EtIndonesia. Gempa bumi berkekuatan Magnituod 7,7 yang dahsyat melanda Myanmar, menewaskan lebih dari 2.000 orang dan melukai ribuan lainnya. Tim penyelamat, termasuk anjing pelacak dan paramedis, bekerja tanpa lelah untuk menemukan korban selamat di bawah reruntuhan saat peluang penyelamatan semakin menipis.
Pencarian Korban Selamat: Pelarian Ajaib di Tengah Reruntuhan
Gempa bumi yang terjadi pada Jumat siang (28/3) itu menyebabkan kerusakan luas di seluruh Myanmar, termasuk runtuhnya bangunan dan infrastruktur. Di antara kisah-kisah penyelamatan yang luar biasa adalah kisah seorang wanita tua dan dua cucu perempuannya, yang terjebak di bawah reruntuhan rumah mereka selama 15 jam yang menyiksa.
2 girls and their grandmother keep calm while trapped under rubble in the Myanmar earthquake. They've been rescued, but many are still missing.
— Yelisaveta Petrov (@YelisavetaPaUSA) March 31, 2025
My heart aches imagining their terror—the crushing weight, the desperate gasps for air during Myanmar's devastating earthquake. But… pic.twitter.com/QZTaybBTYj
Mereka menggunakan pisau mentega untuk memberi isyarat minta tolong sambil merekam teriakan putus asa mereka untuk diselamatkan, yang dibagikan di media sosial. Untungnya, tim penyelamat berhasil menyelamatkan mereka.
Kisah mengerikan lainnya datang dari dua wanita yang terjebak di bawah reruntuhan hotel yang runtuh di Mandalay. Mereka menunggu selama lima jam dalam kegelapan, menggunakan lampu ponsel untuk membersihkan puing-puing, sebelum diselamatkan. Salah satu wanita itu berbagi pengalamannya dengan CNN, mengatakan bahwa waktu yang dihabiskan dalam keadaan terjebak mengajarkannya nilai dari menjalani hidup bahagia dan melakukan perbuatan baik.
Kerugian yang Menghancurkan: Biara, Sekolah, dan Masjid Hancur
Sementara penyelamatan ajaib terus berlanjut, skala kehancurannya sangat besar. Di antara yang tewas adalah 200 biksu Buddha, yang tertimpa biara yang runtuh, dan 50 anak yang tewas ketika sebuah prasekolah runtuh. Selain itu, 700 Muslim tewas saat salat di masjid.
Upaya Pemulihan Berjuang di Tengah Krisis Myanmar yang Berkelanjutan
Dengan perang saudara dan kontrol ketat junta atas komunikasi, respons terhadap bencana menjadi rumit. Kelompok bantuan kemanusiaan, termasuk Komite Penyelamatan Internasional, telah melaporkan kebutuhan mendesak akan tempat berlindung, makanan, dan persediaan medis. Banyak korban selamat sekarang tidur di luar, takut akan gempa susulan dan ketidakstabilan bangunan yang tersisa.
Negara yang Terkena Krisis: Akibat Gempa Bumi Paling Mematikan dalam Satu Abad
Gempa bumi ini merupakan gempa bumi paling mematikan di Myanmar dalam lebih dari satu abad. Sementara pihak berwenang melaporkan bahwa 2.065 orang meninggal, lebih dari 3.900 orang terluka, dan sedikitnya 270 orang hilang. Kerusakan pada jalan, jembatan, dan infrastruktur lainnya telah menghambat upaya bantuan, sehingga sulit untuk menjangkau mereka yang membutuhkan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyoroti situasi yang mengerikan, terutama di daerah yang paling parah terkena dampak seperti Mandalay, di mana para penyintas berjuang untuk mendapatkan akses ke air bersih dan sanitasi. Kebutuhan akan tenda sangat penting karena banyak yang terlalu takut untuk tidur di dalam.
Sementara Myanmar menghadapi dampak gempa bumi terkuat dalam sejarahnya, upaya penyelamatan terus berlanjut, dan masyarakat internasional bersatu untuk memberikan bantuan.(yn)


