He Yating
Pemerintah Norwegia mengumumkan perubahan pedoman vaksinasi virus Komunis Tiongkok, yang menyatakan bahwa orang yang “sangat lemah” tidak boleh divaksinasi. Hal itu seiring kematian 13 orang di negara tersebut yang mungkin terkait dengan efek samping vaksinasi.
Menurut laporan “Epoch Times” versi bahasa Inggris, Norwegian Medicines Agency atau ahli medis Badan Obat Norwegia, Steinar Madsen merilis berita pada Kamis 14 Januari lalu yang mengatakan bahwa Norwegia akan mengubah panduan vaksinasi.
Steinar Madsen mengatakan bahwa badan pemerintah Norwegia dan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional membuat keputusan itu karena mereka menemukan kematian beberapa orang tua dan orang yang “lemah dan sakit” terkait dengan vaksin mRNA (“vaksin Pfizer”) yang dikembangkan bersama oleh pembuat obat Amerika Pfizer dan mitranya dari Jerman, BioNTech.
“Jika kamu sangat lemah, kamu sebaiknya tidak mendapatkan vaksin,” kata Madsen.
Namun, Madsen juga menekankan bahwa ribuan lansia dan orang lemah di Norwegia telah divaksinasi dengan Pfizer, tetapi tidak ada akibat yang fatal yang terjadi.
Badan Obat Norwegia juga menyatakan bahwa sejauh ini, sekitar 25.000 orang di Norwegia telah divaksinasi dengan Pfizer, dan 23 diantaranya telah meninggal dunia. Setelah memeriksa kematian tersebut, ditemukan bahwa penyebab kematian 13 orang mungkin terkait dengan efek samping dari vaksin virus Komunis Tiongkok. Menurut laporan awal, mendiang semuanya lansia dan lemah, semuanya berusia lebih dari 80 tahun.
Kepala dokter badan tersebut, Sigurd Hortemo mengatakan kepada media bahwa efek samping umum dari vaksin mRNA, seperti demam dan mual, dapat menyebabkan kematian beberapa pasien yang lemah.
Vaksin Pfizer yang dikembangkan untuk melawan virus Komunis Tiongkok telah divaksinasi di Amerika Serikat dalam skala besar sejak 27 Desember tahun lalu. Selain vaksinasi pertama oleh staf medis, penduduk lanjut usia di panti jompo juga merupakan salah satu kelompok pertama yang menerima suntikan.
Sebelumnya, Pfizer telah mengumumkan bahwa vaksin yang dikembangkannya memiliki tingkat efektifitas 95% dan tidak ada risiko keamanan yang serius. Namun perusahaan mengakui bahwa dalam uji klinis vaksin ini, banyak relawan yang mengalami efek samping seperti nyeri di tempat suntikan, sakit kepala, pusing atau kelelahan. Namun perasaan tidak enak tersebut biasanya berlangsung selama beberapa hari dan kemudian mereda atau menghilang. (hui)


