Kabar tentang penangkapan Wakil Ketua Asosiasi Buddha Tiongkok sekaligus Kepala Biara Shaolin, Shi Yongxin, terus menjadi sorotan. Pada 27 Juli, seorang orang dalam mengungkap bahwa kehidupan pribadi Shi Yongxin sangat mewah dan bejat, sehingga penangkapannya sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak lama. Publik mempertanyakan mengapa laporan terhadapnya yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade lalu tidak pernah berhasil, “kenapa baru sekarang terjadi?”
EtIndonesia. Pada 27 Juli 2025 malam, situs resmi Shaolin Si (Kuil Shaolin) mengeluarkan pernyataan bahwa Shi Yongxin diduga melakukan tindak pidana, termasuk penggelapan dan penyalahgunaan dana proyek serta aset kuil. Ia juga dituduh melakukan pelanggaran serius terhadap disiplin ajaran Buddha, menjalin hubungan tidak layak dengan banyak wanita selama bertahun-tahun dan memiliki anak di luar nikah. Saat ini, ia sedang dalam penyelidikan oleh beberapa lembaga pemerintah.
Pada hari yang sama, seorang informan membagikan pengakuan di internet bahwa ia sudah menduga Shi Yongxin akan diselidiki.
“Sekitar 25 tahun lalu, saat saya belajar seni bela diri di Kuil Shaolin, saya bertemu dengan Kepala Biara Shi Yongxin. Saya juga beberapa kali menjadi relawan di sana dan pernah bertemu dengannya secara langsung. Kehidupan pribadinya sangat kacau dan penuh kemewahan,” katanya.
Orang dalam itu juga mengungkap rincian kehidupan Shi Yongxin: “Teh yang dia minum harganya ribuan hingga puluhan ribu yuan per kati. Memang benar itu teh asli—teh Mingqian Que She—satu bungkus kecil saja bisa berharga beberapa ribu yuan, berasal dari pohon teh kuno berusia ribuan tahun. Seorang biksu hidup dengan begitu mewah. Tempat tidurnya terbuat dari kayu mahal yang sangat langka, nilainya bisa mencapai jutaan yuan. Mobil pribadinya juga selalu mobil mewah senilai ratusan juta.”
Orang itu melanjutkan, “Dalam ajaran Buddha, ada pernyataan bahwa ‘biksu tidak boleh duduk di ranjang besar dan mewah’… Mengapa biksu harus menjauh dari duniawi? Karena manusia sudah terlalu kejam dalam bersaing. Mengapa biksu tidak boleh berbisnis? Karena manusia sudah saling tipu, saling berebut kekuasaan dan harta…”

Menurut orang ini, gaya hidup mewah Shi Yongxin sudah sangat melanggar sila-sila dalam ajaran Buddha. “Ajaran Buddha menekankan empat kekosongan besar. Sebagai seseorang yang sudah melepas duniawi, seharusnya ia mengenakan pakaian tambalan, makan dari sumbangan umat, bukannya mengendarai mobil mewah ratusan juta dan tidur di ranjang miliaran. Kehidupan seperti ini merusak citra agama Buddha di zaman dekadensi ini, dan mengecewakan hati banyak umat.”
Pernyataan ini memicu diskusi hangat di kalangan netizen:
- “Kenapa kamu baru bicara sekarang?”
- “Dulu nggak berani ngomong.”
- “Kalau ngomong dulu, bisa dituduh penyebar hoaks.”
- “Sudah banyak yang melapor dulu, tapi nggak digubris.”
Netizen juga bertanya-tanya:
- “Kenapa biksu Shaolin bisa sekaya itu? Siapa yang membiarkannya menghamburkan uang?”
- “Kenapa laporan 10 tahun lalu gagal? Harusnya ada penjelasan.”
Kuil Shaolin, yang terletak di kota Zhengzhou, Tiongkok Tengah, adalah salah satu biara Buddhis paling terkenal di negara tersebut maupun di dunia. Awalnya merupakan tempat untuk latihan spiritual, kuil kuno ini mengalami banyak perubahan signifikan di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Saat ini, Kuil Shaolin telah menjadi sebuah bisnis global, dengan berbagai usaha yang mencakup perusahaan film dan televisi, akademi lukis, penerbitan, dan kelompok seni pertunjukan—semuanya dibentuk oleh Shi, yang telah mendapat julukan “Biksu CEO.”
Selain kegiatan bisnis, Shi juga memegang berbagai posisi administratif di Tiongkok. Pada tahun 1998, ia ditunjuk oleh pemimpin partai komunis Tiongkok saat itu, Jiang Zemin, sebagai anggota Kongres Rakyat Nasional—lembaga legislatif boneka yang dikendalikan oleh Partai—dan menjabat selama 20 tahun.
Menurut sebuah laporan investigasi yang diterbitkan oleh media bisnis Tiongkok Caixin pada tahun 2015, Shi memiliki hubungan dekat dengan Jiang, pemimpin Partai wilayah Henan Li Changchun, dan kepala Asosiasi Buddhis Zhao Puchu. Laporan tersebut menyatakan bahwa di bawah arahan Zhao, Shi mengubah Kuil Shaolin menjadi sebuah kerajaan bisnis.
Pada Agustus 2018, kuil tersebut mengadakan upacara pengibaran bendera merah darah bintang lima partai komunis untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, mengikuti perintah PKT agar tempat-tempat keagamaan mengibarkan bendera nasional merah darah. Ini adalah kali pertama dalam sekitar 1.500 tahun sejarah kuil tersebut mengambil sikap politik secara formal.
Selama masa kepemimpinan Shi, Kuil Shaolin mendirikan pusat budaya di Amerika Serikat, Australia, dan sejumlah negara Eropa. Menurut laporan Global Times—media milik negara—pada Juli 2024, jumlah total pusat budaya Shaolin di luar negeri telah melampaui 200 pusat budaya.
Dengan nama asli Liu Yingcheng, Shi masuk ke Kuil Shaolin pada tahun 1981 dan menjadi kepala biara pada akhir 1990-an, menurut situs resmi kuil tersebut.
Sebagai “biksu politik” yang dibina oleh Partai Komunis Tiongkok, Shi Yongxin telah berkali-kali terseret dalam skandal seperti “tertangkap karena prostitusi”, “memelihara mahasiswi dari Universitas Peking”, dan “memiliki anak di luar nikah”. Namun, setelah penyelidikan oleh otoritas, semua tuduhan itu disebut sebagai rumor dan tidak terbukti, lalu perlahan dilupakan publik.
Skandal terbesar terjadi pada tahun 2015, ketika seseorang yang mengaku sebagai murid Shaolin bernama “Shi Zhengyi” dan beberapa orang lainnya melaporkan Shi Yongxin secara terbuka. Mereka menuduhnya memelihara banyak wanita, melakukan pelecehan seksual terhadap biksu dan biksuni, memiliki anak di luar nikah, mendirikan perusahaan atas nama kuil, menyalahgunakan aset Shaolin, serta menindas orang-orang yang tidak sepaham dengannya.
Namun hasil penyelidikan dari pemerintah provinsi Henan saat itu menyimpulkan bahwa “tuduhan terhadap Shi Yongxin tidak berdasar”; informasi mengenai “anak di luar nikah” juga tidak ditemukan. Media corong rezim seperti CCTV pun turut menyiarkan program khusus untuk “meluruskan” isu, dan semua laporan itu pun menguap begitu saja.
Kini ketika Shi Yongxin akhirnya benar-benar diselidiki, netizen merasa tuduhan-tuduhan masa lalu seolah terbukti kembali. Banyak yang mencibir, “Doa saya di kuil ternyata dikabulkan langsung oleh sang biksu.”
“Langit tidak pernah menutup mata, butuh waktu 10 tahun sampai laporan ini benar-benar diperhatikan.” (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


