Penulis AS : One Belt One Road (OBOR) Menjadi One Virus dan Andai Saja Rezim Komunis Tiongkok Jujur Sedari Awal Wabah

Brian Cates

Seiring seluruh dunia berjuang mengatasi keterpurukan akibat virusĀ  Komunis Tiongkok, semua mata tetap tertuju pada Italia, di mana virus Komunis Tiongkok menuai korban dalam jumlah tinggi. Kematian di Italia akibat virus Komunis Tiongkok kini telah melampaui hitungan resmi yang diklaim oleh pejabat komunis Tiongkok.

Bahkan juga terjadi peningkatan dalam jumlah besar kasus kematian dan terinfeksi di Amerika Serikat. Pada 12 April saja, tercatat 500.000 lebih terinfeksi dengan 20.000 lebih angka kematian di AS.

Pada tanggal 23 Maret, Komunis Tiongkok hanya mengakui total 3.270 kematian dari penyakit itu, sementara korban Italia jauh melampaui angka tersebut, yaitu total 5.476 dan sedang meningkat dengan cepat.

Negara lain yang paling terpukul adalah Iran, yang menewaskan 1.812 orang, meskipun seperti halnya Tiongkok, ada alasan bagus untuk mempercayai bahwa rezim Iran menyembunyikan angka sebenarnya. 

Spanyol dan Prancis juga sangat terpukul dampak virus tersebut, di mana ada 2.206 kasus kematian di Spanyol dan ada 674 kasus kematian di Prancis. Angka di atas terus mengalami peningkatan mulai sejak saat itu. 

Laporan per 12 April, Spanyol mencatat 166.019 kasus dengan 16.972 kematian. Sedangkan Italia mencatat 152.271 kasus terinfeksi dengan 19.468 kematian. Adapun Prancis mencatat sebanyak 129.654 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 13.832 kasus.  

Saat anda mempertimbangkan bahwa angka sebenarnya rezim Komunis Tiongkok dan Iran, mungkin jauh lebih tinggi daripada apa yang telah dilaporkan. Dikarenakan, rezim-rezim tersebut tidak dapat dipercaya untuk melaporkan secara akurat, dampak sebenarnya dari bencana ini di Italia bahkan lebih nyata. 

Angka-angka yang dikeluarkan oleh Italia dapat dipercaya, seperti hanya Spanyol dan Prancis, dan perbedaan tersebut adalah sangat mencolok, mulai dari 5.476 dari angka kematian di Italia ke 2.206 dari angka kematian di Spanyol  hingga 674 dari angka kematian di Prancis.

Maka segera timbul pertanyaan: Mengapa Italia, suatu negara yang bebas dan demokratis, memiliki korban jiwa yang begitu tinggi?

Mengapa Italia Demikian?

Ada banyak spekulasi dan komentar baru-baru ini mengenai perkembangan tersebut, sebagian besar berpusat di sekitar populasi Italia yang menua atau kualitas perawatan kesehatan yang tersedia di Italia.

Bahkan, alasan utama bahwa, kini Italia menemukan dirinya di pusat

pandemi terburuk saat ini bukanlah karena populasi lanjut usia yang lebih besar atau perawatan medis di bawah standar. Dapat disimpulkan dalam satu kata: globalisme.

Kelas elit politik Italia membuat dua kesalahan utama.

Kesalahan pertama adalah membiarkan migrasi besar-besaran warga Tiongkok masuk ke Italia. Kini  ada sekitar 320.000 warga Tiongkok yang tinggal di Italia, banyak dari mereka berada di bagian utara Italia, tempat virus itu merebak sangat buruk. Adapun Jjmlah sebenarnya dapat jauh lebih tinggi karena ada perdagangan penyelundupan manusia ilegal yang berkembang pesat.

Kesalahan kedua adalah Italia membuat perjanjian ekonomi dengan

 Komunis Tiongkok yang disebut “Inisiatif Belt dan Road” juga dikenal sebagai One Belt, One Road. Rezim Komunis Tiongkok menggunakan kebijakan ekonomi ini di negara-negara seperti Italia untuk memposisikan Komunis Tiongkok menguasai dunia, dan secara khusus sebagai pesaing Amerika Serikat.

Seperti dijelaskan oleh Dewan Hubungan Luar Negeri dalam sebuah artikel yang diterbitkan di bulan Januari, berjudul ā€œBelt dan Road Inisiatif Besar-besaran Tiongkokā€:

ā€œInisiatif Sabuk dan Jalan Tiongkok, kadang disebut sebagai Jalan Sutra Baru, adalah salah satu proyek infrastruktur paling ambisius yang pernah ada. Diluncurkan pada tahun 2013 oleh Presiden Xi Jinping, koleksi besar inisiatif pengembangan dan investasi akan membentang dari Asia Timur ke Eropa, yang secara bermakna memperluas mempengaruhi ekonomi dan politik Tiongkok.”

Membuka Pintu untuk Pandemi

Tracy Beanz dari berita investigasi situs web UncoverDC.com menerbitkan laporan yang menakjubkan pada tanggal 20 Maret, berjudul “Mengapa Italia?” yang meninjau secara mendalam mengapa Italia begitu cepat menjadi negara paling rentan di dunia terhadap virus Komunis Tiongkok dan terhadap efek virus Komunis Tiongkok yang menghancurkan.

Dalam laporannya, Tracy Beanz mengutip beberapa artikel berita dari tahun lalu, di mana migrasi massal selama puluhan tahun dari Tiongkok ke Italia dicermati sebagian besar dalam citra positif, seperti artikel ini, yang muncul pada bulan September 2010 di The New York Times, berjudul “Tiongkok Membuat Kembali Label Mode ‘Made In Italy.'”

Persis satu tahun yang lalu bahwa perjanjian ekonomiā€œBelt and Road Initiativeā€ antara Komunis Tiongkok dengan pemerintah Italia diselesaikan.

Kini, tampaknya judul yang jauh lebih akurat untuk kebijakan ini adalah ā€œOne Belt, One Roadā€¦ One Virus.ā€ 

Akibat keseluruhan terbesar dari pandemi sedunia ini yang diluncurkan dari dalam Tiongkok adalah pandemi sedunia ini, menyebabkan banyak pemimpin politik dunia menilai kembali hubungannya, baik ekonomi maupun diplomatik, dengan Komunis Tiongkok.

Dunia Sadar Akan Ancaman Globalis Komunis Tiongkok

Pandemi ini telah menyadarkan banyak orang akan bahaya langsung dan sangat nyata jika tergantung pada rezim di Beijing, di bawah tangan besi kendali Komunis Tiongkok, untuk produk dan layanan vital seperti pasokan medis, obat yang menyelamatkan nyawa, dan elektronik yang utama.

Globalisme dijual oleh kelas elit politik kita sebagai konsep yang luar biasa positif selama beberapa dekade terakhir, sejak globalisme dibingkai sebagai gelombang masa depan yang tidak terhindarkan. 

Namun, ada juga bahaya yang sangat nyata dan jebakan yang datang dengan mengalihdayakan medis dan infrastruktur keamanan nasional, yang mana vital bagi negara anda yang mungkin sangat bermusuhan dengan kekuatan asing.

Sebelum pecahnya pandemi ini, rezim Komunis Tiongkok pasti terlibat dalam

perilaku yang cukup terang-terangan buruk, dalam beberapa tahun terakhir untuk menuntun para pemimpin politik yang bertanggung jawab, tentunya untuk secara serius mempertanyakan kebijakan pengalihdayaan infrastruktur yang vital ke Tiongkok.

Senator AS Josh Hawley dan Senator Tom Cotton  serta beberapa legislator lainnya, telah bekerja tanpa lelah untuk menunjukkan adanya ancaman mata-mata dan pencurian teknologi oleh  Komunis Tiongkok. Tindakan itu sangat nyata merajalela, serta bagaimana pengalihdayaan teknologi 5G ke Huawei adalah kompromi langsung terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.

Hanya dalam satu tahun terakhir, dengan penanganan kasar atas unjuk rasa Hong Kong, diikuti oleh sensor diri terang-terangan oleh NBA, bersama dengan mandat kamp konsentrasi besar yang diciptakan untuk warga Uighur, merupakan  banyak alasan untuk pemerintahan Presiden Donald Trump. 

Itu terkait, mulai mencari cara untuk memisahkan diri secara ekonomi dan melepaskan ketergantungan infrastruktur Amerika Serikat pada Tiongkok.

Bahkan beberapa Senator Partai Demokrat yang top yang berada di garis depan agenda globalis saat pemerintahan Bush dan Obama, bertahun-tahun telah merangkul kebijaksanaan untuk menyingkirkan campur tangan Komunis Tiongkok dalam infrastruktur vital Amerika Serikat.

Munculnya Kebenaran Sejati: Rezim Komunis Tiongkok Adalah Kekuatan Asing yang Bermusuhan

Andai saja pemerintah totaliter Tiongkok saat ini jujur ā€‹ā€‹kepada dunia sejak bulan  November 2019 hingga Januari 2020, virus tersebut sudah dapat dikendalikan di Tiongkok.

Malahan, bahkan hingga pertengahan bulan Januari 2020, rezim Komunis Tiongkok berbohong kepada Organisasi Kesehatan Dunia, yang memberikan informasi palsu kepada Donald Trump.

Sementara pihak berwenang Tiongkok berusaha keras untuk menutupi kebenaran, menangkap dan memenjarakan dokter dan Whistleblower yang mengungkap situasi yang sebenarnya.

Pemerintahan Komunis Tiongkok mengikuti duplikasi ini dengan terlibat dalam kampanye informasi sesat, yang mana menyebalkan mengenai asal virus di Tiongkok, diikuti oleh ancaman untuk menahan obat-obatan medis buatan Tiongkok untuk tidak dikirim ke  Amerika Serikat selama krisis saat ini.

Tindakan ini bukanlah tindakan pemerintah yang ramah. Tentu saja, tindakan tersebut bukanlah tindakan mitra bisnis terpercaya.

Rezim Komunis Tiongkok adalah kekuatan asing yang bermusuhan, dan sudah jauh melewati masa itu pemerintah di seluruh dunia mulai memperlakukannya seperti itu.

The Epoch Times merujuk jenis Coronavirus baru, yang menyebabkan penyakit COVID-19, sebagai virus Komunis Tiongkok karena Partai Komunis Tiongkok menutup-nutupi dan salah menataksana virus tersebut, sehingga memungkinkan virus tersebut menyebar ke seluruh Tiongkok dan mengakibatkan pandemi global.


Penulis berbasis di South Texas dan penulis buku berjudul ā€œNobody Asked For My Opinion ā€¦ But Here It Is Anyway!ā€

FOTO : Para pekerja medis mengarahkan seorang pasien di bawah perawatan intensif ke rumah sakit sementara Columbus Covid 2 yang baru dibangun untuk melawan virus, di rumah sakit Gemelli di Roma pada 16 Maret 2020. (Andreas Solaro / AFP melalui Getty Images)