Perang Rahasia Trump Dimulai: Kapal Kartel Hancur, ‘Raja Fentanyl’ dari Beijing Tersungkur

tIndonesia. Amerika Serikat memasuki fase konfrontasi paling agresif terhadap kartel narkoba dalam beberapa dekade terakhir. Dalam tujuh hari terakhir saja, militer AS menghancurkan setidaknya empat kapal cepat pembawa narkoba di Karibia, menewaskan sedikitnya 14 orang anggota kartel. Total dalam beberapa pekan terakhir, hampir 10 kapal berhasil dilumpuhkan.

EtIndonesia. Amerika Serikat memasuki fase konfrontasi paling agresif terhadap kartel narkoba dalam beberapa dekade terakhir. Dalam tujuh hari terakhir saja, militer AS menghancurkan setidaknya empat kapal cepat pembawa narkoba di Karibia, menewaskan sedikitnya 14 orang anggota kartel. Total dalam beberapa pekan terakhir, hampir 10 kapal berhasil dilumpuhkan.

Langkah keras ini diluncurkan setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah untuk memperlakukan kartel narkoba sebagai organisasi teroris asing, memadukan operasi intelijen, serangan presisi, dan kerja sama internasional.

 1 November 2025: Serangan Udara di Dekat Venezuela

Pada dini hari 1 November 2025, Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi operasi udara di perairan dekat Venezuela. Intelijen mendeteksi kapal kartel sedang memeriksa muatan. Pesawat tempur AS meluncurkan bom presisi, menghancurkan kapal beserta seluruh awaknya dalam hitungan detik.

Itu merupakan serangan keempat dalam satu minggu.

“Belahan Barat bukan lagi tempat aman bagi kartel,” tegas Menteri Pertahanan AS, Douglas Haigxes. “Kami akan mengejar mereka sampai ujung dunia.”

27 Oktober 2025: Serangan di Pasifik Timur

Sebelumnya, pada 27 Oktober 2025, Menteri pertahanan AS Pete Hegseth  mengumumkan militer AS juga melancarkan tiga gelombang serangan terhadap kapal penyelundup di Pasifik Timur. Empat kapal hancur, sedikitnya 14 orang kartel tewas, dan satu selamat setelah dievakuasi oleh otoritas Meksiko.

Krisis Fentanyl di AS

Walau penyitaan fentanyl di AS turun 53% pada paruh pertama 2025, kematian akibat overdosis justru melonjak. Lebih dari 100 warga AS meninggal per hari akibat zat ini.

Trump menyebut fentanyl sebagai “senjata pembunuh massal”.

CIA, DEA, dan militer kini bekerja terpadu:

  • menyadap komunikasi satelit kartel
  • menelusuri jaringan perbankan dan perusahaan cangkang
  • menyusup ke rantai pasok prekursor dari Tiongkok
  • mengeksekusi serangan udara mendadak

Hasil survei Gallup menunjukkan 71% warga Amerika mendukung operasi militer terhadap kartel.

Namun PBB mengkritik keras langkah ini, menuding AS melanggar hukum internasional.

 Penangkapan Dramatis “Raja Fentanyl” Zhang Zhidong

Di balik operasi militer ini, sorotan publik tertuju pada penangkapan gembong narkoba asal Tiongkok, Zhang Zhidong (37), lulusan Universitas Peking, mantan bintang debat kampus, dan mantan karyawan perusahaan perdagangan mineral di Meksiko.

Perjalanan Zhang dari Sarjana Peking ke Mafia

  • 2015: direkrut kartel Meksiko dengan gaji USD 50.000/bulan
  • 2016–2024: mendirikan >150 perusahaan cangkang dan 170 rekening bank
  • mencuci USD 150 juta per tahun
  • menyuplai prekursor fentanyl dari Tiongkok ke kartel Sinaloa dan CJNG

Barang dikirim dari Shanghai dan Guangzhou, diolah di laboratorium Meksiko, lalu diselundupkan via kontainer ikan beku ke AS.

Hidupnya glamor, tapi harga moralnya mengerikan: ribuan warga AS tewas karena produk jaringannya.

Drama Pelarian

  • Oktober 2024: ditangkap polisi Meksiko
  • hakim membebaskannya menjadi tahanan rumah
  • Zhang menggali terowongan, kabur dengan jet pribadi ke Kuba, lalu ke Moskow
  • Rusia menolak kedatangannya dan memulangkannya
  • 23 Oktober 2025: ditangkap intel Kuba
  • 24 Oktober 2025: diserahkan ke Meksiko
  • beberapa jam kemudian diekstradisi ke AS

Kini Zhang mendekam di penjara federal AS dengan ancaman hukuman seumur hidup.

Cerita pelariannya membuat publik menyebutnya gabungan karakter Narcos dan Prison Break.

Bayang-bayang Tiongkok di Balik Fentanyl

AS menuduh 95% pasokan prekursor fentanyl dunia berasal dari Tiongkok. Pada 1 Februari 2025, Trump menerapkan tarif 10% pada komponen kimia dari Tiongkok, lalu menunda tarif tersebut setelah pertemuan dengan Xi Jinping pekan lalu. Beijing kini berjanji memperketat ekspor kimia ilegal.

Namun Kongres AS menyebut jaringan kriminal Tiongkok masih berperan sebagai pusat pencucian uang global.

 Ancaman Serangan Militer ke Venezuela

Pada 31 Oktober 2025, Miami Herald melaporkan Washington telah menyetujui daftar target militer di Venezuela yang diyakini mendukung kartel.

Indikasi operasi besar:

  • Zona larangan terbang diberlakukan di Puerto Riko
  • Gangguan GPS besar-besaran terdeteksi di Venezuela
  • Kapal perang dan drone AS mengitari Karibia

Gedung Putih menyebut laporan ini tidak akurat, tetapi Trump mengisyaratkan serangan hanya menunggu waktunya. Sumber di Gedung Putih bahkan menyebut: “Dalam beberapa hari, Maduro akan menjadi masa lalu.”

Situasinya disebut mirip menjelang operasi 1989 yang menangkap diktator Panama, Manuel Noriega.

Kesimpulan

Kampanye global AS kini memiliki tiga garis serangan:

  1. Menghancurkan operasi kartel secara militer
  2. Memukul pemasok prekursor fentanyl, terutama Tiongkok
  3. Membongkar jaringan pencucian uang internasional

Dengan kapal tenggelam, sindikat luluh lantak, dan gembong fentanyl Tiongkok kini di balik jeruji, perang narkoba memasuki babak paling agresif sejak era Kolombia 1990-an.

Dan tanda-tanda operasi besar ke Venezuela semakin kuat. (***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine