Xia Yu
The New York Times melaporkan pada 6 September 2020 lalu, bahwa peretas intelijen Partai Komunis Tiongkok sedang mencari target yang mereka anggap rentan diserang untuk mencuri informasi tentang vaksin virus Partai Komunis Tiongkok. Peretas Partai Komunis Tiongkok tidak hanya menargetkan perusahaan farmasi, mereka juga meretas Universitas North Carolina dan sekolah lain yang terlibat dalam penelitian terkait vaksin. Partai Komunis Tiongkok menganggap bahwa jaringan/internet universitas relatif lemah dan mudah diserang.
Laporan itu mengatakan, menurut pejabat Amerika Serikat dan mantan pejabat yang mengetahui operasi intelijen, Partai Komunis Tiongkok juga secara diam-diam menggunakan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memandu operasi peretasannya terhadap penelitian vaksin di Amerika dan Eropa.
John C. Demers, seorang pejabat senior dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat, menyatakan dalam sebuah acara yang diadakan oleh Center for Strategic and International bulan lalu bahwa itu adalah sesuatu yang mengejutkan jika Partai Komunis Tiongkok tidak mencoba untuk mencuri hasil penelitian biomedis yang paling berharga.
“Dari segi finansial (informasi vaksin) itu sangat berharga, dari segi geopolitik juga sangat bernilai,” ujar John C. Demers.
Partai Komunis Tiongkok Gunakan WHO untuk Mendapatkan Informasi Vaksin, Mendorong AS untuk Bersikap Keras pada WHO
Laporan tersebut mengatakan bahwa masih belum jelas bagaimana Partai Komunis Tiongkok memanfaatkan pengaruhnya di WHO untuk mengumpulkan informasi tentang penelitian dan pengembangan vaksin global.
Mantan pejabat intelijen Amerika Serikat mengatakan bahwa WHO memang sedang mengumpulkan data tentang vaksin yang sedang dikembangkan, dan banyak dari data tersebut juga telah dipublikasikan. Akan tetapi peretas Tiongkok memperoleh keuntungan dari akses awal informasi tentang penelitian vaksin virus.
Menurut mantan dan pejabat Amerika itu, saat ini, setelah virus Partai Komunis Tiongkok menyebar di Amerika Serikat, pejabat intelijen Amerika mengetahui tentang upaya Partai Komunis Tiongkok pada awal Februari silam. CIA dan badan-badan lainnya memantau dengan cermat tindakan Tiongkok di dalam institusi internasional, termasuk WHO.
Kesimpulan intelijen itu mendorong Gedung Putih untuk mengambil tindakan tegas terhadap WHO pada Mei 2020 lalu.
Penelitian Vaksin Universitas AS Adalah Target
Pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa selain Universitas Carolina Utara, peretas Partai Komunis Tiongkok juga menargetkan universitas di Amerika lainnya. Jaringan di beberapa universitas mungkin telah disusupi.
John C. Demers mengatakan dalam pidatonya bahwa Komunis Tiongkok telah melakukan “banyak serangan,” yang melampaui konten yang diungkapkan oleh Kementerian Kehakiman dalam dakwaan Juli 2020 lalu.
Surat dakwaan itu menuduh dua peretas dari agen Kementerian Keamanan Nasional Tiongkok berusaha mendapatkan informasi vaksin dan penelitian dari perusahaan biotek Amerika.
Dua orang yang mengetahui masalah itu mengatakan bahwa pejabat FBI telah memperingatkan University of North Carolina tentang peretasan dalam beberapa pekan terakhir. Tim peretas Partai Komunis Tiongkok mencoba masuk ke jaringan komputer departemen epidemiologi universitas tersebut, tetapi gagal menembus sistem komputer mereka.
Mencoba Mengganggu Ahli Medis Amerika
Selain serangan hacker, Partai Komunis Tiongkok juga berupaya menyusup ke universitas-universitas Amerika dengan cara lain. Menurut beberapa pejabat pemerintah, Partai Komunis Tiongkok mencoba menggunakan kemitraan penelitian yang didirikan oleh universitas Amerika dan institusi Tiongkok.
Pejabat lain memperingatkan bahwa personel intelijen Partai Komunis Tiongkok di Amerika Serikat dan di tempat lain mencoba mengumpulkan informasi tentang peneliti Amerika. Menurut FBI, pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memerintahkan penutupan konsulat Tiongkok di Houston pada 22 Juli. Sebagian karena agen Partai Komunis Tiongkokmenggunakan konsulat Tiongkok sebagai pos terdepan dalam upaya untuk mengganggu ahli medis di kota tersebut.
The New Times melaporkan bahwa pejabat intelijen Tiongkok memfokuskan serangan mereka pada universitas, sebagian karena mereka percaya bahwa perlindungan data dari institusi ini tidak sekuat perusahaan farmasi.
Seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat mengatakan pada briefing intelijen bahwa ketika para peneliti berbagi lebih banyak pilihan vaksin dan terapi antivirus untuk tinjauan sejawat, pekerjaan spionase juga meningkat, yang memberi lawan lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan formulasi dan pengembangan vaksin.
Sejauh ini, pejabat Amerika percaya bahwa mata-mata asing hampir tidak memperoleh informasi apa pun dari perusahaan biotek Amerika. Perusahaan yang menjadi sasaran dari mata-mata asing ini termasuk Gilead Sciences, Novavax, dan Modena.
Mike Pompeo: Partai Komunis Tiongkok Ingin Secepatnya Meluncurkan Vaksin untuk Tujuan Politik dan Diplomatik
Pada 4 September lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Hugh Hewitt Show, bahwa Partai Komunis Tiongkok dan Rusia ingin secepatnya meluncurkkan vaksin virus Partai Komunis Tiongkok untuk keuntungan politik dan diplomatik, dan bahwa kepercayaannya pada WHO saat ini nyaris nol.
Hugh Hewitt mempertanyakan, Tiongkok dan Rusia sama-sama mengklaim telah membuat kemajuan besar dalam pengembangan vaksin. Apakah salah satu dari kedua negara ini dapat dipercaya? Apakah Organisasi Kesehatan Dunia dapat dipercaya? Karena Tiongkok dan Rusia kembali ikut campur dalam pemilihan Amerika Serikat, bagaimana bisa mempercayai klaim mereka atas vaksin?
Pompeo pertama kali menyebutkan prinsip “ketidakpercayaan dan verifikasi” ketika dia berbicara tentang Partai Komunis Tiongkok dalam pidatonya di California Selatan pada 23 Juli lalu.
“Vaksin dari negara / wilayah ini (Tiongkok dan Rusia), saya pikir ini (ketidakpercayaan dan verifikasi) adalah pemikiran yang benar yang harus digunakan. Seluruh dunia harus berpikir dengan hati-hati dan memastikan bahwa kita memiliki data ilmiah yang nyata. Sama seperti yang kami minta dari organisasi mana pun yang berencana menjual dan mendistribusikan vaksin,” kata Pompeo.
Pompeo menegaskan tngkat kepercayaan dirinya pada kemampuan Organisasi Kesehatan Dunia untuk bertindak berdasarkan sains daripada politik, mendekati nol.
Menurut Pompeo, Tiongkok dan Rusia sangat antusias untuk meluncurkan vaksin ke pasar, bukan untuk terobosan medis atau terobosan epidemiologis, tetapi untuk terobosan politik dan diplomatik. Ini tidak sesuai dengan kepentingan terbesar dunia.
Pompeo menilai, jika membeli vaksin yang tidak efektif dari Tiongkok dan Rusia, itu bisa saja menyebabkan kerusakan dan hilangnya nyawa lebih lanjut.
“Kita telah melihat Partai Komunis Tiongkok menutupi virus dari negara mereka. Saya berharap mereka tidak mengambil tindakan yang semakin memperburuk risiko di dunia ini,” kata Pompeo. (Jon/rp)
Editor : Ye Ziwei
Video Rekomendasi :


