EtIndonesia. Thailand dan Kamboja pada Senin (28/7/2025) mengadakan pertemuan gencatan senjata di Malaysia. Hasilnya, kedua belah pihak sepakat untuk segera melakukan gencatan senjata tanpa syarat, mengakhiri konflik paling mematikan dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir antara kedua negara. Gencatan senjata Thailand-Kamboja ini sebagian besar tercapai berkat mediasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“(Thailand dan Kamboja) sepakat untuk segera melakukan gencatan senjata tanpa syarat, mulai berlaku pukul 24.00 waktu setempat pada 28 Juli 2025,” ujar Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Dengan dimediasi oleh Malaysia, para pemimpin Kamboja dan Thailand berjabat tangan dengan damai. Mereka menyetujui untuk mengakhiri konflik paling mematikan antar kedua negara selama lebih dari satu dekade.
“Ini adalah langkah pertama yang penting menuju meredakan situasi serta memulihkan perdamaian dan keamanan,” ujar Anwar Ibrahim.
Gencatan senjata ini tercapai berkat upaya mediasi Presiden AS Donald Trump. Sehari sebelumnya, Trump menjelaskan proses negosiasi tersebut.
“Saya menelepon kedua perdana menteri dan mengatakan bahwa kecuali kalian menyelesaikan perselisihan ini, kami tidak akan menandatangani perjanjian dagang,” kata Trump.
Setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai, Trump segera menulis di media sosial:
“Selamat semuanya! Dengan mengakhiri perang ini, kita telah menyelamatkan ribuan nyawa. Saya telah memerintahkan tim dagang saya untuk melanjutkan perundingan dagang.”
Warga Thailand yang mengungsi: “Luar biasa!”
Berita gencatan senjata membuat warga Thailand dan Kamboja yang sebelumnya terpaksa meninggalkan rumah karena perang merasa sangat lega.
Usa Dasri, warga Thailand yang mengungsi, berkata: “Kami, rakyat biasa yang harus meninggalkan rumah, pasti sangat senang bisa pulang. Kami rindu rumah.”
Chhuot Nhav, warga Kamboja yang mengungsi, menyampaikan: “Saya sangat senang, karena saya bisa kembali ke rumah untuk merawat babi, anjing, dan ayam saya. Anak-anak saya sekarang juga bisa kembali ke sekolah.”
Sementara itu, ribuan pekerja dari Kamboja dan Thailand memadati perbatasan untuk kembali ke kampung halaman.
Pada Kamis pekan lalu, pecah konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja di wilayah perbatasan yang sudah lama disengketakan. Kedua belah pihak menggunakan roket, artileri, dan senjata ringan dalam pertempuran sengit yang berlangsung selama lima hari, menyebabkan setidaknya 35 orang tewas dan lebih dari 200.000 orang mengungsi dari rumah mereka. (Hui/asr)
oleh reporter NTD: Yi Jing


