EtIndonesia. Seiring dengan meningkatnya tren maraton di seluruh dunia, semakin banyak orang yang terlibat dalam latihan dan lomba lari jarak jauh. Dalam program “Kesehatan 1+1” di stasiun televisi New Tang Dynasty, dokter spesialis jantung dr. Liu Zhongping mengingatkan bahwa lari dengan intensitas tinggi dan durasi panjang, apabila dilakukan tanpa persiapan yang memadai atau mengabaikan sinyal tubuh, bisa meningkatkan risiko gangguan jantung hingga kematian mendadak.
Dr. Liu menjelaskan, olahraga kompetitif umumnya memiliki waktu istirahat atau jeda. Berbeda dengan jenis olahraga tersebut, saat seseorang berlari sendiri atau mengikuti maraton, kecenderungan untuk mengandalkan kemauan dan memaksakan diri sangat tinggi. Hal ini sering membuat pelari lupa beristirahat dan tidak cukup minum, sehingga lebih rentan mengalami kejadian serius yang berkaitan dengan jantung.
Risiko Jantung Akibat Lari Intens
Walau lari dikenal sebagai olahraga sederhana dan bermanfaat, jika dilakukan dengan intensitas tinggi, dr. Liu mengungkapkan bahwa beberapa masalah jantung bisa muncul, seperti:
1. Penyakit arteri koroner: Lari intens dapat menyebabkan aliran darah berubah atau pembuluh darah mengalami tekanan. Plak yang menumpuk di dinding arteri bisa pecah secara tiba-tiba dan menyebabkan serangan jantung.
2. Risiko pembentukan gumpalan darah: Lari dengan intensitas tinggi merangsang sistem saraf simpatik dan mengaktifkan trombosit, yang bisa meningkatkan kemungkinan terbentuknya gumpalan darah.
3. Aritmia (gangguan irama jantung): Saat berolahraga keras, jantung memerlukan lebih banyak oksigen. Bila jantung belum terlatih atau memiliki kelainan seperti hipertrofi (penebalan otot jantung) bawaan, maka suplai darah yang tidak mencukupi dapat memicu aritmia berbahaya.
Tiga Tanda Bahaya: Segera Hentikan Aktivitas
Dr. Liu menegaskan bahwa jika selama berlari atau mengikuti maraton Anda mengalami gejala berikut, segera hentikan olahraga dan cari pertolongan medis:
1. Sesak dada, nyeri dada, jantung berdebar kencang: Bisa menjadi tanda kurangnya aliran darah ke jantung, serangan jantung, atau aritmia.
2. Pusing atau pandangan gelap: Menandakan bahwa fungsi jantung terganggu, sehingga aliran darah ke otak tidak mencukupi, yang dapat menjadi gejala awal stroke atau hipoksia otak.
3. Kelemahan atau kram pada tangan dan kaki: Mungkin disebabkan oleh dehidrasi atau ketidakseimbangan elektrolit. Dalam situasi ini, penting untuk segera beristirahat serta minum air dan larutan elektrolit.
Dr. Liu memberikan peringatan khusus: Berbeda dengan olahraga lain, lari dan maraton tidak memiliki jeda istirahat resmi. Para peserta sering lupa mengisi ulang cairan dan elektrolit, padahal ketidakseimbangan elektrolit adalah salah satu penyebab utama aritmia yang dapat berujung pada kematian mendadak.
Catatan Penting bagi Peserta Maraton
Sebuah studi menunjukkan bahwa dari setiap 100.000 peserta maraton, terdapat sekitar 0,6 hingga 1,9 kasus kematian mendadak karena gangguan jantung, dengan rata-rata usia korban antara 37 hingga 48 tahun.
Dr. Liu menjelaskan, meskipun angka ini tampak kecil, jumlah peserta maraton bisa mencapai ribuan hingga puluhan ribu orang, sehingga risiko tetap nyata. Ia menambahkan bahwa pria di atas usia 40 tahun lebih rentan mengalami kejadian fatal, karena mereka lebih mungkin menderita penyakit jantung koroner, aritmia, atau kardiomiopati hipertrofik bawaan.
Tips dr. Liu untuk mencegah kejadian fatal sebelum maraton:
· Mulailah latihan fisik minimal dua bulan sebelumnya
· Dapatkan bimbingan dari pelatih berpengalaman
· Lakukan pelatihan secara bertahap dan terukur
Saat lomba berlangsung:
· Minum air dan elektrolit secara teratur sesuai rencana
· Gunakan pengingat di jam tangan atau berdasarkan jarak tempuh
· Amati sinyal tubuh: jika muncul sesak dada, pusing, atau kelemahan otot—segera berhenti dan cari bantuan medis
Setelah lomba:
· Segera isi kembali cairan dan elektrolit
· Berikan tubuh waktu istirahat yang cukup
· Hindari alkohol dan begadang agar tidak membebani jantung lebih lanjut
4 Tips Aman Berlari
Agar masyarakat dapat berlari dengan aman dan tetap sehat, dr. Liu memberikan 4 saran utama:
1. Bertahap dan terukur: Tingkatkan intensitas olahraga secara mingguan atau bulanan. Terutama untuk orang usia 40 tahun ke atas, karena kemampuan tubuh mengatur keseimbangan elektrolit mulai menurun, dan risiko masalah jantung pun meningkat.
2. Jangan memaksakan diri: Sesuaikan olahraga dengan kondisi tubuh. Seiring bertambahnya usia, berolahragalah sesuai kemampuan, jangan sampai terlalu memaksakan.
3. Cari teman berlari: Berlari bersama orang lain meningkatkan faktor keamanan, karena jika terjadi keadaan darurat, Anda bisa segera dibantu.
4. Periksa jantung terlebih dahulu: Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung atau usia di atas 40 tahun, lakukan pemeriksaan jantung terlebih dahulu sebelum memulai olahraga intens. Bila ditemukan adanya penyumbatan di arteri atau kardiomiopati, hal ini bisa segera ditangani untuk mencegah kejadian fatal.
Olahraga Kompetitif = Risiko Jantung Lebih Tinggi
Dr. Liu juga menekankan bahwa olahraga kompetitif seperti basket dan sepak bola memiliki risiko jantung yang tinggi, karena:
1. Gerakan intens + tekanan kompetisi: Olahraga ini menuntut aktivitas fisik sangat tinggi. Demi kemenangan, pemain cenderung mendorong tubuh mereka melebihi batas kemampuan jantung.
2. Cuaca ekstrem di luar ruangan: Bermain dalam cuaca panas atau dingin berlebihan akan meningkatkan beban jantung secara signifikan.
3. Benturan fisik: Kontak fisik yang keras, seperti terkena sikut atau bahu ke dada, bisa langsung memicu aritmia serius atau bahkan henti jantung mendadak.
Olahraga Ringan Juga Bisa Menyimpan Risiko
Bahkan olahraga ringan seperti croquet atau golf, menurut dr. Liu, juga menyimpan risiko tersembunyi bagi lansia.
Banyak orang tua beranggapan bahwa jalan santai setiap hari sudah cukup sebagai olahraga. Padahal, waktu, intensitas, dan pelatihan jantung-paru yang dibutuhkan tidak terpenuhi. Terlebih jika olahraga ringan seperti croquet atau golf dilakukan secara mendadak dalam durasi lama, itu bisa melebihi kapasitas fisik dan memberatkan jantung.
Risiko tambahan:
· Aktivitas berlangsung lama di luar ruangan → dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit
· Lansia memiliki kemampuan rendah untuk menyesuaikan kadar cairan dan elektrolit → aritmia yang bisa berakibat fatal
Tips dr. Liu untuk lansia yang melakukan croquet dan golf:
1. Istirahat teratur: Berhenti setiap 30–60 menit dan konsumsi air serta elektrolit.
2. Berolahraga secara rutin: Hindari aktivitas fisik dalam jumlah besar setelah lama tidak berolahraga.
3. Latihan kelenturan: Latih kekuatan otot dan fleksibilitas sendi secara berkala untuk mencegah cedera saat bergerak.
4. Jaga mental tetap rileks: Nikmati prosesnya, hindari ambisi berlebihan, jangan memaksakan diri—olahraga seharusnya membuat Anda bahagia dan santai.(jhn/yn)


