itulah yang disebut “cut loss.” Karena hidup sejatinya adil—usia manusia paling panjang sekitar 150 tahun, tapi apakah bisa sampai sejauh itu? Semuanya bergantung pada bagaimana kita menjalaninya. Jalan mana yang ditempuh, semua adalah hasil pilihan sendiri. Jadi jangan selalu menyalahkan takdir. Takdir bukan sesuatu yang jatuh dari langit, tapi sesuatu yang kita bentuk melalui keputusan dan tindakan kita.(jhn/yn)

Zelenskyy Ungkap Ide Gila: Tukar Wilayah Demi Perdamaian?”

EtIndonesia. Situasi geopolitik Rusia–Ukraina kembali mengalami dinamika baru setelah serangkaian pernyataan penting dari Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, serta langkah diplomatik Presiden Amerika, Serikat Donald Trump. Rangkaian perkembangan ini dinilai sebagai upaya nyata menuju pembentukan kerangka perdamaian, meski masih menyisakan banyak ketidakpastian.

Zelenskyy: Masalah Teritorial Hanya Diputuskan dengan Putin

Dalam konferensi tingkat tinggi pada 18 Agustus 2025, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa isu teritorial Ukraina hanya dapat diputuskan langsung antara dirinya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dia menekankan bahwa negosiasi harus berlangsung tanpa prasyarat agar tidak memberi peluang Rusia menambah tuntutan.

“Kita harus bertemu tanpa syarat dan memikirkan bagaimana menuju jalan akhir perang,” ujar Zelenskyy.

Lavrov: Rusia Tak Berniat Mencaplok Wilayah Ukraina

Sehari kemudian, 19 Agustus 2025, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyatakan bahwa Moskow tidak memiliki niat untuk mencaplok wilayah Ukraina.

Dia menegaskan operasi militer hanya dimaksudkan untuk melindungi warga etnis Rusia. Pernyataan ini dipandang sebagai langkah “turun tangga” Rusia—sebuah sinyal pelunakan nada diplomatik di tengah tekanan global.

Trump Atur Pertemuan Zelenskyy–Putin

Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News mengungkapkan bahwa dia sedang mengatur pertemuan bilateral antara Zelenskyy dan Putin.

Trump menegaskan bahwa dirinya baru akan bergabung dalam format trilateral jika pertemuan awal itu berjalan baik. Dia juga memberi isyarat bahwa Ukraina kemungkinan perlu melakukan konsesi teritorial demi membuka jalan perdamaian.

Menurut laporan Ukrainska Pravda, Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Putin sendiri yang mengusulkan format bilateral terlebih dahulu. Bahkan, Reuters menyebut Hungaria dipertimbangkan sebagai lokasi pertemuan karena negara itu tengah dalam proses keluar dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC), sehingga Putin tidak berisiko ditangkap.

Peta Wilayah Jadi Perdebatan

Dalam pertemuan di Gedung Putih, Zelenskyy dan Trump sempat berselisih pandangan mengenai peta wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia. Namun, Zelenskyy menyebut diskusi berjalan dengan baik dan substantif—bahkan “yang terbaik sejauh ini.”

Trump setelahnya menegaskan bahwa persiapan teknis pertemuan bilateral Ukraina–Rusia sudah dimulai.

Isu Pertukaran Wilayah dan Dukungan Barat

Laporan Wall Street Journal menyebut, untuk pertama kalinya Zelenskyy menyatakan terbuka pada ide pertukaran wilayah proporsional dengan Rusia, asalkan Ukraina mendapat jaminan keamanan penuh dari AS dan Eropa.  Skema tersebut juga dibarengi paket dukungan ekonomi dan militer senilai 90 miliar dolar, di mana Eropa akan mendanai Ukraina membeli persenjataan besar-besaran dari AS.

Menurut Presiden Finlandia, Alexander Stubb, rincian jaminan keamanan AS bagi Ukraina bisa selesai dalam sepekan. Menlu AS, Marco Rubio ditunjuk memimpin penyusunan dokumen tersebut, mencakup empat aspek:

  1. Kehadiran militer,
  2. Sistem pertahanan udara,
  3. Persenjataan,
  4. Pengawasan gencatan senjata.

AS sendiri akan memberi dukungan militer tidak langsung melalui pasukan penjaga perdamaian Eropa. Zelenskyy menyatakan detail paket ini akan diumumkan dalam 7–10 hari ke depan.

Bloomberg menambahkan bahwa AS dan Eropa sedang menyiapkan pasukan multinasional baru untuk memperkuat pertahanan Ukraina, tanpa batasan jumlah pasukan yang dapat diterjunkan.

Posisi Tiongkok Melemah

Di sisi lain, posisi Tiongkok dalam percaturan geopolitik kian melemah. South China Morning Post mengutip analis Universitas Tsinghua yang menilai, jika ketegangan Rusia–Barat mereda, AS dapat lebih leluasa memfokuskan kekuatan militernya ke Asia-Pasifik.

NATO bahkan menyebut Tiongkok sebagai pendorong utama perang Rusia–Ukraina, dengan Barat sudah menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan Tiongkok.

Menurut pengamat independen, absennya Beijing dalam pertemuan Trump–Putin di Alaska memperlihatkan bahwa Tiongkok telah kehilangan kursinya di meja perundingan.

Akademisi Taiwan Zheng Jinmo menambahkan, jika Rusia kembali merapat ke Barat, ketergantungan Moskow terhadap Beijing akan berkurang drastis, merugikan Tiongkok yang selama ini menikmati pasokan energi murah dari Rusia.

Sinyal Perubahan Arah

Secara keseluruhan, pernyataan Zelenskyy, Lavrov, dan Trump memperlihatkan bahwa pintu diplomasi mulai terbuka setelah sekian lama perang berkutat pada pertempuran di garis depan.

Namun, meski ada sinyal positif, potensi kompromi—khususnya soal isu teritorial—masih menjadi tantangan besar yang bisa memicu pro dan kontra, baik di dalam negeri Ukraina maupun di panggung internasional.

Kolaborasi Indosat, Erafone, dan Oppo untuk Meriahkan Festival Belanja di Jawa Timur

0

Surabaya, 19 Agustus 2025 – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) melalui brand IM3, bersama Erafone dan Oppo, resmi menggelar Festival Belanja Erafone di Jawa Timur. Ajang ini berlangsung mulai 15 Agustus hingga 30 September 2025 di seluruh toko Erafone wilayah Jawa Timur, membawa sederet promo menarik, penawaran eksklusif, serta pengalaman belanja yang lebih dekat dengan pelanggan.

Sebagai bagian dari kolaborasi ini, IM3 menghadirkan IM3 Platinum, layanan pascabayar baru dari Indosat yang menawarkan pengalaman digital lebih simpel dan naik level, dilengkapi kuota besar, prioritas jaringan, serta perlindungan digital melalui fitur SATSPAM. Bersama Erafone dan Oppo, IM3 menyapa langsung masyarakat melalui rangkaian Festival Belanja di tiga lokasi utama dan ratusan lokasi lainnya, diantaranya:

  • Erafone & More Ruko Raya Manyar Surabaya,
  • Erafone Megastore 3.0 Sutoyo Malang, serta
  • Erafone Kediri Town Square

Erafone, sebagai salah satu store partner utama IM3 Platinum khususnya di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Festival ini menjadi momentum penting untuk memperluas jangkauan layanan sekaligus mempererat kedekatan dengan pelanggan, memudahkan masyarakat mendapatkan paket internet premium IM3 Platinum yang sesuai dengan gaya hidup digital mereka.

Mulyana Sopian, Head of Region 4 (East Java, Bali Nusra, dan Kalimantan) Erajaya Digital, mengatakan, “Erafone memiliki hampir 139 store di Jawa Timur, dan jumlah ini akan terus bertambah seiring meningkatnya potensi pasar di wilayah ini. Melalui Festival Belanja Erafone, kami ingin memberikan kemudahan akses dan pilihan produk yang lebih lengkap, sekaligus menghadirkan pengalaman belanja yang bernilai tambah bagi masyarakat.”

Oppo sebagai device partner menghadirkan promo bundling eksklusif Oppo Reno 14 Series dengan paket Platinum 50GB/bulan untuk 12 bulan hanya dengan Rp600.000 atau paket Platinum 50GB/bulan selama 24 bulan seharga Rp1.200.000. Penawaran ini berlaku pada 15–31 Agustus 2025 di seluruh store Erafone wilayah Jawa Timur.

Mr. Lucky, Regional General Manager Oppo Surabaya, menyampaikan, “Bundling ini memberikan pelanggan kesempatan untuk memiliki smartphone berkualitas dengan paket internet lengkap, sehingga mereka dapat menikmati konektivitas dan hiburan tanpa batas.”

Tak hanya promo perangkat, IM3 Platinum juga menghadirkan fitur SATSPAM, inovasi berbasis AI yang secara proaktif melindungi pelanggan dari ancaman scam dan spam. Fitur ini merupakan bagian dari AIvolusi5G—gabungan kecerdasan buatan canggih dan jaringan 5G Indosat yang responsif, adaptif, dan relevan.

Fahd Yudhanegoro, EVP–Head of Circle Java Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan, “Sejalan dengan semangat Hari Kemerdekaan Indonesia, SATSPAM menjadi simbol kemerdekaan dari ancaman penipuan digital, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk memanfaatkan teknologi secara aman dan bermanfaat. Rasa aman di ruang digital adalah hak semua orang, dan teknologi harus menjadi pelindung, bukan sekadar penghubung.”

Melalui kolaborasi ini, Indosat Ooredoo Hutchison, Erafone, dan Oppo menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan solusi komunikasi, perangkat, dan keamanan digital yang terintegrasi, demi mendukung kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di era konektivitas tanpa batas.

Belajar Bertanggung Jawab atas Diri Sendiri

EtIndonesia. Yang benar-benar bisa meruntuhkan seseorang bukanlah kekurangan harta benda atau sedikitnya kekayaan, melainkan kelemahan dan rasa kekurangan yang ada di dalam hati. Saat sakit, misalnya, kita akan merasakan kebutuhan kuat untuk didampingi dan diperhatikan. Inilah salah satu tantangan terbesar dalam hidup seseorang, karena sejak kecil budaya kita telah membentuk keyakinan bahwa menghadapi kesulitan sendirian adalah sesuatu yang menakutkan.

Sering kita berpikir: “Seorang diri itu menyedihkan. Kalau sakit dan tak ada yang merawat, sungguh malang nasibnya.”

 Namun bukankah langkah pertama saat sakit adalah mencari pengobatan? Mencari tahu penyebab penyakit lalu berusaha menyembuhkannya? Sayangnya, banyak dari kita justru terjebak dalam badai emosi, bukannya fokus mencari jalan keluar.

Menghadapi Paradoks Kesendirian

Di zaman sekarang, kita sering mendengar istilah “individuasi”—pencapaian diri sebagai pribadi yang utuh. Kita bebas memilih menjalani hidup sendiri: bepergian sendirian, makan sendirian, menonton film sendirian. Tapi mengapa saat sakit, kita merasa tak mampu menghadapinya sendiri?

Kesendirian sejatinya hanyalah sebuah kondisi. Faktanya, kita tidak pernah benar-benar sendirian.

·        Saat bepergian seorang diri, kita tetap bertemu banyak orang di perjalanan.

·        Saat makan seorang diri, tetap ada orang-orang lain di sekitar meja.

·        Saat menonton film sendiri, tetap ada penonton lain di bioskop.

·        Saat berobat pun, ada dokter, perawat, dan pasien lain yang sama-sama menjalani proses penyembuhan.

Jadi, yang membuat kita merasa sepi sebenarnya bukanlah keadaan objektif, melainkan kekecewaan batin karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Belajar Menerima dan Merawat Diri

Tidak ada orang yang benar-benar ingin hidup sendirian. Namun jika pada suatu titik kita memang harus menjalaninya, maka yang terbaik adalah belajar menerima dan menghadapinya. Kita perlu melepaskan kerangka sosial dan keyakinan yang menempelkan stigma pada kondisi “sendiri.” Dengan begitu, kita bisa berdamai dengan diri sendiri, lebih terbuka, dan lebih sehat dalam memandang hubungan dengan orang lain.

Kunci utamanya adalah bertanggung jawab atas diri sendiri dalam setiap hubungan. Artinya, kita tidak sekadar masuk dalam hubungan untuk menuntut atau mengambil sesuatu dari orang lain, melainkan terlebih dahulu mampu menjaga dan merawat diri. Hanya dengan cara itu kita bisa menjalin hubungan yang lebih sehat, saling memberi, dan lebih bermakna.

 Kamu Ingin Menjadi Seperti Apa?

Sepanjang hidup, setiap orang selalu berada dalam pencarian—mencari tahu apa yang bisa dilakukan, dan ingin menjadi pribadi seperti apa.

Ada orang yang beruntung, sejak awal sudah tahu apa tujuan hidupnya, lalu dengan mantap melangkah untuk mewujudkannya. Namun ada pula yang berjalan tertatih, masih ragu dan belum yakin apa yang sebenarnya ingin dikejar, apa yang bisa dicapai.

Melihat kelebihan dan kekurangan diri bukanlah untuk memaksakan diri mengejar hal-hal yang bukan milik kita, melainkan untuk memperkuat apa yang memang menjadi keunggulan kita. Sebagian besar orang akan memilih untuk mengasah kelebihan itu hingga menjadi keahlian yang membawa mereka pada jalan hidup yang lebih jelas.

Tapi sering kali, alasan kita belum yakin bukanlah karena tidak mampu, melainkan karena tidak percaya diri, takut mengambil keputusan, dan enggan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

Saat belum punya tujuan atau arah yang jelas, kita kerap berhenti di titik “menunggu.” Seolah hanya menjalani sesuatu tanpa arah, tanpa tahu apakah akan menghasilkan sesuatu. Namun jika kita menyerah dan benar-benar berhenti, kita takkan pernah mendapatkan jawabannya. Bisa jadi hasil akhirnya tidak sesuai dengan ekspektasi, tetapi proses yang kita jalani justru memberi pelajaran yang lebih berharga.

Berpikir tidak akan memberi hasil, hanya bertindaklah yang membawa jawaban. Kita semua sedang mencari, dan dalam perjalanan hidup inilah kita terus mencoba, belajar, dan menemukan siapa diri kita sebenarnya.(jhn/yn)

Tiga Tahap yang Dilalui dalam Perjalanan Menuju Kesuksesan

EtIndonesia. Bagaimana menuju keberhasilan hidup sekaligus meraih ketenangan batin?

 Ada tiga kunci:

1. Masa Ketergantungan

2. Masa Kemandirian

3. Masa Saling Ketergantungan

Memahami Hakikat Manusia

1. Tubuh

·        Dari sudut pandang budaya: mempertahankan pola hidup yang ada.

·        Dari sudut pandang prinsip: menjalani hidup sesuai prinsip kesehatan global yang berlaku.

2. Intelek

·        Dari sudut pandang budaya: hiburan semata, seperti menonton TV.

·        Dari sudut pandang prinsip: membaca secara luas dan mendalam untuk memperkaya wawasan.

3. Emosi

·        Dari sudut pandang budaya: memanfaatkan hubungan demi keuntungan pribadi.

·        Dari sudut pandang prinsip: menghargai orang lain, mendengarkan secara mendalam, dan melayani dengan tulus.

4. Spiritualitas

·        Dari sudut pandang budaya: sekadar mengikuti kebiasaan agama atau adat, bahkan terbiasa meremehkan atau mengejek orang lain.

·        Dari sudut pandang prinsip: memperkaya moral, mengejar kehidupan yang sederhana dan murni.

Dari Masa Ketergantungan Menuju Kemandirian

·        Pastikan peta yang kita pegang benar.
Tidak cukup hanya berperilaku lebih rajin atau bersikap lebih positif jika peta pikiran yang kita gunakan salah.

       Semua usaha baru bermakna jika didasarkan pada peta pikiran yang tepat.
Memiliki peta pikiran berarti benar-benar mengenal diri sendiri.

·        Peta pikiran & prinsip.
Peta pikiran mencerminkan cara berpikir seseorang dan menentukan nilai-nilainya.
Nilai-nilai tersebut akan mempengaruhi prinsip hidup yang ia tetapkan.
Saat menghadapi masalah, prinsip inilah yang menjadi dasar cara kita merespons.

·        Orang dengan kesadaran diri lemah cenderung hanya mengikuti misi yang diberikan keluarga, masyarakat, atau lingkungannya, sering kali berdasarkan selera pribadi, tanpa mempertimbangkan prinsip objektif. Biasanya ini berakar dari mentalitas ketergantungan yang terlalu kuat.

·        Orang yang berpegang pada prinsip akan:

o   Tetap tenang dan objektif.

o   Tidak mudah terpengaruh emosi atau tekanan luar.

o   Melihat persoalan secara menyeluruh dan membuat keputusan bijak.

Bagaimana Memiliki Kemampuan Beradaptasi?

·        Pegang teguh keyakinan pada tujuan dan nilai hidup.

·        Sadari bahwa kemandirian adalah fondasi dari saling ketergantungan.

·        Pencapaian pribadi adalah dasar dari keberhasilan bersama.

·        Menyelesaikan masalah bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan memberi teladan nyata.

·        Hubungan antarmanusia lebih ditentukan oleh sifat dasar, bukan sekadar bahasa.

Dari Kemandirian Menuju Saling Ketergantungan

·        Perbedaan antara menghadapi orang dan menghadapi masalah:

o   Menghadapi masalah: utamakan efisiensi.

o   Menghadapi orang: utamakan mendengarkan dan memahami konteks.

·        Risiko ketika mencoba memahami orang lain:

o   Jika ingin memengaruhi orang lain, kita pun akan terpengaruh oleh mereka.

o   Diperlukan kematangan pribadi untuk tetap memegang kendali dan menjaga ketenangan batin.

o   Syaratnya: sudah melewati masa kemandirian dengan kokoh.

·        Menciptakan pengaruh tanpa terpengaruh:

o   Orang proaktif fokus pada lingkar pengaruh, mengerahkan tenaga pada hal-hal yang bisa mereka ubah.

o   Orang yang terjebak ketergantungan fokus pada lingkar perhatian, hanya mengeluh dan menyalahkan keadaan.

Cara Berkomunikasi dan Membangun Pengaruh Efektif

·        Konsistensi antara perkataan dan perbuatan.

·        Membangun kepercayaan lewat integritas karakter.

·        Mengedepankan empati dan keterampilan mendengarkan.

Senjata komunikasi:
Pengembangan diri, pelatihan komunikasi, dan pola pikir positif memang penting untuk membangun pengaruh, tapi bukan faktor terpenting.
Kekuatan sejati terletak pada kualitas batin, bukan sekadar penampilan luar.

Kesepakatan Kinerja yang Menguntungkan Semua Pihak

·        Fokus pada hasil, bukan hanya proses.

·        Dengan fokus pada hasil, proses akan membentuk kapasitas diri, bukan hanya angka pencapaian.

Kalau Sulit Menerapkan Pola Pikir “Menang dan Menang”

·        Perjelas motivasi pribadi.

·        Pahami apa yang benar-benar menjadi kemenangan versi dirimu.

Ciri orang dengan kematangan pribadi:

·        Disiplin terhadap diri sendiri.

·        Lapang dada terhadap orang lain.

·        Menunjukkan kemampuan di saat yang tepat.(jhn/yn)

Strategi Perang Dunia II Terulang? Trump Satukan Rusia Hadapi Tiongkok

EtIndonesia. Situasi geopolitik internasional bergerak dengan kecepatan luar biasa setelah pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Alaska pada 15 Agustus 2025. Hanya tiga hari berselang, Trump langsung menggelar pertemuan penting di Gedung Putih yang dihadiri Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, Kanselir Jerman, Friedrich Merz, Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, Presiden Finlandia, Alexander Stubb, serta Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte.

Trump Telepon Putin di Tengah Pertemuan

Dalam momen yang mengejutkan, Trump secara tiba-tiba menghubungi Putin melalui pengeras suara agar Zelenskyy dan para pemimpin Eropa dapat mendengarkan langsung percakapan itu. Langkah ini berbuah kesepakatan awal untuk mempertemukan Putin dan Zelenskyy secara tatap muka.

Menurut analis hubungan internasional Lan Shu, manuver Trump ini memiliki dua tujuan strategis:

  1. Menekan Putin dan Zelenskyy secara politik di hadapan para pemimpin Eropa.
  2. Memanfaatkan sorotan media global untuk menunjukkan tekadnya mendorong perdamaian Rusia–Ukraina.

Tiga Hasil Utama Pertemuan Gedung Putih

Presiden Zelenskyy merangkum hasil diskusi menjadi tiga poin penting:

  1. Jaminan Keamanan Ukraina – Perlindungan keamanan akan dijamin oleh AS dan Eropa.
  2. Pertukaran Tawanan Perang – Telah dicapai kesepakatan awal.
  3. Rencana Pertemuan Rusia–Ukraina – Isu teritorial akan dibahas lebih lanjut dalam forum bilateral atau trilateral.

Zelenskyy menegaskan bahwa dalam 10 hari mendatang, mekanisme rinci jaminan keamanan akan dirumuskan. Dia menekankan bahwa Ukraina membutuhkan dukungan penuh—mulai dari militer, senjata, pelatihan, hingga intelijen—dengan sifat jangka panjang yang menyerupai prinsip pertahanan kolektif ala NATO.

Sikap Rusia dan Analisis Politik

Kementerian Luar Negeri Rusia menolak keras kemungkinan penempatan pasukan NATO di Ukraina, dengan alasan hal itu berpotensi memicu eskalasi serius. Namun, menurut Lan Shu, pernyataan itu masih dalam koridor diplomasi standar dan bukan tanda kebuntuan.

Pengamat politik Wu Jialong menilai bahwa keterlibatan langsung Trump dan Putin menunjukkan negosiasi telah memasuki tahap akhir.

 “Risikonya tinggi, tetapi justru ini menandakan kesiapan kedua pihak untuk mencapai kesepakatan,” jelasnya.

Kritik Internal di Amerika Serikat

Di dalam negeri, muncul kritik terhadap strategi Trump. Mantan penasihat senior, Steve Bannon, memperingatkan bahwa jaminan keamanan justru berpotensi menyeret dunia ke perang besar, mengingat sejarah Perang Dunia I (kasus Belgia) dan Perang Dunia II (kasus Polandia).

Sementara itu, David Brat, Dekan Liberty University Business School, menyoroti beban ekonomi. Dia menegaskan bahwa biaya perang Rusia–Ukraina sesungguhnya ditanggung rakyat Amerika melalui pajak. 

“Setiap rudal yang ditembakkan bernilai 15 juta dolar dari kantong rakyat AS,” katanya. 

Dia menambahkan bahwa pihak yang paling diuntungkan dari kondisi ini justru Beijing, karena sumber daya AS terkuras.

Trump, Putin, dan Faktor Tiongkok

Banyak analis menduga Trump tengah berusaha mengulang strategi Perang Dunia II: menyatukan AS dan Rusia melawan musuh bersama, kali ini Tiongkok. Spekulasi ini diperkuat dengan laporan bahwa Trump dan Putin sempat membahas strategi menghadapi Beijing dalam perjalanan menuju pertemuan Alaska.

Pakar Taiwan, Lin Tinghui, mengungkapkan bahwa Presiden Xi Jinping sempat menelpon Putin sebelum berangkat ke Alaska. Xi menegaskan bahwa “masalah rumit tak bisa hanya diselesaikan oleh AS–Rusia,” sebuah sinyal kuat bahwa Beijing ingin ikut menentukan arah.

Kontroversi: Trump Diduga Menghina Xi Jinping

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengklaim bahwa Xi Jinping pernah berkata kepadanya: “Selama Anda masih menjadi presiden, Tiongkok tidak akan menyerang Taiwan.”

Pernyataan itu dianggap sebagai penghinaan besar terhadap Xi karena Tiongkok selalu menegaskan Taiwan sebagai bagian dari kedaulatannya. Menariknya, Pemerintah Tiongkok tidak membantah isi pernyataan Trump. Jubir Kedutaan Besar Tiongkok di Washington hanya menekankan agar AS tetap mematuhi prinsip “Satu Tiongkok”.

Latar Belakang: Mengapa Trump Keras pada Tiongkok?

Mantan Penasihat Keamanan Nasional, H.R. McMaster, dalam bukunya Battlegrounds menjelaskan perubahan drastis sikap Trump terhadap Tiongkok sejak kunjungan kenegaraan ke Beijing pada 2017. Dua insiden disebut menjadi titik balik:

  1. Penasihat Matthew Pottinger, yang fasih berbahasa Mandarin, dilarang ikut masuk ke ruang pertemuan di Kota Terlarang.
  2. PM Li Keqiang menyatakan secara terbuka bahwa Tiongkok tidak lagi membutuhkan AS, yang hanya dianggap sebagai pemasok bahan mentah.

Sejak itu, Trump menyimpulkan bahwa Tiongkok pada akhirnya akan menjadi lawan utama Amerika.

Toronto Rayakan 450 Juta Orang Mundur dari Partai Komunis Tiongkok, Warga Tiongkok Umumkan Pengunduran Diri di Tempat

EtIndonesia. Cabang Toronto dari Pusat Global Layanan Pengunduran Diri dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) menggelar unjuk rasa akhir pekan, Sabtu (16/8). Kegiatan ini dalam rangka merayakan lebih dari 450 juta rakyat Tiongkok yang telah keluar dari organisasi PKT, termasuk Partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda. 

Di lokasi acara, sejumlah warga Tiongkok secara terbuka mengumumkan “tiga pengunduran diri” (san tui), menegaskan tekad mereka untuk memutuskan hubungan dengan PKT. Para peserta menyatakan bahwa gerakan ini telah membangunkan rakyat Tiongkok agar melihat kejahatan PKT dengan jelas dan mendorong Tiongkok menuju kebebasan.

Pada 16 Agustus 2025, ratusan praktisi Falun Gong di Toronto mengadakan aksi dan pawai di pusat kota untuk mendukung 450 juta warga Tiongkok yang keluar dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liga Pemuda Partai Komunis Tiongkok, dan Pionir Muda PKT. (Zhang Jierui / The Epoch Times)

Kepala Cabang Toronto Pusat Global Layanan Pengunduran Diri dari PKT, Jiang Fan:  “Hari ini kita bersama-sama merayakan 450 juta saudara sebangsa yang mundur dari organisasi Partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda PKT. Mereka telah mengenali sifat jahat PKT dan memilih masa depan yang cerah.”

Seorang peserta yang mundur, He Zhongmin: “Saya ingin memutus hubungan dengan PKT, saya mundur dari partai.”

Peserta lain, Liu Chong:  “Orang Tiongkok tidaklah sama dengan PKT. Kebebasan adalah masa depan Tiongkok.”

Pada 16 Agustus 2025, ratusan praktisi Falun Gong di Toronto mengadakan aksi dan pawai di pusat kota untuk mendukung 450 juta warga Tiongkok yang keluar dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liga Pemuda Partai Komunis Tiongkok, dan Pionir Muda PKT. (Zhang Jierui / The Epoch Times)

Wakil Ketua Aliansi Demokrasi Dunia, Sheng Xue:  “Gerakan ‘tiga pengunduran diri’ pada dasarnya adalah pertahanan terhadap peradaban dunia, sebuah pertempuran melawan kekuatan jahat. Tidak diragukan lagi, kita pasti akan menang.”

Peserta menegaskan bahwa gerakan ini telah membangunkan rakyat Tiongkok untuk berani melepaskan belenggu, mengambil langkah penyelamatan diri, serta menyerukan komunitas internasional agar bersama-sama membongkar dan meminta pertanggungjawaban PKT, hingga membubarkannya. Saat ini jumlah total pengunduran diri dari PKT di seluruh dunia telah melampaui 450,7 juta orang.

Pada 16 Agustus 2025, ratusan praktisi Falun Gong di Toronto mengadakan aksi dan pawai di pusat kota untuk mendukung 450 juta warga Tiongkok yang keluar dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liga Pemuda Partai Komunis Tiongkok, dan Pionir Muda PKT. (Zhang Jierui / The Epoch Times)

Wakil Ketua Aliansi Demokrasi Kanada, Jiang Jiaji:  “Ini adalah pencapaian yang luar biasa dan penuh kebajikan. Hal ini pasti akan mempercepat tumbangnya rezim jahat PKT di masa mendatang.”

Sheng Xue menambahkan:  “Mundur dari PKT adalah pilihan penyelamatan diri terbesar dalam sejarah umat manusia—sebuah tindakan nyata.”

Liu Chong:  “Mundur dari organisasi PKT berarti membubarkan PKT secara damai, membuat kekuatan jahat ini runtuh.”

Sebanyak 15 warga Tiongkok secara langsung mengumumkan mundur dari Partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda PKT di lokasi acara. Lebih banyak lagi yang menyampaikan pernyataan pengunduran diri melalui jarak jauh.

Seorang peserta menyatakan:
“PKT bukanlah Tiongkok. Tumbangkan iblis PKT.”

Peserta lain, Ma Yan:
“Saya mundur dari Liga Pemuda PKT.”

Peserta Ma Haorui:
“Saya mundur dari Pionir Muda PKT.”

Setelah acara selesai, di Toronto dan Montreal digelar pawai besar. Rombongan bergerak melalui jalan utama di pusat kota hingga kawasan pecinan. Pawai berlangsung lebih dari satu jam dengan formasi megah, diiringi Marching Band Tian Guo, kelompok genderang pinggang, serta barisan lain. Spanduk-spanduk mencolok bertuliskan slogan seperti “Rayakan 450 juta orang mundur dari PKT” dan “Hentikan penindasan lintas negara oleh PKT”, menarik perhatian banyak orang di sepanjang jalan. 

Sumber : NTD Kanada

Menanggapi Aksi Protes Warga, PM Israel: Tragedi Teror Tidak Boleh Terulang

Pada 18 Agustus, rakyat Israel menggelar aksi protes besar-besaran menuntut segera diakhirinya perang Gaza serta pembebasan semua sandera. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menanggapi dengan tegas bahwa demi mencegah terulangnya tragedi serangan teror 7 Oktober, Hamas harus dikalahkan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bersedia membatasi program nuklirnya dengan imbalan pelonggaran sanksi.

EtIndonesia. Pada Senin, 18 Agustus 2025, serangan udara Israel ke Jalur Gaza masih berlanjut. Asap tebal terlihat membumbung di atas Khan Younis, Gaza selatan, diduga akibat ledakan.

Di hari yang sama, tank-tank Israel berkumpul di dekat perbatasan Gaza, menandakan persiapan untuk melancarkan serangan darat ke Kota Gaza.

Rencana Israel untuk menguasai seluruh wilayah Gaza menuai penolakan luas di dalam maupun luar negeri. Pada Minggu, rakyat Israel melancarkan aksi protes terbesar sejak perang Israel–Hamas meletus, disertai aksi mogok nasional. Puluhan ribu orang turun ke jalan menuntut diakhirinya perang.

Seorang pengunjuk rasa, Shai Totani, mengatakan: “Saya berharap hari ini membawa perubahan dan tercapai suatu kesepakatan. Ya, saya hanya berharap perang ini segera berakhir, tidak ada lagi kematian dan penderitaan.”

Menanggapi aksi itu, Netanyahu menegaskan bahwa demi mencegah tragedi serangan teror 7 Oktober kembali terulang, Israel harus menghancurkan Hamas.

Perdana Menteri Netanyahu: “Hari ini, mereka yang menyerukan diakhirinya perang sebelum Hamas dikalahkan bukan saja memperkuat posisi Hamas dan menunda pembebasan sandera, tetapi juga memastikan tragedi 7 Oktober akan terus berulang, memaksa anak-anak kita berjuang tanpa henti berulang kali.”

Sementara itu, upaya mediasi gencatan senjata Gaza masih berlangsung. Pada Senin, Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, dalam konferensi pers menyatakan Menteri Luar Negeri Qatar telah tiba di Kairo untuk mendorong perundingan gencatan senjata yang terhenti.

Menurut laporan media Amerika Axios yang mengutip sumber internal, Hamas telah menerima usulan gencatan senjata baru yang diajukan Qatar dan Mesir dengan sedikit modifikasi dari proposal AS. Isi kesepakatan itu mencakup gencatan senjata selama 60 hari, pembebasan 10 sandera hidup, pengembalian 18 jenazah sandera, serta pembebasan sejumlah tahanan Palestina oleh Israel.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Kattz, pada Senin menanggapi bahwa kesediaan Hamas untuk berunding muncul karena mereka takut pada rencana Israel untuk menguasai Kota Gaza.

“Beberapa minggu terakhir Hamas menolak membahas kesepakatan pembebasan sandera, meski Turki dan Qatar sudah mencoba mendekati mereka. Namun tiba-tiba saja kesepakatan ini masuk agenda. Alasannya jelas, karena mereka kini takut kami benar-benar berniat menguasai Gaza,” katanya. 

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin menyatakan siap membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.

Juru Bicara Kemenlu Iran, Esmail Baghaei: “Kami selalu menyatakan bahwa demi menegaskan sifat damai dari program nuklir kami, selama sanksi yang tidak adil dicabut, kami siap mengambil sejumlah langkah.”

Baghaei juga menambahkan bahwa Iran dalam beberapa hari ke depan akan melanjutkan kembali perundingan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Rusia Kembali Meluncurkan Serangan, Zelenskyy Kutuk Putin karena Mempermalukan Upaya Diplomatik

Berita terbaru yang diterima, menurut Angkatan Udara Ukraina, pesawat pengebom strategis Rusia telah lepas landas dan kemungkinan akan melancarkan gelombang serangan berikutnya terhadap Ukraina. Menjelang KTT Gedung Putih, Rusia kembali mengerahkan sejumlah besar drone dan rudal menyerang berbagai wilayah di Ukraina, menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk seorang balita berusia 1,5 tahun. Presiden Zelensky mengecam serangan tersebut sebagai aksi demonstratif dan penuh sindiran, yang menurutnya merupakan penghinaan terhadap upaya diplomatik para pemimpin dunia menuju perdamaian.

EtIndonesia. Asap tebal terus membumbung dari atap gedung apartemen yang hancur, menciptakan pemandangan yang mengerikan. Tim penyelamat berusaha sekuat tenaga mengevakuasi korban selamat.

Petugas penyelamat: “Saya akan mencoba menggeser pelat baja ini sedikit. Jika kamu merasa terjepit, terutama di kaki, segera katakan.”

Pada Senin (18/8/2025) pagi, penduduk Kharkiv—kota terbesar kedua di Ukraina—terbangun oleh suara ledakan drone Rusia. Serangan itu menewaskan sedikitnya 7 orang dan melukai 23 orang lainnya. Seorang bayi perempuan berusia 1,5 tahun dan kakaknya yang berusia 16 tahun termasuk di antara korban jiwa.

Tetangga korban: “Saya melihat si kecil itu mengambil langkah pertamanya tepat di depan jendela rumah saya. Itu adalah keluarga yang sangat baik.”

Warga Kharkiv, Yakusheva: “Mereka menyerang kompleks apartemen biasa, banyak unit, banyak keluarga, ada anak-anak, taman bermain, dan area hunian.”

Sementara itu, wilayah Zaporizhzhia di Ukraina tenggara juga mengalami serangan udara hebat dari Rusia yang menewaskan sedikitnya 3 orang dan melukai 20 lainnya. Di Odesa, sebuah fasilitas bahan bakar dan energi terbakar hebat setelah terkena serangan.

Pada saat serangan ini terjadi, Presiden Zelensky telah tiba di Washington untuk bertemu Presiden Trump bersama para pemimpin Eropa membahas masalah perdamaian Ukraina.

Zelenskyy menulis bahwa Rusia sengaja melancarkan serangan sebelum pertemuan di Gedung Putih sebagai bentuk demonstrasi dan sindiran. Ia mengecam hal itu sebagai penghinaan terhadap upaya diplomatik internasional. Zelensky menegaskan bahwa perang harus diakhiri dan Moskow harus mendengar kata “berhenti”.

Sebelumnya, Trump melalui platform “Truth Social” menyampaikan dua syarat yang jelas bagi Zelensky untuk segera mengakhiri perang: Ukraina harus melepaskan Krimea yang secara ilegal dianeksasi Moskow pada 2014, dan berjanji mutlak untuk tidak bergabung dengan NATO.

Warga Kyiv, Voitko: “Dia (Zelensky) tidak akan membuat konsesi apa pun. Saya berharap mitra internasional bisa membantu, dukungan mereka akan sangat penting untuk mendapatkan persetujuan Trump.”

Survei terbaru Gallup menunjukkan 69% rakyat Ukraina mendukung segera mengakhiri perang melalui negosiasi—angka ini melonjak 47 poin dibanding awal invasi besar-besaran. Sementara hanya 24% yang masih ingin melanjutkan pertempuran hingga meraih kemenangan. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Jerman Keluarkan Peringatan : PKT Memberikan Dukungan Krusial, Memicu Perang Putin

EtIndonesia. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, pada Senin (18 Agustus) saat berpidato di Tokyo, menuduh Partai Komunis Tiongkok (PKT) memberikan dukungan penting kepada Rusia, sehingga memungkinkan Moskow melanjutkan perang terhadap Ukraina.

Dalam pidatonya di Sasakawa Peace Foundation Jepang, Wadephul mengatakan bahwa 80% peralatan berteknologi ganda (dual-use) yang digunakan Rusia berasal dari PKT. Pada saat yang sama, PKT juga menjadi pembeli terbesar minyak dan gas Rusia. Menurutnya, hal ini tidak hanya merugikan keamanan Eropa, tetapi juga mengancam keamanan mitra di kawasan Indo-Pasifik.

Sebelumnya, Trump pernah memperingatkan akan memberlakukan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang membeli energi dari Rusia. Ia juga menaikkan tarif 25% terhadap India karena pembelian minyak Rusia, serta menambahkan satu lagi tarif 25% akibat gesekan perdagangan. Namun sejauh ini ia belum mengambil langkah serupa terhadap PKT.

Wadephul menegaskan, Beijing di satu sisi sering menyerukan prinsip “non-intervensi” dan “menghormati integritas teritorial”, tetapi dalam kenyataannya justru melanggar prinsip-prinsip tersebut. Ia menambahkan bahwa pemerintahan baru Jerman akan tetap melanjutkan garis keras yang pernah ditempuh mantan Menlu Annalena Baerbock.

Ia juga menyinggung bahwa Korea Utara sedang menyalurkan amunisi dan pasukan ke Rusia. Para ahli menilai, hal ini sulit terjadi tanpa persetujuan Beijing. Wadephul memperingatkan, jika militer Rusia menggunakan peluru artileri Korea Utara di Ukraina, hal itu bukan hanya akan merusak tatanan keamanan Eropa, tetapi juga mengganggu keseimbangan kekuatan di Asia, karena besar kemungkinan Moskow akan membalas Pyongyang dengan teknologi dan keahlian militer.

Pada konferensi pers di hari yang sama, Wadephul juga menyatakan keprihatinannya terhadap situasi di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan. Ia menegaskan bahwa Beijing berulang kali mencoba secara terang-terangan maupun terselubung untuk mengubah status quo dan mendorong ekspansi perbatasan.

Ia menekankan bahwa prinsip larangan penggunaan kekuatan yang diatur dalam Piagam PBB juga berlaku di kawasan ini. Setiap eskalasi di jalur laut strategis tersebut akan membawa dampak serius bagi keamanan global dan perekonomian dunia. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com