Hukum Truk Sampah

EtIndonesia. Suatu hari, saya naik taksi untuk menuju bandara. Saat mobil kami sudah berada di jalur yang benar, tiba-tiba sebuah sedan hitam melaju keluar dari tempat parkir dan langsung memotong jalan di depan kami.

Sopir taksi saya segera menginjak rem. Mobil meluncur sedikit dan berhenti tepat waktu. Jarak antara kedua mobil itu mungkin hanya tersisa beberapa inci saja!

Pengemudi mobil hitam itu menoleh dengan marah dan berteriak-teriak ke arah kami.

Namun sopir taksi saya hanya tersenyum dan melambaikan tangan dengan ramah.

Saya heran dan bertanya: “Mengapa Anda bereaksi seperti itu? Orang itu hampir saja merusak mobil Anda, bahkan bisa membuat kita celaka dan masuk rumah sakit!”

Sopir taksi itu lalu menjelaskan sesuatu yang hingga kini saya sebut sebagai “Hukum Truk Sampah”.

Dia berkata:  “Banyak orang hidup seperti truk sampah. Mereka berkeliaran membawa tumpukan ‘sampah’—dipenuhi frustrasi, kemarahan, dan kekecewaan. Ketika sampah itu semakin menumpuk, mereka perlu tempat untuk membuangnya.”

“Kadang-kadang, kitalah yang kebetulan berada di sana. Lalu mereka melemparkan sampah itu kepada kita. Jadi jangan dimasukkan ke hati. Tersenyumlah, lambaikan tangan, doakan yang baik untuk mereka, lalu lanjutkan perjalananmu.”

“Jangan sekali-kali menyebarkan sampah itu kepada rekan kerja, keluarga, atau orang lain yang tidak bersalah.”

Intinya adalah: orang yang sukses tidak membiarkan “truk sampah” mengendalikan satu pun hari dalam hidupnya.

Hidup ini terlalu singkat. Jangan bangun di pagi hari dengan membawa penyesalan atau kemarahan.

Maka… Perlakukanlah dengan baik mereka yang memperlakukanmu dengan hormat. Dan tak perlu menghabiskan energi untuk mereka yang gemar mencari masalah.

Dalam hidup, hanya 10% yang terjadi di luar kendali kita. 90% sisanya ditentukan oleh bagaimana kita meresponsnya.

Jalani hari yang indah—tanpa sampah.

Karena benih yang kamu tanam hari ini, akan menentukan hasil yang kamu tuai esok hari.

Hikmah Cerita

Hukum Truk Sampah adalah gambaran yang sangat kreatif tentang kehidupan.

Dalam berbagai pelatihan kepemimpinan dan kerja tim, sering dijelaskan bahwa pikiran negatif itu seperti “membuang sampah” atau “menyuntikkan racun”. Sekuat apa pun sebuah tim, jika ada satu orang yang terus-menerus membawa energi negatif, lambat laun tim itu bisa runtuh.

Kebebasan sejati bukan berarti bertindak semaunya, melainkan mampu mengendalikan diri sendiri.

Dalam kehidupan, selalu ada “orang-orang pembawa sampah” yang berkeliaran. Mereka berbuat salah tetapi tetap merasa paling benar, bahkan memarahi orang lain. Jika kita mencoba berdebat dengan mereka, sering kali justru kita yang terluka.

Karena dalam pola pikir mereka, merekalah pusat kebenaran. Semua orang harus mengikuti kehendaknya.

Menghadapi orang seperti ini, ada dua pilihan: Jika kita cukup kuat, kita bisa menunjukkan batas dengan tegas. Namun jika tidak, lebih bijak untuk menjaga jarak dan tidak terlibat, agar tidak menambah luka.

Ingatlah satu hal: Orang yang terus-menerus berbuat tidak benar pada akhirnya akan menuai akibatnya sendiri.

Dan ketika waktunya tiba, mereka akan menyadari bahwa tidak semua orang bisa dijadikan tempat membuang sampah.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine