EtIndonesia. Dubes Palestina untuk Rusia, Abdel Hafiz Nofal, secara resmi mengonfirmasi bahwa Palestina telah mengajukan permohonan untuk bergabung dengan kelompok ekonomi dan politik BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan).
Permohonan Melalui Status Pengamat
Menurut pernyataan Nofal, Palestina tidak langsung meminta keanggotaan penuh, melainkan mengajukan diri sebagai observer (pengamat) terlebih dahulu. Status ini dianggap sebagai langkah awal yang lebih realistis sebelum mengajukan keanggotaan permanen.
“Palestina ingin memperluas jaringan diplomasi internasionalnya dan melihat BRICS sebagai platform strategis untuk memperjuangkan kepentingan bangsa,” ujar Nofal dalam wawancara di Moskow.
Tantangan Berat: Ekonomi Lemah dan Konflik Tak Berkesudahan
Langkah ini dipandang ambisius, mengingat Palestina menghadapi sejumlah hambatan besar:
- Ekonomi yang rapuh, sangat bergantung pada bantuan internasional.
- Politik domestik yang terpecah, terutama perbedaan tajam antara Fatah di Tepi Barat dan Hamas di Gaza.
- Konflik berkepanjangan dengan Israel, yang hingga kini belum menemukan jalan keluar damai.
Pengamat menilai, ketiga faktor tersebut akan menjadi ujian utama bagi kemungkinan diterimanya Palestina dalam lingkaran BRICS.
Reaksi dan Skeptisisme
Kabar ini memicu beragam reaksi, baik di media maupun di ruang publik.
- Seorang warganet menyindir tajam: “Palestina belum jadi anggota penuh PBB, tapi sudah mau gabung BRICS. Itu seperti bolos sekolah lalu ikut ujian masuk universitas.”
- Ada pula peringatan dari kalangan analis bahwa penerimaan Palestina berpotensi membawa “api dalam sekam” bagi BRICS, terutama karena dominasi Hamas di Gaza yang oleh banyak negara Barat dikategorikan sebagai organisasi teroris.
BRICS di Tengah Perubahan Global
Permohonan Palestina datang di saat BRICS sedang bertransformasi menjadi blok ekonomi-politik yang semakin besar pengaruhnya. Tahun 2024 lalu, BRICS memperluas keanggotaannya dengan mengundang negara-negara baru, termasuk Arab Saudi, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab.
Langkah ini menunjukkan keinginan BRICS untuk tampil sebagai penyeimbang dari dominasi Barat (G7 dan NATO), terutama dalam isu perdagangan, energi, serta geopolitik.
Peluang dan Tantangan Palestina
Jika diterima, kehadiran Palestina di BRICS – meski hanya sebagai pengamat – bisa memberi beberapa keuntungan strategis:
- Dukungan diplomatik lebih luas untuk isu Palestina di forum internasional.
- Peluang ekonomi melalui kerja sama dengan negara-negara anggota yang memiliki cadangan energi dan modal besar.
- Penguatan posisi politik dalam menghadapi Israel di forum multilateral.
Namun, skeptisisme tetap besar. Sejumlah pihak menilai Palestina akan kesulitan membuktikan bahwa mereka memiliki stabilitas internal yang cukup untuk bisa diakui sebagai mitra yang kredibel dalam sebuah kelompok ekonomi besar.
Kesimpulan:
Pada 26 September 2025, langkah Palestina mengajukan diri bergabung dengan BRICS menandai babak baru diplomasi mereka di tengah konflik panjang dengan Israel. Namun, jalan menuju keanggotaan penuh masih sangat panjang dan penuh rintangan, baik dari sisi internal maupun geopolitik global.


