ID Internet Baru Tiongkok: Sensor Negativitas, Bungkam Perbedaan Pendapat

Antonio Graceffo

Administrasi Dunia Maya Tiongkok (Cyberspace Administration of China/CAC) pada September lalu meluncurkan kampanye dua bulan bertajuk “Clear and Bright, Rectifying Malicious Incitement of Negative Emotions.” Inisiatif ini memperluas sensor bukan hanya terhadap perbedaan politik atau isu sejarah sensitif, melainkan juga menyasar apa yang disebut otoritas sebagai “negativitas” di dunia maya, sikap pesimistis, hingga pandangan nihilistis.

Menurut CAC, tujuan kampanye adalah “meluruskan emosi negatif” dan mendorong terciptanya internet yang lebih “beradab dan rasional.”

Kampanye ini menargetkan konten yang dianggap melebih-lebihkan masalah sosial, menyebarkan rasa putus asa, atau mendorong sikap merendahkan diri sendiri serta tren gaya hidup seperti “lying flat.” Unggahan yang mempromosikan rasa lelah hidup atau narasi kalah sebelum berjuang, seperti “belajar itu sia-sia” atau “kerja keras itu percuma”, juga dilarang.

CAC menyoroti empat kategori utama di media sosial, video pendek, dan siaran langsung: menghasut permusuhan kelompok, menyebarkan kepanikan melalui bencana palsu atau rumor ekonomi, mendorong kekerasan daring lewat konten pertarungan atau gambar sadis, serta memperkuat emosi pesimistis lewat pesan yang kalah sebelum bertarung.

Langkah ini muncul di tengah rendahnya kepercayaan konsumen, tingginya pengangguran di kalangan muda, serta perlambatan pertumbuhan manufaktur dan ritel di Tiongkok. Sejumlah platform besar seperti Weibo, Kuaishou, dan Xiaohongshu telah dijatuhi sanksi karena gagal menekan konten “berbahaya,” mulai dari gosip selebritas hingga slogan pesimistis seperti “usaha itu sia-sia.”

Media pemerintah memuji kampanye ini sebagai upaya menjaga ketertiban dan kepercayaan sosial. Namun, sejumlah figur publik ikut menjadi sasaran. Tutor populer Zhang Xuefeng akunnya dibatasi, sementara kreator konten Hu Chenfeng postingannya dihapus setelah viral mengomentari ketidaksetaraan sosial.


Sensor Emosi yang Sulit Dikendalikan

Partai Komunis Tiongkok (PKT) boleh saja merasa mampu mengontrol segalanya, tetapi emosi masyarakat tak bisa diatur. Tidak seperti propaganda lain yang menggambarkan dunia luar secara negatif, kampanye ini justru berusaha meyakinkan warga bahwa kualitas hidup mereka tidak memburuk—sebuah misi yang sulit berhasil.

Kenyataannya, khususnya di kalangan muda, kesadaran akan sulitnya mendapat pekerjaan, membeli rumah, atau menikah karena gaji rendah dan prospek suram kian nyata. Paksaan Beijing tidak bisa serta-merta menghapus pesimisme yang beralasan.

Generasi muda Tiongkok bahkan menciptakan berbagai mekanisme bertahan bernuansa negatif, mulai dari “rat people,” “full-time children,” hingga budaya “pura-pura kerja.” Walaupun sensor bisa menandai istilah-istilah ini, mereka tak bisa menghentikan orang merasa pesimis atau berperilaku demikian.

Para pengguna internet muda juga cerdik. Mereka menciptakan kode atau emoji pengganti istilah yang disensor, sehingga percakapan tetap bisa berlangsung tanpa terdeteksi.


ID Internet Baru: Ancaman bagi Anonimitas

Beberapa pekan sebelum kampanye anti-pesimisme diluncurkan, PKT memperkenalkan sistem identifikasi internet baru yang dinilai mengancam kebebasan berekspresi dan anonimitas daring.

Dikembangkan Kementerian Keamanan Publik bersama CAC, program ini mengharuskan pengguna mendaftar melalui aplikasi nasional dengan kartu identitas dan pengenalan wajah. Setiap peserta akan mendapat “kode internet” dan “sertifikat internet” untuk mengakses layanan tanpa harus berulang kali memasukkan data pribadi. Dengan ID virtual terpusat ini, warga bisa masuk ke berbagai aplikasi media sosial dan situs.

Otoritas menyebut langkah ini sukarela, ditujukan untuk meningkatkan keamanan, melindungi data pribadi, dan mendukung ekonomi digital. WeChat sudah mulai mengadopsinya, dan besar kemungkinan ke depan semakin banyak layanan yang mewajibkan penggunaan ID ini.

Namun, para pengkritik menilai label “sukarela” tak akan bertahan lama, mengingat banyak kebijakan digital di Tiongkok yang awalnya opsional kemudian menjadi wajib.

Sistem ini memusatkan identitas pengguna dalam basis data yang dikelola pemerintah, memungkinkan pengawasan perilaku daring lebih presisi dari sebelumnya. Dengan menghubungkan seluruh aktivitas online ke satu ID, rezim bisa sekaligus membungkam, menghapus, atau memblokir seseorang di berbagai platform. Para ahli menyebut ini sebagai totalitarianisme digital, yang makin mengikis anonimitas internet di Tiongkok.

Kelompok hak asasi juga memperingatkan risiko keamanan siber. Basis data terpusat akan menjadi “tambang emas” bagi peretas maupun aparat keamanan negara. Tiongkok sudah pernah mengalami kebocoran besar, termasuk pada 2022 saat database kepolisian yang berisi data 1 miliar warga bocor.


Bagian dari Infrastruktur Pengawasan

ID Internet ini melengkapi serangkaian alat pengawasan yang sudah ada: Tembok Api Besar (Great Firewall), registrasi nama asli, sistem pengenalan wajah, kamera CCTV, program Sharp Eyes, database kepolisian berbasis cloud, hingga manajemen sosial bergaya grid. Semuanya memungkinkan aparat keamanan negara langsung menghubungkan aktivitas daring dengan pemantauan di dunia nyata.

Ironisnya, salah satu topik yang turut disensor adalah soal sensor itu sendiri. Profesor hukum ternama Universitas Tsinghua, Lao Dongyan, membandingkan sistem baru ini dengan “memasang alat pengintai di setiap aktivitas daring individu.” Tak lama setelah diunggah di Weibo, postingan itu dihapus dengan alasan “melanggar aturan,” dan akunnya dibekukan selama tiga bulan.

Secara keseluruhan, ID Internet ini adalah bagian dari strategi jangka panjang Beijing untuk menghapus anonimitas daring dan memperluas pengawasan hingga ke tingkat individu. Dengan sistem ini, PKT bisa lebih ketat mengendalikan percakapan publik dan membungkam ungkapan kekecewaan generasi muda Tiongkok yang kerap dijuluki “generasi hilang.”

Meski sebagian anak muda mencari cara untuk menghindari sensor, banyak warga akan memilih menyensor diri sendiri karena takut terdeteksi aparat keamanan. Bahkan upaya mengakali sensor pun semakin sulit seiring makin canggihnya kecerdasan buatan dalam membaca bahasa sandi pengguna internet.

Pada akhirnya, ini semua hanyalah bagian dari pola lama PKT. Alih-alih memperbaiki kehidupan rakyat, Partai justru memastikan agar orang tak bisa mengatakan bahwa hidup mereka makin memburuk. Hal ini mengingatkan pada lelucon era Soviet: seorang asing bertanya, “Bagaimana keadaan di Uni Soviet?” Seorang Rusia menjawab, “Tidak bisa mengeluh.”


Artikel opini ini ditulis oleh Antonio Graceffo, Ph.D., analis ekonomi Tiongkok yang telah lebih dari 20 tahun tinggal di Asia. Ia lulusan Universitas Olahraga Shanghai, meraih MBA dari Universitas Jiaotong Shanghai, dan mempelajari keamanan nasional di American Military University.

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine