Li Yun – NTDTV.com
Setelah situasi di Hongkong terus memburuk, pejabat komunis Tiongkok kian percepat memindahkan kekayaan mereka yang disimpan di Hongkong ke negara lain seperti Kamboja dan lainnya. Media asing mengungkapkan bahwa akibat sejumlah besar dana dan personil dari komunis Tiongkok dengan cepat membanjiri Kamboja, menyebabkan sentimen anti-Tiongkok meningkat.
Pelarian besar-besaran kekayaan yang disimpan keluar dari Hongkong
Ekonom Taiwan Wu Jialong sebelumnya telah mengatakan kepada Epoch Times bahwa sejak kampanye anti-revisi Undang Undang ekstradisi, banyak modal Hongkong mulai dilarikan keluar. Pelaku khususnya para pejabat faksi Jiang Zemin telah mengalihkan kekayaan mereka di Hongkong ke Kamboja dan tempat-tempat lain. Dana yang membanjiri kas negara Kamboja sebagian besar adalah dana alihan dari Hongkong yang dimiliki para pejabat faksi Jiang Zemin.
Menurut Wu Jialong, Jia Qinglin, mantan ketua Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok menyewa jet pribadi untuk mengangkut simpanan emas batangan, dolar Amerika Serikat, Euro dan sebagainya dari Hongkong menuju Kamboja. Wu Jialong mendengar berita tersebut dari seorang pengusaha Taiwan.
Alasan mengapa pejabat faksi Jiang mengalihkan kekayaan mereka dari Hongkong ke Kamboja, kata Wu Jialong, karena sejumlah besar warga Tiongkok telah memasuki Kamboja dalam beberapa tahun terakhir yang mungkin telah memberi manfaat kepada pemerintah Kamboja.
Namun, fakta membuktikan bahwa sejumlah besar dana dan personel dengan cepat membanjiri Kamboja menimbulkan masalah sosial sehingga timbul rasa benci dari penduduk setempat.
VOA pada 7 November 2019 memberitakan bahwa komunis Tiongkok telah menjadi investor, donor dan kreditor terbesar di Kamboja. Banyak warga Kamboja khawatir bahwa proyek investasi One Belt One Road atau OBOR Tiongkok dan meningkatnya ketergantungan pemerintah Kamboja kepada Beijing akan membuat negara mereka kian terbelenggu oleh komunis Tiongkok.
Rakyat Kamboja khawatir dengan terulangnya tragedi Khmer Merah
Laporan menyebutkan bahwa oposisi Kamboja menyatakan keprihatinan tentang makin besarnya pengaruh politik dari komunis Tiongkok. Mereka takut dengan sejarah tragis ketika Kamboja diperintah oleh Khmer Merah itu terulang kembali.
Investasi dan pengembangan besar-besaran di Kamboja oleh komunis Tiongkok yang telah mendapat dukungan kuat dari pemerintah Hun Sen, juga telah memberi manfaat bagi sebagian warga Kamboja. Namun, masuknya dana dan personel asal Tiongkok dalam jumlah besar telah mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat dan memicu ketidakpuasan banyak warga lokal.
Seorang pekerja muda warga kamboja mengatakan, bahwa sejak kedatangan warga asal Tiongkok di Kamboja, ada yang menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi di jalanan, ada yang suka mabuk-mabukan di jalan sambil berteriak-teriak, membuat ketenteraman warga terancam.
Seorang pengemudi yang menyewakan mobil carteran mengatakan bahwa cara bisnis warga asal Tiongkok tidak seperti orang Eropa.
“Orang Eropa datang ke sini dengan membawa bisnis untuk orang lain, tidak seperti orang asal Tiongkok yang hanya melakukan bisnis dengan etnis mereka saja. Kita orang Kamboja tidak bisa berbisnis dengan mereka,” katanya.
Seorang penelitian dari ‘Mother Nature’, organisasi perlindungan lingkungan mengkritik bahwa orang asal Tiongkok kurang beretika ketika berbicara. Ia menekankan bahwa investor Tiongkok yang datang berinvestasi di Kamboja tidak peduli dengan hak asasi manusia, tidak peduli terhadap hukum. Mereka hanya peduli terhadap kepentingan sendiri.
Sam Rainsy, seorang pemimpin oposisi Kamboja yang pernah menjabat sebagai menteri keuangan Kamboja dan saat ini berada di pengasingan di Prancis, sering mengkritik hubungan pemerintah Hun Sen dengan komunis Tiongkok. Dia menegaskan bahwa infiltrasi oleh komunis Tiongkok terhadap Kamboja sedang terjadi sekarang.
Teav Vannol, ketua oposisi Partai Candlelight Kamboja mengatakan bahwa karena Kamboja pernah diserang oleh orang Vietnam, sehingga banyak orang Kamboja secara tradisional tidak menyukai warga etnis Vietnam. Tetapi sekarang mereka lebih merasa jijik dengan orang asal Tiongkok daripada orang Vietnam.
“Saat ini, sentimen ini telah bergeser kepada orang asal Tiongkok, karena ketika mereka datang kemari. Mereka tidak menghormati orang Kamboja, mereka tidak menghormati hukum Kamboja. Mereka tinggal dan hidup di Kamboja dengan sikap yang menjijikkan”, kata Teav.
Selain sejumlah besar investasi Tiongkok di Kamboja, para pejabat kelas tinggi komunis Tiongkok belakangan ini terus mempercepat pengalihan kekayaan mereka yang disimpan di Hongkong ke Kamboja.
sin


