EtIndonesia. Dahulu, di Kota Yangzhou, hiduplah seorang penjual beras. Awalnya dia adalah orang miskin — benar-benar merintis dari nol.
Suatu hari, demi mendapatkan keuntungan lebih cepat, dia memakai akal licik: dia mengubah timbangan beras agar terlihat lebih berat dari kenyataannya, sehingga diam-diam mengurangi jumlah beras pelanggan dan untung besar tanpa disadari orang.
Beberapa tahun berlalu — usahanya makin maju, hartanya meningkat pesat, dan dia memiliki dua anak laki-laki yang sangat lucu dan pintar.
Suatu malam saat sedang minum arak, dia berkata pada istrinya penuh kebanggaan: “Tahu tidak, bagaimana aku bisa sekaya sekarang? Karena aku mengubah timbangan itu — begini, begini caranya…”
Mendengar itu, istrinya langsung sedih dan terpukul.
Dia berkata: “Kita harus bercerai.”
Suaminya terkejut: “Mengapa? Hidup kita sekarang sudah makmur.”
Istrinya menjawab — dengan hati penuh prinsip: “Perbuatan seperti ini merusak keberkahan batin (陰德). Harta ini tidak bersih — cepat atau lambat keluarga kita akan tertimpa kemalangan.”
Mendengar itu, suaminya tersentuh dan tersadar.
Dia bertanya : “Kalau begitu, bagaimana cara menebusnya?”
Istrinya menjawab: “Kalau dulu kamu curangi timbangan dan mengurangi beras orang, maka mulai sekarang lakukan sebaliknya — kasih lebih banyak dari timbangan sebenarnya untuk mengganti kerugian orang lain.”
Maka dia pun benar-benar melakukannya setiap hari. Tak hanya mengembalikan, dia melakukannya dengan hati tulus dan penuh penyesalan.
Karma Berjalan — Tapi Cara Kerjanya Tak Selalu Langsung
Namun beberapa tahun kemudian — dua anak kesayangannya justru meninggal.
Dia terpukul dan mulai ragu pada hukum karma: “Dulu saat aku berbuat curang, semuanya lancar. Kini aku mulai berbuat baik, mengapa anak-anakku malah meninggal? Benarkah ada hukum karma?”
Malam itu, dia bermimpi — datang seorang makhluk langit (dewa penjaga karma) dan berkata: “Saat engkau berbuat curang dahulu, langit sudah mengirim dua anak untuk menghancurkan hartamu. Kini engkau bertobat dan memperbaiki diri, maka kedua anak itu sudah ditarik kembali (tugas mereka selesai). Jika engkau terus berbuat baik, kelak engkau akan diberi dua anak lagi — tapi kali ini anak-anak yang baik dan membawa keberkahan.”
Dia pun kembali yakin, dan terus melanjutkan perbuatannya. Dan benar — kemudian dia memperoleh dua anak lagi, dan keduanya menjadi orang yang mulia dan sukses di kemudian hari.
Pelajaran Besar
Banyak hukum karma tidak dapat kita lihat langsung karena dia bekerja melampaui waktu — menembus masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dalam ajaran klasik Tiongkok dikatakan: “Keluarga yang menimbun kebajikan — pasti akan menuai berkah. Keluarga yang menimbun kejahatan — pasti akan ditimpa kemalangan.”
Perhatikan — ada orang miskin tetapi tetap jujur dan tidak melanggar prinsip. Cepat atau lambat, keturunannya akan muncul orang besar dan berbudi. Sebaliknya — ada keluarga kaya karena korupsi — kelak pasti muncul anak cucu yang menghancurkan semuanya.
Ini — sering kali bisa kita lihat dengan sangat jelas.(jhn/yn)


