Di seluruh daratan Tiongkok, warga kini terus mencari berbagai cara untuk menyuarakan keadilan bagi “anak liar” (juga disebut “anak serigala”) di Yunnan, meskipun menghadapi sensor, pemblokiran akun, intimidasi, dan ancaman dari pihak berwenang.
Banyak ibu-ibu Tiongkok yang tidak takut terhadap ancaman, dan mereka mengirimkan paket berisi hadiah untuk anak-anak tersebut ke berbagai lembaga pemerintah di Beijing, termasuk Komisi Disiplin Pusat (CCDI), Kejaksaan Agung, dan Kementerian Urusan Sipil, sambil menyerukan agar pemerintah segera menyelidiki kasus tersebut dan menyelamatkan anak-anak itu.
EtIndonesia. Tindakan dari masyarakat demi keadilan bagi “anak liar” (juga disebut “anak serigala”) di Yunnan terus dilakukan dengan berbagai gebrakan. Pada 4 November, Deng Fei, seorang aktivis sosial dan mantan jurnalis investigasi terkenal, menulis di Weibo: “Banyak ibu mengirimkan boneka dan hadiah anak-anak ke berbagai lembaga di Beijing. Orang-orang kini semakin berhati-hati. Pihak dari Yunnan juga telah tiba di Beijing, laporan resmi pasti akan keluar, para ibu bisa sedikit tenang.”
Namun, unggahan tersebut hanya bertahan beberapa jam sebelum dihapus.
Foto-foto yang beredar di internet memperlihatkan pintu masuk gedung pemerintah di Beijing penuh dengan tumpukan paket ekspedisi, berisi mainan anak-anak dan buku-buku, termasuk buku berwarna merah berjudul ‘Undang-Undang Perlindungan Anak di Bawah Umur Republik Rakyat Tiongkok’.

Beberapa unggahan menyebut lokasi itu sebagai depan kantor Kejaksaan Agung, sementara lainnya menyebut bahwa paket-paket tersebut juga dikirim ke Biro Pengaduan, CCDI, dan Kementerian Urusan Sipil.
Warganet menulis dengan haru: “Para ibu di Beijing juga sedang berjuang. Ratusan paket di depan Kejaksaan itu adalah harapan dan doa mereka. Itu cahaya bintang yang dinyalakan oleh ibu-ibu Beijing untuk menerangi jalan pulang bagi anak-anak yang tersesat.”
“Melihat hadiah-hadiah para ibu di depan kantor pemerintah hari ini, saya langsung menangis.”
Namun pada 5 November, warganet melaporkan bahwa berbagai lembaga pemerintah mulai melarang pengiriman paket. “Sekarang pengiriman ‘pesanan makanan’ (kode untuk paket) sudah tidak diizinkan. Kurir tidak boleh mendekat lagi.”

Beberapa warganet menyarankan untuk mengirim paket ke universitas-universitas besar di Beijing seperti Universitas Peking dan Tsinghua, agar kasus ini terus terungkap di ranah publik.
Selain itu, ada juga warga yang menyampaikan keluhan melalui fitur “Papan Pesan untuk Pemimpin” di situs People’s Daily, menanyakan langsung kepada Kementerian Kehakiman, Kementerian Urusan Sipil, dan Administrasi Dunia Maya (CAC). Mereka menuntut penjelasan terkait kasus anak-anak telanjang yang diperlakukan seperti anjing di Yunnan, dan mempertanyakan alasan sensor ketat terhadap topik ini di internet.
BACA JUGA : Kasus “Anak Liar” di Yunnan, Tiongkok Terus Meluas — Warganet Diduga Temukan “Markas Pelatihan”
Peserta Aksi Dihubungi dan Diancam Polisi
Banyak warganet yang ikut bersuara mengaku mendapat telepon ancaman dari polisi setempat, diminta tidak ikut campur, bahkan orang tua mereka juga ditelepon agar menekan anak-anak mereka supaya berhenti berbicara.
“Begitu kita membahas hal ini di grup chat, polisi langsung datang ke rumah. Bahkan orang tua kami ditelepon. Mereka bisa menemukan kami begitu cepat — kenapa anak itu tidak bisa ditemukan?”
“Benar sekali, kecepatan mereka mencari kami luar biasa. Tapi mencari anak itu, sudah setengah bulan belum ada kabar.”
Beberapa orang juga mengaku dipanggil oleh pimpinan tempat kerja dan diperingatkan agar tidak ikut campur, karena “pelaku di balik kasus ini punya kekuatan besar dan tidak bisa disentuh.”
Warganet pun mengecam aparat: “Kalau lewat satu video saja kalian bisa menemukan saya, kenapa tidak bisa menemukan satu anak? Jangan-jangan kalian hanya ingin membungkam orang yang bertanya?”
“Kalian bisa melacak saya dalam hitungan menit, tapi anak itu tidak bisa ditemukan — bukankah ini bukti kalian tidak berani menyentuh pihak yang sebenarnya?”
“Kalian bisa menindak orang yang melapor dengan cepat, tapi tidak bisa melindungi anak yang disiksa. Karena itu, saya melapor dengan nama asli dan nomor telepon, karena saya tahu dalam sistem kalian, tidak ada yang tidak bisa dilacak.”
Para Ibu Tidak Takut Ancaman: “Menyuruh Kami Diam? Mustahil!”
Banyak warganet menyatakan tidak takut ancaman polisi:
“Biar saja mereka mengancam, saya tetap akan berbicara.”
“Kalau mereka datang, saya justru ingin tanya — apakah mereka sudah menjalankan tugas mereka sesuai hukum?”
“Suruh saja mereka baca Undang-Undang Perlindungan Anak di Bawah Umur.”
Mereka bersumpah akan terus bersuara:
“Kami tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap dan keadilan ditegakkan. Ini bukan hanya tentang satu anak, tapi tentang keselamatan semua anak di Tiongkok.”
“Saya tidak akan diam sampai anak itu diselamatkan dan bisa kembali ke masyarakat. Tidak akan pernah diam!”
Ada pula komentar menyentuh dari seorang ibu:
“Kalau anak-anak kita tidak bisa dilindungi, untuk apa kita bekerja keras membayar pajak untuk memelihara pejabat seperti mereka? Ini bukan cuma soal satu anak — ini soal kita semua sebagai manusia dan warga negara Tiongkok. Kalau kasus ini tidak ditangani dengan benar, saya malu disebut orang Tiongkok. Bagaimana saya bisa mengajari anak saya untuk mempercayai polisi, kalau kenyataannya seperti ini? Kami bersuara bukan hanya untuk anak itu, tapi juga untuk generasi mendatang, agar mereka bisa tumbuh di dunia yang aman dan sehat. Kami ingin menegakkan langit untuk mereka.”
Sebelumnya diberitakan bahwa karena sensor dan penghapusan massal di media sosial, banyak warga Tiongkok kini beralih ke aksi offline — termasuk menyebarkan selebaran dan mengirim surat langsung ke lembaga pemerintah. (Hui)
Laporan oleh Li Li | Editor: Lin Qing – NTD


