EtIndonesia. Baru-baru ini, delapan tukang kayu asal Sichuan, Tiongkok, tertipu dan dibawa ke sebuah kawasan penipuan di Kamboja. Dari delapan orang itu, tiga di antaranya dipukuli dan kemudian “dikembalikan” karena tidak bisa mengetik di komputer. Satu orang berhasil diselamatkan, sementara empat lainnya masih terjebak di sana.
Menurut laporan Red Star News pada 27 Oktober, delapan pria asal Sichuan melihat lowongan kerja di sebuah grup WeChat yang mengaku sedang merekrut tukang kayu untuk renovasi hotel di Phnom Penh, Kamboja. Pihak perekrut menjanjikan fasilitas makan, tempat tinggal, dan tiket pesawat gratis.
Akhirnya, pada 3 September, delapan orang itu berangkat bersama ke Kamboja. Semuanya adalah tukang kayu berpengalaman, enam diantaranya bahkan pernah bekerja di luar negeri.
Salah satu pria yang kemudian dibebaskan menceritakan, pada 3 September malam, mereka tiba di Bandara Phnom Penh dan dijemput oleh seseorang yang mengaku sebagai “penanggung jawab proyek”. Namun, mereka malah dibawa ke kawasan penipuan di Sihanoukville (Kota Barat Daya Kamboja), di mana mereka segera ditahan.
9月,四川8名木工被騙去柬埔寨打工,其中3人因不會打字被毆打後“退貨”,放回來。 pic.twitter.com/VrdZU4VcLa
— ying tang (@yingtan04410735) October 29, 2025
Di dalam area tersebut, pria itu bersama dua orang lainnya dipukuli karena tidak bisa menggunakan komputer atau mengetik di ponsel. Dua hari kemudian, mereka “dikembalikan” dan dilepaskan, sedangkan lima orang lainnya tetap disekap, dan hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Keluarga kelima korban yang hilang sangat cemas. Beberapa hari kemudian, dua keluarga korban menerima pesan ancaman yang meminta uang tebusan sebesar 250.000 yuan (sekitar Rp550 juta).
9月,四川8名木工被騙去柬埔寨打工,其中3人因不會打字被毆打後“退貨”,放回來。 pic.twitter.com/k4w1yZ8kbJ
— ying tang (@yingtan04410735) October 29, 2025
Baru-baru ini, salah satu korban yang masih tertahan, bermarga Lu, berhasil diselamatkan dan menceritakan pengalamannya setelah kembali ke Tiongkok. Ia mengatakan bahwa setibanya di Phnom Penh, mereka langsung dibawa ke area tertutup dengan tembok tinggi dan kawat berduri, sementara ponsel dan paspor mereka disita. Ia juga mengalami pemukulan brutal.
Lu berkata: “Saya dipindahkan ke lima kawasan berbeda dan dijual empat kali. Saya menggunakan ponsel orang lain untuk menghubungi keluarga lewat media sosial. Setelah itu, keluarga saya menghubungi tim penyelamat yang akhirnya berhasil membebaskan saya dari kawasan lain.”
Sementara itu, dua ibu korban yang masih terjebak di sana memposting video di media sosial dengan menangis dan memohon bantuan masyarakat untuk menyelamatkan anak-anak mereka.
Beberapa warganet marah dan menulis komentar seperti:
“Mengapa korban penipuan selalu orang Tiongkok sendiri? Negara seharusnya turun tangan!”
Ada pula yang menyindir:
“Di mana film Wolf Warrior 2 sekarang?”
Menurut kesaksian para korban yang pernah diselamatkan dari kawasan penipuan di Kamboja dan Myanmar, para bos di balik sindikat ini sebagian besar juga orang Tiongkok sendiri.
Baru-baru ini, pemerintah Amerika Serikat dan Inggris bekerja sama untuk menindak jaringan penipuan lintas negara besar-besaran. Mereka menjatuhkan sanksi terhadap Chen Zhi, pendiri Prince Group di Kamboja, serta individu dan entitas terkait.
Jaksa AS menyampaikan bukti bahwa Chen Zhi dan rekan-rekannya menyuap pejabat di Kementerian Keamanan Publik dan Kementerian Luar Negeri PKT, agar dapat berkali-kali menghindari penggerebekan oleh aparat PKT. (Hui/asr)
Laporan oleh Luo Tingting / Wen Hui


