Epidemi Kesepian Bukan Tentang Ponsel, Melainkan Tentang Algoritma

Kay Rubacek

Epidemi kesepian  telah menjadi berita utama selama bertahun-tahun. Kita telah melihat berbagai studi yang menegaskan apa yang banyak orang rasakan dalam hati mereka: semakin banyak orang yang terisolasi, terputus, dan berjuang untuk menemukan makna dalam kehidupan sehari-hari.

Orang  yang lebih tua sering menyalahkan teknologi atau luka sosial akibat COVID. Mereka tidak sepenuhnya salah, tetapi cerita yang lebih dalam jauh lebih besar.

Penyebabnya bukan hanya ponsel, layar, atau bahkan internet. Pendorong utama kesepian baru ini adalah algoritma—aturan dan proses tak kasatmata yang kini mengatur bagaimana kita hidup, terhubung, bahkan berpikir.

Ini mungkin terdengar abstrak, tetapi sebenarnya tidak. Algoritma adalah kehadiran diam-diam yang membentuk linimasa berita Anda, merekomendasikan pembelian berikutnya, menentukan aplikasi pekerjaan mana yang ditinjau, dan menyaring unggahan mana dari keluarga atau teman yang Anda lihat. Algoritma tidak hanya menunjukkan dunia kepada Anda; ia menentukan dunia mana yang Anda lihat.

Dan, hal terpenting untuk dipahami adalah bahwa algoritma tidak memengaruhi setiap generasi dengan cara yang sama.

Baby boomer dan banyak Generasi X masih ingat kehidupan sebelum algoritma. Mereka tumbuh dengan kesendirian sebagai bagian normal dari kehidupan: berjalan-jalan lama, waktu menyendiri dengan buku, malam tanpa gangguan. Kehidupan sosial mereka bersifat lokal dan nyata. Jika mereka merasa kesepian, itu adalah kesepian yang biasa—yang bisa mendorong seseorang menelepon teman, bergabung dengan klub, atau sekadar berjalan sambil menendang kerikil di sepanjang jalan.

Generasi Milenial tumbuh dewasa ketika algoritma masuk melalui media sosial dan ponsel pintar. Bagi mereka, pergeseran itu bertahap. Mereka masih mengingat masa kecil yang analog, tetapi kehidupan dewasa mereka semakin terikat pada perangkat. Mereka belajar hidup di dua dunia, kadang bernostalgia mengenang kehidupan sebelum algoritma, tetapi tidak pernah menyadari algoritma sebagai kekuatan penggerak baru dalam hidup mereka.

Generasi Z dan Generasi Alpha, sebaliknya, tidak pernah mengenal kehidupan tanpa kurasi algoritmik. Sejak kecil, identitas, persahabatan, bahkan rasa jati diri mereka dibentuk di dalam sistem yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan.

Mereka adalah generasi yang paling terhubung dalam sejarah, namun secara paradoks juga yang paling kesepian. Studi mengonfirmasi bahwa mereka melaporkan tingkat isolasi dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan orang tua atau kakek-nenek mereka pada usia yang sama. Bagi mereka, kesendirian hampir tidak terpikirkan. Jam tidur mereka berkurang, sementara jam terjaga mereka dipenuhi dorongan algoritmik, tuntutan performa, dan perbandingan tak kasatmata.

Inilah sebabnya menyalahkan “ponsel” atau “teknologi” meleset dari pokok masalah. Ponsel hanyalah alat. Penyebab yang lebih dalam dari epidemi kesepian masa kini adalah sistem algoritma yang berjalan di perangkat itu dan diam-diam mengatur kehidupan yang dijalani melaluinya.


Apa Itu Algoritma Sebenarnya?

Pada dasarnya, algoritma hanyalah instruksi—aturan langkah demi langkah untuk menyelesaikan suatu masalah. Resep masakan adalah algoritma. Rencana menu mental Anda untuk seminggu dan keputusan yang mengarah pada pilihan bahan atau pesanan makanan adalah algoritma. Sistem GPS yang menghitung rute tercepat dari rumah Anda ke tempat liburan musim panas juga adalah algoritma.

Namun dalam ekosistem digital saat ini, algoritma jauh lebih dari sekadar resep atau peta. Algoritma bersifat adaptif, sistem pembelajar. Mereka memakan kumpulan data yang sangat besar—mulai dari kebiasaan belanja, riwayat pencarian, hingga jeda kecil ketika Anda menggulir melewati sebuah video. Algoritma membandingkan data itu dengan miliaran pengguna lain lalu memprediksi apa yang kemungkinan besar akan Anda klik, tonton, beli, atau percayai.

Dan karena sistem ini dibangun oleh perusahaan yang meraih untung dari perhatian Anda, algoritma tidaklah netral. Mereka dirancang untuk membuat Anda ketagihan, entah dengan menampilkan iklan, perdebatan, atau umpan video yang disesuaikan dengan cermat. Efeknya halus tetapi terus-menerus: alih-alih Anda yang menggunakan teknologi, teknologi yang menggunakan Anda.

Inilah pendorong lebih dalam dari epidemi kesepian: bukan perangkat itu sendiri, melainkan logika algoritmik yang mengubah setiap interaksi manusia menjadi transaksi keterlibatan.


Algoritme, Big Data, dan AI

Untuk memahami skala sistem ini, kita perlu melihat bagaimana algoritma berinteraksi dengan big data dan kecerdasan buatan (AI).

  • Big Data adalah bahan mentah: aliran informasi raksasa yang dihasilkan miliaran orang setiap detik—pesan teks, klik, sinyal GPS, belanja online, dan lain-lain.
  • Data Science adalah disiplin yang menafsirkan banjir informasi ini, menggunakan model statistik untuk menemukan pola dan prediksi.
  • AI adalah sistem yang bertindak berdasarkan pola itu—menghasilkan respons, mengemudikan mobil, menerjemahkan bahasa, mendiagnosis penyakit.
  • Algoritma adalah jaringan penghubung yang mengarahkan aliran data, mengenali pola, dan membimbing respons AI.

Sistem ini lebih besar dari sekadar aplikasi atau perangkat. Ia adalah tubuh digital—suatu tubuh hidup yang menyentuh setiap aspek kehidupan kita.


Analogi Tubuh Digital

Skala dan kompleksitas sistem ini sulit dipahami. Kita bisa mengerti bagian-bagiannya: big data di sini, AI di sana, investasi miliarder di tempat lain. Tetapi hampir mustahil melihat keseluruhan. Analogi tubuh manusia memberi kerangka yang akrab untuk membuat yang tak terlihat menjadi terlihat:

  • Darah = Big Data. Setiap klik, gesekan layar, dan sinyal GPS adalah tetes dalam aliran darah digital.
  • Otak = Data Science. Seperti korteks otak, ia menafsirkan sinyal, memprioritaskan sebagian dan mengabaikan yang lain.
  • Otot & Saraf = AI. AI melaksanakan tindakan, bereaksi pada dunia, belajar melalui pengulangan.
  • Fasia = Algoritma. Seperti jaringan penghubung dalam tubuh, algoritma mengikat setiap sistem—tak terlihat namun esensial.
  • Kerangka = Infrastruktur. Server, chip, dan cloud adalah tulang yang menopang struktur.
  • Hormon = Dana Miliarder. Uang bertindak seperti hormon pertumbuhan, menentukan arah dan laju perkembangan tubuh.
  • Sistem Imun = Regulasi & Etika. Pemerintah dan pengawas mencoba menjaga kesehatan sistem, tetapi lamban dibanding laju pertumbuhan.

Ini bukan sekadar metafora. Dengan melihat teknologi sebagai tubuh, kita bisa memahami keterkaitan data, algoritme, AI, dana, dan infrastruktur sebagai satu organisme dengan kekuatan luar biasa.


Siapa yang Mengendalikan Tubuh Digital Ini?

Tubuh digital tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh ambisi manusia, kekuasaan institusional, dan uang yang memacunya.

Ahli matematika dan statistik menyusun teori yang menjadi kode tersembunyi; peneliti dan insinyur mengubah teori itu menjadi sistem berskala planet; lalu korporasi membawanya ke kehidupan sehari-hari, melekatkannya pada perbankan, kesehatan, hiburan, dan layanan pemerintah hingga hampir mustahil keluar darinya.

Di puncak, segelintir miliarder bertindak sebagai arsitek sekaligus pendana. Elon Musk, Bill Gates, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, dan Peter Thiel bukan hanya membiayai riset, tetapi juga mengarahkannya. Prioritas dan investasi mereka menentukan nilai dasar dari sistem ini.

Pemerintah mengklaim sebagai penyeimbang, tetapi praktiknya sering sebaliknya. Regulasi terlambat, lemah, atau kompromistis, sementara lembaga publik sendiri makin bergantung pada sistem yang seharusnya mereka kendalikan. Banyak pemerintah justru memilih mempercepat daripada mengawasi, menukar pengawasan dengan keuntungan jangka pendek dalam perlombaan global meraih dominasi.

Akibatnya jelas: tubuh ini tidak dipandu oleh kehendak demokratis atau nurani kolektif, melainkan oleh kekuasaan terkonsentrasi segelintir orang, didorong oleh visi pribadi, dan diberi makan oleh data miliaran manusia yang tak pernah memberi persetujuan berarti.


Sejarah dan Perbedaan Zaman

Kita pernah menghadapi transformasi sosial besar sebelumnya. Revolusi Industri mengubah tenaga kerja, mencabut komunitas dari akar, dan memenuhi kota dengan peluang sekaligus keputusasaan.

Zaman nuklir memberi umat manusia senjata pemusnah massal sehingga lahir doktrin penangkalan untuk menjaga peradaban tetap utuh.

Namun transformasi saat ini berbeda karena menyentuh inti makna menjadi manusia.

  • Belum pernah ada revolusi industri yang mendorong kesepian pemuda hingga level epidemi. Menurut Advisory on the Epidemic of Loneliness and Isolation dari U.S. Surgeon General (2023), dewasa muda kini dua kali lebih mungkin merasa kesepian dibandingkan lansia.
  • Belum pernah ada revolusi teknologi yang bertepatan dengan tingkat bunuh diri pemuda tertinggi yang pernah tercatat: CDC AS melaporkan kasus bundir di kalangan warga Amerika usia 10–24 melonjak 62 persen dari 2007 hingga 2021.

Berbeda dari masa lalu, di mana mesin memperbesar kemampuan fisik kita, revolusi ini mengklaim akan memperbesar kemampuan mental kita. Namun alih-alih memperluas kecerdasan, ia justru mempersempit perhatian, mengikis kesendirian, dan menyingkirkan kebutuhan manusia yang paling mendasar.

Tidak ada zaman penemuan sebelumnya yang mengatakan bahwa kehidupan batin kita—pikiran, kerinduan, keheningan—bisa direduksi menjadi data, dikemas, dianalisis, dan dijadikan komoditas.

Dan, berbeda dari masa lalu ketika pemerintah berebut membuat pagar pembatas, kali ini banyak regulator justru menyingkir. Biaya kemanusiaan menumpuk, sementara “sistem imun nurani” yang dulu berusaha melindungi masyarakat kini nyaris tak berfungsi.

Ini bukan sekadar revolusi lain. Ini adalah fenomena yang sama sekali baru. Untuk pertama kalinya, kita hidup di dalam sistem yang tidak bisa kita lihat secara utuh, dioperasikan oleh pihak-pihak yang tidak kita kenal, dibentuk oleh algoritma yang dingin merampas individualitas kita. Kita bukan hanya pekerja yang menyesuaikan diri dengan mesin baru; kita adalah manusia yang diubah menjadi titik data, didehumanisasi di dalam tubuh yang tumbuh tanpa kita.


Melihat Tubuh Secara Utuh

Itulah sebabnya kita harus memaksa diri melihat tubuh ini secara keseluruhan. Bukan sekadar aplikasi atau perangkat. Bukan hanya miliarder atau perusahaan. Tetapi seluruh organisme: darah, otak, fasia, kerangka, otot, hormon, dan kekuatan sunyi yang menggerakkannya.

Hanya dengan begitu kita bisa memahami mengapa kesepian menjadi epidemi, mengapa kaum muda (masa depan kita) berjuang di bawah tekanan yang tak pernah dialami generasi sebelumnya, dan mengapa umat manusia merasa tidak tenang. Kita tidak bisa terus menganggap kerugian ini sebagai efek samping dari “teknologi baru.” Ini adalah hasil alami dari sistem yang memakan data kita, mereduksi kita menjadi abstraksi, dan lebih menghargai keterlibatan daripada kesejahteraan.

Jika kita tidak mengenali tubuh ini apa adanya, kita akan terus hidup sebagai organ-organ terisolasi yang melayaninya, alih-alih sebagai manusia dengan martabat, kehendak bebas, dan nurani.

Tubuh digital itu nyata. Ia kuat, tumbuh cepat, dan sebagian besar tak terlihat. Pertanyaannya: apakah kita akan tetap menjadi jaringan pasif di dalamnya, ataukah kita akan menegaskan kembali kemanusiaan kita dan menuntut tubuh yang melayani kita, bukan sebaliknya?


Kay Rubacek adalah seorang pembuat film peraih penghargaan, penulis, pembicara, dan mantan pembawa acara “Life & Times” di NTD. Setelah ditahan di penjara Tiongkok karena memperjuangkan hak asasi manusia, ia mendedikasikan karyanya untuk menghadapi rezim komunis dan sosialis dalam bentuk modern dan global mereka. Ia juga telah berkontribusi untuk The Epoch Times sejak tahun 2010

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine