EtIndonesia. Ledakan keras, disertai suara yang menyerupai pesawat terbang melintas, terdengar di Caracas sekitar pukul 02.00 pagi (waktu setempat ) Sabtu, menurut laporan seorang jurnalis AFP.
Ledakan tersebut terjadi ketika Presiden AS, Donald Trump, yang telah mengerahkan gugus tugas angkatan laut ke Karibia, meningkatkan kemungkinan serangan darat terhadap Venezuela.
Suara ledakan masih terdengar sekitar pukul 02.15 pagi, meskipun lokasi pastinya tidak jelas.
Trump pada hari Senin (29/12) mengatakan Amerika Serikat telah menyerang dan menghancurkan area dermaga untuk kapal-kapal yang diduga membawa narkoba Venezuela.
Pemimpin Partai Republik itu tidak mengatakan apakah itu operasi militer atau CIA atau di mana serangan itu terjadi, hanya mencatat bahwa itu “di sepanjang pantai.”
Serangan itu akan menjadi serangan darat pertama yang diketahui di tanah Venezuela.
Presiden Nicolas Maduro belum mengkonfirmasi atau membantah serangan hari Senin, tetapi mengatakan pada hari Kamis bahwa dia terbuka untuk kerja sama dengan Washington setelah berminggu-minggu tekanan militer AS.
Pemerintahan Trump menuduh Maduro memimpin kartel narkoba dan mengatakan sedang menindak tegas perdagangan narkoba, tetapi pemimpin sayap kiri itu membantah keterlibatannya dalam perdagangan narkoba, dengan mengatakan Washington berupaya menggulingkannya karena Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar yang diketahui di dunia.
Washington telah meningkatkan tekanan pada Caracas dengan secara tidak resmi menutup wilayah udara Venezuela, memberlakukan lebih banyak sanksi, dan memerintahkan penyitaan kapal tanker yang bermuatan minyak Venezuela.
Selama berminggu-minggu Trump telah mengancam serangan darat terhadap kartel narkoba di wilayah tersebut, dengan mengatakan serangan akan dimulai “segera,” dan Senin menjadi contoh pertama yang terlihat.
Pasukan AS juga telah melakukan banyak serangan terhadap kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur sejak September, menargetkan apa yang Washington sebut sebagai penyelundup narkoba.
Namun, pemerintah belum memberikan bukti bahwa kapal-kapal yang ditargetkan terlibat dalam perdagangan narkoba, sehingga memicu perdebatan tentang legalitas operasi ini.
Kampanye maritim yang mematikan ini telah menewaskan sedikitnya 107 orang dalam setidaknya 30 serangan, menurut informasi yang dirilis oleh militer AS.(yn)


