Gubernur The Fed Umumkan Pengunduran Diri, Membuka Lowongan di Komite Penentu Suku Bunga

Adriana Kugler tidak menyebutkan alasan pengunduran dirinya, namun mengatakan akan kembali mengajar di Universitas Georgetown 

EtIndonesia. The Federal Reserve telah mengumumkan bahwa salah satu Gubernur The Fed, Adriana Kugler, akan mengundurkan diri lebih awal dari masa jabatannya. Ia akan meninggalkan bank sentral Amerika Serikat itu pada 8 Agustus. Pengunduran ini meninggalkan kekosongan di dalam komite penentu suku bunga The Fed yang terdiri dari 12 orang—sebuah posisi yang akan menjadi kesempatan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengisinya.

Kugler, yang merupakan orang pilihan Presiden Joe Biden dan masa jabatannya seharusnya berakhir pada Januari 2026, mengumumkan pengunduran dirinya dalam surat tertanggal 1 Agustus kepada Trump. Ia menyatakan bahwa dirinya akan kembali ke posisinya sebagai pengajar di Universitas Georgetown. Ia tidak memberikan alasan atas pengunduran dirinya.

“Merupakan kehormatan seumur hidup untuk melayani di Dewan Gubernur Sistem Federal Reserve,” tulis Kugler. 

“Saya merasa sangat terhormat dapat melayani selama masa kritis dalam upaya mencapai mandat ganda kami, yaitu menurunkan harga dan menjaga pasar tenaga kerja yang kuat dan tangguh.”

Kugler bergabung dengan Dewan Gubernur pada September 2023 untuk menyelesaikan masa jabatan Lael Brainard yang belum berakhir, setelah Brainard meninggalkan posisinya untuk menjadi penasihat ekonomi Presiden Biden. Sebagai gubernur, Kugler merupakan pemilik suara tetap dalam Federal Open Market Committee (FOMC), yang menetapkan suku bunga acuan di Amerika Serikat—yang memengaruhi biaya pinjaman untuk individu dan bisnis.

Adriana Kugler, anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve)

Pengunduran dirinya terjadi setelah pekan ini The Fed memutuskan  mempertahankan suku bunga tidak berubah—sebuah keputusan yang ditentang oleh dua orang yang ditunjuk Trump, Christopher Waller dan Michelle Bowman, yang mendukung penurunan suku bunga sebesar seperempat poin. Kugler tidak ikut serta dalam pemungutan suara tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, ia menyuarakan dukungan untuk mempertahankan suku bunga tetap hingga dampak tarif baru Trump terhadap inflasi menjadi lebih jelas—sebuah sikap yang secara umum dianggap hawkish (ketat terhadap inflasi).

Dalam pidatonya pada pertengahan Juli di sebuah simposium perumahan di Washington, Kugler mengatakan bahwa ia memperkirakan suku bunga akan tetap tidak berubah “untuk sementara waktu,” karena dampak tarif mulai memengaruhi harga konsumen. Ia mengatakan bahwa dengan pasar kerja yang stabil, pengangguran yang rendah, dan inflasi yang masih di atas target 2 persen The Fed, mempertahankan kebijakan moneter yang ketat sangat penting untuk menambatkan ekspektasi inflasi jangka panjang.

Sebaliknya, Bowman dan Waller menyoroti dalam pernyataan terbaru mereka—yang menjelaskan alasan perbedaan pandangan mereka dalam rapat penetapan suku bunga The Fed—bahwa ada bukti pelemahan di pasar tenaga kerja. Jika FOMC tidak menurunkan suku bunga, maka pasar tenaga kerja bisa terdampak dan memaksa bank sentral melakukan pemangkasan darurat.

“Ketika pasar tenaga kerja berbalik arah, itu sering terjadi dengan cepat,” kata Waller, seraya menambahkan bahwa menunggu kejelasan tentang tarif sebelum menurunkan suku bunga bisa membuat The Fed “tertinggal.”

Bowman menyatakan bahwa “penundaan tindakan bisa mengakibatkan memburuknya pasar tenaga kerja dan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang lebih lanjut.”

Trump berulang kali mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga guna mendongkrak perekonomian dan menurunkan biaya pembayaran utang pemerintah, memuji kedua anggota FOMC yang menyatakan perbedaan pandangan tersebut dan mendesak anggota FOMC lainnya untuk mengadopsi pandangan mereka terkait penurunan suku bunga.

Sebelum bergabung dengan The Fed, Kugler menjabat sebagai direktur eksekutif AS di Bank Dunia dan merupakan profesor kebijakan publik dan ekonomi di Universitas Georgetown, tempat ia juga menjabat sebagai wakil rektor bidang akademik. Sebelumnya ia pernah bekerja sebagai kepala ekonom di Departemen Tenaga Kerja AS dan menjabat dalam berbagai posisi riset dan penasihat di Biro Riset Ekonomi Nasional, Universitas Stanford, dan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional. Ia memiliki gelar dari Universitas McGill dan Universitas California, Berkeley.

FOMC, yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Federal Reserve tahun 1913, mengarahkan kebijakan moneter AS melalui operasi pasar terbuka dan memengaruhi federal funds rate (suku bunga antarbank), yang berdampak pada biaya pinjaman di seluruh perekonomian. 

Komite ini terdiri dari tujuh gubernur The Fed, presiden Federal Reserve New York, dan empat presiden bank regional yang bergiliran. Ketua The Fed—saat ini dijabat oleh Jerome Powell—juga memimpin Dewan Gubernur dan FOMC serta memimpin pembahasan kebijakan dalam panel tersebut.

Dalam beberapa minggu terakhir, Powell mendapat kritik dari Trump, yang menuduh Ketua The Fed itu “terlambat” dalam menurunkan suku bunga.

Powell membela pendekatan hati-hati The Fed, dengan mengatakan bahwa suku bunga pada akhirnya akan turun, namun jika pemangkasan dilakukan terlalu dini, itu bisa membahayakan kemajuan dalam pengendalian inflasi dan merusak kredibilitas bank sentral sebagai lembaga independen yang ditugaskan untuk mencapai lapangan kerja maksimum dan kestabilan harga mendekati target 2 persen.

Dalam pernyataan menanggapi pengumuman Kugler, Powell menyampaikan apresiasinya atas kontribusi Kugler.

“Saya menghargai pengabdian Dr. Kugler di Dewan Gubernur dan mendoakan yang terbaik dalam upaya selanjutnya,” kata Powell dalam pernyataannya. “Ia membawa pengalaman dan wawasan akademis yang mengesankan dalam pekerjaannya di Dewan.”

Dalam pertemuan terbarunya pada 29–30 Juli, FOMC mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran saat ini yaitu 4,25–4,5 persen. Pasar secara luas memperkirakan komite akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan  September mendatang, dengan peluang pemangkasan seperempat poin melonjak setelah laporan pekerjaan pada Jumat menunjukkan pertumbuhan pekerjaan yang lesu.

Sumber : Theepochtimes.com 

Tiongkok Klaim Proyek Whoosh sebagai Sukses BRI, Indonesia Masih Menanggung Utang hingga 2063

Oleh: Fadjar Pratikto

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, dalam konferensi pers rutin di Beijing pada 22 Juli 2025, menyebut keberhasilan proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) sebagai bukti nyata suksesnya inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) antara Tiongkok  dan Indonesia. Proyek ini, menurutnya, menjadi “model kerjasama infrastruktur global” yang menguntungkan kedua belah pihak.

“Kereta cepat Jakarta–Bandung adalah simbol dari visi bersama Tiongkok dan Indonesia dalam membangun konektivitas dan pertumbuhan ekonomi. Ini adalah proyek unggulan BRI yang membawa manfaat besar bagi masyarakat Indonesia,” ujar Mao dihadapan wartawan internasional.

Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Dwiyana Slamet Riyadi, menjadi pembicara dalam Kongres Global ke-12 Kereta Cepat di Beijing, 8 Juli lalu. Dalam forum tersebut, Dwiyana memaparkan perkembangan Whoosh sejak beroperasi Oktober 2023, serta dampaknya terhadap mobilitas masyarakat dan ketertarikan negara ASEAN lain untuk meniru model Indonesia.

Namun di balik keberhasilan operasional dan branding internasional tersebut, proyek Whoosh masih menyisakan pekerjaan rumah besar bagi Indonesia: beban utang yang membengkak dan panjangnya masa pelunasan.

Bengkaknya Biaya Proyek dan Skema Pembiayaan

Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung semula ditaksir hanya menelan biaya sekitar USD 6 miliar. Namun dalam perjalanannya, biaya membengkak menjadi USD 7,29 miliar atau sekitar Rp114 triliun dengan kurs saat ini. Kenaikan ini disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari pembebasan lahan, revisi desain, hingga pengaruh pandemi COVID-19.

Skema pembiayaannya pun didominasi pinjaman dari China Development Bank (CDB) sebesar USD 4,55 miliar (sekitar 70 persen dari total biaya), dengan bunga sebesar 3,4 persen per tahun dan masa tenor 40 tahun termasuk masa tenggang 10 tahun.

Dengan demikian, Indonesia melalui konsorsium KCIC—gabungan PT KAI dan konsorsium BUMN—harus mulai mencicil pinjaman tersebut mulai tahun 2033, dan baru akan lunas pada 2063.

Jika dihitung dengan asumsi kurs dan suku bunga tetap, Indonesia diperkirakan harus membayar kembali sekitar USD 8 miliar atau lebih dalam 30 tahun ke depan, mencakup pokok dan bunga pinjaman. Artinya, meskipun proyek ini tidak lagi membebani APBN secara langsung, BUMN tetap menghadapi tekanan keuangan dalam jangka panjang.

Apakah Menguntungkan bagi Indonesia?

Dari sisi operasional, data menunjukkan peningkatan signifikan sejak peluncurannya. Hingga akhir Juni 2025, Whoosh telah melayani lebih dari 10 juta penumpang dengan rekor harian mencapai 26.770 penumpang (27 Juni 2025). Saat ini, ada 62 perjalanan per hari dengan interval keberangkatan setiap 30 menit.

Namun, harga tiket yang berkisar antara Rp200.000 hingga Rp350.000, masih belum mencerminkan tarif keekonomian yang bisa menutupi seluruh beban operasional dan cicilan utang. Menurut beberapa pengamat transportasi, Whoosh masih disubsidi secara tidak langsung lewat berbagai skema pengelolaan aset KCIC dan kontribusi negara.

Selain itu, meskipun disebut mengubah gaya hidup dan mempersingkat waktu tempuh Jakarta–Bandung menjadi hanya 36–46 menit, manfaat ekonomi jangka panjangnya masih harus dibuktikan. Industri penunjang seperti manufaktur dan komponen teknologi kereta cepat belum tumbuh di Indonesia, karena 100 persen teknologi dan sebagian besar komponen masih berasal dari Tiongkok.

Dwiyana mengakui bahwa saat ini ekosistem kereta cepat secara operasional mulai terbentuk, namun industri pendukung seperti manufaktur dan riset dalam negeri belum berkembang. Bahkan masinis Indonesia masih didampingi oleh masinis asal Tiongkok dalam mengoperasikan EMU (Electric Multiple Unit) CR400 AF.

“Proses handover operasi dan perawatan memang butuh waktu. Pekerja asal Tiongkok masih ada sekitar 500 orang yang mendampingi proses ini, dan baru akan berkurang bertahap dalam 6 bulan ke depan,” ujar Dwiyana.

Ini menandakan bahwa alih teknologi belum terjadi secara penuh, dan Indonesia masih bergantung pada Tiongkok, baik dalam sisi teknis, perawatan, maupun suku cadang.

Pujian dari Beijing patut diapresiasi, tetapi Indonesia perlu tetap waspada dalam mengevaluasi proyek ini secara menyeluruh. Alih-alih hanya menjadi monumen prestise, Whoosh perlu menghasilkan manfaat ekonomi nyata dan keberlanjutan fiskal jangka panjang.

Ekonom dari INDEF, Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa proyek ini berpotensi menjadi beban jika tidak segera menghasilkan keuntungan finansial. “Dengan masa pelunasan hingga 2063 dan pembengkakan biaya, keberlanjutan finansial Whoosh sangat tergantung pada volume penumpang dan pengembangan kawasan penunjang. Kalau tidak, bisa jadi hanya menambah utang tanpa hasil,” ujar Bhima

Sementara itu, ketertarikan negara ASEAN lain terhadap model Indonesia dalam membangun kereta cepat bisa menjadi peluang diplomatik. Namun, hal ini harus diiringi dengan transparansi pembiayaan, evaluasi manfaat, dan kesiapan industri lokal jika Indonesia ingin menjadi pionir yang tidak hanya meminjam, tapi juga memproduksi dan mengembangkan sendiri.

Kereta cepat Whoosh Jakarta–Bandung memang pantas dibanggakan sebagai lompatan teknologi dan simbol modernisasi transportasi. Namun di balik kecepatan 350 km/jam, ada laju utang yang tak kalah deras dan akan terus berlari hingga empat dekade ke depan.

Pertanyaan utamanya bukan apakah Whoosh cepat, tapi apakah Indonesia cukup siap dan cerdas untuk mengelolanya agar tidak menjadi “beban cepat” di kemudian hari. (***)

Indonesia Terjebak Transshipment Tiongkok, Ancaman Baru di Tengah Perang Dagang Global

oleh: Fadjar Pratikto


Kekhawatiran mulai mencuat di kalangan pelaku industri dan pemerintah Indonesia, menyusul sinyalemen kuat bahwa Indonesia tengah dimanfaatkan sebagai “jalur tikus” oleh perusahaan-perusahaan asal Tiongkok untuk menghindari tarif tinggi yang diberlakukan Amerika Serikat (AS). Praktik ini dikenal sebagai transshipment, yakni upaya penyamaran asal barang agar terhindar dari beban tarif.

Tarif tinggi AS terhadap produk Tiongkok mencapai 125%, sementara produk dari Indonesia hanya dikenakan 19%. Selisih besar ini menjadi insentif kuat bagi produsen Tiongkok untuk “menyulap” barang produksinya seolah-olah berasal dari Indonesia sebelum diekspor ke AS.

Modus Lama, Ancaman Baru

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Askolani, mengakui potensi modus tersebut. Ia menyebut kemungkinan produk asal Tiongkok dikirim ke Indonesia untuk kemudian diekspor kembali ke AS dengan label “Made in Indonesia”. Ini adalah pola yang sebelumnya sudah dilakukan di negara lain seperti Korea Selatan, dan kini diduga mulai terjadi di Tanah Air.

“Kalau dia tidak bisa masuk ke Amerika, dia bisa masuk ke wilayah lain seperti Indonesia. Pemerintah sedang menyiapkan langkah antisipasi,” kata Askolani dalam rapat di DPR, awal Juli lalu.

USTR dan US Customs and Border Protection (CBP) bahkan melaporkan lonjakan ekspor dari Indonesia yang mencurigakan, terutama dari sektor elektronik dan tekstil — dua industri dengan tingkat produksi tinggi di Tiongkok.

Sejak perang dagang AS-Tiongkok  bergulir, gelombang relokasi industri dari Tiongkok ke Asia Tenggara meningkat drastis. Indonesia menjadi salah satu tujuan favorit berkat ketersediaan tenaga kerja, lahan industri murah, dan kemudahan perizinan.

Namun pengamat menilai, tidak semua investasi ini murni dan sehat. “Banyak yang hanya mendirikan pabrik perakitan kecil atau fasilitas label ulang. Ini yang rawan disalahgunakan untuk transshipment,” ujar Bhima Yudhistira, Direktur CELIOS.

Barang-Barang yang Berisiko Dimanfaatkan

Beberapa produk dari Tiongkok yang berisiko digunakan dalam praktik transshipment melalui Indonesia antara lain:

  • Elektronik konsumen: seperti perangkat audio, televisi, dan peralatan rumah tangga
  • Komponen komputer: motherboard, chip, dan aksesoris lainnya
  • Tekstil dan garmen: pakaian jadi dan kain mentah
  • Mainan anak dan produk plastik: yang banyak diproduksi secara massal di Tiongkok
  • Perabot rumah tangga: dari furnitur ringan hingga barang dekorasi

Banyak perusahaan Tiongkok disebut telah membuka lini produksi kecil atau hanya gudang distribusi di kawasan industri Indonesia, lalu mengirim produk jadi ke AS dari pelabuhan-pelabuhan Indonesia seperti Tanjung Priok dan Batam.

Sebelumnya Ekonom senior Faisal Basri (almarhum) pernah memperingatkan bahwa jika terbukti membantu praktik transshipment ilegal, Indonesia bisa menghadapi konsekuensi berat:

  1. Pengenaan tarif baru terhadap produk ekspor Indonesia
  2. Pencabutan fasilitas GSP (Generalized System of Preferences) dari AS
  3. Turunnya kepercayaan investor asing, khususnya dari negara Barat
  4. Stigma global bahwa Indonesia terlibat dalam manipulasi perdagangan

“Jangan sampai kita hanya jadi batu loncatan perang dagang negara besar. Ini bukan keuntungan, tapi jebakan,” tegas Faisal.

Senada dengan itu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa, mengatakan praktik seperti ini justru bisa menurunkan daya saing industri dalam negeri. “Kalau barang-barang China membanjiri pasar lokal atau masuk kembali ke luar negeri lewat sini, industri kita bisa mati pelan-pelan,” ujarnya.

Langkah Pemerintah: Audit dan Ketegasan

Kementerian Perdagangan RI menyatakan tengah menyelidiki dugaan transshipment, sembari memastikan bahwa seluruh ekspor berjalan sesuai aturan WTO. 

“Kami tidak ingin Indonesia terseret konflik dagang besar. Pemerintah akan audit ulang izin perusahaan asing dan distribusi ekspor mencurigakan,” kata juru bicara Kemendag.

Dirjen Bea dan Cukai juga memastikan bahwa pemerintah memiliki instrumen pengamanan, seperti bea masuk anti dumping dan bea masuk tindakan pengamanan (safeguard duties), yang dapat digunakan untuk membendung potensi pelarian barang dari Tiongkok.

Contoh nyata datang dari Vietnam, yang tahun lalu dikenakan tarif baja 456% oleh AS akibat terbukti menjadi jalur transshipment produk baja asal Tiongkok. “Indonesia bisa bernasib sama jika tidak waspada,” kata Piter Abdullah dari CORE Indonesia.

Di tengah derasnya arus investasi asing dan ambisi menjadi pusat manufaktur Asia Tenggara, Indonesia harus tetap selektif dan transparan. Praktik transshipment bukan hanya mencoreng nama baik bangsa, tapi juga membahayakan seluruh sistem perdagangan nasional.

Jika pemerintah tidak segera bertindak, Indonesia bukan hanya kehilangan peluang dagang, tapi juga bisa menjadi korban benturan dua raksasa dunia: AS dan Tiongkok. (***)

Pikiran Langsung Kacau Saat Ada Masalah? 3 Jurus Ampuh Atasi Emosi Negatif

EtIndonesia. Di dunia kerja yang penuh gejolak, terkadang kita seolah dikepung oleh situasi kacau layaknya serangan kawanan hiu putih. Namun, kabur dari masalah bukanlah solusi terbaik. Bahkan saat kita mencoba berpikir jernih, bisa saja malah muncul persoalan baru yang tak terduga.

Saat berhadapan dengan masalah, sangat wajar muncul emosi negatif seperti marah, cemburu, atau sedih. Tapi jika ingin tetap tenang dan berpikir efektif, kuncinya ada pada pengendalian emosi.

Rahasia mengendalikan emosi adalah dengan menganggap perasaan kacau sebagai sebuah “masalah logis yang bisa dipecahkan.”

Jika kita larut dalam kekacauan, emosi jadi makin rumit dan tak terkendali. Padahal, mengikuti emosi justru tidak membantu menyelesaikan apa pun. Berikut ini tiga teknik yang bisa kamu praktikkan agar lebih logis saat menghadapi badai emosi.

1. Bedakan Hal yang Bisa dan Tidak Bisa Kamu Kendalikan

Sehebat apa pun kamu merasa khawatir atau menyesal, ada hal-hal di dunia ini yang memang tidak bisa kita kendalikan. Memikirkan sesuatu yang di luar kendali hanya akan menguras energi dan membuat emosi makin kacau.

Contoh nyata: Saat dulu bekerja di bengkel mobil milik Toyota, saya pernah ditugaskan mengantar mobil pelanggan yang baru selesai diperbaiki. Tapi di tengah jalan, saya tak sengaja menabrak tiang listrik. Kepala saya langsung blank, panik luar biasa.

Rekan kerja yang ikut bersama saya berkata: “Coba pikirkan dulu, hal apa yang masih bisa kamu kendalikan sekarang?”

Saya mulai tenang, dan menyadari: mobil yang rusak sudah tak bisa dikembalikan seperti semula. Tapi, saya masih bisa memilih bagaimana cara saya menghadapi pelanggan dan bertanggung jawab secara profesional.

Akhirnya, saya langsung jujur dan meminta maaf kepada pelanggan. Walau awalnya terkejut, pelanggan akhirnya memaafkan saya. Saya pun bergegas mengatur perbaikan agar mobil selesai dalam seminggu sesuai kebutuhan pelanggan.

Pelajaran penting:  Saat masalah besar terjadi, daripada putus asa dan menghindar, lebih baik dihadapi dan  fokus pada solusi konkret. Hindari membuang waktu dan tenaga untuk hal-hal di luar kendali.

2. Bedakan Fakta dan Pendapat

Saat bekerja sebagai teknisi, saya sering menemui pelanggan yang menyampaikan keluhan atau dugaan penyebab kerusakan. 

Misalnya:  “Setiap injak rem, saya dengar suara aneh. Apa ini karena kampas remnya aus?”

Sebagai teknisi, saya harus menyadari bahwa itu baru pendapat pelanggan—belum tentu fakta. Jika saya langsung percaya dan memperbaiki sesuai dugaan, bisa-bisa malah salah diagnosis.

Hal ini juga berlaku saat kita sedang emosi. Saat merasa marah atau kesal, coba tanyakan: “Apakah ini karena fakta yang nyata, atau hanya persepsi dan prasangka saya sendiri?”

Dengan membedakan antara kenyataan dan pendapat, kita bisa menghindari konflik dan membuat keputusan yang lebih rasional.

3. Pisahkan Masalah dan Emosi

Ini adalah kelanjutan dari poin sebelumnya. Kita sering mencampuradukkan masalah nyata dengan emosi pribadi.

Pernah suatu kali, seorang junior saya terlambat menyelesaikan tugas sehingga jadwal pengiriman kendaraan molor. 

Saya kesal dan berkata:  “Kalau kerja saja tidak tepat waktu, kamu nggak layak jadi teknisi!”

Rekan senior saya langsung menegur: “Masalahnya adalah dia telat menyelesaikan tugas. Tapi perasaanmu yang kesal, itu masalah yang berbeda.”

Kalimat itu langsung menyadarkan saya. Tugas kita adalah menyelesaikan masalah, bukan melampiaskan emosi.

Misalnya, kita perlu fokus pada: “Mengapa dia gagal menyelesaikan pekerjaan tepat waktu?”

Bukan: “Kenapa saya jadi kesal begini?”

Jika bisa membedakan masalah dan perasaan, kita tak mudah terseret emosi yang memperkeruh keadaan.

Menggali Akar Masalah dengan “5 Mengapa”

Lalu jika kita sudah bisa mengontrol emosi dan berpikir logis, bagaimana cara menyelesaikan masalahnya? Jawabannya: Cari akar penyebabnya.

Contoh kasus:

 Seorang karyawan muda selalu datang terlambat ke kantor. Mengapa?

·        Mungkin karena susah bangun pagi, walau sudah pasang banyak alarm.

·        Bisa juga karena waktu pagi dia habis untuk sarapan dan bersiap-siap.

·        Atau mungkin rumahnya jauh dan transportasi sering terlambat.

·        Bisa jadi karena kebiasaan begadang akibat stres dan pelampiasan minum alkohol.

Melihat dari satu sisi saja tidak cukup. Kita harus menelusuri seluruh kemungkinan, dan mengurai benang masalah satu per satu.

Kalau ternyata penyebabnya adalah tekanan mental yang membuatnya begadang, maka solusinya bukan dengan marah atau memberi alarm keras, tapi membantu menyelesaikan akar stres yang dia hadapi.

Dengan kata lain:
– Marah-marah hanya memberi efek sementara.
– Ancam potong gaji, mungkin malah memperburuk kondisi.
– Solusi terbaik: pahami akar masalah, dan bantu menyelesaikannya dari dalam.

Teknik “5 Mengapa” dari Toyota

Untuk membantu mengurai masalah hingga ke akar, kamu bisa gunakan metode klasik dari Toyota: “5 Mengapa”.

Contohnya:

1. Mengapa si A telat?
→ Karena dia bangun kesiangan.

2. Mengapa bangun kesiangan?
→ Karena dia tidur terlalu malam.

3. Mengapa tidur terlalu malam?
→ Karena dia stres mikirin kerjaan.

4. Mengapa dia stres?
→ Karena dia belum paham target dan tanggung jawabnya.

5. Mengapa belum paham?
→ Karena tidak pernah diberikan pelatihan atau arahan yang jelas.

Dengan mengajukan “mengapa” hingga lima kali, kamu akan sampai pada akar permasalahan yang sebenarnya.

Teknik ini awalnya terkenal di dunia manufaktur, tapi kini juga digunakan di perusahaan IT, manajemen modern, dan bahkan oleh tokoh seperti pendiri Amazon, Jeff Bezos.

Karena dunia kini makin kompleks—dari sistem kerja, teknologi, hingga emosi manusia—maka penyelesaian masalah juga tak bisa asal-asalan

 Menggunakan “5 Mengapa” adalah cara praktis dan logis untuk memecah kebuntuan.

Penutup: Ubah Masalah Jadi Tantangan Logis

Hidup penuh dengan masalah, dan pekerjaan kita adalah terus menyelesaikannya.

Saat berhadapan dengan masalah—besar atau kecil—latihlah pikiran untuk langsung bertanya: “Kenapa ini terjadi?”

Bila kamu bisa memilah fakta, menenangkan emosi, dan mencari akar penyebab dengan cara logis, kamu tidak akan mudah dikalahkan oleh emosi. Sebaliknya, kamu akan menemukan bahwa di balik setiap kekacauan, selalu ada jalan keluar—asal kita mau berpikir dengan kepala dingin. (jhn/yn)

Menjaga Cahaya Kemuliaan

EtIndonesia. Dalam hidup setiap orang, pasti ada sesuatu yang ingin dia jaga dan lindungi. Ada yang ingin menjaga keluarga—istri, anak, dan orangtua. Ada pula yang ingin menjaga sahabat di masa sulit, atau mempertahankan impian yang telah dia perjuangkan. Sejak manusia lahir ke dunia, benang-benang kehidupan mulai terjalin dengan dunia luar—bisa jadi satu gerakan kecil menggoyahkan segalanya, satu orang terhubung dengan satu generasi. Keunikan setiap kehidupan pun pelan-pelan terungkap lewat jalan takdir yang ia tempuh.

Bagi pasangan, menjaga berarti kesetiaan di bawah sinar bulan. Bagi keluarga, menjaga adalah berjuang sekuat tenaga untuk melindungi mereka yang tercinta. Dan dalam masa perang—menjaga bisa bermakna lain, namun tetap berpijak pada kebaikan hati.

Beberapa sahabat di Ukraina terus mengirim pesan sederhana. Di balik barisan kata-kata biasa itu, terselip perasaan yang menggugah hati. Sejak pecahnya perang, Valentina tetap tinggal di Kyiv. Dia adalah seorang wanita lansia biasa. Selama masa ini, dia telah melalui banyak peristiwa—menegangkan, namun semuanya berhasil dia lalui dengan selamat.

Serangan militer sempat terjadi hanya 30 kilometer dari tempat tinggalnya. Bahkan saat dia sedang berjalan di jalanan kota, suara ledakan terdengar terus-menerus di langit. Valentina mengakui, dia pernah merasa takut. Rasa ngeri akan perang sangat nyata di hatinya.

Suatu malam, ledakan yang amat dahsyat mengguncang seluruh apartemen. Tetangganya panik dan berlarian keluar rumah, takut bangunan runtuh menimpa mereka. Wajah-wajah mereka dipenuhi kepanikan dan ketakutan. Namun anehnya, Valentina tak mendengar apa pun malam itu. Dia tidur dengan nyenyak, seolah berada di dunia lain. 

“Seakan-akan aku berada di dimensi yang berbeda. Kalau saja aku benar-benar mendengar ledakan itu, mungkin aku juga akan sangat ketakutan,” katanya.

Ledakan demi ledakan dia alami. Namun berkali-kali pula dia selamat tanpa cedera. Sebagai orang Eropa asli, dia awalnya tidak tahu banyak tentang budaya Tiongkok kuno. Tapi dalam ganasnya perang, dia berkata dengan tulus: dirinya bersyukur telah mengenal dan mempraktikkan ajaran “Sejati, Baik, dan Sabar” dari Falun Gong, yang berasal dari Tiongkok kuno.

Keyakinan itu membuatnya mampu melewati ketakutan dan tekanan perang. Berkali-kali, dia selamat dari bahaya ledakan yang menghantam sekitarnya.

Seseorang yang telah merasakan manfaat dari sesuatu yang indah, tentu ingin membagikannya kepada orang lain. Seseorang yang menerima hadiah kebaikan, umumnya ingin membalas dengan kebaikan pula. Ini adalah sifat alami manusia—baik di Timur maupun di Barat

 Mengapa Valentina memilih tetap tinggal di zona perang? Jawabannya sederhana: dia hanya ingin tetap berada di sana untuk menemani dan membantu mereka yang membutuhkan, dan menjalankan tanggung jawabnya dengan sepenuh hati.

Perang telah meninggalkan luka mendalam di hati banyak orang. Kesedihan karena kehilangan orang tercinta tak mudah disembuhkan. Perang terus berlangsung, menyiksa batin, membekas di wajah, dan menyayat nurani. Harapan dan keputusasaan silih berganti, menghantam jiwa yang mulai rapuh. Tawa pun lambat laun lenyap dari wajah manusia.

Valentina sangat berterima kasih atas hadiah bunga teratai kecil yang indah dari sahabatnya di Taiwan. Bunga-bunga itu dia bagikan kepada siapa pun yang ditemuinya—warga biasa di sekitarnya. Banyak warga Ukraina yang menerimanya dengan penuh sukacita dan senyum.

Suatu hari, dia berkata: “Di masa-masa sesulit ini, bisa membuat orang lain tersenyum saja sudah luar biasa.”

Sahabat Valentina dari Taiwan dan rakyat Ukraina memang tak punya hubungan darah. Tapi kebaikan hati—naluri untuk membantu sesama—melampaui batas bahasa dan ras.Tak ada sekat. Hanya resonansi. Kebaikan itu bergetar, seperti riak air yang melintasi ruang dan waktu, menyentuh hati, dan memantulkan cahaya dalam dunia kita masing-masing.

Valentina menjaga kebaikan di hatinya, dan menuntun mereka yang kebingungan. Di saat banyak jiwa terluka, dia ibarat secercah cahaya di tengah kegelapan, berusaha semampunya untuk menghangatkan dan menerangi sekitar. Kebaikan itu begitu sederhana—namun tak tergoyahkan. Seperti lilin kecil yang menyala, menjadi petunjuk melewati malam jiwa yang kelam.

Sahabat lainnya, Tatiana, juga tinggal di Kyiv. Di awal perang, setiap kali mendengar suara ledakan, tubuhnya refleks bergetar karena syok. Beberapa ledakan terjadi tak jauh dari rumahnya. Salah satu bom yang dijatuhkan dari pesawat bahkan menyebabkan kebakaran besar dan menghancurkan beberapa rumah warga, menewaskan seorang wanita. Sebuah rudal jelajah juga sempat ditembak jatuh di atas gedung apartemennya. Pecahannya menghantam pintu masuk gedung, merusak akses keluar-masuk warga.

Melalui video resmi dari pusat evakuasi Ukraina, bisa dilihat bagaimana setiap serangan bom menghancurkan jendela dan pintu bangunan sekitar. Kaca pecah beterbangan, api membumbung tinggi. Itulah pemandangan yang biasa terjadi dalam perang.

Yang mengejutkan, saat banyak kaca jendela di apartemen mereka hancur, rumah Tatiana sama sekali tidak mengalami kerusakan. Tidak satu pun jendela pecah. Dia mengaku, walau merasakan dahsyatnya ledakan secara langsung, dia dan keluarganya tetap selamat dan tidak terdampak secara fisik.

Saat perang memuncak, dia kerap melihat dari jendela: benda-benda beterbangan, kilatan cahaya melesat, suara dentuman mengguncang, rumah bergetar seolah hendak roboh. Mereka tidur dengan pakaian lengkap, dokumen dan ponsel selalu dalam genggaman, siap melarikan diri kapan saja. Karena ancaman bom, mereka bahkan tidak berani menyalakan lampu di malam hari.

“Rasanya seperti hidup di ujung kematian,” katanya.

Saat musim dingin dan awal musim semi tiba—di tengah salju dan asap pertempuran—Tatiana merasa seolah dia ditinggal sendirian di tepi alam semesta, menghadapi kegelapan yang tak berujung. Namun keyakinannya pada prinsip “Sejati, Baik, Sabar” mengajarkannya untuk bersabar, menenangkan hati. Perlahan, pikirannya tak lagi gentar. Tubuhnya pun tak lagi merespons suara ledakan dengan rasa takut. Ia tak lagi gemetar bila mendengar dentuman tiba-tiba.

Di tengah kekacauan perang, dia teringat kisah kuno: Legenda Yue Fei.  Dia teringat akan nilai kesetiaan. Dan dia memahami, dalam kondisi apapun, seseorang harus tetap setia pada misinya, setia pada tempat ia berdiri.

Banyak yang menyarankan Tatiana untuk meninggalkan Kyiv dan mengungsi ke negara lain. Tapi saat dia melihat masih banyak warga yang tinggal di dekat rumahnya, rasa kasih dalam dirinya tak tega meninggalkan mereka. Dia memilih untuk tetap tinggal.

Dia pun mulai membuat bunga teratai kecil untuk dibagikan kepada orang-orang, sambil menyampaikan nilai-nilai “Sejati, Baik, dan Sabar” kepada mereka. Banyak dari mereka yang mendengarkan kisahnya dengan penuh rasa haru, bahkan meneteskan air mata.

Kebaikan itu begitu murni, kata-katanya begitu jujur. Dari dalam hatinya, dia menyembuhkan hati yang terluka.

Meskipun dia merasa berada di ujung kegelapan semesta, keinginan kecilnya untuk tetap menjaga cahaya hati—seperti biji sesawi kecil—mampu menolak gelapnya malam. Dia bukan hanya menyalakan cahaya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang lain. Dia membantu mereka mengenal cahaya keyakinan sejati.

Sementara itu, di Kota Kharkiv—kota terbesar kedua di Ukraina—teman mereka juga menghadapi cobaan berat. Kharkiv menjadi salah satu kota yang paling rusak akibat perang. Ledakan membabi buta menghancurkan seluruh pintu dan jendela rumahnya. Saat listrik padam, semua peralatan dan gas tidak bisa digunakan. Untuk mencari makan, dia dan keluarganya harus berjalan kaki berjam-jam dalam suhu di bawah nol derajat, menyusuri jalanan licin dan berbahaya.

Di sepanjang jalan, mereka melihat mayat korban perang—termasuk anak-anak. Bahkan saat orang-orang sedang mengantri bantuan makanan, bom bisa meledak tiba-tiba.

Dalam keadaan seperti itu, rasa takut, kesedihan, dan ketidakpastian begitu menyiksa. Pikiran yang goyah, seperti lebah liar, menggerogoti ketenangan jiwa.

Namun di tengah pekatnya gelap, dia memilih menjaga cahaya dalam hatinya. Dia menolak tunduk pada ketakutan dan keputusasaan. Dia berusaha menyalakan pelita dalam hatinya, dan membiarkan cahaya keyakinan menerangi dunia batinnya. Keyakinannya pada Tuhan membuatnya mampu mengusir pikiran-pikiran gelap yang mencoba menguasai dirinya.

Dalam kabut perang, setiap orang punya pilihan. Punya seseorang yang ingin dia lindungi, punya keyakinan yang ingin dia jaga. Sahabat-sahabat ini memilih untuk menjaga kebaikan hati. Menjaga kesetiaan. Menjaga cahaya dalam jiwa.

Waktu bisa dengan mudah menghancurkan kemegahan dunia, merampas semua kemewahan, bahkan hidup manusia itu sendiri.  Namun dalam pemahamanku yang sederhana, ada satu hal yang mungkin tak bisa direnggut oleh waktu—yaitu sifat murni yang terlahir dari tekad untuk menjaga kebaikan.

Sifat murni itu telah melewati ujian zaman, memancarkan cahaya sejati, dan menyatu dengan sinar bintang lainnya—bersama-sama menjaga kemuliaan cahaya semesta.(jhn/yn)

2 Tentara Kamboja yang Terdampar Dipulangkan oleh Tentara Thailand

EtIndonesia. Dua tentara Kamboja yang terdampar di wilayah Thailand setelah bentrokan perbatasan baru-baru ini telah dipulangkan ke negara asal mereka setelah menerima bantuan dari Tentara Wilayah Kedua.

Tentara Wilayah Kedua melaporkan pada Jumat pagi bahwa mereka berkoordinasi dengan unit keamanan dan polisi imigrasi di Surin untuk memulangkan kedua tentara Kamboja tersebut, yang ditahan setelah ditemukan terdampar di wilayah Thailand menyusul pertempuran kecil antara 24 dan 29 Juli.

Sersan Mayor Mom Ritti ditemukan dengan lengan patah dan luka robek di pinggul kanannya. Letnan Dua Ang Uang dilaporkan menunjukkan gejala gangguan mental akibat pertempuran tersebut.

Keduanya menerima perawatan medis dasar, termasuk penilaian spesialis untuk letnan dua.

Dokter merekomendasikan agar tentara yang mengalami gangguan mental tersebut dikembalikan kepada keluarganya untuk mendapatkan perawatan.

Tentara mengatakan semua tindakan telah dilakukan sesuai dengan Konvensi Jenewa dan para tentara diperlakukan secara manusiawi.

Dilaporkan pula bahwa kedua tentara tersebut berjanji untuk tidak bergabung kembali dengan pihak Kamboja dalam tindakan lebih lanjut apa pun terhadap Thailand.

Sementara itu, Kepolisian Kejahatan Siber melaporkan penangkapan dua warga negara Kamboja atas tuduhan membuat dan menyebarkan berita bohong tentang jatuhnya jet F-16.

Letjen Polisi Siriwat Deepo, komandan Divisi Investigasi Kejahatan Teknologi 1, mengatakan unitnya bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi Digital dan Masyarakat untuk menutup dan memblokir sumber-sumber disinformasi daring yang bertujuan untuk memicu keresahan di tengah konflik Thailand-Kamboja.

Dia mengatakan dua warga negara Kamboja telah ditahan dan menghadapi tuntutan hukum setelah menerbitkan berita bohong tentang jatuhnya F-16. Dia juga membantah klaim lain yang secara keliru dikaitkan dengan Kepolisian Kerajaan Thailand, yang mengatakan bahwa hadiah sebesar 100.000 baht ditawarkan bagi siapa pun yang membantu menangkap operator drone. (yn)

Puluhan Orang Tenggelam di Panti Jompo Beijing Saat Dilanda Banjir,  “Jejak Keputusasaan” Para Korban Terungkap

Banjir baru-baru ini yang melanda Beijing menyebabkan korban jiwa yang signifikan. Pihak berwenang melaporkan bahwa 44 orang meninggal dunia dan 9 orang hilang. Sebanyak tiga puluh satu kematian terjadi di sebuah panti jompo di Miyun saja. Media daratan Tiongkok sebelumnya telah melihat jejak tangan berlumpur di dinding panti jompo, kemungkinan berasal dari para lansia yang berjuang untuk bertahan hidup.

EtIndonesia. Menurut berita resmi Beijing, hujan lebat melanda Beijing dari  23 hingga 29 Juli. Hingga 31 Juli pukul 12.00, 44 orang meninggal dunia dan 9 orang hilang. Di antara mereka, 31 orang meninggal dunia di Panti Jompo Kota Taishitun di Miyun.

Menurut media daratan Caixin.com, setelah banjir surut, para wartawan memasuki panti jompo Kota Taishitun dan menemukan bahwa ketinggian air yang ditinggalkan banjir telah mencapai lebih dari dua meter, melebihi lemari pakaian di kamar-kamar. Jejak tangan berlumpur terlihat jelas di dinding, menunjukkan perjuangan terakhir para korban.

(Cuplikan Layar dari Internet)

Perlu dicatat bahwa artikel Caixin.com, “Banjir Sedalam Lebih dari Dua Meter di Panti Jompo di Miyun, Beijing, Menewaskan Banyak Orang,” telah dihapus.

(Cuplikan Layar dari Internet)

Yu Weiguo, Sekretaris Komite Distrik Miyun, menyatakan dalam konferensi pers tentang pencegahan banjir dan bantuan bencana di Beijing pada 31 Juli bahwa terdapat 77 penghuni di panti jompo Kota Taishitun pada hari itu, termasuk delapan staf. Dari 69 penghuni, 55 orang mengalami kelumpuhan total atau sebagian.

Yu Weiguo mengakui bahwa pusat kota tempat panti jompo tersebut berada telah lama dianggap “aman”. Ia mengklaim rencana tanggap darurat tidak memasukkannya ke dalam area relokasi.

Namun, menurut laporan, pada  28 Juli dini hari, banjir telah meluap ke jalan tempat panti jompo tersebut berada, mencapai kedalaman dua meter pada titik terdalamnya. Ketika petugas pemadam kebakaran tiba di dekat panti jompo pada pukul 07.00, mereka tidak dapat masuk karena arus yang deras. Gambar yang beredar daring menunjukkan para penghuni yang terjebak menggedor-gedor jendela, memohon bantuan.

(Cuplikan Layar dari Internet)

Baru sekitar  pada 28 Juli pukul 10.00 pagi, tim penyelamat secara bertahap membebaskan para lansia yang terjebak. Dilaporkan bahwa sebagian besar korban selamat mampu berjalan, setelah berhasil berdiri di ambang jendela atau kursi sebelum diselamatkan. Namun, mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas meninggal dunia secara tragis.

Beberapa kerabat korban menyatakan bahwa mayoritas penghuni panti jompo tersebut adalah penyandang disabilitas. “Jika mereka semua penyandang disabilitas, bagaimana mereka bisa lolos?” ujar seorang anggota keluarga.

Dilaporkan juga bahwa panti jompo tersebut hanya memiliki satu lantai. Bahkan, air mencapai kedalaman dua meter pada titik terdalamnya. Tempat tidur umumnya setinggi sekitar satu meter. 

Dikarenakan banjir yang naik dengan cepat, panti jompo tersebut dengan cepat terendam. Dalam situasi ini, peluang bertahan hidup bagi lansia yang terbaring di tempat tidur, penyandang disabilitas, atau semi-disabilitas hampir tidak ada. Jika panti jompo tersebut memiliki dua lantai atau lebih, mungkin tragedi ini dapat dihindari. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Perdamaian Gaza Terhambat, Trump  : Hamas Harus Menyerah dan Menyerahkan Sandera

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kunci penyelesaian krisis Gaza adalah memaksa Hamas untuk menyerah dan menyerahkan para sandera karena perundingan gencatan senjata di Gaza menemui jalan buntu.

EtIndonesia. Pada Kamis (31 Juli), Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkov, bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem untuk membahas situasi di Gaza.

Keluarga beberapa sandera Gaza berkumpul di dekat kantor perdana menteri Netanyahu hari itu dan meminta Witkov untuk membantu menyelamatkan para sandera yang masih ditahan oleh Hamas.

Daria, ipar kedua sandera: “Kami tidak ingin kehilangan lebih banyak nyawa. Kami berharap dapat mengembalikan para sandera dan semua sandera bersama-sama pulang.”

Perang di Israel dan Hamas  telah berlangsung selama hampir 22 bulan dan 50 warga Israel masih disandera  Hamas, sementara 20 orang diyakini masih hidup.

Pada hari yang sama, Presiden Donald Trump mengunggah postingan di Truth Social yang menyerukan Hamas untuk menyerah dan mengakhiri krisis Gaza.

“Cara tercepat untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Gaza adalah Hamas menyerah dan membebaskan para sandera!!!” tulis Presiden Trump dalam postingan tersebut.

Pada hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan sanksi terhadap pejabat Otoritas Palestina karena melemahkan upaya AS untuk mendorong perdamaian di Timur Tengah.

“Amerika Serikat akan menolak mengeluarkan visa kepada anggota dan pejabat PLO dan meminta pertanggungjawaban mereka atas ketidakpatuhan terhadap janji-janji mereka dan pelanggaran perdamaian,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Dalam konferensi yang diketuai oleh Prancis dan Arab Saudi minggu ini, beberapa negara Arab, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Mesir, menuntut Hamas melucuti senjata dan mengakhiri kekuasaannya atas Gaza, sekaligus menuntut komitmen Israel terhadap “solusi dua negara”, termasuk mengakui negara Palestina, yang selama ini ditentang oleh Israel dan Amerika Serikat karena dianggap gagal mengamankan Israel.

Pada Kamis, pengiriman bantuan melalui udara memasuki hari kelima di kota Deir Barah, Gaza tengah. Banyak paket bantuan berjatuhan dari langit, tetapi penduduk setempat mengatakan jumlah tersebut masih jauh dari cukup dan mereka membutuhkan lebih banyak bantuan.

Sementara itu, truk bantuan yang memuat makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya telah memasuki Gaza dari pelabuhan Rafah, Mesir, untuk hari kelima berturut-turut.

Pada hari yang sama, Presiden Lebanon Joseph Aoun sekali lagi menyerukan kepada kelompok teroris Hizbullah untuk meletakkan senjata.

“Hari ini, tanpa ragu, kami tegaskan kendali eksklusif atas senjata oleh militer dan pasukan keamanan di seluruh wilayah Lebanon, dan jangan menunggu sampai besok,” katanya. 

Sehari sebelumnya, pemimpin Hizbullah telah berbicara dengan tegas tentang penolakan pelucutan senjata dan mengklaim bahwa seruan apa pun untuk melucuti senjatanya akan membantu Israel. (Hui/asr)

oleh Zhao Fenghua – New Tang Dynasty Television

Rudal Rusia Menghantam Gedung di Kyiv,  Lembaga Antikorupsi Ukraina Kembali Independen

Pada Kamis (31/7/2025) dini hari, Rusia melancarkan serangan udara dahsyat baru di Kyiv. Satu rudal langsung menghantam sebuah bangunan tempat tinggal, menewaskan dan melukai puluhan orang, yang termuda di antaranya baru berusia enam tahun. 

Pada saat yang sama, pasukan Rusia mengintensifkan serangan darat mereka, merebut kota penting lainnya di Ukraina timur. Secara terpisah, Ukraina, sesuai dengan opini publik, membatalkan undang-undang yang baru berusia seminggu, memulihkan independensi badan antikorupsinya.

EtIndonesia. Serangan dahsyat Rusia terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, telah dimulai lagi!

Sirine serangan udara meraung di kejauhan. Warga Kyiv, yang baru saja pulang dari gelombang pertama serangan udara, tak sempat bernapas sebelum terpaksa mengungsi ke tempat perlindungan bom untuk menghindari gelombang kedua. Beberapa di antara mereka menangis tersedu-sedu.

Kravchuk, seorang warga Kyiv, berkata: “Sirene serangan udara kedua berbunyi. Saya bangun, mengangkat telepon, dan melihat lima rudal jelajah menuju Kyiv.”

Salah satu rudal langsung menghantam sebuah bangunan tempat tinggal, menghancurkan sebagian besar bangunan tersebut. Tim penyelamat berjuang keras menembus reruntuhan dan menyelamatkan seorang anak berusia enam tahun, tetapi ia sudah tak bernapas lagi.

Kondratenko, seorang warga Kyiv, berkata: “Saya punya beberapa teman yang tinggal di reruntuhan bangunan, dan saya tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Sungguh menyedihkan, sungguh mengerikan.”

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa Rusia melancarkan putaran baru serangan udara skala besar terhadap Kyiv dan kota-kota lain pada Kamis dini hari, menggunakan lebih dari 300 drone dan delapan rudal, menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai lebih dari 80 orang, termasuk sembilan anak-anak.

Ia mengecam serangan Rusia sebagai tindakan jahat dan terencana dengan cermat untuk membebani pertahanan udara Ukraina.

Sementara itu, serangan darat Rusia terus berlanjut. Moskow mengklaim bahwa setelah hampir 18 bulan pertempuran sengit, pasukan Rusia akhirnya berhasil merebut kota penting di Ukraina timur, Chasiv Yar.

Penduduk kota Dobropillia, juga di wilayah Donetsk, merasakan bahaya pertempuran yang semakin dekat dan terpaksa mengungsi sambil membawa barang-barang mereka.

Lyubov, seorang warga Dobropillia, berkata, “Sulit. Dulu kami tinggal di satu tempat, dan sekarang kami terpaksa pergi. Tapi apa yang bisa kami lakukan?”

Orang-orang yakin bahwa Putin tidak akan mengakhiri perang dalam batas waktu gencatan senjata yang diusulkan oleh Presiden AS Trump.

Pada hari yang sama, parlemen Ukraina mengesahkan rancangan undang-undang baru yang diajukan oleh Zelenskyy untuk memulihkan independensi badan antikorupsi Ukraina.

Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan, “Saya berterima kasih kepada semua anggota parlemen atas persetujuan rancangan undang-undang saya. Sekarang telah menjadi undang-undang.”

Selama seminggu, ribuan warga Ukraina turun ke jalan untuk memprotes rancangan undang-undang yang disetujui presiden yang melemahkan otonomi dua badan antikorupsi.

Zelenskyy: “Sangat penting bagi negara untuk mendengarkan opini publik dan pendapat warganya.”

Warga Ukraina: “Rakyat adalah kekuatan!”

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menyambut baik langkah tersebut, menulis bahwa supremasi hukum dan reformasi antikorupsi Ukraina harus dilanjutkan. Hal tersebut tetap krusial bagi Ukraina untuk maju di jalur Eropa. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Demi Kesehatan Jantung dan Otak: 5 Makanan Favorit Keluarga Kerajaan Inggris

EtIndonesia. Kebiasaan makan keluarga kerajaan Inggris selama ini selalu menjadi sorotan publik. Banyak orang penasaran, apa sebenarnya yang dikonsumsi para anggota kerajaan setiap hari? Sebuah tim peneliti akhirnya berhasil merangkum lima makanan utama yang paling sering dikonsumsi oleh keluarga kerajaan. Uniknya, makanan-makanan ini bukan hanya lezat, tapi juga sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan otak.

Menurut laporan dari Gloucestershire Live, tim analisis tersebut menelusuri lebih dari 20 tahun data publik, menu jamuan resmi, hingga kandungan nutrisi makanan yang disajikan dalam berbagai acara kerajaan. Hasilnya, mereka menemukan bahwa ada lima bahan makanan yang secara konsisten hadir dalam pola makan keluarga kerajaan.

Lima Makanan yang Paling Sering Dikonsumsi oleh Anggota Kerajaan Inggris:

1. Ikan Salmon

Salmon asal Skotlandia merupakan bahan utama dalam menu kerajaan. Kaya akan asam lemak Omega-3, salmon dikenal sangat baik untuk kesehatan jantung dan fungsi otak. Data menunjukkan, antara tahun 2000 hingga 2023, salmon tercatat muncul dalam 78% menu jamuan resmi kerajaan — menjadikannya makanan favorit sekaligus andalan keluarga kerajaan untuk menjaga kebugaran.

2. Oat (Havermut)

Bubur oat adalah menu wajib sarapan mendiang Ratu Elizabeth II. Selain mudah dicerna, makanan ini memberikan rasa kenyang lebih lama. Analisis terhadap rutinitas kerajaan menunjukkan bahwa sarapan tinggi serat seperti oat biasanya diikuti dengan jadwal kegiatan yang panjang — menandakan pentingnya nutrisi ini dalam menunjang energi harian mereka.

3. Cokelat Hitam

Cokelat hitam adalah hidangan penutup favorit sang Ratu semasa hidupnya. Mengandung antioksidan tinggi, cokelat hitam bukan hanya lezat tapi juga menyehatkan. Tinjauan terhadap menu pencuci mulut kerajaan menunjukkan bahwa 64% pilihan makanan penutup pribadi berbasis cokelat — dengan preferensi tinggi pada cokelat berkadar kakao lebih dari 60% karena manfaat kesehatannya.

4. Sayuran Organik

Raja Charles III dikenal sebagai pendukung pertanian organik, dan hal ini juga tercermin dalam pilihan makanannya. Sayur musiman seperti daun bawang, wortel, dan brokoli sering kali hadir di meja makan keluarga kerajaan. Analisis terhadap para pemasok bahan makanan istana menunjukkan bahwa lebih dari 85% sayuran mereka berasal dari pertanian organik bersertifikasi.

5. Daging Buruan (Wild Game)

Daging seperti rusa, burung pegar, dan grouse (jenis burung liar) masih menjadi favorit di dapur kerajaan. Jenis daging ini dikenal rendah lemak namun kaya akan protein, zat besi, dan vitamin B. Analisis terhadap menu makan keluarga di kediaman kerajaan menunjukkan bahwa daging buruan muncul dalam 72% menu utama jamuan pribadi keluarga.

Kelima makanan ini menjadi bukti bahwa keluarga kerajaan tak hanya mementingkan cita rasa, tapi juga sangat memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang. Mungkin kita juga bisa mulai meniru gaya makan mereka untuk menjaga kesehatan jantung dan otak kita! (jhn/yn)

Trump : Kesepakatan Dagang Bisa Gagal Jika Kanada Mengakui Palestina

Menyusul pengumuman terbaru dari Prancis dan Inggris bahwa mereka siap mengakui Negara Palestina, Perdana Menteri Kanada Mark Carney  mengumumkan pada Rabu (30 Juli) bahwa Kanada mungkin akan mengikuti langkah tersebut. Presiden Trump menanggapinya pada Kamis, dengan mengatakan bahwa langkah ini dapat menggagalkan negosiasi perdagangan antara Kanada dan AS.

EtIndonesia. Perang Gaza telah berkecamuk selama 22 bulan dan krisis kemanusiaan yang ditimbulkannya meningkatkan tekanan internasional terhadap Israel.

Sekretaris Pers Gedung Putih Caroline Leavitt mengumumkan pada  Kamis (31 Juli) bahwa utusan AS untuk Timur Tengah dan duta besar AS untuk Israel akan segera mengunjungi Gaza. Mereka melaporkan temuan mereka kepada Presiden Trump.

Sekretaris Pers Gedung Putih Levitt menyatakan: “Besok, Utusan Khusus Witkoff dan Duta Besar Huckabee akan memasuki Gaza untuk memeriksa lokasi distribusi saat ini, memastikan rencana pengiriman makanan tambahan dan bertemu dengan warga Gaza setempat untuk mendengar langsung situasi buruk di lapangan.”

Pada hari yang sama, departemen kesehatan Gaza melaporkan bahwa setidaknya 91 warga Palestina tewas dan lebih dari 600 orang terluka dalam 24 jam terakhir saat berusaha mendapatkan bantuan.

Militer Israel mengatakan warga Palestina mengepung truk bantuan dan melepaskan tembakan peringatan ke arah kerumunan, tetapi tidak ada laporan korban luka.

Setelah Perdana Menteri Kanada mengumumkan kemungkinan pengakuan negara Palestina, Presiden Trump menanggapi di Truth Social.

Presiden Trump menulis: “Wow! Kanada baru saja mengumumkan dukungannya terhadap negara Palestina. Ini akan sangat menyulitkan kami untuk membuat kesepakatan dagang dengan mereka. Oh, Kanada!!!”

Kanada sedang berupaya menegosiasikan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat. Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai hingga 1 Agustus, semua barang Kanada di luar USMCA akan dikenakan tarif hingga 35%.

Di Tel Aviv, Israel, sebagian besar orang yang berbicara kepada media pada  Kamis menyatakan penolakan terhadap rencana Kanada untuk mengakui negara Palestina, menyebut langkah terbaru negara-negara Barat tersebut sebagai kesalahan besar dan hadiah bagi terorisme Hamas.

Mereka juga menyatakan bahwa masalah antara Israel dan Palestina hanya dapat diselesaikan setelah pembebasan 50 sandera yang tersisa.  (Hui/asr)

New Tang Dynasty Television – Zhao Fenghua, melaporkan

Warga Texas Diperingatkan Tentang Makhluk Laut dengan Sengatan Beracun yang Terasa Seperti Api Selama Berjam-jam, Bahkan berhari-hari

EtIndonesia. Makhluk laut berbahaya yang dapat membuat kulit terbakar selama berjam-jam terdampar di pantai-pantai AS.  Masyarakat diperingatkan untuk tidak menyentuhnya jika ingin menghindari sengatan ratusan bulu sikat yang mengandung zat beracun. 

Para ahli mengatakan itu adalah spesies cacing api laut beracun, yang dikenal sebagai Amphinome rostrata, yang telah terlihat di pantai Corpus Christi di Texas. Warnanya cerah, tetapi jangan pernah didekati. 

Mereka dinamai cacing api karena sengatannya yang menyengat. Jace Tunnell, direktur keterlibatan masyarakat di Harte Research Institute, adalah orang pertama yang menemukan mereka dan segera memberi tahu yang lain. 

Tunnell memperingatkan tentang makhluk menyeramkan ini, dan mengatakan bahwa satu kontak “terasa seperti api selama sekitar tiga jam.” Cacing api laut ini panjangnya sekitar 7,5 inci dan dipenuhi ratusan duri tajam, yang tidak terlihat jelas oleh mata manusia.

Rasa terbakar dan gejala lain dari cacing api

“Mereka terdampar di sepanjang area survei saya, dari Pantai Nasional Pulau Padre hingga Pulau Matagorda,” kata Tunnell. 

Saat bersentuhan, bulunya patah dan menempel di kulit korban. Bahkan satu bulu kecil seperti jarum dapat melepaskan neurotoksin dalam dosis yang kuat, memberikan sensasi seperti kulit terbakar. Sensasi terbakar ini menyebabkan rasa sakit selama berjam-jam, dan juga menyebabkan pusing, mual, dan iritasi kulit. 

Para ahli mengatakan hal ini terjadi karena racun yang dilepaskan oleh jarum ke dalam tubuh manusia mengganggu sistem saraf. Membunuh mereka juga tidak sepenuhnya berhasil. 

Jika cacing api dibelah menjadi dua, tubuhnya dapat tumbuh kembali. Tunnell mengatakan bahwa dia secara pribadi pernah mengalami sensasi terbakar karena beberapa cacing api menempel di kulitnya sebelumnya. Namun, beberapa orang mungkin hanya merasakan sensasi ringan, tetapi itu mungkin tidak berlaku bagi sebagian besar orang.

Apa yang harus dilakukan untuk meredakan gejala cacing api

Tanda-tanda peringatan telah dipasang di titik-titik akses pantai seiring dengan meningkatnya jumlah penampakan cacing api. Pengunjung pantai telah diperingatkan bahwa mereka boleh melihat tetapi tidak boleh menyentuhnya. 

Terlepas dari semua tindakan pencegahan, jika seseorang masih melakukan kontak fisik dengan cacing api, mereka harus segera memberikan perawatan. Dr. Jason Sevald dari Palm Beach Gardens Medical Centre mengatakan campuran air panas dan cuka harus dituangkan ke area yang terkena karena dapat menetralkan racun. (yn)

Jangan Biarkan Gaya Bicaramu yang Bermental Miskin Menghancurkan Masa Depanmu

EtIndonesia. Pernahkah kamu memperhatikan gaya bicaramu sendiri? Jangan sampai begitu kamu buka mulut, yang keluar justru menunjukkan betapa kekanak-kanakan, sempit, dan naifnya pola pikirmu.

Kebiasaan berbicara seseorang, secara alami dipengaruhi oleh lingkungan tempat dia dibesarkan. Tapi pada akhirnya, gaya bicara itu sangat ditentukan oleh pilihan sadar seseorang. Jika kamu berasal dari latar belakang yang kurang beruntung, maka langkah terpenting dalam hidupmu adalah mengubah cara berpikirmu.

Dulu saya pernah menjalin kerja sama dengan beberapa orang. Ada di antaranya yang tidak jadi bergabung, dan belakangan saya dengar, mereka juga gagal menjalin kerja sama dengan orang lain.

Kenapa bisa begitu?

Karena kerja sama hanya bisa terjalin jika semua pihak saling menguntungkan. Tapi tipe orang seperti ini hanya tahu memikirkan kepentingan diri sendiri, tidak mau ambil risiko sedikit pun, apalagi memikirkan keuntungan pihak lain. Yang ada di mulut mereka cuma “saya, saya, saya”.

Inilah mentalitas miskin.

Cara berpikir bukanlah sesuatu yang mutlak. Tapi ketika pola pikir sudah membatu, itu bisa lebih berbahaya daripada kemiskinan itu sendiri.

Kemiskinan bisa diatasi. Tapi jika pikirannya miskin, tak ada peluang untuk maju.

Pola Pikir Sempit Membuatmu Dijauhi, Meski Kamu Punya Uang

Tahun lalu, saya sedang mengerjakan sebuah proyek dan mencari partner. Lewat rekomendasi teman, saya bertemu seseorang yang katanya punya cukup banyak modal dan tertarik dengan proyek ini.

