EtIndonesia. Pada 3 Januari 2026 dini hari, militer Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak ke Venezuela dan dengan cepat menangkap penguasa otoriter Nicolás Maduro. Sistem pertahanan Venezuela praktis tidak berfungsi.
Menurut laporan gabungan media, sekitar pukul 00.50 waktu Pantai Timur AS pada 3 Januari (sekitar 01.50 waktu setempat Caracas), ibu kota Venezuela Caracas untuk pertama kalinya terdengar suara ledakan. Sedikitnya terjadi tujuh ledakan besar, warga setempat merasakan jendela-jendela bergetar, kemudian terdengar deru pesawat yang terbang rendah.
Warga setempat merekam bahwa sebuah formasi besar operasi khusus militer AS, yang terdiri dari helikopter angkut berat Chinook, helikopter Black Hawk, dan helikopter tempur Apache, memasuki ibu kota Venezuela dari ketinggian rendah.
Beberapa lokasi, termasuk Pangkalan Udara La Carlota di pusat kota serta Benteng Fuerte Tiuna, benteng terakhir tempat tinggal Maduro, dilaporkan dibom oleh militer AS.
Setelah itu, Maduro yang sedang tertidur lelap ditarik keluar dari kamar tidurnya oleh militer AS dan dibawa naik ke pesawat militer.
Pada saat yang sama, setidaknya lima kota di Venezuela juga diserang, termasuk kota pesisir La Guaira dan Higuerote, dua bandara, serta markas besar Angkatan Udara Venezuela di Maracay, yang semuanya dilaporkan dibom.
Pada pukul 04.21 waktu Pantai Timur AS, Presiden Donald Trump mengunggah pernyataan di media sosial: “Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro. Presiden Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dibawa keluar dari negara tersebut.”
Dari ledakan pertama di Caracas hingga pengumuman Trump bahwa pesawat yang membawa Maduro telah meninggalkan wilayah Venezuela, seluruh operasi hanya berlangsung sekitar dua setengah jam. Beberapa media melaporkan bahwa pengeboman sebenarnya hanya berlangsung sekitar setengah jam.
Sekitar pukul 03.00, pemerintah Venezuela mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam Amerika Serikat atas apa yang mereka sebut sebagai “invasi militer”.
Setelah Maduro ditangkap, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyampaikan pernyataan melalui sambungan audio di televisi pemerintah Venezuela (VTV), menuntut pemerintah Trump untuk memberikan “bukti bahwa Presiden Maduro dan Ibu Negara masih hidup”. Artinya, hingga Trump mengumumkan penangkapan Maduro, pihak berwenang Venezuela masih belum mengetahui dengan jelas apa yang telah terjadi.
Pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa tidak ada satu pun personel militer AS yang tewas dalam operasi ini, meskipun beberapa orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Dalam serangan ini, sistem pertahanan udara Venezuela tidak mengeluarkan peringatan dan tidak melakukan perlawanan efektif, sehingga praktis tidak berfungsi. Padahal sebelumnya, Tiongkok dan Venezuela secara terbuka mengklaim bahwa Venezuela menggunakan radar anti-siluman buatan Tiongkok tipe JY-27. (Hui)


