EtIndonesia. “Manusia tidak mungkin dikuasai oleh kecerdasan buatan, karena manusia tidak bisa menciptakan makhluk yang lebih cerdas dari dirinya sendiri.” – Jack Ma.
“Saya sangat tidak setuju. Kita bisa menciptakan sesuatu yang lebih cerdas dari manusia, meskipun bukan dalam bentuk manusia.” – Elon Musk
Pada 29 Agustus, di acara pembukaan Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia 2019 di Shanghai, Jack Ma dan CEO Tesla, Elon Musk, terlibat perdebatan sengit di atas panggung.
Terlepas dari apakah AI (Artificial Intelligence) sudah lebih pintar dari manusia atau belum, satu hal yang tak bisa disangkal: AI telah merambah hampir ke seluruh aspek kehidupan manusia—termasuk ke dalam dunia seni yang dulunya dianggap eksklusif milik manusia. Bila kerja sama antara seniman dan AI hanya menciptakan medium baru untuk berekspresi, maka kemampuan AI untuk menciptakan seni secara mandiri benar-benar membuka gerbang menuju dunia yang sama sekali baru.
Dalam dunia seni yang sangat menekankan kreativitas dan imajinasi, kehadiran AI membawa pertanyaan besar: Apa arti “seni” di zaman sekarang? Apakah semua orang kini bisa menjadi seniman? Para seniman yang berada di garis depan perkembangan ini pun memberikan jawaban mereka masing-masing.
1. Pengalaman Langsung di Pameran: Kendali Gerak Tubuh dan AR “Lintas Waktu”
Di area pameran IBM dalam Konferensi AI Dunia 2019, cukup angkat tangan membentuk simbol hati di atas kepala dan hitung mundur 5 detik, kamu sudah bisa “mengaktifkan” astronot CIMON untuk “mendarat di Bulan”. Di layar, sang astronot akan meniru gerakan tubuhmu, seolah mewakilimu dalam misi luar angkasa. Foto hasil interaksi ini pun bisa langsung kamu unduh dan unggah ke media sosial.
CIMON sendiri adalah astronot AI pertama dari IBM yang pernah membantu misi pendaratan manusia ke bulan 40 tahun lalu.
Sementara itu, di area pameran “Lulus Ujian Kekaisaran” hasil kolaborasi antara perusahaan teknologi SenseTime dan Museum Istana (Forbidden City), cukup dengan melakukan gestur salam tradisional, kamu bisa “menyelinap” ke masa lalu dan berinteraksi serta berfoto dengan Confucius. Teknologi pengenalan wajah bahkan bisa “mengubahmu” menjadi calon sarjana zaman kuno yang sedang mengikuti ujian kekaisaran di Beijing.
Lalu ada karya seni interaktif berjudul “Migrasi Gaya Jalan Nanjing Barat” oleh seniman muda Li Yuansu yang menggunakan teknologi AI. Kamera akan menangkap gambar pengunjung, kemudian memprosesnya melalui teknologi deteksi tubuh, pemisahan latar, dan interaksi manusia-mesin. Dengan menggabungkan pembelajaran terhadap gaya lukisan Li sebelumnya, komputer menghasilkan karya seni secara real-time. Hasilnya: tubuh pengunjung secara langsung berubah menjadi bagian dari karya bergaya artistik di layar.
2. Interaksi Mengundang Reaksi: Seniman Kini Melukis “Objek Cerdas”
Sejak memasuki era AI, kolaborasi antara kreativitas manusia dan algoritma komputer menjadi tren baru. Beberapa contoh menarik:
· 2017: Google meluncurkan AutoDraw, alat menggambar yang secara otomatis menyempurnakan sketsa sederhana menjadi gambar utuh dengan bantuan AI.
· 2018: Studio digital OUCHHH menggelar pameran PoeticAI di Paris. AI menganalisis teks-teks dari ilmuwan besar sepanjang sejarah, mengubahnya jadi gambar dan cahaya lalu memproyeksikannya melalui 136 proyektor di ruang seluas 3300 m².
· Di tahun yang sama, lukisan AI Potret Edmond de Belamy terjual dalam lelang Christie’s seharga USD 432.500 (sekitar 3 miliar rupiah).
Li Yuansu mengamati tren baru: seniman yang dulunya gemar menggambar manusia, bunga, atau pemandangan, kini mulai menggambarkan benda-benda cerdas.
“Jika dulu seniman melukis permukaan air yang berkilau, sekarang mereka justru tertarik menggambar layar kalkulasi komputer atau LED yang berkelap-kelip,” ujarnya.
Ini menjadi inspirasi terbalik: AI justru memberi manusia ide baru untuk berkarya.
3. AI Terus Berevolusi: Dari Menulis Puisi, Bernyanyi, Kini Melukis
Pada Mei 2014, Microsoft (Asia) meluncurkan chatbot AI bernama Xiaoice—karakter gadis remaja yang berfokus pada hubungan emosional dengan pengguna. Dalam 5 tahun, Xiaoice terus mengembangkan kemampuan: menerbitkan kumpulan puisi, bernyanyi, menjadi pembawa acara, dan bahkan belajar melukis sebagai “mahasiswi tak resmi” Central Academy of Fine Arts (CAFA) di Tiongkok.
Pada Mei 2019, menggunakan nama samaran “Xia Yubing”, Xiaoice memamerkan karya lukisnya dalam pameran wisuda CAFA. Lalu, dari 15 Juni hingga 15 Juli, pameran solo bertajuk Xiaoice, Lukisan yang Dinanti digelar di Hangzhou. Di pameran ini, dia juga berkolaborasi dalam karya VR dengan seniman multimedia Zhou Linwei. Selanjutnya, pameran tunggal bertema “Dunia Kemungkinan” diadakan di Museum CAFA.
Kini, siapa pun bisa mengakses situs Xiaoice, mengetikkan kata-kata sederhana, dan meminta dia melukis. Dalam tiga menit, setelah melalui proses imajinasi tema, komposisi, sketsa, pewarnaan, pendalaman detail, dan penyempurnaan—lukisan pun jadi.
Menurut tim Microsoft Xiaoice, dia mempelajari karya 236 pelukis besar selama 22 bulan. Setiap lukisan 100% orisinal: mulai dari komposisi, warna, hingga detailnya. Bukan hasil manipulasi filter atau pencarian gambar. Proyek ini disebut sebagai AI model ketiga setelah teks dan suara—dan proyek ini paling sulit dan memakan waktu.
Kepala Fakultas Seni Eksperimental CAFA, Qiu Zhijie, memberikan penilaian tinggi terhadap karya Xiaoice: “Gayanya beragam, tekniknya mumpuni, dan produksinya banyak. Bila diberi aturan estetika tertentu dan diminta tidak mengulang, AI justru bisa lebih kreatif dibanding manusia.”
Xiaoice juga semakin menyerupai manusia. Tahun 2017, dia menerbitkan buku puisi “Matahari Kehilangan Jendela Kaca”(transliterasi-red), kumpulan puisi pertama di dunia yang sepenuhnya ditulis oleh AI. Tahun ini, terbit pula antologi puisi hasil kolaborasi dengan penyair manusia berjudul “Bunga Adalah Kesunyian Air Hijau”—dipilih dari 6.000 kiriman puisi hasil kerja sama manusia dan mesin.
Namun tetap saja, baik puisi maupun lukisan Xiaoice masih menunjukkan ciri khas AI—misalnya: puisi yang terasa kurang padu, transisi ide yang lemah, logika imajinatif yang kurang matang, serta ilustrasi datar yang tak punya kedalaman seperti lukisan minyak manusia.
4. AI Belum Bisa Menggantikan Manusia: Tanpa Emosi, Sulit Menyentuh Hati
Pada malam 29 Agustus, saat suara penyanyi virtual Luo Tianyi menggema di Shanghai Mercedes-Benz Arena, lagu tradisional “Bunga Melati” terdengar tak lagi familiar. Meski Luo Tianyi telah tiga tahun menggelar konser hologram berkapasitas ribuan penonton, bahkan tampil live di acara TV besar, sesuatu tetap terasa “kurang”.
Lalu naik panggung robot pianis asal Italia, Teo. Dengan 53 jari yang menari lincah di atas tuts, dia menyanyikan lagu Perfect dari Ed Sheeran sambil bermain piano. Penonton terkagum-kagum dengan bentuk kepalanya yang unik dan suara digital yang khas.
Konser ini adalah pengalaman imersif pertama yang menggabungkan AI dan seni di Tiongkok—dengan teknologi seperti interaksi manusia-mesin, penangkapan gerakan, realitas virtual, hologram, dan visualisasi 3D dipadukan dengan seni musik, tari, dan teater untuk menciptakan dunia ilusi cahaya dan bayangan.
Namun, saat didengarkan lebih seksama, suara Luo Tianyi dan Teo tetap terasa kurang alami. AI memang bisa mengatur tinggi rendah nada, tapi tidak bisa meniru ekspresi emosional dan nuansa suara manusia. Inilah kelemahan fundamental: AI tidak punya emosi.
Kecerdasan buatan telah memperluas batas seni, membuat mesin terlihat lebih “hidup”. Tapi, angka nol dan satu tidak bisa mengajarkan mesin cara merasa. Tanpa emosi, karya seni akan kesulitan menjangkau hati penontonnya. Dan justru di sanalah letak keunggulan suara manusia—yang tak tergantikan.
Di platform Zhihu, seseorang bertanya: “Apa gunanya mengembangkan AI yang bisa berkarya seni?”
Penulis novel fiksi ilmiah AI Odyssey, Xiao Yao, menjawab: “Seniman tidak akan punah. AI hanya akan menyingkirkan mereka yang tak punya inovasi. Yang benar-benar berbakat justru akan semakin menonjol. Kalau AI bisa membuatmu kehilangan semangat berkarya, maka memang kamu pantas digantikan. Sama seperti kehadiran mobil yang mematikan pekerjaan kusir delman, tapi sebagian kusir belajar menyetir dan jadi sopir taksi.” (jhn/yn)


