Siapa Pemegang Kendali Nuklir Korea Utara Pasca Kim Jong-un?

epochtimes.com- Berita online menyebutkan, Departemen Penghubung dan tim medis Tiongkok telah tiba di Pyongyang untuk membantu dalam perawatan Kim Jong-un kapan saja dibutuhkan. Namun diragukan keaslian berita itu.  

Ada juga yang memberitakan bahwa Kim Jong-un terinfeksi radang paru-paru virus komunis Tiongkok. Sebelumnya Kim Jong-un pernah muncul di depan publik dengan tidak memakai masker, padahal para prajurit menggunakan masker. Pada awal bulan Maret, media Jepang menginformasikan bahwa sebuah tim medis dari Prancis datang ke Pyongyang, namun tak jelas apa yang mereka lakukan.

Korea Utara adalah negara dengan sistem otokratis herediter modern, kekuasaan tertinggi berada di tangan satu orang, dan operasi internalnya sangat tidak transparan. 

Semua orang tahu hal itu, tetapi kesehatan Kim Jong-un saat ini telah menjadi fokus dari situasi di Asia Timur Laut, dan ada alasan yang lebih luas dan lebih kompleks daripada faktor ini. 

Karena Korea Utara adalah negara yang memiliki senjata nuklir, jika terjadi sesuatu yang menimpa Kim Jong-un, tidak peduli siapa yang menggantikan kedudukannya, maka penggantinya itu yang akan menguasai tombol kendali nuklir Korea Utara. 

Jadi, siapa penggantinya? Bagaimana dengan karakteristik orang tersebut? Bagaimana sikap yang ia terapkan dalam hubungan luar negeri? Lebih pro kepada negara mana? Itu semua akan menimbulkan kekhawatiran besar.

Pertama mengenai hal-hal yang berkaitan dengan “dinasti” Kim. 

Usai Perang Dunia Kedua, Amerika Serikat dan Uni Soviet menandatangani kesepakatan untuk berperang melawan Jepang dan membagi wilayah yang diduduki masing-masing. Amerika Serikat selain menguasai seluruh wilayah Jepang, juga menduduki wilayah selatan 38 derajat garis lintang utara Semenanjung Korea. Sedangkan Uni Soviet menduduki wilayah di bagian utara. Setelah pendudukan Soviet, Kim Il-sung dikembalikan ke Korea Utara untuk membentuk rezim yang menganut komunisme.

Kim Il-sung yang lahir pada tahun 1912, saat dipulangkan ke Korea Utara pada tahun 1945, baru berusia 33 tahun. Keluarga bermarga Kim ini adalah keluarga besar di bagian utara semenanjung. Setelah Jepang menduduki Semenanjung Korea, sejumlah besar warga Korea Utara berpartisipasi dalam gerakan melawan pendudukan Jepang, dan keluarga Kim  salah satunya. 

Rakyat Korea sangat berani melawan Jepang, misalnya, Perdana Menteri Jepang Ito Hirofumi selama Perang Tiongkok-Jepang tahun 1894-1895, setelah pensiun diangkat sebagai gubernur di Korea Utara,  mati dibunuh oleh nasionalis Korea An Jung-geun di kota Harbin pada tahun 1909.

Pada 29 April 1932, orang-orang Jepang berkumpul di Shanghai untuk memperingati setahun kemenangan berperang melawan militer Tiongkok. Aktivis Korea bernama Yun Bong-gil melempar granat yang menyebabkan tokoh militer Jepang terbunuh seperti Komandan Yoshinori Shirakawa dan Teiji Kawabata, Ketua Komite Shanhai Kyoryumindan, serta beberapa orang pejabat dan perwira Jepang terluka.

Pada awal tahun 1930-an, gerilyawan sipil Korea Utara anti-Jepang berperang di Mount Paektu atau yang dinamakan Gunung Changbai oleh Tiongkok. Di sana pernah terjadi satu pertempuran besar yang kemudian diperingati oleh rakyat Korea dengan mendirikan sebuah museum peringatan perang di kota Seoul, Korea Selatan. 

Ada catatan bahwa gerilyawan Korea berhasil menewaskan lebih dari 200 orang tentara Jepang. Tidak diketahui apa yang terjadi. Kemungkinan pertempuran itu sedikit dibesar-besarkan, meskipun pertempuran itu sungguh terjadi. Pihak pemerintah Korea Utara kemudian mengklaim itu sebagai pembentukan berdiri resmi militer Korea Utara.

Ketiga peristiwa itu, An Jung-geun, Yun Bong-gil dan pasukan gerilya di Mount Paektu semua  menjadi simbol peristiwa heroik masyarakat Korea Utara. Konon, salah seorang pemimpin  gerilyawan yang bertempur di Mount Paektu itu adalah Kim Il-sung.

Namun, Kim Il-sung pada saat itu belum genap berusia 20 tahun, memimpin gerilyawan, sepertinya tidak masuk akal. Informasi yang disebarkan komunis Tiongkok juga menyebutkan bahwa Kim Il-sung menjabat sebagai komandan Pasukan Koalisi Anti-Jepang di wilayah Timur Laut. Jabatannya itu setara dengan komandan divisi. Informasi itu juga terasa samar.

Sedangkan informasi yang diperoleh Amerika Serikat menyebutkan bahwa orang yang bernama Kim Il-sung itu memang ada, tetapi usianya hampir 20 tahun lebih tua dari Kim Il-sung yang kita kenal sebagai pemimpin Korea Utara. Kim Il-sung tua meninggal dunia pada akhir tahun 1930-an. 

Sedangkan pemimpin Korut bernama Kim Il-sung itu sebenarnya bernama Kim Jong-joo, keponakan dari Kim Il Sung tua. Ia juga anggota gerilyawan yang sejak kecil sudah berada di pengasingan di wilayah Timur Laut Tiongkok dan ikut bergerilya. Kemudian, ikut bersama Liga Anti-Jepang Timur Laut mundur ke wilayah Uni Soviet. 

Pada tahun 1945, Uni Soviet bermaksud menduduki Korea Utara, lalu  mengangkat Kim Jong-joo sebagai pemimpin. Namun karena kurang populer, ia menggunakan nama pamannya Kim Il-sung yang sudah diakui sebagai pahlawan nasional.

Bagaimanapun, setelah Kim Il-sung mengambil alih kekuasaan di Korea Utara. Hal pertama yang ia lakukan adalah melakukan pembersihan terhadap faksi Yan’an Tiongkok. Pada saat itu, Partai Buruh Korea Utara memiliki 2 faksi di dalam Partai Komunis Korea Utara. Satu yang pro-Uni Soviet dan yang lainnya pro-Yan’an. Banyak faksi Yan’an kemudian melarikan diri ke daratan Tiongkok.

Dalam propaganda resmi Korea Utara, biasanya mereka akan secara khusus menyebut ‘Garis Darah Mount Paektu’, maksudnya adalah merujuk pada pertempuran di Mount Paektu pada tahun 1930-an itu. Perang nasional itu kemudian dijadikan sumber legalitas untuk mewarisi kekuasaan, dan menjadi pemimpin Korea Utara sampai sekarang.

Hubungan antara Kim Il-sung dengan Partai Komunis Tiongkok sangat rumit. Kim Il-sung masuk sebagai anggota Partai Komunis Tiongkok di provinsi Jilin, tetapi ia didukung oleh Uni Soviet. 

Hubungan antara kedua partai di Tiongkok dan Korea Utara telah berulang kali mengalami fluktuasi, hingga tahun 1991 ketika Tiongkok menjalin hubungan diplomatik dengan Korea Selatan, hubungan kedua negara mencapai titik terendah. 

Kabarnya, Kim Jong-il, ayahanda Kim Jong-un, pernah mengusulkan untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Tiongkok dan menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan. Akan tetapi pada saat itu pamor Uni Soviet sudah merosot, dan ekonomi Korea Utara sepenuhnya tergantung pada komunis Tiongkok, sehingga rencana itu terpaksa dibatalkan.

Setelah Kim Jong-il naik tahta, hubungan diplomatik dengan Tiongkok tidak lagi erat, dan ia mulai mengembangkan senjata nuklir dan peluru kendali. Hal mana membuat komunis Tiongkok mulai khawatir. Kabarnya, menjelang kematian Kim Jong-il, ia berpesan kepada Kim Jong-un agar mewaspadai komunis Tiongkok, tetapi bukan Amerika Serikat atau Korea Selatan.

Sementara itu, situasi di Asia Timur Laut menjadi ajang konfrontasi antara kedua kekuatan besar, yakni di satu sisi adalah Amerika Serikat dengan Jepang dan Korea Selatan yang merupakan sekutu militernya, dengan Tiongkok dan Rusia di sisi lainnya. Karena Korea Utara tidak dapat mengandalkan Rusia atau Tiongkok, rasa tidak aman ini mendesak mereka untuk mengembangkan senjata nuklir dan rudal.

Negara pertama yang paling terancam oleh senjata nuklir Korea Utara adalah Korea Selatan. Setelah itu Jepang, dan Tiongkok. Yang terakhir baru Amerika Serikat. Ancaman terhadap Tiongkok jelas lebih besar daripada Amerika Serikat. Alasannya sebenarnya sangat sederhana. 

Dari sudut pandang geografis, perbatasan antara jarak Beijing dengan perbatasan Korea Utara hanya 800 km. Sedangkan ke Washington berjarak 8.000 km. Ke Guam 2.000 km lebih. 

Selain itu, setelah Korea Utara memiliki senjata nuklir, apakah Jepang dan Korea Selatan juga tidak ikut-ikutan mengembangkan senjata nuklir mereka sendiri? 

Sekarang masih ada orang Amerika yang memberi tekanan, begitu orang Amerika sudah tidak bisa lagi mengendalikan, maka seluruh Asia Timur Laut akan menjadi negara-negara bersenjata nuklir. Dengan demikian, Taiwan juga berpotensi untuk mengembangkan senjata nuklirnya sendiri.

Di sisi lain, jika ada hal tak terduga yang terjadi di Korea Utara lalu menyebabkan negara itu jatuh, bagaimana dengan senjata nuklir di negara tersebut? Apakah ada masalah dengan proliferasi nuklir? 

Itu adalah masalah yang paling dikhawatirkan oleh Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dalam geopolitik, baik Amerika Serikat maupun Tiongkok sama-sama tidak ingin melihat penyatuan kembali Semenanjung Korea. Bagi Amerika Serikat, mempertahankan Korea Utara yang brandal dan ganas sangat berguna. Amerika Serikat acap kali melakukan latihan militer dengan Jepang dan Korea Selatan itu untuk apa? Siapa targetnya? Apakah untuk Korea Utara? 

Bukan, perang melawan Korea Utara terlalu mudah bagi militer Amerika Serikat, Jika demikian target Amerika Serikat adalah melawan Tiongkok dan Rusia.

Di dalam medan perang Asia Timur Laut yang luas, terdapat Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok yang seakan memperagakan peran Kisah Tiga Kerajaan (Sam Kok). Jepang dan Korea Selatan adalah sekutu militer Amerika Serikat. Jika tidak melibatkan Korea Utara, rasanya kurang memiliki rasionalitas dan legitimasi. 

Dalam 2 tahun terakhir, Amerika Serikat telah berulang kali menekankan beberapa kebijakannya terhadap Korea Utara. Tetapi banyak orang tidak memahaminya. Amerika Serikat menekankan bahwa kebijakan Amerika Serikat tidak bertujuan untuk menyatukan kembali Semenanjung Korea atau pendudukan militer di Korea Utara. Siapa yang menjadi target memahami kebijakan Amerika Serikat ini? Tentu saja Korea Utara.

Tiongkok sebenarnya menghadapi situasi yang sama. Masalah senjata nuklir sudah dibicarakan, Tiongkok selama ini terus mempertahankan adanya denuklirisasi Semenanjung Korea, dan tujuan geostrategis Tiongkok lainnya adalah untuk mencegah penyatuan kembali Korea Utara dan Korea Selatan. 

Menurut argumen pihak Tiongkok, perlu ada zona penyangga strategis, agar memiliki jarak, tidak secara langsung bersinggungan dengan negara-negara di mana ada militer Amerika Serikat.

Oleh karena itu, pertama, Korea Utara seharusnya tidak memiliki senjata nuklir. Kedua, tidak ingin penyatuan kembali Korea Utara dan Selatan. Amerika Serikat dan Tiongkok, kedua negara yang secara strategis bertentangan, tetapi memiliki kesamaan dalam hal ini.

Itulah alasannya mengapa setelah Xi Jinping memangku jabatan sebagai kepala negara, ia sangat konsisten dengan kebijakan Amerika Serikat di Semenanjung Korea, sampai-sampai Kim Jong-un membenci komunis Tiongkok.

Tentu saja, pada bulan April 2018, semua telah berubah. Karena Tiongkok percaya bahwa kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan telah mengalami perubahan, dan sekarang saatnya untuk berbalik muka dengan Amerika Serikat. 

Sejak saat itu hegemoni antara Tiongkok dengan Amerika Serikat dimulai. Tiongkok secara aktif mengundang Kim Jong-un untuk berkunjung ke Beijing 4 tahun setelah ia menjabat.

Meski demikian, kesenjangan antara kedua belah pihak masih sangat besar, jadi mestinya  Kim Jong-un tidak akan begitu gampang untuk mempercayai dokter dari Tiongkok.

Bagaimanapun, jika kesehatan Kim Jong-un bermasalah, kekuatan Korea Utara akan mengalami perubahan, yang pasti berpengaruh terhadap seluruh negara di wilayah Asia Timur Laut.

Masalah pelik yang sedang dihadapi oleh Korea Utara adalah Kim Jong-un sekarang berusia 30-an tahun, dan anak-anaknya baru berusia 10 tahun. Ia memiliki kakak laki-laki yang tetapi telah disingkirkan dari sistem politiknya. Ada seorang saudara perempuan yang berhubungan sangat baik dengannya. Jika hal tak terduga terjadi menimpa Kim Jong-un, maka Korea Utara akan menghadapi situasi khas dalam sejarah Tiongkok yang disebut ‘主少国疑’ (zhu shao guo yí), yakni rakyat kebingungan karena raja masih belia. 

Pejabat di semua tingkatan di seluruh negeri akan menghadapi kebingungan, instruksi siapa yang harus diikuti? 

Apakah suara bibi atau paman, jenderal atau pejabat administrasi lainnya. Ini adalah masalah paling sulit ditangani yang biasanya muncul dalam sistem otokratis ketika menghadapi krisis pemerintahan. Umumnya kekacauan besar terjadi pada saat ini. 

Oleh karena itu, badan intelijen negara-negara tetangga seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Rusia dan Amerika Serikat cukup tegang dalam mengikuti perkembangan situasi ini.

Keterangan foto: Dalam beberapa hari terakhir ini, berita tentang kesehatan Kim Jong-un adalah yang paling menarik perhatian di Asia. (  Epoch Times Hongkong)

sin/rp 

Video Rekomendasi