Tapi baru awal diskusi, dia langsung mengkritik ini-itu padahal belum memahami proyeknya. Lalu dia bilang, kalau dia invest, maka dia yang harus jadi pengendali, semua orang harus ikut aturannya.

Saya hanya tersenyum dan berkata: “Makan malam ini biar saya yang traktir. Kita tetap teman, tapi proyek ini adalah hasil jerih payah saya. Kendali tetap harus di tangan saya.”

Setelah berdiskusi lama, saya jelaskan bahwa jika proyek gagal, dia tidak akan kehilangan uang sepeser pun, semua modal akan saya kembalikan utuh. Tapi kalau proyek sukses, dia akan mendapat untung.

Begitu mendengar tidak ada risiko, dia langsung antusias. Tapi ketika saya menunjukkan bahwa semua pemegang saham wajib menyisihkan 5% keuntungan untuk pengembangan proyek, dia berkata: “Yang 5% itu saya nggak mau, saya sudah invest uang, jadi saya berhak mendapat semua keuntungannya.”

Saya dan partner lainnya langsung diam—senyuman kami pun kaku.

Saya tidak butuh orang yang hanya mau untung tanpa mau berbagi risiko, apalagi yang tidak berkontribusi apa pun tapi ingin ikut mengendalikan semuanya.

Ketika teman saya bertanya pendapat saya tentang orang itu, saya hanya bilang: “Maaf, saya bahkan tidak ingin berteman dengan orang seperti itu—tidak peduli seberapa banyak uang yang dia punya.”

Beberapa bulan kemudian, proyek itu menghasilkan keuntungan besar. Orang tadi berkali-kali menelepon saya, memohon ingin bergabung. Tapi saya tolak terus.

Belakangan saya dengar, uang yang dulu dia miliki ternyata hasil menang lotre, dan sekarang sudah habis. Dia ingin berinvestasi lagi, tapi tak ada yang mau bekerja sama dengannya. Usaha sendiri pun tak jalan.

Banyak yang bilang: “Uang bisa menghasilkan uang.” Itu memang benar. Tapi orang yang punya mental miskin, diberi uang sebanyak apa pun, tetap akan habis tanpa hasil. Kalaupun tidak dihamburkan, ya cuma disimpan diam-diam tanpa tahu cara memanfaatkannya. Dan yang paling parah, satu kalimat dari mulutnya bisa menghilangkan semua peluang.

Mental Miskin vs Mental Kaya: Bedanya Ada di Cara Pandang dan Cara Bicara

Apa sebenarnya perbedaan antara mental miskin dan mental kaya?

Di internet, kamu bisa temukan banyak penjelasan teoretis. Tapi saya ingin bagikan satu contoh nyata:

Kita semua punya mata yang bisa melihat kekurangan. Itulah kenapa di dunia nyata maupun di dunia maya, banyak orang senang berkumpul untuk mengkritik atasan, menyalahkan perusahaan, menghujat artis, mencemooh orang kaya.

Dan jangan lupa, setelah mencaci, mereka biasanya menutup dengan kalimat: “Orang kayak dia tuh sukses karena hoki aja. Paling juga hasil settingan.”

Itu mental miskin.

Selalu fokus pada keburukan orang lain, tidak mau menerima kelebihan orang lain, dan menghabiskan waktu untuk mengeluh.

Orang yang punya mental kaya bukan berarti tidak melihat kekurangan. Mereka tetap melihat, tapi juga melihat peluang di balik itu. 

Mereka akan berpikir: “Orang ini banyak celah, tapi kok bisa sukses ya? Pasti ada sesuatu yang bisa saya pelajari. Kekurangannya bisa saya hindari, kekuatannya akan saya tiru. Dengan itu, saya bisa lebih sukses darinya.”

Bukan hanya berpikir, mereka juga langsung mencari strategi dan mengeksekusi langkah-langkah untuk maju. Mereka akan terus menguji cara mereka sampai tahu mana yang berhasil.

Sementara orang dengan mental miskin?  Boro-boro bertindak, berpikir saja mereka enggan. Mereka lebih memilih banyak bicara, banyak mengeluh, dan membuang waktu emas mereka begitu saja.

Pikiranmu Bisa Terlihat dari Ucapanmu

Nietzsche pernah berkata soal pendidikan: “Sebenarnya tak ada yang namanya ‘pendidik’. Yang ada hanyalah orang-orang yang mampu mendidik dirinya sendiri.”

Orang yang tidak mampu mengembangkan diri umumnya adalah mereka yang berpola pikir miskin.

Dan indikator paling jelas dari pola pikir miskin bukanlah pakaian mahal atau pekerjaan bagus, tapi… cara bicara.

Kamu bisa saja memakai jas mahal, punya pekerjaan yang cukup bergengsi. Tapi kalau cara bicaramu tetap menyudutkan, penuh curiga, defensif, dan egois—semua itu akan terungkap dalam hitungan detik.

Jika kamu tidak segera menyadari dan memperbaiki cara bicaramu, peluang akan terus hilang dari hidupmu, dan masa depanmu akan perlahan-lahan kamu hancurkan sendiri.

Penutup: Gunakan Waktu Seperti Orang Kaya, Bukan Seperti Orang Miskin

Orang dengan mental miskin terus membuang waktu. Orang dengan mental kaya terus mencari cara untuk mengolah waktu menjadi nilai.

Sebelum pola pikirmu mengeras dan tak bisa diubah, sering-seringlah mengamati cara orang sukses berbicara.  Pelajari, tiru, dan adaptasikan. Itulah langkah awal menembus batas kelas sosial. (jhn/yn)

Mantan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol Menolak Interogasi dengan Berbaring Mengenakan Celana Dalam

EtIndonesia. Mantan presiden Korea Selatan yang dimakzulkan, Yoon Suk Yeol, berbaring di lantai sel penjaranya hanya dengan mengenakan celana dalam untuk melawan upaya interogasi, kata jaksa penuntut pada hari Jumat (1/8).

Jaksa penuntut memperoleh surat perintah penangkapan baru pada hari Kamis untuk membawa paksa mantan pemimpin tersebut guna diinterogasi atas tuduhan manipulasi pemilu.

Namun, mereka “tidak dapat melakukannya karena penolakannya yang keras”, kata jaksa Oh Jeong-hee kepada para wartawan.

“Tersangka menolak penangkapan sambil berbaring di lantai tanpa mengenakan pakaian tahanan,” katanya.

“Karena kekhawatiran akan insiden keamanan, penggunaan kekerasan fisik dihentikan, dan pelaksanaan surat perintah tersebut ditangguhkan sementara.”

Yoon mengenakan “atasan tanpa lengan dan celana dalam tahanan,” kata jaksa penuntut, menyebutnya “cara yang paling tepat” untuk menggambarkan pakaiannya mengingat “situasi yang serius”.

Jaksa penuntut memberi tahu Yoon bahwa mereka harus menggunakan kekerasan fisik jika diperlukan dalam upaya selanjutnya.

Yoon ditangkap setelah dia mencoba memberlakukan darurat militer pada 3 Desember, dengan mengirimkan pasukan ke parlemen untuk mencegah anggota parlemen menolak deklarasinya dan menjerumuskan negara ke dalam kekacauan politik.

Dia menghadapi serangkaian tuduhan, mulai dari pemberontakan hingga manipulasi pemilu, tetapi telah berulang kali menolak untuk hadir dalam panggilannya.

Tim hukum Yoon mengatakan bahwa jaksa penuntut telah menunjukkan “pengabaian yang meresahkan” terhadap “kepatutan dasar manusia”.

“Penasihat khusus mengubah apa yang seharusnya menjadi konferensi pers menjadi panggung untuk penghinaan pribadi,” kata pengacara Yoon, Yoo Jeong-hwa, kepada AFP.

“Lembaga hukum macam apa di negara beradab yang memberikan laporan dan komentar langsung kepada wartawan tentang pakaian tahanan, terutama di sel sempit yang suhunya mendekati 40 derajat Celcius?”

Pengacara Yoon mengatakan mantan presiden tersebut menderita “beberapa kondisi kesehatan yang mendasarinya yang menimbulkan tantangan signifikan dalam menjaga kesehatannya”, sehingga menyulitkannya untuk sepenuhnya bekerja sama dalam penyelidikan.

Menteri Kehakiman Korea Selatan mengatakan dalam sidang parlemen bahwa “terus terang memalukan bagi seorang mantan presiden untuk berperilaku seperti itu”.

“Dia mengenakan atasan lengan pendek dan celana panjang, tetapi dilaporkan melepas seragam penjaranya ketika tim penasihat khusus mencoba menegakkan surat perintah penangkapan, dan kemudian mengenakannya kembali segera setelah mereka pergi,” kata Jung Sung-ho.

“Kami akan memastikan dia diperlakukan dengan bermartabat, tanpa menimbulkan kecurigaan adanya perlakuan istimewa, mengingat jabatannya sebelumnya,” tambahnya.