EtIndonesia. Tom Dolan adalah perenang ternama Amerika Serikat. Saat kecil, pada suatu sesi latihan renang, fia tiba-tiba merasa sangat sulit bernapas. Orang tuanya segera membawanya ke dokter.
Setelah pemeriksaan, dokter berkata dengan serius: “Saluran pernapasanmu menyempit. Kamu menderita asma berat. Oksigen yang masuk ke kedua paru-parumu hanya sepersepuluh dari orang normal. Semakin keras kamu berlatih, semakin berbahaya kondisimu. Kamu harus selalu membawa tabung oksigen.”
Tom terbaring di tempat tidur, diliputi pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya: “ Apakah karierku akan berakhir karena asma? Apakah aku masih bisa berenang?”
Keesokan harinya, dia kembali ke kolam renang—kali ini dengan tabung oksigen di sisinya.
Pada Olimpiade Atlanta 1996, aturan melarangnya membawa tabung oksigen ke kamar di kampung atlet. Dia hanya boleh menghirup oksigen di dalam trailer yang panas dan pengap. Satu jam menjelang lomba, setiap lima menit dia harus mengompres tubuhnya dengan es untuk meredakan ketidaknyamanan akibat kekurangan oksigen. Namun semua itu tak menghalangi tekadnya.
Dia akhirnya melaju ke final 400 meter gaya ganti perorangan. Meski napas terasa berat dan dada sesak, Tom terus memacu diri. Dia berenang dengan segenap daya—dan meraih medali emas.
Usai lomba, seorang wartawan bertanya: “Jika Anda tidak menderita asma, kira-kira berapa banyak medali yang bisa Anda menangkan?”
Tom menjawab tenang : “Mungkin tidak satu pun. Bisa jadi saya tak pernah belajar mengatasi kelemahan saya sendiri.”
Meski memiliki keterbatasan fisik, Tom Dolan tidak menyerah. Dia memanggul tabung oksigen, menundukkan kepala ke air, dan mengejar mimpinya dengan keras kepala yang berani. Pergulatan di tengah keterbatasan itulah yang membuatnya mengubah yang mustahil menjadi mungkin—dengan sepersepuluh kekuatan, dia menciptakan prestasi yang utuh.
Dalam keadaan serba mudah, manusia sering tak menyadari seberapa besar kemampuannya. Justru ketika kesulitan datang, potensi yang tersembunyi kerap meledak tanpa batas.(jhn/yn)


