EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi mengaktifkan kembali seluruh sanksi terhadap Iran. Langkah tersebut diambil pada 28 September 2025, setelah Dewan Keamanan menilai Teheran tidak mematuhi ketentuan dalam kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA).
Ancaman Balasan Iran
Mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC), Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa jika Israel melakukan serangan militer, maka konflik tidak akan berhenti pada level regional. Menurutnya, Iran siap menyeret Amerika Serikat masuk ke dalam pusaran perang.
“Iran tidak akan berkompromi dalam isu nuklir. Jika Israel menyerang, kami akan menghantam target-target AS di Timur Tengah tanpa ragu,” tegas Rezaei dalam wawancara televisi pada Minggu (28 September 2025).
Pernyataan keras ini muncul setelah intelijen Israel menuding Iran menyimpan 400 kilogram uranium berkadar tinggi, sebuah klaim yang sebelumnya juga diumumkan oleh PM Israel, Benjamin Netanyahu, dalam wawancara dengan media internasional.
Israel Siaga Penuh
Sebagai respons, Israel meningkatkan status siaga penuh di seluruh wilayahnya. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan terus menekan Iran, baik melalui sanksi diplomatik, ekonomi, maupun langkah militer bila diperlukan.
“Israel tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman nuklir Iran. Dunia internasional harus terus menekan Teheran,” ujar Netanyahu di Tel Aviv, 28 September 2025.
Militer Israel (IDF) juga dilaporkan memperkuat sistem pertahanan udara Iron Dome serta menyiapkan satuan cadangan untuk kemungkinan eskalasi mendadak.
Respons Dunia dan Risiko Salah Perhitungan
Aktivasi ulang sanksi PBB mencakup embargo senjata, pembekuan aset keuangan, serta larangan perjalanan pejabat Iran. Uni Eropa pada hari yang sama langsung menyatakan akan mengintegrasikan sanksi ini ke dalam hukum domestiknya.
Sementara itu, Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri menyatakan dukungan penuh atas langkah PBB, dengan alasan Iran telah melanggar kewajiban internasional terkait non-proliferasi nuklir.
Pengamat hubungan internasional menilai situasi saat ini sangat rentan salah perhitungan. Potensi saling serang yang tidak terkontrol dapat memicu perang besar dalam hitungan hari, mengingat keterlibatan aktor-aktor kunci seperti AS, Israel, dan Iran di kawasan yang strategis namun rapuh stabilitasnya.
Kesimpulan
Dengan eskalasi ancaman yang meningkat cepat, Timur Tengah kembali berada di ujung krisis besar. Ancaman Iran untuk menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik, ditambah dengan kesiagaan penuh Israel, membuat dunia kini menyoroti apakah kawasan itu akan menjadi titik pecahnya perang baru yang bisa mengguncang stabilitas global.


