China Insider – The Epoch Times
Polisi menggunakan denda lalu lintas untuk memperoleh pendapatan adalah hal yang biasa di daratan Tiongkok. Selama pertemuan Dua Sesi Partai Komunis Tiongkok (PKT) seorang pejabat menyebutkan, polisi elektronik sangat keterlaluan dan salah selama bertahun-tahun. Pasalnya, menghasilkan pendapatan denda yang luar biasa besar bagi departemen kendali lalu-lintas.
Seorang pejabat di Tiongkok memaparkan berbagai praktik curang dilakukan oleh departemen-departemen kendali lalu-lintas, dengan cara melakukan jebakan-jebakan pinalti dan memancing paksaan.
Selama Dua Sesi PKT, Han Deyun, seorang pengacara di Kantor Hukum Suotong, Chongqing juga mengusulkan diadakannya standarisasi penggunaan “polisi elektronik”. Tujuannya, untuk membatasi lingkup bagi departemen-departemen kendali lalu-lintas setempat. Tak lain, untuk menggunakan “polisi elektronik” menghasilkan pendapatan dari denda.
“Polisi elektronik” juga dikenal sebagai mata-mata elektronik atau kamera-kamera pengawasan, dapat menangkap para pengemudi yang menerjang lampu merah, mengebut dan pelanggaran-pelanggaran parkir.
Menurut statistik-statistik resmi, jumlah total denda lalu-lintas pada tahun 2020 adalah sekitar $ 46 milyar , yang berdasarkan pada 275 juta kendaraan di Tiongkok. Denda rata-rata per kendaraan adalah $ 167.
Menurut kata pengantar Han Deyun, di daerah mata-mata elektronik yang padat seperti jalan tol Xinjiang-Beijing, ada banyak rambu-rambu lalu-lintas yang dengan mudah luput dari perhatian para pengemudi saat mengemudi. Sehingga, jumlah pelanggaran rambu-rambu lalu-lintas mencapai 40.790 dalam sebulan, di mana rata-rata terjadi 1.359 pelanggaran rambu-rambu lalu-lintas setiap hari.
Han Deyun menemukan, penempatan rambu-rambu lalu-lintas dan mata-mata elektronik di Tiongkok di jalan-jalan sangat keterlaluan selama beberapa tahun lalu. Walhasil, telah membantu departemen-departemen kendali lalu-lintas menghasilkan sejumlah pendapatan denda yang luar biasa besar.
Misalnya, beberapa kota secara sengaja menerapkan kecepatan maksimum yang lebih rendah. Selain itu, berbagai batas kecepatan pada beberapa jalanan yang rata tanpa daerah penyangga untuk menyelak. Sekali sebuah kendaraan berubah jalur saat jalanan sepi dan melintasi garis-garis, maka dianggap suatu pelanggaran.
Beberapa jalan juga dilengkapi dengan perangkat ultra yang kuat dan berkedip, yang tidak hanya mengakibatkan bahaya-bahaya keselamatan berlalu-lintas, tetapi juga menjadi sebuah jebakan denda. Tujuannya, untuk menghasilkan keuntungan bagi departemen-departemen kendali lalu-lintas.
Mr Lee, seorang polisi Tiongkok, memberitahukan kepada NTD bahwa denda-denda departemen-departemen kendali lalu-lintas terkait dengan denda-denda ekonomi dan fiskal setempat.
“30% Denda tersebut untuk keuangan setempat, 70% adalah untuk departemen-departemen kendali lalu-lintas setempat, sehingga mereka semua memiliki sebuah niat akan hal itu. Kini terdapat pengawasan di mana-mana, kamera-kamera di mana-mana, denda di mana-mana. Hal ini adalah tidak jarang terjadi di Tiongkok.”
Lee mengatakan bahwa masalah tersebut sudah ada sejak bertahun-tahun. Bahkan proposal untuk para perwakilan saat Dua Sesi PKT, tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut selama bertahun-tahun.
Berita-berita mengenai denda-denda polisi lalu-lintas untuk mendapatkan penghasilan adalah umum terjadi di seluruh Tiongkok. Denda tersebut telah menjadi sebuah peluru ajaib bagi departemen-departemen kendali lalu-lintas.
Pada tahun 2014, seorang pensiunan polisi lalu-lintas memaparkan di forum Tianya bahwa brigade polisi lalu-lintas memiliki jatah denda tahunan, yang dialokasikan pada berbagai regu sesuai porsinya. Regu-regu kemudian mengalokasikan kuota-kuota tersebut kepada polisi lalu-lintas di jalan-jalan. Rata-rata polisi lalu-lintas harus memberikan sekitar 2.000 surat tilang setiap hari untuk memenuhi tugasnya. Bonus sebesar 30 persen akan diberikan pada setiap prestasi setiap tahun.
Semua polisi lalu-lintas melampaui kuota-kuota tersebut setiap tahun. Pada Maret 2016, Biro Keamanan Masyarakat Shanghai menyelenggarakan kampanye sebuah peraturan lalu-lintas di jalan-jalan, di mana lebih dari 700 polisi lalu-lintas di kota Shanghai sedang bertugas.
Sebuah pengumuman online mengungkapkan, polisi lalu-lintas tidak akan meninggalkan pekerjaannya tanpa memenuhi jumlah pinalti yang dipaksakan pada hari tersebut. Hal demikian adalah berdasarkan target-target yang ditetapkan oleh Komite Kota Shanghai.
Pada Maret 2018, selama Dua Sesi Partai Komunis Tiongkok, Han Dropang, seorang anggota Komite Kota Guangzhou, mengecam polisi lalu-lintas. Pasalnya, menerapkan denda-denda seperti membuka sebuah mesin pencetak uang.
Satu tim polisi lalu-lintas menerapkan denda 9,7 juta dalam 50 hari, jadi berapa denda yang diperoleh di seluruh Tiongkok, di mana semua denda yang diterapkan oleh polisi lalu-lintas di seluruh laur negeri bermuara?
James Lay, seorang master hukum internasional dari China University of Political Science and Law mengatakan, untuk membantu pemerintah setempat menghasilkan pendapatan, departemen-departemen kendali lalu-lintas memasang berbagai perangkap untuk merampok uang rakyat.
Ia mengungkapkan, beberapa polisi menggambarkan polisi lalu-lintas ini sebagai perampok berizin, yaitu mempermainkan sebuah rambu yang resmi untuk merampok uang rakyat. Bahkan, menghasilkan pendapatan pajak yang tidak mencukupi. Ketika, pendapatan pajak masyarakat tidak mencukupi, para polisi lalu-lintas ini secara diam-diam menggunakan metode ini, yang bersifat merampok dan memeras untuk merampok uang rakyat, untuk mengikis kepemilikan materi rakyat.
Menurut James Lay, karena departemen-departemen pemerintahan setempat pada semua tingkat secara keuangan memeras pendapatan pajak yang resmi tidak cukup untuk mereka, maka mereka membuat departemen-departemen kendali lalu-lintas untuk menciptakan jebakan-jebakan denda. Isu ini telah berulang kali dipaparkan oleh The Epoch Times.
James Lay menegaskan, hal itu diputuskan berdasarkan sifat rezim Tiongkok. Pemerintahan di semua tingkat harus memperoleh uang. Pemerintahan di semua tingkat butuh uang di banyak tempat. Terdapat hal-hal yang amat sangat boros. Apalagi, terlalu banyak pengeluaran yang berbeda untuk mempertahankan stabilitas. Dikarenakan, pendapatan pajak yang normal tidak cukup untuk diboroskan dan dihamburkan oleh mereka, apalagi, tidak cukup bagi mereka untuk “memelihara stabilitas.” Jadi mereka menggunakan berbagai cara tersembunyi untuk meningkatkan pendapatan fiskal.” (vv)


