EtIndonesia. Situasi keamanan di Eropa kembali memanas setelah serangkaian pelanggaran wilayah udara oleh drone Rusia. Kondisi ini membuat sejumlah pejabat tinggi Uni Eropa (UE) menyamakan keadaan saat ini dengan “momen Ferdinand” menjelang pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914.
Peringatan dari Jerman: Eropa Tak Lagi Damai
Dalam pidatonya di Düsseldorf pada 29 September, Kanselir Jerman, Friedrich Merz menegaskan bahwa meski belum ada deklarasi perang secara resmi, hubungan Eropa dengan Rusia sudah tidak lagi berada dalam kondisi damai.
“Invasi Rusia ke Ukraina adalah serangan langsung terhadap demokrasi. Kita tidak bisa lagi bersikap seolah-olah ini hanya konflik regional. Ini adalah ancaman bagi seluruh tatanan dunia bebas,” tegas Merz.
Merz juga mendukung penuh pemanfaatan aset Rusia yang telah dibekukan oleh negara-negara Barat untuk memperkuat pertahanan Ukraina. Menurutnya, langkah itu adalah bagian dari upaya kolektif Eropa memastikan bahwa agresi militer tidak boleh diberi ruang tumbuh.
Respons Keras Moskow: Ancaman Tomahawk Bisa Memicu Eskalasi
Dari pihak Rusia, pernyataan yang tak kalah keras juga disampaikan. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada 29 September 2025 memperingatkan bahwa pengiriman rudal jelajah Tomahawk oleh Amerika Serikat ke Ukraina hanya akan mempercepat terjadinya eskalasi besar-besaran.
Sementara itu, Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Rusia, Andrei Kartapolov, menyatakan lebih jauh bahwa setiap pakar militer AS yang terlibat dalam pengoperasian atau peluncuran Tomahawk ke arah Rusia akan dijadikan target langsung oleh Moskow.
“Siapa pun yang membantu Ukraina meluncurkan rudal ke Rusia harus sadar bahwa mereka akan masuk daftar target sah pasukan kami,” tegas Kartapolov.
Uni Eropa Siapkan “Tembok Drone”
Di sisi lain, Politico melaporkan bahwa para pemimpin UE tengah menyiapkan langkah-langkah pertahanan baru menghadapi ancaman udara Rusia. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mendorong pembahasan rencana pembangunan sistem pertahanan skala besar yang disebut “tembok drone” untuk menghadang serangan tanpa awak.
Namun, sejumlah diplomat di Brussel memperingatkan bahwa inisiatif ini bisa menimbulkan eskalasi tak terkendali. Mereka mengingatkan bahwa sejarah bisa terulang, mengacu pada tragedi Sarajevo tahun 1914 yang memicu Perang Dunia I.
Ancaman Bayangan Perang Besar
Ketegangan Rusia–Eropa kini berada di persimpangan berbahaya. Di satu sisi, Eropa memperkuat pertahanan dan menolak tunduk pada tekanan Moskow. Di sisi lain, Kremlin menunjukkan sinyal bahwa setiap langkah Barat untuk memperluas bantuan militer ke Ukraina akan dianggap sebagai tindakan permusuhan langsung.
Dengan berbagai pihak yang saling mengeluarkan ancaman keras, situasi ini semakin menegaskan bahwa Eropa tengah bergerak ke arah “pra–Perang Dunia I” baru, di mana kesalahan perhitungan sekecil apa pun bisa memicu konflik global.


