Trump Ungkap Rahasia, Beijing Bungkam

Zhou Xiaohui

Pada 22 November 2019 lalu, Presiden Amerika Serikat, Donalde Trump diwawancarai via telepon oleh stasiun TV FOX dalam acara “Fox and Friends”. Pada kesempatan itu, Trump mengungkap sebuah informasi teramat rahasia yang menggemparkan dunia, yakni dirinya berhasil mencegah penguasa Beijing yang berupaya meratakan Hong Kong dalam 14 menit dengan mengerahkan jutaan pasukannya. Itu kembali menjelaskan perseteruan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok jauh melampaui apa yang diberitakan oleh media massa.

Saat wawancara dengan TV FOX itu, Trump menyatakan, “Jika bukan karena saya, Hong Kong telah lenyap dalam 14 menit, akan ada ribuan warga Hong Kong dibunuh, tidak akan terlihat lagi kerusuhan apa pun.”

Trump lebih jauh menjelaskan, “Disini ada suatu faktor yang sangat rumit. Komunis Tiongkok memiliki pasukan 1 juta personel yang telah ditempatkan di perbatasan Hong Kong. Mereka tidak masuk, karena saya meminta Xi Jinping agar tidak melakukannya.

Trump katakana, “Anda sedang melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar.”

Menurut Trump, Beijing tidak melakukan rencananya tersebut, adalah karena Xi Jinping tidak ingin merusak perundingan dagang yang tengah berlangsung. Trump memberitahu Xi Jinping, jika menekan Hong Kong, “akan menimbulkan dampak negatif yang luar biasa besar terhadap kesepakatan dagang”.

Dalam wawancara itu, Trump juga mengatakan pernyataan yang menarik untuk direnungkan: “Kami berdiri di pihak Hong Kong, tapi saya juga bersama Xi Jinping. Dia adalah teman saya, ia adalah orang yang sulit dipahami. Saya berharap mereka dapat menyelesaikannya masalah Hong Kong.”

Pada 24 November 2019 lalu, penasihat perdagangan Gedung Putih Navarro saat diwawancarai oleh Fox TV,  membenarkan pernyataan Trump tersebut. Akan tetapi hingga 24 November 2019, baik juru bicara Kementereian Luar Negeri Tiongkok maupun media massa Komunis Tiongkok, tidak satu pun merespon perkataan Trump itu.

Hingga 25 November 2019saat juru bicara Kemenlu menjawab pertanyaan yang samar dari wartawan terkait hal itu, tidak menjawab secara langsung, dan hanya menanggapi: “Masalah Hong Kong merupakan urusan dalam negeri Tiongkok, pemerintah asing, organisasi, dan siapa pun tidak berhak turut campur.”

Menyikapi dengan diam, berarti tidak menyangkal, yang artinya mengakui fakta, sekaligus juga tidak mampu menjawab, jadi terpaksa bungkam.

Setelah tidak kuasa untuk terus bungkam dan menanggapi secara tidak langsung, berarti telah mengakui fakta yang diungkapkan oleh Trump, sekaligus mengisyaratkan rasa tidak senangnya. Tidak senang karena Trump dianggap telah “turut campur urusan dalam negeri”.

Mengapa tidak mampu menjawab?

Semua orang yang bisa berpikir, mengerahkan pasukan 1 juta personel, meratakan Hong Kong dalam 14 menit, berapa banyak warga Hong Kong akan jadi korban? Berapa banyak darah warga Hong Kong akan tertumpah? Berapa banyak keluarga di Hong Kong akan hancur berantakan? Apakah warga Hong Kong bukan rakyat Tiongkok? Bukan saudara setanah air Tiongkok?

Sebuah rencana keji membantai saudara setanah air dengan kekuatan militer sebesar itu, apakah itu bukan kekejaman tak terampuni, bukankah suatu perbuatan iblis? Dan rencana yang begitu menakutkan dan keji itu dengan sendirinya dianggap sebagai teramat rahasia oleh Komunis Tiongkok.

Yang tidak diduga Komunis Tiongkok adalah, sejak awal Amerika telah mengetahui adanya rencana itu. Terlepas dari dengan cara apa Amerika Serikat mengetahui informasi tersebut, terlepas apakah Komunis Tiongkok mengakui akurasi dari informasi intelijen Amerika tersebut, mau tidak mau Komunis Tiongkok harus mempertimbangkan peringatan yang dilontarkan AMerika.

Yang tak terbayangkan oleh Komunis Tiongkok adalah, setelah kedua kongres meloloskan “Resolusi HAM dan Demokrasi Hong Kong”, Presiden Trump mengungkap rencana yang dianggap sangat rahasia oleh Komunis Tiongkok. Membuat seluruh dunia menahan nafas, juga membuat internal Komunis Tiongkok terguncang.

Tidak berlebihan jika dikatakan, rahasia kelas berat yang diungkap Trump itu belum pernah ada sebelumnya, dan dipilihnya momentum seperti itu untuk mengungkapnya dengan tiga maksud.

Pertama, adanya kebutuhan pertarungan politik dalam negeri.

Pada saat yang sama menggerakkan kedua kongres Amerika Serikat meloloskan resolusi Hong Kong, Trump juga menunjukkan sikapnya pada Partai Republik, Partai Demokrat, dan warga Amerika, bahwa sebagai presiden, dirinya juga mengerahkan upaya besar demi kebebasan demokrasi Hong Kong. Trump berhasil mencegah rencana aksi pembantaian Beijing terhadap Hong Kong, dan bukan seperti yang terlihat oleh kalangan luar.

Kedua, adanya kebutuhan membentuk aliansi “anti-komunis”.

Bisa dikatakan, terungkapnya rencana itu, tidak hanya membuat pemerintah seluruh dunia, khususnya pemerintahan Barat terkesiap, membuat mereka semakin memahami sifat keji Komunis Tiongkok. Hal ini menimbulkan efek semakin memperkuat kekompakan aliansi “anti-komunis” di seluruh dunia.

Ketiga, kembali memberi kesempatan kepada Xi Jinping.

Setelah menjabat sebagai presiden, pemerintahan Trump mulai secara jelas membedakan antara “Partai Komunis Tiongkok” dengan “negeri Tiongkok, dan “rakyat Tiongkok”. Trump yang selalu bersifat bersahabat pada Xi Jinping, juga terus terus memisahkan Xi Jinping dengan “Komunis Tiongkok”, serta berkali-kali menyebut Xi Jinping adalah “temannya”.

Dalam hal konkrit seperti masalah Hong Kong, bisa dipahami kata-kata Trump yang memiliki makna mendalam, yakni “Kami berdiri di pihak Hong Kong, tapi saya juga bersama Xi Jinping.”

Makna yang terkandung di baliknya adalah satu-satunya pilihan Xi Jinping hanya mempertahankan Hong Kong dengan “satu negara dua sistem”. Memenuhi janji yang telah dibuat sebelumnya. Dengan demikian maka Xi Jinping telah bersama Trump, dan berdiri bersama warga Hong Kong yang berunjuk rasa.

Makna terselubung pernyataan Trump, tidak diragukan pasti sangat dipahami oleh Beijing, tapi mungkin karena terhambat oleh tekanan internal, Komunis Tiongkok sehingga tidak berdaya merespon.

Kini, hasil pemilihan anggota legislative Hong Kong, kubu Pan-Demokrasi berhasil meraih kemenangan mutlak, kubu pro-Beijing mengalami kekalahan tragis. Peristiwa itu kembali membuktikan penguasa Beijing salah menafsirkan aspirasi warga Hong Kong.

Jika petinggi Komunis Tiongkok dapat memanfaatkan momentum itu, mengikuti kehendak rakyat, merespon Trump, dan mewujudkan kelima tuntutan warga Hong Kong, sekaligus sejalan dengan tren dunia, mencapai kesepakatan dagang dengan Amerika, memulai reformasi di dalam negeri, mungkin akan mengalami perubahan yang membaik. (SUD/WHS)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine