EtIndonesia. Sahabatku, bisakah kamu menemukan sebuah solusi?
Bertahun-tahun lalu, di sebuah desa kecil di India, ada seorang petani yang malang. Dia terlilit utang besar kepada seorang rentenir perempuan di desa itu.
Perempuan rentenir ini sudah tua, bertubuh gemuk, dan berwajah tidak menarik. Namun dia menaruh hati pada putra petani yang tampan, bernama Cliff.
Lalu dia mengajukan sebuah kesepakatan: Jika dia boleh menikah dengan Cliff, maka dia akan menghapus seluruh utang sang petani.
Tentu saja, petani dan putranya sangat terkejut dan ketakutan mendengar usulan itu.
Rentenir itu licik. Dia berkata, biarlah “Tuhan” yang menentukan.
Dia menjelaskan: dia akan memasukkan dua kerikil ke dalam kantong—satu kerikil hitam dan satu kerikil putih. Cliff harus mengambil satu kerikil dari dalam kantong itu.
- Jika Cliff mengambil kerikil hitam, dia harus menikahi rentenir tersebut, dan utang ayahnya akan dihapus.
- Jika Cliff mengambil kerikil putih, dia tidak perlu menikah, dan utang ayahnya tetap dihapus.
- Namun jika Cliff menolak mengambil kerikil, ayahnya akan dipenjara.
Mereka berdiri di jalan setapak ladang yang penuh kerikil. Saat mereka masih berbicara, sang rentenir membungkuk seolah-olah memilih kerikil.
Cliff yang bermata tajam melihat jelas: perempuan itu memasukkan dua kerikil hitam ke dalam kantong!
Setelah itu, perempuan itu meminta Cliff segera mengambil salah satu kerikil dari kantong.
Sekarang, bayangkan kamu ada di posisi Cliff. Apa yang akan kamu lakukan? Jika kamu harus memberi saran pada Cliff, apa yang akan kamu katakan?
Jika dipikir secara biasa, seolah hanya ada tiga kemungkinan:
- Cliff menolak mengambil kerikil.
- Cliff mengungkap bahwa di dalam kantong semuanya kerikil hitam, membongkar kebohongan rentenir itu.
- Cliff mengambil kerikil hitam dan mengorbankan diri—menikah demi menyelamatkan ayahnya.
Cerita ini mengajak kita merenungkan perbedaan antara berpikir “lurus” (logika biasa) dan berpikir “menyamping” (kreatif).
Dalam situasi Cliff, masalah itu tidak mungkin terselesaikan dengan logika biasa saja. Jika dia memilih salah satu dari tiga jawaban itu, coba bayangkan konsekuensinya.
Jadi, menurutmu, apa yang sebaiknya Cliff lakukan?
Baiklah… begini cara Cliff menyelesaikannya.
Cliff memasukkan tangannya ke kantong, lalu mengambil satu kerikil. Namun sebelum sempat dia perlihatkan warnanya, dia “tidak sengaja” menjatuhkannya ke jalan berbatu. Kerikil itu langsung menggelinding dan hilang di antara tumpukan kerikil lainnya—tak mungkin dicari lagi.
“Ah, betapa bodohnya aku,” kata Cliff. “Tapi tidak apa-apa. Cukup lihat saja kerikil yang tersisa di dalam kantong, maka kita akan tahu kerikil apa yang tadi aku ambil.”
Karena di dalam kantong tersisa kerikil berwarna hitam, semua orang terpaksa menganggap kerikil yang Cliff ambil tadi adalah kerikil putih.
Dan karena rentenir itu tidak berani mengakui kebusukannya sendiri, Cliff berhasil mengubah situasi yang tampak mustahil menjadi kondisi yang sangat menguntungkan.
Pesan Cerita
Masalah yang paling rumit pun selalu punya jalan keluar. Hanya saja, sering kali kita belum sungguh-sungguh mencoba memikirkannya.
Satu cara pandang bisa menjadi sebuah kreativitas.
Hikmah Cerita
Penulis renungan memberi contoh: jika dia berada di posisi Cliff dan sudah melihat si rentenir curang, dia akan berlutut seolah-olah berdoa dengan sangat khusyuk:
“Ya Tuhan yang Mahabesar, jika pernikahan ini Engkau izinkan, maka jadikan kerikil dalam kantong ini semuanya putih. Jika pernikahan ini tidak Engkau izinkan, maka jadikan semuanya hitam. Apa pun hasilnya, aku akan mengikuti kehendak-Mu.”
Lalu dia akan berkata pada rentenir itu: “Jika kerikilnya putih, aku akan menikahimu dan utang ayahku dihapus. Jika kerikilnya hitam, berarti kehendak Tuhan aku tidak menikahimu—namun utang ayahku tetap harus dihapus.”
Saat kantong dibuka dan dua kerikil hitam muncul, orang-orang bisa menganggap itu sebagai “tanda” bahwa pernikahan itu tidak direstui.
Renungan lain: jika ia menjadi sang ayah, ia akan berkata pada anaknya: “Kalau sampai kamu benar-benar mengambil kerikil hitam, malam itu juga pergilah jauh. Jangan hancurkan masa depanmu demi ayah yang sudah tua.”
Intinya, satu masalah bisa punya banyak cara penyelesaian. Cara kita bertindak dipengaruhi lingkungan, kebiasaan, cara pandang, dan posisi masing-masing.
Karena itu, sebelum mengambil keputusan, cobalah pikirkan beberapa pilihan, tuliskan satu per satu, bayangkan konsekuensinya, lalu pilih dan jalankan yang paling bijak.
Sering kali, dengan cara itu, banyak hal bisa berakhir indah.


