Aksi Protes Secara Besar-besaran Ganyang PKT Digelar di Dekat Pertemuan Pemimpin PKT dengan Biden
Qiao An dan Cao Jingzhe – NTD
Ratusan aktivis demokrasi, pembuat petisi, dan kelompok agama mengadakan acara untuk memprotes melawan tirani Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada Rabu 15 November 2023. Kegiatan digelar di dekat lokasi pertemuan Presiden AS Joe Biden dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok di San Fransisco, Amerika Serikat. Mereka menuntut agar PKT mundur.
Pengunjuk rasa: “Partai Komunis mundur! Partai Komunis mundur! Xi Jinping mundur! Xi Jinping mundur!”
Di sepanjang jalan menuju Filoli Estate, tempat digelarnya pertemuan Biden dan Xi Jinping, terdapat sekitar 500 hingga 600 pengunjuk rasa membentangkan spanduk dan meneriakkan slogan-slogan: “Mundur dari Partai Komunis, mundur dari Xi Jinping.”
Pengunjuk rasa : “Xi Jinping, Pulang! Xi Jinping, Pulang! Xi Jinping, Pulang!”

Di antara para pengunjuk rasa, Geng He, istri pengacara hak asasi manusia terkenal Tiongkok Gao Zhisheng, juga mengangkat plakat yang mempertanyakan otoritas partai Komunis Tiongkok dan mendesak pembebasan pengacara Gao Zhisheng.
Istri Gao Zhisheng, Geng He: “Saya datang hari ini untuk memprotes partisipasi Xi Jinping dalam pertemuan APEC. Permintaan saya adalah Gao Zhisheng yang dihilangkan secara paksa selama 6 tahun 3 bulan, Saya berharap Gao Zhisheng segera dibebaskan dan membiarkan Gao Zhisheng menghubungi kami di rumah. , Saya juga sangat memprotes Anda, Xi Jinping sebagai diktator. Xi Jinping, yang berasal dari negara diktator, jika Anda pergi ke negara bebas, Pulanglah! Anda tidak diterima di sini!”
Wang Dan, seorang aktivis pro-demokrasi terkenal, juga memposting rekaman protes di dekat Filoli Estate pada hari itu di media sosial. Dia tanpa ekspresi dan tercengang. Dia tidak meneriakkan slogan atau bernyanyi. Dia hanya terlihat seperti berada di sini untuk makan sekotak makan siang.”
Wang Dan, seorang aktivis pro-demokrasi terkenal berkata : “Kami di sini hari ini untuk secara jelas mengungkapkan ketidakpuasan kami terhadap Partai Komunis Tiongkok. Kami hanya ingin menyatakan bahwa Xi Jinping tidak boleh disambut. Tujuan kami adalah untuk menggulingkan Xi Jinping! Benar ?”
Pengunjuk rasa: “Ya!”
Ada juga sejumlah praktisi Falun Gong di tempat kejadian, mereka membentangkan spanduk seperti “Falun Dafa baik” dan “Hentikan penganiayaan terhadap Falun Gong” dan diam-diam mengajukan petisi dengan damai.
Untuk diketahui, Falun Gong, atau Falun Dafa, adalah latihan spiritual yang berakar pada nilai-nilai tradisional yang menekankan pada peningkatan diri serta latihan lembut dan meditasi, menurut situs web latihan tersebut. Ajaran ini menekankan pada kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, serta mendorong para peserta untuk melepaskan kebiasaan (atau kemelekatan) yang tidak lurus, seperti menginginkan ketenaran, kesombongan dan mengabaikan kesejahteraan orang lain.
Latihan ini diperkenalkan kepada publik pada tahun 1992 oleh Master Li Hongzhi di Changchun, di Provinsi Jilin, Tiongkok timur laut. Dalam waktu enam tahun, sumber-sumber pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa 70 juta hingga 100 juta orang berlatih. Saat ini, jutaan orang terus berlatih Falun Gong di lebih dari 100 negara, termasuk di Tiongkok, di mana rezim komunis yang berkuasa secara brutal menganiaya para pengikutnya karena keyakinan mereka.


“Pengikut Falun Dafa mengikuti ‘Sejati, Baik, dan Sabar’, jadi kami selalu damai. Meskipun terjadi penganiayaan brutal selama dua dekade terakhir, kami telah kehilangan jutaan praktisi Falun Dafa. Pengikut Dafa, bahkan dalam keadaan seperti ini, kami masih melaksanakan petisi damai ini dengan keyakinan teguh pada “Sejati, Baik, Sabar” dan keberanian ini,” kata Wang Feng, juru bicara Falun Dafa di San Francisco.
Kami di sini bukan untuk berbicara tentang apa yang disebut protes, atau kekerasan, atau untuk menumbangkan sesuatu. Kami hanya ingin bersuara. Kami di sini untuk mewakili puluhan juta atau ratusan juta pengikut Falun Dafa yang tidak dapat bersuara di daratan Tiongkok. Kami di sini hanya untuk mengucapkan kepada semua orang, “Falun Dafa baik. Hentikan penganiayaan terhadap Falun Gong,” simpulnya. (Hui)
Trik PKT Menarik Investor Asing Tidak Berhasil, Investasi Langsung Asing Semakin Memburuk
oleh Zhang Ting
Data yang dirilis oleh pemerintah Tiongkok pada Jumat (17 November) menunjukkan bahwa dalam 10 bulan pertama tahun ini, investasi asing langsung yang masuk ke Tiongkok semakin menurun. Hal ini mencerminkan bahwa meskipun Partai Komunis Tiongkok cukup gencar mempropaganda mengenai lingkungan bisnisnya yang lebih terbuka, namun hasilnya belum juga mampu menarik minat investasi asing.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan Tiongkok yang perhitungannya menggunakan mata uang renminbi, bahwa jumlah aktual modal asing yang digunakan dari Januari hingga Oktober tahun ini adalah RMB. 987,01 miliar, turun 9,4% YoY. Ini juga merupakan penurunan yang berlangsung selama 5 bulan berturut-turut, dan penurunannya menunjukkan semakin dalam. Sedangkan jumlah aktual modal asing yang digunakan dari bulan Januari hingga September tahun ini turun 8,4% YoY.
Dalam beberapa bulan terakhir, Partai Komunis Tiongkok telah mencoba untuk menampilkan citra ramah terhadap perusahaan asing demi memikat investasi asing kembali ke Tiongkok dengan berbagai janji. Contohnya pada Agustus, Beijing meluncurkan rencana komprehensif untuk meredakan kekhawatiran investor asing dalam berbisnis di Tiongkok, menjanjikan perlakuan pajak yang lebih baik bagi perusahaan luar negeri dan memudahkan mereka mendapatkan visa. Namun dari fenomena penurunan investasi asing yang semakin serius terlihat bahwa bisnis asing tidak lagi mudah terpengaruh oleh janji-janji Partai Komunis Tiongkok.
Dunia usaha tidak lagi terpikat oleh janji-janji Partai Komunis Tiongkok, dan kelompok-kelompok bisnis asing sudah “dibuat lelah oleh janji-janji” Partai Komunis Tiongkok, dan merasa skeptis mengenai apakah Beijing akan memberikan kebijakan dukungan yang berarti.
Jens Eskelund, Ketua Kamar Dagang Uni Eropa di Tiongkok (EUCCC), memperingatkan Partai Komunis Tiongkok pada bulan Agustus tahun ini bahwa perusahaan-perusahaan asing di Tiongkok telah “dibuat lelah oleh janji-janji”. Dia mengatakan bahwa Kamar Dagang Uni Eropa belum melihat tanda-tanda bahwa pemerintah Tiongkok bersedia menerapkan reformasi struktural untuk mengatasi tantangan mendasar yang dihadapi perekonomian Tiongkok dan memungkinkan perusahaan asing dan swasta untuk memenuhi potensi mereka dalam mendukung perekonomian Tiongkok.
Selain “dibuat lelah oleh janji-janji”, perusahaan asing juga mempunyai insentif untuk melakukan repatriasi pendapatan karena kesenjangan suku bunga yang besar antara mata uang Tiongkok dengan mata uang Amerika Serikat, yang mungkin menjadi pendorong bagi mereka untuk mencari keuntungan yang lebih tinggi di negara lain.
Goldman Sachs mengatakan, bahwa tekanan arus keluar modal bisa jadi akan berlanjut karena suku bunga renminbi terus bergerak menurun, sementara suku bunga mata uang di luar Tiongkok bergerak naik.
Bloomberg memberitakan bahwa para analis percaya data yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan Tiongkok pada hari Jumat tidak mencakup pendapatan reinvestasi dari perusahaan asing yang ada, dan tidak terlalu fluktuatif dibandingkan dengan data direct investment liability (kewajiban investasi langsung) yang telah dirilis oleh Administrasi Valuta Asing Negara.
Kewajiban Investasi Langsung adalah indikator investasi asing langsung di Tiongkok. Awal bulan ini, data yang dirilis oleh Administrasi Valuta Asing Negara Tiongkok menunjukkan bahwa pada kuartal ketiga tahun ini, Kewajiban Investasi Langsung mengalami defisit sebesar USD. 11,8 miliar, Ini merupakan angka negatif pertama sejak tahun 1998 di mana mulai ada pencatatannya.
Sejak awal tahun ini, Partai Komunis Tiongkok dengan gencar mempromosikan perlindungan terhadap lingkungan bisnis, namun di sisi lain Partai Komunis Tiongkok juga meningkatkan penindasannya terhadap perusahaan-perusahaan asing di Tiongkok, menggerebek kantor-kantor perusahaan asing di berbagai tempat di Tiongkok, menangkap pekerja asing yang membuat investor asing enggan berinvestasi di Tiongkok.
Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo memperingatkan Tiongkok pada September tahun ini, bahwa perusahaan-perusahaan AS sudah hilang kesabaran dan mungkin melakukan bisnis di negara lain jika situasinya tidak membaik. Raimondo juga mengatakan bahwa selama kunjungannya ke Tiongkok, dia menyampaikan pesan kepada PKT, yakni tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata (actions speak louder than words). (sin)
Indosat Ooredoo Hutchison Gelar Kompetisi dan Festival Film Pendek SOS 2023 Usung Tema ‘Bicara Baik di Digital, Hindari Emosi Tanpa Substansi’
SURABAYA – Peran digital semakin ketat dalam keseharian hidup kita mulai anak-anak hingga dewasa. Mulai pelajar hingga pekerja. Pun tentu mempengaruhi cara komunikasi kita di keseharian kita. Untuk mendidik masyarakat agar berbicara baik dan santun di manapun, diperlukan literasi untuk pembelajaran.
Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) berkolaborasi dengan Narasi menyelenggarakan ajang Festival Film Pendek Save Our Socmed (SOS) 2023. Kompetisi pembuatan film pendek ini diadakan dengan tujuan menginspirasi anak muda Indonesia agar bijak dalam menggunakan media sosial sekaligus meningkatkan literasi digital mereka.
Festival Film Pendek SOS 2023 mengampanyekan anti hate speech dengan tema ‘Bicara Baik di Digital, Hindari Emosi Tanpa Substansi’. Ajang penuh kreatifitas anak muda ini akan berlangsung sejak pendaftaran dibuka pada 26 Oktober 2023 hingga pengumuman pemenang di bulan Februari 2024 mendatang.
SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, Steve Saerang, mengatakan, “Media sosial merupakan rumah dari berbagai karya dan tempat kita berkolaborasi bersama. Media sosial, harusnya jadi tempat yang nyaman untuk kita, bukan tempat menebar kebencian. Melalui kampanye ini, Indosat mengajak generasi muda untuk #BijakBerkreasiTanpaBatas, di mana kekuatan cerita dan visual dapat menyebarkan pesan perdamaian, kesetaraan, dan toleransi.
Dengan dukungan teknologi dan digitalisasi, kita dapat mengubah dunia serta membangun masyarakat yang lebih inklusif dan peduli dengan sesama.”
Program Festival Film Pendek SOS yang telah sukses terselenggara sejak 2021 ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial (CSR) Indosat di pilar Pendidikan Digital yang memiliki rangkaian kegiatan seperti roadshow ke berbagai kampus, sosialisasi, workshop pelatihan, seleksi penjurian, dan acara pengumuman pemenangnya.
Adapun kegiatan workshop pelatihan akan menyajikan lokakarya daring dengan menghadirkan para pakar perfilman untuk meningkatkan keterampilan para peserta. Aktifitas roadshow kampus akan diselenggarakan di empat kota, mulai dari Medan, Jember, Pontianak, dan Makassar. Kegiatan sosialisasi turut dilakukan di enam kota lainnya, yaitu Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, dan Mataram. Anak muda yang ada di kota lainnya tetap bisa menginguti kompetisinya dengan mengirimkan karya secara daring. Nantinya, hasil karya dari pemenang kompetisi akan ditampilkan dalam acara Anugerah Karya Festival Film Pendek SOS tahun 2024 mendatang.
“Kompetisi ini akan dibuat 2 kategori peserta yakni pelajar dan umum. Hasil karya dari peserta tetap akan menjadi hak peserta, Indosat Ooredoo Hutchison hanya menyediakan wadah untuk berekspresi. Selain itu juga memberikan apresiasi sebesar 500 juta rupiah dalam bentuk hadiah dan beasiswa,” jelas Head of Strategic Communications Management IOH – M. Firdaus Pratam kepada media Surabaya, Jumat (17/11). (aml/asr)
Bank Indonesia Akan Memantau dan Memberikan Sanksi Bagi Pelanggar Soal DHE SDA
MAGELANG – Sebagai langkah meningkatkan pengetahuan dan pembelajaran kepada masyarakat mengenai pernak-pernik ekspor, maka melalui para jurnalis, Bank Indonesia kantor perwakilan provinsi Jawa Timur memberikan informasi tentang DHE SDA, yakni Devisa Hasil Ekspor kegiatan ekspor barang yang berasal dari kegiatan pengusahaan, pengelolaan dan/atau – pengolahan Sumber Daya Alam.
Asisten Manajer Departemen Pengelolaan Kepatuhan Mahardynastika Nindya Hapsari, menjelaskan soal kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan Barang Ekspor Sumber Daya Alam (SDA). Mekanisme pemasukan dan penempatan DHE SDA, Nilai Ekspor pada PPE, dengan 2 kategori lebih dari USD 250 ribu dan kurang USD Rp. 250 ribu.
“Kewajiban Eksportir yaitu, pemasukan ke SKI wajib selambatnya 3 bulan setelah bulan PPE. Bedanya pada Nilai Ekspor pada PPE, yang lebih dari USD 250 ribu wajib masuk Reksus Bank dan atau LPE. Selanjutnya, wajib ditempatkan sebesar 30 persen selama minimal 3 bulan. Sedangkan yang kurang USD Rp. 250 ribu, masuk Rekum pada Bank,” jelasnya.
Hal demikian disampaikan dalam acara Capicity Building dan Bincang Bareng Media dan Media Gathering 2023, Selasa (14/11/2023). Acara itu dihadiri oleh Geyana Lady Fista – Asisten Direktur Depatemen Pengelolaan Moneter, Ina Nurmalia, Asisten Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial, Meiana Susanti – Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan dan Mahardynastika Nindya Hapsari – Asisten Manajer Departemen Pengelolaan Kepatuhan.
Bank Indonesia akan memantau dan memberikan sanksi bagi pelanggar soal DHE SDA dan akan melakukan tindak lanjut pengawasan dalam bentuk penyampaian Surat pemantauan kepada eksportir.
Kewajiban Penempatan DHE SDA hanya berlaku untuk DHE SDA yang masuk ke dalam Reksus Valas DHE SDA yang telah dimasukkan ke dalam Reksus Valas wajib ditempatkan minimum sebesar 30% selama paling singkat 3 bulan setelah incoming Eksportir menempatkan DHE SDA ke dalam instrumen berupa:
1. Reksus DHE SDA valas di LPEI atau Bank yang sama,
2. Instrumen perbankan (berupa deposito valas),
3. Instrumen keuangan yang diterbitkan oleh LPEI (berupa promissory note valas),
4. Instrumen yang diterbitkan BI (berupa Term Deposit valas di Bank Indonesia);
5. Instrumen lainnya yang ditetapkan oleh Bank Indonesia
Selanjutnya, jika eksportir belum memenuhi kewajibannya maka Bank Indonesia akan mengirimkan penyampaian hasil pengawasan (PHP) atas pemantauan ketentuan pemasukan dan penempatan DHE SDA kepada Kementerian Keuangan (c.q. DJBC) untuk ditindaklanjuti sesuai amanat PP No 36/2023 tentang DHE SDA. (aml/asr)
Laporan Tahunan Kongres Mengingatkan : PKT Sedang Menghadapi Tantangan Internal dan Eksternal
oleh Luo Ya
Laporan tahunan terbaru yang dirilis oleh Kongres AS berisikan penilaian sistematis terhadap tantangan yang dihadapi Amerika Serikat dari Partai Komunis Tiongkok dan ancaman dunia dari Partai Komunis Tiongkok. Laporan kemudian memberi rekomendasi kepada Kongres Amerika Serikat agar memperketat tinjauan terhadap investasi Partai Komunis Tiongkok di Amerika Serikat, dan terhadap pengajuan untuk memperoleh teknologi Amerika Serikat. Selain itu melakukan kerja sama dengan sekutu-sekutunya untuk menjaga tatanan ekonomi dan keamanan internasional.
Pada 14 November, Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS – Tiongkok (U.S. – China Economic and Security Review Commission. USCC) di bawah Kongres AS merilis laporan terbaru, dengan fokus pada perbedaan ekonomi dan militer antara AS dengan Tiongkok selama setahun terakhir.
Laporan tersebut menunjukkan, bahwa hubungan AS – Tiongkok telah mengalami pasang surut selama setahun terakhir, namun kenyataan mendasarnya adalah bahwa di tengah pasang surut tersebut, persaingan antara AS dengan Tiongkok semakin meningkat. Bahkan, secara khusus menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok terus menantang tatanan internasional yang ada dan berupaya membentuk tatanan baru untuk menghadapi sekutu demokratis lainnya yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Dr. Cheng Chin-mo, Direktur Departemen Diplomasi dan Hubungan Internasional di Universitas Tamkang, Taiwan mengatakan : “Sampai batas tertentu, laporan tersebut merupakan suatu rangkuman pembelajaran dari interaksi Amerika Serikat dengan Partai Komunis Tiongkok selama periode waktu ini. Pemerintahan Biden yang secara khusus terus mendorong pertukaran kunjungan antar pejabat senior, namun laporan ini menunjukkan bahwa pertukaran kunjungan dan pembicaraan sebenarnya hanya mencapai hasil yang tidak seirama, dan PKT selalu melakukan keinginan mereka sendiri tanpa mau berkompromi. Apa yang disebut negosiasi atau dialog sebenarnya hanyalah penggunaan strategi, PKT tidak akan melakukan perubahan apa pun karena dialog, atau bahkan jika PKT menjanjikan sesuatu, juga tidak akan ditaati”.
Isi laporan menyatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok berniat menegakkan hukumnya Partai Komunis Tiongkok di seluruh dunia, khususnya hukum pidana. Misalnya, Partai Komunis Tiongkok mengirimkan agen-agennya ke luar negeri untuk menganiaya dan mengancam para pembangkang, insiden di Kantor Polisi Luar Negeri New York pada bulan April tahun ini yang telah terungkap itu adalah salah satu kasus yang umum terjadi di AS.
Su Tzu-yun, Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan mengatakan : “Model perilaku eksternal PKT, baik diplomasi, militer, atau bahkan politik mereka adalah menggunakan nilai-nilai PKT untuk membentuk sistem hukum internasional, tetapi karena hal ini bertentangan dengan kodrat manusia, sehingga sistem hukum PKT tidak memiliki legitimasi. Namun, PKT akan menggunakan berbagai cara diplomatik untuk membuat negara-negara tertentu menerima hukum luar negerinya. Jadi dalam hal ini, saya pikir Dewan Hubungan AS – Tiongkok sekarang sudah menyadari tipu muslihat PKT ini”.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa meskipun Tiongkok di dalam negeri menghadapi perlambatan ekonomi, dan di luar negeri menghadapi lingkungan internasional yang buruk, tetapi rezim Komunis Tiongkok selain tidak melakukan perubahan apa pun, tetapi juga menolak bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam masalah keamanan nasional, ekonomi, atau perdagangan.
Cheng Chin-mo mengatakan : “Oleh sebab itu Kongres AS sangat khawatir bahwa pemerintahan Biden tidak mampu berpegang pada keuntungan saat ini dan tersesat dalam niat baik palsu PKT. Sedangkan terhadap Partai Komunis Tiongkok yang nyaris tidak peduli, tidak berupaya untuk mengurangi risiko perekonomian karena isu Selat Taiwan, tidak berupaya untuk mendapatkan pelonggaran terhadap beberapa sanksi atau larangan yang menghambat perekonomian Tiongkok. Hal ini membuat Kongres khawatir terhadap jebakan yang dibuat PKT, yang mana selain sangat merugikan kepentingan Amerika Serikat, tetapi juga dunia”.
“Tiongkok sekarang mungkin berada di ambang krisis ekonomi terburuk dalam 40 tahun terakhir”, tulis laporan itu. “Kinerja buruk ini menimbulkan keraguan masyarakat terhadap kemampuan manajemen ekonomi Partai Komunis Tiongkok”.
Saat ini masyarakat dan dunia usaha di Tiongkok telah kehilangan kepercayaan terhadap klaim pemerintah bahwa mereka dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan stabil. Masyarakat lebih memilih menabung dibandingkan melakukan konsumsi atau investasi.
Cheng Chin-mo mengatakan : “Hanya pada sisi politiknya yang membuat saya yakin bahwa pertikaian internalnya sangat sengit. Namun di sisi ekonomi kita semua tahu, bahwa seluruh ‘Troika’ nyaris runtuh. PKT sebenarnya telah jatuh ke dalam perangkap deflasi yang serius, bahkan disebut stagnasi neraca, sehingga permasalahan perekonomian tidak lebih kecil dari permasalahan politiknya”.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa pemerintah Tiongkok masih mempunyai permasalahan struktural seperti beban utang yang sangat besar, melonjaknya pengangguran kaum muda, lemahnya industri real estate dan infrastruktur, serta kecilnya permintaan dalam negeri dan lainnya. Namun, pemerintah Tiongkok hampir tidak mengambil langkah-langkah yang lebih efektif untuk mengubah status quo, bahkan semakin enggan untuk melonggarkan kendalinya terhadap perekonomian.
Su Tzu-yun mengatakan : “Jadi menurut saya bahwa apa yang dikemukakan oleh Komite Hubungan AS – Tiongkok di Kongres kali ini mengenai : Jangan beranggapan bahwa ekonomi PKT ‘damai-damai saja’. Negara-negara Barat yang sudah terbiasa dengan menggunakan ekonomi untuk mengubah politik, mungkin sudah tidak efektif lagi untuk mengubah PKT, malahan pada gilirannya PKT akan memanfaatkannya untuk mengancam negara lain”.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Tiongkok secara agresif memperluas kekuatan militernya, secara aktif mengkonsolidasikan kemitraan militernya dengan Rusia, dan dengan penuh semangat mengembangkan teknologi-teknologi baru seperti kecerdasan buatan dalam upayanya untuk segera memodernisasi militernya.
Cheng Chin-mo mengatakan : “Terutama dalam perlombaan senjata dengan Amerika Serikat. Meskipun PKT menghadapi apa yang disebut krisis internal dan eksternal, tetapi ia masih memperluas militernya, terutama di bidang AI dan kecerdasan buatan. PKT berharap dalam teknologi dapat menyalip AS dan memimpin dunia, ini adalah ambisi Partai Komunis Tiongkok”.
Selain itu, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa PKT terus melakukan pengrusakan terhadap demokrasi di Hongkong, selain berupaya mempengaruhi pemilu Taiwan. Sejak awal tahun ini, militer Tiongkok terus melakukan provokasi di udara dan perairan sekitar Selat Taiwan. (sin)