Membongkar Kebohongan Partai Komunis Tiongkok

Wu Huilin

Pada Debat Umum Sesi ke-75 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui konferensi video, pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping mengatakan bahwa “Tiongkok akan menghormati komitmennya untuk menyediakan bantuan internasional senilai usd 2 miliar” dan “memberikan dana sebesar 50 juta lagi kepada Rencana Tanggapan Kemanusiaan Global terhadap COVID-19 Perserikatan Bangsa-Bangsa.”

Xi Jinping juga mengklaim, “Kami tidak akan pernah mencari hegemoni, ekspansi, atau  lingkungan pengaruh. Kami tidak punya niat untuk berperang baik perang dingin atau perang panas dengan negara manapun. Kami akan terus mempersempit perbedaan dan menyelesaikan perselisihan dengan orang lain melalui dialog dan negosiasi.”

Xi Jinping menekankan, “Kami tidak berusaha untuk mengembangkan diri kami saja atau terlibat dalam permainan dengan hasil-nol. Kami tidak akan mengejar pengembangan di balik pintu tertutup.”

Pembicaraan lembut semacam ini bisa jadi adalah persuasif, dan bahkan beberapa orang mungkin percaya apa yang dikatakan Xi Jinping. Tetapi saya pikir hanya sedikit orang yang akan mendengarkannya, terutama mereka yang bersikeras “orang-orang berbohong tetapi terkadang mengatakan yang sebenarnya.” 

Lagipula, dengan adanya perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok, penerapan hukum keamanan nasional versi Hong Kong yang benar-benar menghancurkan “satu negara, dua sistem” milik Hong Kong, dan penyebaran COVID-19, Partai Komunis Tiongkok sudah jelas menunjukkan sifatnya yang “palsu, jahat, dan berkelahi.”

Seperti yang dinyatakan dalam seri tajuk rencana The Epoch Times, “Sembilan Komentar mengenai Partai Komunis,” “Mempercayai perkataan Partai Komunis — tidak peduli apapun masalahnya — akan mengorbankan nyawa seseorang.” Kita telah melihat ini terjadi berulang kali dan orang-orang di dunia tidak boleh naif.

Pernyataan Xi Jinping terdengar akrab. Pada tanggal 10 April 1974, mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok Deng Xiaoping berkata di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa: “Tiongkok bukanlah kekuatan super, Tiongkok juga tidak akan pernah berusaha menjadi nomor satu. … Jika suatu hari Tiongkok harus berubah menjadi kekuatan super, jika Tiongkok juga harus menyalahgunakan kekuasaan di dunia, dan di mana-mana menundukkan negara-negara lain dengan cara menindas, agresi dan eksploitasi, orang-orang di dunia harus mengidentifikasi Tiongkok sebagai sosial-imperialisme, paparkan Tiongkok, lawan Tiongkok dan bekerjasamalah dengan rakyat Tiongkok untuk menggulingkannya.”

Secara kebetulan, saat Hong Kong kembali ke pangkuan Tiongkok pada tahun 1997, Deng Xiaoping menjanjikan adanya otonomi tingkat tinggi di Hong Kong selama 50 tahun, termasuk  kemerdekaan peradilan, kebebasan pers, kebebasan, dan supremasi hukum. Namun, situasinya berubah hanya dalam 23 tahun kemudian, dan Hong Kong dihancurkan di tangan dari rezim saat ini. Xi Jinping mengulangi apa yang dikatakan Deng Xiaoping 46 tahun lalu, tetapi kenyataannya dunia telah “diam-diam dijajah” oleh Partai Komunis Tiongkok, yang menindas, menyerang, dan mengeksploitasi seluruh dunia.

Dua jurnalis Spanyol telah menghabiskan dua tahun bepergian ke 25 negara dan melakukan lebih dari 500 wawancara, mengungkap korupsi Komunis Tiongkok yang diam-diam menjajah di dunia. Dua jurnalis Spanyol tersebut mendokumentasikan temuan dalam buku mereka, “China’s Silent Army.”

Dua jurnalis Spanyol tersebut menemukan bahwa Tiongkok sedang menjarah sumber daya alam bumi dan mengambil keuntungan dari orang-orang di seluruh dunia — dari gas alam di Turkmenistan, pusat perbelanjaan di Dubai hingga tambang-tambang di Kongo. Produk dan tenaga kerja dari Tiongkok sedang mengubah model bisnis global. Pedagang Tiongkok tidak hanya menempati jalan utama paling makmur di Dhaka, ibukota Senegal, tetapi juga mengambil alih hutan dan tambang batu giok di Burma. Di Peru, seorang penambang bekerja untuk sebuah perusahaan milik negara Tiongkok berkata: “Kami merasa seperti hidup di koloni Tiongkok.” 

Perusahaan Tiongkok juga mendatangkan buruh-buruh Tiongkok ke Afrika, para pekerja luar negeri yang dilecehkan, merusak lingkungan di berbagai tempat, dan bahkan berkolusi dengan para pejabat politik yang serakah dari berbagai  negara untuk memanfaatkan para pejabat politik tersebut, menurut dua jurnalis Spanyol itu.

Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Tiongkok tumbuh dengan mengeksploitasi tenaga kerja dan membayar upah rendah. Barang-barang  yang sangat murah yang dihasilkan dari sangat memeras keringat pekerjanya menyebabkan “deflasi” global. Hal itu juga menyebabkan ketidakpuasan di luar negeri, melalui boikot, pembalasan, dan bahkan kerusuhan. “Pembakaran sepatu-sepatu Tiongkok” di Elche, ibukota industri alas kaki di Spanyol, pada bulan September 2004 adalah contoh yang terkenal. 

Beberapa pemilik bisnis Tiongkok perantauan di Spanyol mengimpor produk alas kaki yang murah dalam jumlah besar dari Tiongkok serta membuka pabrik sepatu dan toko grosir dan eceran sepatu bergaya gudang di Elche. 

Sepasang sepatu Tiongkok yang bagus dikirim ke Spanyol hanya seharga lima euro, sedangkan harga terendah sepatu buatan Spanyol adalah delapan euro. Selisih harga tiga euro tersebut memberi keuntungan besar bagi sepatu Tiongkok di pasar Spanyol. 

Saat itu, ada belasan toko sepatu Tiongkok di Elche yang memaksa pabrik sepatu Spanyol tutup satu per satu. Tidak hanya Spanyol, bahkan kekuatan ekonomi nomor satu dunia, Amerika Serikat, merasakan ancaman produk “harga rendah” Tiongkok. 

Buku “Death by China: Confronting the Dragon—A Global Call to Action” atau “Kematian oleh Tiongkok: Menghadapi Naga — Seruan Bertindak Global” oleh Penasihat Gedung Putih Peter Navarro dan seorang ahli bernama Greg Autry menjelaskan bagaimana kenaikan ekonomi Tiongkok mengancam ekonomi Amerika Serikat. 

Buku tersebut menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok menggunakan semua senjata yang mungkin — proteksionisme, manipulasi mata uang, serangan dunia maya, dan spionase — untuk meluncurkan serangan di setiap lini. 

Di Amerika Serikat, beberapa produk Tiongkok, yang mencakup makanan dan mainan beracun, dan obat-obatan yang tercemar, telah menyebabkan kerugian serius atau bahkan membunuh konsumen. Pada saat yang sama, perusahaan besar Amerika Serikat membentuk aliansi dengan perusahaan milik negara Tiongkok sendiri, yang menghancurkan manufaktur Amerika Serikat.

Menghadapi rezim Tiongkok telah menjadi prioritas utama pemerintahan Donald Trump. Tujuan utamanya adalah untuk membangkitkan seluruh dunia untuk menentang Partai Komunis Tiongkok dan bekerja sama dengan orang-orang Tiongkok untuk mengalahkan Partai Komunis Tiongkok. Saat ini telah mencapai titik kritis.

Bagaimana kita dapat terus percaya pada kebohongan Partai Komunis Tiongkok, dan tidak terburu-buru untuk membentuk aliansi di bawah kepemimpinan Amerika Serikat untuk menggulingkan rezim Partai Komunis Tiongkok dan menyelamatkan dunia dari penghancuran?

Wu Huilin, Ph.D., mantan profesor Ekonomi Universitas Nasional Taiwan, adalah sarjana tamu di Departemen Ekonomi Universitas Chicago, peneliti di Lembaga Penelitian Ekonomi Chung-Hua, profesor di Universitas Shih Hsin dan profesor di Institut Teknologi Pascasarjana & Pendidikan Kejuruan di National Taipei University of Technology. Dia menulis “The Surface and Truth of China’s Economic Reform,” dan menerbitkan lebih dari 100 artikel ilmiah dan komentar terkini

Keterangan Foto : Pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping memberikan pidato selama sesi pembukaan Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok ke-19, yang diadakan di Aula Besar Rakyat di Beijing pada 18 Oktober 2017. (Etienne Oliveau / Getty Images)

Video Rekomendasi :

https://www.youtube.com/watch?v=LEL3oEW7jdg

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine