EtIndonesia. Pada Minggu 28 September 2025 dini hari, Rusia melancarkan serangan udara paling masif sejak invasi ke Ukraina dimulai pada Februari 2022. Gelombang serangan ini berlangsung lebih dari 12 jam dan melibatkan kombinasi drone serta rudal dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Skala Serangan Besar-besaran
Menurut laporan militer Ukraina, Rusia menembakkan 595 drone kamikaze dan 48 rudal berbagai tipe ke sejumlah kota utama, termasuk Kyiv, Kharkiv, dan Odesa. Serangan beruntun itu membuat sistem pertahanan udara Ukraina bekerja penuh kapasitas sepanjang malam hingga pagi hari.
Meski sebagian besar berhasil ditembak jatuh, empat orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat hantaman yang lolos. Fasilitas publik seperti sebuah klinik, area permukiman, serta sebuah pabrik industri mengalami kerusakan berat.
Dampak Regional: Polandia Ikut Bergerak
Akibat intensitas serangan, Polandia menutup sebagian wilayah udaranya di perbatasan timur. Angkatan Udara Polandia mengerahkan jet tempur F-16 untuk berjaga, sebagai langkah pencegahan bila drone atau rudal Rusia melintas ke wilayah NATO.
Warsawa menegaskan, pihaknya akan menembak jatuh setiap objek udara Rusia yang melanggar ruang udaranya, sejalan dengan komitmen pertahanan NATO.
Balasan Ukraina: Serangan ke Jantung Energi Rusia
Ukraina tidak tinggal diam. Beberapa jam setelah gempuran Rusia, Kyiv meluncurkan drone jarak jauh ke wilayah Rusia. Target utama adalah fasilitas minyak di Republik Chuvashia, sekitar 650 kilometer dari Moskow.
Serangan itu memicu kebakaran besar dan menghentikan operasi stasiun pompa minyak utama. Pemerintah daerah Chuvashia mengakui adanya kerusakan signifikan, meski tidak merinci jumlah korban.
Ancaman Nuklir: Krisis di PLTN Zaporizhzhia
Situasi semakin mengkhawatirkan dengan kondisi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia, yang sudah empat hari terputus dari jaringan listrik nasional. PLTN terbesar di Eropa ini masih berada di bawah kendali Rusia.
Ukraina menuduh Rusia sengaja memutus sambungan sebagai bentuk tekanan, sementara Moskow menuding pasukan Ukraina yang menyerang jalur transmisi listrik.
Pakar nuklir memperingatkan, jika pasokan listrik eksternal tidak segera dipulihkan, risiko kecelakaan nuklir besar meningkat drastis karena sistem pendingin reaktor bisa gagal berfungsi.
Reaksi Internasional
- Uni Eropa menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak Rusia menghentikan serangan yang disebut “terkoordinasi untuk menghancurkan infrastruktur sipil.”
- NATO menegaskan kesiapan memperkuat pertahanan udara negara anggota, terutama di Polandia, Rumania, dan negara Baltik.
- PBB kembali mengingatkan kedua belah pihak agar menjaga keselamatan PLTN Zaporizhzhia, mengingat potensi bencana nuklir bisa melampaui perbatasan Ukraina.
Serangan Minggu dini hari ini menunjukkan eskalasi baru dalam perang Rusia–Ukraina. Tidak hanya menimbulkan korban sipil, tetapi juga memperlebar risiko konflik meluas ke wilayah NATO dan memunculkan ancaman bencana nuklir yang bisa berdampak global.


