Pemerintah Inggris Usulkan Larangan Penjualan Minuman Energi kepada Remaja

EpochTimesId – Penjualan minuman energi kemungkinan akan dilarang bagi remaja berusia di bawah 18 tahun di Inggris. Rencana pelarangan itu muncul ditengah kekhawatiran, bahwa minuman tersebut merusak kesehatan anak-anak, demikian dimumukan Perdana Menteri Inggris baru-baru ini.

Minuman energi mengandung kadar kafein yang tinggi dan memiliki kadar gula yang cukup besar. Penelitian sudah menghubungkan konsumsi minuman terhadap obesitas, sakit kepala, masalah tidur, iritasi, dan kelelahan.

Proses konsultasi publik sedang berlangsung; Otoritas Inggris meminta publik untuk mempertimbangkan pada usia berapa larangan itu harus diterapkan. Pemerintah menyarankan usia di bawah 16, atau di bawah 18 tahun sebagai opsi. Konsultasi akan berlangsung hingga November 2018.

Selain merekomendasikan batas usia, proses konsultasi juga bermaksud untuk menginformasikan pembuat kebijakan tentang jenis produk apa yang harus dibatasi. Serta apakah tindakan selain larangan akan lebih baik, atau akankah lebih banyak kendala yang dihadapi jika larangan resmi diterapkan.

Inisiatif larangan minuman berenergi datang setelah publikasi penelitian pada Juni 2018. Khususnya dari bab terbaru ‘Childhood Obesity Plan’, yang berkomitmen untuk mengurangi separuh obesitas pada tahun 2030.

Perdana Menteri Theresa May menyebut obesitas anak-anak, “Sebagai salah satu tantangan kesehatan terbesar yang dihadapi negara ini.” Dia bersumpah untuk mengambil tindakan signifikan dalam mengurangi jumlah gula yang dikonsumsi oleh orang muda, dan untuk membantu keluarga membuat pilihan yang lebih sehat.

Kritik terhadap proposal larangan minuman berenergi ini sudah mulai bermunculan. Kritikus mengatakan itu adalah rencana pemerintah yang dirumuskan secara tidak logis.

“Ini adalah tindakan yang sangat berat,” kata Christopher Snowden, kepala Ekonomi Gaya Hidup di sebuah lembaga pemikir pasar bebas, ‘Institute of Economic Affairs’.

Dia mengatakan bahwa, “Pemerintah tampaknya tidak jelas apakah mereka mengobarkan perang terhadap gula atau kafein. Jika itu kafein, mereka harus melarang penjualan kopi untuk anak-anak, dan jika itu gula, mengapa tidak mengusulkan untuk melarang semua produk manis untuk anak-anak?”

Snowden meninai bahwa alih-alih membuat undang-undang yang ditargetkan dengan tepat, pemerintah dinilai hanya mengikuti program ‘koki selebriti’, Jamie Oliver. Chef Seleb itu, di masa lalu memelopori upaya untuk memerangi penyakit yang berhubungan dengan makanan pada anak-anak.

“Kenyataannya adalah bahwa kita memiliki koki selebriti terkenal di Inggris,” kata Snowden, mengacu pada Jamie Oliver, “Yang mulai berkampanye untuk melarang minuman energi untuk anak-anak. Dan pemerintah selalu melakukan apa yang dia katakan.”

“Kami harus melakukan ini,” kata Oliver, menurut laporan Epoch Times tentang kampanyenya untuk mengakhiri penjualan minuman energi ke bawah 16 tahun, “Karena minuman ini mengubah anak-anak kita menjadi pecandu. Penggunaan (konsumsi oleh) mereka (anak-anak), menurut saya, mirip dengan narkoba.”

Pemuda Inggris termasuk di antara konsumen minuman energi tertinggi di Eropa, penelitian sebelumnya menyatakan.

Menteri Kesehatan Umum, Steve Brine menyuarakan temuan ini dan menunjuk pada klaim bahwa konsumsi minuman energi oleh anak-anak mengubah perilaku mereka menjadi buruk.

“Anak-anak kami sudah mengonsumsi 50 persen lebih banyak dari minuman ini daripada rekan-rekan Eropa mereka. Para guru membuat hubungan yang mengkhawatirkan hubungan antara minuman energi dan perilaku buruk di kelas.”

Para guru mengatakan bahwa anak-anak yang kecanduan pada kafein mengganggu proses belajar mereka sendiri dan teman sekelas mereka. Meskipun klaim efek mengubah perilaku daripada minuman energi pada anak-anak belum diuji.

“Perhatian yang saya kira adalah kita tidak tahu efek kafein pada anak-anak, kita tidak bisa mempelajarinya,” kata ahli diet dan dosen universitas Ursula Philpot. “Jadi, kami khawatir bahwa anak-anak memiliki dosis besar kafein dan dosis besar gula, dan sebenarnya itu sangat legal.”

Kevin Courtney, Sekretaris Jenderal Gabungan Serikat Pendidikan Nasional, menilai upaya untuk melarang minuman energi sebagai konflik antara kepentingan anak-anak dan kepentingan komersial.

“Sekolah melakukan semua yang mereka bisa untuk menyediakan lingkungan yang kondusif untuk belajar, tetapi mereka tidak dapat mengendalikan apa yang dijual di luar gerbang sekolah. Jika Pemerintah serius melindungi anak-anak, mereka perlu menempatkan kepentingan anak-anak di atas keuntungan industri minuman energi, dan melarang penjualan produk berbahaya ini (untuk anak) di bawah 16 tahun,” kata Kevin, seperti dilaporkan oleh Independent.

Snowden menepis batas usia 18 karena terlalu berlebihan. Akan tetapi, dia mengakui bahwa usia yang lebih muda mungkin masuk akal.

“Jika harus ada batas usia, maka 14, atau paling absolut 16. Kami menerima di Inggris, bahwa mereka dapat bergabung dengan tentara atau mulai belajar mengemudi pada usia 16, jadi saya pikir kami dapat mempercayai mereka dengan sekaleng Red Bull, yang memiliki kafein sebanyak satu shot atau lebih dari espresso.”

Banyak toko di Inggris sudah memiliki larangan sukarela mereka sendiri terhadap anak berusia di bawah 16 tahun. Larangan itu berlaku untuk minuman yang mengandung 150mg kafein atau lebih, per liter. (TOM OZIMEK/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :