Kremlin Mengatakan Tekanan Trump Tidak Akan Mengakhiri Perundingan AS-Rusia

EtIndonesia. Kremlin mengatakan pada hari Jumat (18/7) bahwa mereka tidak yakin bahwa sikap lebih keras yang diambil Presiden AS, Donald Trump terhadap Rusia terkait perang di Ukraina akan mengakhiri perundingan AS-Rusia yang bertujuan untuk memulihkan hubungan mereka yang telah renggang.

Trump mengumumkan posisi barunya pada hari Senin, menetapkan batas waktu 50 hari bagi Moskow untuk mencapai gencatan senjata di Ukraina atau menghadapi sanksi. Dia juga menjanjikan lebih banyak rudal untuk Kyiv, sebuah langkah yang dikritik tajam oleh Kementerian Luar Negeri Rusia pada hari Kamis.

Ketika ditanya pada hari Jumat apakah pernyataan Trump berarti bahwa negosiasi yang bertujuan untuk memulihkan hubungan antara Moskow dan Washington kini akan berakhir, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan:

“Kami berasumsi bahwa bukan itu maksudnya. Tentu saja, ini adalah isu yang berbeda. Salah satu isu adalah penyelesaian (perdamaian) Ukraina. Isu lainnya adalah hubungan bilateral kita.”

Peskov mengatakan masih banyak “gangguan” dan masalah yang perlu diselesaikan untuk memperbaiki hubungan dengan Washington, yang menurutnya “berada dalam kondisi menyedihkan.” Dia menyebut upaya untuk mengubah situasi tersebut memakan waktu dan sulit.

Dialog Moskow dengan Washington tampak membaik setelah Trump kembali menjabat pada bulan Januari, tetapi Trump semakin frustrasi dengan Presiden Vladimir Putin atas persyaratan yang diberikan pemimpin Kremlin tersebut pada potensi gencatan senjata.

Rusia dan Ukraina mengadakan dua putaran perundingan damai di Turki awal tahun ini, yang menghasilkan kesepakatan untuk bertukar tahanan dan jenazah tentara.

Namun, belum ada tanggal yang ditetapkan untuk putaran perundingan ketiga, dan pihak-pihak yang bertikai masih berselisih pendapat mengenai ketentuan gencatan senjata atau penyelesaian damai pada akhirnya. (yn)

Seorang Ibu di AS Adopsi Anjing Liar – Rumahnya Terbakar, Si Anjing Masuk ke Kobaran Api untuk Selamatkan Bayinya yang  Berusia 1 Tahun!

EtIndonesia. Dua tahun yang lalu, seorang ibu asal Detroit, AS,  Janet Kelley, mengadopsi seekor anjing liar bernama Blue. Beberapa hari lalu, Blue mempertaruhkan nyawanya sendiri, berlari kembali ke dalam rumah yang terbakar dan memandu petugas pemadam kebakaran menyelamatkan putri bungsu Janet, Chantal. Kisah saling menyelamatkan antara Janet dan Blue ini membuat sang ibu yakin: Blue memang ditakdirkan menjadi bagian dari keluarga mereka.

Dua tahun lalu, di pusat penyelamatan anjing liar di Detroit, Janet melihat seekor anjing campuran Labrador dan Pitbull.

Anjing itu tampak takut pada manusia, dengan sorot mata yang penuh kebingungan dan kegelisahan.

Staf di pusat penyelamatan memberitahu Janet bahwa anjing tersebut telah berkeliaran di jalanan setidaknya selama satu tahun, dan baru-baru ini ditemukan serta dibawa ke sana.

Pusat penyelamatan itu cukup unik: mereka tidak melakukan suntik mati, tetapi melatih dan merawat setiap anjing liar sampai ada yang mengadopsi.

Karena percaya pada tempat tersebut, Janet memutuskan untuk mengadopsi anjing campuran itu dan menamainya Blue.

Setelah Blue dibawa pulang, dia butuh waktu untuk beradaptasi, namun perlahan menunjukkan sisi lembut dan penuh kasih sayang.

Blue melindungi setiap anggota keluarga, termasuk empat anak Janet, bahkan kucing peliharaan pun ikut merasakan perhatian Blue.

Keluarga Janet tinggal di rumah dua lantai, sebagian kamarnya disewakan ke penyewa.

Minggu lalu, anak dari salah satu penyewa bermain dengan korek api dan secara tidak sengaja membakar furnitur. Api dengan cepat membesar dan asap tebal mulai memenuhi rumah.

Janet segera menyadari kebakaran terjadi dan buru-buru menyelamatkan seluruh anggota keluarga. Dalam kepulan asap tebal, dia berhasil menemukan beberapa anak, kucing, dan Blue, lalu mereka semua bergegas keluar rumah.

Saat itu, mobil pemadam kebakaran telah tiba dan para petugas bersiap masuk untuk menyelamatkan siapa pun yang mungkin tertinggal.

Namun tiba-tiba, Janet melihat Blue berbalik arah dan berlari kembali ke dalam rumah yang terbakar.

Petugas pemadam melihatnya dan langsung mengejar dengan maksud menarik Blue kembali ke luar.

Saat itu, Janet baru sadar: masih ada satu orang yang tertinggal di dalam rumah — bayi perempuan mereka, Chantal, yang baru berusia satu tahun.

Sebelum kebakaran, Chantal diletakkan dalam pagar bermain bayi dan belum bisa keluar sendiri.

Saat Janet nyaris berteriak minta tolong, dia melihat petugas pemadam keluar dari rumah sambil menggendong Chantal, dengan Blue tepat di samping mereka.

Petugas mengatakan awalnya mereka hanya berniat mengikuti Blue untuk menariknya keluar, namun saat mereka naik ke lantai dua, mereka melihat Chantal terjebak dalam pagar bermain. Blue terus menggonggong di sebelah pagar itu

 Saat itulah mereka sadar: Blue masuk kembali ke dalam rumah untuk menyelamatkan Chantal.

Api berhasil dipadamkan. Berkat Blue yang cepat bertindak, Chantal berhasil diselamatkan tepat waktu. Seluruh keluarga selamat tanpa luka.

Meskipun rumah tidak hangus total, tapi untuk sementara tidak bisa ditinggali.  Janet awalnya berniat membawa keluarganya ke tempat penampungan, namun mereka tidak mengizinkan membawa kucing atau anjing.

Janet akhirnya memutuskan:  “Saya tidak akan meninggalkan Blue. Kami tidak bisa berpisah darinya, bagaimanapun juga.”

Mereka pun sementara tinggal di dalam mobil.

Saat ini Janet sedang dibantu oleh beberapa organisasi amal untuk melalui masa sulit pasca kebakaran.

Bagi Janet, Blue adalah “Lassie sejati” — seekor anjing setia yang berani berkorban demi tuannya.

Rumah yang terbakar bisa dibangun kembali, tapi ikatan penuh kasih antara manusia dan anjing pelindung seperti Blue, tak ternilai harganya dan tak tergantikan.(jhn/yn)

WhatsApp Akan Keluar dari Rusia? Anggota Parlemen Mengklaim WhatsApp Menimbulkan ‘Ancaman Keamanan’

EtIndonesia. Seorang anggota parlemen Rusia, yang mengatur sektor IT, pada hari Jumat (18/7) memperingatkan bahwa WhatsApp harus bersiap untuk meninggalkan pasar Rusia, menekankan bahwa aplikasi perpesanan tersebut diperkirakan akan dimasukkan ke dalam daftar perangkat lunak terlarang, menurut laporan Reuters.

Anggota parlemen tersebut mengatakan bahwa kehadiran WhatsApp di ruang digital Rusia merupakan ancaman keamanan di negara tersebut, dan aplikasi tersebut akan segera masuk daftar hitam.

Anton Nemkin, anggota Komite Duma Negara Rusia untuk Kebijakan Informasi, IT, dan Komunikasi, menekankan bahwa nasib WhatsApp di Rusia “tertutup”.

“Perpesanan ini dimiliki oleh Meta, sebuah organisasi yang diakui sebagai ekstremis dan dilarang di negara kami. Kehadiran layanan semacam itu di ruang digital Rusia, pada kenyataannya, merupakan pelanggaran hukum terhadap keamanan nasional. Itulah sebabnya memasukkan WhatsApp ke dalam daftar program dari yurisdiksi yang tidak bersahabat yang tunduk pada pembatasan hanyalah masalah waktu,” tambahnya.

Nemkin mengatakan bahwa otoritas Rusia “tidak bisa menutup mata” terhadap fakta bahwa jutaan warga Rusia mengirimkan data, dokumen, foto, dan korespondensi pribadi mereka setiap hari melalui platform yang dikendalikan oleh entitas jahat yang mengabaikan hukum Rusia.

WhatsApp belum melakukan apa pun yang diminta Pemerintah Rusia, tegasnya, seraya menambahkan bahwa WhatsApp belum melokalisasi data, membuka kantor perwakilan, atau menunjukkan transparansi apa pun.

“Ini tidak dapat diterima di saat kedaulatan digital merupakan masalah keamanan nasional,” kata Nemkin.

Sementara itu, sebagai alternatif, Rusia akan menggunakan Telegram, ujarnya, seraya menambahkan bahwa Telegram lebih mematuhi hukum Rusia. Namun, “pemain kunci ke depannya adalah aplikasi perpesanan Rusia sendiri, Max. Platform ini dibuat dengan tujuan untuk terintegrasi dengan layanan publik, sertifikat digital, tanda tangan elektronik, dan komunikasi yang sah secara hukum,” ujarnya.

Dia menekankan fungsi dasar aplikasi perpesanan tersebut, dengan mengatakan bahwa aplikasi tersebut mencakup akun bisnis, yang cukup penting bagi para pengusaha yang perlu beralih dari WhatsApp.

“WhatsApp bukan sekadar aplikasi perpesanan, melainkan instrumen pengaruh dan titik potensial untuk pencurian data. Penarikan platform semacam itu merupakan peluang untuk menemukan solusi yang aman dan berdaulat yang melayani kepentingan warga negara dan negara,” ujar Nemkin. (yn)

Kepribadian Menentukan Nasib Mu? Bukan Takhayul, Jangan Diabaikan

EtIndonesia. Sepanjang hidup, kita sering merasa bahwa “Nasib” adalah sesuatu yang misterius—seolah semesta sudah menuliskan naskah hidup kita sejak awal. Tapi kenyataannya, ketika masalah datang, kita baru sadar: tak ada yang benar-benar “sudah digariskan.”

Seringkali, justru karakter kita sendiri yang diam-diam mengarahkan langkah hidup—saat peluang muncul, berani maju atau malah mundur? Saat kesulitan datang, bertahan atau menyerah? Saat bersosialisasi, tulus atau penuh perhitungan? Semua sifat yang tertanam dalam diri itulah yang perlahan merangkai jalan hidup kita.

Cendekiawan klasik Tiongkok, Liang Shuming, pernah berkata: “Kepribadian itu bawaan, tapi kebiasaan adalah hasil tempaan. Kepribadian melahirkan kebiasaan, dan kebiasaan mencerminkan kepribadian.”

Kalimat ini sangat tepat: sifat adalah akar, kebiasaan adalah daun. Daunnya tumbuh bagus atau tidak, tergantung kuat tidaknya akar tertanam.

Orang tua zaman dulu juga bilang: “Anak usia tiga bisa dilihat masa depannya, usia tujuh bisa ditebak saat tuanya.” 

Ini bukan berarti nasib ditentukan sejak kecil, tapi karena karakter yang terbentuk di masa awal punya pengaruh luar biasa terhadap hidup seseorang.

Percaya atau tidak, banyak orang yang tampaknya “sial” dalam hidup, sebenarnya hanya tersandung oleh karakter mereka sendiri. Sebaliknya, mereka yang hidupnya tampak lancar, sering kali karena kepribadiannya yang membawa berkah. Ini bukan mitos—tiga contoh berikut ini akan membuktikannya.

1. Sering Berpikir Negatif dan Meragukan Diri Sendiri? Jalan Hidupmu Akan Semakin Sempit

Di sekitar kita pasti ada orang seperti ini:

·        Diberi tugas baru oleh atasan, langsung panik: “Saya pasti nggak bisa, nanti dimarahin lagi.”

·        Diajak teman berbisnis, langsung ragu: “Kalau rugi gimana? Bisa-bisa jadi musuhan.”

·        Dikenalkan calon pasangan yang bagus, malah mikir: “Orang sebagus itu mana mau sama saya?”

Sikap suka meragukan diri sendiri seperti ini ibarat mengenakan rantai di kaki sendiri—semakin lama semakin berat. Padahal punya kemampuan, tapi selalu merasa “aku nggak sanggup”; padahal ada peluang, tapi takut gagal. Kalau sudah begini, jangan harap orang lain mau membantu—istilahnya, “banting tulang buat si lemah semangat” itu buang-buang tenaga.

Contohnya tetangga saya, Bu Wang. Di usia 40-an, dia kena PHK. Banyak orang menyarankan jadi asisten rumah tangga saja, tapi dia percaya diri. “Dulu saya pernah pegang gudang di kantor, ngerti soal manajemen.” Akhirnya dia nekat buka minimarket kecil. Sekarang usahanya maju pesat. 

Katanya:“Awalnya juga takut gagal, tapi kalau terus bilang ‘aku nggak bisa’, ya selamanya nggak akan bisa.”

Orang dengan karakter positif, walau jatuh tetap bangkit: “Coba lagi, pasti bisa.”

Orang dengan karakter negatif, belum jatuh sudah menyerah duluan.  Jalan hidup sempit atau luas, tergantung kamu sendiri.

2. Emosi Meledak, Tak Bisa Mengontrol Diri? Hidup yang Baik Pun Bisa Hancur Seketika

Seperti kata dalam “Lun Yu” (Kitab Analek Konfusius): “Seorang bijak harus menjaga tiga hal: saat muda, waspada pada nafsu; saat dewasa, kendalikan amarah; saat tua, hindari rakus akan hasil.”

Kalau tidak bisa mengendalikan emosi, maka hidup pun akan susah dikendalikan.

Siapa sih yang nggak punya emosi? Tapi ada juga orang yang tempramen lebih besar daripada kemampuannya.

·        Di pasar, ditipu Rp100, ribut setengah jam.

·        Ditegur rekan kerja, langsung gebrak meja: “Kamu siapa nyuruh-nyuruh saya?!”

·        Istri/anak nasihatin sedikit, langsung bentak: “Jangan ikut campur urusan saya!”

Sifat mudah meledak seperti ini bisa menghancurkan banyak hal.

·        Kerjasama yang semestinya bisa jadi peluang, bubar gara-gara emosi sesaat.

·        Orang yang tadinya mau bantu, malah menjauh karena takut.

·        Keluarga yang harusnya hangat, jadi tegang karena sering dibentak.

Pepatah mengatakan: “Harmoni mendatangkan rezeki.” 

Dan harmoni itu tak hanya soal hubungan dengan orang lain, tapi juga kemampuan berdamai dengan emosi sendiri. Tak bisa kendalikan emosi, ibarat menggenggam petasan aktif—bisa meledak kapan saja, menyakiti orang lain dan diri sendiri.

Contoh nyata: teman saya, Pak Zhou. Dulu emosian banget. Pernah ribut sama bos, langsung dipecat. Lalu jadi sopir taksi, gara-gara adu mulut dengan penumpang malah kena komplain. Akhirnya dia sadar,

“Kalau dipikir-pikir, banyak hal kecil yang nggak penting tapi bikin saya meledak. Dan itu malah bikin saya rugi,” ujarnya.

Menang debat tapi kalah hati, akhirnya cuma seperti “ambil biji kecil, buang semangka besar.” Bukan takdir buruk—tapi ulah diri sendiri.

3. Tak Punya Pendirian? Hidupmu Akan Jadi Bayangan Orang Lain

Dalam falsafah Tiongkok kuno disebutkan: “Seorang bijak membangun fondasinya dulu—jika fondasi kokoh, jalan hidup akan terbentuk dengan sendirinya.”

Kalau tidak punya dasar pribadi, hidup jadi seperti rumput liar—tergantung arah angin.

Ada juga tipe orang seperti ini:

·        Dengar saudara bilang “jadi PNS enak”, langsung tinggalkan cita-cita jadi desainer.

·        Teman bilang “live streaming lagi cuan”, ikut-ikutan tinggalkan pekerjaan tetap.

·        Tetangga bilang “anak harus les matematika olimpiade”, langsung daftarin anak meski nggak suka.

Karakter seperti ini bikin seseorang hidup hanya menurut kehendak orang lain—tak pernah bertanya pada diri sendiri: “Aku sebenarnya mau apa sih?”

Akhirnya?

·        Jadi PNS tapi tiap hari mengeluh “hidup monoton.”

·        Coba streaming tapi rugi karena tidak paham dunia itu.

·        Anak malah stres, benci belajar, dan makin malas.

Pondasi hidup itu adalah prinsip dan pendirian pribadi. Tanpa itu, kamu ibarat pohon tanpa akar—gampang tumbang diterpa angin.

Contohnya teman saya, Li. Dulu disuruh orangtua ambil jurusan akuntansi, padahal tak suka. Setelah lulus kerja, setiap hari hanya pura-pura kerja. Sekarang umur 30-an, masih di posisi yang sama. 

Katanya: “Andai dulu saya berani bilang ingin belajar otomotif, mungkin sekarang saya sudah jadi montir andal.”

Hidup dalam bayangan orang lain—bagaimana bisa bahagia? Takdir itu bukan warisan dari orang lain, tapi hasil pilihan kita sendiri.  Kalau memilih saja tidak berani, pantaskah menyalahkan takdir?

Penutup: Takdir Itu Hasil dari Karakter

Seperti pepatah mengatakan: “Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai.”

Menanam sikap positif = panen peluang.
Menanam sifat pemarah = panen masalah.
Menanam sikap plin-plan = panen kebingungan.

Bukan takhayul, tapi hukum kehidupan.

Liang Shuming juga pernah bilang: “Dalam hidup, ada tiga hubungan utama yang harus diselesaikan: hubungan dengan benda, dengan manusia, dan dengan diri sendiri.”

Yang terakhir—hubungan dengan diri sendiri—adalah tentang berdamai dengan kepribadia. Bukan berarti kamu harus mengubah dirimu total, tapi kenali kelemahanmu dan pelan-pelan perbaiki.

·        Kalau sering pesimis, biasakan bilang ke diri sendiri, “Aku bisa.”

·        Kalau gampang marah, coba tarik napas 10 detik sebelum bereaksi.

·        Kalau plin-plan, tanya hatimu: “Aku ingin apa sebenarnya?”

Perubahan kecil, jika konsisten, bisa membawa hidupmu ke arah yang jauh lebih baik.

Ingat: takdir itu selalu berada di tanganmu sendiri.

Kepribadianmu adalah setir terbaik—arah dan jauhnya perjalanan, semua tergantung kamu.(jhn/yn)

AS Menengahi Gencatan Senjata Suriah-Israel di Tengah Meningkatnya Bentrokan Druze-Badui, Korban Tewas Melampaui 600

EtIndonesia. Amerika Serikat, Sabtu dini hari (19/7), mengumumkan telah menengahi gencatan senjata antara Israel dan pemerintah sementara Suriah setelah seminggu kekerasan mematikan di wilayah selatan Suriah yang mayoritas penduduknya Druze.

Gencatan senjata ini terjadi di tengah meletusnya kekerasan antara komunitas Druze dan Badui di provinsi selatan Sweida, yang telah menewaskan sedikitnya 638 orang dan membuat hampir 80.000 orang mengungsi, menurut kelompok pemantau dan badan-badan PBB.

Pertempuran jalanan yang sengit, penembakan artileri, dan penculikan yang ditargetkan telah melanda Sweida sejak Minggu, membuat rumah sakit kewalahan, menurut laporan.

Apa yang diumumkan AS?

Utusan khusus AS Tom Barrack, yang saat ini menjabat sebagai duta besar untuk Turki, mengatakan Sabtu pagi bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan pemimpin sementara Suriah Ahmed al-Sharaa “telah menyepakati gencatan senjata” yang dinegosiasikan oleh Amerika Serikat setelah berhari-hari diplomasi di balik layar.

Kesepakatan itu, kata Barrack, didukung bersama oleh Turki dan Yordania.

“Kami menyerukan kepada kaum Druze, Badui, dan Sunni untuk meletakkan senjata mereka dan bersama-sama dengan minoritas lainnya membangun identitas Suriah yang baru dan bersatu dalam perdamaian dan kesejahteraan dengan negara-negara tetangganya,” kata Barrack dalam sebuah pernyataan di X.

Sebelumnya, pada hari Rabu (9/7), AS, menurut AFP, telah mengumumkan kesepakatan sebelumnya di mana pemerintah Sharaa menarik pasukan dari Sweida.

Mengapa Israel melakukan intervensi?

Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Damaskus pada hari Rabu, menargetkan infrastruktur militer Suriah, termasuk markas besar tentara. Israel mengutip alasan perlindungan bagi penduduk Druze dan kekhawatiran akan ketidakstabilan regional yang lebih luas.

Pada hari Jumat (18/7), Israel menyatakan telah mengirimkan bantuan senilai hampir 600.000 dolar, termasuk makanan dan pasokan medis, untuk komunitas Druze di Sweida. Namun, beberapa analis berpendapat bahwa tujuan sebenarnya Israel mungkin adalah untuk mengeksploitasi perpecahan internal Suriah dan semakin melemahkan militernya, yang masih dalam tahap pemulihan pasca perang saudara dan jatuhnya mantan Presiden Bashar al-Assad.

Apa pemicu pertempuran?

Kekerasan dimulai Minggu lalu setelah seorang pedagang sayur Druze diduga diculik oleh suku Badui di Suriah selatan, yang memicu serangkaian penculikan, pembakaran, dan akhirnya pertempuran sengit di permukiman. (yn)

Makan Larut Malam Terkait Waktu Tidur Berhubungan dengan Kontrol Gula Darah yang Buruk

Kapan Anda cenderung ingin makan dipengaruhi oleh genetika, tetapi ada cara untuk menyiasatinya

Rachel Ann T. Melegrito

Camilan larut malam yang tak bisa Anda hindari bisa jadi sedang mengganggu ritme alami tubuh Anda dan secara diam-diam menaikkan kadar gula darah, lingkar pinggang, serta risiko diabetes.

Sebuah studi pada pasangan kembar menemukan bahwa bahkan orang yang secara alami adalah “burung hantu malam” mengalami kesehatan metabolik yang lebih buruk ketika mereka mengonsumsi sebagian besar kalori mereka pada waktu yang terlambat menurut jam biologis tubuhnya.

Beberapa orang memang secara genetik cenderung makan lebih larut, dengan hingga 60 persen waktu makan dipengaruhi oleh faktor genetik.

Bagaimana Makan Terlambat Mengacaukan Jam Biologis Tubuh

Sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal eBioMedicine menemukan bahwa mengonsumsi sebagian besar kalori pada waktu yang lebih larut dibandingkan ritme sirkadian tubuh dikaitkan dengan tanda-tanda resistensi insulin, yang seiring waktu dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Penelitian ini menganalisis data dari 46 pasangan kembar identik dan fraternal. Para peneliti menentukan kronotipe masing-masing peserta — apakah mereka cenderung tidur malam (night owl) atau bangun pagi (early bird) — melalui kuesioner. Kategori ini didasarkan pada titik tengah tidur, yaitu waktu pertengahan antara ketika seseorang tidur dan bangun di hari libur kerja. Tipe pagi memiliki titik tengah sebelum pukul 04.00, tipe menengah antara pukul 04.00 hingga 04.59, dan tipe malam pada pukul 05.00 atau lebih.

Seseorang dianggap makan terlambat jika mereka mengonsumsi setengah dari kalori hariannya lebih lambat dari 10–11 jam sebelum titik tengah tidurnya.

Contohnya, seseorang yang tidur pukul 00.00 dan bangun pukul 08.00 memiliki titik tengah tidur pukul 04.00. Maka, orang ini sebaiknya sudah mengonsumsi setengah kalori hariannya sebelum pukul 17.00, sekitar tujuh jam sebelum tidur.

Seseorang yang tidur pukul 21.00 dan bangun pukul 06.00 memiliki titik tengah tidur pukul 01.30. Maka, mereka sebaiknya makan setengah kalori hariannya sebelum pukul 14.30, sekitar 6,5 jam sebelum tidur agar tetap selaras dengan ritme sirkadian.

Para peneliti menemukan bahwa makan terlambat dibandingkan dengan siklus sirkadian tubuh dikaitkan dengan sensitivitas insulin yang lebih rendah dan kadar insulin puasa yang lebih tinggi, terlepas dari usia, jenis kelamin, asupan kalori, atau durasi tidur. Hal ini juga berkaitan dengan risiko kenaikan berat badan dan obesitas. Mereka yang makan lebih banyak kalori di pagi atau siang hari menunjukkan hasil metabolik yang lebih baik dan mengonsumsi lebih sedikit total kalori.

Meskipun asosiasinya lemah, studi ini juga menemukan bahwa “burung hantu malam” lebih cenderung mengonsumsi sebagian besar kalori hariannya pada waktu yang lebih larut menurut ritme sirkadian mereka.

Frekuensi Makan Juga Berpengaruh

Frekuensi makan juga memengaruhi kesehatan metabolik. Orang yang memiliki jendela makan lebih panjang cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori total dan lebih sering ngemil, meskipun porsi makanan utama seperti sarapan dan makan malam lebih kecil. Makan lebih sering juga dikaitkan dengan lingkar pinggang yang lebih besar, terlepas dari asupan kalori dan faktor lainnya.

Ilmu di Balik Masalah Metabolisme Saat Makan Malam

Mengonsumsi lebih banyak kalori di malam hari dapat mengganggu metabolisme dan ritme alami tubuh Anda. Metabolisme kita bekerja dalam siklus harian — lebih aktif di pagi hari dan melambat di malam hari. Pada malam hari, sel-sel tubuh kita menjadi kurang sensitif terhadap insulin, hormon yang menurunkan kadar gula darah setelah makan.

Hormon melatonin, yang meningkat pada malam hari untuk mempersiapkan tubuh tidur, juga menghambat pelepasan insulin. Makan saat kadar melatonin tinggi akan menyebabkan lonjakan gula darah yang lebih tinggi dan berlangsung lebih lama. Seiring waktu, lonjakan berulang ini bisa menyebabkan resistensi insulin, membuat tubuh kesulitan mengendalikan glukosa dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Makanan, Waktu, dan Genetika

Meskipun waktu makan memengaruhi metabolisme, faktor lain seperti porsi dan jenis makanan juga berperan penting, menurut Melissa Mitri, ahli gizi dan penulis nutrisi yang tidak terlibat dalam studi ini.

“Misalnya, tidak semua burung hantu malam secara otomatis makan paling banyak di malam hari hanya karena mereka masih terjaga,” ujarnya. “Studi ini dan studi lainnya menunjukkan bahwa kebiasaan makan seseorang dan preferensi genetik terhadap waktu makan kemungkinan memiliki pengaruh lebih besar terhadap metabolisme dibandingkan jadwal tidur semata.”

Gen Anda Mungkin Memegang Peran Besar

Studi ini juga menemukan bahwa seperti halnya waktu tidur dipengaruhi oleh gen, waktu makan juga demikian.

Jumlah kalori yang Anda makan pada waktu makan terakhir, waktu makan pertama, durasi tidur, dan apakah Anda “burung hantu malam” atau “burung pagi” semuanya sangat dipengaruhi oleh faktor genetik.

Studi kembar lainnya yang tidak terkait juga menemukan bahwa genetik memengaruhi preferensi makanan dan seberapa besar kita menyukai jenis makanan tertentu.

Cara Menyesuaikan Pola Makan Berdasarkan Preferensi Waktu

Jika Anda ingin mengubah kebiasaan makan demi meningkatkan kesehatan, studi ini menyarankan bahwa mengubah kebiasaan makan malam lebih efektif daripada mencoba mengubah rutinitas pagi. Sebab, waktu makan terakhir lebih dipengaruhi oleh lingkungan dan bisa dimodifikasi, sedangkan waktu makan pertama cenderung lebih dipengaruhi oleh genetik.

Mitri menyarankan agar Anda menyesuaikan pola makan berdasarkan jendela makan alami Anda dengan mengatur keseimbangan porsi, bukan memaksakan perubahan jadwal makan.

Mengacu pada temuan studi, ia berkata:
“Jika Anda seorang burung hantu malam dengan jadwal makan antara pukul 10 pagi hingga 8 malam, Anda tetap bisa makan dalam rentang waktu ini, tetapi usahakan untuk mengonsumsi sebagian besar kalori di awal hari.”

Sebagai contoh, konsumsilah 30 hingga 35 persen kalori pada makan pertama, dan porsi lebih kecil pada makan terakhir.

Meskipun makan lebih banyak di awal hari bermanfaat, bukan berarti Anda harus sepenuhnya menghindari makan malam.

 “Jika Anda perlu makan larut, cukup kecilkan porsinya agar tidak mengambil porsi besar dari total kalori harian,” tambah Mitri.

Bagi yang ingin menyesuaikan waktu makan, lakukan perubahan secara bertahap. “Jika Anda ingin mulai makan lebih awal, beri waktu dua hingga tiga minggu agar tubuh terbiasa. Seiring waktu, tubuh dan nafsu makan Anda akan menyesuaikan, dan Anda akan mulai merasa lapar di waktu yang lebih awal.”

Setelah makan, Mitri menyarankan untuk menunggu setidaknya 2–3 jam sebelum tidur, agar tubuh memiliki waktu untuk mencerna makanan dan kadar gula darah kembali normal. Jika hanya mengonsumsi camilan ringan dan rendah lemak seperti yogurt Yunani polos, waktu tunggu bisa lebih singkat. Masa tunggu ini juga membantu mencegah refluks dan gejala maag.

Meskipun kapan Anda makan penting bagi kesehatan metabolik, apa yang Anda makan juga sama pentingnya. Mengutamakan makanan utuh seperti buah-buahan, sayuran, protein tanpa lemak, dan lemak sehat tetap menjadi kunci utama bagi kesejahteraan secara keseluruhan. (asr)

Mengapa Tidur dalam Kegelapan Total Sangat Penting

Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa bahkan tingkat cahaya rendah di malam hari dapat mengganggu tidur dan kesehatan jangka panjang
 

oleh Hadia Zainab

Meskipun tidur dalam gelap mungkin terdengar wajar, penelitian menunjukkan bahwa bahkan sedikit cahaya—seperti cahaya dari layar ponsel atau lampu malam—dapat mengganggu jam biologis tubuh, menekan produksi melatonin, dan menghambat tidur nyenyak. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, depresi, dan penyakit jantung.

Tidur bukan sekadar keadaan tidak sadar; tidur adalah proses aktif dari perbaikan dan penyetelan ulang tubuh.

“Sistem tubuh hanya dapat mencapai keseimbangan homeostasis yang optimal—kesejahteraan sejati—jika tuntutan harian diimbangi dengan kedalaman, waktu, dan kontinuitas tidur yang memadai. Cahaya di malam hari mengganggu proses ini, meskipun secara halus, dan terutama bagi mereka yang sudah rentan,” kata Dr. Roger Washington, seorang dokter kedokteran keluarga yang berfokus pada kesehatan tidur dan direktur medis Sleep to Live Well Foundation, kepada The Epoch Times.

“Ketika cahaya dikombinasikan dengan keinginan untuk tetap terjaga—seperti menggulir ponsel atau menonton TV—otak terjebak dalam mode menerima informasi, yang menunda masuknya ke siklus tidur restoratif.”

Cahaya Biru dan Tidur

Cahaya biru dari layar telah dikaitkan dengan penurunan kualitas tidur dan durasi tidur yang lebih pendek. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa tidur dalam lingkungan yang gelap dan sejuk mendukung produksi melatonin dan meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental.


Mendukung Keseimbangan Melatonin

Bahkan cahaya rendah di malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian—jam internal tubuh yang mengatur siklus tidur-bangun—yang berujung pada kualitas tidur yang buruk.

Paparan cahaya siang hari membantu mengatur jam internal tubuh dan mendukung produksi melatonin di malam hari. Namun, cahaya terang di malam hari dapat menurunkan kadar melatonin dan mengganggu tidur.

“Tidur dalam gelap memungkinkan pengatur waktu utama tubuh, yaitu suprachiasmatic nucleus, menyelaraskan ritme internal dengan siklus tidur-bangun alami.”

Suprachiasmatic nucleus adalah area kecil di hipotalamus yang berfungsi sebagai jam internal tubuh, mengontrol siklus tidur-bangun dengan merespons sinyal cahaya dari mata.

Melatonin tidak hanya membantu Anda tertidur dan tetap tidur, tetapi juga bertindak sebagai antioksidan kuat. Menghindari paparan cahaya buatan di malam hari dapat membantu mempertahankan kadar melatonin yang sehat dan meningkatkan kualitas tidur.


Meningkatkan Kesehatan Jantung

Orang dewasa yang lebih tua yang terpapar cahaya di malam hari lebih mungkin mengalami masalah kesehatan jantung dan metabolik. Studi tahun 2023 terhadap lebih dari 550 orang berusia 63 hingga 84 tahun di AS menemukan bahwa bahkan sedikit cahaya di malam hari dapat mengganggu tidur dan ritme harian, yang dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi—tetapi tidak kolesterol tinggi.

Penulis studi menyebutkan bahwa cahaya di malam hari dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes dengan mengacaukan ritme metabolik alami tubuh dan menyebabkan orang makan di waktu yang tidak sesuai dengan jam biologis mereka. Paparan cahaya malam juga mengganggu kemampuan tubuh dalam mengatur detak jantung dan pernapasan saat tidur, menciptakan efek mirip stres.

Washington mencatat bahwa hanya satu malam paparan cahaya tingkat sedang—sekitar 100 lux—sudah dapat meningkatkan detak jantung, menurunkan aktivitas parasimpatis, dan mengganggu toleransi glukosa.

Hasil studi kohort tahun 2021 yang diterbitkan dalam European Heart Journal juga menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap cahaya luar ruangan di malam hari dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (PJK). Selama 11 tahun, para peneliti mengidentifikasi 3.772 rawat inap baru karena PJK dan 1.695 kematian terkait PJK di antara orang dewasa yang lebih tua. Cahaya luar yang tinggi di sekitar rumah mereka dikaitkan dengan risiko lebih tinggi dirawat atau meninggal karena PJK. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami bagaimana cahaya malam memengaruhi kesehatan jantung secara menyeluruh.

Washington mengatakan paparan cahaya terus-menerus memberikan sinyal “terjaga” yang terus-menerus ke tubuh, menjaga kadar kortisol, insulin, dan tekanan darah tetap tinggi. Respons stres yang disimulasikan ini dapat mengganggu proses perbaikan esensial dan meningkatkan risiko penyakit.


Mendukung Kesehatan Mental

Cahaya di malam hari juga dapat memengaruhi kesehatan mental Anda dengan mengganggu kualitas tidur. Tidur buruk telah dikaitkan dengan gangguan mental, dan sebaliknya, kesehatan mental juga dapat memengaruhi seberapa baik Anda tidur.

Sebuah studi lintas sektoral yang diterbitkan pada Januari dalam jurnal Building and Environment meneliti kebiasaan tidur dan kesehatan mental lebih dari 13.000 mahasiswa di Tiongkok. Studi itu menemukan bahwa kebiasaan seperti menggunakan layar dalam pencahayaan redup, tidur dengan lampu menyala, serta kondisi mental seperti depresi dan kecemasan meningkatkan masalah tidur.

“Cahaya di malam hari, terutama cahaya buatan, membingungkan otak Anda untuk berpikir bahwa itu masih siang hari. Ini menunda pelepasan melatonin, mengacaukan ritme sirkadian, dan memecah kualitas tidur,” kata Leah Kaylor, psikolog berlisensi yang berspesialisasi dalam tidur, kepada The Epoch Times.

“Paparan cahaya terus-menerus di malam hari secara perlahan menjaga sistem saraf dalam keadaan waspada tingkat rendah, yang dapat mengikis ketahanan mental Anda. Dalam jangka panjang, gangguan ritme tidur-bangun dikaitkan dengan tingkat depresi, kecemasan, dan ketidakstabilan suasana hati yang lebih tinggi.”

Ia mencatat bahwa anak-anak dan remaja yang mengembangkan kebiasaan tidur yang baik lebih mampu mengelola perubahan suasana hati, stres, dan tuntutan kognitif saat dewasa.

Penelitian juga menunjukkan bahwa paparan lingkungan tidur yang sehat secara konsisten—sejuk, gelap, dan tenang—membantu menetapkan ritme sirkadian yang kuat sejak usia dini. Ritme ini memengaruhi segala hal mulai dari toleransi stres hingga pengendalian emosi.

Kaylor mengatakan otak membutuhkan waktu tidur yang cukup dalam fase slow-wave dan REM (Rapid Eye Movement) untuk mengatur emosi, membuang racun, dan melakukan perbaikan semalaman. Kegelapan memainkan peran kunci dalam memulai proses ini.

REM adalah tahap tidur ketika mimpi terjadi dan otak memproses emosi, memori, dan pembelajaran.


Menurunkan Risiko Obesitas dan Diabetes

“Bahkan cahaya redup (serendah 5 hingga 10 lux) dapat mengganggu struktur tidur dan mengurangi kewaspadaan serta regulasi glukosa keesokan harinya,” kata Washington. “Ini bukan sekadar respons hormonal—ini adalah penyetelan ulang seluruh sistem tubuh.”

Gangguan akibat cahaya malam ini juga muncul dalam hasil dunia nyata. Dalam studi kohort terhadap 678 orang dewasa yang lebih tua, mereka yang terpapar cahaya 5 lux atau lebih di malam hari memiliki kemungkinan 3 hingga 4 kali lebih besar untuk mengembangkan diabetes selama periode 3,5 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan cahaya malam dapat secara signifikan meningkatkan risiko diabetes pada orang tua.

Meskipun satu malam paparan cahaya mungkin tidak berbahaya, paparan tingkat rendah yang konsisten dalam jangka panjang dapat secara perlahan mengganggu fungsi tubuh, kata Washington.

Menghindari cahaya terang di malam hari juga dapat membantu menurunkan risiko diabetes, bahkan jika Anda memiliki risiko genetik. Sebuah studi populasi yang diterbitkan di The Lancet terhadap hampir 85.000 orang dewasa di Inggris menemukan bahwa mereka yang lebih sering terpapar cahaya di malam hari memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2.

Peserta mengenakan sensor cahaya selama seminggu untuk melacak paparan mereka siang dan malam. Peneliti menemukan bahwa semakin terang cahaya malam, semakin tinggi risiko diabetes—bahkan setelah memperhitungkan faktor risiko lain seperti usia, gaya hidup, dan genetika. Orang dengan ritme sirkadian yang terganggu atau pola cahaya yang tidak teratur juga memiliki risiko lebih tinggi.


Dapat Menurunkan Risiko Kanker Tertentu

Cahaya buatan di malam hari dan gangguan terhadap ritme alami tubuh dapat meningkatkan risiko kanker tertentu. Orang yang tinggal di daerah dengan tingkat cahaya buatan malam hari tertinggi memiliki risiko 27 persen lebih tinggi terkena kanker pankreas dibanding mereka yang tinggal di daerah paling gelap, menurut hasil studi populasi besar.

Peneliti mengikuti peserta selama hingga 16 tahun dan menemukan bahwa peningkatan risiko ini secara konsisten dikaitkan dengan paparan cahaya malam. Hubungan ini serupa pada pria dan wanita, dan lebih kuat pada orang dengan berat badan normal atau kelebihan berat badan, dibandingkan dengan mereka yang obesitas. Karena obesitas sendiri sudah merupakan faktor risiko kuat untuk kanker pankreas, efek tambahan dari cahaya malam mungkin lebih terlihat pada orang tanpa obesitas.

Penelitian lain juga mendukung temuan ini. Sebuah meta-analisis terhadap 17 studi mengungkapkan bahwa wanita dengan paparan cahaya malam tertinggi memiliki risiko kanker payudara 11 persen lebih tinggi dibanding yang dengan paparan paling rendah. Risikonya sedikit lebih tinggi pada wanita pramenopause dan mereka dengan kanker payudara reseptor estrogen positif (ER-positif).

Kanker ER-positif adalah jenis kanker payudara di mana sel kanker memiliki reseptor estrogen, artinya pertumbuhannya dipicu oleh hormon estrogen.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang yang bekerja shift malam atau secara rutin terpapar cahaya malam mungkin memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan kanker. Meski alasannya belum sepenuhnya dipahami, salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa cahaya malam mengganggu produksi melatonin dan menyebabkan kekurangan tidur kronis. Ini dapat mengganggu cara sel tumbuh dan memperbaiki diri, sehingga berpotensi membuatnya lebih rentan menjadi sel kanker.


Seberapa Gelap Harusnya Kamar Tidur?

Washington menyarankan agar lingkungan tidur berada di bawah 1 lux, atau “gelap total” bagi mata telanjang.

“Anda tidak seharusnya bisa melihat tangan Anda saat mengulurkannya di depan wajah,” katanya.

Gunakan lampu malam spektrum merah jika Anda perlu bergerak di malam hari, karena cahaya merah paling kecil kemungkinannya mengganggu melatonin.

“Semakin gelap, semakin baik,” kata Kaylor. “Jika tidak memungkinkan gelap total, minimalkan paparan sebisa mungkin—matikan lampu di langit-langit, hindari menggulir layar di malam hari, dan gunakan pencahayaan redup dan tidak langsung satu jam sebelum tidur.”

Tidur yang baik penting karena saat itulah otak Anda menyimpan memori, memperkuat pembelajaran, dan menyegarkan perhatian untuk hari berikutnya. Berikut beberapa tips untuk mengurangi paparan cahaya di malam hari:

  • Gunakan tirai blackout untuk memblokir cahaya jalan atau sinar matahari pagi.
  • Matikan perangkat elektronik atau tutupi lampu menyala dengan stiker blackout.
  • Ganti bohlam terang dengan pencahayaan hangat dan redup di malam hari.
  • Kenakan masker tidur ergonomis jika Anda tidak dapat mengontrol lingkungan sekitar.

“Lingkungan tidur yang gelap membantu Anda mencapai tahap tidur yang lebih dalam dan tanpa gangguan, yang penting untuk ketajaman berpikir, kreativitas, pengendalian emosi, dan pengambilan keputusan,” kata Kaylor.

“Jika Anda ingin lebih tajam secara mental besok, mulailah dengan kamar tidur yang gelap gulita malam ini.”

Hadia Zainab adalah jurnalis kesehatan dan calon dokter terapi fisik di Sialkot Medical College. Pengalamannya dalam menangani kondisi kesehatan seperti stroke, kelumpuhan, perawatan anak, dan rehabilitasi ICU menjadi dasar penulisan karyanya. Hadia mengutamakan kebaikan, empati, dan komunikasi yang jernih untuk menjembatani kesenjangan antara pasien dan tenaga kesehatan.Tidu

Trump Mengatakan 10 Sandera Israel Lainnya Akan Dibebaskan ‘Segera’, Berharap ‘Menyelesaikan’ Perang di Gaza ‘dengan Cepat’

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Jumat (18/7) bahwa 10 sandera Israel akan dibebaskan “segera” dari Gaza.

Pernyataan itu muncul di tengah desakan untuk gencatan senjata 60 hari antara Israel dan Hamas di tengah perang yang sedang berlangsung.

“Kami telah memulangkan sebagian besar sandera. Kami akan segera membebaskan 10 sandera lagi, dan kami berharap ini dapat diselesaikan dengan cepat,” kata presiden Amerika tersebut saat makan malam dengan para senator Republik.

Dia juga memuji utusan Timur Tengahnya, Steve Witkoff, sebagai “luar biasa”.

Proposal gencatan senjata yang baru mendorong pembebasan 10 sandera dan jenazah 18 sandera lainnya dengan imbalan sejumlah warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel, yang tidak disebutkan jumlahnya.

Sementara itu, pada hari yang sama, dilaporkan bahwa direktur Mossad mengunjungi AS minggu ini dengan harapan Trump akan mendukung tawaran Israel untuk meminta negara lain menerima ratusan ribu warga Palestina yang masih tinggal di Gaza.

Kepala Mossad, David Barnea, mengatakan kepada Witkoff bahwa Israel telah membahas relokasi warga Palestina ke Etiopia, Indonesia, dan Libya.

Sebelumnya pada 1 Juli, Presiden AS telah mengunggah di platform media sosialnya, Truth Social, bahwa Israel telah menyetujui “persyaratan yang diperlukan” untuk menyelesaikan gencatan senjata 60 hari di Gaza.

Pekan lalu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengunjungi Gedung Putih dan memberikan Trump salinan surat yang telah ia kirimkan kepada komite Nobel yang mencalonkan presiden untuk Hadiah Nobel Perdamaian. (yn)

Beijing Gaet Influencer Global Sebagai Upaya Propaganda Baru Membentuk Opini Publik

 oleh Li Muzi dan Janet Huang, Vision Times

Sebagai upaya terbaru  membentuk kembali citra global Tiongkok, Partai Komunis Tiongkok (PKT) meningkatkan usahanya dengan menggandeng influencer asing papan atas sebagai bagian dari strategi propaganda eksternal mereka. Setelah kunjungan viral streamer Amerika IShowSpeed awal tahun ini, Tiongkok kini bersiap menyambut dua bintang media sosial dengan pengikut terbanyak di dunia: MrBeast dari AS dan Khaby Lame dari Italia.

Menurut “Sing Tao Daily” yang mengutip “China Newsweek”, MrBeast — pemilik salah satu kanal YouTube dengan jumlah langganan terbanyak di dunia — dijadwalkan mengunjungi Tiongkok pada kuartal keempat 2025 untuk merekam sebuah program hiburan berskala besar. Sementara itu, Khaby Lame, yang terkenal dengan komedi tanpa kata dan pengikut TikTok yang sangat besar, dijadwalkan melakukan siaran langsung di platform Tiongkok pada bulan Juli sebelum memulai tur promosi keliling negara tersebut.

Dari Livestream Menuju Loyalitas

Inisiatif ini mengikuti kunjungan terkenal IShowSpeed, yang dijuluki netizen Tiongkok sebagai “Kakak Hipertiroid” karena gaya bicaranya yang energik. Selama 17 hari, influencer Amerika itu mengunjungi delapan kota di Tiongkok, mengadakan delapan siaran langsung, dan menarik rata-rata 8,2 juta penonton per siaran. Konten video terkait kunjungannya telah ditonton lebih dari 2 miliar kali.

Para analis mengatakan strategi media ini mencerminkan pergeseran dari narasi resmi negara menuju pemanfaatan otentisitas dan jangkauan masif para kreator konten Barat. “Alih-alih menceritakan kisah Tiongkok melalui saluran resmi, Beijing kini menyerahkan pesan itu ke pihak luar,” tulis Sing Tao.

“Dengan mengundang suara-suara asing yang berpengaruh — khususnya Key Opinion Leaders (KOL) dari Eropa dan Amerika Utara — untuk mengalami dan menggambarkan Tiongkok secara langsung, pemerintah bertujuan menjangkau kaum muda di luar negeri melalui narasi yang lebih mudah diterima dan meyakinkan.”

Menggaet MrBeast dan Khaby Lame

MrBeast, dikenal karena video-video rumit dan berbujet besar serta tantangan filantropisnya, memiliki audiens global sekitar 600 juta orang. Khaby Lame, bintang asal Italia kelahiran Senegal dengan 259 juta pengikut, menjadi sensasi melalui video reaksi diamnya — ditandai dengan ekspresi bahu terangkat dan kesederhanaan komedi.

Selain menggaet mega-influencer, otoritas Tiongkok juga meluncurkan inisiatif yang menyasar kreator konten kelas menengah. Sebagai bagian dari China–Global Youth Influencer Exchange Program, pemerintah menanggung sepenuhnya biaya perjalanan 10 hari bagi influencer muda asal Amerika dengan minimal 300.000 pengikut. Para peserta akan mengunjungi kota-kota seperti Beijing, Suzhou, Shanghai, Shenzhen, dan Handan.

Rangkaian perjalanan mencakup tur ke pusat e-commerce Tiongkok yang sedang berkembang dan kunjungan ke perusahaan seperti Xiaohongshu (RED) dan BYD. Para peserta juga akan mengikuti kegiatan budaya seperti pelajaran tai chi dan siaran langsung dari Tembok Besar Tiongkok. Konten dari perjalanan ini — yang diproduksi bersama oleh influencer Tiongkok dan Amerika — akan dipromosikan melalui saluran media resmi negara.

Jalur Influencer Kelas Menengah

Menurut “China Youth Daily” dan media pemerintah lainnya, kampanye ini bertujuan membentuk opini publik internasional dengan memungkinkan kreator asing untuk “mengalami Tiongkok yang sesungguhnya” dan membagikan kesan positif kepada audiens mereka.

Ini bukan pertama kalinya Tiongkok berusaha mempengaruhi pemuda Amerika melalui pengalaman yang dikurasi. Laporan Maret 2025 dari “Voice of America” mengungkapkan bahwa mahasiswa dari Universitas Duke, Universitas Columbia, dan Universitas Michigan telah mengikuti China Exchange Camp selama seminggu yang diselenggarakan oleh pemerintah Provinsi Jiangsu. Perjalanan tersebut sepenuhnya disubsidi, dan setiap mahasiswa menerima dana sebesar $2.000 untuk menutupi biaya tiket pesawat pulang-pergi.

Upaya bermodal besar ini mencerminkan strategi propaganda baru yang lebih mengandalkan influencer asing daripada juru bicara resmi dalam membentuk persepsi global — terutama di kalangan audiens muda luar negeri.

‘Kamp Pertukaran Tiongkok’

Kyle Abrahm, mahasiswa Universitas Duke yang ikut China Exchange Camp, mengatakan tujuan perjalanan itu segera terasa jelas. “Setelah menerima jadwal dan detail perjalanan lainnya,” katanya kepada Voice of America, “jelas bahwa ini lebih tentang propaganda ketimbang pengembangan diri kami.”

Abrahm menggambarkan pengalaman yang sangat dikurasi dan penampilan yang telah diskenario-kan dengan cermat. “Pemandu Tiongkok kami terus-menerus membandingkan Tiongkok dengan Amerika Serikat, sering kali untuk menonjolkan keunggulan Tiongkok,” katanya.

Mahasiswa Duke lainnya, Matthew Rodriguez, mengungkapkan kekhawatiran serupa. “Tiongkok adalah negara satu partai. Secara efektif, ini adalah masyarakat satu partai,” katanya. “Semua yang kami lihat dalam perjalanan ini dirancang dengan sangat hati-hati untuk melayani kepentingan Partai Komunis Tiongkok.”

Seiring dengan makin banyaknya mahasiswa Amerika yang bersiap mengunjungi Tiongkok melalui program-program sejenis yang didukung pemerintah, para kritikus mendesak universitas agar lebih transparan. Menurut mereka, sekolah punya tanggung jawab untuk memberi tahu mahasiswa bahwa “Anda pergi ke sana untuk membantu Partai Komunis Tiongkok memperbaiki citranya.”

Sementara itu, warganet dengan cepat menyoroti tur para influencer, termasuk milik IShowSpeed. Netizen mencatat berbagai hal penting yang tidak dimasukkan dalam jadwal perjalanannya:

“Tak ada kunjungan ke Xinjiang, Tibet, pusat tahanan, ‘shelter bantuan’, Mongolia Dalam, atau wanita berantai di Jiangsu. Tak ada pertemuan dengan pengacara HAM 709, tak ada kunjungan ke Hegang, tunawisma di kolong jembatan, atau pasar tenaga kerja dini hari. Dia tidak melihat budaya kerja 996, shift pabrik 997, iPhone bekas di Huaqiangbei, sate pinggir jalan, makanan siap saji, atau suasana muram di Lapangan Tiananmen…”

Kampanye ini mencerminkan pengakuan PKT yang semakin besar terhadap budaya influencer sebagai alat soft power yang kuat — dan menyoroti ambisi Beijing untuk memperbarui citranya di panggung global di tengah sorotan dan skeptisisme yang meningkat. (asr)

Lebih dari Puluhan Juta Jiwa Terdampak Bencana Alam di Tiongkok pada Paruh Pertama Tahun 2025

Bencana alam menyebabkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar selama periode ini.

EtIndonesia. Setidaknya 25 juta orang di Tiongkok diklaim terdampak oleh bencana alam pada paruh pertama tahun ini, dengan kerugian ekonomi langsung mencapai 7,5 miliar dolar AS, demikian disampaikan oleh Kementerian Manajemen Darurat Tiongkok (MEM) dalam konferensi pers pada 15 Juli.

Menurut juru bicara MEM, Shen Zhanli, jenis bencana alam utama selama periode tersebut adalah gempa bumi, banjir, dan bencana geologis, yang mengakibatkan 307 orang tewas atau hilang, evakuasi 620.000 orang, runtuhnya 29.600 rumah, kerusakan pada 347.200 rumah lainnya, dan kerusakan pada 5,4 juta hektare lahan pertanian.

Lembaga tersebut juga melaporkan bahwa berbagai bencana alam lainnya—termasuk hujan es, kekeringan, topan, suhu dingin tidak normal, badai salju, dan kebakaran hutan—terjadi di seluruh negeri selama paruh pertama tahun ini.

Dikarenakan catatan masa lalu rezim partai komunis Tiongkok yang sering meremehkan atau menutup-nutupi informasi, sulit untuk menilai skala dan dampak sesungguhnya dari berbagai bencana yang dilaporkan.

Banjir dan Gempa Bumi

Cekungan Sichuan menjadi wilayah banjir utama tahun ini. Antara 29–30 Juni, hujan deras melanda lebih dari 100.000 kilometer persegi wilayah tersebut, dengan curah hujan melebihi 14 miliar meter kubik hanya dalam satu hari, menurut media pemerintah. Chengdu, ibu kota provinsi, mengalami banjir parah akibat hujan lebat dan pelepasan air dari bendungan hulu.

Juga pada bulan Juni, hujan ekstrem menyebabkan banjir besar di Rongjiang, Provinsi Guizhou, yang mengakibatkan longsor, lahan pertanian terendam, dan rumah-rumah kebanjiran.

Warga setempat sebelumnya mengatakan kepada edisi berbahasa Mandarin The Epoch Times bahwa banjir mencapai lantai tiga di beberapa bangunan. (asr)

Sumber ; Theepochtimes.com

Aksi Damai di Washington Kecam 26 Tahun Penindasan Terhadap Falun Gong yang Diluncurkan Partai Komunis Tiongkok

Ribuan orang berkumpul di ibu kota Amerika Serikat untuk memperingati hari kelam saat rezim Tiongkok mulai menindas latihan spiritual Falun Gong pada 20 Juli 1999

EtIndonesia. WASHINGTON — Ribuan praktisi Falun Gong berkumpul di National Mall pada Kamis (17/7/2025) untuk menandai 26 tahun sejak Partai Komunis Tiongkok (PKT) memulai penindasan sistematis terhadap kelompok kepercayaan tersebut. Para pakar hak asasi manusia terkemuka yang berbicara dalam aksi tersebut menyatakan bahwa penindasan tidak hanya terjadi di dalam Tiongkok, tetapi juga di tanah Amerika, seiring dengan peningkatan kampanye penindasan lintas negara oleh PKT yang mengekspor upayanya ke luar negeri.

Anggota DPR Amerika Serikat, Pat Ryan (D-N.Y.) menyatakan merasa terhormat bisa bergabung dalam perjuangan berkelanjutan para praktisi Falun Gong untuk melawan penindasan PKT. Distrik Ryan mencakup markas Shen Yun Performing Arts, sebuah kelompok tari klasik Tiongkok yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong.

Anggota Kongres Pat Ryan (D-N.Y.) berbicara dalam aksi yang menyerukan penghentian penganiayaan selama 26 tahun oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong di Tiongkok, di National Mall, Washington, pada 17 Juli 2025. Madalina Kilroy/The Epoch Times

“Keteguhan Anda dalam memegang nilai-nilai yang kita saksikan hari ini—kejujuran, belas kasih, dan kesabaran—benar-benar menjadi cahaya penuntun bagi semua orang di negara kita tercinta, Amerika Serikat,” ujarnya.

Ryan adalah salah satu sponsor dari Falun Gong Protection Act, undang-undang yang bertujuan menjatuhkan sanksi terhadap rezim komunis atas praktik pembunuhan para praktisi Falun Gong yang ditahan untuk diambil organnya. RUU ini telah lolos di DPR AS, pada 17 Juli Ryan menyerukan agar Senat segera melanjutkan dan mengesahkan versi RUU tersebut.

Ia juga meminta aparat penegak hukum di tingkat federal, negara bagian, dan lokal untuk lebih memahami “cakupan dan luasnya tindakan ilegal dan tidak pantas” yang dilakukan rezim Tiongkok terhadap praktisi Falun Gong di tanah Amerika.

“Kita tidak boleh lengah,” kata Ryan kepada The Epoch Times setelah aksi. “Kita harus berbuat lebih.”

26 Tahun Penganiayaan

Falun Gong atau Falun Dafa adalah praktik spiritual damai yang mencakup latihan meditasi dan ajaran moral yang berpusat pada prinsip Sejati, Baik, Sabar. Latihan ini sangat populer di Tiongkok pada 1990-an, dengan perkiraan resmi menyebutkan antara 70 juta hingga 100 juta orang telah mempraktikkannya di akhir dekade tersebut. Rezim komunis memandang popularitas ini sebagai ancaman terhadap kontrol absolut mereka.

Praktisi Falun Gong berkumpul menuntut penghentian penganiayaan yang terus menerus dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong di Tiongkok, di National Mall, Washington, pada 17 Juli 2025. Samira Bouaou/The Epoch Times

Sejak 20 Juli 1999, PKT berupaya melenyapkan praktik ini dengan cara-cara kejam, termasuk penyiksaan di kamp konsentrasi dan pengambilan organ secara paksa, serta manipulasi opini publik melalui propaganda.

Pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin—arsitek penindasan ini—mengira dapat “melenyapkan” Falun Gong dalam waktu singkat. Namun, 26 tahun kemudian, Falun Gong tetap dipraktikkan, tidak hanya di Tiongkok, tetapi juga di sekitar 100 negara di seluruh dunia, dan para praktisinya terus menyerukan perhatian atas pelanggaran HAM oleh PKT.

“Kita berkumpul di sini untuk menyaksikan tragedi yang masih berlangsung,” kata Alan Adler, Direktur Eksekutif Friends of Falun Gong.

“Tapi PKT gagal memahami bahwa semangat manusia tidak bisa dipadamkan. Selama 26 tahun, para praktisi Falun Gong tetap teguh, dengan keyakinan yang tak tergoyahkan, menginspirasi orang di seluruh dunia.

“Penindasan ini mengancam hak asasi setiap manusia untuk percaya dan hidup sesuai hati nuraninya. Saat kita membela para praktisi ini, kita membela martabat manusia itu sendiri.

“Pengaruh PKT telah melampaui batas-batas Tiongkok. Jika kita diam dan berpaling, kita berisiko kehilangan kebebasan yang menjadi ciri masyarakat beradab kita hari ini.”

Greg Scarlatoiu, Presiden Committee for Human Rights in North Korea, mengatakan para praktisi Falun Gong adalah sumber inspirasi bagi para pembela hak asasi, karena telah menghadapi salah satu rezim paling represif di dunia.

“Tidak ada kampanye penindasan yang diterima di tanah Amerika. Dan tidak akan pernah,” tegas Scarlatoiu. “Sejati, Baik, Sabar, dan hak asasi manusia akan selalu menang. Kita akan menang bersama dan segera merayakan runtuhnya para tiran.”

Greg Scarlatoiu, Presiden dan CEO Komite Hak Asasi Manusia di Korea Utara, berbicara dalam sebuah aksi unjuk rasa yang menyerukan penghentian penganiayaan selama 26 tahun oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong di Tiongkok, di National Mall, Washington, pada 17 Juli 2025. Madalina Kilroy/The Epoch Times

Kebijakan untuk Perubahan

Piero Tozzi, Direktur Staf di Congressional-Executive Commission on China (CECC)—sebuah panel bipartisan—mengatakan bahwa penindasan PKT terhadap Falun Gong menunjukkan sifat “keji” rezim tersebut yang tidak berubah.

“Selama lebih dari 25 tahun, Falun Gong telah menjadi seperti ‘burung kenari di tambang batu bara’, memberikan peringatan akan sifat represif rezim komunis,” ujar Tozzi, pendukung lama upaya praktisi Falun Gong untuk mengakhiri penindasan.

Piero Tozzi, Direktur Staf Congressional-Executive Commission on China, menghadiri demonstrasi tahunan yang menyerukan penghentian penganiayaan yang terus dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong di Tiongkok, di National Mall, Washington, pada 17 Juli 2025. Samira Bouaou/The Epoch Times

Tozzi pernah menjabat sebagai penasihat kebijakan senior bagi Anggota DPR AS, Chris Smith (R-N.J.), penulis Stop Forced Organ Harvesting Act of 2025 dan penyelenggara dengar pendapat kongres pertama tentang penindasan Falun Gong dua dekade lalu. Ia menyerukan Senat untuk mengesahkan RUU tersebut, yang akan memberikan sanksi kepada individu yang terlibat dalam operasi negara untuk mengambil organ dari tahanan hati nurani untuk dijual di pasar transplantasi.

“Penindasan lintas negara semakin terang-terangan,” ujar Tozzi kepada The Epoch Times, merujuk pada KTT APEC 2024 di San Francisco, di mana para demonstran damai yang mengkritik Xi Jinping diserang oleh pendukung PKT yang memiliki hubungan dengan konsulat Tiongkok.

Tozzi mengatakan PKT memanfaatkan sistem di masyarakat bebas seperti Amerika untuk memperluas penindasannya ke luar negeri, sementara aparat penegak hukum di tingkat lokal dan negara bagian belum tentu memahami sifat rezim komunis.

“Mereka tidak menyadari bahwa ini adalah rezim predator, yang lengannya menjulur ke Amerika Serikat, bahkan menyasar warga Amerika,” katanya.

Smith dan Senator Jeff Merkley (D-Ore.) akan memperkenalkan kembali Transnational Repression Policy Act di DPR dan Senat. UU ini akan mewajibkan pelatihan untuk membantu penegak hukum mengenali dan melawan penindasan lintas negara.

Mohamed Elsanousi, komisioner Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat (USCIRF), berbicara dalam sebuah aksi unjuk rasa yang menyerukan penghentian penganiayaan selama 26 tahun oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong di Tiongkok, di National Mall, Washington, pada 17 Juli 2025. Madalina Kilroy/The Epoch Times

Mohamed Elsanousi, Komisaris U.S. Commission on International Religious Freedom (USCIRF)mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sanksi adalah alat penting yang harus digunakan AS terhadap rezim yang melanggar kebebasan beragama.

“Kami sangat merekomendasikan agar pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadap Tiongkok… atas tindakan mereka menindas kebebasan beragama minoritas, Falun Gong, Uyghur, dan lainnya,” ujarnya.

Serkan Tas, Direktur Asosiasi di Victims of Communism Memorial Foundation, juga menyerukan agar pemerintah melakukan lebih banyak tindakan terhadap penindasan yang bermula dari Falun Gong di Tiongkok, namun kini telah meluas.

“Pemerintah harus menekan badan internasional agar mengambil posisi yang lebih proaktif dan mengatasi sikap pasif mereka sendiri, serta memanfaatkan sanksi,” kata Tas.

Departemen Luar Negeri AS, dalam pernyataan memperingati ulang tahun penindasan, mengecam tindakan PKT.

“Selama lebih dari 26 tahun, PKT telah melancarkan kampanye represi terhadap praktisi Falun Gong dan keluarga mereka,” kata juru bicara departemen kepada The Epoch Times.

“Kami kembali menyerukan PKT untuk mengakhiri kampanye mereka untuk melenyapkan Falun Gong.”

Praktisi Falun Dafa berkumpul untuk menuntut penghentian penganiayaan yang terus dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong di Tiongkok, di National Mall, Washington, pada 17 Juli 2025. Madalina Kilroy/The Epoch Times

Eskalasi

Nina Shea, Direktur Center for Religious Freedom di Hudson Institute, menyatakan penindasan luas terhadap Falun Gong oleh rezim komunis setara dengan genosida.

“Ancaman terhadap Falun Gong dan kelompok-kelompok yang dilarang lainnya kini datang ke sini,” kata Shea.

“Saya sendiri hadir di Kennedy Center awal tahun ini ketika ada ancaman bom,” ujarnya, mengacu pada ancaman bom palsu di hari pembukaan pertunjukan Shen Yun di Washington.

Nina Shea, Direktur Pusat Kebebasan Beragama di Hudson Institute, berbicara dalam sebuah aksi unjuk rasa yang menyerukan penghentian penganiayaan selama 26 tahun oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong di Tiongkok, di National Mall, Washington, pada 17 Juli 2025. Madalina Kilroy/The Epoch Times

PKT berada di balik upaya untuk mengancam, menyerang secara fisik, dan menyebarkan propaganda terhadap penganut agama ini di Amerika Serikat, kata Shea.

“Ini tidak dapat diterima. Ini bertentangan dengan nilai-nilai Amerika, menolak kebebasan beragama dan kebebasan berpendapat,” ujarnya.

Faith McDonnell, Direktur Advokasi di organisasi nirlaba Katartismos, mengatakan serangan PKT terhadap Shen Yun “merupakan eskalasi besar” dari infiltrasi dan upaya subversi PKT terhadap masyarakat dan kebebasan Amerika.

Rick Fisher, peneliti senior di International Assessment and Strategy Center, memuji keberanian para praktisi Falun Gong yang tidak hanya menghadapi penindasan kejam dari PKT, tetapi juga menawarkan kepada anggota PKT “kesempatan untuk meninggalkan rezim dan bergabung dengan dunia yang menghargai hak asasi manusia.”

Beberapa tahun setelah penindasan dimulai, The Epoch Times menerbitkan seri editorial berjudul Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis, yang membedah sifat dan sejarah kekerasan PKT. Publikasi ini menginspirasi gerakan yang telah membuat 449 juta orang keluar dari PKT dan organisasi afiliasinya.

Wendy Wright, Presiden Christian Freedom International, berbicara dalam sebuah aksi unjuk rasa yang menyerukan penghentian penganiayaan selama 26 tahun oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong di Tiongkok, di National Mall, Washington, pada 17 Juli 2025. Madalina Kilroy/The Epoch Times

Wendy Wright, Presiden Christian Freedom International, yang selama ini bekerja melindungi umat Kristen yang dianiaya, mengatakan bahwa respons Falun Gong terhadap penindasan PKT yang “sangat kejam” memberikan “harapan bagi kita semua.”

“Sebagai warga Washington D.C., saya melihat Falun Gong di mana-mana, dalam berbagai bentuk—menyebarkan kebenaran melalui berita, seni, demonstrasi—dan dengan begitu aktif dan waspada,” kata Wright kepada The Epoch Times.

“Itu benar-benar menjadi contoh bagaimana menyuarakan keadilan bagi mereka yang tertindas oleh [PKT].”

‘Masalah  Dunia dan Amerika’

Teresa Zhang, 31, mengalami penindasan sejak kecil di Tiongkok.

Saat ia masih SD, ibu dari temannya—yang sering memasakkannya makanan dan memberinya mainan—ditangkap dan tewas dalam waktu satu minggu setelah ditahan.

Teresa Zhang menghadiri demonstrasi yang menuntut penghentian penganiayaan yang terus dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong di Tiongkok, di National Mall, Washington, pada 17 Juli 2025. Samira Bouaou/The Epoch Times

Saat Zhang berusia 14 tahun, gurunya melaporkan ia karena membagikan materi Falun Gong kepada teman-temannya. Ia ditahan dan dibebaskan keesokan harinya, tetapi ibunya dipenjara selama dua tahun.

Sekarang, katanya, rezim tersebut mencoba menyebarkan penindasan ini ke seluruh dunia.

“Inilah saatnya masyarakat dunia untuk sadar: Partai Komunis Tiongkok adalah anti-kemanusiaan,” kata Zhang kepada The Epoch Times.

Kristina Feng lahir di Amerika Serikat sebulan setelah penindasan dimulai. Ayah dan ibunya termasuk praktisi Falun Gong yang ikut aksi unjuk rasa di Washington pada Juli 1999 saat berita tentang penindasan PKT mulai tersebar ke luar negeri.

“Saya di sini untuk mengenang orang-orang di Tiongkok yang telah dianiaya,” ujar Feng, yang merasa memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan mereka yang kehilangan kebebasan berkeyakinan di Tiongkok.

Ia mengatakan PKT kini mengekspor penindasannya ke Amerika, dan menambahkan bahwa “itu menakutkan, tapi tidak mengejutkan.” Ini menjadi pengingat bahwa dunia tak boleh diam saat PKT menindas orang karena keyakinan mereka.

Pasangan pengusaha Babak dan Julia Baniasadi mengenal Falun Gong kurang dari setahun sebelum penindasan dimulai—Babak di Colorado, Julia di Jerman. Mereka sama-sama tidak percaya praktik damai yang memberi begitu banyak manfaat itu bisa dijadikan musuh negara oleh pemerintahnya sendiri.

Pada 17 Juli, keluarga Baniasadi bersama putranya turut serta dalam unjuk rasa di Washington karena, menurut mereka, kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan.

“Orang-orang disiksa, dibunuh, dibantai. Organ mereka diambil untuk dijual. Keluarga-keluarga dihancurkan,” kata Babak Baniasadi.

“Dan alih-alih menghentikan penindasan, Partai Komunis Tiongkok justru memperluasnya hingga ke Amerika Serikat.

“Kami hanya meminta semua orang berhati baik untuk menyadari, menyebarkan informasi, dan bangkit melawan Partai Komunis Tiongkok.”

Julia Baniasadi menambahkan bahwa terkadang orang kaget melihat non-Tionghoa seperti mereka juga mempraktikkan Falun Gong, dan ia berharap bisa menunjukkan bahwa ini adalah persoalan global yang menyangkut kemanusiaan secara keseluruhan.

“Ini bukan masalah Tiongkok saja. Ini juga masalah dunia. Ini adalah masalah Amerika,” ujarnya.

Deplu AS : “Tidak Mendukung Serangan Israel Terbaru di Suriah”

EtIndonesia. Amerika Serikat tidak mendukung serangan Israel terbaru di Suriah, demikian pernyataan Departemen Luar Negeri pada hari Kamis (17/7), menambahkan bahwa Washington menyatakan ketidaksenangannya setelah ketegangan meningkat dan segera berupaya menghentikannya.

Pada hari Rabu, Israel melancarkan serangan udara di Damaskus, sekaligus menyerang pasukan pemerintah di selatan, menuntut mereka mundur, dan mengatakan bahwa Israel bertujuan melindungi Druze – bagian dari minoritas kecil namun berpengaruh yang juga memiliki pengikut di Lebanon dan Israel.

“Mengenai intervensi dan aktivitas Israel … Amerika Serikat tidak mendukung serangan Israel terbaru,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri, Tammy Bruce, kepada wartawan dalam jumpa pers rutin.

“Kami sedang menjalin komunikasi diplomatik dengan Israel dan Suriah di tingkat tertinggi, baik untuk mengatasi krisis saat ini maupun mencapai kesepakatan yang langgeng antara kedua negara berdaulat.”

Bruce menolak mengatakan apakah Washington mendukung Israel dalam melakukan operasi militer semacam itu ketika dianggap perlu.

“Saya tidak akan membahas percakapan di masa mendatang atau masa lalu. Yang sedang kita hadapi sekarang adalah episode khusus ini, apa yang dibutuhkan, dan saya pikir kami sudah sangat jelas menyatakan ketidaksenangan kami, terutama Presiden, dan kami telah bekerja sangat cepat untuk menghentikannya,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa Amerika Serikat mengutuk kekerasan di Suriah dan mengatakan Washington secara aktif melibatkan semua konstituen di Suriah untuk bergerak menuju ketenangan dan melanjutkan diskusi tentang integrasi, serta meminta pemerintah Suriah untuk memimpin langkah ke depan. (yn)

Kenapa Semakin Banyak Anak Muda Tidak Lagi Menyayangi Orangtuanya? 3 Alasan Ini Layak Direnungkan

EtIndonesia. Dulu, orangtua adalah pelindung dan tumpuan. Namun di zaman sekarang, semakin banyak anak muda justru mulai menjaga jarak—bahkan merasa kesal, kecewa, atau enggan berdekatan dengan orangtua mereka.

Fenomena ini bukan sekadar sikap tidak tahu diri, melainkan cerminan dari perubahan zaman yang dalam. Apa sebenarnya yang membuat hubungan antara generasi muda dan orang tuanya jadi semakin renggang?

Berikut ini adalah tiga penyebab utama yang sering kali tak disadari—namun begitu menyentuh kenyataan.

1. Kesenjangan Komunikasi dan Bentroknya Nilai Antar Generasi

Zaman berubah cepat, dan cara hidup pun ikut bergeser. Namun banyak orangtua masih berpegang pada pola pikir masa lalu, lalu menjadikannya satu-satunya kebenaran. Mereka menasihati anak dengan cara “dulu ibu begini…”, “bapak dulu bisa karena begini…”, tanpa menyadari bahwa dunia tempat anak-anak mereka tumbuh sudah sangat berbeda.

Sementara itu, anak-anak muda tumbuh di era digital, terbiasa berpikir terbuka, penuh alternatif pilihan. Mereka cenderung mengedepankan dialog dua arah dan lebih ingin dimengerti, bukan “didikte”.

Ketika orangtua menolak memahami sudut pandang anak, bahkan memaksakan pandangan lama tanpa ruang kompromi, hubungan mulai retak.

“Aku bukan menolak nasihat, aku hanya ingin diajak bicara, bukan diatur seperti anak kecil.” — curhat umum dari generasi muda.

Inilah awal munculnya rasa frustasi, lalu menjelma jadi kejengkelan yang terus menumpuk.

2. Kurangnya Kehangatan Emosional dan Hilangnya Kedekatan

Kebanyakan orangtua memang sangat berjuang secara ekonomi demi anak-anak mereka. Tapi ironisnya, di tengah kesibukan dan tuntutan kerja, banyak dari mereka justru lupa memberikan kasih sayang secara emosional.

Mereka mungkin rajin membelikan barang-barang kebutuhan anak, namun jarang bertanya:

“Kamu capek nggak?”

 “Kamu sedih kenapa?”

 “Ada yang bikin kamu kesal hari ini?”

Lebih parah lagi, ketika anak mengeluh atau curhat, orangtua malah merespons dengan solusi praktis atau kalimat penyangkalan seperti:

“Ah itu nggak seberapa.”

 “Biasa aja, ibu juga dulu lebih berat hidupnya.”

Respons semacam ini membuat anak merasa tidak dimengerti dan tidak didengar. Mereka mulai menarik diri, bahkan merasa lebih nyaman cerita ke teman atau media sosial ketimbang ke orangtua sendiri.

Tanpa ikatan emosional yang hangat, hubungan orangtua-anak pun tinggal formalitas semata.

3. Kontrol Berlebihan dan Minimnya Ruang Mandiri

Banyak orangtua percaya bahwa mereka tahu apa yang terbaik untuk anak—mulai dari jurusan kuliah, pekerjaan, bahkan pasangan hidup. Namun, terlalu sering hal itu berubah menjadi kendali berlebihan.

Anak dipaksa ikut bimbingan belajar, dipilihkan teman, dikomentari gayanya, bahkan pilihan hobinya dikritik. Padahal mereka sedang mencari jati diri dan membangun kemandirian.

“Katanya sayang, tapi kenapa aku merasa dicekik?”

Anak muda zaman sekarang sangat menghargai ruang personal dan otonomi. Ketika semua sisi hidupnya dikendalikan, mereka merasa bukan dicintai—tapi dikekang.

Rasa muak dan kecewa pun tumbuh perlahan. Bahkan rasa cinta pun bisa luntur jika selalu disertai tekanan dan larangan yang membabi buta.

Renungan untuk Kedua Sisi: Bukan Tentang Siapa yang Salah, Tapi Siapa yang Mau Mengerti

Hubungan orangtua dan anak bukan perang generasi, melainkan jembatan yang harus dibangun dari dua arah. 

Memang, orangtua punya pengalaman, tapi anak muda punya konteks zaman.  Keduanya perlu saling belajar dan saling memahami.

Untuk orangtua:

  • Belajarlah mendengarkan tanpa langsung menilai. 
  • Cintailah anak sesuai kebutuhannya, bukan hanya berdasarkan apa yang menurut Anda benar.
  •  Lepaskan sedikit kendali, dan beri mereka ruang untuk tumbuh.

Untuk anak muda:

– Pahamilah bahwa orang tua bukan musuh. Mereka mungkin kurang paham cara mencintai yang sesuai zaman, tapi niatnya tetap ingin melindungi.
– Belajarlah mengkomunikasikan perasaan dengan sabar dan jujur.

Hanya dengan empati dua arah, luka bisa sembuh, dan hubungan yang dingin bisa kembali hangat.

Penutup: Keluarga Seharusnya Menjadi Rumah, Bukan Ruang Interogasi

Hubungan anak dan orang tua bukan sesuatu yang otomatis indah. Dia perlu dirawat—dengan komunikasi, pemahaman, dan keberanian untuk berubah.

Di era modern ini, bukan cinta yang berkurang. Hanya saja, cara mencintainya yang perlu diperbarui. (jhn/yn)