EtIndonesia. Sebelum membahas topik utamanya, mari kita mulai dengan sebuah kisah menarik tentang kehidupan orang zaman dulu. Pada masa Dinasti Tang—salah satu era paling gemilang dalam sejarah Tiongkok—masyarakat hidup makmur dan negara mengalami kejayaan bertubi-tubi. Namun, meski zaman itu penuh kemakmuran, fasilitas transportasi masih sangat terbatas. Orang bepergian terutama dengan kereta kuda, menunggang kuda, atau naik perahu.
Pada masa itu, menikah dengan orang dari tempat jauh sangat sering terjadi, apalagi pernikahan antara etnis yang berbeda. Perjalanan untuk “menjemput pengantin” sering kali sangat jauh. Untuk menghemat waktu, orang-orang menemukan cara cerdik: pihak laki-laki menunggang kuda menuju rumah perempuan, sementara pihak perempuan naik tandu menuju rumah laki-laki. Mereka akan bertemu di tengah perjalanan, lalu kembali bersama ke rumah pengantin pria. Dengan begitu, upacara-upacara penting seperti sembah leluhur atau masuk kamar pengantin bisa selesai sebelum hari gelap.
Contoh kecil ini memberi kita dua pelajaran penting:
- Nasib seseorang berada di tangannya sendiri. Di saat-saat genting, kita harus mampu bersikap fleksibel.
- Meski setiap keluarga punya aturan, kadang kita perlu berani mengubahnya. Jika terlalu kaku berpegang pada tradisi lama, keluarga justru bisa kehilangan kreativitas dan terjebak dalam pola lama yang membuat semua pihak tersiksa.
Demikian pula dalam hubungan orangtua dan anak: orangtua berharap anak membantu mereka di hari tua, anak berharap orangtua mendukung mereka saat dewasa. Tetapi bila semuanya hanya menunggu, yang muncul hanyalah kekecewaan—dan tragedi keluarga pun dimulai.
01 — Anak Menunggu Bantuan Orangtua, Namun Orang Tua Tidak Mampu Memberikan
Saat kecil, kita selalu merasa orangtua itu serba bisa.
Ada seorang anak pernah menangis ingin “mengambil bulan.” Ayahnya berkata, “Bisa.” Dia mengambil sebuah baskom berisi air dan menaruhnya di bawah cahaya bulan. Pantulan bulan membuat permukaan air tampak berkilau—anak itu pun tersenyum senang.
Ibu bisa mendongengkan kisah-kisah indah, membawa anak memasuki dunia penuh imajinasi.
Orangtua bekerja keras untuk memberi kehidupan yang lebih baik—membeli rumah dekat sekolah, menyekolahkan anak di tempat terbaik, membayar les tambahan, bahkan memasukkan mereka ke bimbingan belajar demi masa depan yang cerah.
Semua ini dilakukan sampai anak masuk universitas. Seolah semuanya berjalan mulus.
Namun ketika si anak tumbuh dewasa dan masuk ke dunia kerja, kenyataan tidak seindah harapan. Mereka bisa saja punya ilmu, tetapi sulit mendapat kesempatan besar. Bekerja seumur hidup terasa menyesakkan. Mau berwirausaha, tapi tak punya modal. Lalu ketika meminta bantuan kepada orangtua, barulah mereka sadar:orang tua tidak punya kemampuan finansial untuk membantu.
Kita bukan “anak pejabat,” bukan “anak pengusaha”—bahkan tabungan orangtua pun mungkin sangat pas-pasan.
Yang lebih menyakitkan, anak mulai menyadari bahwa orangtua juga tidak adil dalam mendidik mereka. Ada anak yang disayang dan diprioritaskan, ada yang diabaikan.
Contohnya adalah keluarga penerjemah terkenal Fu Lei. Dia memiliki dua putra:
• Fu Cong, sangat berbakat—Fu Lei mengorbankan segalanya demi pendidikannya.
• Fu Min, juga suka belajar, tetapi dianggap tidak berbakat, sehingga tidak terlalu diperhatikan.
Semakin besar, seorang anak semakin melihat jelas keterbatasan orangtuanya. Namun di lubuk hati mereka tetap berharap orangtua bersikap fair dan bisa membantu di saat genting.
Sementara itu, banyak orangtua—terutama di desa—memiliki jaringan sosial yang sangat terbatas. Teman mereka hanya tetangga atau kerabat. Ketika anak pergi merantau, mereka tidak bisa banyak membantu.
Anak merasa kehilangan pegangan, lalu kecewa, hingga akhirnya muncul keinginan terpendam untuk “bergantung pada orangtua”— tetapi orangtua juga tak mampu. Situasi ini membuat hati semakin perih.
02 — Orangtua Menunggu Bakti Anak, Tapi Anak Tidak Tumbuh Seperti Harapan
Orang zaman dulu berkata: “Peliharalah anak untuk hari tua, simpanlah makanan untuk masa lapar.”
Banyak orangtua memegang teguh pepatah ini. Meski berkata: “Nanti orangtua akan mengurus diri sendiri,” jauh dalam hati, mereka tetap berharap anak bakal mengurus dan menghormati mereka kelak.
Banyak orangtua tidak menyiapkan tabungan atau rumah untuk hari tua. Mereka berharap ketika anak sudah bekerja, anak akan membalas budi, memberi nafkah, atau mengajak mereka tinggal bersama.
Sayangnya kenyataan tidak selalu begitu. Tidak semua anak mengerti arti bakti. Dan meskipun ada yang ingin berbakti, kondisi hidup mereka sendiri kadang sama sulitnya.
Contoh paling dekat: Kakak saya bekerja di luar kota bertahun-tahun. Saking sibuknya, kadang menelepon ibu pun lupa. Ibu sering mengeluh, merasa telah melahirkan “anak yang tidak tahu berterima kasih.”
Ibu tidak mengerti ritme hidup zaman sekarang. Baginya, keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bisa duduk makan bersama setiap hari. Tapi kakak saya kemudian pindah lagi ke Shenzhen—semakin jauh. Jarak membuat ibu makin kecewa, makin merasa kesepian.
Ada pepatah berkata: “Bila gunung tidak menghampiri kita, maka kitalah yang menghampiri gunung.”
Saat anak sibuk, orangtua juga bisa mendekat lebih dulu. Datangi anak, meski hanya tinggal di penginapan terdekat. Mengobrol sejenak saja bisa mengobati rindu. Orangtua punya waktu lebih fleksibel; anak, di sisi lain, harus lebih aktif menciptakan kedekatan.
Jangan keras kepala. Belajarlah saling menyesuaikan.
03 — Bila Keluarga Mengalami Kebuntuan, Jangan Menghindar: Ubah Dirimu Dulu
Ketika masalah muncul dalam keluarga, jangan lari, jangan saling menyalahkan. Kita harus berani berubah dan memperbaiki diri. Orangtua adalah bagian dari keluarga, tetapi juga bagian dari masyarakat. Anak pun demikian.
Untuk membuat keluarga bahagia, dibutuhkan lebih dari sekadar cinta—kita butuh kemampuan, ekonomi, stabilitas, dan rumah tangga yang tertata. Semua itu tidak jatuh dari langit, melainkan diperoleh melalui interaksi dengan masyarakat.
Langkah pertama: andalkan dirimu sendir. Jangan hanya menunggu bantuan keluarga. Belajarlah mencari apa yang bisa kamu dapat dari masyarakat. Lalu, apa pun yang kamu peroleh, bagikan secukupnya kepada keluarga agar semuanya maju bersama.
Langkah kedua: berani memodifikasi aturan keluarga. Aturan memang penting, tetapi tidak boleh kaku. Seiring bertambahnya usia orangtua, perubahan ekonomi, dan perubahan kondisi keluarga, aturan lama harus diperbarui. Setiap orang harus mau menjadi teladan, dan keluarga sebaiknya memilih seorang “penjaga keluarga” yang bisa menjadi pemersatu.
Penyair Lawrence pernah berkata: “Keluarga yang kamu bangun jauh lebih penting daripada keluarga tempat kamu dilahirkan.”
Seiring berjalannya waktu, cara hidup orangtua dan anak akan berbeda. Adaptasi diperlukan. Hanya dengan begitu, semua orang bisa hidup lebih baik—keluarga pun tumbuh dan berkembang bersama. (jhn/yn)


