Rusia Blokir Alamat IP Google Karena Digunakan oleh Telegram

EpochTimesId – Regulator komunikasi negara Rusia awal pekan kemarin mengatakan telah memblokir alamat IP yang dimiliki oleh Google dan Amazon. Mereka mengatakan IP tersebut digunakan oleh layanan pesan Telegram yang ditutup oleh Moskow pekan ini.

‘Pengawas Roskomnadzor’ Rusia mulai memblokir Telegram, sebuah layanan perpesanan yang populer di Rusia, pada hari Senin (16/4/2018). Telegram diblokir setelah menolak mematuhi perintah pengadilan untuk memberikan akses untuk lembaga keamanan negara terhadap pesan terenkripsi pengguna.

Kepala Roskomnadzor, Alexander Zharov mengatakan telah memblokir 18 sub-jaringan dan sejumlah besar alamat IP milik Google dan Amazon, seperti dilansir kantor berita Interfax.

“Kami saat ini telah memberi tahu kedua perusahaan bahwa sejumlah besar alamat IP yang terletak di ‘cloud’ dari dua layanan ini telah diblokir atas dasar putusan pengadilan (untuk memblokir Telegram),” kata Zharov.

Pemblokiran alamat IP membuat pengguna internet Rusia tidak dapat mengakses Telegram dan layanan lain yang me-rute-kan konten mereka melalui Google dan server Amazon.

Beberapa pengguna telah menghindari blok tersebut dengan menggunakan jaringan pribadi virtual. Usaha tersebut membuat netizen tampak seolah-olah mengakses internet dari negara lain.

Video Rekomendasi :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Zharov mengatakan kepada Interfax bahwa Roskomnadzor berharap akan menerima tanggapan yang ‘sah secara hukum’ dari Amazon dan Google.

Perusahaan-perusahaan AS itu tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters terkait tindakan dari Rusia tersebut.

Sementara itu CEO Telegram, Pavel Durov meminta ‘perlawanan digital’ pada hari Selasa. Dia mengatakan siap memberikan hibah senilai jutaan dolar dalam mata uang digital bitcoin kepada individu dan perusahaan yang menjalankan proksi dan VPN untuk mendukung kebebasan internet.

Durov menulis di saluran Telegram-nya, bahwa tidak ada penurunan signifikan dalam pengguna layanan Telegram di Rusia sejak pelarangan itu mulai berlaku. Karena pengguna menggunakan VPN dan proxy untuk mengakses aplikasi ‘messenger’ tersebut.

Dia juga berterima kasih kepada Apple, Google, Amazon dan Microsoft karena tidak mengambil bagian dalam sensor politik.

Durov, pelopor media sosial di Rusia, meninggalkan negara itu pada tahun 2014. Dia kini aktif menjadi kritikus vokal terhadap kebijakan Kremlin tentang kebebasan internet.

Telegram banyak digunakan di negara-negara bekas Uni Soviet dan Timur Tengah. Durov mengatakan pada hari Selasa bahwa akun Rusia hanya sekitar 7 persen dari penggunanya.

Selain menjadi populer di kalangan wartawan dan anggota oposisi politik Rusia, Telegram juga telah digunakan oleh Kremlin untuk berkomunikasi dengan wartawan dan mengatur panggilan konferensi secara teratur dengan juru bicara Presiden Vladimir Putin.

Pada hari Senin, kantor jurubicara meminta para wartawan yang sebelumnya berlangganan obrolan di Telegram untuk beralih ke obrolan yang telah diatur dalam layanan perpesanan yang berbeda, ICQ. Itu merupakan bagian dari kelompok teknologi ‘Russian Mail.ru’. (The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :