PKT Provokasi 4 Penjuru Berupaya Tekan Biden

SHEN ZHOU

Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengharapkan Biden akan menempuh kebijakan seperti pemerintahan Obama, secara terus-menerus bersikap toleran terhadap rezim Komunis Tiongkok. Sejak awal 2021, petinggi PKT dengan cepat melakukan serangan ke empat penjuru, termasuk mengerahkan “adik-adik kecilnya” memprovokasi dan menimbulkan kesulitan, dengan niat memberikan tekanan terhadap Biden.

Di awal tahun, Kim Jong- Un menyatakan, Korea Utara akan menginisiasi uji coba nuklir, dan berinisiatif membocorkan bahwa mereka bakal memiliki “semacam senjata strategis yang baru”, yang dapat menjangkau wilayah Amerika. Hampir semua kalangan luar serempak berpendapat, ini lagi-lagi adalah pemerasan nuklir yang dilancarkan oleh Kim Jong-un terhadap Biden.

Pada 2017, menjelang pelantikannya, Trump mengunjungi Obama yang telah turun dari jabatannya, hal-hal apa saja yang harus segera ditangani, Obama memberitahu Trump, mungkin harus bersiap-siap perang dengan Korea Utara. 

Lalu, Trump pun segera mengirimkan 3 armada perang kapal induk berkumpul di Semenanjung Korea untuk mengantisipasi, namun tak lama kemudian Trump segera menemui sendiri Kim Jong- Un. 

Dengan strategi diplomatik, Trump telah mematahkan konspirasi duet Tiongkok-Korut, dan meredakan krisis nuklir Korut. 4 tahun lalu, Biden masih menjabat sebagai wakil presiden; 4 tahun kemudian, masalah nuklir Korea Utara sepertinya kembali lagi ke tangan Biden. 

PKT buru-buru menekan Biden untuk memperbaiki hubungan, lagi-lagi memainkan sandiwara yang sama dengan Korut, berusaha memaksa Biden untuk secepat mungkin bekerjasama dengan PKT, tentunya juga dengan harapan dapat menetralisir situasi konfrontasi militer AS-Tiongkok.

Iran juga telah dikerahkan oleh PKT, bersiap-siap membantu PKT meloloskan diri dari jeratan. Pada 4 Januari lalu, Iran tak hanya gembar-gembor akan mengatakan kadar uranium menjadi 20%, bahkan juga menahan kapal tanker Korea Selatan. Militer AS diyakini juga mendapatkan info intelijen terkait. 

Penjabat Menhan AS, yakni Christopher Miller tadinya memerintahkan kapal induk USS Nimitz untuk kembali ke AS, pada 3 Januari lalu buru-buru memerintahkan kapal induk itu agar tetap tinggal di Laut Arab guna mengawasi kemungkinan ancaman dari Iran. Pesawat Bomber B-52 juga acap kali terbang ke Timur Tengah mengintimidasi Iran.

Pada 6 Januari lalu, media PKT yakni kantor berita Xinhua memberitakan, “Bagaimana ‘Memainkan’ Kartu Iran, Apakah Menarik?”, secara terbuka telah mengungkap hubungan antara PKT dengan Iran. Artikel itu menyebutkan, dendam Komandan Pasukan Quds Iran yakni Qasem Soleimani 1 tahun silam tidak bisa dilupakan, dan  harus  dibalas, serta menyatakan: “Pihak Iran berniat memberi tekanan bagi pemerintahan Biden yang baru menjabat dengan pengayaan uranium.”

PKT tidak hanya memberikan dukungan bagi Iran, namun juga berniat mewakili Biden untuk mengambil keputusan, dengan mengatakan: “Biden dan timnya telah berulang kali menyatakan secara terbuka, AS akan kembali ke Program Nuklir Iran bila Iran menaati perjanjian tersebut”, dan menjelaskan “Program Nuklir Iran rampung di masa pemerintahan Obama, dan oleh Obama dianggap sebagai ‘warisan politik’ di bidang diplomatik, waktu itu presiden terpilih Biden adalah wakilnya.”

PKT masih mengkhawatirkan pihak luar tidak memahami hubungan PKT dengan Iran. Pada 8 Januari lalu kantor berita Xinhua kembali memberitakan: “Iran Menyangkal Kunjungan Perwakilan Korsel Terkait dengan Kapal Tanker Korsel yang Ditahan.” Berita tersebut mewakili Iran menyatakan, kapal tanker Korsel tersebut telah berulang kali melanggar peraturan terkait lingkungan kelautan.

Artikel juga menyatakan, perwakilan Korsel telah tiba di Teheran, untuk membahas “masalah aset dan dana milik Iran yang dibekukan di Korea Selatan” dengan pihak Iran, serta membela pihak Iran dengan menyebutkan “agar Korsel tidak membekukan aset milik Iran di Korsel karena adanya sanksi dari Amerika”, mereka dengan nada bicara Iran mengatakan, Korea Selatan telah membekukan aset Iran senilai USD 7 miliar (99 triliun rupiah) dengan “alasan yang tidak masuk akal”.

Tindakan PKT ini tidak hanya sebagai upaya memberikan tekanan bagi Biden, juga menekan Korea Selatan, walaupun antara AS dengan Tiongkok, pihak Korsel tidak terang-terangan berpihak pada AS, namun juga telah mengambil sikap acuh tak acuh terhadap PKT, ini mem- buat PKT sangat berang, kini karena masalah nuklir  Korut dan Iran menahan kapal tanker Korsel, maka Korsel pun menyusul dijadikan sasaran berikutnya.

PKT mengerahkan adik kecilnya berulah, berusaha memaksa AS bekerjasama dengan PKT, dan PKT sendiri juga telah melakukan berbagai upaya. Pada 1 Januari lalu, surat kabar South China Morning Post mengungkap bahwa pesawat angkut PKT Xi’an Y-20 milik RRT telah tiba di gugus karang Kagitingan Reef, dan dikatakan sedang menguji coba kemampuan daya angkut.  

Pada 4 Januari, Xi Jinping menandatangani perintah Nomor 1 – 2021 Komisi Militer RRT, mengedarkan perintah mobilisasi personel, dan sekali lagi menyebutkan “berfokus pada persiapan perang”, “memastikan siap dan mampu berperang  sewaktu-waktu”, menggertak akan terus berkonfrontasi dengan pasukan AS.

Situs militer PKT pada 9 Januari memberitakan, pada 8 Januari dini hari, seorang prajurit penjagaan perbatasan PKT “telah menghilang akibat gelapnya malam dan kontur wilayah yang berliku- liku”. Berita itu juga menyebutkan, “Media massa India tertentu telah menggoreng peristiwa ini.” 

Pihak India seharusnya segera menyerahkan personel RRT yang hilang itu, menambahkan faktor positif demi peredaan ketegangan wilayah perbatasan RRT-India.

Bagaimana seorang prajurit militer PKT bisa hilang karena gelapnya malam dan berliku-likunya medan? Pernyataan PKT ini jelas sangat berlebihan, dengan pengendalian ketat Tiongkok terhadap pasukannya, sama sekali tidak memungkinkan bagi satu prajurit bisa keluar dari markas seorang diri, yang lebih masuk akal adalah pasukan pengintai yang diutus tertangkap karena melewati perbatasan. 

Ini menandakan, PKT kembali berusaha membuat kerusuhan di perbatasan India, kini hal tersebut berbalik menjadi kontraproduktif, juga berupaya menyalahgunakan peristiwa itu untuk memicu konflik. PKT membalas Korea Selatan, lebih-lebih akan membalas India, di baliknya jelas menyangkut kerja sama militer kedua negara yang erat dengan AS.

Pada 5 Januari, PKT menangkap banyak orang secara illegal di Hong Kong, sedikitnya 55 orang tokoh demokrasi ditangkap, termasuk 1 orang pengacara AS, ini juga merupakan tindakan provokasi secara terang-terangan terhadap AS dan negara Barat. 

Pada 6 Januari, Uni Eropa menghimbau agar Hong Kong membebaskan para tokoh yang ditangkap. Juru bicara European Commission, Peter Stano mengatakan, “Saat ini kami sedang menganalisa situasi, melihat respon seperti apa yang bisa kami lakukan. Kami mungkin akan menempuh tindakan lain, misalnya sanksi.”

Pada 8 Januari kantor berita Xinhua memberitakan “Pihak UE Tidak Berhak Intervensi Urusan Dalam Negeri RRT”. PKT mungkin merasa akan bisa mengatasi Amerika, sehingga tidak lagi segan-segan terhadap Uni Eropa, seketika langsung berubah total dari sikap mengalah Xi Jinping 2 hari menjelang akhir 2020.

20 Januari belum tiba, PKT sudah buru-buru menyerang ke empat penjuru, apakah hal ini justru akan membakar dirinya  sendiri dan berefek kebalikannya? Ini patut dinantikan. (lie)

Keterangan Foto : Pada 9 Januari, kapal serbu amfibi AS USS America (LHA 6) melakukan pelatihan lepas landas dan pendaratan pesawat tempur F-35B di Laut Filipina. (Angkatan Laut AS)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine