Trump: Jangan Berpikir Iran Akan Segera ‘Kembali ke Nuklir’, Akan Mengebom Lagi Jika Mereka Melakukannya

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Jumat (27/6) bahwa dia akan mengebom Iran lagi ‘tanpa pertanyaan’ jika terus memperkaya uranium. Trump mengatakan dia akan “benar-benar” mengebom Iran lagi jika intelijen menunjukkan negara itu masih mampu memperkaya uranium ke tingkat senjata nuklir.

Trump berpidato dalam konferensi pers di Gedung Putih ketika dia ditanya apakah dia akan mempertimbangkan serangan udara baru jika serangan udara minggu lalu tidak berhasil mengakhiri ambisi nuklir Iran.

Dia menjawab: “Tentu. Tanpa pertanyaan. Benar-benar.”

Menanggapi pertanyaan tentang efektivitas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, Trump mengatakan: “Situs nuklir Iran telah dihancurkan… Kami memiliki beberapa berita palsu untuk sementara waktu—orang yang sama yang meliput laptop Hunter Biden berasal dari Rusia… Saya tidak percaya bahwa mereka akan kembali ke nuklir dalam waktu dekat.”

Ketika ditanya apakah dia yakin Iran telah menghentikan ambisi nuklirnya setelah serangan AS minggu lalu, Trump mengatakan kepada wartawan: “Waktu yang akan menjawabnya.”

“Tetapi saya tidak yakin mereka akan kembali ke nuklir dalam waktu dekat. Mereka menghabiskan lebih dari satu triliun dolar untuk nuklir, dan mereka tidak pernah berhasil,” tambahnya.

Trump berharap Iran membuka diri terhadap inspeksi internasional

Trump juga mengatakan bahwa dia “mengharapkan Iran membuka diri terhadap inspeksi internasional untuk memverifikasi bahwa Iran tidak memulai kembali program nuklirnya.”

Trump mengatakan bahwa dia ingin Badan Tenaga Atom Internasional atau entitas tepercaya lainnya memiliki hak penuh untuk melakukan inspeksi di Iran.

Dia juga menegaskan kembali pernyataannya bahwa Iran belum memindahkan material apa pun dari lokasi tersebut sejak diserang oleh AS. Dia juga mengklaim bahwa Iran tidak dapat memindahkan material apa pun sebelumnya, meskipun badan intelijen Eropa membantah penilaian tersebut.

Trump juga menegaskan bahwa Iran ingin kembali berunding mengenai program nuklirnya dan berkata: “Jadi Iran ingin bertemu. Seperti yang Anda ketahui, situs-situs mereka telah dihancurkan, situs-situs nuklir mereka yang sangat jahat.”

“Kekerasan kepala IAEA untuk mengunjungi situs-situs Iran tidak ada artinya, jahat”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan pada hari Jumat bahwa Teheran dapat menolak permintaan apa pun dari kepala pengawas nuklir PBB untuk mengunjungi situs-situs nuklir Iran. Dia mengatakan permintaan kepala IAEA untuk mengunjungi situs-situs nuklir yang dibom menunjukkan ‘niat jahat’.

“Pembicaraan dengan itikad baik” dengan Iran diperlukan, kata Ketua DPR Johnson

Setelah pengarahan rahasia dengan pejabat tinggi Gedung Putih mengenai serangan baru-baru ini di Iran, Ketua DPR Mike Johnson mengatakan kepada wartawan di Capitol pada hari Jumat pagi bahwa jelas “kemunduran besar” telah terjadi pada program nuklir Iran dan menyerukan diplomasi langsung untuk mengikutinya.

“Kami sekarang membutuhkan Iran untuk terlibat dengan kami dalam pembicaraan dan negosiasi langsung dengan itikad baik,” kata Johnson.

“Mereka perlu duduk bersama kita di meja perundingan dan memastikan bahwa perdamaian benar-benar langgeng.”

Informasi yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio membuat beberapa pihak tidak yakin bahwa operasi tersebut telah mencapai tujuannya.

Anggota DPR dari California Ro Khanna, seorang Demokrat, mengatakan tidak jelas “seberapa jauh mereka telah menghambat” program Iran. Khanna dan yang lainnya mengkritik Trump karena tidak berkonsultasi dengan Kongres sebelumnya.(yn)

India Tolak  Menandatangani Pernyataan Bersama SCO, Pengaruh PKT Mengalami Kemunduran

EtIndonesia. Pertemuan para Menteri Pertahanan dari Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), yang dipimpin oleh Tiongkok, diadakan pada 26 Juni di Qingdao, Tiongkok.  Namun, pertemuan tersebut tidak menghasilkan pernyataan bersama, karena Menteri Pertahanan India menolak menandatanganinya. Keputusan ini dinilai sebagai pukulan bagi ambisi Beijing untuk mendominasi kawasan Asia-Pasifik.

Pertemuan ini diselenggarakan di Tiongkok dan dipimpin oleh Menteri Pertahanan Partai Komunis Tiongkok (PKT), Dong Jun.

Mengutip laporan Associated Press, Menteri Pertahanan India, Rajnath Singh, menolak menandatangani rancangan pernyataan bersama di KTT SCO karena menilai isi pernyataan tersebut sejalan dengan narasi Pakistan, serta melemahkan posisi India dalam isu terorisme dan keamanan regional. 

Pernyataan itu, misalnya, tidak menyebutkan insiden penembakan yang terjadi di wilayah Kashmir yang dikuasai India pada  April, namun menyebut aktivitas bersenjata di Provinsi Balochistan.

Pada 22 April, insiden penembakan di wilayah Kashmir yang dikuasai India menyebabkan 26 orang tewas. India menuduh Pakistan berada di balik serangan tersebut dan mengkategorikannya sebagai aksi terorisme. Pakistan membantah tuduhan tersebut.

Di sisi lain, Pakistan telah berulang kali menuduh India mendukung gerakan bersenjata di Provinsi Balochistan, tuduhan yang dibantah oleh India.

Dalam pertemuan 26 Juni, meskipun Singh tidak secara eksplisit menyebut Pakistan, ia menyerukan agar SCO mengecam negara-negara yang menggunakan terorisme lintas batas sebagai alat kebijakan dan memberikan perlindungan kepada teroris.

Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) terdiri dari 10 negara anggota, yakni:

  • PKT
  • Rusia
  • Kazakhstan
  • Kirgistan
  • Tajikistan
  • Uzbekistan
  • India
  • Pakistan
  • Iran
  • Belarus

PKT dikenal memiliki hubungan dekat dengan Pakistan, sementara dengan India, hubungannya tegang akibat sengketa perbatasan yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Dalam konflik India-Pakistan yang terjadi pada  Mei, Pakistan dilaporkan menggunakan banyak senjata buatan PKT. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

IAEA: Fasilitas Nuklir Iran Rusak Parah Akibat Serangan Udara

Pada  Kamis 26 Juni, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa serangan udara oleh Israel dan Amerika Serikat telah memberikan kerusakan sangat parah terhadap fasilitas nuklir Iran. IAEA juga meminta pemerintah Iran untuk mengizinkan para ahli mereka melakukan inspeksi di lapangan. Di saat yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei untuk pertama kalinya tampil di depan publik dan memberikan pernyataan setelah tercapainya gencatan senjata.

EtIndonesia. Pada Kamis 26 Juni, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi dalam wawancara dengan media di Paris menyampaikan komentarnya mengenai dampak serangan udara oleh Israel dan AS terhadap program nuklir Iran.

“Apakah benar-benar hancur total, saya tidak tahu. Tapi saya bisa katakan bahwa semua orang setuju akan hal ini—kerusakannya sangat, sangat, sangat besar,” katanya. 

Grossi menjelaskan bahwa serangan tersebut menarget tiga fasilitas nuklir utama Iran—Natanz, Isfahan, dan Fordow—yang merupakan lokasi pusat untuk kegiatan pengayaan dan konversi uranium. Serangan itu telah sangat memukul program nuklir Iran.

Ia juga menyampaikan bahwa ia telah menghubungi Menteri Luar Negeri Iran untuk membuka jalur negosiasi guna melakukan inspeksi, namun hingga kini belum mendapat tanggapan dari pihak Iran.

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menulis di platform media sosial X bahwa Israel akan terus bekerja sama dengan Presiden AS Donald Trump untuk menjaga perdamaian dunia.

Dalam unggahannya, Netanyahu menulis: “Terima kasih atas dukungan besar Anda kepada Israel dan rakyat Yahudi. Kami akan terus bekerja sama untuk mengalahkan musuh bersama, membebaskan para sandera, dan memperluas wilayah perdamaian dengan cepat.”

Sehari sebelumnya, Presiden Trump memposting di Truth Social menyatakan dukungannya terhadap Netanyahu. Ia bahkan menyerukan agar Israel membatalkan pengadilan atas tuduhan korupsi terhadap Netanyahu, atau memberikan pengampunan kepada “pahlawan besar yang telah berjasa luar biasa ini.”

Trump menulis: “Saya sangat terkejut mengetahui bahwa di bawah kepemimpinan Netanyahu yang kuat, Israel—yang baru saja mengalami salah satu momen terbesarnya dalam sejarah—masih terus melanjutkan perburuan hukum yang konyol terhadap perdana menteri masa perang mereka yang hebat ini.”

Pada Kamis itu juga, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei tampil untuk pertama kalinya di depan publik sejak gencatan senjata Iran-Israel diumumkan. Ia menyatakan bahwa Iran telah meraih kemenangan dalam perang 12 hari dengan Israel.

Khamenei mengatakan: “Mereka (Amerika) menyerang fasilitas nuklir kami. Ini saja sudah layak untuk dibawa ke pengadilan internasional. Tapi mereka sebenarnya tidak mencapai hasil besar apa pun.”

Ia juga memperingatkan bahwa setelah diumumkannya gencatan senjata, Amerika Serikat dan Israel sebaiknya tidak lagi melancarkan serangan tambahan.

Sehari sebelumnya, Presiden Trump menyatakan kepada wartawan di Den Haag bahwa Amerika Serikat dan Iran akan mengadakan perundingan pekan depan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan: “Kami bersedia menjalin hubungan damai dengan negara mana pun di dunia. Jadi sangat jelas, semuanya tergantung pada apakah Iran bersedia tidak hanya berkomitmen pada perdamaian, tetapi juga siap untuk bernegosiasi langsung dengan Amerika Serikat, bukan melalui negara ketiga atau keempat. Tapi saya tahu, mungkin tidak ada presiden lain dalam sejarah modern kita yang lebih berkomitmen pada perdamaian dibanding Presiden Trump.” (Hui/asr)

Laporan oleh Zhao Fenghua – Disusun secara komprehensif oleh NTDTV

Tak Bisa Bertindak Sesuai Kehendaknya? Mengapa Xi Jinping Tidak Hadir di KTT BRICS

Laporan South China Morning Post menyebutkan, pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru-baru ini memberitahukan kepada pemerintah Brasil bahwa pemimpin PKT, Xi Jinping, tidak akan menghadiri KTT BRICS yang akan digelar 6-7 Juli mendatang. Alasannya disebut karena ada jadwal yang bentrok, dan Perdana Menteri Li Qiang akan hadir sebagai wakilnya. Ini adalah kali pertama Xi absen dari pertemuan BRICS. Publik menduga ada alasan tersembunyi di baliknya, bahkan menilai kekuasaan Xi mungkin sedang mengalami pembatasan besar.

EtIndonesia. KTT BRICS dijadwalkan berlangsung Juli mendatang di Rio de Janeiro, Brasil. South China Morning Post pada 25 Juni mengutip sumber yang mengetahui masalah ini dan menyebutkan bahwa pemerintah PKT member tahu Brasil bahwa Xi tidak akan hadir karena jadwalnya yang bentrok.

“Ini sangat aneh. Jika kita perhatikan, sebenarnya tidak ada agenda besar lain di Juli. KTT BRICS adalah acara yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari. Bahkan untuk parade militer  September yang masih dua bulan lagi pun, bisa diatur agar Xi berpidato. Maka untuk acara besar seperti BRICS yang lebih dulu dijadwalkan, tentu seharusnya bisa disiapkan waktunya atau tidak perlu menjadwalkan kegiatan lain,” ujar pengamat isu Tiongkok, Heng He.  

Sebelumnya, Xi Jinping tidak pernah absen dari KTT BRICS. Menurut sumber dari pihak Tiongkok yang terlibat dalam persiapan acara, alasan ketidakhadiran Xi kali ini adalah karena dalam waktu kurang dari satu tahun, ia telah dua kali bertemu dengan Presiden Brasil. Namun alasan ini pun menuai keraguan dari publik.

Heng He: “Alasan itu sangat dipaksakan. Karena ini adalah KTT BRICS, bukan kunjungan khusus untuk bertemu Presiden Brasil. Dia tidak sedang melakukan kunjungan bilateral ke Brasil.”

Disebutkan bahwa KTT kali ini akan diwakili oleh Perdana Menteri Li Qiang.

Heng He: “Kelompok negara BRICS adalah platform ekonomi. Tapi selama ini malah dijadikan panggung pertunjukan bagi pemimpin PKT. Namun kali ini, jika bisa kembali ke jalur normal dengan mengirim Li Qiang, itu justru menimbulkan pertanyaan besar. Karena Li Qiang selama ini dianggap sebagai perdana menteri terlemah. “

“Jika ia bisa menggantikan Xi untuk hadir di KTT BRICS, berarti telah terjadi perubahan yang sangat halus dalam posisi kekuasaan keduanya. Bisa jadi, kekuasaan dan aktivitas Xi Jinping telah dibatasi, bahkan sangat ketat.”

Memasuki  Juni, sejumlah tokoh sensitif di internal PKT justru tampak aktif. Pada 23 Juni, tokoh dari faksi Tuanpai (kelompok mantan Presiden Hu Jintao), Hu Chunhua, secara tidak biasa memimpin rapat Komite Tetap CPPCC (konferensi politik penasihat rakyat). Pada 20 Juni, Wakil Perdana Menteri Ding Xuexiang memimpin delegasi menghadiri Forum Ekonomi Internasional di St. Petersburg, Rusia—dan bahkan secara mengejutkan mendapat pertemuan pribadi dengan Presiden Vladimir Putin, yang membuat publik terheran.

“Putin kali ini tidak hanya muncul sekilas untuk berfoto bersama Ding Xuexiang dan menjawab beberapa pertanyaan sekadarnya, tetapi benar-benar mengadakan pertemuan kerja. Mereka duduk berhadapan di dua meja panjang bersama delegasi masing-masing. Putin dan Ding duduk setara, posisi sejajar. Baik dari sudut pandang Putin maupun PKT, memperlakukan pejabat setingkat wakil perdana menteri dengan protokol setinggi ini bisa dikatakan sangat tidak biasa. Maka ada yang menilai bahwa Putin sedang menguji kekuatan sejati internal PKT,” kata Wen Zhao, pembawa acara kolom “Wen Zhao Membahas Masa Lalu dan Kini.”

Menurut informasi dari sumber terpercaya yang diperoleh NTD, meskipun Xi Jinping secara lahiriah masih tampak berkuasa, pada kenyataannya pengaruhnya telah runtuh. Para tokoh senior PKT seperti mantan Perdana Menteri Wen Jiabao dan Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat, Zhang Youxia, kini menjadi faktor penentu utama dalam arah politik PKT. Saat ini, Xi hanya menjalankan peran simbolik, sekadar menjalankan perintah seperti aktor dalam sandiwara.

Namun saat ini, PKT menghadapi krisis besar dari dalam dan luar. Ekonomi merosot tajam, dan ketidakpuasan rakyat makin meluas. Di tengah kondisi ini, masyarakat berharap PKT bisa segera runtuh. (Hui/asr)

Laporan oleh Tang Rui, NTDTV – Disusun secara komprehensif.

Menhan AS Pete Hegseth Kecam Media Kiri karena Sebar Fitnah, Jenderal Dan Caine Ungkap Detail Serangan terhadap Fasilitas Nuklir

EtIndonesia. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal, Dan Caine menggelar konferensi pers, pada Kamis  (26 Juni) pagi pukul 08.00, untuk pertama kalinya mengungkap detail mengejutkan tentang serangan mendadak militer AS ke fasilitas nuklir Iran. 

Di awal konferensi, Hegseth dengan tegas mengecam sejumlah media karena menyebarkan laporan yang tidak akurat dan mencemarkan keberhasilan Operasi “Palu Tengah Malam”, serta mencoba menutupi pengorbanan besar para prajurit. Sementara itu, Jenderal Kane secara terbuka memaparkan rincian teknologi militer seperti sistem pertahanan rudal Patriot dan bom penghancur bunker super yang digunakan dalam serangan udara ke fasilitas nuklir Fordow.

Dalam rekaman simulasi yang dipublikasikan, terlihat ledakan hebat yang disusul kilatan cahaya menyilaukan—menampilkan bagaimana militer AS menjatuhkan bom GBU-57 penghancur bunker raksasa ke fasilitas nuklir Iran, dan bagaimana militer menjalankan salah satu operasi paling kompleks dan presisi dalam sejarah.

Sebelum video diputar, Menhan Hegseth mengecam sejumlah media karena, menurutnya, bermotif politik dan mencoreng keberhasilan operasi militer ini. Mereka disebut mengutip laporan awal dari Badan Intelijen Pertahanan (DIA) yang bocor, dan menyebarkannya secara tidak utuh untuk membangun persepsi bahwa serangan tersebut tidak efektif.

“Berapa banyak artikel yang membahas betapa sulitnya menerbangkan pesawat selama 36 jam? Apakah MSNBC pernah memberitakannya? Fox pernah memberitakannya? Ada yang pernah? Apakah sulit menulis dua atau tiga artikel tentang betapa sulitnya menembak jatuh drone dari F-15, F-16, F-22, atau F-35? Seberapa rumit sistem rudal Patriot? Atau pengisian bahan bakar di udara? Mengapa kalian tidak memberitakan betapa kompleks dan presisinya misi ini?,” ujarnya. 

“Wartawan seperti kalian menentang Trump seakan-akan itu sudah tertanam dalam DNA dan darah kalian. Kalian tidak ingin dia berhasil, jadi kalian pun menolak mengakui keberhasilan operasi ini.”

Hegseth menegaskan kembali bahwa operasi tersebut sukses dan berhasil menghentikan perang 12 hari antara Iran dan Israel. Ia mengatakan, penilaian dari Israel, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan CIA menyimpulkan bahwa fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan, kemampuan nuklir mereka lumpuh atau mundur bertahun-tahun ke belakang.

“Direktur CIA Ratcliffe mengeluarkan pernyataan tadi malam,” kata Hagerseth. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan sumber informasi paling akurat dan dapat dipercaya dalam sejarah, beberapa fasilitas nuklir kunci Iran telah dihancurkan dan akan butuh bertahun-tahun untuk membangunnya kembali.

Sementara itu, Jenderal Caine mengungkapkan lebih banyak detail mengejutkan. Ia mengatakan militer AS telah meneliti fasilitas nuklir Fordow selama 15 tahun, hingga sangat memahami geologi batuan, sistem ventilasi, aliran listrik, dan sistem kendali lingkungan di dalamnya. Meski beberapa hari sebelum serangan Iran mencoba menyegel fasilitas bawah tanah dengan beton tebal, termasuk lubang ventilasi utama dan saluran samping, AS telah mengetahui semuanya secara detail.

“Kami mempekerjakan banyak doktor untuk mengembangkan bom penghancur bunker, melakukan pemodelan dan simulasi. Karena itu, secara diam-diam kami menjadi pengguna superkomputer terbesar di negara ini,” ujarnya. 

Pada 21 Juni, pesawat pembom siluman B-2 milik AS menjatuhkan 14 bom penghancur bunker ke tiga fasilitas nuklir utama Iran. Bom pertama digunakan untuk menghancurkan penutup beton, bom kedua hingga kelima menembus poros utama dengan kecepatan lebih dari 1.000 kaki per detik dan meledak di dalam target. Bom keenam berfungsi sebagai cadangan jika salah satu bom sebelumnya gagal.

“Hari Jumat itu, kru pesawat berpamitan pada keluarga sebelum berangkat kerja, tidak tahu apakah akan kembali. Baru Sabtu malam keluarga mereka diberitahu soal operasi ini. Hari Minggu, ketika jet-jet itu kembali ke Pangkalan Udara Whiteman, keluarga mereka sudah menunggu di sana, bendera berkibar, dan air mata mengalir. Saat mengingatnya, saya masih merinding,” katanya. 

Hegseth juga menjelaskan :  “Banyak pencapaian prajurit kita yang berani telah tertutup oleh kebencian media, oleh upaya kalian menyebar kebocoran dan memelintir fakta, menyatakan bahwa operasi ini gagal. Itu tidak bertanggung jawab.”

 “Mengapa kita tidak memberi penghormatan pada mereka? Mengapa tidak membicarakan bahwa yang membuat Amerika luar biasa adalah karena kita punya kemampuan seperti ini?” (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Wang Ziyi, dari Amerika Serikat

Trump Akhiri Negosiasi Perdagangan dengan Kanada Sebagai Balasan Atas Pajak Digital

EtIndonesia. Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Jumat (27/6) bahwa dia membatalkan negosiasi perdagangan dengan Kanada sebagai balasan atas pajak yang berdampak pada perusahaan teknologi AS, dan menambahkan bahwa Ottawa akan mengetahui tarif baru mereka dalam waktu seminggu.

Trump mengacu pada pajak layanan digital Kanada, yang diberlakukan tahun lalu dan diperkirakan akan menghasilkan 4,2 miliar dolar US selama lima tahun.

Meskipun tindakan tersebut bukan hal baru, penyedia layanan AS akan “terlibat dalam pembayaran multi-miliar dolar di Kanada” mulai tanggal 30 Juni, menurut Asosiasi Industri Komputer & Komunikasi baru-baru ini.

Pajak tiga persen berlaku untuk perusahaan besar atau multinasional seperti Alphabet, Amazon, dan Meta yang menyediakan layanan digital bagi warga Kanada, dan Washington sebelumnya telah meminta pembicaraan penyelesaian sengketa atas masalah tersebut.

“Berdasarkan Pajak yang sangat keterlaluan ini, dengan ini kami menghentikan SEMUA diskusi tentang Perdagangan dengan Kanada, berlaku segera,” kata Trump dalam sebuah posting di platform Truth Social miliknya pada hari Jumat.

Kanada mungkin terhindar dari beberapa bea masuk Trump yang besar, tetapi negara itu menghadapi rezim tarif yang terpisah.

Trump juga telah mengenakan pungutan yang tinggi pada impor baja, aluminium, dan mobil.

Pekan lalu, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney mengatakan Ottawa akan menyesuaikan tarif balasannya sebesar 25 persen pada baja dan aluminium AS — sebagai tanggapan atas penggandaan pungutan AS pada logam tersebut menjadi 50 persen — jika kesepakatan perdagangan bilateral tidak tercapai dalam 30 hari.

“Kami akan terus melakukan negosiasi yang rumit ini demi kepentingan terbaik warga Kanada,” kata Carney pada hari Jumat, seraya menambahkan bahwa dia belum berbicara dengan Trump pada hari itu.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa Washington berharap pemerintah Carney akan menghentikan pajak tersebut “sebagai tanda niat baik.”

Dia sekarang mengharapkan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer untuk memulai penyelidikan guna menentukan kerugian yang berasal dari pajak digital Kanada.

Serangan mendadak Trump yang menargetkan Kanada terjadi tak lama setelah Washington dan Beijing mengonfirmasi penyelesaian kerangka kerja untuk memajukan perdagangan.

Prioritas Washington dalam pembicaraan dengan Beijing adalah memastikan pasokan tanah jarang yang penting untuk berbagai produk termasuk kendaraan listrik, hard drive, dan peralatan pertahanan nasional.

Tiongkok, yang mendominasi produksi global unsur-unsur tersebut, mulai mewajibkan lisensi ekspor pada awal April, sebuah langkah yang secara luas dipandang sebagai respons terhadap tarif tinggi Trump.

Kedua pihak sepakat setelah pembicaraan di Jenewa pada bulan Mei untuk sementara menurunkan bea masuk yang tinggi atas produk masing-masing.

Tiongkok juga berkomitmen untuk melonggarkan beberapa tindakan balasan nontarif, tetapi pejabat AS kemudian menuduh Beijing melanggar pakta tersebut dan memperlambat persetujuan lisensi ekspor untuk tanah jarang.

Mereka akhirnya menyetujui kerangka kerja untuk memajukan konsensus Jenewa mereka, setelah pembicaraan di London bulan ini.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada AFP pada hari Kamis (26/6) bahwa pemerintahan Trump dan Tiongkok telah “menyetujui pemahaman tambahan untuk kerangka kerja guna mengimplementasikan perjanjian Jenewa.”

Klarifikasi ini muncul setelah presiden AS mengatakan dalam sebuah acara bahwa Washington telah menandatangani kesepakatan terkait perdagangan dengan Tiognkok, tanpa memberikan rincian.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Tiongkok “akan meninjau dan menyetujui aplikasi untuk item kontrol ekspor yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hukum,” kata kementerian perdagangan Tiongkok.

“Pihak AS juga akan membatalkan serangkaian tindakan pembatasan terhadap Tiongkok,” tambahnya.

Kesepakatan yang akan datang?

Puluhan negara, meskipun bukan Tiongkok, menghadapi tenggat waktu 9 Juli untuk memberlakukan bea masuk yang lebih tinggi — naik dari 10 persen saat ini.

Masih harus dilihat apakah negara-negara akan berhasil mencapai kesepakatan untuk menghindarinya sebelum tenggat waktu.

Mengenai pembicaraan dengan Uni Eropa, misalnya, Trump mengatakan dalam sebuah acara di Gedung Putih pada hari Jumat: “Kami memiliki kartu. Kami memiliki kartu jauh lebih banyak daripada mereka.”

Tetapi Bessent mengatakan Washington dapat menyelesaikan agendanya untuk kesepakatan perdagangan pada bulan September, yang menunjukkan lebih banyak kesepakatan dapat disimpulkan, meskipun pembicaraan kemungkinan akan berlanjut hingga setelah bulan Juli.

Bessent mengatakan kepada Fox Business bahwa ada 18 mitra utama yang menjadi fokus Washington dalam perjanjian.

“Jika kita dapat menandatangani 10 atau 12 dari 18 hubungan penting, ada 20 hubungan penting lainnya, maka saya pikir kita dapat menyelesaikan perdagangan pada Hari Buruh,” kata Bessent, mengacu pada hari libur AS pada tanggal 1 September.

Indeks utama Wall Street berakhir pada rekor baru karena pasar menyambut baik kemajuan dalam perdagangan AS-Tiongkok sambil mengabaikan kekhawatiran tentang Kanada.(yn)

Kerja Sama Militer Naik Level? 600 Tentara Partai Komunis Tiongkok  Akan Dikirim ke Rusia untuk Pelatihan

Media Ukraina melaporkan bahwa sebanyak 600 personel militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) akan dikirim ke Rusia dalam waktu dekat untuk menjalani pelatihan, termasuk pelatihan dalam menghadapi senjata Barat. Kerja sama “tanpa batas” antara Tiongkok dan Rusia ini memicu kekhawatiran apakah keduanya sedang bergerak menuju aliansi militer resmi.

EtIndonesia. Pada 24 Juni, Kyiv Post mengutip sumber dari Direktorat Intelijen Kementerian Pertahanan Ukraina yang mengatakan bahwa Moskow berencana menerima sekitar 600 personel militer PKT pada tahun 2025. Mereka akan dilatih di pangkalan militer dan pusat pelatihan milik angkatan bersenjata Rusia.

Sumber lain dari media juga mengungkapkan bahwa “Kremlin telah memutuskan untuk mengizinkan tentara PKT mempelajari dan menyerap pengalaman tempur Rusia dari perang di Ukraina.”

Shen Mingshi, peneliti di Institut Riset Keamanan Nasional Taiwan, mengatakan: “PKT mengirim 600 orang ini kemungkinan dari berbagai satuan militer, dengan tujuan menjadikan mereka pelatih inti atau pionir. Mereka akan langsung belajar dari medan perang Rusia-Ukraina.”

Dr. Zhong Zhidong, dari think tank nasional Taiwan “Institut Riset Keamanan Pertahanan Nasional,” menambahkan: “PKT sudah lama tidak punya pengalaman tempur nyata. Di sisi lain, karena Ukraina menggunakan banyak senjata buatan Barat, PKT bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk memahami cara menghadapi senjata Barat. Ini mungkin sebagai persiapan menghadapi kemungkinan konflik militer di Selat Taiwan, karena militer Taiwan sebagian besar menggunakan peralatan dan standar tempur ala Amerika.”

Menurut laporan, pelatihan ini akan difokuskan pada kemampuan menghadapi senjata Barat, termasuk pelatihan untuk pengemudi tank, artileri, pasukan zeni, dan ahli pertahanan udara.

Dr. Zhong Zhidong melanjutkan: “Fokus pelatihannya pada tank, artileri, pasukan darat dan pertahanan udara mencerminkan karakter utama perang Rusia-Ukraina yang berbasis pertempuran udara dan darat. Yang paling penting adalah soal pertahanan udara, terutama bagaimana melawan serangan drone dan rudal—ini kini menjadi kunci utama dalam konflik modern.”

Drone telah menjadi senjata khas Ukraina. Awal bulan ini, Ukraina menyembunyikan drone bermuatan bahan peledak di atap bangunan kayu yang kemudian diangkut dengan truk ke dekat pangkalan udara Rusia—sebuah versi modern dari “Kuda Troya”—dan berhasil menghancurkan 41 jet tempur Rusia.

Shen Mingshi: “Salah satu fokus utama yang ingin dipelajari oleh PKT adalah bagaimana mencegah dan mengatasi serangan drone, termasuk pertempuran unit kecil di garis depan. Selain itu, sistem komando dan kendali, komunikasi antara drone dan pasukan garis depan, komunikasi satelit, serta peperangan elektronik, juga menjadi perhatian utama.”

Meski perang Rusia-Ukraina telah berlangsung lebih dari tiga tahun, dan Rusia menghadapi krisis personel dan sumber daya, Rusia masih bersedia melatih tentara PKT —hal ini menunjukkan niat politik dari Presiden Putin.

Dr. Zhong Zhidong: “Rusia ingin memperkuat hubungan dengan PKT, meski tanpa menyebutnya aliansi militer secara resmi. Dengan ini, Rusia berharap mendapat balasan dari PKT dalam bentuk dukungan militer dan ekonomi. Di sisi lain, ini juga cara Rusia menyeret PKT lebih dalam ke dalam konflik Eropa, membongkar posisi netral PKT yang pura-pura, dan memperkuat hubungan strategis antara keduanya.”

Apakah kerja sama “tanpa batas” antara Tiongkok dan Rusia benar-benar mulai mengarah ke aliansi militer telah memicu kekhawatiran luas. Pada 24 Juni, dalam Forum Industri Pertahanan NATO, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan Tiongkok merupakan bagian dari rantai pasokan yang menjaga mesin perang Rusia tetap berjalan. Ia mendesak negara-negara anggota NATO untuk menghentikan semua hubungan dagang dengan entitas yang membantu Rusia.

Zelenskyy juga mengungkapkan bahwa Tiongkok telah menghentikan ekspor drone ke Ukraina dan negara-negara Eropa lainnya, tetapi masih terus memasok drone ke Rusia.

“Dukungan PKT terhadap Rusia semakin jelas. Oleh karena itu, dalam KTT NATO, peringatan terhadap PKT terus meningkat. Keterlibatan PKT dalam perang Rusia-Ukraina kini menjadi faktor penentu hubungan antara Eropa dan PKT,” kata Dr. Zhong Zhidong. 

“Uni Eropa sekarang menekankan strategi ‘mengurangi risiko’ (de-risking), namun jika dukungan PKT terhadap Rusia terus meningkat, strategi itu bisa berkembang menjadi ‘decoupling’ atau pemisahan total. Sebagai tanggapan, Eropa bisa memperkuat keterlibatannya dalam isu Indo-Pasifik, terutama terkait Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan,” ujarnya. 

Namun, hubungan antara PKT dan Rusia tidak sepenuhnya akrab. Awal Juni lalu, media AS membocorkan dokumen internal Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB), yang menyebut PKT sebagai “musuh.” Dokumen itu juga memperingatkan bahwa Tiongkok tengah aktif merekrut mata-mata Rusia, termasuk ilmuwan yang tidak puas dengan pemerintah, guna mendapatkan teknologi militer sensitif. (Hui/asr)

Shang Yan | Luo Ya | Gao Yu – NTDTV.com

Foto Satelit Menunjukkan : Iran Memulai Perbaikan di Situs Nuklir Fordow Hanya Beberapa Hari Setelah Pengeboman oleh AS

EtIndonesia. Gambar satelit terbaru dari Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Fordow (FFEP) tampaknya menunjukkan Iran bergerak cepat untuk memperbaiki kerusakan di fasilitas nuklir, hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat mengebom situs tersebut.

Foto-foto tersebut, yang diambil pada hari Jumat (27.6) oleh Maxar Technologies, menunjukkan peralatan konstruksi dan tanda-tanda aktivitas di dekat pintu masuk terowongan dan titik-titik tumbukan tempat bom penghancur bunker AS menghantam selama serangan terkoordinasi akhir pekan lalu.

Ini terjadi hanya seminggu setelah AS, dalam eskalasi besar konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, melakukan pengeboman terhadap tiga situs nuklir Iran – Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Apa yang ditunjukkan oleh gambar satelit terbaru?

Dalam gambar satelit terbaru, ekskavator dan buldoser dapat terlihat membersihkan puing-puing dan menggeser tanah di sekitar punggungan utara gunung yang menampung kompleks pengayaan Fordow. Menurut Business Insider, khususnya, kru tampak fokus pada area tempat bom “penghancur bunker” GBU-57 dilaporkan menghantam poros pembuangan situs tersebut—titik akses penting ke fasilitas bawah tanah.

Gambar lain memperlihatkan apa yang tampak seperti dimulainya jalan akses baru yang diukir di lereng gunung, serta upaya untuk memulihkan infrastruktur lama yang rusak.

Ini menunjukkan bahwa Teheran mungkin mencoba memasuki kembali situs tersebut untuk menilai kerusakan internal dan memulai pekerjaan pemulihan, meskipun pejabat Iran belum mengonfirmasi atau membantahnya.

Tindakan Iran telah diprediksi sebelumnya

Laporan bulan Maret oleh Royal United Services Institute (RUSI) telah memprediksi respons seperti itu. Laporan tersebut mengatakan bahwa kampanye serangan jangka panjang akan diperlukan untuk mencegah Iran membangun kembali dan bahwa jika tidak ada upaya seperti itu, Teheran akan meluncurkan kembali “upaya untuk menggali fasilitas guna membangun kembali akses dan pasokan kemungkinan akan segera dimulai”.(yn)

CEO The Epoch Times Peringatkan: Partai Komunis Tiongkok  Meluncurkan Perang Senyap 

EtIndonesia. CEO The Epoch Times Janice Trey memperingatkan bahwa penindasan lintas negara oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) serta infiltrasi globalnya merupakan bentuk perang diam-diam yang mengancam kebebasan dasar dan keamanan nasional Amerika Serikat. Hal demikian disampaikan dalam sebuah forum di komplek DPR Amerika Serikat pada 6 Juni 2025 bertajuk “Penindasan Transnasional oleh PKT yang Semakin Meningkat”

“Penindasan lintas negara yang dilakukan PKT bukan hanya ditujukan pada Falun Gong, The Epoch Times, atau Shen Yun Performing Arts, tapi ini merupakan tantangan langsung terhadap pilar utama masyarakat demokratis—karena taktik ini mengancam kebebasan berbicara, kebebasan beragama, dan keamanan nasional,” katanya. 

Trey menegaskan bahwa PKT secara khusus menargetkan lembaga-lembaga global seperti The Epoch Times dan Shen Yun karena mereka secara terbuka mengekspos kejahatan HAM yang dilakukan oleh PKT serta penindasan ideologi, juga karena mereka berkomitmen menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok sebelum era komunis.

Ia juga mengatakan bahwa taktik penindasan transnasional yang digunakan PKT mencakup “memperalat sistem hukum dan administrasi AS”.

Contohnya, antara 2023 dan 2024, warga negara AS Chen Jun dan rekannya Lin Feng mencoba menyuap pejabat IRS atau lembaga pajak AS, agar mencabut status organisasi nirlaba Shen Yun. Keduanya telah divonis bersalah dan dipenjara. Mereka diketahui memiliki kaitan dengan Kantor 610—lembaga PKT yang dibentuk khusus untuk menganiaya Falun Gong.

Chen Jun mengakui bahwa dirinya adalah agen PKT yang tidak terdaftar. Dokumen pengadilan di Washington, DC, menunjukkan bahwa ia menerima lebih dari 52.000 dolar AS per bulan dari pemerintah PKT.

Pada tahun 2023, Alex Scilla di New York mengajukan gugatan lingkungan terhadap kantor pusat Shen Yun dan memantau aktivitas praktisi Falun Gong di sana. Hakim menolak gugatan tersebut karena dianggap tidak berdasar, dan melarang Scilla untuk mengajukan banding lagi.

Scilla, sebelum pindah ke New York, pernah tinggal di Tianjin, Tiongkok, selama 15 tahun. Ia juga mendirikan sebuah perusahaan baru di Tiongkok sebelum mengajukan gugatan tersebut.

“Selain aktivitas spionase tradisional, PKT kini juga memanipulasi sistem hukum dan administrasi AS melalui gugatan hukum, pengaduan regulasi, dan tekanan birokrasi untuk membungkam suara oposisi. PKT menggunakan agen-agennya untuk menguras sumber daya organisasi yang terkait dengan Falun Gong. Meskipun kasus-kasus ini akhirnya ditolak, para agen PKT tetap menyebarkannya melalui propaganda untuk merusak reputasi Falun Gong, apa pun hasil hukumnya,” kata Trey. 

Ia juga menyoroti bahwa “perang media” merupakan salah satu cara PKT melakukan penindasan lintas negara.

“PKT mengalokasikan lebih dari 7 miliar dolar AS per tahun untuk propaganda global, termasuk menyusup ke media Barat,” katanya. 

Sejak tahun 2024, beberapa media arus utama AS terus menerbitkan artikel yang menyerang Shen Yun dan Falun Gong. Artikel-artikel ini menggunakan narasi khas PKT dan kemudian disebarluaskan oleh kekuatan luar negeri dan agen-agennya.

Youtuber dan komentator politik terkenal AS, Tim Pool, juga mengungkapkan di programnya bahwa ia menerima email dari seseorang yang menawarkan bayaran jika ia memproduksi video yang menyerang Falun Gong.

“PKT berusaha menggunakan kredibilitas media Barat untuk mencemarkan The Epoch Times dan membungkam media yang berani mengungkap kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh PKT,” kata Trey. 

Anggota DPR Amerika Serikat, Don Bacon, memperingatkan bahwa infiltrasi opini publik oleh PKT di Amerika Serikat berperan sebagai “kekuatan kolom kelima”, dengan tujuan menggulingkan demokrasi Amerika.

Trey menyebut apa yang dilakukan PKT sebagai bentuk “perang senyap terhadap Amerika”, dan menyerukan agar AS melawan demi mempertahankan kebebasan.

Janice Trey berkata : “Untuk melawan perang sunyi ini, Amerika harus mengambil tindakan tegas di empat bidang:

  1. Menegakkan dan memperkuat Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing (FARA);
  2. Mewajibkan media dan pembuat kebijakan mengungkap semua hubungan dengan negara lawan;
  3. Melindungi lembaga-lembaga dari pengaruh asing dan penyalahgunaan regulasi;
  4. Mendukung media independen dan organisasi sipil yang berlandaskan nilai-nilai tradisional.” (Hui/asr)

Laporan oleh reporter NTD Ming Xin dan Wang Yanqiao

Menhan Israel: Ingin Membunuh Khamenei, Tak Butuh Izin AS

EtIndonesia. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant menyatakan bahwa Israel pernah berniat untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, namun belum menemukan kesempatan yang tepat. Ia juga menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak memerlukan izin dari Amerika Serikat.

“Kami ingin melenyapkan Khamenei, tetapi belum ada kesempatan untuk bertindak,” ujar Gallant dalam wawancara dengan saluran TV Channel 13 Israel pada (26/6/2025).  

Ia menyebut Khamenei takut dibunuh, sehingga memilih “bersembunyi di kedalaman bawah tanah” dan memutus kontak dengan komandan baru Garda Revolusi Islam (IRGC).

Dalam serangan gelombang pertama, Israel  berhasil membunuh komandan tertinggi Garda Revolusi Iran serta beberapa ilmuwan nuklir.

Gallant juga menekankan bahwa Israel tidak perlu meminta izin dari AS jika memutuskan untuk menghabisi Khamenei.

Khamenei adalah pemimpin tertinggi spiritual dan politik Iran. Setelah konflik Iran-Israel meletus, Presiden AS Donald Trump sempat mengingatkan bahwa militer AS mengetahui lokasi persembunyian Khamenei, namun tidak bermaksud membunuhnya untuk saat ini.

Pada 13 Juni, Israel melancarkan serangan kejutan terhadap berbagai fasilitas nuklir dan target militer Iran, menewaskan sejumlah perwira tinggi IRGC dan ilmuwan nuklir penting. Israel menyatakan bahwa Iran hampir memproduksi beberapa bom nuklir, yang dianggap sebagai ancaman serius bagi Israel dan dunia.

Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap Israel. Khamenei bahkan mengancam akan menggunakan senjata nuklir. Namun, peristiwa mengejutkan terjadi ketika pada 21 Juni, Presiden Trump memerintahkan militer AS untuk membombardir tiga fasilitas nuklir Iran, dan kemudian mengumumkan bahwa ancaman nuklir Iran telah berhasil dihancurkan.

Setelah itu, Iran meluncurkan rudal secara simbolis ke pangkalan militer AS di Qatar, tetapi intervensi militer AS justru memicu gencatan senjata antara Israel dan Iran.

Trump menyatakan bahwa Iran kini bersikap bersahabat terhadap AS. Dalam konferensi pers KTT NATO pada 25 Juni, Trump mengatakan bahwa sebelum Iran menyerang pangkalan militer AS, mereka telah berkomunikasi dengan pihak AS, bahkan berdiskusi tentang waktu serangan dan mendapat persetujuannya.

“Mereka bilang, ‘Kami akan menembakkan rudal. Jam 1 siang, boleh?’ Saya bilang oke, semua orang di pangkalan sudah dievakuasi,” ujar Trump.  Ia menambahkan bahwa Iran telah memberitahu militer AS untuk mengevakuasi pasukan lebih dulu, sehingga tidak ada korban.

 “14 rudal mereka semua berhasil kami tembak jatuh,” kata Trump. (Hui/asr)

Laporan oleh Luo Tingting |  Wen Hui – NTDTV.com

Takdir yang Sudah Digariskan: Lolos dari Mulut Harimau, Bangkit dari Kematian, dan Pertemuan Ajaib Dua Saudara

EtIndonesia. Di tengah lautan manusia yang serba kompleks, dua saudara terpisah jauh satu sama lain. Tampaknya mustahil mereka bisa bertemu kembali. Namun takdir berkata lain—suatu keajaiban membawa mereka bersatu kembali. Apa yang telah mengatur pertemuan tak terduga ini?

Zhang Na dan Zhang Cheng adalah dua saudara yang nasibnya berbeda seperti langit dan bumi.

Setiap hari, sang kakak, Zhang Na, harus naik ke pegunungan untuk menebang kayu. Jika dia tak berhasil membawa pulang satu ikat penuh, maka dia akan dimarahi dan bahkan dipukul. Sementara itu, adiknya yang enam tahun lebih muda, Zhang Cheng, menjalani hidup nyaman—sekolah di akademi, menulis dan membaca, hidupnya tercukupi dalam segala hal.

Kenapa nasib dua saudara ini sangat berbeda? Ternyata mereka adalah saudara tiri—mereka lahir dari ibu yang berbeda.

Ibu kandung Zhang Na meninggal tidak lama setelah dia lahir. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan seorang wanita bermarga Niu, yang melahirkan Zhang Cheng. Nyonya Niu memiliki watak keras dan tidak menyukai Zhang Na. Dia memperlakukannya seperti budak—memberi makanan kasar, memaksanya bekerja berat—sementara terhadap anak kandungnya sendiri, dia memperlakukannya seperti permata. Namun Zhang Na adalah anak yang jujur dan berbakti. Dia tak menyalahkan ayah atau ibu tirinya, dan dia tetap menyayangi Zhang Cheng seperti adik kandungnya.

Pengorbanan Seorang Adik

Suatu malam, Zhang Na berbaring lemas di tempat tidur. Karena hari itu dia tak bisa memenuhi target kayu, ibu tirinya menghukumnya tidak diberi makan. Ketika Zhang Cheng pulang dari akademi dan melihat kondisi kakaknya yang pucat, dia khawatir: “Kakak, apa kamu sakit?”

“Tidak, hanya lapar saja,” jawab Zhang Na.

Setelah didesak, Zhang Na pun akhirnya berkata jujur. Mendengarnya, Zhang Cheng segera keluar rumah dan kembali dengan membawa roti panggang. Ternyata, dia diam-diam mengambil tepung dari rumah dan meminta bantuan tetangga untuk memasaknya. Zhang Na makan dengan lahap, lalu menasihati adiknya agar tak melakukan hal seperti itu lagi.

“Kalau ibu tahu, kamu bisa celaka. Lagipula, makan sekali sehari tidak akan membuatku mati kelaparan,” katanya.

Zhang Cheng yang baik hati sangat khawatir: “Kakak, tubuhmu sudah lemah. Bagaimana bisa menebang kayu sebanyak itu setiap hari?” 

Dia berulang kali membujuk ibunya agar memperlakukan kakaknya lebih baik, tapi sang ibu tetap tak berubah.

Keesokan paginya, Zhang Cheng tidak pergi ke akademi, melainkan ke gunung untuk membantu kakaknya. Dia berusaha keras mematahkan ranting-ranting pohon, tangannya sampai terluka, dan sepatunya robek. Zhang Na yang khawatir memaksanya pulang, bahkan mengancam akan menyakiti diri sendiri dengan kapak jika adiknya tak mau pergi. 

Zhang Cheng akhirnya pulang sambil berkata dalam hati: “Besok aku akan bawa kapak sendiri.”

Malamnya, Zhang Na pergi ke akademi menemui guru Zhang Cheng dan memohon: “Tolong awasi adik saya, jangan biarkan dia ke gunung, saya khawatir akan bahaya harimau.”

Namun keesokan harinya, Zhang Cheng tetap datang ke gunung, membawa kapak sendiri. Dia hanya tersenyum dan mulai menebang kayu. Sampai akhirnya mereka berhasil mengisi penuh ikat kayu, dia baru turun gunung dalam kondisi penuh peluh.

Guru Zhang Cheng awalnya marah dan hendak menghukumnya, namun setelah mendengar cerita sebenarnya, dia merasa iba dan akhirnya mengizinkan Zhang Cheng untuk membantu kakaknya dari waktu ke waktu.

Diterkam Harimau, Mati dan Hidup Kembali

Suatu hari, saat mereka sedang menebang kayu, seekor harimau tiba-tiba muncul dan langsung menerkam Zhang Cheng! Tanpa pikir panjang, Zhang Na mengejar dengan sekuat tenaga dan melemparkan kapaknya ke kaki harimau. Harimau itu mengaum kesakitan dan lari lebih cepat, menghilang bersama Zhang Cheng ke dalam hutan.

Zhang Na jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya: “Adikku bukan adik sembarangan, dia mati demi aku. Untuk apa aku hidup?” 

Dia lalu mengayunkan kapak ke lehernya sendiri. Warga yang datang berusaha menghentikannya, namun kapak itu telah menancap dalam. Zhang Na akhirnya pingsan dan dibawa pulang.

Nyonya Niu melihatnya lalu menangis dan memakinya: “Kamu yang membunuh anakku! Sekarang pura-pura ingin menebus dosa?!”

Zhang Na, meski terluka parah, hanya berkata: “Maafkan aku, Ibu. Ini salahku. Kalau adik meninggal, aku pun tak ingin hidup.”

Dia terus menangis dan menolak makan. Tiga hari kemudian, dia pun meninggal.

Petualangan Aneh di Alam Baka

Setelah meninggal, roh Zhang Na tiba di dunia arwah dan bertemu seorang dukun desa yang bisa menyeberang antara dunia hidup dan mati. Dia bertanya tentang keberadaan adiknya, tapi sang dukun tak tahu. Mereka lalu bertemu seorang pria berjubah hitam yang menunjukkan daftar nama arwah, tapi tak ada nama Zhang Cheng di sana—yang artinya, Zhang Cheng belum mati.

Zhang Na tak percaya. Mereka terus mencari hingga masuk ke kota arwah, bertanya ke mana-mana, tapi tetap tidak menemukan jejak Zhang Cheng. 

Saat harapan hampir padam, tiba-tiba semua arwah berseru: “Bodhisatwa datang!” Sosok tinggi besar memancarkan cahaya keemasan turun dari awan, menerangi alam baka.

Sang dukun berkata penuh semangat: “Zhang Na, kamu sungguh beruntung! Bodhisatwa hanya datang ke alam baka puluhan tahun sekali, untuk menyelamatkan arwah-arwah yang menderita.”

Semua arwah sujud dan membaca doa. Bodhisatwa memercikkan air suci dari ranting pohon willow. Setetes air jatuh ke leher Zhang Na, dan ajaibnya, lukanya sembuh dan rasa sakit menghilang. Dia perlahan membuka mata—Zhang Na hidup kembali setelah dua hari meninggal dunia.

Seribu Mil Mencari Adik

Setelah bangkit dari kematian, Zhang Na pamit pada ayahnya: “Ayah, aku akan mencari adikku, ke mana pun dia berada. Jika aku tidak pulang, anggaplah aku telah mati.”

Ayahnya hanya bisa menangis menyaksikan kepergian putranya.

Zhang Na menempuh perjalanan jauh. Dia kehabisan bekal dan harus mengemis sambil terus mencari. Setahun kemudian, dia tiba di Jinling (sekarang Jiangning, Jiangsu).

Suatu hari, saat berjalan di jalanan, dia bertemu rombongan penunggang kuda. Seorang pemuda yang menunggang kuda kecil tiba-tiba menatapnya, melompat turun dan berseru, : “Bukankah ini kakakku?!”

Zhang Na menoleh—dan ternyata benar, itu Zhang Cheng! Mereka langsung berpelukan dan menangis haru.

Zhang Cheng membawa kakaknya pulang ke rumah pejabat tempat dia tinggal—ternyata, harimau yang menerkamnya hanya membawanya pergi lalu meninggalkannya di pinggir jalan. Seorang pejabat yang kebetulan lewat, Zhang Biejia, melihatnya, merasa iba, dan merawatnya. Karena Zhang Biejia tidak punya anak, dia mengangkat Zhang Cheng sebagai anak angkat.

Reuni Tiga Bersaudara dan Rahasia Keluarga

Saat Zhang Biejia mendengar kisah mereka, dia sangat tersentuh. Lalu bertanya asal keluarga mereka. Ketika mendengar bahwa ayah mereka berasal dari Shandong, Zhang Biejia pun terkejut: “Saya juga dari sana! Mungkin kita masih keluarga!”

Tak lama, seorang wanita tua keluar—ibu angkat Zhang Biejia. Dia bertanya kepada Zhang Na, : “Apakah kamu anak dari Zhang Bingzhi?”

Zhang Na menjawab:  “Ya. Tapi bagaimana Ibu tahu?”

Wanita tua itu langsung menangis dan berkata: “Kalau begitu, kalian adalah adik-adik dari Zhang Biejia!”

Dia mengisahkan bahwa dulu dia menikah dengan ayah mereka, tapi terpisah saat perang. Dia melahirkan seorang anak, yaitu Zhang Biejia. Tak lama kemudian, ayah mereka menikah lagi dan punya dua anak: Zhang Na dan Zhang Cheng.

Akhirnya, ketiganya menyadari bahwa mereka adalah saudara kandung. Zhang Biejia adalah yang tertua (41 tahun), Zhang Na anak kedua (22 tahun), dan Zhang Cheng yang termuda (16 tahun). Mereka bertiga akhirnya bersatu kembali dalam haru dan kebahagiaan.

Zhang Biejia lalu mengajak dua adiknya dan ibunya kembali ke kampung halaman di Henan untuk berkumpul kembali dengan ayah mereka. Ayah mereka terkejut dan terharu hingga tak bisa berkata-kata ketika melihat anak-anaknya kembali—terutama melihat istri lamanya yang telah lama hilang.

Zhang Cheng pun menangis saat mendengar bahwa ibu tirinya, Nyonya Niu, telah meninggal. Zhang Na menghiburnya: “Jangan sedih, adikku. Orang yang sudah meninggal tak akan bisa kembali. Kita masih harus berbakti kepada ayah dan ibu kita yang ada.”

Penutup: Kebaikan Akan Selalu Diberi Jalan

Zhang Cheng, sang adik yang baik hati, diselamatkan dari maut oleh keberuntungan. Zhang Na, sang kakak yang jujur dan berbakti, bangkit kembali dari kematian karena karunia surgawi. Zhang Biejia, yang pernah menolong Zhang Cheng tanpa pamrih, ternyata adalah saudara kandungnya.

Mungkin, semua ini bukan kebetulan. Di balik semua keajaiban ini, tampaknya ada tangan tak terlihat yang menyatukan kembali keluarga yang terpisah, sebagai ganjaran atas cinta, kesetiaan, dan kebaikan yang tulus. (jhn/yn)

Setelah Kesepakatan NATO, Sejauh Mana Uni Eropa Akan Berupaya demi Perdamaian Dagang dengan Donald Trump

EtIndonesia. Setelah memenuhi seruan Donald Trump agar Eropa meningkatkan anggaran pertahanan di NATO, para pemimpin UE di Brussels pada hari Kamis (26/6) beralih ke tantangan besar berikutnya: bagaimana cara menyegel kesepakatan dagang dengan pemimpin AS.

Waktu hampir habis. Uni Eropa memiliki waktu hingga 9 Juli untuk mencapai kesepakatan atau melihat tarif bea masuk yang tinggi berlaku pada sebagian besar barang, yang akan menimbulkan kesulitan ekonomi.

Komisi Eropa, yang bertanggung jawab atas kebijakan perdagangan UE, telah berunding dengan Washington selama berminggu-minggu, dan para pemimpin dari dua ekonomi terbesar Eropa, Prancis dan Jerman, pada hari Kamis mendesak Brussels untuk bergerak cepat dalam mencari kesepakatan.

“Prancis mendukung tercapainya kesepakatan cepat, kami tidak ingin ini berlarut-larut selamanya,” kata Presiden Emmanuel Macron kepada wartawan setelah pembicaraan puncak yang melibatkan 27 pemimpin blok tersebut dan kepala UE Ursula von der Leyen.

Sementara Macron mengatakan negara-negara Eropa “tidak menginginkan kesepakatan dengan cara apa pun,” kanselir Jerman telah mengisyaratkan bahwa dia ingin menutup kesepakatan dengan cepat — bahkan jika itu berarti hasil yang tidak seimbang dengan beberapa tingkat tarif AS pada barang-barang UE.

“Lebih baik bertindak cepat dan sederhana daripada lambat dan dengan cara yang sangat rumit,” Friedrich Merz mengatakan dalam konferensi pers setelah pembicaraan.

UE telah mengajukan proposal tarif nol persen di atas meja — tetapi secara luas dianggap sebagai hal yang tidak mungkin dilakukan dalam pembicaraan dengan Washington.

Von der Leyen mengatakan komisi baru saja menerima kontraproposal AS terbaru, menambahkan: “Kami sedang menilai saat kami menulis, berbicara sekarang.”

Pendekatan ‘keju Swiss’

Menurut beberapa diplomat, tujuan saat ini adalah membiarkan Trump mengklaim kemenangan tanpa menyetujui kesepakatan yang akan sangat merugikan Eropa.

Seorang diplomat menyarankan para pemimpin akan senang dengan perjanjian “keju Swiss” — dengan pungutan umum AS atas impor Eropa, tetapi cukup banyak celah untuk melindungi sektor-sektor utama seperti baja, mobil, farmasi, dan aeronautika.

Ini akan lebih baik daripada status quo dengan perusahaan-perusahaan Eropa yang saat ini menghadapi tarif 25 persen atas baja, aluminium, dan barang-barang otomotif yang diekspor ke Amerika Serikat, dan 10 persen atas sebagian besar produk UE.

Merz awal minggu ini mengkritik pendekatan UE terhadap perundingan sebagai terlalu rumit, mendesak “keputusan bersama yang cepat untuk empat atau lima industri utama sekarang”.

Isu tersebut menjadi fokus jamuan makan malam puncak hari Kamis, di mana von der Leyen dapat menguji batas-batas merah para pemimpin dalam negosiasi.

Jika tidak ada kesepakatan yang dicapai, tarif default atas impor UE diperkirakan akan berlipat ganda menjadi 20 persen atau bahkan lebih tinggi — Trump pernah mengancam 50 persen.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt pada hari Kamis menyarankan pemerintah dapat memperpanjang batas waktu Juli tetapi mengatakan “itu adalah keputusan yang harus dibuat oleh presiden”.

Tetap tenang

Tidak seperti Kanada atau Tiongkok, yang dengan cepat membalas kenaikan tarif Trump, UE secara konsisten berusaha bernegosiasi dengan pemimpin AS — mengancam akan membalas hanya jika tidak ada kesepakatan yang dicapai.

“Kami tidak akan membiarkan diri kami terprovokasi, kami akan tetap tenang,” kata Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever, mendesak UE untuk menghindari perang dagang habis-habisan dengan Washington.

Pembicaraan antara negosiator UE dan AS telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir.

Trump memecah belah orang Eropa.

Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban dan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni sama-sama secara vokal mendukung Trump — sementara yang lain lebih waspada.

“Masalahnya adalah bahwa atas nama Amerika Serikat, kami memiliki pembuat kesepakatan kelas berat — di pihak kami, Uni Eropa, memiliki pemimpin kapasitas dan kapabilitas yang ringan untuk bernegosiasi,” kata Orban.

Negara-negara pro-perdagangan di utara Eropa sangat ingin menghindari eskalasi.

Uni Eropa telah mengancam akan mengenakan tarif pada barang-barang AS senilai sekitar 100 miliar euro, termasuk mobil dan pesawat, jika pembicaraan gagal menghasilkan kesepakatan — tetapi belum menyebutkan ancaman tersebut sejak Mei.

Amerika Serikat juga menggunakan negosiasi untuk mencoba mendapatkan konsesi pada aturan Uni Eropa — khususnya persaingan digital, konten, dan regulasi AI, yang menurut Washington secara tidak adil menargetkan juara Amerika seperti Apple, Google, dan Meta.

Orang Eropa siap untuk membahas standar transatlantik umum, tetapi aturan digital Uni Eropa merupakan garis merah bagi Brussels.(yn)

Sindiran dan Merendahkan Orang Lain? Itu Tanda Kamu Sedang Iri

EtIndonesia. Rasa iri laksana seekor ular berbisa—perlahan meracuni jiwamu dan menghancurkan hubungan sosialmu. Meski begitu, kita semua harus mengakui bahwa iri hati adalah iblis kecil yang tersembunyi dalam alam bawah sadar setiap orang. Untuk menaklukkannya, kita harus membuka hati, belajar memahami keanekaragaman hidup, dan menerima orang lain dengan empati. Hanya dengan begitu kita bisa keluar dari jeratan perasaan tidak adil yang menghantui.

Sindiran Merendahkan, Topeng dari Rasa Iri

Fenomena yang belakangan ini sering terlihat di media adalah “menjatuhkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri”—ini adalah salah satu bentuk manifestasi rasa iri yang telah berubah bentuk. 

Misalnya, orang yang berkata: “Kamu belum punya anak ya? Jadi kamu nggak bakal ngerti.”

Kalimat seperti itu muncul karena si pembicara merasa punya kelebihan, dan ingin menonjolkan superioritasnya.

Namun sebenarnya, orang-orang seperti ini sering kali tidak benar-benar percaya diri, dan bahkan tidak puas dengan kehidupannya sendiri, baik itu dalam hal keluarga, pasangan, atau karier. Maka, mereka berusaha meyakinkan diri bahwa hidup mereka lebih baik dengan cara membandingkan dan merendahkan orang lain.

Contoh Kasus: Blog Jepang Populer

Di Jepang, ada sebuah blog terkenal berjudul: “Kamu masih juga buang-buang hidup untuk ○○?” (原文artikel asli:「まだ○○で消耗してるの?」)

Blog ini sering melontarkan komentar sinis seperti:

“Kamu masih belum sadar ya?”
“Kamu masih ngelakuin itu?”
“Masa sih kamu belum bisa juga?”

Kalimat-kalimat seperti ini sebenarnya merupakan bentuk dari kebutuhan validasi diri, seolah mengatakan: “Pilihanku benar, aku pintar, maka kamu harus seperti aku juga.”

Rasa Ingin Merasa Lebih dari yang Lain

Komentar seperti:

·        “Sekarang kamu lagi hoki, tapi hati-hati ya, orang bisa jahat.”

·        “Kamu mulai sombong katanya.”

·        “Aku cuma bilang ini demi kebaikan kamu, lho.”

Kalimat-kalimat seperti ini sering muncul di dunia kerja—mereka tampak seperti nasihat, padahal sarat akan niat merendahkan.

Mereka tidak ingin terlihat sedang iri, jadi membungkus sindiran dengan embel-embel kepedulian. Dengan begitu, mereka merasa tetap punya martabat, sambil secara tersirat menjelekkan orang lain.

Saat Sekelompok Perempuan Berkumpul

Ini sering terjadi, entah di kantor, reuni sekolah, atau arisan. Ada yang pamer kesibukan dan pencapaian karier, ada yang menyombongkan anak-anak dan keberhasilan suaminya.

Ucapan saling sindir penuh perbandingan seringkali menyelinap tanpa disadari. Namun, ketahuilah—semua itu hanyalah wujud dari rasa tidak aman dan kebutuhan untuk membuktikan diri.

Jadi, bila Anda merasa tersinggung, jangan biarkan emosi menguasai. Ingat bahwa itu bukan tentang Anda—itu tentang kekosongan dalam hati mereka sendiri.

Menghadapi Orang yang Pamer atau Merendahkan

Berikut ini beberapa cara cerdas dan elegan untuk menyikapi orang yang merasa paling hebat dan gemar menjatuhkan orang lain:

1. Anggap Angin Lalu

Balas dengan datar, seperti:

“Oh ya?”
“Wah, gitu ya.”

Tunjukkan bahwa Anda tidak terkesan, dan tidak memberi mereka bahan bakar untuk terus membual.

2. Ubah Topik

Langsung ganti pembicaraan:

“Eh ngomong-ngomong, soal liburan nanti…”

Dengan begitu, Anda menghentikan narasi mereka tanpa konfrontasi.

3. Jawab Dingin dan Tegas

Kalau mereka berkata:

“Saya cuma kasih saran ini demi kamu, lho.”

Jawab dengan tenang:

“Terima kasih, tapi saya lebih suka menentukan sendiri.”
“Saya rasa saya nggak butuh masukan soal itu.”

Terkadang, tegas adalah bentuk perlindungan diri terbaik.

4. Pujian Satir

Kalau ada yang berkata:

“Pacarku kerja di perusahaan besar, bosnya bilang dia hebat banget!”

Anda bisa balas dengan nada santai (atau setengah mengejek):

“Wah hebat banget, pasti sebentar lagi jadi CEO ya!”
“Gila, kamu pasangan idaman banget, salut!”

Sanjungan berlebihan bisa membuat mereka sadar bahwa mereka sedang memamerkan sesuatu yang sepele.

5. Bongkar Saja Langsung

Kalau sudah keterlaluan, langsung saja:

“Santai aja, nggak ada yang mau rebutin itu, kok.”

Atau dengan senyuman tajam:

“Ehem, kamu kayaknya lagi pamer, ya?”
“Hahaha, kamu tuh lagi pamer banget loh.”

Dengan begitu, Anda menunjukkan bahwa Anda tahu apa maksud tersembunyi mereka.

Mereka yang Merasa Kosong di Dalam

Orang yang terlalu sering pamer, membanggakan diri, dan menyindir orang lain, sebenarnya adalah orang yang kosong di dalam. Mereka punya rasa tidak puas, merasa kurang, dan ingin menutupinya dengan kelebihan semu.

Mereka ini seperti anak kecil dalam tubuh orang dewasa. Orang yang tampak dewasa tapi berpikir dan merasa seperti bocah—seolah jadi “Conan Terbalik”—penampilan luar matang, tapi mental emosional masih belum tumbuh.

Maka ketika Anda mendengar orang semacam ini berkata-kata menyakitkan atau mengumbar kehebatan:

Katakan dalam hati:
“Dia hanya sedang mencoba menutupi kekosongan batinnya.”
“Dia sedang kesepian, butuh perhatian.”
“Dia akan merasa hancur kalau tidak terlihat lebih hebat dari orang lain.”

Dengan begitu, Anda tidak akan tersulut emosi, dan bisa menyikapi dengan kasih sayang—dan mungkin sedikit rasa kasihan.

Orang Bahagia Tidak Butuh Pamer

Orang yang benar-benar puas dan bahagia dengan hidupnya, tidak akan sibuk pamer mobil baru, suami yang naik jabatan, atau anak yang menang lomba. Mereka tenang dan tidak merasa perlu validasi dari orang lain.

Orang yang sensitif juga tahu kapan harus diam. Misalnya, jika ada teman perempuan belum punya anak, mereka tidak akan sengaja membicarakan soal anak-anak.

Tapi orang yang egonya besar, tidak peka, dan terlalu cinta diri sendiri, akan tetap berkata:

“Eh, dengerin deh cerita tentang anakku yang lucu banget…”

Tanpa peduli bahwa yang lain sudah kesal.

Jangan Sampai Kita Jadi Orang Seperti Itu

Sebaliknya, kita pun harus introspeksi: apakah kita sedang tanpa sadar merendahkan orang lain? Apakah saat kita bicara, suasana mendadak dingin, atau orang lain cuma tersenyum canggung?

Jika ya, bisa jadi ada yang salah dengan cara kita berbicara.

Penutup: Jadilah Orang yang Bijak dan Dewasa

Rasa iri dan kebutuhan untuk selalu terlihat hebat bisa muncul dalam berbagai bentuk. Tapi kebahagiaan sejati datang dari ketenangan batin, bukan dari pujian atau kekaguman orang lain.

Jadi, lain kali ketika Anda mendengar seseorang menyindir atau pamer berlebihan, cukup tersenyum dan katakan dalam hati:

“Ah, dia sedang mencoba menutupi rasa kosong di hatinya.”

Dan jika perlu, tutup rapat bibirmu, jangan balas.

Karena mereka yang benar-benar kuat dan bahagia, tidak perlu menjatuhkan siapa pun untuk merasa berharga.(jhn/yn)

Rasa Iri Mengundang Petaka

EtIndonesia. Bangsa Tionghoa sejak dahulu dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kebaikan hati dan kelapangan dada. Masyarakat memuliakan sikap toleran sebagai suatu kebajikan, dan menganggap iri hati sebagai sifat yang memalukan.

Orang yang berhati lapang, akan tulus memuji dan menghargai kelebihan serta keberhasilan orang lain, lalu bercermin pada diri sendiri, menimba pelajaran, dan fokus mengembangkan diri. Dia tak punya waktu untuk merasa iri.

Sebaliknya, rasa iri berakar dari hati yang sempit dan sifat egois. Mereka yang kurang berbudi, berpandangan pendek, akan merasa sedih saat melihat orang lain mendapatkan kebaikan. Hari ini mereka takut disaingi, besok khawatir dikalahkan—seumur hidup pun tak akan tenang.

Bahkan ada yang lebih ekstrem, demi hasrat iri, tega memfitnah orang baik dan berbuat jahat. Meski mereka bisa saja berkuasa sesaat, pada akhirnya akan menjadi orang yang terisolasi dan menderita akibat hukum karma, sebab hukum langit tak pernah bisa dihindari.

Berikut beberapa kisah nyata dari zaman dahulu yang menunjukkan bagaimana rasa iri membawa bencana besar bagi pelakunya:

1. Shen Gongbao: Dikubur Hidup-hidup karena Dengki

Shen Gongbao adalah tokoh dalam kisah klasik “Fengshen Yanyi”. Dia adalah saudara seperguruan Jiang Ziya, dan keduanya berguru kepada Yuanshi Tianzun. Ketika dia mengetahui bahwa sang guru mengutus Jiang Ziya untuk membantu Dinasti Zhou dan menumpas Dinasti Shang, Shen Gongbao merasa iri berat.

Dia bertanya: “Kamu mau mendukung siapa?”

Jiang Ziya menjawab: “Aku mendukung Raja Wu untuk menumbangkan Raja Zhou, sesuai kehendak langit.”

Namun Shen Gongbao tak terima dan berkata: “Kalau begitu, aku akan mendukung Raja Zhou dan melawanmu!”

Jiang Ziya tetap teguh pada perintah gurunya. Shen Gongbao murka, menyombongkan kemampuannya dan menantang Jiang Ziya. Sejak itu, dia terus berupaya menghalangi misi Jiang Ziya, bahkan memprovokasi para dewa dan pendeta gunung untuk menjebak Jiang Ziya.

Suatu kali, dia ditangkap oleh gurunya sendiri, Yuanshi Tianzun. Saat akan dihukum dikurung di bawah Tebing Qilin, dia bersumpah untuk tidak lagi menghalangi Jiang Ziya, bahkan siap menyumbat Laut Utara dengan tubuhnya bila melanggar.

Namun setelah dibebaskan, Shen Gongbao tetap tidak menepati janji dan malah membantu Guru Tongtian membuat perangkap besar melawan Jiang Ziya. Karena pengkhianatannya, akhirnya dia benar-benar dihukum: tubuhnya dijadikan penutup Laut Utara, seperti sumpah yang dia ucapkan sendiri. Dia pun menjemput nasib buruk yang dia ciptakan sendiri.

Puisi menggambarkan nasibnya: 

 “Sungguh lucu si Shen Gongbao, ingin menolong Dinasti Shang.
Kini tubuhnya menyumbat lautan, entah berapa siklus zaman telah berlalu.”

2. Menteri Jahat Li Linfu: Dibalas Petir Setelah Mati

Li Linfu, menteri Dinasti Tang, terkenal sebagai penghasut, licik, dan pendendam. Dia sangat iri pada para pejabat berbakat yang lebih disenangi Kaisar Tang Xuanzong. Semua pesaingnya dia lenyapkan diam-diam, walau di depan berpura-pura manis.

Dia dijuluki masyarakat kala itu sebagai “manis di mulut, pedang di hati.”

Rekan sesama menteri seperti Zhang Jiuling, Pei Yaoqing, dan Li Shizhi satu per satu dia singkirkan dengan fitnah.

Demi mempertahankan kekuasaannya, dia menghancurkan sistem keadilan, menindas orang baik, dan mempromosikan penjilat serta orang picik. Selama 19 tahun menjabat perdana menteri, kerusakan negara makin dalam, dan akhirnya muncullah kekacauan besar “Pemberontakan An Lushan.”

Setelah Li Linfu meninggal, rakyat bersorak lega. Banyak yang menuntut agar dosa-dosanya dibongkar. 

Kaisar pun akhirnya menyadari: “Li Linfu adalah sosok yang iri dan tidak toleran.”

Maka seluruh gelar dan harta kekayaannya disita, keluarganya dibuang ke daerah terpencil, dan namanya tercemar seumur hidup.

Kisah Karma di Masa Depan

Menurut buku “Contoh Karma dalam Kitab Tai Shang”, di awal Dinasti Song, seorang wanita di Han Prefecture disambar petir. 

Di tubuhnya muncul tulisan berwarna merah: “Li Linfu, menteri pengkhianat, karena iri dan kejam, telah menjadi pelacur selama tiga kali kehidupan, menjadi sapi selama tujuh kali kehidupan, dan setelah semua ini, akan masuk ke alam binatang air untuk selamanya.”

3. Siswa Iri Hati Justru Kalah oleh Korban Fitnahnya

Masih dari sumber yang sama, diceritakan pada masa Dinasti Song, seorang pemuda bernama Su Dazhang dari San Shan dikenal pandai dalam ilmu I Ching (Kitab Perubahan). Pada tahun Wu-Wu, ia ikut ujian daerah (mirip SNMPTN). Sebelum ujian, dia bermimpi mendapatkan peringkat ke-11 dan menceritakan mimpinya pada temannya, yang juga peserta ujian.

Namun temannya merasa iri, karena merasa lebih pintar. Maka dia melaporkan ke pengawas ujian bahwa Su Dazhang mengklaim sudah pasti lulus dan dicurigai menyuap juri.

Setelah ujian, sang pengawas penasaran dan memeriksa naskah yang berada di peringkat ke-11. Ternyata isinya membahas I Ching. Dia pun naik pitam, dan naskah itu diganti dengan naskah cadangan lain.

Saat nama-nama pemenang diumumkan, setelah segel dibuka, ternyata naskah yang diganti adalah milik si penuduh sendiri, dan naskah pengganti justru milik Su Dazhang! Maka Su justru lulus sebagai peringkat ke-11, dan tahun berikutnya menjadi sarjana tingkat tinggi (jinshi).

Sedangkan temannya tidak tahan malu, pulang kampung dan akhirnya meninggal dalam kesedihan.

Orang bijak berkata:“Langit tidak membiarkan ketidakadilan. Karma selalu bekerja.”

Penutup: Rasa Iri Adalah Bencana Batin yang Menghancurkan Diri Sendiri

Iri hati adalah emosi negatif yang muncul karena ketidakseimbangan batin terhadap keunggulan orang lain—baik dalam moral, kemampuan, kehormatan, maupun keberuntungan.

Saat seseorang mulai:

·        Ingin menjatuhkan orang,

·        Menghina dengan kata-kata,

·        Menyebarkan kebencian,

Itu tandanya hatinya sudah tidak murni, dan mulai menanam benih karma buruk.

Kebencian yang dilampiaskan pada orang lain akan kembali pada diri sendiri. Hukum sebab-akibat pasti bekerja.

Jadilah Orang yang Lapang Dada

·        Saat orang lain mendapat kebahagiaan, berbahagialah bersama mereka.

·        Saat orang lain lebih unggul, rendahkan hati untuk belajar.

·        Saat ada yang membutuhkan bantuan, hulurkan tangan dengan tulus.

Jika orang lain berhasil melebihi kita—maka itu luar biasa! Kita bisa belajar dari mereka, tanpa rasa iri.

Kelapangan hati dan sikap menerima adalah jalan menuju hidup damai dan relasi yang hangat.(jhn/yn)