Surabaya – Di sebuah desa kecil bernama Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, hiruk-pikuk alat tenun tradisional masih terdengar nyaring. Bunyi “dog-dog” yang menjadi asal nama Batik Gedog itu bukan sekadar suara, melainkan denyut nadi kehidupan warga yang telah berdenyut sejak abad ke-13. Di tengah desa itulah, Ratna Yunita, seorang kepala desa sekaligus pengrajin batik, berjuang mengangkat warisan leluhur agar tak lekang oleh zaman.
Perjalanan Ratna bersama Batik Gedog Lokcan bukan kisah instan. Ia mulai menekuni dunia ini sejak lama, namun baru benar-benar melejit setelah aktif mengikuti berbagai pameran dan event UMKM sejak tahun 2019. “Alhamdulillah dengan pemilihan dari BI, omset kami jadi melejit,” ujarnya kepada The Epoch Times saat ditemui di ajang Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Grand City, Surabaya.
Ketika Coklat Tak Lagi Menarik
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Ratna adalah selera pasar. Dahulu, Batik Gedog hanya hadir dalam warna-warna klasik: coklat, indigo, dan sugan. Warna-warna tanah yang sarat makna filosofis itu ternyata kurang diminati generasi muda. “Kalau warna coklat sama warna indigo sama warna sugan itu, kalau anak muda cenderung kurang menarik,” kenang Ratna.
Alih-alih menyerah, ia dan para pengrajin berinovasi. Mereka mulai bereksperimen dengan pewarna sintetis untuk menghasilkan warna-warna cerah yang lebih menggoda. “Awalnya kami kesusahan untuk memasarkan. Jadi kami berinovasi, gimana caranya menarik kaum muda, jadi membuat warna yang cerah,” jelasnya. Inovasi ini membuahkan hasil. Kini, Batik Gedog Tuban hadir dalam beragam warna cerah yang tetap mempertahankan motif klasik khas Tuban, seperti burung Lokcan yang melambangkan kebajikan dan kewibawaan.
Dari Hulu ke Hilir: Menjaga Keaslian di Tengah Gempuran Zaman
Yang membedakan Batik Gedog Tuban dari batik daerah lain adalah proses produksinya yang luar biasa panjang dan menyeluruh. Ratna dan komunitasnya tidak sekadar membeli kain lalu membatik. Mereka memulai dari hulu: menanam kapas sendiri di lahan khusus. “Jadi kami dari mulai kapas, menanam sendiri, terus ada warna coklat itu, terus yang putih itu yang biasa,” paparnya.
Setelah dipanen, kapas dipintal menjadi benang, lalu ditenun menggunakan alat tradisional yang mengeluarkan bunyi khas “dog-dog”. Barulah setelah kain tenun jadi, proses membatik dimulai. Seluruh rangkaian ini melibatkan sekitar 150 pengrajin di Desa Gaji, hampir semuanya adalah warga desa yang mengerjakan di sela-sela aktivitas bertani. “Pekerjanya hampir 150 orang (tenaga borongan). Kebetulan saya kepala desa Gaji, jadi saya berharap tenun gedog Tuban ini bisa terangkat di desa kami, bukan diambil dari tengkulak,” ujarnya penuh harap.
Proses yang memakan waktu sekitar satu bulan untuk setiap batch ini menghasilkan kain yang teksturnya lebih tebal dan kasar dibandingkan batik modern, namun jauh lebih kuat dan tahan lama. Setiap helai kain membawa cerita, doa, dan sentuhan tangan para perajin yang tak tergantikan oleh mesin.
Menembus Pasar Global
Kerja keras Ratna dan komunitasnya berbuah manis. Pada tahun 2024, Batik Gedog Lokcan mulai menembus pasar ekspor. “Kami juga ikut impor ekspor ke luar negeri dari 2024,” ungkapnya bangga. Produk mereka telah dikenal hingga mancanegara, membuktikan bahwa kearifan lokal Tuban mampu bersaing di kancah global.
Dari sisi bisnis, pencapaian ini berdampak signifikan. Omset UMKM yang dipimpinnya kini stabil di angka Rp50 juta per bulan. Angka itu bahkan bisa melonjak hingga Rp100 juta ketika mereka aktif mengikuti pameran besar dan pagelaran fashion show di kota-kota metropolitan seperti Jakarta. “Alhamdulillah manfaatnya banyak, juga dari meningkatnya ambil hampir 50%,” tambahnya.
Harga produk Batik Gedog Lokcan pun bervariasi, mulai dari Rp900 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung tingkat kerumitan dan ukuran kain. Kini, Ratna juga tengah membangun sebuah galeri bernama “Tuban Lokcan” yang diharapkan dapat menjadi pusat promosi dan edukasi bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat warisan budaya ini.
Harapan Seorang Kepala Desa
Bagi Ratna, Batik Gedog bukan sekadar produk dagangan. Ia adalah identitas, sejarah, dan masa depan Desa Gaji. Sebagai kepala desa, ia bermimpi seluruh warganya dapat merasakan manfaat ekonomi dari kerajinan yang telah diwariskan nenek moyang ini. Ia ingin memastikan bahwa para pengrajin tidak lagi bergantung pada tengkulak dan bisa mendapatkan hasil yang adil dari kerja keras mereka.
“Alhamdulillah kami bisa berinovasi dari mengikuti pasar, berarti tidak ada kendala yang berarti mulai bahan sampai pengerjaan,” tuturnya optimistis. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia yang telah memberinya panggung melalui FESyar, Ratna yakin Batik Gedog Tuban akan terus berjaya.
Kisah Ratna Yunita dan Batik Gedog Lokcan adalah bukti bahwa tradisi dan inovasi bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru, keduanya dapat berjalan beriringan, menghasilkan karya yang tidak hanya indah dan bermakna, tetapi juga mampu menghidupi banyak orang. Dari desa kecil di Tuban, sehelai kain tenun penuh doa kini melangkah ke panggung dunia.(et)


