AS Bongkar Jaringan Bawah Tanah yang Menyelundupkan Chip Nvidia Senilai Rp 2,512 Triliun ke Tiongkok

Jaksa federal Amerika Serikat di negara bagian Texas baru-baru ini mengumumkan hasil penyelidikan besar-besaran terhadap jaringan penyelundupan yang beroperasi lintas Amerika Serikat hingga ke berbagai negara di dunia. Otoritas AS menyatakan bahwa sebuah jaringan bawah tanah penyelundupan chip yang terkait dengan Tiongkok telah menyelundupkan chip AI Nvidia senilai sedikitnya 160 juta dolar AS atau Rp 2,512 triliun dalam kurun waktu delapan bulan.

EtIndonesia. Pada 8 Desember 2025, jaksa federal Texas mengungkapkan bahwa dalam penyelidikan bertajuk “Operation Gatekeeper”, ditemukan sebuah kelompok penyelundupan rahasia yang melanggar Undang-Undang Pengendalian Ekspor Keamanan Nasional AS, dengan mengekspor chip ke Tiongkok.

Menurut dokumen pengadilan yang telah dibuka segelnya, antara Oktober 2024 hingga Mei 2025, seorang pria asal Houston beserta perusahaannya secara sengaja mengekspor atau mencoba mengekspor prosesor grafis (GPU) Nvidia H100 dan H200 ke Tiongkok dan wilayah lain, dengan nilai total sedikitnya 160 juta dolar AS. Disebutkan pula bahwa mereka menerima transfer dana dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) lebih dari 50 juta dolar AS.

Dalam putusan yang dijadwalkan pada 18 Februari, terdakwa terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara, sementara perusahaannya dapat dikenai denda hingga dua kali lipat dari keuntungan ilegal serta masa percobaan.

Jaksa federal Distrik Selatan Texas, Nicholas J. Ganjei, menyatakan bahwa chip semacam ini merupakan fondasi utama dalam persaingan kecerdasan buatan dan komponen yang tak terpisahkan dari militer modern. Menurutnya, jaringan penyelundupan tersebut menyalurkan teknologi mutakhir kepada pihak-pihak yang berniat menggunakannya untuk merugikan kepentingan Amerika Serikat, sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan nasional.

Namun demikian, pada hari yang sama ketika jaksa federal mengumumkan penyelidikan tersebut, Presiden Donald Trump menulis di platform media sosial Truth Social bahwa ia akan mengizinkan ekspor GPU Nvidia H200 ke Tiongkok, asalkan Amerika Serikat memperoleh 25% dari pendapatan penjualan.

Selain itu, dalam rangkaian Operation Gatekeeper, dua pengusaha berkewarganegaraan Tiongkok juga ditangkap—masing-masing pada 28 November di Virginia dan 3 Desember di New York. Mereka menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda hingga 1 juta dolar AS, sementara seorang tersangka lainnya terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Menurut surat dakwaan, kedua tersangka tersebut bersekongkol dengan sebuah perusahaan logistik di Hong Kong dan karyawan sebuah perusahaan teknologi kecerdasan buatan di Tiongkok untuk menghindari pengawasan ekspor Amerika Serikat.

Dalam proses pengumpulan bukti, seorang agen rahasia memasuki sebuah gudang di Secaucus, New Jersey. Ia melihat para tersangka mengganti label GPU Nvidia dengan label palsu milik perusahaan fiktif bernama Sandkayan.

Pada dokumen pengiriman dan ekspor, barang-barang tersebut secara keliru diklasifikasikan sebagai aksesori komputer umum.

Faktanya, dalam beberapa bulan terakhir, kasus penangkapan terkait ekspor ilegal produk Nvidia semakin sering terjadi. Lembaga pemikir Amerika Center for a New American Security (CNAS) memperkirakan bahwa sepanjang tahun 2024 saja, antara 10.000 hingga ratusan ribu chip AI telah diselundupkan ke Tiongkok. (hui)

Laporan oleh jurnalis New Tang Dynasty Television, Guo Yuexi, dari Amerika Serikat.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine