Saat Tua Baru Sadar, Hubungan Hubungan Suami Itu Ternyata Memiliki Hubungan Sebab Akibat

EtIndonesia. Baik pria maupun wanita, ada batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar, ada kesalahan tertentu yang jangan pernah coba dilakukan. Sekali salah langkah, sangat sulit untuk kembali seperti semula.

Banyak Orang dalam Pernikahan Mudah Bosan dan Selingkuh

Tak peduli betapa dalam cinta itu dulu, seiring waktu, gairah perlahan pudar dan rasa bosan mulai tumbuh. Akibatnya, muncul pertengkaran, perselingkuhan, bahkan perceraian…

Jika seseorang tidak benar-benar mengenali dirinya sendiri—tidak tahu jenis hubungan yang sebenarnya dia butuhkan—dan hanya tahu melarikan diri lewat perceraian atau perselingkuhan, maka dia hanya akan terus terperangkap dalam hidup yang penuh penyesalan dan kesengsaraan.

Dan hingga hari ini, kenyataan itu tetap sama.

Perselingkuhan tidak akan membawa musim semi kedua dalam hidup, sebaliknya justru membawa kita masuk ke dalam lubang yang lebih dalam. Cepat atau lambat, semua akan menerima akibatnya—dan yang paling terasa adalah saat usia senja tiba.

01. Anak Menyimpan Dendam, Rezeki Terkikis

“Dalam cinta, orang bisa memaafkan kebodohan yang serius, tapi tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan.”

Kalimat dari Gustave Flaubert ini mengingatkan kita bahwa—orang yang mengkhianati pernikahan akan sangat mudah kehilangan segalanya: keluarga, teman, harga diri.

Entah hanya bermain-main, atau terbawa nafsu, sekali kesalahan terjadi, pengampunan sejati akan sangat sulit didapat.

Kalaupun bisa kembali ke rumah, luka yang pernah ditorehkan tetap akan seperti duri yang tertanam di hati pasangan—menyakitkan, mengganjal, dan tak pernah benar-benar terlupakan.

Karma dari saling menyakiti dalam hubungan bisa mengacaukan energi rezeki dalam hidup.

Ada pepatah yang berkata: “Manusia adalah makhluk fisik, mudah rusak, sulit dipulihkan.”

Sebuah hubungan yang pernah dilukai oleh perselingkuhan, bagaikan cermin yang retak—sekeras apa pun usaha memperbaikinya, tetap takkan sama.

Akhirnya hanya menyisakan kekecewaan, kebencian dari anak-anak, dan hancurnya keberuntungan.

Sebanyak apa pun permintaan maaf, semuanya sudah terlambat.

02. Reputasi Tercoreng, Keberkahan Menyusut

Ada wanita yang berharap hubungan gelapnya dengan pria lain bisa bertahan lama. Saat dia hamil, dia bertanya: “Haruskah aku melahirkan anak ini?”

Ada pula yang sudah memiliki anak dari hubungan terlarang, tapi sang pria enggan bertanggung jawab, tak memberi nafkah.

Ada juga yang baru menyadari setelah belasan tahun menikah bahwa suaminya ternyata sudah lama berselingkuh, bahkan punya anak di luar.

Semua kisah ini terdengar seperti drama, tapi semuanya nyata—terjadi di sekitar kita.

Anak dalam hubungan terlarang seharusnya tidak pernah ada. Memaksakan untuk melahirkan hanya akan menyakiti diri sendiri dan mempermainkan kehidupan. Tapi tetap saja, banyak wanita menabrak tembok ini karena merasa terlalu cinta atau ingin mempertahankan pria dengan cara “mengikatnya lewat anak.”

Tapi ingat baik-baik: Seks dan anak tidak akan bisa membuat pria bertahan.

Ada yang berkata bahwa dalam pernikahan masa kini, kesetiaan bukan lagi prinsip mutlak. Namun sekalipun angka perselingkuhan tinggi, perselingkuhan tetaplah perbuatan yang memalukan.

Begitu rahasia terbongkar, nama baik, kedudukan, dan karier akan hancur berkeping-keping.

Sudah terlalu banyak orang yang “terjebak dan karam” dalam hubungan di luar pernikahan.

Kebahagiaan yang sesaat itu selalu datang dengan harga yang harus dibayar.

03. Tua Tanpa Sandaran, Hari Senja Penuh Nestapa

“Pasangan muda, pendamping tua”—itu kalimat yang sudah sangat akrab di telinga.
Namun tidak banyak yang benar-benar menanamkannya dalam hati.

Saat muda, nafsu begitu kuat, mudah tergoda hal-hal baru, merasa bangga bisa bermain api di luar. Tapi sebagus apa pun kamu menyembunyikannya, pada akhirnya kebenaran akan terungkap—dan perceraian menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Awalnya mungkin kamu tidak peduli. Tapi ketika usia sudah lanjut, tubuh mulai sakit-sakitan, dan tidak ada satu orang pun di sampingmu—saat itulah kamu akan merasakan kesepian yang paling menusuk.

Ada pepatah yang berkata:

“Pernikahan itu ibarat serigala. Kalau kamu memberinya makan sampai kenyang, dia akan loyal seperti anjing. Tapi kalau kamu tak sanggup memberinya makan, dia tak segan menerkammu sampai mati.”

Jika saat muda kamu tidak menghargai pernikahan, maka jangan berharap bisa diperlakukan baik oleh pernikahan saat tua.

Hidup tanpa sandaran, tua dalam kesepian—semuanya adalah hasil dari perbuatan sendiri, tak bisa menyalahkan siapa-siapa.

Pernikahan Itu Mudah Dimulai, Sulit Dipertahankan

Justru karena mempertahankan lebih sulit, maka kita perlu menjaganya dengan sungguh-sungguh. Pernikahan itu seperti taman: kalau tidak dirawat, maka akan ditumbuhi duri.

Baik pria maupun wanita—ada batas-batas moral yang tidak boleh dilanggar, ada kesalahan yang tak bisa diulang. Sekali melangkah salah, akan sangat sulit kembali seperti semula.

Hanya dengan bertanggung jawab atas hidup kita sendiri, barulah kita bisa meraih kebahagiaan dalam perjalanan panjang bernama pernikahan.(jhn/yn)

PKT Panik! Skenario Ambruk, Siapkan Jalur Melarikan Diri, Ancaman Bom dari Amerika

EtIndonesia. Dalam beberapa hari terakhir, panggung politik Partai Komunis Tiongkok (PKT) kembali bergolak—meski secara kasat mata hanya menampilkan pergeseran personel yang tampak normatif, namun di baliknya tersimpan intrik dan manuver kekuasaan tingkat tinggi. Dua sosok lama yang dikenal sebagai loyalis Wang Qishan, tokoh sentral anti-korupsi PKT, mendadak naik ke posisi strategis: satu langsung “terjun payung” ke Xinjiang sebagai pemimpin baru, satunya lagi didaulat menjadi Presiden Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB). Sekilas, pergeseran ini mungkin hanya dianggap rotasi jabatan biasa, namun kenyataannya merupakan refleksi dari dinamika kekuatan dan kegelisahan yang tengah mengendap di jantung kekuasaan Beijing.

Bersamaan dengan itu, beredar rumor bahwa Xi Jinping diam-diam telah membentuk kelompok inti ultra-eksklusif yang mewakili empat pilar: partai, pemerintahan, militer, dan intelijen. Tim ini diyakini bukan hanya untuk mengatur negara, melainkan sebagai mekanisme perlindungan dan “jalur evakuasi” jika terjadi krisis kekuasaan. Laporan ini akan menelusuri satu per satu pergeseran personel, jaringan hubungan, logika kekuasaan, hingga strategi bertahan hidup ala dinasti elite PKT di bawah bayang-bayang ketidakpastian.

Pergeseran Personel Kunci, Jaringan Lama Wang Qishan Kembali Aktif

Mutasi di Xinjiang: Ma Xingrui dan Kemunculan Chen Xiaojiang

Pada 1 Juli 2025, kantor berita Xinhua secara resmi mengumumkan bahwa Ma Xingrui tak lagi menjabat sebagai Sekretaris Partai Xinjiang. Posisi strategis ini kini dipegang oleh Chen Xiaojiang. Meski disebutkan Ma Xingrui akan “mendapat penugasan baru”, arah pasti kariernya tidak pernah diungkap ke publik—istilah samar seperti ini dalam tradisi PKT seringkali merupakan kode, antara promosi diam-diam atau “dibekukan” secara halus.

Chen Xiaojiang sendiri adalah figur menarik. Berdasarkan rekam jejak publik, dia merupakan salah satu kepercayaan Wang Qishan di era Komisi Disiplin Pusat PKT—jantung operasi anti-korupsi yang juga sarat kepentingan politik internal. Gaya kepemimpinan Chen dikenal keras dan disiplin, punya reputasi tak kompromi dalam menjaga stabilitas, serta berpengalaman dalam urusan propaganda. Kariernya menanjak dari Sekretaris Komisi Disiplin Provinsi Liaoning, Wakil Sekretaris Komisi Disiplin Pusat, hingga peran vital di Departemen Persatuan Nasional. Penempatannya di Xinjiang menandakan strategi penguatan kontrol PKT di wilayah perbatasan sensitif, sekaligus sinyal pengetatan terhadap potensi gejolak etnis.

Zou Jiayi: Wanita Pertama Pemimpin AIIB

Pada 24 Juni 2025, Zou Jiayi resmi terpilih sebagai Presiden AIIB berikutnya—sebuah pencapaian monumental karena dia menjadi wanita pertama yang menduduki jabatan ini. Zou bukan orang baru di birokrasi Beijing. Dia pernah menjadi Wakil Menteri Keuangan, Kepala Tim Inspektorat Disiplin di luar negeri, hingga Wakil Sekretaris Jenderal CPPCC. Semua jabatan tersebut sangat kental dengan nuansa keuangan, pengawasan disiplin, dan pengelolaan konflik internal.

Namun ada catatan khusus: Zou Jiayi sempat bersitegang dengan He Lifeng, Wakil Perdana Menteri yang juga kepercayaan Xi Jinping di bidang keuangan negara. Konflik laten ini membuat Zou tidak bisa menembus lingkaran inti Kementerian Keuangan—padahal, sebagai loyalis Wang Qishan, dia punya modal kuat secara politik. Penunjukannya ke AIIB, selain mengukuhkan “kuota perempuan”, juga merupakan bentuk kompromi antar faksi—sebuah keseimbangan antara kekuatan lama dan baru.

Rumor Kelompok Inti Rahasia—Xi Jinping, Transisi Kekuasaan, dan Skema Perlindungan Dinasti

Pembentukan “Kelompok Inti Partai-Pemerintah-Militer-Intelijen”

Di tengah dinamika mutasi jabatan, tersiar kabar bahwa Xi Jinping telah membentuk kelompok inti yang ultra-tertutup, terdiri dari empat tokoh yang mewakili unsur partai, pemerintahan, militer, dan intelijen khusus. Sumber eksternal menyebut, kelompok ini bukanlah struktur operasional harian, melainkan lebih ke badan khusus untuk menghadapi krisis dan mempersiapkan transisi kekuasaan.

Menurut pengamat politik AS, Chen Pokong, kelompok tersebut dirancang Xi sebagai instrumen khusus mempercepat sistem keamanan dinasti setelah dirinya, memastikan kelangsungan, dan mengamankan keluarga besarnya. Komposisinya diduga sebagai berikut:

  • Partai: Xi Jinping sendiri.
  • Pemerintah: Perdana Menteri Li Qiang.
  • Militer: Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia.
  • Intelijen Khusus: Sosok pasti masih misterius. Beberapa nama mencuat seperti Chen Yixin (eks Menteri Keamanan Publik yang kini “menghilang”), Wang Xiaohong (Menteri Keamanan Publik saat ini), atau Chen Wenqing (Sekretaris Komite Politik dan Hukum), namun kepastian peran mereka belum terkonfirmasi.

Ma Xingrui dan “Orang Keluarga Peng”: Rencana Perlindungan Keluarga Xi

Kenapa Ma Xingrui? Dia bukan sekadar pejabat karier, tetapi berasal dari Yuncheng, Shandong—kampung halaman yang sama dengan Peng Liyuan, istri Xi Jinping. Hubungan personal dan “ikatan daerah” ini sangat berharga dalam jaringan elite Tiongkok. Dikisahkan, selama perjalanan politik Xi Jinping, Peng Liyuan kerap memberi dukungan kepada Ma Xingrui, khususnya di momen kritis. Akibatnya, Ma dipandang sebagai “orang keluarga Peng” dan mendapat kepercayaan istimewa dari pasangan Xi-Peng.

Spekulasi pun berkembang: penempatan Ma Xingrui ke Beijing dengan status penugasan “ambigu” mengindikasikan kemungkinan ia akan menjadi bagian dari kelompok khusus partai-pemerintah-militer-intelijen, mungkin sebagai “kepala intelijen khusus” dengan mandat utama melindungi Peng Liyuan dan putri mereka, Xi Mingze, termasuk skenario evakuasi darurat jika krisis melanda.

Isu Kesehatan Xi Jinping dan Sinyal-ainyal Evakuasi Dinasti

Analisis Kondisi Kesehatan Xi dan Skenario Jalan Keluar

Belakangan, rumor bahwa Xi Jinping tengah mengalami sakit keras beredar semakin luas. Para pengamat menyoroti perubahan pada penampilan, gaya bicara, hingga gestur tubuh Xi dalam beberapa penampilan publik terakhir—menjadi bahan analisis kesehatan yang spekulatif namun terus bergema.

Yang paling mencolok, pada awal Juni lalu, Wakil Perdana Menteri Belarus menyebut di sebuah acara TV bahwa Presiden Belarus Lukashenko pernah makan malam bersama seluruh keluarga Xi, termasuk Peng Liyuan dan Xi Mingze—sebuah pemandangan langka dalam diplomasi Tiongkok, yang sangat jarang menampilkan keluarga pemimpin dalam interaksi internasional. Momen ini dibaca sebagai “isyarat persiapan jalan keluar”—sebuah rencana cadangan jika sewaktu-waktu keluarga Xi harus melarikan diri ke luar negeri (Rusia adalah tujuan paling logis untuk perlindungan politik).

Peran “intelijen khusus” di sini amat vital: mereka bukan sekadar menjaga pemimpin, melainkan benar-benar menjadi arsitek skema penyelamatan keluarga penguasa—mulai dari perencanaan jalur pelarian, pengamanan selama proses evakuasi, hingga perlindungan setelah tiba di negara tujuan.

Rezim dalam Bayang-Bayang Ketakutan dan Nepotisme

Jika kita tarik benang merah dari seluruh manuver ini, terlihat bahwa kekuasaan di puncak PKT tampak stabil di permukaan, namun sesungguhnya penuh kegelisahan, paranoia, dan intrik kelangsungan dinasti. Aktivasi jaringan Wang Qishan, penguatan kendali langsung oleh Xi Jinping, serta skema penyelamatan keluarga, menandai rezim telah memasuki fase survival—bukan lagi pengelolaan negara untuk rakyat, tetapi pengamanan nasib segelintir elite di puncak.

Rumor kesehatan Xi yang memburuk berpotensi menjadi katalis “reshuffle” besar-besaran di Zhongnanhai, pusat pemerintahan PKT. Jika krisis benar-benar pecah, bukan mustahil skenario pelarian besar-besaran ala film thriller politik akan terjadi—dengan keluarga Xi menjadi prioritas utama.

“Negara Kotak Hitam”—Model Kekuasaan PKT di Era Xi Jinping

Situasi ini mempertegas model khas PKT: negara kotak hitam, nepotisme, dan pengelolaan berbasis loyalitas, bukan meritokrasi atau sistem hukum yang transparan. Setiap pergeseran jabatan selalu terkait kompromi antara kelompok-kelompok kekuatan lama dan baru, warisan “perang anti-korupsi”, serta keharusan menjaga harmoni antar “veteran” agar transisi tidak menimbulkan kekacauan.

Fakta penting: sistem Wang Qishan masih dibutuhkan untuk masa “pasca-Xi”, bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi untuk melindungi “harta karun” dan keselamatan elite tua. Semua dilakukan dalam ruang gelap, tanpa transparansi, hanya berpijak pada kekuatan, ketakutan, dan organisasi rahasia.

PKT berusaha menampilkan mitos stabilitas, tapi kenyataan di dalamnya sudah mulai membusuk: prioritas utama adalah keselamatan dinasti penguasa, bukan kebebasan rakyat. Ini adalah tanda-tanda rezim yang mendekati akhir kekuatannya.

Amerika Serikat, Taiwan, dan Efek Domino Tekanan Eksternal

Sementara PKT sibuk dengan manuver internal, dunia luar juga bergerak. Kebocoran rekaman audio Donald Trump ke publik menjadi berita besar. Dalam rekaman penggalangan dana, Trump terang-terangan mengaku pernah “mengancam” Putin: jika Rusia menyerang Ukraina, sia akan menghancurkan Moskow. Hal serupa juga disampaikan Trump ke Xi Jinping, dengan ancaman: jika PKT menyerang Taiwan, sia akan membom Beijing. Trump menegaskan, dia menggunakan strategi “ambiguitas gila” yang membuat lawan tak yakin apakah dia sungguh-sungguh akan bertindak—namun rasa ragu itu cukup untuk menahan agresi.

Strategi ini, menurut para pengamat militer AS, sangat efektif menghadapi pemimpin otoriter seperti Putin dan Xi, di tengah tensi Timur Tengah dan Asia Timur. Bahkan saat ketegangan Israel-Iran memuncak, Trump terbukti berani memerintahkan serangan presisi ke fasilitas nuklir Iran—bukan hanya gertakan.

Pesan tegas kini beredar di dalam negeri Amerika: jika PKT nekat bergerak ke Taiwan, AS tidak akan ragu bertindak, bahkan dengan kekuatan penuh. Survei Reagan Foundation menunjukkan 70% rakyat AS kini mendukung pengiriman pasukan untuk mempertahankan Taiwan—bukan hanya karena alasan demokrasi, melainkan karena kepentingan rantai pasok global, khususnya sektor semikonduktor yang sangat bergantung pada Taiwan. Isu Taiwan kini jadi garis merah keamanan nasional AS, bukan lagi sekadar kebijakan luar negeri.

Pernyataan Direktur AIT (perwakilan AS di Taiwan), Sandra Oudkirk, mempertegas: AS menentang segala bentuk perubahan status quo Taiwan melalui paksaan militer, dan siap berdiri bersama Taiwan serta sekutu Indo-Pasifik melawan ancaman PKT.

Refleksi—Krisis Legitimasi, Akhir Kekuasaan, dan Jalan di Persimpangan

Pada akhirnya, segala rotasi jabatan, pembentukan kelompok khusus, serta skema perlindungan keluarga elite bukanlah wujud modernisasi, melainkan pengakuan gamblang bahwa PKT dikelola bukan demi rakyat, melainkan demi segelintir dinasti penguasa. Jika benar Xi Jinping tengah sakit keras, bukannya menyerahkan kekuasaan pada mekanisme institusional, ia malah memperkuat proteksi dan jalur pelarian untuk keluarga.

Pertanyaannya, jika PKT adalah sistem paling kuat dan stabil di dunia seperti yang selalu diklaim, mengapa istri dan anak pemimpin harus disiapkan rencana kabur? Kenyataannya, ketakutan terbesar justru ada di puncak kekuasaan—ketidakpercayaan pada sistem, rakyat, dan bahkan rekan sendiri.

Di bawah permukaan, gelombang besar tengah mengancam struktur PKT. Keterlibatan jaringan Wang Qishan, rotasi pejabat loyalis, hingga rumor kesehatan Xi—semua adalah tanda-tanda rapuhnya rezim dan hilangnya kepercayaan pada sistem yang mereka bangun sendiri.

Penutup

Kekuatan PKT saat ini hanya tinggal mitos di permukaan. Jika fokus utama adalah menyelamatkan keluarga pemimpin, bukan menyejahterakan rakyat, maka titik akhir kekuasaan sudah di depan mata. Seiring meningkatnya tekanan internal dan eksternal, serta merosotnya legitimasi, sejarah Tiongkok sedang menulis babak baru: apakah PKT akan berevolusi, runtuh, atau terjebak dalam lingkaran konflik internal tanpa akhir?

Kami akan terus memantau, menelusuri, dan membongkar setiap lapisan drama kekuasaan di Beijing—karena cahaya kebenaran selalu menemukan jalannya, betapapun gelapnya lorong kekuasaan itu.

Mobil Terendam Banjir dalam Jumlah Besar di Tiongkok Mengalir ke Pasar Mobil Bekas, Timbulkan Bahaya Tersembunyi

Baru-baru ini, sejumlah wilayah di Tiongkok mengalami banjir besar secara tiba-tiba, termasuk di Kabupaten Longshan (Hunan), Kabupaten Huaiji (Guangdong), Kabupaten Rongjiang (Guizhou), dan Kabupaten Xianfeng (Hubei). Banyak mobil tersapu atau terendam banjir dan kemudian ditarik serta dilelang di tempat. Namun, sumber yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa setelah diperbaiki, mobil-mobil yang terendam banjir tersebut mengalir ke pasar mobil bekas dan menyimpan potensi bahaya keselamatan.

EtIndonesia. Pada 18 dan 24 Juni, terjadi banjir besar yang memecahkan rekor di Kabupaten Huaiji (Guangdong) dan Kabupaten Rongjiang (Guizhou). Jalanan penuh dengan mobil yang terendam. Sejumlah pedagang mobil bergegas datang ke dua kabupaten tersebut untuk membeli mobil-mobil bekas banjir. 

Seorang pedagang mobil spesialis kendaraan bekas banjir, Tuan Li, mengungkapkan bahwa mobil-mobil tersebut setelah diperbaiki akan dijual kembali sebagai mobil bekas “berkualitas”.

Pedagang mobil, Tuan Li:  “Mobil-mobil itu kebanyakan terendam cukup parah, dan yang paling banyak adalah mobil merek Jepang. Harga pasaran mobil bekas banjir adalah sekitar 40%–50% dari harga mobil bekas normal. Detailnya tergantung kondisi dan tipe mobil. Kalau mobilnya diasuransikan, tinggal klaim saja; tapi kalau tidak diasuransikan, tidak ada catatan resminya. Setelah diperbaiki, mobil-mobil itu dijual seolah-olah bukan bekas banjir.”

Pada 19 Juni dini hari, Kabupaten Longshan di Provinsi Hunan terdampak parah akibat hujan lebat dan dibukanya pintu bendungan dari beberapa waduk di hulu. 

Seorang petugas penyelamat dari kabupaten tetangga, Tuan Zhang, mengungkapkan bahwa ia ikut serta dalam penarikan mobil-mobil terendam. Katanya, sejumlah tempat parkir penuh dengan mobil-mobil bekas banjir. Setelah urusan klaim asuransi selesai, mobil-mobil itu langsung dilelang di tempat.

Petugas penyelamat, Tuan Zhang:  “Kali itu airnya sangat besar, banyak mobil tersapu banjir sampai hilang, perusahaan asuransi tidak mengganti rugi. Tempat parkir ini hanya salah satu dari sekian banyak, ada ribuan unit, semuanya mobil bekas banjir, sampai atapnya terendam. Semuanya total loss, dari berbagai jenis. Ada perusahaan lelang di sini, lelang mulai dari beberapa ribu yuan saja. Setelah dilelang, mobil langsung diangkut. Tapi mobil-mobil itu menyimpan risiko keselamatan.”

Pada hari itu, banyak garasi bawah tanah di perumahan Kabupaten Longshan juga terendam. Di kompleks Longling International, tiga pemilik mobil tewas saat mencoba memindahkan kendaraan.

Warga Longshan, Tuan Peng:  “Di Longshan waktu itu masih dini hari, banyak orang sedang tidur. Garasi bawah tanah tiba-tiba terendam banjir. Air datang dari mana-mana, saat orang berusaha menyelamatkan mobil mereka, air sudah masuk ke garasi dan dalam 10–20 menit penuh. Banyak mobil mati mesin dan macet di tempat. Tidak bisa diselamatkan. Di Longling International ada tiga orang yang meninggal, cuma satu yang berhasil diselamatkan.”

Pada 1 Juli dini hari, hampir seluruh wilayah Kabupaten Xianfeng, Enshi, Provinsi Hubei terendam banjir. Banyak kendaraan tersapu arus. Seorang petugas penyelamat mengungkapkan bahwa ia membantu menarik mobil-mobil dari sungai, dan banyak yang sudah hancur tak berbentuk.

Petugas penyelamat, Tuan Wang:  “Di sini, di Jiangjiaba, di bawah Bendungan Baishuiba, terlalu banyak mobil yang terseret arus. Masih banyak yang belum kelihatan, belum digali. Yang berhasil diangkat pun tidak bisa diperbaiki, semuanya harus dibuang. Di sekitar sini kondisinya hancur total, benar-benar menyedihkan. Ini yang paling parah, ladang jagung juga habis tersapu.” (Hui/asr)

Laporan wartawan NTD, Xiong Bin dan Boni.

Rusia Luncurkan Serangan Udara Terbesar, Trump Kecam Putin: Omong Kosong Belaka

Rusia pada Rabu (9 Juli) dini hari, kembali meluncurkan serangan terbesar terhadap Ukraina, dengan mengerahkan 728 drone dan 13 rudal yang menggempur berbagai wilayah di negara tersebut. Presiden AS Donald Trump secara terbuka dan jarang terjadi, mengecam keras Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai “pembunuh massal”, dan menyatakan sedang mempertimbangkan untuk mendukung sanksi berat terhadap Tiongkok dan India. Pada hari yang sama, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Paus dan Kanselir Jerman di Roma, membahas rencana bantuan dan rekonstruksi pasca-gencatan senjata.

EtIndonesia. Serangan udara Rusia terhadap Ukraina terus meningkat. Pada Rabu dini hari, sebanyak 728 drone dari berbagai jenis dan 13 rudal diarahkan ke lebih dari sepuluh wilayah di seluruh Ukraina. Kota Lutsk di bagian barat laut menjadi sasaran utama serangan ini, di mana sejumlah bangunan rusak dan terbakar, namun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Militer Ukraina menyatakan bahwa pasukan pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh hampir semua drone Rusia, berkat tim pemintas drone dan satuan tembak mobil yang berperan besar dalam pertahanan tersebut.

Serangan terbaru dari Moskow ini kembali mencetak rekor sebagai serangan udara terbesar. Sehari sebelumnya, Presiden Trump menyampaikan kritik yang tidak biasa terhadap Putin karena terus melancarkan perang dan mengabaikan nyawa manusia.

Presiden AS Donald Trump:  “Kami tidak senang dengan Putin. Saya tidak senang dengan Putin. Saya katakan sekarang juga, karena dia telah membunuh banyak orang, dan sebagian besar dari mereka adalah tentaranya sendiri. Saat ini, sekitar 7.000 orang tewas setiap minggu. Saya tidak senang dengan Putin.”

Trump menambahkan:  “Putin mengatakan banyak omong kosong kepada kami, kalau kamu mau tahu kebenarannya. Dia selalu bersikap ramah, tapi semua omong kosong itu ternyata tidak ada artinya.”

Menghadapi situasi perang yang terus memburuk, Trump mengatakan dirinya tengah mempertimbangkan secara serius apakah akan mendukung rancangan undang-undang sanksi berat terhadap Rusia yang sedang dibahas di Senat.

Senator AS Richard Blumenthal:  “Bagi Tiongkok (PKT) dan India yang membeli minyak Rusia dan memperkuat mesin perang Putin, sanksi ini akan sangat kuat, keras, dan menghancurkan. Ini akan menjadi pukulan telak bagi Putin.”

Trump sebelumnya enggan menjatuhkan sanksi semacam itu, karena berharap Putin akan bersedia berunding dan menyepakati gencatan senjata.

Pada Rabu, Presiden Ukraina Zelenskyy tiba di Roma, Italia, dan dalam beberapa hari ke depan akan mengadakan konferensi bersama sekutu Barat guna membahas rekonstruksi Ukraina serta bantuan pascaperang.

Kanselir Jerman Friedrich Merz:  “Kami akan bertemu di Roma besok untuk membahas secara rinci situasi pasca gencatan senjata. Selama konferensi ini, kami juga akan mengadakan pertemuan virtual dengan ‘Koalisi Relawan’ untuk mendiskusikan lebih lanjut bantuan dan pengiriman senjata ke Ukraina.”

Paus pada Rabu menyampaikan kepada Zelenskyy bahwa Vatikan bersedia menjadi tuan rumah perundingan damai antara Rusia dan Ukraina.

Di hari yang sama, Zelenskyy juga bertemu dengan utusan Trump untuk Ukraina, Jenderal Keith Kellogg. Sehari sebelumnya, Trump sudah menjanjikan pengiriman lebih banyak senjata pertahanan ke Kyiv. (Hui/asr)

Laporan gabungan wartawan NTD, Yi Jing

Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 2.300 Orang dalam 10 Hari, Kebakaran Hutan Meluas

Eropa terus dilanda gelombang panas dan kebakaran hutan. Menurut perkiraan para peneliti di London, dalam waktu hanya 10 hari, sekitar 2.300 orang meninggal dunia akibat suhu tinggi. Kebakaran hutan di Spanyol dan Prancis masih terus berkobar. Sementara itu, suhu global pada Juni tahun ini tercatat sebagai yang ketiga terpanas dalam sejarah, dan Eropa Barat mencatat rekor suhu terpanas sepanjang masa.

EtIndonesia. Analisis bersama dari Imperial College London dan London School of Hygiene and Tropical Medicine menyebutkan gelombang panas meningkatkan risiko kematian, terutama bagi orang-orang dengan kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

Studi ini menggunakan model epidemiologi dan data kematian historis untuk memperkirakan bahwa di 12 kota besar seperti Barcelona, Madrid, London, dan Milan, sekitar 2.300 orang meninggal dunia karena sebab-sebab yang terkait dengan suhu tinggi selama periode 23 Juni hingga 2 Juli.

Lembaga Layanan Perubahan Iklim Copernicus pada 9 Juli merilis laporan bulanan yang menyatakan bahwa bulan Juni tahun ini adalah bulan Juni ketiga terpanas secara global sejak pencatatan dimulai. 

Di Eropa Barat, suhu mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, dengan banyak wilayah mencatat suhu terasa lebih dari 38°C. Di Spanyol, suhu melebihi 40°C, dan di Prancis terjadi banyak kebakaran hutan. Beberapa peneliti menyatakan bahwa perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu di kota-kota tersebut hingga 4°C.

Selain gelombang panas, wilayah Tarragona di daerah Catalonia, Spanyol, mengalami kebakaran hutan pada 7 Juli. Hingga Rabu (9 Juli), lebih dari 8.154 hektare lahan terbakar. Medan yang terjal dan angin kencang menghambat upaya pemadaman, sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Saat ini, perintah evakuasi di rumah bagi sekitar 18.000 orang telah dicabut, kecuali untuk warga desa Pauls, yang boleh keluar rumah tetapi harus tetap berada di wilayah setempat.

Sementara itu, sebuah kebakaran yang menyebar dari jalan tol ke daerah pinggiran barat laut kota terbesar kedua di Prancis, Marseille, telah membakar lebih dari 1.853 hektare dan memaksa lebih dari 400 orang mengungsi. Hingga  Rabu, lebih dari 700 petugas pemadam kebakaran dikerahkan dan situasi kebakaran mulai mereda.

Menurut laporan, kebakaran dipicu oleh mobil yang terbakar di jalan tol, dan dengan bantuan angin kencang, api dengan cepat menyebar. Puluhan bangunan dilaporkan rusak, dan lebih dari seratus orang mengalami luka ringan.

Saat ini, larangan aktivitas telah dicabut, dan Bandara Marseille telah kembali beroperasi. Namun, pihak berwenang memperingatkan bahwa risiko kebakaran masih ada.

Sebuah studi oleh lembaga kesehatan Eropa mencatat bahwa selama gelombang panas tahun 2022, jumlah kematian di Eropa mencapai 61.000 orang. Cara menghadapi suhu ekstrim masih menjadi isu penting.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature menyarankan bahwa metode pendinginan pasif seperti atap putih dan penghijauan kota bisa secara efektif menurunkan suhu selama gelombang panas. 

Selain itu, memperluas akses terhadap pendingin udara dan menjamin keterjangkauan energi juga merupakan cara efektif untuk mengurangi risiko kematian akibat suhu ekstrem—baik panas maupun dingin. (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh wartawan NTD, Guo Yuexi.

Mahasiswa Tiongkok di AS Ditangkap karena Penipuan Visa, Terancam Dideportasi

EtIndonesia. Seorang mahasiswa asal Tiongkok bernama Zhang Jiaxuemou ditetapkan bersalah dan divonis oleh Pengadilan Federal Distrik Barat New York. Ini dikarenakan ia menyembunyikan keterkaitannya dengan institusi yang terlibat dalam program “militer-sipil terpadu” Partai Komunis Tiongkok (PKT) saat mengajukan visa masuk ke Amerika Serikat. Ia kini telah diserahkan kepada Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) dan menghadapi proses deportasi.

Jaksa Federal Distrik Barat New York menyebutkan bahwa pada tahun 2021, Zhang masuk ke Amerika Serikat dengan visa pelajar F-1 dan menempuh studi di Universitas Negeri New York di Buffalo (SUNY Buffalo), mengambil jurusan teknik dirgantara.

Namun, dalam aplikasi visanya, Zhang tidak mengungkapkan bahwa ia pernah melakukan penelitian di Universitas Beihang (Universitas Penerbangan dan Antariksa Beijing) dari tahun 2017 hingga 2019.

Universitas Beihang dikenal sebagai salah satu dari “Tujuh Putra Pertahanan Nasional” PKT, serta menjadi lokasi dari sembilan laboratorium pertahanan utama milik rezim tersebut. Universitas ini merupakan lembaga utama dalam strategi militer-sipil terpadu PKT.

Sejak tahun 2020, pemerintah Amerika Serikat berdasarkan Proklamasi Presiden Nomor 10043, telah melarang warga negara Tiongkok yang terkait dengan institusi semacam ini untuk memasuki AS dengan visa jenis F atau J. Kebijakan ini bertujuan mencegah PKT menggunakan mahasiswa untuk memperoleh teknologi sensitif dan kekayaan intelektual dari AS.

Pihak kejaksaan menegaskan bahwa jika Zhang mencantumkan informasi pengalamannya dengan jujur, ia tidak akan mendapatkan visa masuk ke Amerika Serikat.

Pada  Desember 2022, setahun setelah mulai kuliah, Zhang mengajukan pendaftaran program doktor di bidang aerodinamika ke beberapa universitas ternama di AS, termasuk Universitas Purdue, Universitas Minnesota, dan Universitas Michigan.

Namun, saat itulah kebohongannya terkait visa terungkap. Zhang kemudian ditangkap pada musim panas tahun 2023 dan pada  Selasa pekan ini, ia menandatangani perjanjian pengakuan bersalah dengan pihak kejaksaan.

Departemen Kehakiman AS menyatakan bahwa Zhang telah memahami konsekuensi imigrasi serius dari kejahatannya, termasuk kemungkinan deportasi, larangan masuk kembali ke Amerika Serikat, serta hilangnya peluang menjadi warga negara AS di masa depan.

Berdasarkan Pasal 1001(a)(1) dari Judul 18 Kode Amerika Serikat, yaitu kejahatan “menggunakan penipuan, skema, atau menyembunyikan fakta penting”, pelanggar dapat dikenai hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda sebesar 250.000 dolar AS.

Departemen Kehakiman juga menyebutkan bahwa keberhasilan penyelidikan kasus ini merupakan hasil kerja sama berbagai instansi pemerintah AS, termasuk FBI (Biro Investigasi Federal), DSS (Biro Keamanan Diplomatik Departemen Luar Negeri), dan CBP (Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS). (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh wartawan NTD Zhao Fenghua.

Trump Temui Pemimpin Afrika untuk Melawan PKT, NATO Ungkap Ambisi Rezim Tiongkok

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (9 Juli)  bertemu dengan para pemimpin dari lima negara Afrika di Gedung Putih. Ia menegaskan bahwa perlakuan AS terhadap Afrika jauh lebih baik dibandingkan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

Di hari yang sama, Trump juga mengumumkan putaran baru tarif terhadap tujuh negara. Sementara itu, NATO memperingatkan bahwa Tiongkok dan Rusia merupakan ancaman terhadap keamanan global. 

Berikut laporan dari wartawan NTD, Zhang Liang, dari Washington.

 “Dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh ekonomi PKT di Afrika semakin meningkat, dengan investasi besar-besaran terutama dalam bidang eksploitasi sumber daya alam. Yang patut dicatat, kelima negara Afrika yang diundang ke Gedung Putih pada hari Rabu semuanya memiliki sumber daya alam yang melimpah. Amerika Serikat sedang berupaya keras untuk mengurangi ketergantungan negara-negara ini terhadap PKT. Presiden Trump dalam jamuan makan siang menyebut bahwa Afrika memiliki potensi ekonomi besar yang jarang ditemukan di tempat lain,” demikian wartawan Zhang Liang melaporkan. 

Presiden AS Donald Trump:  “Dalam banyak hal, kami memperlakukan Afrika dengan baik, termasuk soal tarif. Perlakuan kami terhadap Afrika jauh lebih baik dibandingkan dengan Tiongkok (PKT) atau tempat lainnya.”

Pada  Rabu, Trump menerima para pemimpin dari lima negara Afrika di Gedung Putih, yaitu: Gabon, Guinea-Bissau, Liberia, Mauritania, dan Senegal. Trump juga menyatakan bahwa negara-negara tersebut tidak akan dikenakan tarif oleh Amerika Serikat.

Trump:  “Saya rasa tidak akan (dikenakan tarif). Saya suka dia, dia, dia, dia, dan dia. Jadi saya rasa tidak mungkin akan ada tarif. Sekarang kita sudah berteman.”

Trump juga mengumumkan di hari yang sama bahwa tarif baru akan dikenakan terhadap tujuh negara, yaitu: Aljazair, Irak, Libya, Sri Lanka, Brunei, Moldova, dan Filipina. Tarif yang dikenakan yaitu: 30% untuk Aljazair, Irak, Libya, dan Sri Lanka; 25% untuk Brunei dan Moldova; serta 20% untuk Filipina.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Rabu bertemu dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz di Berlin. Keduanya memperingatkan ancaman keamanan dari Rusia dan PKT.

Rutte secara khusus menekankan bahwa NATO mengetahui ambisi PKT untuk menyerang Taiwan.

Sekjen NATO Mark Rutte:  “Sebelum menyerang Taiwan, para pemimpin PKT akan terlebih dahulu menelepon Moskow, meminta bantuan dari rekannya, Putin, untuk mengalihkan perhatian kami di Eropa.”

Wartawan:  “Dalam dua hari terakhir, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dua kali mengunjungi Gedung Putih. Presiden Trump pada hari Rabu juga menyampaikan kepada wartawan bahwa kesepakatan sebagian mengenai gencatan senjata di Gaza mungkin bisa tercapai secepatnya minggu ini atau minggu depan.” (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD Zhang Liang dan Yi Xin dari Washington, AS.

Tanda-Tanda Akhir Kekuasaan Xi Jinping: Ancaman Tragedi Soviet Bayangi Tiongkok!

EtIndonesia. Pada 6 Juli 2025, surat kabar berbahasa Inggris asal Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), mempublikasikan sebuah artikel yang segera mengundang spekulasi di ranah politik internasional: ke mana arah langkah Xi Jinping selanjutnya? Jika isu-isu elite kekuasaan biasanya beredar di kalangan YouTuber atau media sosial sebagai rumor kamar tidur alias “gosip kasur”, maka bila SCMP yang meliput, istilahnya berubah menjadi “melempar angin” (signal leak)—sebuah tanda adanya kode politik yang dilemparkan ke ruang publik.

Sejak SCMP diakuisisi oleh Alibaba Group pada 2015, media ini sering mengambil peran unik di setiap fase perubahan besar dalam politik Tiongkok. Khususnya, SCMP kerap menjadi medium “penebar angin” atas dinamika di jajaran elit militer dan pemerintahan Tiongkok. Di balik setiap “signal leak”, terdapat kerjasama antara sumber internal dan pihak media: media mendapat akses eksklusif untuk meningkatkan kredibilitas dan daya saingnya, sementara sumber membutuhkan platform kredibel guna menyampaikan pesan politik kepada kelompok tertentu di dalam sistem kekuasaan.

Seni membaca “angin” yang ditebar SCMP juga menjadi pembicaraan tersendiri di kalangan analis. Sering kali satu artikel tampak membahas banyak hal, namun inti pesannya hanya terselip dalam beberapa kalimat yang ditujukan kepada audiens khusus. Di dunia politik Tiongkok, siapa yang mampu “mendengar suara dalam genderang”, dialah yang memahami maksud sebenarnya dari pesan tersebut.

Isi Artikel SCMP: Sinyal Distribusi Kekuasaan Xi Jinping

Artikel SCMP tanggal 6 Juli 2025 tersebut merupakan tanggapan atas hasil rapat Politbiro PKT pada 30 Juni, yang membahas peraturan baru bagi mekanisme kerja lembaga pengambilan keputusan pusat PKT. Judulnya bahkan terang-terangan menyebut:  “Aturan Baru PKT Mengisyaratkan Xi Jinping Mulai Melepas Lebih Banyak Kekuasaan.”

Dari judulnya saja, sudah tampak bahwa artikel ini mencoba menyorot adanya perubahan dalam pola dominasi kekuasaan Xi Jinping, walaupun belum dapat dipastikan apakah pelepasan kekuasaan itu dilakukan secara sukarela atau terpaksa.

Frasa “melepas kekuasaan” sendiri diambil dari analisis seorang pengamat yang dikutip dalam artikel. Ada juga komentator anonim yang menyatakan, kelahiran peraturan baru tersebut merupakan sinyal kuat bahwa Xi memang bersiap untuk pensiun, dan saat ini adalah fase krusial bagi transisi kekuasaan di Tiongkok. Pendapat seperti ini sejalan dengan rumor kasur yang sudah lama beredar di lingkaran elite Beijing.

Namun, dalam tradisi peliputan politik Tiongkok, artikel seperti ini juga akan menyisipkan pandangan kontra: bahwa Xi Jinping tidak betul-betul hendak mundur, melainkan hanya membagi sebagian tugas agar bisa fokus pada kebijakan strategis. SCMP pun tidak memihak, melainkan melempar pertanyaan ke ruang publik—apakah benar sedang terjadi transfer kekuasaan? Di sinilah pentingnya membaca pesan-pesan “angin” elite Zhongnanhai, karena keterlibatan SCMP pada isu seperti ini sangat jarang terjadi tanpa ada kepentingan tersembunyi dari lingkaran kekuasaan Beijing.

Fakta-fakta Terkini: Xi Jinping Mulai Menghilang dari Panggung Diplomatik

Fakta berikutnya yang menambah kuat dugaan adanya transisi adalah absennya Xi Jinping dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Rio de Janeiro, Brasil pada 6-7 Juli 2025. PKT menolak undangan pemerintah Brasil dengan alasan jadwal Xi yang “bentrok dengan agenda lain”. Namun, sejak awal Juli hingga saat artikel ini ditulis, Xi tidak memiliki agenda luar negeri lain yang lebih penting. Aktivitasnya hanya sebatas kunjungan kerja dalam negeri ke Shanxi pada 7-8 Juli 2025, yang sebenarnya dapat dijadwalkan ulang.

Sebagai gantinya, Perdana Menteri Li Qiang yang mewakili Tiongkok di KTT BRICS dan melanjutkan kunjungan diplomatik ke Mesir. Sementara Xi tetap absen dari forum-forum internasional, semakin memperkuat analisis bahwa Xi tengah menjalani masa transisi kekuasaan atau setidaknya sedang melakukan pembagian kewenangan secara bertahap.

Dua Sisi Narasi: Sinyal Transisi atau Strategi “Show of Force”?

Namun, tidak sedikit yang berpendapat sebaliknya: Xi Jinping masih memegang kendali penuh, dan akan tetap tampil dalam agenda-agenda penting. Misalnya, pada 3 September mendatang akan digelar parade besar memperingati Hari Kemenangan Anti-Jepang. Menurut tradisi, Xi harus hadir sebagai inspektur pasukan—sebuah peran simbolik pemimpin tertinggi Tiongkok. Sebelumnya, Xi juga dijadwalkan hadir di Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai.

Kedua argumen ini tidak selalu berlawanan. Sangat mungkin, distribusi kekuasaan dilakukan atas sepengetahuan dan seizin Xi sendiri, sehingga stabilitas politik tetap terjaga. PKT sangat menghindari citra kekacauan menjelang transisi, belajar dari kejatuhan Soviet yang justru runtuh akibat perebutan kekuasaan terbuka.

Parade 3 September dan KTT Shanghai menjadi semacam “ujian terakhir” bagi Xi: apakah ini benar-benar pertunjukan kepercayaan diri terakhir (the last fireworks) sebelum pensiun, atau justru langkah konsolidasi kekuasaan? Dengan waktu tersisa lebih dari satu bulan, berbagai sinyal dan peristiwa selanjutnya patut diamati.

Pelajaran dari Tragedi Soviet: Menghindari “Keputusan Fatal di Detik Terakhir”

Mengupas isu transisi kekuasaan, PKT sangat berhati-hati agar tidak mengulang tragedi Soviet. Sejarah membuktikan, Soviet pernah tiga kali mengalami transfer kekuasaan brutal yang berujung perpecahan dan kehancuran negara. Tiga fase besar itu adalah:

  1. Pasca-Kematian Stalin (1953): Soviet sempat dipimpin kolektif (Beria, Malenkov, Khrushchev), namun segera terjadi persaingan. Beria akhirnya dieksekusi, Malenkov disingkirkan, dan Khrushchev menang mutlak setelah menumpas kelompok lawan lewat Kongres XX (1956). Pergolakan ini memicu Revolusi Hungaria 1956 yang direpresi secara brutal. Mao Zedong, pemimpin Tiongkok saat itu, sangat terpengaruh oleh trauma “Khrushchev effect”, sehingga memberlakukan pembersihan internal untuk mengamankan posisinya.
  2. Jatuhnya Khrushchev (1964): Khrushchev digulingkan koalisi Brezhnev cs saat sedang berlibur di Laut Hitam, akibat kebijakan yang dianggap merusak solidaritas partai dan tentara, serta kegagalan reformasi ekonomi. Khrushchev akhirnya “dipensiunkan” secara terhormat, tidak dieksekusi, meskipun sempat ada niat membunuhnya.
  3. Kudeta Agustus 1991 (819) terhadap Gorbachev: Pemicu utama adalah keinginan Gorbachev menandatangani federasi baru yang memperlonggar kontrol pusat Soviet, menimbulkan kemarahan kelompok garis keras. Kudeta gagal karena elite Soviet sendiri sudah terpecah, dan rakyat berani melawan. Soviet pun bubar seketika.

PKT menyaksikan kehancuran Soviet sebagai peringatan keras. Transisi kekuasaan di Tiongkok, seberat apapun pertarungan internalnya, selalu dijaga agar “bertarung dalam pintu tertutup”, tidak sampai terbuka ke publik. Tragedi Tiananmen 1989 juga menjadi pelajaran, ketika keputusan soal masa depan Zhao Ziyang akhirnya diambil lewat kompromi: bukan eksekusi seperti di era Soviet, melainkan pemecatan dan tahanan rumah.

Kasus Kudeta Gagal dan Pembelajaran Tiongkok

Contoh nyata bagaimana PKT belajar dari sejarah Soviet adalah penanganan kasus Zhou Yongkang (mantan anggota Politbiro dan kepala keamanan Tiongkok) yang terlibat kudeta pada 2012. Kudeta yang disebut-sebut sebagai “Insiden Xinhuamen” ini digagalkan berkat kecepatan mobilisasi pasukan khusus. Namun, pembersihan besar baru dilakukan dua tahun kemudian setelah Xi benar-benar kukuh di tampuk kekuasaan, sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nasional.

Tantangan Baru PKT: Disorder Sosial dan Kecepatan Kemerosotan

Yang membedakan situasi Tiongkok kini dari Soviet adalah tingkat disorder sosial yang jauh lebih kompleks: dari masalah ekonomi, keamanan pribadi, pangan, hingga masa depan anak-anak. Rasa aman masyarakat semakin terancam. Kasus-kasus seperti insiden “pecah kaca” di kereta api hingga skandal pencemaran makanan di TK Gansu menjadi pemicu ledakan opini publik yang mengancam stabilitas sosial.

Fenomena paradoksal terjadi: masyarakat nyata lebih banyak diam dan patuh, namun di dunia maya, kemarahan dan ketidakpuasan meledak tanpa henti. Kontradiksi ini tidak akan bertahan selamanya; cepat atau lambat, akan terjadi perubahan besar.

Penutup: Ke Mana Arah Xi Jinping?

Analisis sinyal “angin” dari SCMP menandakan bahwa transisi kekuasaan Xi Jinping bisa saja sudah berlangsung secara bertahap—entah karena faktor usia, tekanan internal, atau strategi memperpanjang umur kekuasaan PKT sendiri. Namun, tidak ada kepastian kapan dan dalam bentuk apa transisi itu akan benar-benar terjadi.

PKT kini berada di titik kritis. Jika gagal mengelola transisi kekuasaan secara mulus, bukan tidak mungkin Tiongkok mengalami “tragedi Soviet jilid II”. Namun jika berhasil, PKT mungkin akan menulis ulang sejarah transisi elite kekuasaan dunia modern.

Untuk saat ini, dunia hanya bisa menanti: apakah parade 3 September menjadi pesta perpisahan Xi Jinping, atau justru babak baru konsolidasi kekuasaan?

Serangan Kilat Hancurkan Fasilitas Nuklir Iran, Terungkap Operasi Rahasia Militer AS

Pada bulan lalu, militer AS melancarkan operasi militer kilat bernama Midnight Hammer atau Palu Tengah Malam secara tiba-tiba dan tepat sasaran terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, yang berhasil memecah kebuntuan masalah nuklir Iran yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Surat kabar The Epoch Times versi bahasa Inggris baru-baru ini menerbitkan artikel yang menganalisis latar belakang dan detail dari operasi militer rahasia ini.

EtIndonesia. Pada 13 Juni, Israel meluncurkan serangan mendadak terhadap Iran, menargetkan fasilitas militer dan nuklir, para pemimpin tinggi militer, serta peneliti utama program nuklir Iran. Namun, senjata milik Israel tidak mampu menembus fasilitas bawah tanah di Fordow.

Kemudian, tepat lewat tengah malam pada 21 Juni, tujuh pesawat pembom siluman B-2 “Spirit” lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri dan terbang ke arah timur menuju Iran. 

Dalam perjalanan, puluhan pesawat tanker udara dikerahkan untuk mengisi bahan bakar di udara. Setibanya di wilayah operasi Komando Pusat AS di Timur Tengah, pesawat tempur juga turut bergabung sebagai pengawal.

Enam dari pembom tersebut menjatuhkan 12 bom penghancur bunker raksasa GBU-57 ke fasilitas Fordow, sementara pesawat ketujuh menjatuhkan dua bom sejenis ke fasilitas Natanz. Pada saat yang sama, kapal perang AS meluncurkan lebih dari 20 rudal jelajah Tomahawk ke arah Isfahan. 

Operasi militer yang sangat terkoordinasi ini juga menggunakan strategi “pengelabuan”: satu skuadron pesawat secara terpisah lepas landas dari Whiteman dan terbang ke arah barat menuju Samudra Pasifik, sebagai pengalih perhatian musuh.

Setelah Operasi “Palu Tengah Malam”, Presiden Trump menulis di platform sosial medianya, Truth Social:  “Dua bulan lalu, saya memberikan ultimatum 60 hari kepada Iran untuk ‘mencapai kesepakatan’. Seharusnya mereka melakukannya! Hari ini adalah hari ke-61.”

Ia juga menegaskan bahwa jika Iran kembali melanjutkan aktivitas nuklirnya, ia akan kembali memerintahkan pemboman terhadap fasilitas nuklir Iran.

Selama bertahun-tahun, meskipun Iran secara resmi membantah memiliki program senjata nuklir, namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan pemerintah Israel sama-sama memastikan bahwa Iran secara diam-diam terus mengembangkan senjata nuklir. Pada April tahun ini, Trump telah memperingatkan Iran agar menyetujui perjanjian dalam waktu 60 hari, jika tidak ingin menghadapi aksi militer.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers pada 26 Juni menyatakan bahwa operasi ini merupakan hasil dari perencanaan dan persiapan matang selama 15 tahun oleh militer AS, dan memberikan pukulan besar terhadap program nuklir Iran.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengakui bahwa fasilitas Fordow, Natanz, dan Isfahan mengalami kerusakan “sangat berat dan parah”. Para analis memperkirakan bahwa Iran tidak akan mampu mengembangkan senjata nuklir dalam beberapa dekade ke depan. (Hui/asr)

Laporan oleh Zhang Qin, NTDTV

Ada Apa di Beijing? Beredar Video Konvoi Tank Terselubung Melintasi Jalan Chang’an di Malam Hari

Sebuah video yang beredar di internet menunjukkan konvoi kendaraan yang diduga adalah tank militer, dengan penyamaran penuh, melintasi Jalan Chang’an di Beijing pada malam hari. Muncul spekulasi bahwa hal ini terkait konflik internal di tubuh militer, meski ada juga yang menganggapnya sebagai persiapan untuk parade militer.

EtIndonesia. Beredar video yang diunggah di platform Xiaohongshu, terlihat sebuah jalan besar pada malam hari, di mana kendaraan sipil dikumpulkan di satu sisi jalan yang dipisahkan pagar pembatas, sementara sisi lainnya tampak ditutup dan hanya dilewati oleh konvoi mencurigakan.

Video menunjukkan bahwa konvoi tersebut dipimpin oleh sebuah truk biru bertuliskan “Kendaraan Pemeriksa Jalan”, dan diikuti oleh sejumlah kendaraan lain yang juga bertuliskan hal serupa, namun tampaknya bukan kendaraan konstruksi.

Semua kendaraan dalam konvoi tersebut ditutupi penuh oleh atap kain biru yang ditopang rangka logam, bahkan roda-rodanya juga tertutup kain terpal. Hanya bagian depan dan belakang yang memiliki jendela kecil, dan dari jendela belakang terlihat kerangka penopang atap tersebut.

Dalam video juga tampak bahwa di sisi kanan tiap kendaraan konvoi, ada sebuah mobil van putih yang berjalan beriringan. Di trotoar di sisi kanan jalan, terlihat beberapa orang berlari mengikuti konvoi. Di persimpangan jalan juga tampak kendaraan yang berkedip lampu biru, diduga sedang melakukan penutupan jalan.

Warganet menilai, dari bentuk kendaraan yang tertutup dan suara mesinnya, besar kemungkinan bahwa kendaraan tersebut adalah tank. Ada yang mengatakan, jika bukan tank, tidak perlu sampai menutupi roda. Ada juga yang berpendapat, tank yang dikawal mobil van menunjukkan formasi pemindahan pasukan.

Berdasarkan bentuk pagar pembatas di jalan dan bangunan di pinggir jalan, warganet menduga lokasi pengambilan video tersebut berada di sekitar persimpangan Wangfujing di Jalan Chang’an, Beijing.

Jalan Chang’an yang melintasi Tiananmen menempati posisi sangat sensitif secara politis di Beijing.

Waktu pengambilan video belum diketahui secara pasti, dan belum dipastikan apakah peristiwa itu terjadi baru-baru ini. 

Beberapa warganet mengatakan bahwa video tersebut pertama kali muncul di Xiaohongshu, namun video aslinya telah dihapus.

Pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) sebelumnya telah mengumumkan akan menggelar parade militer di Beijing pada 3 September. Beberapa warganet berspekulasi bahwa konvoi tank itu mungkin bagian dari persiapan parade, meski ada yang menilai waktunya masih terlalu jauh.

Ada pula dugaan dari warganet bahwa konvoi tersebut berkaitan dengan konflik internal Partai Komunis Tiongkok, di mana militer sedang mengalami pembersihan internal secara brutal. Karena itu, kemunculan tank secara tertutup ke Beijing menimbulkan pertanyaan: “Apakah telah terjadi sesuatu yang besar?”

Beberapa warganet juga menyindir bahwa tank yang melintas di Jalan Chang’an mengingatkan pada “aroma” peristiwa 4 Juni 1989 (Tragedi Tiananmen). (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Vitamin C Dapat Mengaktifkan Kembali Gen untuk Pembaruan Kulit dan Mencegah Penipisan Kulit

Vitamin C dapat membantu meremajakan kulit yang menua dengan mengaktifkan gen-gen dorman yang terlibat dalam proses pembaruan sel, demikian hasil penelitian menunjukkan

George Citroner

Vitamin C tidak hanya melindungi kulit—tetapi juga dapat membalikkan penuaan pada tingkat genetik dengan menghidupkan kembali gen-gen yang mendukung keremajaan, yang telah lama dibungkam seiring waktu.

Sebuah studi pada April menunjukkan bahwa vitamin C memiliki fungsi jauh melampaui perannya yang sudah dikenal luas sebagai penambah kekebalan dan antioksidan. Sebaliknya, ia bertindak sebagai “saklar genetik” yang mampu membalikkan proses penuaan mendasar pada sel kulit.

“Temuan ini membuka peluang untuk mengembangkan produk perawatan kulit atau pendekatan terapeutik baru yang ditujukan untuk mengurangi penurunan kualitas kulit terkait usia,” kata Akihito Ishigami, penulis utama studi dan wakil presiden Divisi Biologi dan Ilmu Kedokteran di Tokyo Metropolitan Institute for Geriatrics and Gerontology, kepada The Epoch Times.

Penemuan pada DNA

Para peneliti menemukan bahwa vitamin C membantu pertumbuhan sel kulit dengan mengaktifkan gen-gen yang terlibat dalam proses pembaruan kulit. Seiring bertambahnya usia, sebagian gen dapat ditekan melalui proses yang disebut metilasi DNA.

Saat DNA mengalami metilasi, gen pada dasarnya dibisukan. Vitamin C berperan dalam proses yang dapat membalikkan penekanan ini, memungkinkan gen-gen pembaruan kulit menjadi aktif kembali.

“Vitamin C bukan hanya antioksidan biasa, tetapi memainkan peran penting dalam mengatur gen-gen yang terlibat dalam regenerasi kulit,” ujar Ishigami. “Penelitian kami menyoroti pentingnya vitamin C sebagai faktor fungsional bagi kesehatan kulit.”

Para ilmuwan mengidentifikasi lebih dari 10.000 area dalam DNA yang menjadi kurang termetilasi setelah pemberian vitamin C, yang mengakibatkan peningkatan aktivitas hingga 75 kali lipat pada 12 gen kunci yang terlibat dalam pertumbuhan sel.

Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Investigative Dermatology ini, para peneliti menggunakan model kulit buatan laboratorium yang dirancang menyerupai kulit manusia secara akurat.

Mereka mengaplikasikan vitamin C pada kadar yang serupa dengan yang secara alami ditemukan dalam darah. Setelah hanya tujuh hari, lapisan dalam sel kulit menjadi lebih tebal secara nyata. Pada minggu kedua, hasilnya bahkan lebih terlihat—lapisan dalam semakin tebal dan lapisan luar menjadi lebih tipis, menandakan lebih banyak sel kulit yang membelah dan tumbuh. Ini dikonfirmasi oleh meningkatnya jumlah sel yang menunjukkan penanda Ki-67, yang menunjukkan pembelahan sel aktif.

“Vitamin C tampaknya memengaruhi struktur dan fungsi epidermis, terutama dengan mengatur pertumbuhan sel-sel epidermal,” kata Ishigami.

Vitamin C membantu menebalkan kulit dengan mendorong proliferasi keratinosit, yaitu sel utama di lapisan terluar kulit, menjadikannya sebagai pengobatan yang menjanjikan untuk kulit menipis, terutama pada orang lanjut usia, tambahnya.

Cara Kerja Vitamin C

Vitamin C mendukung peremajaan kulit dengan memasok elektron yang dibutuhkan oleh enzim-enzim untuk mengaktifkan gen pembaruan kulit. Enzim-enzim ini tidak dapat bekerja tanpa elektron tambahan, dan vitamin C menyediakannya.

Ketika para peneliti memblokir protein-protein tersebut, efek anti-penuaan dari vitamin C pun menghilang.

Dengan mendorong pertumbuhan kulit, vitamin C dapat membantu memperkuat penghalang pelindung kulit dan meningkatkan kesehatan kulit secara keseluruhan.

Namun, karena penelitian ini dilakukan pada model kulit laboratorium, uji klinis pada manusia tetap diperlukan untuk memastikan apakah efek ini benar-benar dapat diterapkan di dunia nyata.

Memaksimalkan Manfaat Vitamin C bagi Kulit

Faktor gaya hidup memengaruhi seberapa efektif vitamin C mendukung kesehatan kulit, kata Dr. Arjun Dupati, seorang dokter kulit bersertifikat dan pendiri Apollo Dermatology, yang tidak terlibat dalam studi ini. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • Merokok: Mengurangi kadar vitamin C dalam kulit dan darah serta mempercepat kerusakan kolagen.
  • Paparan sinar matahari berlebihan: Menguras cadangan vitamin C dalam kulit, mempercepat penuaan, dan melemahkan penghalang kulit. Penggunaan tabir surya dan pakaian pelindung sinar matahari sangat penting.
  • Konsumsi alkohol berlebihan: Mengganggu penyerapan vitamin C serta mengurangi elastisitas dan hidrasi kulit.
  • Pola makan tinggi gula dan makanan olahan: Merusak kolagen dan kekurangan nutrisi esensial.
  • Kurang tidur dan stres: Meningkatkan peradangan dan menghambat perbaikan kolagen, yang sebagian bergantung pada vitamin C.

Makanan Kaya Vitamin C

Studi ini tidak menyelidiki apakah vitamin C dari makanan dapat meningkatkan kelembutan kulit. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan vitamin C dapat menyebabkan kulit kering dan bersisik.

Ana Reisdorf, seorang ahli gizi terdaftar dan pendiri situs diet dan kesehatan GLP-1 Hub, yang juga tidak terlibat dalam studi ini, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sumber vitamin C terbaik berasal dari buah dan sayuran.

“Ini termasuk paprika merah dan kuning, kiwi, stroberi, jeruk, brokoli, kubis Brussel, dan pepaya,” ujarnya.

Makanan-makanan tersebut kaya akan vitamin C dan juga mengandung fitonutrien lain yang mendukung aktivitas antioksidan dan kolagen, sehingga membantu menjaga kesehatan kulit, tambahnya.

Dr. Dupati menambahkan bahwa kelompok tertentu kemungkinan akan mendapat manfaat lebih besar dari peningkatan asupan vitamin C, antara lain:

  • Orang lanjut usia
  • Perokok aktif dan mantan perokok
  • Mereka yang mengonsumsi obat-obatan yang mengurangi penyerapan atau meningkatkan pemecahan vitamin C—seperti obat steroid dan beberapa agen kemoterapi
  • Ibu hamil dan menyusui

Ia juga menyebutkan bahwa atlet, orang dengan tingkat aktivitas tinggi, penderita penyakit kronis (terutama gangguan pencernaan), dan mereka yang menjalani pola makan buruk juga dapat memperoleh manfaat dari peningkatan asupan vitamin C. (asr)

Intoleransi Tiramin: Penyebab Tersembunyi Migrain dan Fluktuasi Tekanan Darah

Meskipun tidak berbahaya bagi sebagian besar orang, tiramin dapat memicu gejala yang mengganggu pada orang yang sensitif. Pelajari cara mengenali dan mengelola sensitivitas terhadap tiramin

Sheridan Genrich

Pada usia 45 tahun, Zoe merasa sudah mengenal tubuhnya sendiri—hingga ia tiba-tiba mengalami detak jantung yang sangat cepat dan kecemasan yang luar biasa, yang awalnya ia kira akibat stres kerja. Padahal hari itu ia hanya makan sepotong pizza pepperoni dan satu buah pisang matang. Namun, ketika sakit kepala hebat menyerangnya beberapa jam setelah makan malam favoritnya—pasta keju dan segelas anggur merah—ia mulai curiga bahwa makanannya mungkin penyebabnya. Kecurigaannya makin kuat ketika gejala itu muncul lagi setelah mengonsumsi makanan yang sama pada malam berikutnya.

Zoe pun mencari jawaban di dunia nutrisi. Ia menemukan bahwa dirinya bereaksi terhadap kadar tiramin yang tinggi, suatu senyawa alami yang terdapat dalam keju tua seperti parmesan, daging olahan, dan anggur merah. Senyawa ini menumpuk dalam tubuhnya dan memicu reaksi yang mengganggu.

Sensitivitas tiramin terjadi ketika tubuh tidak mampu memecah tiramin dengan baik karena rendahnya kadar enzim monoamine oxidase-A (MAO-A). Kekurangan enzim ini dapat memicu gejala seperti lonjakan tekanan darah, jantung berdebar, mual, migrain, dan kecemasan. Kadar MAO-A yang rendah bisa disebabkan oleh faktor genetik atau penggunaan obat-obatan tertentu. Migrain kronis juga sering muncul. Gejala biasanya timbul 1 hingga 12 jam setelah mengonsumsi makanan tinggi tiramin.

Untuk menentukan apakah sensitivitas tiramin menjadi penyebab ketidaknyamanan Anda, mulailah dengan melacak gejala dan pola makan Anda. Senyawa ini bisa terakumulasi jika Anda secara tidak sadar sering mengonsumsi makanan tinggi tiramin. Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran sangat penting dalam menghadapi sensitivitas dan intoleransi terhadap makanan.


Sistem Pertahanan Tubuh terhadap Tiramin

Enzim MAO-A berfungsi memecah neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin, serta senyawa amina dari makanan seperti tiramin. Semua neurotransmiter memerlukan keseimbangan—penumpukan bisa menyebabkan gangguan neurologis.

Gen MAO-A menentukan kecepatan kerja enzim ini. Variasi genetik dapat memengaruhi pemecahan tiramin, yang berkaitan dengan tingginya sensitivitas terhadap tiramin dan juga respons yang buruk terhadap obat antidepresan pada sebagian orang.

Stres kronis memperparah masalah ini dengan meningkatkan kadar norepinefrin, yang bisa membanjiri sistem yang sudah kekurangan enzim MAO-A dan memperburuk gejala seperti tekanan darah tinggi dan perubahan suasana hati. Gejala sering kali muncul beberapa jam setelah konsumsi makanan tinggi tiramin, sehingga menyulitkan diagnosis.


Sensitivitas Tiramin Dapat Menyebabkan Kondisi Berikut:

1. Migrain
Lonjakan norepinefrin akibat tiramin menyempitkan pembuluh darah dan mengaktifkan jalur nyeri. Efek ini muncul secara tertunda, biasanya beberapa jam setelah makan, sehingga diagnosis menjadi lebih sulit.

2. Kecemasan dan Perubahan Suasana Hati
Kelebihan norepinefrin mengganggu pengaturan emosi. Dalam sebuah studi, variasi gen MAO-A dikaitkan dengan tingkat keparahan kecemasan pada pasien psikiatri, menyoroti peran penting gen ini dalam kesehatan mental.

3. Krisis Hipertensi
Bagi mereka yang mengonsumsi inhibitor MAO—sejenis obat antidepresan yang mencegah pemecahan neurotransmiter tertentu—makanan tinggi tiramin dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah yang berbahaya. Fenomena ini pertama kali dikenal sebagai “reaksi keju” pada tahun 1960-an. Bahkan dalam jumlah kecil (6 hingga 10 miligram), keju bisa memicu gejala pada orang yang sensitif. Sebagai perbandingan, keju cheddar mengandung sekitar 42 miligram tiramin per 28 gram.


Cara Mengenali Sensitivitas Tiramin

Gunakan buku harian makanan dan suasana hati untuk melihat makanan mana yang memicu gejala dan seberapa banyak yang bisa Anda toleransi sebelum terjadi reaksi (disebut “efek ember”).

Langkah-langkah yang bisa Anda lakukan:

  • Catat semua makanan dan minuman yang Anda konsumsi, termasuk waktu dan jumlahnya.
  • Catat suasana hati dan gejala yang Anda rasakan (seperti sakit kepala, mual, berkeringat, jantung berdebar, atau cemas). Reaksi terhadap senyawa makanan sering kali tertunda selama beberapa jam.
  • Lacak tingkat stres, kualitas tidur, dan faktor lain yang mungkin memengaruhi gejala.
  • Tinjau catatan Anda setelah 1–2 minggu untuk mengenali pola. Misalnya, jika Anda mengalami sakit kepala setelah makan ayam sisa, maka Anda tahu untuk menghindarinya di masa mendatang.

Cara Mengelola Sensitivitas Tiramin

Mengelola sensitivitas tiramin mungkin terasa membingungkan pada awalnya, tetapi dengan membaginya menjadi langkah-langkah sederhana dan memantau kemajuan melalui buku harian makanan-suasana hati, Anda bisa lebih mudah menyesuaikan diri. Anda bisa mulai menerapkan kesadaran ini dalam pilihan makanan untuk membentuk kebiasaan yang membantu tubuh merasa lebih sehat.

1. Pilih Makanan Segar

Pilih daging segar, ikan, buah, dan sayuran, bukan makanan tua, fermentasi, atau olahan.

Contohnya, konsumsi keju mozzarella atau ricotta sebagai pengganti cheddar tua, dan pilih daging kalkun segar daripada salami.
Hindari makanan yang terlalu matang, sisa makanan yang disimpan lebih dari 24–48 jam, atau makanan yang sudah lewat tanggal “baik sebelum”. Kadar tiramin meningkat seiring bertambahnya usia atau pembusukan makanan.

Simpan makanan dengan aman: Bekukan sisa makanan segera setelah dingin, dan konsumsi makanan yang dimasak dalam waktu 48 jam.

2. Kelola Stres dan Pertahankan Rutinitas

Stres dapat memperburuk reaksi terhadap tiramin. Coba lakukan aktivitas mindfulness sederhana seperti pernapasan dalam, meditasi, atau yoga ringan.

Tidur dan waktu makan yang teratur membantu tubuh mengelola stres dengan lebih baik.

3. Temukan Batas Pribadi Anda

Setiap orang memiliki kapasitas toleransi tiramin yang berbeda (“efek ember”). Jika Anda mengalami gejala setelah makan makanan tertentu, coba kurangi porsinya atau hindari makanan itu selama beberapa hari untuk “mengosongkan ember tubuh”.
Jika Anda masih bingung, bawalah buku harian Anda ke ahli gizi—mereka dapat membantu mengidentifikasi pemicu dan makanan yang aman. Tes genetik juga bisa membantu meminimalkan coba-coba dalam mengatur pola makan, namun sebaiknya mulai dari dasar terlebih dahulu. (asr)

Sheridan Genrich, BHSc., adalah seorang ahli gizi klinis dan naturopat yang sejak tahun 2009 menjalankan praktik konsultasi yang berfokus pada membantu orang-orang yang mengalami ketidaknyamanan pencernaan, kecanduan, gangguan tidur, dan gangguan suasana hati. Selama menempuh pendidikan di bidang pengobatan komplementer di universitas, Genrich mengembangkan minat mendalam terhadap ilmu saraf perilaku dan ketidakseimbangan hubungan antara usus dan otak. Sejak saat itu, ia telah menyelesaikan berbagai sertifikasi pascasarjana secara mendalam dalam bidang nutrigenomik, teori polivagal dalam trauma, serta pendekatan penyembuhan nutrisi lainnya yang menggunakan prinsip “makanan sebagai prioritas utama.”

Sebagai pribadi yang sangat sensitif dan telah berhasil bangkit kembali setelah bertahun-tahun menghadapi kesulitan luar biasa, Genrich percaya bahwa setiap orang dapat membuka potensi alami mereka dan sembuh dengan alat serta dukungan yang tepat. Ia secara aktif mengikuti perkembangan terbaru dari penelitian berbasis bukti, sembari juga mengintegrasikan pendekatan leluhur yang dipersonalisasi dan selaras dengan ritme alam.

PM Australia Berjanji Akan Membela Penulis Yang Hengjun Selama Kunjungan ke Tiongkok,  Bungkam Soal Kelompok Spiritual yang Dianiaya

Kantor Perdana Menteri Australia menyatakan bahwa Perdana Menteri akan terus membela kepentingan dan kesejahteraan Yang.

EtIndonesia. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese berjanji akan membela warga negara Australia yang ditahan, Yang Hengjun, menjelang kunjungan resminya yang kedua ke Tiongkok.

Janji ini disampaikan menjelang lawatan sang pemimpin Partai Buruh selama sepekan ke Shanghai, Beijing, dan Chengdu pada 12 Juli, dengan tujuan memperkuat hubungan dagang dan mendorong kerja sama dalam ekonomi digital serta energi hijau.

Yang Jun, yang lebih dikenal dengan nama pena “Yang Hengjun,” adalah seorang penulis pro-demokrasi yang berimigrasi ke Australia pada tahun 1999. Ia ditangkap oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada tahun 2019 saat melakukan kunjungan langka ke Tiongkok, dan didakwa oleh otoritas PKT atas tuduhan mata-mata—yang ia bantah keras.

Pada Februari 2024, Beijing menjatuhkan vonis mati kepada Yang dengan masa penangguhan dua tahun—hukuman ini dapat diringankan menjadi penjara seumur hidup jika Yang dianggap tidak melakukan “kejahatan serius” selama masa tersebut.

Sementara itu, kekhawatiran terus meningkat terhadap kondisi kesehatan Yang, karena ia sebelumnya mengungkapkan kepada para pendukung bahwa ia telah disiksa di lokasi rahasia dan dipaksa mengaku. Para pendukung mengungkapkan ketakutan bahwa Yang bisa meninggal dunia di penjara akibat kista ginjal yang semakin membesar tanpa perawatan medis yang memadai.

“Seperti yang telah dikatakan oleh Perdana Menteri, kami akan terus membela kepentingan dan kesejahteraan Dr. Yang pada setiap kesempatan,” kata juru bicara kantor Perdana Menteri kepada The Epoch Times pada 9 Juli.

Pendekatan Lunak Dikritik

Meskipun pemerintah Albanese  beberapa kali menyampaikan kasus Yang kepada otoritas Tiongkok—dengan Menteri Luar Negeri Penny Wong menyerukan pembebasannya pada peringatan vonis mati pada Februari—pemerintah tetap mendapat kritik karena dianggap terlalu lunak dalam pendekatannya.

Feng Chongyi, dosen senior Studi Tiongkok di University of Technology yang menjadi pembimbing doktoral Yang di universitas tersebut, menyarankan agar pemerintah Australia menggunakan pengaruh perdagangan sebagai alat tawar, seperti menerapkan tarif timbal balik dan menolak mengekspor sumber daya seperti batu bara, bijih besi, atau logam tanah jarang.

“Mereka memilih pendekatan lunak untuk meraih niat baik dari pemerintah Tiongkok dan berharap sebagai balasannya, otoritas Tiongkok akan melakukan sesuatu yang baik untuk Yang Hengjun atau membebaskannya,” katanya kepada NewsWire.

“Sudah lebih dari enam tahun dan pendekatan lunak itu tidak berhasil. Pemerintah Australia punya pengaruh lewat perdagangan … tapi jika Australia serius soal hak asasi manusia, atau ingin mengutamakan kehidupan warganya, mereka bisa memilih pendekatan timbal balik.”

Tak Ada Kejelasan Soal Falun Gong

Albanese juga didesak untuk mengangkat isu hak asasi manusia terkait praktisi Falun Gong di Tiongkok, banyak di antaranya adalah anggota keluarga warga negara Australia, selama kunjungan mendatangnya.

Falun Gong, sebuah latihan meditasi damai yang dilarang secara ilegal di Tiongkok pada tahun 1999. Sejak saat itu, jutaan praktisinya menghadapi penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, kematian, hingga pengambilan organ secara paksa.

Chen Xiao, seorang warga Australia yang tinggal di Sydney, meminta bantuan Perdana Menteri untuk menyelamatkan ibunya, Zezhen Tan, yang telah ditahan di Tiongkok sejak 2020 dan menjadi korban kerja paksa serta pengujian medis selama ditahan.

“Saya sangat khawatir dengan keselamatan ibu saya. Selama bertahun-tahun, keluarga dan teman-teman kami tidak bisa menghubunginya dan tidak tahu apakah ia masih hidup. Ketidakpastian ini sangat menghancurkan keluarga kami,” katanya dalam siaran pers.

Lucy Zhao, presiden Asosiasi Falun Dafa Australia, mencatat bahwa Kongres AS baru-baru ini mengesahkan Falun Gong Protection Act (H.R. 1540) dan Stop Forced Organ Harvesting Act (H.R. 1503), dan menyerukan agar pemerintah Australia mengambil langkah serupa untuk membela hak asasi manusia dasar.

“Ini adalah keluarga-keluarga Australia yang sangat ingin bertemu kembali dengan orang yang mereka cintai. Praktisi Falun Gong dipenjara, disiksa, dan dibunuh karena keyakinan mereka—hal ini tidak boleh diabaikan demi perdagangan,” katanya.

Zhao juga mendesak Albanese agar mengikuti langkah negara-negara G7 dalam menangani penindasan lintas negara yang dilakukan oleh PKT.

Para pemimpin G7 mengeluarkan pernyataan bersama pada 17 Juni yang menyatakan komitmen untuk bekerja sama melawan penindasan lintas negara, yang mereka gambarkan sebagai “bentuk agresif dari campur tangan asing” yang “sering menyasar pembangkang, jurnalis, pembela HAM, kelompok minoritas agama, dan mereka yang diidentifikasi sebagai bagian dari komunitas diaspora.”

“PKT adalah pelaku terbesar penindasan lintas negara di dunia. Di Australia, komunitas Falun Gong menjadi sasaran langsung penindasan tersebut,” kata Zhao.

Juru bicara kantor Perdana Menteri tidak memberikan komentar terhadap pertanyaan dari The Epoch Times mengenai praktisi Falun Gong. (asr)

Laporan ini juga berkontribusi dari Alfred Bui.

Linda Yaccarino Mengundurkan Diri sebagai CEO X

EtIndonesia. Linda Yaccarino, CEO dari platform media sosial X, mengumumkan bahwa ia akan mengundurkan diri dari jabatannya setelah bergabung pada Mei 2023. Ia bergabung dengan X di tengah masa transformasi besar-besaran platform tersebut oleh tim Elon Musk.

Sebelum bergabung dengan X, Yaccarino bekerja di NBC Universal dan sebelumnya selama 15 tahun di Turner Broadcasting System. Ia direkrut setelah Elon Musk mengakuisisi X (sebelumnya bernama Twitter) pada 2022.

“Setelah dua tahun yang luar biasa, saya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai CEO X,” tulisnya dalam unggahan di X pada 9 Juli.

“Saat [Elon Musk] dan saya pertama kali berbicara tentang visinya untuk X, saya tahu ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk menjalankan misi luar biasa dari perusahaan ini. Saya sangat berterima kasih kepadanya karena telah mempercayakan tanggung jawab kepada saya untuk melindungi kebebasan berbicara, membalikkan arah perusahaan, dan mentransformasi X menjadi Aplikasi Segalanya.

“Saya sangat bangga dengan tim X – transformasi bisnis bersejarah yang telah kami capai bersama sungguh luar biasa. Kami memulai dengan pekerjaan awal yang penting untuk memprioritaskan keselamatan pengguna kami—terutama anak-anak, serta memulihkan kepercayaan para pengiklan.”

Yaccarino juga menyebut pencapaian terkait Community Notes, X Money, dan X AI. Namun, ia tidak memberikan alasan spesifik atas pengunduran dirinya. Hingga saat artikel ini diterbitkan, profil LinkedIn miliknya belum diperbarui.

“Terima kasih atas kontribusinya,” ujar Musk menanggapi unggahan Yaccarino.

Musk mengakuisisi X (saat itu Twitter) dengan nilai $44 miliar dengan janji mengembalikan kebebasan berbicara ke platform. Namun, setelah akuisisi, banyak pengiklan besar melakukan boikot, menyebabkan penurunan pendapatan yang signifikan.

Beberapa merek seperti General Mills, General Motors, dan United Airlines secara terbuka mengumumkan keputusan mereka menghentikan belanja iklan di X. Salah satu alasan yang dikemukakan adalah dugaan meningkatnya “ujaran kebencian” di platform.

Musk menanggapi sikap berbagai perusahaan tersebut dalam unggahan pada 2022:

“Twitter mengalami penurunan pendapatan yang besar karena kelompok aktivis menekan para pengiklan, meskipun tidak ada perubahan pada moderasi konten dan kami telah melakukan segala upaya untuk menyenangkan para aktivis,” kata Musk saat itu.

Ketika Yaccarino bergabung pada 2023, banyak komentator konservatif mengecam keputusan tersebut, khawatir akan adanya kemunduran ke model moderasi yang berlaku sebelum akuisisi Musk.

“Dia mewakili para pengiklan, dan kecenderungannya secara alami adalah membatasi kebebasan berbicara, serta menyenangkan mereka yang mendorong ideologi woke di dunia,” tulis Billboard Chris, seorang aktivis anti-ideologi gender, dalam unggahan X pada 12 Mei 2023. “Anda harus mengawasinya dengan ketat.”

Namun, Musk membela Yaccarino. Ia membalas cuitan Chris: “Saya mendengar kekhawatiran Anda, tapi jangan menilai terlalu cepat. Saya sangat teguh dalam membela kebebasan berbicara, bahkan jika itu berarti kehilangan uang.”

Sejak pemilu 2024, banyak pengiklan kembali ke X.

“Saya hanya ingin mengatakan bahwa kami sangat menghargai merek-merek besar yang kembali beriklan di platform kami!” tulis Musk dalam unggahan X pada 15 November 2024. “Terima kasih [Linda Yaccarino] dan seluruh tim X atas kerja keras Anda dalam memulihkan kepercayaan di platform kami dan memastikan bahwa konten iklan hanya muncul di tempat yang diinginkan pengiklan.”

Sejak kehadiran Yaccarino, X tetap mendominasi diskusi sosial daring, termasuk dengan peluncuran chatbot AI mereka, Grok, yang mencapai lebih dari 35 juta pengguna awal tahun ini menurut data dari ExplodingTopics. Grok diluncurkan pada akhir 2023.

“Kami memulai dengan pekerjaan penting untuk memprioritaskan keselamatan pengguna kami—terutama anak-anak, dan memulihkan kepercayaan pengiklan. Tim ini telah bekerja tanpa lelah mulai dari inovasi besar seperti Community Notes, dan sebentar lagi X Money, hingga menghadirkan suara dan konten paling ikonik ke platform,” tulis Yaccarino dalam unggahan X pada 9 Juli.

“Sekarang, yang terbaik akan datang saat X memasuki babak baru bersama @xai. X benar-benar menjadi alun-alun digital untuk semua suara dan sinyal budaya paling kuat di dunia. Kami tidak akan bisa mencapainya tanpa dukungan dari pengguna, mitra bisnis, dan tim paling inovatif di dunia.”

Menurut laporan EMarketer, pendapatan iklan X diproyeksikan mencapai $2,26 miliar pada 2025. Ini merupakan peningkatan signifikan dari $1,94 miliar pada 2024, namun masih jauh di bawah pendapatan tahun 2022 sebesar $4,14 miliar sebelum akuisisi oleh Musk.

Saat ini, X memiliki sekitar 586 juta pengguna aktif bulanan, menurut data dari Statista. (asr)

Sumber : Theepochtimes.com