Pertemuan WGTI ke-9: Indonesia dan Uni Eropa Bahas Isu Dagang dan Investasi di Brussels

Epochtimes.id- Indonesia dan Uni Eropa (UE) kembali bertemu dalam Working Group on  Trade  and  Investment  (WGTI)  ke-9  di  Brussel,  Belgia  pada  Rabu  (30/1/2019).

WGTI  merupakan sebuah  forum  komunikasi  untuk  membahas  isu  terkini  yang  dimiliki  kedua  negara  di  bidang perdagangan dan investasi. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut  pertemuan sebelumnya yang dilaksanakan di Bali pada tahun 2017.

Pada  pertemuan   ini,   dibahas   berbagai   kebijakan   dan  peraturan   yang  berlaku.  Termasuk   di dalamnya  permasalahan  yang  dianggap  menghambat  perdagangan  dan  investasi  kedua  negara.

Delegasi   Indonesia   dipimpin   Direktur   Jenderal   Perundingan   Perdagangan   Indonesia   Iman Pambagyo,  sementara  delegasi  UE  dipimpin  oleh  Deputy  Director  General  for  Trade  European Commission Helena König.

Direktur   Jenderal   Perundingan   Perdagangan   Indonesia   Iman Pambagyo mengatakan WGTI ini dibahas berbagai isu teknis terkait implementasi kebijakan yang membutuhkan perhatian khusus kedua pihak dalam mendorong kelancaran bisnis dan investasi.

“Tentu saja tidak semua  isu  yang  dibahas  dapat  diselesaikan  permasalahannya,  namun  setidaknya  kedua  pihak dapat  bertukar  informasi  dan  mencari  solusi  bersama.  Selain  itu,  forum  ini  diharapkan  dapat mendukung proses perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) yang saat ini berlangsung,” ujar Iman.

Iman mengungkapkan, salah satu isu yang diangkat Indonesia adalah akses pasar kelapa sawit ke pasar UE. Keputusan parlemen UE menghentikan kontribusi biofuel berbasis minyak kelapa sawit dalam   proses   perombakan   arahan   energi   terbarukan   (RED   Recast)   UE,   telah   menciptakan keprihatinan serius dan menimbulkan reaksi yang sangat kuat dari para pemangku kepentingan di Indonesia.

Pada   kesempatan   ini   Indonesia   juga   mengangkat   isu   standar   sanitasi   dan   fitosanitasi   yang dikenakan   UE   untuk   berbagai   produk   impor   seperti   teh,   kokoa.   Selain   itu,   Indonesia   juga membahas usulan kebijakan mekanisme penyaringan investasi di negara-negara UE.

Sementara   UE   menyampaikan   beberapa   permasalahan   terkait   kebijakan   perdagangan   dan investasi  Indonesia  seperti  regulasi  domestik  terkait  ijin  impor  produk  hortikultura  dan  ternak, daftar   negatif   investasi  (DNI),   serta  kebijakan  penetapan   standar   Indonesia  seperti   standar nasional Indonesia (SNI) dan halal.

Selain  pertemuan  WGTI,  pada  kesempatan  ini  Indonesia  dan  UE  juga  mengadakan  pertemuan intersesi (pertemuan antara) I-EU CEPA untuk dua isu, yaitu perundingan barang (trade in goods), perundingan perdagangan, dan pembangunan berkelanjutan (TSD) pada 28—29 Januari 2019.

Pada  tahun  2017,  UE  adalah  tujuan  ekspor  dan  asal  impor  nonmigas  terbesar  ketiga   bagi Indonesia,  dengan  nilai  masing-masing  sebesar  USD  16,3  miliar  dan  USD  12,6  miliar.  Total perdagangan   kedua  negara   mencapai   USD  28,9   miliar.

Selama   lima  tahun  terakhir,  neraca perdagangan  kedua  pihak  menunjukkan  surplus  bagi  Indonesia.  Sementara  nilai  investasi  UE  di Indonesia mencapai USD 3,2 miliar.

Pada periode Januari-September 2018, total perdagangan kedua negara mencapai USD 23,6 miliar, atau  meningkat  10,09  persen  dibandingkan  periode  yang  sama  tahun  2017.  Pada  tahun  2018 ekspor Indonesia ke Uni Eropa juga meningkat sebesar USD 13 miliar atau 6,47 persen dibanding tahun 2017. (asr)