Mengapa Lebih Banyak Pendukung & Penghujat Trump Daripada Pemerhati Biden?

DR. XIE TIAN

Dalam Pilpres AS 2020, ada satu fenomena yang sangat menarik, selain media massa arus utama yang bobrok, dalam acara kampanye, media sosial dan media lainnya, tidak sulit bagi masyarakat untuk melihat, di Amerika orang yang mendukung dan menghujat Trump sangat banyak; tapi sebaliknya, orang yang memerhatikan Biden, baik mendukungnya atau menentangnya, sangat sedikit. 

Sebagai contoh, Biden yang merupakan mantan wakil presiden dalam acara kampanye di Florida pada 13 Oktober lalu, jumlah yang hadir sangat sedikit, bahkan mobil pun menjadi penonton. Sedangkan sehari sebelumnya kampanye Trump juga di Florida pada 12 Oktober lalu, jumlah hadirin membludak, apron bandara berjejal sesak oleh warga. Fenomena yang sama juga terjadi di negara bagian krusial lainnya, seperti di Pennsylvania, North Carolina, Georgia, dan lain-lain. Mengapa demikian? Apa makna semua ini terhadap hasil pemilu presiden yang akan digelar pada 3 November mendatang?

Di kalangan warga pemilih etnis Tionghoa, dan juga di media sosial, acap kali ada yang bertanya, mengapa ada penggemar dan pembenci Trump, tapi tidak ada penggemar dan pembenci Biden? “Penggemar Trump”, adalah para “fans Trump” yang sangat mendukung agar Trump menjabat kembali; “pembenci Trump”, adalah orang-orang yang sangat menentang dan selalu berusaha menghujat Trump. 

Sedangkan penggemar dan pembenci Biden, adalah orang yang mendukung capres Partai Demokrat Biden, serta orang yang menentang, menghujat Biden. Penggemar yang mendukung Trump sangat banyak, ini tidak sulit dilihat melalui media sosial, dari survey dadakan yang acap kali dilakukan di jaringan media sosial juga menunjukkan hal yang sama. “Pembenci Trump” yang menentang Trump juga tak sedikit, jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan pendukung Trump, tapi mereka luar biasa aktif, jumlahnya tidak banyak tapi suara mereka sangat keras. 

Di dalamnya terdapat pendukung turun temurun Partai Demokrat, ada pula penuduh Trump yang tidak suka dengan kepribadiannya, juga kaum intelek dan akademisi ekstrim kiri, tentu saja banyak pula terdapat kaum pengikut PKT, propaganda Wumaodang (Partai 50 Sen) dan orang-orang yang dikuasai dan disuap oleh PKT.

Dalam jaringan media sosial etnis Tionghoa, rasio pendukung Trump, pembenci Trump, pendukung Biden, dan pembenci Biden, menurut perkiraan kasar oleh penulis secara persentase, rasio pendukung Trump dengan pendukung Biden adalah sekitar 90:10. Dan dari 90% pendukung Trump itu, juga ada rasio “pendukung Biden”, sekitar 20%; dari 10% pendukung Biden, yang juga merupakan rasio “pembenci Trump, sekitar 9%. 

Dengan kata lain, mayoritas pendukung Trump hanya menyukai dan mendukung Trump, mereka sama sekali tidak peduli dengan Biden; sedangkan mayoritas pendukung Biden, pada dasarnya sebagian besar mereka adalah “pembenci Trump” yang aktif, karena mereka sangat membenci  Trump.

Ini juga sama dengan pandangan masyarakat sebelumnya, yakni para pendukung Trump, sangat antusias  dan perhatian, karena mereka setuju dengan pemikiran Trump dan  mendukungnya; para penentang Trump yang mendukung Biden, banyak di antaranya adalah karena mereka sangat membenci Trump, dan bukan karena mereka menyukai Biden. 

Dengan kata lain, Biden tidak banyak disukai masyarakat, hanya saja dijadikan boneka di podium oleh kaum sayap kiri! Hal ini pun menjelaskan mengapa dalam  kampanye Trump selalu dipenuhi sesak oleh pendukungnya dan sangat meriah; sedangkan dalam kampanye Biden pengunjung sangat sedikit dan tidak semarak.

Banyak yang mengatakan, mengamati pilpres AS kali ini ibarat membaca sebuah buku yang sangat menarik, masyarakat membaca halaman demi halaman, menikmatinya, memerhatikan secara teliti, perlahan-lahan dapat melihat iblis bersembunyi di dalamnya, mereka pun perlahan-lahan menjadi semakin mendukung Trump. 

Banyak orang Amerika yang lahir dan hidup di AS, seiring dengan semakin mendalami kondisi pemilu ini, ramai-ramai mengatakan situasi sangat berbahaya, dalam hidup mereka belum pernah ada perasaan seperti ini sebelumnya. Masyarakat mulai menyadari, jika Trump sampai kalah, maka sayap kiri akan berhasil, tidak hanya demokrasi AS akan menemui ajalnya, seluruh dunia pun akan terjebak dalam kegelapan, umat manusia akan mengalami bencana yang lebih besar!

Masyarakat yang baik, khususnya yang tidak begitu memerhatikan pilpres 2016, mungkin kali  ini pun ikut maju, karena pilpres kali ini telah bersinggungan dengan faktor positif. Masyarakat telah  melihat, orang yang percaya Tuhan, cinta   damai dan ketentraman, tokoh agama, umat beragama, tokoh agama Yahudi konvensional, kaum Amish yang tidak pernah ikut pemilu sebelumnya, warga AS etnis Tionghoa yang biasanya tidak memberikan suaranya, warga AS etnis kulit hitam yang “BLEXIT” yang sudah sadar, ramai-ramai maju, tidak lagi menutupi pandangan mereka, dan menyatakan mendukung Trump. Karena mereka menyadari, ini bukan hanya sebuah pilpres AS biasa, ini adalah perang pemilu yang sangat krusial yang menyangkut nasib dan masa depan AS, menyangkut orientasi dunia, dan menyangkut apakah umat manusia mampu menerobos kekuasaan roh jahat PKT!

Pilpres kali ini juga menyinggung faktor yang negatif.  Karena slogan Trump, pemikiran Trump, dan realisasinya selama tiga tahun, kembali ke tradisi dan konservatif, kembali ke nilai kehidupan, membangkitkan kembali kepercayaan kepada Tuhan, membangkitkan hukum dan ketertiban, telah menyinggung kehidupan banyak orang. 

Orang-orang itu memilih progresivisme, memilih kebebasan dan pelampiasan tanpa batas, memuja ateisme dan teori evolusi yang sesat, tidak mengindahkan hukum dan ketertiban, di bawah kekayaan setara dan panji komunisme, mereka berusaha membawa AS menuju jurang yang dalam. 

Itulah sebabnya mengapa mereka pun berusaha menentang dan menghujat Trump secara membabi-buta. Orang-orang ini sama sekali bukan “pemuja Biden”, karena mereka menganggap Biden kurang berhaluan kiri, dan kurang ekstrem. Biden yang menyedihkan, ini adalah pos terakhir dari karir politiknya. Diperkirakan setelah kalah pemilu, ia akan dengan cepat dilupakan, dan para tokoh ekstrem kiri yang memanfaatkannya, akan terus mendorongnya menuju jalan kematian ekstrem kiri dan sosialisme, terus dipacu hingga akhirnya babak belur.

Masyarakat tahu, pilpres AS 2020, sangat dinantikan dan disoroti oleh semua orang, karena ini adalah kekuatan tradisional dan konservatisme AS, adalah sebuah duel terakhir yang paling sengit melawan kekuatan sayap kiri yang ekstrem dan sosialis!

Pemilu lebih awal di Georgia bagian selatan dilangsungkan pada 12 Oktober lalu, bisa dikatakan yang paling awal di  seluruh AS. Masyarakat terkejut mendapati,  hari pertama pada pemilu yang lebih awal itu, banyak warga pemilih di Atlanta dan wilayah sekitarnya mengantri selama 10 jam! Rasio pemungutan suara yang ekstrem tinggi adalah dikarenakan antrian panjang sebagai faktor utamanya, bahkan di pusat pemberian suara lebih awal, sebelum dibuka dan langit masih gelap warga pemilih sudah berada di lapangan parkir dan berkeliaran di sekitarnya. Wakil gubernur negara bagian Georgia Jordan Fuchs menyatakan, hingga hari Senin malam, setidaknya sebanyak 120.000 orang warga pemilih telah memberikan suaranya.

Waktu menunggu di negara bagian Georgia, yang direfleksikan  adalah  tren pemungutan suara awal serupa  di  seluruh negeri AS! warga pemilih berharap memberikan suaranya sebelum waktunya, karena khawatir paparan virus serta tertundanya pengiriman pos mungkin dapat memperumit penyerahan suara yang tidak hadir, juga menunjukkan perhatian sangat besar warga terhadap pemilu kali ini.

Para pendukung dan penghujat Trump sangat banyak, sedangkan yang memperhatikan Biden sangat sedikit, apakah ada maknanya? Tentu saja ada. Semakin besar jumlah pendukung Trump,  pendukung yang antusias semakin  banyak, mereka yang memberikan suara pun akan semakin banyak, dengan sendirinya perolehan suara akan tinggi. 

Ini juga mengapa  capres dari kedua partai, sangat berharap dan mendorong para pendukung mereka untuk pergi memberikan suara mereka! Ini karena menyatakan dukungan adalah satu hal, tapi jika tidak memberikan suara itu adalah masalah lain,  kadang   kala   karena  malas, meremehkan, ada urusan mendadak, macet, antri terlalu lama, pada akhirnya tidak mau lagi memberikan suaranya, dan kembali pulang ke rumah. Jadi hanya pendukung yang paling teguh, yang tidak akan takut kesulitan apa pun, antri berjam-jam, dan menyelesaikan proses pemberian suaranya.

Warga yang mendukung dan menghujat Trump sangat banyak, yang memperhatikan Biden sangat sedikit, faktanya juga memperlihatkan fenomena lain: keadilan, sedang meningkat; hati manusia, sedang tersadar; dunia, sedang berubah lebih baik. (sud)

Keterangan Foto : President Donald Trump speaks during a campaign event at the Ocala International Airport in Ocala, Fla., on Oct. 16, 2020. (Joe Raedle/Getty Images)

https://www.youtube.com/watch?v=ncwdD6sJy3o

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine