Mengapa Anak Perlu Membaca Dongeng?

EtIndonesia. Sepanjang sejarah, banyak cerita dongeng berhasil bertahan melewati zaman. Dengan cara yang unik, cerita-cerita ini terus diwariskan dan menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Bahkan di era modern ketika minat membaca tidak seramai dulu, anak-anak tetap mengenal kisah-kisah seperti Cinderella, Jack and the Beanstalk, dan Saint George and the Dragon.

Benar bahwa dongeng-dongeng ini telah banyak diadaptasi ulang. Banyak anak bahkan lebih mengenal versi Disney daripada versi Grimms. Namun kerangka dasar dan daya tarik dongeng tetap abadi. Beberapa di antaranya bahkan berasal dari masa Perunggu dan masih hidup dalam tradisi lisan serta buku. Jelas, dongeng memiliki kekuatan yang mampu menyalakan imajinasi—baik pada anak maupun orang dewasa.

Dongeng: Dari Kerendahan Hati Cinderella hingga Keberanian Saint George

Dongeng mengajarkan nilai moral melalui kisah sederhana namun menyentuh—kisah tentang kebaikan, kejahatan, dan kebenaran yang tak lekang oleh waktu. Saat dongeng merangsang imajinasi dan hati anak, dia juga mengajarkan cara membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Walaupun ada sebagian orang yang menganggap dongeng sudah ketinggalan zaman, saya percaya anak justru perlu lebih banyak membaca dongeng. Seperti yang ditegaskan oleh tiga tokoh besar dunia mitologi dan dongeng—C.S. Lewis, J.R.R. Tolkien, dan G.K. Chesterton—dongeng menyimpan kekayaan spiritual dan mental yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

1. Moralitas dan Kebajikan

Dongeng memancarkan nilai moral yang dapat menyentuh hati, membentuk imajinasi, dan menajamkan pemikiran anak.

  • Cinderella mengajarkan bahwa kerendahan hati dan kesabaran akan berbuah manis.
  • Beauty and the Beast menunjukkan bahwa mencintai seseorang yang tampaknya tidak menyenangkan dapat membuka keindahan tersembunyi.
  • Banyak dongeng lain menekankan pentingnya kejujuran, kecerdikan, keberanian—dan memperlihatkan konsekuensi menyakitkan dari perilaku tidak bermoral.

Semua pesan itu disampaikan melalui gambaran yang kuat dan hidup. Bahkan setelah buku ditutup, gambaran itu tetap menetap dalam ingatan anak.

Dongeng mampu menyuling realitas menjadi bentuk-bentuk yang jelas:

  • baik dan jahat,
  • indah dan buruk,
  • benar dan salah,
  • mulia dan rendah.

Karena bentuknya sederhana, simbolis, dan langsung, pengaruhnya menjadi sangat kuat—seperti konsentrat yang pekat atau minyak esensial yang mudah menyebar. Anak-anak akan memahami konsep moral jauh lebih dalam melalui pengalaman emosional yang dongeng berikan.

Misalnya, makhluk seperti naga memberi bentuk visual pada konsep kejahatan—dengan tubuh besar, cakar tajam, dan sifat tamak. Dengan demikian, anak memahami kejahatan secara konkret: ia merusak, egois, dan kejam.

Tetapi dongeng tidak berhenti sampai di sana. Selain menggambarkan gelap, dongeng juga memperkenalkan terang: para pahlawan, lembah nan damai, istana megah—semua ini menjadi simbol kebaikan, keagungan, dan harapan.

2. Persiapan Menghadapi Kehidupan

Salah satu alasan penting mengapa anak perlu membaca dongeng adalah karena dongeng memberikan latihan mental untuk menghadapi kehidupan nyata.

Dongeng mengajarkan bahwa melalui kebajikan, seseorang mampu mengalahkan rintangan dan menghadapi kejahatan.

C.S. Lewis mengatakan bahwa anak perlu mendengar dongeng agar memahami bagaimana menghadapi kejahatan dalam hidup. Ia menanggapi pandangan yang mengatakan dongeng “menakutkan” dengan tegas: “Anak akan menemui musuh yang kejam dalam hidupnya. Setidaknya biarkan mereka tahu tentang ksatria yang berani.”

Menurut Lewis, dongeng membantu anak memahami konsep kejahatan dengan cara yang sesuai usia, sambil meyakinkan mereka bahwa kebaikan bisa menang.

Pandangan ini bukan sekadar harapan manis; ini adalah kepercayaan yang membentuk ketangguhan mental. Keyakinan bahwa kebaikan dapat mengalahkan kejahatan sangat penting—baik bagi anak maupun orang dewasa yang harus menempuh hidup di “hutan gelap” dunia nyata.

G.K. Chesterton memperkuat pendapat tersebut. Ia menegaskan bahwa anak kecil sudah mengenal konsep “monster” dari imajinasinya sendiri. Karena itu, dongeng tidak menciptakan rasa takut—dongeng memberikan solusi.

Dalam bukunya Tremendous Trifles, Chesterton menulis: “Dongeng tidak menciptakan rasa takut pada anak… anak sudah mengenal naga sejak ia memiliki imajinasi. Dongeng memberi anak Saint George—pahlawan yang membunuh naga.”

Dongeng memberi anak cara untuk menaklukkan ketakutannya, menumbuhkan keberanian, harapan, dan optimisme.

3. Menumbuhkan Rasa Takjub

Dongeng juga menumbuhkan kepekaan terhadap keindahan dan misteri dunia. Melalui kisah-kisah ajaib, anak mulai melihat bahwa dunia nyata pun memiliki “keajaiban” tersendiri. Hal-hal biasa tampak lebih hidup dan memancarkan pesona baru.

Dalam esainya On Fairy-Stories, J.R.R. Tolkien menulis: “Dongeng menjadikan hal-hal sederhana terlihat lebih bercahaya—batu, kayu, besi, pohon dan rumput, rumah dan api, roti dan anggur.”

Chesterton, dalam Orthodoxy, menambahkan: “Dalam dongeng, apel itu berwarna emas—hanya agar kita mengingat kembali keheranan kita yang hilang… bahwa apel itu sebenarnya berwarna hijau.”

Dongeng membangunkan kembali rasa ingin tahu anak. Anak yang tumbuh dengan cerita seperti ini akan lebih mudah merasakan kekaguman, rasa syukur, dan sukacita—yang pada akhirnya menjadi fondasi moral, intelektual, dan bahkan peradaban.

Anak yang terbiasa merasakan keindahan ini akan memandang dunia dengan mata yang lebih peka: rumput yang hijau, pohon yang berembun, air terjun yang jernih, dan kastil dengan menara-menara menjulang seperti pedang menuju langit.

Mereka akan membawa kerinduan mendalam—hiraeth, kata dalam bahasa Welsh—kerinduan akan keindahan yang pernah mereka lihat dalam imajinasi.

Penutup: Dongeng dan Kerinduan Akan Keindahan

Dalam buku The Weight of Glory, C.S. Lewis menggambarkan rasa rindu misterius yang dibangkitkan dongeng—sesuatu yang terasa dekat namun tidak pernah sepenuhnya dapat digapai: “Keindahan dalam dongeng bukanlah tujuan akhir… melainkan wangi dari bunga yang belum pernah kita temukan, gema dari melodi yang belum pernah kita dengar, kabar dari negeri yang belum pernah kita kunjungi.”

Dongeng menanamkan dalam diri anak dorongan untuk mengejar hal-hal yang paling indah dan berharga dalam hidup.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine