Selama beberapa hari terakhir, Beijing dilanda hujan deras dan banjir bandang. Ditambah lagi dengan pelepasan air dari bendungan, situasi bencana semakin memburuk dan menyebabkan banyak korban jiwa serta kerugian besar.
Banyak rumah dan lahan pertanian warga hancur terbawa arus, sejumlah wilayah mengalami pemadaman listrik dan air, serta banyak kendaraan hanyut terbawa banjir. Rezim Tiongkok secara tak biasa mengakui bahwa banjir besar kali ini telah menyebabkan korban jiwa yang signifikan di Beijing.
EtIndonesia. Berdasarkan laporan media Tiongkok, hujan deras menyebabkan 16 sungai di berbagai provinsi seperti Beijing, Hebei, Mongolia Dalam, Shanxi, Gansu, Fujian, dan Yunnan meluap di atas batas siaga. Ketinggian air tertinggi tercatat 3,48 meter di atas ambang siaga.
Pada 28 Juli pukul 22.30, Biro Sumber Daya Air dan Biro Meteorologi Kota Beijing bersama-sama mengeluarkan peringatan oranye untuk genangan air: dari pukul 23.00 pada 28 hingga pukul 08.00 pada 29 Juli, distrik pusat kota seperti Haidian, Fengtai, Tongzhou, dan Chaoyang berisiko tinggi mengalami banjir dan genangan.
Sebelumnya, pada pukul 12.00 pada 28 Juli, Biro Meteorologi Beijing telah mengeluarkan peringatan merah untuk hujan deras: diperkirakan dari pukul 20.00 pada 28 Juli hingga pukul 07.00 pada 29 Juli, sebagian besar wilayah Beijing akan mengalami curah hujan di atas 150 mm selama enam jam, bahkan ada lokasi yang bisa mencapai lebih dari 300 mm.
Risiko bencana alam seperti banjir bandang, longsor, dan tanah amblas di wilayah pegunungan sangat tinggi, serta kemungkinan genangan air parah di dataran rendah.
Hingga 28 Juli tengah malam, curah hujan rata-rata di seluruh kota Beijing tercatat 165,9 mm. Curah hujan tertinggi tercatat di Langfangyu dan Zhujiayu, Distrik Miyun, yaitu 543,4 mm. Puncak aliran masuk ke Bendungan Miyun mencapai 6.550 meter kubik per detik, melampaui rekor historis.
Pada 27 Juli, banyak bendungan di Beijing mengeluarkan air, termasuk Bendungan Miyun, serta beberapa bendungan di Distrik Huairou, Distrik Pinggu, dan lainnya.
Pada 29 Juli, otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) melaporkan bahwa hingga tengah malam 28 Juli, hujan deras ini telah menyebabkan 30 korban tewas di Beijing, di antaranya 28 orang di Miyun dan 2 orang di Yanqing. Infrastruktur rusak di 31 lokasi, 136 desa kehilangan listrik, jaringan komunikasi terganggu dengan 62 kabel optik rusak dan 1.825 menara BTS mati. Lebih dari 80.000 orang dievakuasi dari rumah mereka.
Namun, karena pemerintah PKT kerap menyembunyikan data bencana, kenyataan di lapangan bisa jadi jauh lebih parah dari yang diumumkan secara resmi.
Hujan deras dan pelepasan air dari bendungan menyebabkan banjir besar dan tanah longsor di banyak daerah sekitar Beijing seperti Miyun, Huairou, Shunyi, dan Tongzhou.
Khususnya, Desa Koumenzi di Kota Fengjiayu terkena dampak paling parah. Sekitar 27 Juli pada pukul 05.00 pagi, sungai anak Sungai Baihe meluap dan menenggelamkan jalan desa hanya dalam waktu 20 menit. Arus deras membawa batang pohon dan bebatuan ke jalan-jalan desa, bahkan air mencapai ketinggian jendela lantai pertama rumah warga.
Pada 28 Juli, banyak video yang diunggah warganet menunjukkan rumah-rumah terendam dan mobil-mobil tersapu arus di Miyun, Beijing. Warga mengatakan bahwa air telah memasuki rumah hingga setinggi pinggang, ranjang-ranjang pun ikut mengapung.
Menurut laporan China News Service, beberapa kompleks perumahan dan desa di dekat Kota Taishitun di Distrik Miyun dikepung banjir. Banyak kendaraan terbawa arus. Seorang warga menyebut begitu membuka pintu di pagi hari, langsung dihantam arus banjir hingga harus berpegangan pada tiang listrik selama lebih dari satu jam sebelum diselamatkan.
“Kompleks perumahan kami berada dekat sungai, sangat parah. Genangan air lebih dari tinggi orang dewasa. Lantai satu sudah terendam semua. Saat suami saya keluar sebentar untuk memindahkan mobil, baru 10 menit sudah tidak bisa kembali ke rumah. Mobil kami berhasil diselamatkan, tapi mobil-mobil lain yang tidak sempat dipindahkan semuanya hanyut. Semua penghuni kompleks sudah dievakuasi,” ujar seorang warga bernama Feng.
Warganet juga berkomentar:
- “Desa-desa di Luanping, Hebei, dekat Beijing, masih belum ada kabar. Tidak tahu apa yang terjadi di desa-desa seperti Hushaha dan Liudaohe.”
- “Hujan deras bak tangisan langit atas bencana ini.”
- “Banjir di Beijing seperti monster buas.”
- “Begitu parah, apakah karena pelepasan air dari bendungan?”
Pada 29 Juli, pengguna media sosial “nianianwei” menulis permohonan bantuan:
“Desa saya, Yangjiatai, Kecamatan Liudaohe, Kabupaten Xinglong, Kota Chengde, Hebei (hanya 500 meter dari Desa Xiazhaizi, Miyun, Beijing) terkena banjir dan longsor besar. Jalan putus, listrik dan jaringan terputus, ada korban jiwa, dan penduduk belum dievakuasi. Tolong bantu kami.”
Ia menambahkan: “Tolonglah, kami sangat putus asa. Sudah satu hari tak bisa menghubungi siapa pun di desa. Sudah melewatkan waktu terbaik untuk penyelamatan. Orang-orang yang berhasil keluar mengatakan masih ada yang terjebak, tidak bisa dievakuasi karena semua jalan masuk desa runtuh.”
Pengguna lain “Mengmengmengda e’e Xiaoshuangzi” menulis: “Tolong perhatikan Kabupaten Xinglong di Provinsi Hebei, yang berada dekat Beijing. Curah hujan di sana juga sangat tinggi, semua kecamatan di bawahnya putus listrik dan jaringan, tak bisa dihubungi selama dua hari. Sudah ada puluhan korban, tapi belum ada tim penyelamat. Jurnalis harus perhatikan, kami belum bisa menghubungi keluarga kami, tak ada informasi sama sekali, kendaraan tak bisa masuk. Hujan masih terus turun, tak ada yang membantu kami dievakuasi.”
Rezim PKT pun secara langka mengakui keparahan bencana ini. Pada 28 Juli malam, pimpinan PKT Xi Jinping mengatakan bahwa beberapa wilayah seperti Tiongkok Timur, Utara, dan Timur Laut telah mengalami hujan deras terus menerus, mengakibatkan korban jiwa dan kerugian besar di Beijing, Hebei, Jilin, Shandong, dan lainnya. Perdana Menteri Li Qiang juga menyoroti bahwa banjir di Distrik Miyun, Beijing, menyebabkan banyak korban dan memerintahkan pencarian korban hilang.
Akibat hujan lebat, pada 29 Juli, seluruh jalur kereta pinggiran kota Beijing dihentikan:
- Jalur S2, Huairou–Miyun, dan Tongmi semuanya ditangguhkan.
- Pada 30 Juli, kereta S202 (jalur S2) dibatalkan.
- Jalur Huairou–Miyun: kereta S501, S512, S515, S522 dibatalkan.
- Jalur Tongmi: kereta S602, S611 dibatalkan.
oleh: Li Enzhen | Zhu Xinrui – NTDTV.com


