EtIndonesia. Ketika sebagian pengamat internasional menilai perang Rusia–Ukraina mulai bergerak menuju fase kebuntuan jangka panjang, serangkaian perkembangan justru menunjukkan arah yang jauh lebih berbahaya. Di balik garis depan, sebuah perang bayangan yang berfokus pada kemampuan serangan jarak jauh, tekanan psikologis, dan simbol ancaman nuklir tengah meningkat tajam menjelang pergantian tahun 2025.
Modal Timur Tengah Dorong Akselerasi Industri Pertahanan Ukraina
Di satu sisi, Ukraina memperoleh dorongan signifikan pada sektor militernya. Berdasarkan laporan harian Jerman Bild, raksasa industri pertahanan Uni Emirat Arab, Edge Group, berencana mengakuisisi 30 persen saham perusahaan Ukraina FirePoint dengan nilai transaksi mencapai 760 juta dolar. Kesepakatan ini diperkirakan akan difinalisasi pada akhir Desember 2025.
FirePoint dikenal sebagai salah satu bintang baru industri pertahanan Ukraina, dengan fokus utama pada pengembangan drone tempur dan sistem rudal jarak jauh. Produk unggulannya, rudal jelajah “Flamingo”, serta drone balistik FP-1 dan FP-2, telah digunakan secara nyata di medan tempur Rusia–Ukraina sepanjang 2025 dan dinilai sebagai sedikit dari sistem senjata produksi dalam negeri Ukraina yang teruji tempur dan terbukti efektif.
Masuknya modal besar dari Timur Tengah bukan sekadar kerja sama bisnis. Banyak analis menilai langkah ini sebagai pernyataan posisi geopolitik: di tengah sikap ambigu sejumlah negara, kepentingan keamanan dan potensi keuntungan industri pertahanan mulai mendorong pilihan yang lebih tegas ke arah Kyiv.
Ketegangan Diplomatik dan Kritik Standar Ganda
Menariknya, tak lama sebelum kabar investasi ini muncul, Uni Emirat Arab dan India sempat menyampaikan keberatan kepada Kyiv terkait rumor serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun rumor tersebut segera menuai tanda tanya besar karena tidak disertai bukti konkret. Ukraina secara resmi membantah, sementara pihak Rusia gagal menghadirkan verifikasi yang meyakinkan.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy kemudian menyampaikan kritik terbuka. Dia menyoroti sikap sejumlah negara yang diam terhadap pengeboman rutin Rusia atas fasilitas sipil Kyiv, namun justru membesar-besarkan kabar yang belum terverifikasi. Menurut Zelenskyy, standar ganda semacam ini mencerminkan kenyataan pahit politik internasional di tengah perang.
Rusia Tampilkan Rudal Nuklir di Belarus
Hampir bersamaan dengan dinamika tersebut, Belarus secara mengejutkan mengumumkan bahwa sistem rudal Rusia “Oreshnik” telah resmi memasuki status kesiapan tempur, disertai publikasi pertama citra penempatannya pada akhir Desember 2025.
Dalam tayangan resmi, kendaraan peluncur terlihat bermanuver di kawasan hutan yang kemudian diidentifikasi analis Barat sebagai Pangkalan Militer Keenam Krichev, Belarus timur—sekitar 5 kilometer dari perbatasan Rusia dan 180 kilometer dari Ukraina. Media Rusia menyebut sistem ini mampu membawa hulu ledak nuklir, serta ditempatkan di wilayah yang memungkinkan waktu tempuh serangan ke sasaran Eropa dipersingkat drastis, mencakup Polandia, Lituania, dan Latvia.
Putin mengklaim Oreshnik memiliki kecepatan lebih dari 10 Mach dan hampir mustahil dicegat. Namun, peneliti Amerika Serikat dengan cepat melacak lokasi tersebut melalui citra satelit, menegaskan bahwa penempatan rudal ini berada di bawah pengawasan intelijen Barat secara real time.
Lebih jauh, Presiden Belarus, Alexander Lukashenko secara tidak sengaja mengungkap bahwa jumlah sistem Oreshnik yang dikerahkan tidak akan melebihi 12 unit—sebuah pengakuan yang secara signifikan mengurangi kesan ancaman strategis berskala besar.
Banyak pakar militer Barat meragukan klaim jangkauan 5.500 kilometer yang disebut-sebut Moskow. Seorang pejabat Amerika bahkan menyatakan secara terbuka bahwa Oreshnik bukan senjata penentu perubahan medan perang, melainkan lebih menyerupai pertunjukan politik berbalut ancaman nuklir untuk menekan Barat agar menahan bantuan militer kepada Ukraina.
Tekanan Udara Rusia dan Bayang-bayang Korea Utara
Di tengah kebuntuan operasi darat dan tekanan ekonomi domestik, Rusia juga menghadapi kendala serius dalam dukungan udara dan serangan presisi. Hal ini tercermin dari pernyataan kontroversial pakar militer Rusia, Vladimir Khrustalyov, yang dilaporkan Defence Blog pada akhir Desember 2025.
Khrustalyov menyatakan Rusia secara realistis dapat menyewa pesawat serang Su-25 era Soviet dari Korea Utara untuk digunakan di Ukraina. Pernyataan ini muncul setelah parade peringatan 80 tahun Angkatan Udara Korea Utara, di mana Su-25 Pyongyang terlihat membawa rudal berprofil kotak yang dinilai mirip rudal jelajah Taurus buatan Jerman–Swedia.
Jika klaim tersebut benar, langkah ini akan menjadi pengakuan tersirat atas tekanan besar yang dialami Rusia dalam hal ketersediaan pesawat tempur dan amunisi berpemandu presisi.
Serangan Drone Ukraina Guncang Moskow
Sementara itu, Ukraina meningkatkan tekanan langsung ke jantung Rusia. Pada malam 30–31 Desember 2025, drone Ukraina menyerang wilayah Ramenskoye, tenggara Moskow. Sebuah gardu listrik besar dilaporkan terkena serangan, disertai ledakan beruntun.
Pemadaman listrik berskala luas terjadi di Ramenskoye, Lytkarino, dan Zhukovsky, dengan hampir satu juta penduduk terdampak. Meski otoritas Rusia mengklaim semua drone berhasil dicegat dan kerusakan disebabkan puing-puing, rekaman lapangan menunjukkan iring-iringan generator darurat dikerahkan ke berbagai sudut Moskow, menandakan pemulihan tidak berlangsung cepat.
Sepanjang 2025, frekuensi pemadaman listrik dan penutupan sementara bandara di Moskow tercatat melampaui total beberapa tahun sebelumnya, memperkuat kesan meningkatnya kerentanan infrastruktur ibu kota.
Kampanye Energi: Kilang dan Depot Minyak Jadi Sasaran
Tekanan Ukraina berlanjut ke sektor energi Rusia. Pada malam 31 Desember 2025, lembaga intelijen independen Astro melaporkan serangan drone ke Kota Tuapse di pesisir Laut Hitam. Kilang minyak Tuapse, dengan kapasitas lebih dari 12 juta ton per tahun, mengalami kebakaran hebat setelah unit AVT-12—jantung proses penyulingan—terbakar dan meledak berulang kali.
Hampir bersamaan, depot minyak Kopayevo di Oblast Yaroslavl, sekitar 282 kilometer dari Moskow, juga diserang. Api berkobar hingga fajar, dengan bola api besar terlihat dari pinggiran kota. Serangan ini menegaskan bahwa sasaran Ukraina kini tidak lagi terbatas pada wilayah perbatasan, melainkan mulai merambah ke pusat wilayah Rusia.
Analisis menunjukkan pola yang semakin jelas: Ukraina melakukan serangan rutin di selatan dekat Krimea, sambil memperluas jangkauan secara bertahap ke sekitar Moskow, menciptakan tekanan psikologis dan sistemik.
“Operasi Jaring” dan Perluasan Medan Perang
Tak lama sebelum akhir tahun, Dinas Keamanan Ukraina secara langka merilis ringkasan operasi 2025. Fokus utama tertuju pada rangkaian serangan berkode “Operasi Jaring”, yang diklaim berhasil melumpuhkan sejumlah pesawat pembom strategis Rusia, memaksa sebagian armada udara Moskow mundur ke pangkalan yang lebih jauh.
Laporan tersebut juga mengungkap tiga serangan terhadap Jembatan Krimea, berbagai serangan ke pelabuhan dan kilang Rusia, serta—untuk pertama kalinya—publikasi rekaman serangan terhadap anjungan minyak Rusia di laut lepas. Ini menandai perluasan signifikan medan perang ke jalur energi dan logistik strategis.
Kesimpulan
Menjelang 2026, perang Rusia–Ukraina jelas belum mendekati akhir. Sebaliknya, konflik ini memasuki fase yang lebih senyap namun jauh lebih berisiko: investasi militer lintas kawasan, demonstrasi ancaman nuklir, serangan presisi ke infrastruktur vital, dan eskalasi psikologis yang menembus jauh ke wilayah inti Rusia. Di balik kebuntuan garis depan, perang bayangan justru bergerak menuju titik yang semakin berbahaya bagi stabilitas regional dan global.


