EtIndonesia. Sepasang suami istri muda yang melayani sebagai pendeta ditugaskan ke daerah Brooklyn, New York, untuk membuka kembali sebuah gereja tua yang sudah lama terbengkalai.
Bangunan gereja itu benar-benar rusak dan perlu renovasi besar. Mereka menyusun jadwal kerja: setiap hari memperbaiki sedikit demi sedikit, dengan target membuka kembali gereja pada malam Natal.
Seminggu sebelum Natal, hampir semua pekerjaan selesai sesuai rencana.
Namun tiba-tiba badai besar datang selama dua hari berturut-turut. Tiga hari sebelum malam Natal, sang pendeta datang ke gereja dan melihat atap retak. Cat dinding di belakang altar mengelupas cukup besar—sekitar enam meter panjang dan dua setengah meter lebar.
Hatinya terasa jatuh. Dia menyapu serpihan cat yang berserakan dan berpikir: “Haruskah ibadah malam Natal dibatalkan? Haruskah pembukaan ditunda?”
Dalam perjalanan pulang, dia melewati bazar amal seperti pasar loak yang diadakan oleh beberapa usaha lokal. Dia masuk sekadar melihat-lihat.
Di sana dia melihat sebuah taplak meja yang sangat indah—berwarna gading, dengan bordiran salib besar di tengahnya. Ukurannya tampak pas untuk menutup bagian dinding yang rusak.
Dia membelinya dan kembali ke gereja.
Salju mulai turun.
Seorang wanita tua berlari dari seberang jalan hendak mengejar bus, tetapi dia terlambat. Bus berikutnya baru datang 45 menit lagi. Pendeta itu mengajaknya masuk ke gereja untuk berteduh dari dingin.
Sementara itu, pendeta mengambil tangga dan menggantung taplak meja di dinding, tepat menutupi bagian yang mengelupas.
“Terpujilah Tuhan! Sempurna sekali!” katanya puas.
Tiba-tiba dia melihat wanita tua itu berdiri pucat menatap taplak tersebut.
“Pendeta… dari mana Anda mendapatkan taplak ini?” tanyanya dengan suara gemetar.
Pendeta menjelaskan semuanya.
“Bolehkah saya melihat sudut kanan bawahnya? Apakah ada inisial EBG di sana?” tanyanya lagi.
Pendeta memeriksa. Benar, ada huruf EBG—singkatan nama wanita itu.
Taplak itu adalah hasil sulamannya sendiri, dibuat tiga puluh lima tahun lalu di Austria.
Wanita itu berkata: “Tiga puluh lima tahun lalu, saya dan suami tinggal di Austria. Kami hidup berkecukupan. Ketika Nazi datang, kami terpaksa melarikan diri. Saya pergi lebih dulu, suami menyusul seminggu kemudian.”
“Namun saya ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi. Sejak saat itu saya tak pernah melihat suami saya lagi… dan tak pernah kembali ke rumah.”
Pendeta terharu dan ingin mengembalikan taplak itu, tetapi wanita itu berkata: “Simpanlah untuk gereja.”
Pendeta pun mengantarnya pulang ke Staten Island, tempat dia tinggal dan bekerja sebagai petugas kebersihan di Brooklyn setiap minggu.
Beberapa hari kemudian, gereja dibuka kembali pada malam Natal. Bangunan itu hampir penuh. Musik dan suasana terasa hangat. Banyak orang berkata akan kembali minggu berikutnya.
Setelah ibadah selesai, seorang pria tua masih duduk tak beranjak.
“Pendeta, dari mana Anda mendapatkan taplak itu?” tanyanya.
“Sebelum perang, ketika saya tinggal di Austria, istri saya membuat taplak yang persis seperti itu. Mustahil ada dua taplak yang begitu mirip.”
Pria tua itu menjelaskan bahwa tiga puluh lima tahun lalu, dia dan istrinya terpisah karena invasi Nazi. Dia menyuruh istrinya pergi lebih dulu. Dia menyusul kemudian, tetapi ditangkap dan dipenjara. Sejak itu mereka tak pernah bertemu lagi.
Pendeta terdiam.
“Bolehkah saya mengantar Anda berjalan-jalan?” tanya pendeta.
Dia membawa pria tua itu ke Staten Island, ke apartemen yang sama tempat dia mengantar wanita tua beberapa hari sebelumnya.
Dia membantu pria itu menaiki tiga lantai tangga dan membunyikan bel.
Di sanalah, sang pendeta menyaksikan sebuah perjumpaan Natal yang sangat mengharukan—sepasang suami istri yang terpisah tiga puluh lima tahun akhirnya bertemu kembali.
Dalam lautan manusia yang begitu luas, siapa yang bisa mempertemukan dua jiwa yang tercerai begitu lama?
Ada hal-hal yang melampaui logika manusia.
Manusia boleh merencanakan, tetapi hasil akhirnya sering berada di tangan yang lebih tinggi.
“Manusia merancang jalannya, tetapi Tuhan yang menentukan langkahnya.”
Renungan
Saat sesuatu yang buruk berubah menjadi baik, manusia sering memuji langit.
Namun ketika yang baik berubah menjadi pahit, manusia mudah menyalahkan langit.
Apakah langit membantu atau mencelakakan?
Setiap orang punya tafsirnya masing-masing.
Karena itu, jangan terlalu cepat bersukacita ketika menerima hal baik—mungkin itu hanyalah lapisan manis yang menyembunyikan ujian.
Dan jangan terlalu cepat putus asa ketika mengalami kesedihan—mungkin itulah obat pahit yang membawa kita menuju kebahagiaan yang lebih besar.
Obat memang pahit di awal, tetapi sering menyembuhkan.
Kadang yang kita anggap kehilangan justru menjadi jembatan pertemuan. Kadang yang tampak kebetulan ternyata adalah rancangan yang indah.
Dan dalam perjalanan hidup, kita mungkin tidak mengerti semuanya… tetapi waktu sering membuktikan bahwa setiap potongan cerita memiliki tempatnya sendiri.(jhn/yn)


